Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
687 research outputs found
Sort by
Pengaruh Makanan Pada Sindrom Metabolik
Sejak 15 sampai 20 tahun terakhir ini sejumlah perubahan yang berhubungan dengan resistensi insulin termasuk hipertensi, obesitas, hiperinsulinemia, hipertrigliseridemia dan HDL yang rendah sudah dipahami dengan baik. Reaven yang menyatakan bahwa perubahan itu disebut sebagai sindrom metabolik yang bukan suatu penyakit tetapi merupakan sekumpulan kelainan metabolisme dimana penyebab utama sindrom ini saling berinteraksi, yaitu obesitas dan kerentanan metabolisme endogen. The National Cholesterol Education Program (NCEP) Adult Treatment Panel III (ATP III) menyatakan bahwa diagnosis sindrom metabolik harus memenuhi 3 atau lebih faktor risiko yaitu obesitas abdomen, trigliserida, kadar HDL, tekanan darah dan kadar gula darah puasa
Takikardia Iregular: apa mekanismenya?
Seorang perempuan, 36 tahun mengeluh palpitasi berulang. Tidak ada riwayat sinkop. Pemeriksaan fisik dan penunjang lain tidak menunjukkan ke-lainan. Rekaman EKG terlihat seperti di bawah ini:Terlihat suatu takikardia irregular dengan durasi QRS terlebar hingga 120 mdet di sadapan III. Kemu-dian, perhatikan sadapan II panjang terlihat beberapa gelombang P yang jelas yang diikuti oleh kompleks QRS yang sempit. Apakah gambaran itu suatu Atrial fibrilasi (AF) atau ventrikel takikardi (VT)
Revolusi Genomik dan Masa Depan Kardiologi (Preventif); Ilustrasi Kasus: Penyakit Jantung Koroner pada Kembar Identik
The Simon Dack Lecture, salah satu sesi paling bergengsi dari pertemuan ilmiah tahunan The American College of Cardiologysecara berturut-turut menampilkan tiga pembicara dengan latar belakang yang berbeda, tetapi memberikan pesan yang senada dan saling memperkuat. Diawali pada tahun 2003, Dr. Eugene Braunwald, mahaguru kardiologi, memberikan pandangannya mengenai Cardiology: The Past, The Present and The Future; kemudian tahun 2005, Dr. Eric Topol, ahli jantung intervensi dari California, memberikan kuliah dengan judul The Genomic Basis of Myocardial Infarction, dan pada tahun 2006, Dr. Elizabeth Nabel, Direktur NHLBI (National Heart Lung and Blood Institute), menyampaikan visinya dengan topik Genomic Medicine and Cardiovascular Disease. Ketiga dedengkot kardiologi Amerika itu ternyata memiliki visi yang serupa dalam melihat kardiologi di masa depan: bahwa revolusi genomik akan memberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan ilmu dan praktek kardiologi di masa yang akan datang. Tulisan ini mencoba menyarikan perspektif ketiga tokoh kardiologi dunia tersebut, disertai ilustrasi kasus yang ada di tanah air untuk menggambarkan bahwa perspektif yang mereka berikan sangat relevan dengan situasi di tanah air, serta ditambah beberapa referensi terkini, untuk melihat masa depan kardiologi, utamanya kardiologi preventif
Seks dan Penyakit Jantung
Hubungan seks adalah fitrah manusia yang berkeluarga dalam membentuk ikatan pernikahan yang diridhoi Allah SWT agar tercipta keluarga yang sakinah (tentram), mawaddah- warahmah (kasih sayang).Kebutuhan manusia sebagai mahluk sosial disamping makanan, pakaian, perumahan juga berkeluarga atau dalam istilah populer kebutuhan seks, tidak terkecuali penderita penyakit jantung. Penelusuran pustaka yang mengungkap aktifitas seksual terbatas pada penderita penyakit jantung koroner, sehingga untuk penderita lainnya belum ada. Penderita penyakit jantung akan mengalami berbagai kendala berkaitan dengan tingkat berat ringannya penyakit, kondisi psikologis (perasaan takut) penderita maupun pasangannya. Semua kendala tersebut akan mempengaruhi kehidupan seksual, sehingga tidak jarang mengalami kemunduran atau malahan tidak melakukan hubungan sama sekali
Drug Induced Long QT
A 54 years old cattle-farm owner was found un-conscious by his daughter at his living room. After she repeatedly shook his body, he regained consciousness without any impairment. He told his daughter that before collapse he suddenly felt weakness all over his body, a bit lightheaded and a brief period of palpitation. On the next day he experienced the same symptom, and this time he fainted at the farm. He was rushed to 24-hour infirmary, but he recovered before reaching the clinic. He afterwards was seen by a doctor and was told to have a mild stroke. He was referred to emergency department at a nearby hospital where he passed out for the third time; but this time was witnessed by his daughter. She noted that before he fell down, he was having a short period of seizure. A neurologist was among the first physician who saw him and noticed that the patient had a very slow pulse. He accordingly consulted the patient to cardiologist due to bradycardia
Pericardial Cyst in a Neonate
Pericardial cyst is a rare entity, often discovered incidentally on routine chest radiographs. Some studies reported an incidence of about 1:100.000. Symptomatic cysts presenting in the neonatal period are very rare. Most of the patients are asymptomatic, but can cause symptoms when they undergo complications or on account of their large size. We describe the case of a neonate presenting with tachypneau where a pericardial cyst was diagnosed with echocardiography and computer tomography, the cyst was successfully resected with open heart surgery
Ablasi Frekuensi Radio Pada Fibrilasi Atrium Paroksismal
Fibrilasi atrium (Atrial Fibrilation, AF) merupakan aritmia yang paling sering ditemukan dalam praktek klinis, meliputi sepertiga dari perawatan gangguan irama jantung. Diperkirakan prevalensi AF 0,4% hingga 1% dari populasi umum, yang meningkat dengan bertambahnya umur. Selama 20 tahun terakhir, terjadi 66% peningkatan angka perawatan rumah sakit oleh karena AF yang berkaitan dengan faktor umur dan prevalensi penyakit jantung kronis. AF juga dapat terjadi pada pasien tanpa penyakit jantung struktural (lone AF). Berdasarkan studi pada populasi, kejadian lone AF berkisar antara 12 hingga 30% dari seluruh kasus AF. AF meningkatkan risiko stroke 4 – 5 kali pada seluruh kelompok umur. Secara keseluruhan AF bertanggung jawab terhadap 15% kasus stroke di Amerika Serikat
Problem Jantung pada Penyakit Kawasaki
Penyakit Kawasaki merupakan penyakit akut, vaskulitis yang sembuh sendiri (self-limited).Penyakit ini menyerang bayi dan anak-anak, penyebabnya tidak diketahui. Tomisaku Kawasaki menemukan kasus pertama tahun 1961 pada anak usia 4 tahun yang menderita demam dengan bercak kemerahan. Pada tahun 1967, Kawasaki melihat 50 pasien dengan gejala yang sama, yaitu demam akut disertai eksantema dan menegakkan diagnosisnya sebagai mucocutaneus lymph node syndrome.Penyakit tersebut mulai dikenal luas di luar Jepang sejak tahun 1974 setelah Kawasaki melaporkannya dalam suatu jurnal di Inggris
Minuman Yang Bermanfaat Untuk Kardiovaskular
Sejak tahun 1921 penyakit jantung merupakan penyebab kematian utama di Amerika Serikat (USA), sedangkan stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga mulai tahun 1938; kedua penyakit ini menduduki proporsi 40% dari seluruh penyebab kematian. Namun, pada tahun 1950 angka kematian akibat penyakit kardiovaskular turun 60%; keberhasilan yang luar biasa dari program kesehatan masyarakat USA di abad 20. Keberhasilan ini tercapai berkat pemahaman masyarakat yang lebih mendalam tentang faktor risiko penyakit kardiovaskular, intervensi prevensi yang dikembangkan untuk menurun-kan faktor risiko tersebut, dan tentunya juga berkat teknologi pengobatan yang semakin maju. Masyarakat di negara-negara maju kini banyak berpaling pada makanan dan minuman yang telah dibuktikan ber-manfaat untuk kesehatan kardiovaskular. Para ahli semakin faham bahwa disfungsi endotel dan aktivasi platelet, merupakan patogenesis utama aterotrombosis, yang mendorong terjadinya vasokonstriksi, pembentukan trombus dan inflamasi
Patogenesis dan Terapi Sindroma Metabolik
Arus globalisasi tidak hanya membawa dampak positif di segala bidang seperti informasi dan teknologi, namun sangat berpengaruh pada pola hidup terutama pola aktivitas dan makan. Produk dari teknologi dan informasi sebagian telah terbukti bermanfaat untuk mempermudah manusia (tidak banyak keluar tenaga), seperti mobil dan sarana transportasi lainnya, eleva-tor/lift, remote kontrol, traktor dan teknologi pertanian lainnya. Namun disisi lain, kemudahan-kemudahan tersebut mengakibatkan pola hidup sed-entary. Disamping itu, makanan tinggi kalori dan cepat saji kini mudah didapat di setiap tempat, amat membantu disela kegiatan rutin yang padat. Dengan demikian terciptalah asupan kalori yang tinggi dengan pemakaian energi yang rendah, lalu sisanya tersimpan dalam bentuk lemak. Sehingga mudah dipahami bahwa, saat ini sudah terjadi epidemi global overweight dan obesitas