Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
    687 research outputs found

    Nilai Prediktif Distorsi QRS pada Infark Miokard Akut Anterior

    Get PDF
    Background. The initial ECG at patients with Acute Coronary Syndrome, especially STEMI can predict size of infarction, response to reperfusion therapy and long term prognosis. A new classification, the QRS distortion have increased mortality rates and larger infarct size and less limitation of their infarct size by thrombolytic therapy. QRS distortion is the emergence of J point = 50% of R wave in leads with qR configuration (I, aVL, V4-V6), or disappearance of the S wave in leads with Rs configuration (V1-V3). Methods and results.This study is cohort-retrospective to patients with anterior IMA treated by thrombolytic at National Cardiovascular Centre – Harapan Kita, Jakarta, Indonesia, during January 2003 – September 2004, that fulfill inclusion and exclusion criterias. They were divided into two group, with QRS distortion (+) and without QRS distortion (-); each group consist of 30 patients. Correlation between the two groups were ana-lyzed by t test, chi-square test, Mann Whitney u test and logistic regres-sion. Patients age range is 40 – 69 years, and mostly man. There is no difference between baseline characteristic in the two groups, except cho-lesterol LDL which is higher in the group with QRS distortion. Patients with QRS distortion have a higher tendency of thrombolytic therapy fail-ure compare to patients without QRS distortion, (p=0,003). As the con-sequence they also have a higher rate of arrhythmia events, low ejection fraction and re-hospitalization due to congestive heart failure.Conclusions. The prognosis of patients with anterior IMA associated with QRS distortion is worse than without QRS distortion.Latar Belakang.Gambaran elektrokardiogram (EKG) awal pasien sindroma koroner akut khususnya infark miokard dengan ST elevasi (STEMI), dapat memprediksi luasnya infark dan respons terhadap terapi reperfusi, serta prognosis jangka panjang. Gambaran EKG pada STEMI khususnya infark miokard akut (IMA) anterior, dapat disertai distorsi terminal komplek QRS positif dan tanpa distorsi QRS. Distorsi terminal komplek QRS adalah emergence J point= 50% dari gelombang R pada sandapan dengan konfigurasi qR (I, aVL, V4-V6) atau tidak munculnya gelombang S pada sandapan dengan konfigurasi Rs (V1-V3) pada 2 sandapan berdekatan. Ternyata, pasien STEMI dengan distorsi QRS mempunyai infark yang luas, angka kematian yang tinggi, fraksi ejeksi yang rendah, serta perawatan yang lama dan berulang.Metode dan hasil.Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif-kohort terhadap pasien IMA anterior yang mendapat terapi trombolitik periode Januari 2003 sampai September 2004 yang dirawat di Rumah Sakit Harapan Kita, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pasien dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu masing-masing 30 orang dengan distorsi QRS dan tanpa distorsi QRS. Hubungan antara 2 variabel dinilai dengan uji t dan chi-square serta Mann Whitney. Subyek penelitian ini berumur antara 40 – 69 tahun. Jenis kelamin terutama adalah laki-laki. Tidak terdapat perbedaan data dasar karakteristik klinis antara kedua kelompok, sehingga keduanya adalah seimbang. Data laboratorium yang berbeda bermakna antara kelompok distorsi QRS dengan kelompok tanpa distorsi adalah kadar LDL kolesterol (162.30 ± 30.89 mg/dL vs 141.70 ± 35.22 mg/dL; p= 0.019). Respon terhadap terapi trombolitik ternyata pada kelompok distorsi QRS lebih banyak yang gagal dibanding kelompok tanpa distorsi QRS (70% vs 23.3%; p=0.003). Selanjutnya, secara statistik terbukti bahwa, kejadian aritmia, fraksi ejeksi yang rendah dan seringnya perawatan ulangan akibat gagal jantung kongestif, lebih besar pada kelompok dengan distorsi QRS.Kesimpulan.Gambaran elektrokardiogram awal berupa distorsi QRS (+) pada pasien STEMI khususnya IMA anterior adalah lebih berat dibanding tanpa distorsi QR

    Pengaruh Pemberian Pentoksifilin Terhadap Perubahan Kadar Platelets Activating Factor pada Cedera Reperfusi-Iskemik Tungkai Akut

    Get PDF
    Background. In Acute limb ischemia reperfusion causes further damage to the ischemic tissue through local compartment syndrome, and systemic syndrome: multiorgan dysfunction and failure. Several method and attempt had been studied and performed to prevent and attenuate reperfusion injury such as, ischemic preconditioning, antioxidant, and anti-cytokine therapy, but their clinical benefit were not satisfactory. Pentoxifylline (PTX) a nonspesifik phosphodiesterase derivate of xanthine has emerged as a promising agent that may attenuate inflammation response through several mechanism. However, studies on PTX and its function to prevent and attenuate inflammation response through attenuating Platelet-Activating Factor (PAF) in acute limb ischemic were not consistent. The aim of this study is to investigate the effect of PTX on PAF in rabbits with acute limb ischemic-reperfusion injury.Methods and results.Acute limb Ischemia were performed by direct occlusion of the left femoral artery of 10 New Zealand White male rabbit using non traumatic clamp, and followed by releasing the clamp after 3 hours of occlusion. The rabbits were randomly separated into 2 groups of five (PTX group and control group). The PTX group was given PTX 40 mg/kg bolus half an hour prior to reperfusion, followed by maintenance dose 1 mg/kg/hour until 2 hour post reperfusion, while the control group was given normal saline solution with comparable volume and rate administration. Level of PAF were measured after 2.5 hour of ischemic period and after 2 hours of reperfusion period. After 2.5 hours of ischemic period, the mean PAF levels did not show any significant difference (p=0.754), the mean PAF level of PTX group 13.09±0.41 pg/mL, while the control group 13.38±0.28 pg/mL. After 2 hours period of reperfusion, there were significant differences of mean PAF level between the two groups (p=0.009). The mean PAF level in the control group increase by 12.11±0.79 to became 25.5±0.78 pg/dL, while the mean PAF level of the PTX group decrease by 1.73±1.1 pg/mL and became 11.36±0.78 pg/mL.Conclusions. Pentoxifylline attenuate the production Platelet-Activating Factor level in rabbits with acute limb ischemic-reperfusion injury.Latar Belakang.Pada iskemia tungkai akut, reperfusi menimbulkan cedera reperfusi iskemia yakni reaksi kompleks yang melibatkan inflamasi lokal berakibat sindroma kompartemen, maupun sistemik yang berdampak disfungsi hingga kegagalan multi organ. Platelets activating factors (PAF) sebagai mediator inflamasi pospholipid, mempunyai efek fisiologis yang poten dan beragam, sehingga meningkatkan respon inflamasi pada cedera reperfusi iskemik. Berbagai upaya untuk mencegah dan mengurangi cedera reperfusi iskemik antara lain penggunaan ischemic preconditioning, antioksidan dan terapi anti-sitokin telah di teliti, namun hasil dan manfaat klinisnya belum memuaskan. Pentoksifilin (Pentoxyfillin, PTX) phosphodiesterase nonspesifik derivat xanthine yang memperlihatkan efek penekanan inflamasi dan menghambat interaksi lekosit-endotel, bermanfaat untuk mencegah cedera reperfusi. Namun, hasil penelitian mengenai peran PTX dalam menekan reaksi inflamasi melalui penekanan PAF pada iskemia tungkai akut tidak konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efek PTX dalam mengurangi cedera reperfusi melalui penekanan mediator inflamasi PAF, pada hewan coba kelinci dengan yang mendapat perlakuan reperfusi iskemia akut pada tungkai.Metode dan hasil.Dilakukan tindakan iskemik tungkai kiri selama 3 jam yang kemudian diikuti reperfusi, pada 10 ekor kelinci putih jantan dari New Zealand. Tindakan Iskemik dilakukan dengan oklusi arteri iliaka komunis kiri mengunakan klem selama 3 jam, kemudian dilanjutkan dengan restorasi aliran darah. Kelinci ini dibagi secara acak menjadi 2 kelompok (kelompok PTX dan kelompok kontrol). Pada kelompok PTX diberikan PTX 30 menit sebelum reperfusi dengan dosis awal bolus 40 mg/kgBB diikuti dengan dosis rumatan 1 mg/kg BB/jam hingga 3 jam periode reperfusi. Pada kelompok kontrol diberikan cairan garam fisiologis dengan kecepatan dan volume yang sebanding. Pengambilan sampel untuk pemeriksaan kadar PAF dilakukan pada 2,5 jam iskemik dan pada 2 jam reperfusi Pada periode iskemik 2.5 jam, tidak ada perbedaan bermakna (p=0,754) antara kedua kelompok, kadar rerata PAF pada kelompok PTX 13,09 ± 0,41 pg/mL dan kelompok kontrol 13,38 ± 0,28 pg/mL. Pada jam ke dua tindakan reperfusi, ditemukan perbedaan bermakna (p=0,009); kadar rerata PAF dari kelompok PTX turun menjadi 11,36±0,78 pg/mL sedangkan kelompok kontrol justru meningkat menjadi 25,5±0,78 pg/dL.Kesimpulan.PTX menekan laju peningkatan kadar PAF plasma kelinci yang mengalami cedera reperfusi iskemia tungkai akut

    Perubahan Fungsi Ventrikel Kiri pada Penderita HIV

    Get PDF
    Background. Patients with HIV have increased risk for myocardial dysfunction but the underlying mechanisms remain unknown.Methods & Results. This study evaluated noninvasively ventricular function in HIV infected patients with no clinical evidence of cardiovascular disease, with determination of left ventricular systolic and diastolic function, as well as measurement of CD 4. Between November 2009 and June 2010, 22 patients agreed to participate in a follow up study. All patients had normal LVEF and FS at both examinations. There was no evidence for a relationship between LVEF changes and either CD 4 changes, CD 4 nadir and HIV stadium. However an increase in mean EPSS was observed at follow up (p=0.045) and associated with lower CD 4 cell counts. At the initial visit, 1 patient had left ventricular dysfunction, and 4 patients at follow up. All patients had normal TAPSE values at both examinations.Conclusion. HIV related cardiomyopathy appears not to constitute a problem in HAART era. However subclinical cardiac abnormalities are frequently observed. The usefulness of systematic noninvasive screening in this population should be considered.Latar belakang. Pasien dengan infeksi HIV memiliki resiko yang lebihtinggi untuk menderita disfungsi miokard, tetapi mekanisme yang mendasarinya masih belum jelas.Metode dan Hasil. Penelitian ini melakukan evaluasi fungsi ventrikel secara noninvasif yang secara klinis tidak disertai dengan kelainan kardiovaskular, dengan penilaian fungsi sistolik dan diastolik ventrikel kiri, dan pengukuran kadar CD 4. Selama periode November 2009 hingga Juni 2010, 22 pasien ikut berpartisipasi dalam penelitian follow up.Keseluruhan pasien memiliki LVEF dan FS yang normal pada kedua tahap pemeriksaan. Tidak didapati hubungan antara perubahan LVEF dengan perubahan kadar CD 4, CD 4 nadir dan stadium HIV. Bagaimanapun didapati peningkatan rerata EPSS selama masa pengamatan (p=0.045) dan berhubungan dengan kadar CD 4 yang lebih rendah. Pada pemeriksaan awal dijumpai 1 pasien dengan disfungsi diastolik, dan meningkat menjadi 4 pasien pada masa pengamatan.Keseluruhan pasien memiliki nilai TAPSE yang normal pada kedua tahap pemeriksaan.Simpulan. Kardiomiopati yang disebabkan HIV bukan merupakan masalah yang lazim pada era HAART. Bagaimanapun kelainan jantung yang bersifat subklinis sering dijumpai. Penggunaan pemeriksaan oninvasive secara sistematik dapat dipertimbangkan

    N-terminal probrain natriuretic peptide sebagai petanda adanya hipertrofi ventrikel kiri pada pasien hipertensi dibandingkan left ventricle mass index pada ekokardiografi

    Get PDF
    Background: Some research reports the usefulness of the N-terminal proBrain natriuretic peptide (NT proBNP) as a diagnostic tool for left ven-tricular hypertrophy due to increased levels of NT proBNP in hypertensive patients with left ventricular hypertrophy.Objective:To determine the role of NT pro-BNP in terms of diagnostic tool in hypertensive patients with left ventricular hypertrophy, knowing the value of sensitivity, specificity, positive predictive value, negative predictive value of NT proBNP and levels of NT proBNP in hypertensive patients with left ventricular hypertrophy.Methods: Cross sectional observational study conducted in outpatient clinic RSSA Malang from July 2008 until December 2008. This study mea-sures the level of NT proBNP and echocardiography examinations on 79 hypertensive patients. Pearson correlation test was used to analyze the correlation between NT proBNP with left ventricle mass index(LVMI). Chisquare test was used to determine the value of sensitivity, specificity, positive predictive value, negative predictive value NT proBNP compared with echocardiography. All calculations using a= 5%, 95% confidence intervals and considered significant if p <0.05.Results: The level of NT proBNP left ventricular hypertrophy group were significantly higher than non-left ventricular hypertrophy (797,31±546,08 v 56,09±29,81 pg/ml). There is significant positive correlation between LVMI with NT proBNP (p=0.006, r=0.306). NT proBNP had a sensitivity of 60%, specificity 65.5%, 75% positive predictive value, negative predic-tive value 48.7% and AUC (area under curve) of 0.649. Conclusion: The level of NT proBNP increased in hypertensive patients with left ventricular hypertrophy and there is significant positive correlation between LVMI with NT proBNP. NT proBNP less sensitive and specific than echocardiography to determine left ventricular hypertrophy.Latar Belakang: Beberapa laporan penelitian menunjukkan kegunaan N-Terminal proBrain Natriuretic Peptide (NT proBNP) sebagai alat diagnostik hipertrofi ventrikel kiri karena kadarnya akan meningkat pada pasien hipertensi dengan hipertrofi ventrikel kiri. Tujuan penelitian: Untuk menentukan peran NT proBNP dalam hal sarana diagnostik, mengetahui nilai sensitivitas, spesi- Untuk menentukan peran NT proBNP dalam hal sarana diagnostik, mengetahui nilai sensitivitas, spesi-fisitas, nilai prediksi positif dan negatif serta kadar NT proBNP pada pasien hipertensi dengan hipertrofi ventrikel kiri.Metode Penelitian: Observational Cross Sectional Study yang dilakukan di poli jantung RSSA Malang dari bulan Juli 2008 sampai Desember 2008. Penelitian ini mengukur kadar NT proBNP serta pemeriksaan ekokardiografi pada 79 pasien hipertensi. Uji korelasi pearson digunakan untuk menganalisa korelasi antara NT proBNP dengan left ventricle mass index(LVMI). Uji chisquare digunakan untuk mengetahui nilai sensitivitas, spesifisitas, prediksi positif dan negatif NT proBNP dibandingkan left ventricle mass index pada ekokardiografi. Semua perhitungan menggunakan a=5%, confidence interval 95% dan diang-gap bermakna jika p<0,05. Hasil Penelitian: NT proBNP kelompok hipertrofi ventrikel kiri secara signifikan lebih tinggi daripada kelompok non-hipertrofi ventrikel kiri (797,31±546,08 v 56,09±29,81 pg/ml). Terdapat korelasi positif antara LVMI dengan NT proBNP (p=0,006, r=0,306). NT proBNP mempunyai nilai sensitifitas 60%, spesifisitas 65,5%, nilai duga positif 75%, nilai duga negatif 48,7% dan AUC (area under curve) sebesar 0,649. Kesimpulan: NT proBNP meningkat pada pasien hipertensi dengan hipertrofi ventrikel kiri dan adanya hubungan yang ber-makna antara LVMI dengan NT proBNP. NT proBNP mempunyai nilai sensitivitas dan spesifisitas lebih rendah dibandingkan ekokardiografi dalam menentukan hipertrofi ventrikel kiri

    Hipertrofi Ventrikel Kiri Disertai Dengan Pembesaran Diameter Osteum Vena Pulmonal

    Get PDF
    Background:Hypertensive heart disease, characterized with left ventricular hypertrophy (LVH), which is usually accompanied with left ventricular dysfunction, is prevalent in the community and associated with increased of ostial pulmonary vein diameter. We investigate pulmonary vein diameter in its relationship to left ventricular hypertrophy.Methods and Results: Ostial pulmonary veins divided into four parts, left superior (LS), right superior (RS), left inferior (LI), and right inferior (RI), were assessed by spiral multisliced computed tomography (MSCT) in 46 sinus rhythm subjects. LVH was analyzed by measuring the thickness of interventricular septum by MSCT. There were 23 patients with LVH, and the rest were normal. According to Pearson correlation analysis, we found a significant positive correlation between the degree of LVH and ostial diameter of RS, RI, and LS (p<0.05).Conclusion:Left ventricular hypertrophy is associated with right superior, right inferior and left superior pulmonary veins dilatation.Latar Belakang :Penyakit jantung hipertensi yang ditandai dengan hipertrofi ventrikel kiri dan biasanya disertai disfungsi ventrikel kiri, sering dijumpai pada populasi umum. Kondisi ini diikuti oleh penambahan diameter osteum vena pulmonal. Penelitian ini mencari hubungan antara diameter vena pulmonal dengan hipertrofi ventrikel kiri.Metoda dan Hasil : Osteum vena pulmonal terdiri atas empat bagian yaitu superior kiri, superior kanan, inferior kiri, dan inferior kanan, Empat puluh enam subyek diikutkan dalam penelitian ini, kesemuanya dalam irama sinus. Hipertrofi ventrikel kiri ditentukan dengan pencitraan multisliced computed tomography (MSCT), dengan mengukur ketebalan septum interventrikular. Ada dua puluh tiga pasen dengan hipertrofi ventrikel kiri.Dengan menggunakan analisis korelasi Pearson, didapat korelasi positif bermakna antara derajat hipertrofi ventrikel kiri dan diameter osteum vena pulmonal superior kanan, inferior kanan dan superior kiri (p<0.05).Kesimpulan :Dilatasi vena-vena pulmonal superior kanan, inferior kanan dan superior kiri menyertai hipertrofi ventrikel kiri

    Efek Ekstrak Daun Kelor (Moringa Oleifera) Dalam Menghambat Aktifasi NFkB, Ekspresi TNF-adan ICAM-1 pada HUVECS yang Dipapar LDL Teroksidasi

    Get PDF
    Background. Atherosclerosis is a chronic inflammation process of vascu-lar endothelial cells. Increased oxydized LDL(OxLDL) is one of the most potent inducer of atherogenesis. OxLDL induces an increased ROS (Reac-tive Oxigen Species) and also acts as cytotoxic and chemotaxis factor for monocytes result in accumulation of inflammatory cells. Nuclear Factor Kappa Beta(NFkB) is a transcription factor that plays an important role in this inflammatory proces. NFkB compose of heterodimer molecules of p50 and p65, which bind to its inhibitor, IkB, leading to its inactive form in cytoplasm. OxLDL activates NFkB complex by phosphorylate IkB resulting in released p50-p65-IkB binding and translocation of p50-p65 into the nucleus. p50-p65 then binds to promoter and activates transcription of target genes. NFkB activation therefore increase gene and protein expressions of target molecules such TNF-a, ICAM-1, VICAM, etc. This study aimed to examine whether Moringa oleiferainhibits activation of NFkB dan expression of cytokine TNF-aand adhesion molecule ICAM-1.Methods and results.Human umbilical vein endothelial cells (HUVECs) treated with OxLDL were used as model of atherosclerosis. The increased NFkB activity was measured by indirect method using p50 subcellular lo-calization by immunohistochemistry. 40ug/mL OxLDL, 0.01 gr/mL and 0.005 gr/mL Moringa oleiferawere used based on preliminary study.Conclusions. This study showed that OxLDL significantly induce NFkB activation and increase protein expression of TNF-aand (ICAM-1). This study also observed that Moringa oleiferasignificantly inhibit NFkB activa-tion, and prevent an increased TNF-aand ICAM-1 expression at protein level in OxLDL-treated HUVECs as compare to the controls. Moringa oleifera dose of 0.01mg/mL has a better inhibition effect as compare to that of 0.005 gr/mL.Latar Belakang. Aterosklerosis merupakan keradangan kronis pada sel endotel pembuluh darah. Peningkatan LDL teroksidasi (OxLDL) merupakan salah satu perangsang utama terjadinya aterogenesis. OxLDL menginduksi kenaikan ROS (Reactive Oxigen Species), juga bersifat sitotoksis dan kemotaksis bagi monosit, sehingga mengakibatkan penumpukan sel-sel radang. Nuclear Factor Kappa Beta(NFkB) adalah faktor transkripsi yang mempunyai peran penting terhadap terjadinya keradangan ini. NFkB terdiri dari heterodimer p50 dan p65 yang berikatan dengan inhibitor Kappa B (IkB), sehingga dalam sitoplasma berbentuk inaktif. Dengan cara memfosforilasi IkB, maka OxLDL kompleks NFkB melepas ikatan p50-p65-IkB. Selanjutnya p50-p65 berpindah ke inti sel, dan melekat pada promoter (urutan DNA yang penting untuk memicu terjadinya transkripsi) mengaktifasi proses transkripsi dari gen-gen target. Oleh karena itu, peningkatan aktivitas NFkB akan meningkatkan ekpresi gen dan protein-protein yang menjadi target NF?B antara lain TNF-a, ICAM-1 dan VICAM. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah daun kelor (Moringa Oleifera) dapat menghambat aktifasi NFkB, sehingga pembentukan sitokin TNF-a dan molekul adesi ICAM-1 terhambat.Metode dan hasil.Human umbilical vein endothelial cells (HUVECs) yang dipapar dengan OxLDL dipakai sebagai model yang menyerupai ateosklerosis. Peningkatan aktifitas NFkB diukur secara tidak langsung dengan cara mendeteksi jumlah p50 mengunakan metoda imunohistokimia. Dosis 40 ug/mL OxLDL serta 0.01 gr/mL dan 0.005 gr/mL ekstrak daun kelor dipakai berdasarkan hasil studi pendahuluan. Kesimpulan.Pemberian OxLDL pada HUVECs meningkatkan aktifitas NF?B dan ekspresi TNF-adan ICAM-1 secara bermakna. Dari penelitian ini juga dibuktikan bahwa, ekstrak daun kelor dapat menghambat aktivasi NF?B dan menurunkan ekspresi TNF-adan ICAM-1, yang diiduksi oleh OxLDL dibandingkan kontrol (tanpa pemberian daun kelor, p<0,01). Dosis ekstrak daun kelor 0.01mg/mL mempunyai efek penghambatan terhadap aktifasi NF?B, penurunan ekspresi TNF-adan ICAM-1, yang lebih baik dibandingkan dengan dosis 0.005 gr/mL

    Pengaruh Angioplasti Koroner Terhadap perubahan Dispersi QT Pasca Infark Miokard

    No full text
    Latar Belakang: Artimia ventrikular adalah penyebab yang paling umum dari kematian jantung mendadak dalam pasca infark miokard (IM). Banyak tanda-tanda dari kematian jantung mendadak pasca infark miokard yang telah dikenali. Salah satu dari tanda-tanda ini adalah dispersi QT yang meningkat pada kejadian iskhemia. Penelitian terdahulu mengungkapkan korelasi antara dispersi QT dan artimia ventrikular. Kami mengevaluasi pengaruh dari angioplasti koroner pada dispersi QT pada penderita pasca-IM.Metoda dan Hasil: Kami mengukur QT dan mengoreksi dispersi QT (QTc) sebelum angiopati, 24 jam dan 33 hari setelah prosedur. 37 Pasien diikutsertakan dalam penelitian ini, tetapi hanya 24 pasien yang dapat dianalisa. Garis acuan dispersi QT adalah 101,67+38,75 (115,02+36,82) ms. Berlainan halnya dengan dispersi QT, dispersi QT yang terkoreksi menurun secara bermakna menjadi 94,50+36,05 ms (p=0,018 dibanding garis acuan) setelah 24 jam. Evaluasi selanjutnya ditemukan bahwa dispersi QT tidak berubah terhadap garis acuan setelah 33 hari.Kesimpulan: Disimpulkan bahwa dispersi QT (QTc) pada pasien pasca-IM tidak menurun setelah angioplasti dengan berhasil

    Prehypertension: is it a real medical problem?

    Get PDF
    The term of prehypertension is introduced in guideline of hypertension management released byJoint National Committee on Hypertension a decade back. Prehypertension is define as blood pressure of 120-139/80-89 mmHg which was clasified as high normal group in previous classification.Such intentional identification of patients as “prehypertensive†calls needed attention to the excess risk associatedwith BP in this range and reminds healthcare providers to pay more attention to prevention. However, is it really worth to pay more attention on prehypertension

    Sudahkah Saatnya Mengganti Warfarin?

    Get PDF
    Fibrilasi atrium (FA) merupakan kelainan irama yang paling banyak ditemui di klinik. Diperkirakan prevalensi FA akan terus meningkat, di Amerika pada tahun 2010 terdapat 6.7 juta penderita FA dan diproyeksikan meningkat menjadi 16 juta orang pada tahun 2050. FA merupakan suatu penyakit aging sehingga kejadiannya makin tinggi pada kelompok usia manula. Besarnya masalah FA di dunia sering disebut sebagai epidemi global

    Buah Manggis: the Queen of Fruit

    Get PDF
    Ketidak-keseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan kini diketahui sebagai penyebab utama dari berbagaipenyakit degeneratif, seperti kanker dan penyakit jantung. Akumulasi radikal bebas yang berlebihan dapat menyebabkan peroksidasi lipid, pro-tein dan DNA di dalam inti sel. Stres oksidatif adalah ketidak-seimbangan antara produksi radikal bebas oksigen dengan antioksidan yang tersedia di dalam sel. Dalam hal-hal tertentu, produksi radikal bebas oksigen dapat meningkat, sementara antioksi dan yang tersedia tidak mencukupi untuk menetralisirnya. Pada orang-orang yang beranjak tua,  kecenderungan itulah yang mudah terjadi, dimana produksi radikal bebas oksigen cenderung meningkat dengan meningkatnya usia, sementara produksi antioksidan di dalam sel ataupun asupan antioksi dan dari luar seringkali sudah mulai cenderung berkurang

    607

    full texts

    687

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Journal of Cardiology
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇