Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
687 research outputs found
Sort by
Implantasi CRT pada Pasien dengan Katup Thebesian Prominen
CRT has been established as standard treatment for refractory heart failure in many major clinical trials. Insertion of left ventricle lead is frequently most challenging step. Coronary sinus anatomy is of the most technical burden. A case of CRT implantation with presence of prominent Thebesian valve and stenotic posterolateral vein is presented in thic case report.Cardiac resynchronization therapy (CRT) telah terbukti pada berbagai uji klinis menurunkan morbiditas dan mortalitas penderita gagal jantung refrakter. Insersi lead ventrikel kiri sering menjadi tantangan dan bagian tersulit pada implantasi CRT. Hal ini terutama karena anatomi sinus koronarius yang mengalami kelainan. Akan diulas satu kasus implantasi CRT dengan keberadaan katup Thebesian yang prominen dan stenosis cabang vena posterolateral
Gap Junctions pada Ischemia-Related Ventrikel Aritmia
Cardiovascular diseases are the leading cause of death worldwide, with isch-emic heart disease being the most common entity. Ventricular arrhythmia is one of the complications of ischemia that can result in sudden cardiac death. One of the underlying mechanisms of ischemia induced arrhythmia is closure of cardiac myocytes gap junctions, where gap junctions are channel-like structure between cells that allow passage of molecules and electrical current. During ischemia, gap junctions close incompletely, creating tissue impedance heterogeneity and conduction slowing, which provide substrate for ventricular arrhythmia. Conditions where gap junctions structure is altered, such as in heart failure, is associated with increased vulnerability of ischemia-induced ventricular arrhythmia.Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian di dunia, dengan penyakit jantung iskemik sebagai yang tersering. Salah satu komplikasi iskemia adalah aritmia ventrikular yang dapat mengakibatkan kematian jantung men -dadak. Mekanisme yang mendasari terjadinya aritmia yang diinduksi-iskemia antara lain adalah menutupnya gap junction–suatu struktur antar-sel yang memungkinkan aliran molekul dan arus listrik– di sel otot jantung. Saat iskemia, gap junction tidak menutup sempurna sehingga tercipta keragaman impedansi (tahanan) jaringan dan perlambatan konduksi (hantaran), yang menyediakan substrat bagi aritmia ventrikular. Kondisi yang mengakibatkan berubahnya struktur gap junction, seperti yang terjadi pada gagal jantung, membuat jantung lebih rentan untuk mengalami aritmia ventrikular yang diinduksi-iskemia
Takikardia Iregular Dengan Kompleks QRS Lebar: Mekanisme dan Tatalaksana
Seorang laki-laki, 35 tahun datang ke UGD sebuah rumah sakit pemerintah di Yogyakarta dengan keluhan near syncope. Keluhan seperti ini sudah beberapa kali dirasakan pasien dan umumnya didahului dengan debaran jantung yang cepat. Tidak didapatkan riwayat kematian jantung mendadak pada keluarga pasien.Rekaman EKG 12 sadapan saat datang di UGD terlihat seperti Gambar 1
Intervensi pada Stroke Non-Hemoragik
Stroke merupakan penyebab kematian tersering ketiga di Amerika dan merupakan penyebab utama disabili-tas serius jangka panjang. Delapan puluh lima persen stroke adalah non-hemoragik yang terdiri dari 25% akibat small vessel disease(stroke lakunar), 25% akibat emboli dari jantung (stroke tromboemboli) dan sisanya akibat large vessel disease.Riset kesehatan dasar tahun 2007 mendapatkan prevalensi stroke nasional sebesar 0.8%. Stroke juga menjadi penyebab kematian paling tinggi yaitu mencapai 15.9% pada kelompok umur 45 sampai 54 tahun dan meningkat jadi 26.8% pada kelompok umur 55 sampai 64 tahun.Stroke dikenal luas sebagai penyakit yang menimbulkan disabilitas permanen yang menyebabkan penderita kurang bah-kan tidak produktif lagi. ?al ini terjadi akibat kerusa- ?al ini terjadi akibat kerusa-kan permanen jaringan otak yang tidak tergantikan. Tetapi apakah mungkin menghindari disabilitas atau mencegah kerusakan permanen pada jaringan otak bila terjadi tromboemboli?Stroke merupakan penyebab kematian tersering ketiga di Amerika dan merupakan penyebab utama disabili-tas serius jangka panjang. Delapan puluh lima persen stroke adalah non-hemoragik yang terdiri dari 25% akibat small vessel disease(stroke lakunar), 25% akibat emboli dari jantung (stroke tromboemboli) dan sisanya akibat large vessel disease.Riset kesehatan dasar tahun 2007 mendapatkan prevalensi stroke nasional sebesar 0.8%. Stroke juga menjadi penyebab kematian paling tinggi yaitu mencapai 15.9% pada kelompok umur 45 sampai 54 tahun dan meningkat jadi 26.8% pada kelompok umur 55 sampai 64 tahun.Stroke dikenal luas sebagai penyakit yang menimbulkan disabilitas permanen yang menyebabkan penderita kurang bah-kan tidak produktif lagi. ?al ini terjadi akibat kerusa- ?al ini terjadi akibat kerusa-kan permanen jaringan otak yang tidak tergantikan. Tetapi apakah mungkin menghindari disabilitas atau mencegah kerusakan permanen pada jaringan otak bila terjadi tromboemboli
Menilai Doppler Jaringan pada Gagal Jantung: Perlukah ?
Gagal jantung kongestif (C?F) telah diketahui merupakan penyakit kardiovaskular yang menjadi masalah kesehatan di Indonesia maupun di banyak negara lainnya. Berbagai metode diagnostik dikembangkan untuk penegakan diagnosis dan evaluasi tata laksana pasien. Pemeriksaan peptida natriuretik seperti Brain natriuretic peptide (BNP) maupun N-terminal pro-BNP (NT-BNP) telah umum dilakukan untuk kep-erluan diagnostik maupun evaluasi terapi CHF. Akan tetapi pemeriksaan biomarker tersebut relatif mahal, terutama bila dilakukan secara serial untuk mengetahui keberhasilan terapi. Pada CHF timbulnya gejala dan tanda telah diketahui terkait dengan tingginya tekanan baji pul-monal (PCWP). Keberhasilan terapi dan perbaikan klinis, kapasitas fungsional serta prognosis pasien CHF tentunya juga terkait dengan seberapa jauh terapi yang diberikan mampu menurunkan PCWP tersebut.Gagal jantung kongestif (C?F) telah diketahui merupakan penyakit kardiovaskular yang menjadi masalah kesehatan di Indonesia maupun di banyak negara lainnya. Berbagai metode diagnostik dikembangkan untuk penegakan diagnosis dan evaluasi tata laksana pasien. Pemeriksaan peptida natriuretik seperti Brain natriuretic peptide (BNP) maupun N-terminal pro-BNP (NT-BNP) telah umum dilakukan untuk kep-erluan diagnostik maupun evaluasi terapi CHF. Akan tetapi pemeriksaan biomarker tersebut relatif mahal, terutama bila dilakukan secara serial untuk mengetahui keberhasilan terapi. Pada CHF timbulnya gejala dan tanda telah diketahui terkait dengan tingginya tekanan baji pul-monal (PCWP). Keberhasilan terapi dan perbaikan klinis, kapasitas fungsional serta prognosis pasien CHF tentunya juga terkait dengan seberapa jauh terapi yang diberikan mampu menurunkan PCWP tersebut
Pemeriksaan Trans Esophageal Echocardiografi (TEE)
Perkembangan Trans Esophageal Echocardiografi (TEE) merupakan penemuan besar dalam sejarah pencitraan jantung. TEE adalah cara pendekatan pencitraan jantung dengan menggunakan sebuah transducer khusus yang ddiletakkan pada esopha-gus dengan cara dimasukkan melalui mulut pasien. Transducer khusus tadi dengan frekuensi berkisar 5-7 M?z, pada ujung gastroskop yang ditempatkan dari arah kerongkongan atau esophagus. Pendekatan ini menghasilkan pencitraan interior dari struktur jantung yang lebih sempurna oleh karena haantaran suara ultra dari dank etransducer TEE terhindar dari bayangan dinding dada atau jaringaan paru
Biomarker untuk hipertrofi ventrikel kiri
Dampak peningkatan kronis tekanan darah arterial terhadap jantung merupakan respons dari ventrikel kiri terhadap beban tekanan yang berlebihan (pressure overload) dan rangsangan neurohumoral. Disamping hipertrofi sel-selotot jantung (cardiac myocyte) yang mengakibatkan hipertrofi ventrikel kiri (LVH) juga terjadi perubahan-perubahan pada komponen non cardiac myocyte otot jantung berupa apoptosis, fibrosis, dan perubahan-perubahan mikro-sirkulasi yang dipengaruhi hormon, growth factors, cy-tokines, molekul-molekul proinflammatory, sehingga terjadi pathologic myocardial remodeling.Remodeling otot jantung dapat disebabkan infark miokard, beban tekanan (pressure overload) maupun beban volume (volume overload), dan cardiomyopa-thy. Remodeling miokard akibat hipertensi mencakup peningkatan apoptosis miosit, fibrosis interstitial and perivasculer dan perubahan-perubahan mikrosirkulasi sehingga terjadi perubahan struktur maupun fungsi miokard berupa hipertrofi ventrikel kiri, peningkatan massa ventrikel kiri dan disfungsi ventrike
Long-Term Clinical Outcome Of Balloon Mitral Valvuloplasty. What Is The Predictor?
Penyakit Katup Jantung khususnya Penyakit Mitral Stenosis masih merupakan masalah yang harus ditanggulangi di negara berkembang termasuk Indonesia. Katup Mitral yang mengalami stenosis dan umumnya disebabkan oleh Penyakit Rheuma akan mengalami perburukan klinis dan hemodina-mik sebanding dengan makin mngecilnya orificium Katup Mitral. Secara hemodinamik tekanan atrium kiri akan meningkat , demikian selanjutnya tekanan Vena Pulmonalis Kanan (RVP-Right Pulmonary Vein ) meningkat.RVP diketahui merupakan faktor yang berperan dalam perjalanan natural penyakit SM dan dapat memengaruhi prognosis pasca tindakan intervensi baik pembedahan maupun intervensi non bedah dan bila terus meningkat maka gagal jantung kanan akan timbul. Penurunan luas katup, menjadi < 2,5 cm2, akan menyebabkan terjadinya peningkatan gradien tekanan. Gejala SM baru muncul ketika MVA telah mencapai 1,5 cm2 atau kurang.Upaya yang dilakukan secara rational menu-runkan tekanan dengan melebarkan diameter orificium katup Mitral melalui Baloon Mitral Valvuloplasty (BMP) atau komisurotomi katup Mitral per Kutan (KTMP)
Kesesuaian Pengukuran Hemodinamik Secara Non-Invasif Dan Invasif: Apakah Aplikatif?
Upaya penyederhanaan pengukuran –pengukuran invasif dengan pengukuran non-invasif selalu menarik untuk diteliti. Jika pengukuran yang lebih sederhana dan non-invasif dapat memiliki akurasi mendekati baku emas pengukuran invasif tentu akan sangat bermanfaat bagi pasien. Pada jurnal ini Priyana dkk mencoba meneliti kesesuaian pengukuran tahanan vaskular sistemik (TVS) antara Swan-Ganz dengan ekokardiografi transtorakal .TVS adalah tahanan terhadap aliran darah oleh seluruh vaskularisasi sistemik di luar vaskularisasi paru. TVS kadang disebut juga sebagai total peripheral resistance(TPR). TVS ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi tahanan vaskular pada setiap vascular beds. Mekanisme yang menimbulkan vasokonstriksi akan meningkatkan TVS, sementara mekanisme yang menyebabkan vasodilatasi akan menurunkan TVS. Sekalipun TVS secara primer ditentukan oleh perubahan diameter pembuluh darah, tetapi perubahan dalam viskositas darah juga berpengaruh terhadap TVS
Reperfusi Miokard Setelah Angioplasti Koroner Perkutan Primer dan durasi QRS. Apakah mempunyai arti?
Era kemajuan teknologi reperfusi miokard telah membawa harapan untuk menyelamatkan miokard yang mengalami infark akut sehingga fungsi ventrikel akan pulih dan kecacatan akan dihindari atau diminimalkan. Teknologi reperfusi dengan dilatasi balon yang ditindak lanjuti dengan pemasangan stent merupakan prosedur medis yang sudah diterima. Keberhasilan reperfusi dinilai dengan derajat aliran (flow) baru , atau TIMI flowderajat 3.Modalitas lain adalah memakai MBG (myocardial blush grade), modalitas baru lainnya adalah memakai MDCT (multidetector computed tomograpphy) yang merupakan hybrid imagingdari pencitraan perfusi miokard (myocardial perpusion imaging) dan evaluasi anatomi arteri koroner.Alat-alat teknologi tersebut tentu semakin canggih dengan ongkos yang semakin tinggi. Gambaran EKG sebagai modalitas awal yang murah serta menjadi salah satu sarat kemampuan kompetensi yang harus dimiliki telah dipakai dalam penelitian Andre