Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
687 research outputs found
Sort by
Tatalaksana Nonbedah Pada Penyempitan Pembuluh Darah Utama Koroner Kiri yang Terisolasi
Prevalence of Left Main Coroner Artery (LMCA) stenosis inpatients undergoing coronary angiography was 2.5 to 10 %, almosrt all patients suffer from concomitantatherosclerotic disease of other coronary branches. Incontrast, an isolated atherosclerotic lesion of LMCA is very rare. with iscidences 0.07 to 0.15 %. Coroner artery by pass graft surgery (CABG) has been recommended as the standard treatment in LMCA disease, however, percutaneous coronary interventions (PCI) on the LMCA remained in scope, as some patients with high risk or contra indications of CABG and very limited life expectancy, still had no other option than PCI.A 58th years old man with factor; smoker, dyslipidemia and hypertention, complain of chest discomfort, he was referred with diagnosis of APS CCS III and MSCT coroner revealed mild plaque burden with critical subtotal occlusion i n in LMCA, calcified plaque in LAD and other vessels were normal. He refuse CABG and went for PCI, angiography revealed significant isolated unprotected LMCA disease. Successful PCI using anchor wire technique and implantation of BMS in the lesion was done. Patient discharged on day 6 of hospitalization with no complication. Prevalensi penyempitan pembuluh arah kiri pada pasien yang menjalani pemeriksaan angiografi koroner berkisar antara 2,5 - 10 %, dan hampir semua lesi diosebabkan oleh proses aterosklerosis yang juga melibatkan cabang-cabang pembuluh darah koroner lainnya. Lesiaterosklerotik yang terisolasi hanya paa pangkal pembuluh utama koroner kiri sangat jarang, dengan insiden 0, 07-0,15 % pada semua tindakan angiografi di dunia. Bedah pintas koroner (CABG) merupakan prossedur standar menangani kasus penyempitan pembuluh darah kooner utama kiri. Katerisasi jantung transkutan (PCI) memiliki peran bagi pasien dengan resiko tinggi atau memiliki kontra indikasi untuk menjalani CABG.LAki-laki 58 tahun dengan faktor resiko; merokok, dislipidemia, dan hipertensi, mengeluh dada merasa tidak nyaman, pasien dirujuk dengan diagnosis APS CCS III, pemeriksaan MSCT koroner menemukan lesi aterosklerotik dengan sumbatan subtotal pada pangkal pembuluh darah utama koroner kiri, tanpa kolateral kecabang pembuluh darah koroner kiri distal. Dilakukan tindakan PCI dengan 1 BMS menggunakan teknik anchor wire pada lesi dengan hasil baik.
Biomarker Baru Monoclonal Antibody Fragmentasi Collagen Type IV Untuk Mendeteksi Acute Myocard Infarction Terkait Infeksi Perviromonas Gingivalis
Background. Index mortality of atherosclerotic very high. The research conducted by WHO in 1995 show 20% of IMA mortality caused by ath-erosclerotic. The new emerging risk factor infection is the Perviromonas gingivalis. The objective of study to detect IMA in blood sample by using biomarker monoclonal antibody collagen type IV.Method. This research was experimental in vitro with ethic clearance and carried on the biomedic Laboratory, Brawijaya University. The subject were (n=12) and healthy people are (n=4). To show expression of MMP-9 and fragmentation of collagen type IV use western blotting tecnique. The monoclonal antibody were obtain which sub cutan imunization followed by isolating lymphocytes and fusing with myeloma cell to growth of hibridoma and produce antibody. Result. Found in following MMP-9 product the band were 92 kDa and the collagen type IV fragmentation band 60-90 kDa. To test for biomarker reac-tion monoclonal antibody fragmentation collagen type IV in blood sample 1-12 was positive for AMI.Conclusion. The biomarker for monoclonal antibody fragmentation col-lagen type IV shown AMI reaction positive.Latar belakang. Penyakit jantung infark miokard akut (IMA) masih menjadi masalah penyebab kematian yang utama. Faktor resiko yang dikaitkan dengan perkembangan IMA adalah aterosklerosis. Yang terbaru adalah faktor infeksi mikroorganisme. Salah satu infeksi adalah Perviromonas gingivalis.Metodologi. Rancangan penelitian eksperimental murni in vitro dengan analisa deskriptif cross sectional sudah dilaksanakan uji etik. Subjek penelitian penderita IMA (n=12) dan kontrol sehat (n=4). Untuk mengetahui ekspresi MMP9 serta fragmetnasi collagen type IV menggunakan teknik Western Blotting. Untuk memproduksi monoklonal antibody menggunakan mencit di imunisasi sub cutan menggunakan protein fragmentasi collagen type IV disertai dengan adjuvant, diikuti isolasi sel limfosit, dilanjutkan proses fusi dengan sel myeloma sehingga terbentuk sel hibridoma. Seterusnya dilakukan pembuatan antibodi dilanjutkan dengan pengujian titer dengan teknik Elisa.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeteksi penderita IMA manggunakan biomarker monoklonal antibody fragmentasi collagen type IV.Hasil. Hasil pengujian monoklonal antibody fragmentasi collagen type IV terhadap 12 penderita IMA dengan 4 kontrol sehat, menunjukkan hasil semua penderita IMA positif.Kesimpulan. Biomarker antibody fragmentasi collagen type IV menunjukkan reaksi positif terhadap penderita IMA
Estimasi Tekanan Atrium Kanan Dengan Rasio Gelombang E/Ea Katup Trikuspid
Background. Right atrial pressure is one of hemodynamic parameter that can guide therapy for patients in intensive care unit. Right atrial pressure is also needed for calculation of other hemodynamic parameter such as pulmonary pressure and systemic vascular resistance. Estimation of right atrial pressure using E/Ea ratio is not much studied until now. There were only three studies with different result. This study objective is therefore to asses the correlation and agreement of estimation right atrial pressure by using ratio E wave (spectral doppler) and Ea wave (tissue doppler imaging) from tricuspid valve. Methods.This is a diagnostic test with cross sectional design study in patients in Cardiovascular Care Unit (CVCU) who had been inserted central venous pressure line (CVP line). E wave was taken from tricuspid inflow with pulsed wave spectral doppler and Ea wave was taken from the lateral tricuspid annulus with tissue doppler imagingat at early diastolic filling. Correlation analysis was performed to assess the correlation of E/Ea ratio with right atrial pressure from CVP line. The result of E/Ea ratio liner regrresion is analyzed with bland altman plot to asses agreement between E/Ea ratio and invasive methods of CVP line. Data was analyzed using SPSS 15.0.Results.There were 50 from 16 sample. As many as 20 data was also also measured by second observer for interobserver variability. There was a good precision for inter and intraobserver with ICC > 0,8. There was good correlation between E/Ea ratio with right atrial pressure, r = 0.728, p < 0,001. Cut off point E/Ea >3,95 could predict right atrial pressure = 10 mmHg (sensitvity 73,1% and specificity 70,8% and positive predictive value 73% and negative predictive value 73,9%). The agreement between E/Ea ratio and CVP line for measuring right atrial prssure was poor, with Intra-class Correlation(ICC) 24% and percentage error more than 30%. Based on this agreement right atrial pressure estimated by E/Ea ratio could have difference as much as 0,01 +3,53 mmHg. Conclusion.There were good correlation but poor agreeement for right atrial pressure estimation by using E/Ea ratio.Latar belakang.Tekanan atrium kanan merupakan salah satu parameter hemodinamik yang penting untuk membantu pemberian terapi yang sesuai khususnya pada pasien yang dirawat di ruang rawat intensif. Selain itu tekanan atrium kanan diperlukan untuk pengukuran hemodinamik lain seperti tekanan a. pulmonal dan resistensi vaskular sistemik. Estimasi tekanan atrium kanan dengan rasio E/Ea belum banyak diteliti. Hanya ada tiga penelitian dengan hasil yang cukup berbeda. Penelitian ini bertujuan menguji kembali korelasi dan kesesuian estimasi tekanan atrium kanan dengan cara ekokardiografi yaitu dengan memakai rasio gelombang E (spektral Doppler) dan gelombang Ea (tissue Doppler Imaging) dari katup trikuspid.Metode.Penelitian ini merupakan uji diagnostik dengan desain potong lintang yang dilakukan pada pasien yang dirawat di Cardiovascular Care Unit(CVCU) yang dipasang kateter vena sentral. Gelombang E diambil di ujung katup trikuspid dengan pulsed wave spectral dopplersedangkan gelombang Ea diambil dari anulus katup trikuspid dengan pulsed wave tissue doppler imaging pada saat fase diastolik awal. Uji korelasi dilakukan untuk melihat korelasi rasio E/Ea dengan tekanan atrium kanan dari kateter vena sentral. Hasil regresi linear E/Ea akan dianalisa lagi dengan plot bland altman untuk menguji kesesuaian antara rasio E/Ea dengan metode invasif kateter untuk estimasi tekanan atrium kanan. Data diolah oleh SPSS 15.0Hasil.Terdapat 50 data dari 16 sampel yang diteliti. Sebanyak 20 data diperoleh dari pengamat kedua untuk pengamatan interobserver. Didapatkan presisi yang baik inter dan intraobserver dengan ICC > 0,8. Terdapat korelasi yang baik antara rasio E/Ea dengan tekanan atrium kanan dengan r = 0,728 p < 0,001. Titik potong E/Ea >3,95 dapat memprediksi nilai tekanan atrium kanan =10 mmHg (sensitifitas 73,1% dan spesifisitas 70,8% dan positive predictive value73% dan negative predictive value 73,9%. Kesesuaian rasio E/Ea dengan pengukuran invasif hasilnya tidak begitu baik dengan Intra-class Correlation(ICC) 24% dan percentage errormelebihi 30%. Berdasarkan dengan analisa kesesuaian ini tekanan atrium kanan yang diestimasi dengan rasio E/Ea mempunyai perbedaan 0,01 +3,53 mmHg. Kesimpulan.Terdapat korelasi yang baik namun kesesuaian yang kurang baik antara pemeriksaan rasio E/Ea untuk estimasi tekanan atrium kanan
Dynamic Interaction Between Organellas In the Management of Cytosolic Calcium Huvecs Exposed to 22 mM Glucose With Different Period Exposure
Background.In our previous research, when cell culture were exposed to high glucose, this will cause the increase of H2O2. At the exposure to 22 mM glucose on 3rd day, the increase of H2O2 that induced the activation of Phospholipase C (PLC) have caused 1P3 (Inositol tri-phosphate) mobilizing the release of Ca²+ from the depo Endoplasmic reticulum (ER). Thus, causing the increase of cytosolic Ca²+. Giving thapsigargin (TG) will cause significant increase in Cytosolic Ca²+ so that the most contribution to the increasing of Cytosolic Ca²+ derives from the ER . On the 7th day exposure, H2O2 played the same role as TG, causing direct incease in Cytosolic Ca²+ and an addition of Ca²+ free/buffer ethyleneglyco bis (ßaminoethyl ether).&NNN’N’– tetraacetic acid (EGTA) caused significant decrease of cytosolic Ca²+ basal and the greatest contribution to the increase of cytosolic Ca²+ on the 7th day, comes from extracellular. Administrating Cyclosporin A (CSA) 10 µM on the 9th day, caused significant decreasing on cytosolic Ca²+ basal, the ability of CSA in decreasing Ca²+ basal concentration was less than the 3rd and 7th days. At a high glucose condition with different length of exposure, a change of new cytosolic Ca²+ homeostatic regulation occurred and this enable a change in the dynamic interaction among ER, extracellular and mitochondria.Method.HUVECs culture exposed to 22 mM glucose for 3, 7 and 9 days. The cells were incubated with FURA2-AM. The evaluation of fluorescence cytosolic Ca²+ was done by epifluorescence Nikon digital camera-computerized analyser. To measure the cytosolic Ca²+ concentration we use Histogram Image Corel Draw Photo Paint 12.Result. Exposure to glucose 22mM on the 3rd day (65.4 ± 12.2) it showed the increase of cytosolic Ca²+ by giving Ca²+ free/EGTA 1 mM and CSA 10 mM caused the decrease of cytosolic Ca²+ (33.2 ± 4.47) TG1µM and CSA caused the decrease of cytosolic Ca²+ basal (53.07 ± 2.75) and Ca²+ -free/EGTA, TG and CSA (68.59 ± 5.71). On the 7th day exposure (92.74 ± 7.66) the decrease of cyto -solic Ca²+ basal occurred at the giving of Ca²+ -free/EGTA, TG (50.52 ± 9.23). EGTA and CSA (45.59 ±6.2). TG and CSA (73.55 ± 7.30), Ca²+ -free/EGTA and TG much more decrease the concentrate of cytosolic Ca²+ basal (17.58 ±4.5). On the 9th day of exposure to glucose (72.32 ±7.46), the giving of Ca²+ -free/EGTA, TG and CSA(35.76 ± 5.25) have caused the decrease of cytosolic Ca²+ basal. Conclusion.HUVECs culture exposed to 22mM glucose will cause the increase in H2O2and cytosolic Ca²+ basal. ER, mitochondria and extracellular regulate the Cytosolic Ca²+ and a dynamic interaction occurred among them to obtain a new homeostatic
Hubungan Intimal Media Thickness Karotis Dengan Faktor Risiko Kardiovaskular pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Pra-Dialisis
Background. The incidence of cardiovascular diseases is markedly higher in patients with Chronic Kidney Disease (CKD). Both conventional and non-conventional cardiovascular risk factors play a role in this observed phenomenon. In general population, Intima Media Thickness (IMT) has been found to correlate with the incidence of cardiovascular disease and it also serves as an independent predictor of cardiovascular mortality in CKD patients undergoing chronic hemodialysis.Objectives. To investigate the relationship between carotid IMT with cardiovascular risk factors in a population of CKD patients prior to chronic hemodyalisis.Methods. This was a cross sectional study to measure carotid IMT in CKD patients using B-mode ultrasonography. Glomerular Filtration Rate of subjects was calculated by Modification of Diet in Renal Disease (MDRD) formula. The cardiovascular risk factors assessed included plasma blood sugar, lipid profile, renal function, blood pressure, body weight, sex and age.Results. We recruited 76 subjects, mostly male, over 65 years of age and also obese (mean body mass index of 26,3 kg/m2). Most of the subjects had uncontrolled systolic blood pressure, plasma sugar level and lipid profile. The mean systolic blood pressure was 134.21 mmHg, fasting blood sugar 110mg/dl, high and low density lipoprotein were 41.83 mg/dl and LDL 117.36 mg/dl, respectively. There was also a trend of CKD resulted in mean of IMT with the fall in GFR; stadium 3, 4 and 5 of CKD resulted in mean IMT of 0.9 and 1.3 mm, respectively.Conclusion. We did not find any correlation between IMT and sex, age, hypertension, diabetes mellitus, smoking nor obesity. The decline in renal function was associated with a significant increase in IMT (p < 0.005).Latar belakang. Kejadian penyakit kardiovaskular meningkat pada pasien dengan Gagal Ginjal Kronik (GGK). Faktor resiko konvensional dan non-konvensional melatarbelakangi kejadian ini. Intima Media Thickness (IMT) berhubungan dengan kejadian kardiovaskular pada populasi umum dan telah menjadi prediktor independen mortalitas kardiovaskular pada populasi GGK yang dihemodialisis.Tujuan. Mengetahui hubungan IMT karotis dengan faktor resiko kardiovaskular pada pasien GGK pra-dialisis.Metode. Suatu penelitian potong lintang dengan menggunakan modalitas IMT yang diukur dengan ultrasonografi B-mode dan Glomerular Filtration Rate (GFR) yang dihitung dengan metode Modification of Dient in Renal Disease (MDRD). Faktor resiko kardiovaskluar yang dinilai termasuk gula darah dan profil lipid, sama halnya dengan penurunan fungsi ginjal, tekanan darah, berat badan, jenis kelamin dan usia.Hasil. Tujuh puluh enam orang telah ikut dalam penelitian. Pada karakteristik subyek didapatkan sebagian besar laki-laki, berusia di atas 65 tahun, dan mengalami obesitas dengan rerata indeks massa tubuh 26,3 kg/m2. Didapatkan pula rata-rata tekanan darah sistolik, profil gula darah dan profil lipid masih belum terkontrol secara optimal, yaitu berturut-turut rerata tekanan darah sistolik 134.21 mmHg, gula darah puasa 110 mg/dl, HDL 41,82 mg/dL, dan LDL 117,36 md/dL. Setelah dilakukan uji hubungan antara ketebalan IMT dengan faktor resiko konvensional, ternyata tidak ada diantara faktor resiko yang dinilai memberikan kemaknaan secara statistik. Didapatkan juga kecendrungan semakin menurunnya fungsi ginjal diikuti dengan semakin tebalnya IMT, yaitu berturut-turut GGK stadium 3, 4 dan 5 dengan median IMT 0,9 dan 1,3 mm.Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan bermakna antara IMT dengan jenis kelamin, usia, hipertensi, diabetes, dislipidemia, merokok dan obesitas. Terdapat hubungan bermakna antara IMT dengan penurunan fungsi ginjal
Keberhasilan Jangka Panjang Ablasi Radio Frekuensi Takikardia Right Ventricular Outflow Tract
Background. Right Ventricular Outflow Tract (RVOT) tachycardia is frequentlyfound in clinical practice. Despite of its good prognosis no need itusually affects the reproductive age (20-40 years) and can be very symptomatic.Radio frequency ablation (RFA) is a recommended therapeuticoption of RVOT tachycardia. The aim of this study is to evaluate longtermresultsof RFA in National Cardiovasxular Center Harapan Kita.Method. A retrospective cohort study conducted to subjects with RVOTtachycardia who underwent RFA during period of 2005-2011. Clinicalcharacteristics are revealed from medical record and electrophysiologycharacteristics are revealed from electrophysiology recording system(PruckaTMandWorkmateTM). ECG morphology assessed by 2 observersusing digimatic calliper MitutoyoTM. Patients that received pharmacologicaltherapy act as control group. All patients are observed up to 1 year.Results. Sixty two patients underwent RFA (mean age of 43,56 ± 11,77year,46 female). ECG morphologies are all left bundle branch blok (LBBB),inferior axis, transtitional zone ? V4. Based on ECG morphology, septal siteare majority of cases. Mean EA (earliest activation) is 41,26 ± 16,94 ms,median 39,50 ms. An acute successful rate of RFA is 79%.Long termsuccessrate is 83,9 % as compare to only 40,9% in medical therapy group(RRR77%, p=0.001). Septal origin site is an independent factor of success ofRFA RVOT tachycardia.Conclusion. RFA of RVOT tachycardia is safe and effective with betterlongterm result as compare to pharmacological therapy.Latar Belakang. Takikardia RVOT (Right Ventricular Outflow Tract) merupakan jenis takikardia ventrikel yang cukup sering ditemui di klinik. Walaupun memiliki prognosis yang cukup baik, penyakit ini menyerang usia produktif (20-40 tahun) dan sering kali sangat simtomatik. Ablasi radio frekuensi (RFA) merupakan modalitas terapeutik yang direkomendasikan untuk tatalaksana takikardia RVOT. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat keberhasilan ablasi radio frekuensi RVOT dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.Metode. Studi kohort retrospektif dilakukan padasubyek takikardia RVOT yang dilakukan RFA pada periode tahun 2005-2011. Karakteristik klinis dikumpulkan dari rekam medis dan karakteristik elektrofisiologis dikumpulkan dari sistem perekam elektrofisiologi (PruckaTM danWorkmateTM) secara off line. Morfologi EKG dinilai oleh 2 orang observer dan pengukuranya menggunakan jangka digital MitutoyoTM. Sebagai kelompok kontrol adalah subyek yang diberikan terapi medikamentosa. Seluruh subyek diamati selama satu tahun.Hasil. Terdapat 62 pasien yang menjalani RFA (rerata umur 43,56 ± 11,77 tahun; 46 perempuan). Morfologi EKG takikardia RVOT adalah LBBB (left bundle branch blok), aksis inferior, zona transisi > V4 dengan lokasi asal mayoritas dari septal. Rerata mean EA (earliest activation) 41,26 ± 16,94 mdetik dengan median 39,50 mdetik. Angka keberhasilan segera pasca ablasi adalah 79%. Keberhasilan jangka panjang RFA 83,9% sedangkan terapi medikamentosa 40,9%. (RRR 77%, p=0.001). Lokasi aritmia di septal merupakan faktor penentu keberhasilan ablasi takikardia RVOT.Kesimpulan. RFA takikardia RVOT efektif dan aman dengan keberhasilan jangka panjang yang lebih baik daripada terapi medikamentosa
Imbalan Jasa Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Dokter adalah suatu profesi yang dikenal mempunyai moralitas tinggi.Seorang dokter harus siap setiap saat untuk memberi pertolongan kepada siapa saja, kapan saja, dimana saja, dengan sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya.Pertolongan dokter didasari perikemanusiaan, diberikan tanpa memperhitungkan terlebih dahulu untung-ruginya.Profesional kedokteran mempunyai etika profesi sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku. Nilai-nilai dalam etika profesi tercermin di dalam sumpah dokter dan kode etik kedokteran. Sumpah dokter berisikan suatu “kontrak moral” antara dokter dengan Tuhan sang penciptanya, sedangkan kode etik kedokteran berisikan “kontrak kewajiban moral” antara dokter dengan kelompok profesinya. Keluhuran dan kemuliaan sifat dokter tercermin dalam 6 sifat dasar dokter, yaitu: 1)berketuhanan, 2) kemurnian niat, 3) keluhuran budi, 4) kerendahan hati, 5) kesungguhan bekerja, dan 6) integritas ilmiah dan sosial
ARB dibandingkan non-ARB dalam Menurunkan Komplikasi Kardiovaskular pada Pasien Hipertensi dengan Risiko Tinggi: Laporan Berbasis Bukti
Background: High risk hypertensive patients have an increased risk of developing cardiovascular complication. It is better to use a proven cardio protective drugs to reduce blood pressure in high risk hypertensive patients. Angiotensin II receptor Blocker (ARB) is one type of antihyper-tensive drugs with cardioprotective effect for hypertensive patients withoutother risk factor. Whether cardioprotective effect of ARB also apply for a more specific population such as high risk hypertensive patients need to be investigated.Aim: To determine the efficacy of ARB compared to non-ARBs in preventing cardiac event in a more specific population, such as high risk hypertensive patients.Methods: A search was conducted on PubMed and Cochrane. The selection of title and abstract was done using inclusion and exclusion criterias. Three original articles were found and used as the evidence tor the clinical question. The selected studies were critically appraised for validity, importance and applicability.Result: According to Sawada et al, the blood pressure lowering effect was similar between valsartan and non-ARB groups. The cardiovascular events in valsartan group is lower compared to non-ARB groups (relative risk: 0.54, 95% confidence interval 0.4-0.7, p< 0.001). The administration of valsartan as compared to non-ARB, also reduce the occurence of angina pectoris (Relative risk: 0.52, 95% Confidence Interval 0.31–0.86, P=0.01058). Cohn JN et al showed that there was no significant differences in the candesartan group in terms of total death and primary endpoints. The only significant finding in this article was the lower rate of diabetes mellitus in the candesartan group.Conclusion: Valsartan, as compared to non-ARB, reduce cardic event in high risk hypertensive patients.Latar belakang: Pasien hipertensi dengan risiko tinggi mempunyai kemungkinan lebih tinggi mendapatkan komplikasi kardiovaskular. Pada pasien hipertensi risiko tinggi lebih baik digunakan obat hipertensi yang memiliki efek kardioprotektif. Angiotensin II Receptor Blocker (ARB) adalah salah satu golongan obat hipertensi yang memiliki efek kardioprotektif pada pasien hipertensi tanpa risiko. Apakah ARB juga efektif untuk menurunkan kejadian kardiovaskular baru atau perburukan kardiovaskular pada populasi hipertensi dengan risiko tinggi?Tujuan: Mengetahui efektivitas ARB dibandingkan non-ARB dalam menurunkan komplikasi kardiovaskular pada pasien hipertensi dengan risiko tinggi.Metode: Pencarian terstruktur dilakukan menggunakan Pubmed dan Cochrane. Setelah dilakukan penapisan judul dan abstrak, Tiga studi ditemukan yang kemudian digunakan penulis. Studi ini ditelaah dengan menggunakan kriteria yang mencakup validity, importance, dan applicability untuk menentukan derajat kegunaan studi.Hasil: Berdasarkan studi oleh Sawada et al, valsartan memiliki efek penurunan tekanan darah sebanding dengan pengobatan non-ARB. Komplikasi kardiovaskular lebih rendah pada kelompok valsartan dibandingkan kelompok non-ARB (relative risk: 0.54, 95% confidence interval 0.4-0.7, p< 0.001). Valsartan menurunkan kejadian angina pectoris dibandingkan grup non-ARB (relative risk : 0.52, 95% Confidence Interval 0.31–0.86, P =0.01058). Cohn JN et al menyimpulkan tidak ada perbe-daan signifikan dalam pencegahan mortalitas dan parameter akhir lainnya. Namun penggunaan candesartan secara signifikan mengurangi kejadian diabetes.Kesimpulan: Valsartan, dibandingkan pengobatan non-ARB, menurunkan kejadiaan kardiovaskular pada pasien hipertensi dengan risiko tinggi
Very Fast Tachycardia: What is the mechanism?
Seorang pria umur 59 tahun datang ke UGD Pusat Jantung Nasional Harapan Kita dengan keluhan berdebar sangat cepat disertai rasa sesak dan nyeri dada. Keluhan ini sudah dirasakan sejak 1 jam sebelum masuk rumah sakit. Pemeriksaan fisik terlihat keadaan umum sakit sedang tanpa tanda hipoperfusi. Tekanan darah 105/87 mmHg dengan denyut nadi sulit dihitung karena terlalu cepat. Pemeriksaan laboratorium dalam batas normal kecuali Rekaman EKG di UGD ditampilkan sebagai Gambar 1. Suatu takikardia QRS sempit regular dengan gambaran gelombang P di belakang kompleks QRS dapat merupakan suatu atrioventricular reciprocating tachycardia (AVRT), atrial takikardia/atrial flutter, atau atipikal atrioventricular node reentrant tachycardia (AVNRT). Bagaimana membedakan antara ketiga ke-mungkinan supraventrikular aritmia tersebut?Seorang pria umur 59 tahun datang ke UGD Pusat Jantung Nasional Harapan Kita dengan keluhan berdebar sangat cepat disertai rasa sesak dan nyeri dada. Keluhan ini sudah dirasakan sejak 1 jam sebelum masuk rumah sakit. Pemeriksaan fisik terlihat keadaan umum sakit sedang tanpa tanda hipoperfusi. Tekanan darah 105/87 mmHg dengan denyut nadi sulit dihitung karena terlalu cepat. Pemeriksaan laboratorium dalam batas normal kecuali Rekaman EKG di UGD ditampilkan sebagai Gambar 1. Suatu takikardia QRS sempit regular dengan gambaran gelombang P di belakang kompleks QRS dapat merupakan suatu atrioventricular reciprocating tachycardia (AVRT), atrial takikardia/atrial flutter, atau atipikal atrioventricular node reentrant tachycardia (AVNRT). Bagaimana membedakan antara ketiga ke-mungkinan supraventrikular aritmia tersebut
Dabigatran dibandingkan Warfarin untuk Pencegahan Stroke pada Pasien dengan Atrial Fibrilasi: Laporan Berbasis Bukti
Background. Atrial fibrillation (AF) increases the risk of having stroke as high as five fold. Anticoagulant administration such as vitamin K antagonist has been used regularly to reduce the occurence of stroke. Despite the high efficacy, warfarin has several limitations, including a narrow therapeutic window, multiple food and drug interactions, and the need for frequent laboratory monitoring. Dabigatran, an oral thrombin inhibitor, displays some positive characteristics as the solution to warfarin’s limitations.Aim. To determine the efficacy of dabigatran compared to warfarin for stroke prevention in patients with atrial fibrillation.Methods. A search was conducted on PubMed and Google. The selection of title and abstract was done using inclusion and exclusion criteria. Five original articles were found, but only one study was used. The selected study was critically appraised for its validity, importance and applicability.Result. The administration of 150 mg of dabigatran was superior to warfarin with respect of stroke. The relative risk reduction was 36% in the 150 mg dabigatran group. The rate of stroke was 1.01% per year in the group that received 150 mg dabigatran, as compared with 1.57% per year in the warfarin group (relative risk 0.64; 95% confidence interval, 0.51 to 0.81, p<0.001). The administration of dabigatran increased the risk of gastrointestinal bleeding.Conclusion. In patients with atrial fibrillation, dabigatran given at a dose of 150 mg, as compared with warfarin, was associated with lower rate of stroke. Dabigatran administration requires closed gastrointestinal monitoring.Latar belakang. Atrial fibrilasi (AF) meningkatkan risiko terjadinya stroke sebanyak lima kali. Warfarin, golongan antagonist vitamin K, telah digunakan cukup lama untuk menurunkan kejadian stroke. Namun warfarin memiliki beberapa keterbatasan seperti ambang terapi yang sempit, berbagai interaksi obat dan diperlukannya pemantauan berkala. Dabigatran, antitrombin oral, memiliki beberapa keunggulan sebagai jawaban sebagai keterbatasan dari warfarin.Tujuan. Menentukan efektivitas dabigatran dibandingkan warfarin untuk pencegahan stroke pada pasien dengan atrial fibrillasi.Metode. Pencarian terstruktur dilakukan dengan menggunakan Pubmed dan Google. Setelah dilakukan penapisan judul dan abstrak dengan kriteria inklusi dan eksklusi, lima studi ditemukan, tetapi hanya satu studi yang digunakan penulis. Studi ini ditelaah dengan menggunakan kriteria yang mencakup validity, importance, dan applicability untuk menentukan derajat kegunaan dalam studi ini.Hasil. Pemberian dabigatran sebanyak 150 mg menyebabkan penurunan risiko terjadinya komplikasi stroke pada pasien AF sebesar 36% dibandingkan warfarin. Kejadian stroke pada kelompok yang menerima 150 mg dabigatran sebesar 1.01% per tahun dibandingkan dengan 1.57% pada kelompok warfarin. (relative risk0.64; 95% confidence interval, 0.510.81, p<0.001). Namun pemberian dabigatran meningkatkan risiko terjadinya perdarahan gatrointestinal.Kesimpulan. Pemberian 150 mg dabigatran menurunkan risiko terjadinya stroke pada pasien AF dibandingkan pemberian warfarin. Namun pemberian dabigatran memerlukan pemantaun perdarahan gastrointestinal