Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
687 research outputs found
Sort by
Balloon Mitral Valvulotomy (BMV): Mengapa Resistensi Paru Tidak Selalu Menurun?
Mitral stenosis merupakan kelainan yang di negara kita masih merupakan masalah, terutama mengakibatkan menurunnya kemampuan fisik seseorang sehingga mengurangi kualitas hidup yang diinginkan. Hal ini disebabkan masih prevalennya demam rematik akutpada anak-anak yang tidak diobati dengan memadai dengan sekuele utamanya mengenai katup mitral.Salah satu akibat dari mitral stenosis adalah meningkatnya tekanan pada sirkulasi paru akibat bendungan pada system vena paru dan menimbulkan hipertensi pulmonal. Meskipun upaya untuk menghilangkan penyempitan katup baik dengan intervensi bedah maupun non bedah dengan Balloon Mitral Valvuloplasty (“BMV”) mendapatkan hasil yang baik dengan menghilangkan penyempitan pada aliran paru, namun tidak semua penderita yang menjalani upaya ini dapat kembali normal dari segi morbiditas karena fisiologi yang normal tidak semuanya dapat kembali berjalan terutama pada penderita-penderita lanjut yang terlalu lama mengalami abnormalitas dari fisiologi aliran paru
Pemeriksaan Trans-Esofageal Ekokardiografi
Trans-Esofageal Ekokardiografi (TEE) merupakan cara pendekatan pencitraan jantung dengan menggunakan transduser khusus berfrekuensi 5-7,5 MHz yang diletakkan pada esofagus.Pada edisi sebelumnya telah dibahas mengenai indikasi, kontraindikasi, komplikasi serta prosedur pemeriksaan TEE. Pada edisi 2 ini akan dibahas mengenai beberapa view standar yang sering digunakan dalam pemeriksaan TEE. Akuisisi Gambar dan Manipulasi TransduserTerdapat 4posisi standar utama berdasar kedalaman probe; yaitu: upper-esophageal(20-30cm), mid-esophageal(30-40cm), transgastric (40-45cm), dandeeptransgastric(45-50cm). Untuk memperoleh gambar yang diinginkan, transduser (probe) dapat dimanupulasi sebagai berikut: ditarik/didorong (advanced/withdrawn); diputar ke kanan atau ke kiri (clockwise//counter clockwise); diantefleksi/retrofleksi; maupun dirotasi dari 0-1800 (Gambar 1). Penting diingat bahwa manuver harus dilakukan secara perlahan dan jika gambar yang terlihat lebih jelek, lakukan manuver kearah sebaliknya
Dapatkah Matrix Metalloproteinase Memprediksi Luasnya Kerusakan Miokard?
Trombosis arteri merupakan dasar terjadinya sindrom koroner akut. Sebagian besar trombosis terjadi pada robekan plak pada bagian fibrous cap yang tipis. Plak aterom yang memiliki fibrous cap yang tipis dan mudah mengalami robekan sering disebut sebagai vulnerable plaque. Penting dicatat bahwa derajat stenosis plak yang mengalami robekan seringkali hanya ringan atau sedang saja.3 Para peneliti berhipotesis bahwa kehilangan komponen matriks khususnya serabut kolagen pada fibrous cap menyebabkan penipisan cap. Hal ini akan memudahkan terjadinya robekan baik secara spontan maupun sebagai respon terhadap trigger hemodinamik ata yang lainya.Matrix metalloproteinases (MMPs) agaknya memainkan peran penting dalam remodeling plak aterosklerotik, walaupun berbagai bukti menunjukkan hubungan peningkatan MMP dengan terjadinya instabilitas plak masih kontroversial
Trombolisis Intra-arterial Perkutan pada Stroke Iskemik Peri-angiografi Koroner: Pengalaman Awal di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita
Background. Ischemic stroke is a rare but well-known complication of cardiac-catheter interventions attributable mostly to embolism. Peri-coronary angiography stroke, represents a unique opportunity for im-mediate stroke interventional therapy with intravenous, catheter based intra-arterial thrombolysis (IAT) or combined therapy using recombinant tissue plasminogen activator (rtPA). Intra-arterial thrombolysis is an option for treatment of selected patients who have major stroke of < 6 hours duration due to occlusion of the Media Cerebral artery(MCA) and who are not otherwise candidates for intravenous rtPA (Class I, Level of Evidence B, AHA guidelines). Objective.To review the first experience of percutaneous intra-arterial thrombolysis(PIAT) as a management of acute ischemic stroke due to complication of coronary angiography procedure. Summary. We present 3 cases of acute ischemic stroke which happened during coronary angiography procedures. All of them (NIHSS 30, 20 and 34) were treated immediately with intra-arterial thrombolysis (IAT) recom-binant tissue Plasminogen Activator (rtPA) and had a very good outcome with no residual of stroke (NIHSS 0). Although it has been stated clearly in the AHA guidelines for the early management of adult with ischemic stroke, up until now the procedure of IAT or (intra-venous thrombolysis) IVT upon acute ischemic stroke is not established yet in standard operational procedure of National Cardiovascular Center Harapan Kita (NCCHK) Jakarta, which perhaps makes the physicians hesitate on performing these procedures due to legal aspects, while in the other hand the risks of acute ischemic stroke remain the potential threats on every single coronary angiography or any intensive catheter based procedures.Latarbelakang: Sekalipun jarang terjadi stroke iskemik merupakan komplikasi intervensi koroner yang sangat dikenal yang terutama terjadi akibat emboli. Stoke iskemik peri-angiografi ini memberikan kesempatan untuk dilakukanya trombolisis intravena, intraarterial memakai kateter atau kombinasi keduanya dengan menggunakan recombinant tissue plasminogen activator (rtPA). Trombolisis intraarterial (TIA) merupakan pilihan terapi stroke iskemik mayor dengan awitan < 6 jam akibat sumbatan pada arteri serebri media (ASM) yang bukan merupakan kandidat rtPA intra-vena (Kelas I, level bukti B pada panduan AHA). Tujuan: Ulasan terhadap TIA yang dilakukan pada stroke iskemik peri-angiografi. Ringkasan: TIA rtPA dilakukan pada 3 kasus stroke iskemik peri-angiografi (NIHSS 30, 20 dan 34) dengan hasil yang sangat memuaskan tanpa gejala sisa (NIHSS 0). Sekalipun sudah merupakan pilihan terapi yang dianjurkan pada panduan AHA tetapi TIA ataupun trombolisis intravena belum merupakan standar terapi di PJNHK. Laporan kasus ini diharapkan memberikan wawasan baru bagi tatalaksana stroke iskemik khususnya akibat komplikasi tindakan intervensi koroner
Jantung Sehat?
“Adalah hak pribadi seseorang untuk menyebut dirinya sehat (klien) atau sakit (pasien) jantung, biarkanlah dokter membantunya untuk beradaptasi dengan lingkungan yang unik” (Makna paralel dari “Proklamasi” Kardiologi Sosial, 25 Juni 1993). Sehat secara keseluruhan yang telah dicanangkan WHO sejak didirikan 1946, yaitu “keadaan sehat yang komplit baik fisik, mental, dan sosial”, terus dilanjutkan dengan “bebas dari sakit atau keterbatasan/cacat”. Kemudian dimunculkan konsep “Kesehatan untuk semua” di Tahun 2010, 2020, dst. Belum ada definisi baru ketika kita sudah memasuki era biologi molekuler, yang dihubungkan dengan masalah individu dan sosial. Semakin kita menyadari pentingnya pengaruh genom dalam suatu penyakit dan menyodorkan konsep sehat, ternyata masih ada yang tidak mungkin, yaitu bebas dari faktor-risiko penyakit jantung. Karena gender pria dan umur lanjut termasuk faktor risiko
Hipertensi Pulmonalis Resisten Pasca Peniupan Balon pada Stenosis Mitral
Hipertensi Pulmonalis (Arterial) yang terjadi pada Stenosis Mitral termasuk kelompok Hipertensi Pulmonalis Arterial Sekunder akibat adanya Hipertensi Pulmonalis Venous Pasif yang dapat disebabkan berbagai penyakit yaitu antara lain trombosis vena pulmonalis dan bermacam kelainan Jantung Kiri termasuk Penyakit Katub Mitral dan katub Aorta.Dengan koreksi Stenosis Mitral (dengan peniupan balon atau pembedahan) diharapkan terjadi pe-nurunan Hipertensi Pulmonalis Arterial tersebut. Tetapi kenyataannya tidak semua penderita mengalami penurunan tekanan darah arteri pulmonalis. Pada Penelitian Irwan dkk. sekitar 21.1 % penderita masih terdapat Hipertensi Pulmonalis berat. Hal ini mudah dipahami bahwa Hipertensi Pulmonalis apapun sebabnya akhirnya akan terjadi perubahan patologi arteria pulmonalis.Pada Penyakit Jantung Bawaan (PDA, VSD besar, ASD Besar) dapat terjadi pada dekade 1 sampai ke-3 yang akhirnya menjadi Sindroma Eisenmenger. Heath dan Edwards membuat klasifikasi perubahan patologi menjadi 6 derajat. Pada Hipertensi Pulmonalis Arterial karena penyakit Mitral pun dapat mengalami perubahan patologi
Penilaian Disinkroni Kardiak Dengan Pemeriksaan Ekokardiografi
Penilaian disinkroni kardiak merupakan salah satu aspek penting dari pemeriksaan ekokardiografi dalam menilai fungsi jantung. Disinkroni (disinkroni mekanik) adalah suatu gerakan yang tidak sinkron atau tidak seragam dari otot jantung. Bila ditinjau dari periode dalam siklus jantung, disinkroni bisa terjadi pada saat sistolik maupundiastolik. Walaupun demikian, sampai saat ini baru disinkroni sistolik yang banyak diteliti dan diketahui implikasi klinisnya pada beberapa kelainan jantung
Pemeriksaan BNP atau NT pro BNP pada Pasien Gagal Jantung
Beberapa permasalahan masih sering dihadapi berkaitan dengan diagnosis, evaluasi keberhasilan terapi, penekanan angka morbiditas dan mortalitas gagal jantung. Seperti misalnya, pada kondisi gawat darurat yang membutuhkan diagnosis dan terapi cepat dan akurat, kadang sulit untuk membedakan sesak nafas akibat gagal jantung atau akibat penyakit lain seperti penyakit paru dan metabolik. Hingga saat inipun pemulangan pasien dari perawatan rumah sakit sebagian besar didasarkan atas berkurangnya atau hilangnya keluhan, meskipun mungkin belum dilakukan titrasi terapi yang optimal. Hal itu menyebabkan tingginya angka kematian dan rawat ulang pasien gagal jantung. Lebih jauh, hingga saat ini belum ada metoda yang rutin dipakai untuk meng-evaluasi efek dari terapi yang telah diberikan pada level molekuler.Oleh karena itu, perlu ada alat diagnostik untuk mengetahui fungsi jantung secara cepat dan tepat, yang dapat membedakan sesak karena gagal jantung atau faktor lain, dan dapat pula menjadi predikor prognosis pasien gagal jantung
Implantable Cardioverter Defibrillator
Ide penggunaan Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD) untuk pencegahan kematian jantung mendadak pertama kali dicetuskan oleh Dr. Michel Mirowski pada tahun 1970. Sejak itu ICD berkembang dari sebuah prototipe yang dicoba pada binatang menjadi alat yang canggih yang ada saat ini dan diimplantasi pada manusia pada tanggal 4 Februari 1980. Sejak itu teknologi defibrillator berkembang sangat pesat dan ICD sekarang dianggap sebagai pilihan utama untuk pasien yang selamat dari henti jantung dan untuk prevensi primer pada pasien yang beresiko tinggi
Takikardia QRS Lebar : Apa Mekanismenya ?
Seorang anak perempuan usia 8 tahun yang diketahui menderita anomali Ebstein datang ke UGD dengan keluhan berdebar. Keadaan umum tampak gelisah dengan tanda-tanda vital cukup baik. Rekaman EKG terlihat seperti gambar 1, tampak suatu takikardia dengan QRS lebar. Apa mekanisme takikadia ini?Seorang anak perempuan usia 8 tahun yang diketahui menderita anomali Ebstein datang ke UGD dengan keluhan berdebar. Keadaan umum tampak gelisah dengan tandatanda vital cukup baik. Rekaman EKG terlihat seperti gambar 1, tampak suatu takikardia dengan QRS lebar. Apa mekanisme takikadia ini