Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
687 research outputs found
Sort by
Epidemiologi untuk Klinisi
Pasien adalah sentrum dalam praktik klinis. Ada lima tantangan yang diberikan oleh pasien kepada dokternya, yaitu (1) berdasarkan profil dan keadaan klinisnya, apa penyakit yang sedang dialami oleh pasien? (2) mengapa penyakit ini terjadi pada pasien ini, pada saat ini? (3) bagaimana kelanjutan penyakit ini pada pasien ini? (4) apa saja pilihan terapi untuk penyakit pada pasien ini yang mungkin dapat mempengaruhi perjalanan penyakit ini. Selanjutnya, setelah diagnosis serta evaluasi kemungkinan perjalanan penyakit ditegakkan dan terpikir beberapa alternatif terapi yang ada (termasuk pilihan untuk tidak memberikan terapi sama sekali), maka tantangan terakhir adalah (5) penentuan pilihan terapi dan pelaksanaannya
Pencitraan Resonansi Magnetik Kardiovaskular pada Penyakit Jantung Bawaan
Pencitraan merupakan suatu hal yang fundamental dalam diagnosis Penyakit Jantung Bawaan (PJB). Pencitraan Resonansi Magnetis Kardiovaskular (Cardiovascular Magnetic Resonance/CMR) menjadi teknik penting dalam diagnosis dan tatalaksana penyakit kardiovaskular. Data contagious 3D yang merupakan kekuatan CMR sangat efektif memberikan gambaran lengkap patologi anatomi PJB sederhana ataupun kompleks. CMR dapat menyajikan gambar tiga dimensi dengan resolusi tinggi dan memungkinkan untuk rekonstruksi visualisasi kelainan jantung yang kompleks.Saat ini pencitraan dengan menggunakan CMR menjadi tekhnik penting dan adekuat dalam menilai fungsi ventrikel, aliran dinamis intra kardiak, termasuk regurgitasi dan stenosis katup, aliran pembuluh darah besar, karakterisasi anatomi kelainan bawaan yang kompleks, terutama yang berhubungan dengan vena sistemik dan pulmonal, hubungan antar ruang jantung (atrioventricular connection, ventriculo-arterial connection). CMR juga dapat mengurangi jumlah prosedur kateterisasi diagnostik untuk evaluasi pre dan post tindakan intervensi bedah maupun non bedah, sehingga dapat meminimalisasi efek radiasi yang ditimbulkan oleh prosedur kateterisasi.Beberapa kesulitan timbul saat melakukan pemeriksaan CMR pada anak yang kecil. Diperlukan beberapa penyesuaian untuk menghasilkan kualitas gambar yang optimal, karena ukuran struktur jantung yang lebih kecil, frekuensi nadi yang lebih cepat, kesulitan atau ketidakmampuan untuk mengikuti komando tahan nafas dan kurangnya kerjasama pasien.Penggunaan klinis CMR tergantung dari usia dan kondisi klinis pasien. Pencitraan Resonansi Magnetik Kardiovaskular menjadi teknik utama terutama pada anak-anak yang cukup besar, remaja atau dewasa pada kelainan anatomi yang kompleks, dan evaluasi post operasi
Circulating Endothelial Progenitor Cells is a predictor in Atherosclerosis: Is it really a promising candle?
Circulating endothelial progenitor cells (CEPC) are supposed to be a subset of bone marrow-derived peripheral blood mononuclear cells (PBMC), revealing immature surface markers common to hematopoietic stem cells, such as CD 34 and CD 133 and endothelial lineage markers. These cells can be isolated from peripheral, umbilical cord, and bone marrow blood. CD 34 represents a marker of immature stem cells that is commonly used to characterize CEPC together with other surface antigens. Though, as CD 34 is also expressed at lower levels on mature endothelial cells, most recent studies used CD 133, a marker of more immature hematopoietic stem cells that is now considered the best surface marker to define, identify and isolate the CEPC1. CD 133 (also known as AC 133 or prominin) is highly conserved antigen with unknown biological activity. It would be expressed on hematopoietic stem cells, but not on mature endothelial cell and monocytes. In order to reflect the endothelial cells, there is general agreement for the use of at least one additional marker, such as vascular endothelial growth factor receptor-2 (VEGFR-2 or KDR), while others are platelet-endothelial cells adhesion molecules-1 (PECAM-1), von Willebrand factor, c-kit, Tie-2, vascular endothelial-cadherin and VEGFR-12
Intervensi Koroner pada pasien Angina Pektoris Stabil: Penggunaan Fractional Flow Reserve sebagai Alat Pengambil Keputusan Angioplasti
Coronary angioplasty is a definitive, percutaneous intervention to improve myocardial oxygen supply. The benefit of coronary angioplasty for stable angina pectoris is still a controversy. The COURAGE trial had shown that angioplasty for stable angina pectoris gave no additional benefit compared with optimal medical therapy, while the recently done FAME II trial showed the opposite. FAME II trial proved that angioplasty could reduce MACEs in stable angina pectoris patients. The conflicting results from COURAGE and FAME II trials is due to the difference in decision making methodology used for angioplasty. COURAGE used plain angiogram while FAME II utilized Fractional Flow Reserve (FFR) as a tool to decide whether a lesion should undergo angioplasty. The result of FAME II demonstrate FFR is far more reliable to determine coronary lesion which cause ischemia, hence a better decision making tool for angioplasty. The specificity of FFR is proven high, while angiography has an excessive false positives. The use of FFR before angioplasty is still low although there is a considerable evidence that FFR is a better decion making tool for angioplasty compared to angiography. Health economic analysis displayed the use of FFR for stable angina pectoris is cost effective in the long term.Tindakan angioplasti koroner adalah tindakan intervensi perkutan yang bertujuan untuk memperbaiki suplai oksigen miokardium. Manfaat tindakan angioplasti pada kasus angina pektoris stabil hingga saat ini masih diperdebatkan. Penelitian COURAGE menunjukkan tindakan angioplasti pada angina pektoris stabil tidak memberi manfaat tambahan dibandingkan terapi medikal optimal. Namun sebaliknya penelitian FAME II membuktikan tindakan angioplasti dapat mengurangi kejadian kardiovaskuler pasien-pasien angina pektoris stabil. Kesimpulan yang berbeda dari kedua studi ini disebabkan perbedaan alat pengambil keputusan angioplasti. Pada COURAGE, keputusan angioplasti didasarkan pada penilaian angiogram sedangkan pada FAME II menggunakan pengukuran Fractional Flow Reserve (FFR). Ini menunjukkan penggunaan FFR terbukti lebih terpercaya untuk menentukan derajat stenosis arteri koroner yang menyebabkan iskemia. Spesifisitas FFR untuk menentukan iskemia juga sangat tinggi, sedangkan angiografi memiliki angka positif palsu yang cukup tinggi. Hingga saat ini penggunaan FFR pra-angioplasti masih rendah, meskipun telah banyak bukti yang menunjukkan FFR merupakan alat pengambil keputusan angioplasti yang lebih baik dibandingkan angiografi. Studi ekonomi kesehatan juga membuktikan pemakaian FFR dapat menghemat biaya kesehatan dalam jangka panjang
Pemeriksaan Hemodinamik Ekokardiografi pada Kasus Kegawatan dan Kritikal Jantung
Akhir-akhir ini pemeriksaan ekokardiogra? semakin berperan untuk menilai kondisi hemodinamik pasien gawat dan kritis untuk membantu penatalaksanaan dan perawatan intensif agar lebih terarah dan tepat. Secara umum pemeriksaan ekokardiogra? yang dilakukan pada kasus kegawatan dan kritikal adalah pemeriksaan ekokardiogra? yang singkat, terfokus, dan sederhana agar dapat menjawab pertanyaan spesi?k mengenai kondisi hemodinamik pasien untuk kepentingan penatalaksanaan. Walaupun demikian, beberapa kondisi kritis memerlukan pemeriksaan ekokardiogra? yang lebih rinci dan akurat.
Haruskah Indonesia Peduli pada Prahipertensi di kalangan Dewasa Muda?
Background. Prehypertension is a classification of blood pressure refere to people with systolic blood pressure (SBP) between 120 and 139 mmHg or diastolic blood pressure (DBP) 80 and 89 mmHg. Studies reported eighty-five percent of prehypertensions have one ormore CVD risk factor compared to normotensions. However, little was known about the epidemiology of prehypertension among young adult in Indonesia.Methods. Analyses were conducted based on 2007 National Health Survey (Riskesdas) with 55,347 people aged 18 to 25 in 33provinces in Indonesia. Results. All demographic parameters but sex showed significant differences between prehypertension and normotension participants. The result of themultivariable logistic regression analysis showed that the geographic area of residence, marital status, education level, occupation,overweight, smoking cessation and daily cigarette use, alcohol consumption, fruit and vegetable consumption, and mental health disorder were revealed to be significant risk factors of prehypertension among young Indonesian adults. Conclusion. These results further underline the need for routine BP measurements in young adults to identify subjects with prehypertension who should be the target of lifestyle modification.Future implications from study result point out the need to prioritize nutrition education which involve psychosocial management and healthy lifestyle promotion among young adult in Indonesia.Latar Belakang. Istilah prahipertensi merupakan klasiikasi tekanan darah dimana tekanan darah sistolik berada antara 120 dan 139 mmHg atautekanan darah diastolik 80 dan 89 mmHg. Penelitian menunjukkan 85 persen penderita prahipertensi memiliki satu atau lebih faktor risiko penyakit kardiovaskular dibandingkan normotensi. Kontrol tekanan darah seharusnya dimulai sejak seseorang mengalami prahipertensi. Namun epidemiologi prahipertensi di kalangan dewasa muda di Indonesia baru sedikit diketahui. Metode. Analisis penelitian ini menggunakan data Riskesdas 2007 yang melibatkan55,347 responden umur 18 hingga 25 tahun di 33 provinsi Indonesia. Hasil. Terdapat perbedaan parameter demograi yang signiikan antara penderita prahipertensi dengan normotensi kecuali jenis kelamin.Hasil analisis multivariat dengan regresi logistik menunjukkan tempat tinggal, status pernikahan, tingkat pendidikan, pekerjaan, kegemukan, berhenti merokok dan menghisap rokok setiap hari, konsumsi alkohol, buah dan sayur serta gangguan kesehatan jiwa sebagai faktor risiko yang berhubungan terhadap prahipertensi dewasa muda. Kesimpulan. Hasil studi ini memaparkan faktor risiko yang berhubungan dengan prahipertensi di kalangan dewasa mudamaka pengukuran tekanan darah secara rutin seharusnya dimulai sejak dewasa muda untuk mengidentiikasi penderita prahipertensi supaya gaya hidup mereka menjadi sehat. Oleh karena itu edukasi gizi yang terkait dengan gaya hidup sehat serta manajemen kesehatan jiwa perlu diprioritaskan
Insidens Dan Faktor Risiko Fibrilasi Atrium Pasca Bedah Pintas Arteri Koroner
Background.Atrial fibrillation (AF) is a frequent complication after coronary artery bypass grafting (CABG). It is associated with an increased risk of mortality and morbidity, predisposes patients to a higher risk of stroke, requires additional treatment, and increases the costs of the post-operative care. This study aimed to determine the incidence, timing, and risk factors for AF after CABG in National Cardiovascular Centre Harapan Kita.Methods.We conducted a retrospective cohort study in 138 consecutive patients with sinus rhythm who underwent CABG. The endpoint of study was new onset in hospital AF. Results.AF developed in 36 patients (26,1%). AF occurred 2,67 ± 1,91days (range 0–7 days) after CABG with a peak incidence on postoperative day 2 and 28 patients (77%) had AF within the first 3 day after CABG. Univariate analysis showed that age = 60 years (P<0.001) and number of graft > 3 (P=0.042) were associated with postoperative atrial fibrillation. In multivariate analysis, age = 60 years (P<0.001) RR 6.198 was found to be independent risk factor of AF following CABG.Conclusions.The incidence of post CABG AF is 26.1% and its independent risk factor is age = 60 years.Latar Belakang.Fibrilasi atrium (AF) merupakan komplikasi yang sering terjadi pasca Bedah Pintas Arteri Koroner (BPAK). AF pasca BPAK ini dihubungkan dengan peningkatan risiko mortalitas dan morbiditas, risiko terjadinya stroke, membutuhkan tatalaksana tambahan dan pada akhirnya menyebabkan peningkatan biaya pasca-operatif. Banyak faktor risiko yang telah dihubungkan dengan AF pasca BPAK ini. Penelitian ini bertujuan mengetahui insidens dan faktor risiko AF pasca BPAK di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (PJNHK).Metode. Studi ini merupakan kohort retrospektif pada 138 dengan irama dasar sinus yang menjalani BPAK. End point penelitian adalah AF awitan baru dalam rumah sakit.Hasil.AF terjadi pada 36 pasien (26,1%). AF terjadi pada hari ke 2,67 ± 1,91 (kisaran 0–7 hari) setelah BPAK dengan insidens tertinggi terjadi pada hari ke-2 pasca operasi dan 28 pasien (77%) terjadi AF dalam 3 hari pertama pasca BPAK. Analisis univariat menunjukkan bahwa usia =60 tahun (P<0.001) dan jumlah graft > 3 (P=0.042) dihubungkan dengan terjadinya AF pasca BPAK. Pada analisis multivariat didapatkan bahwa usia =60 tahun (P<0.001) RR 6.198 merupakan faktor risiko independen terjadinya AF pasca BPAK.Kesimpulan.Insidens AF pasca BPAK di PJNHK 26,1% dengan faktor risiko independen usia =60 tahun
Hubungan Durasi QRS Awal Dengan Derajat Reperfusi Miokard Setelah Angioplasti Koroner Perkutan Primer
Background.Reperfusion therapy in acute myocardial infarction aims at early and sustained reperfusion of the myocardium at risk. However, even when TIMI flow 3 is achieved, some patients have less optimal reperfusion at myocardial tissue level. QRS duration before reperfusion therapy was showed as a predictor of myocardial reperfusion after fibrinolytic therapy, but currently there is no data showing relationship between QRS dura-tion at admission with myocardial reperfusion after primary percutaneous coronary intervention (primary PCI).Methods.A case control study was conducted to study the relationship between QRS duration at admission with myocardial reperfusion after pri-mary PCI. Myocardial reperfusion was assessed by myocardial blush grade (MBG), and was grouped as optimal reperfusion (MBG 2-3) and impaired reperfusion (MBG 0-1).Results.There were 41 patients fulfilling study criteria. Thirty one patients had optimal reperfusion and 10 patients had impaired reperfusion. Impaired reperfusion group had longer QRS duration (103 +14 vs 91 +12 ms; p = 0,013) and were older (63,9 +12,2 vs 53,7 +10,3 years, p = 0,023). The two groups were similar in terms of gender, diabetes, hypertension, dyslipidemia, smoking status, pain-to-door time, pain-to-balloon time, infarct-related artery location, and TIMI flow. Multivariate analysis showed that longer QRS duration was associated with impaired reperfusion after primary PCI (OR: 21.7, p = 0.014). QRS duration of more than 105 ms was a predictor of impaired reperfusion after primary PCI, with 84% sensitivity and 62% specificity.Conclusions.Longer QRS duration at admission is a predictor of impaired myocardial reperfusion after primary PCI. Patients with STEMI who have QRS duration of more than 105 ms should be considered to be at higher risk of impaired reperfusion after primary PCI.Latar Belakang. Terapi reperfusi pada infark miokard akut bertujuan untuk memperoleh reperfusi miokard yang segera dan menetap. Namun walaupun TIMI flow3 tercapai, sebagian pasien memiliki reperfusi yang tidak optimal pada jaringan miokard. Durasi QRS awal telah ditunjukkan sebagai prediktor reperfusi miokard setelah terapi fibrinolitik, namun sampai saat ini belum ada data yang menunjukkan hubungan antara durasi QRS awal dengan reperfusi miokard setelah angioplasti primer.Metode.Penelitian kasus kontrol dilakukan untuk menilai hubungan antara durasi QRS awal dengan reperfusi miokard setelah angioplasti primer. Reperfusi miokard dinilai dengan myocardial blush grade(MBG), dan dikelompokkan menjadi reperfusi optimal (MBG 0-1) dan reperfusi tidak optimal (MBG 2-3).Hasil.Ditemukan 41 pasien yang memenuhi kriteria penelitian; 31 memiliki reperfusi yang optimal dan 10 reperfusi tidak optimal. Kelompok reperfusi tidak optimal memiliki durasi QRS awal yang lebih panjang (103 +14 vs 91 +12 milidetik; p = 0,013) dan usia yang lebih tua (63,9 +12,2 vs 53,7 +10,3 tahun, p = 0,023). Kedua kelompok memiliki karakteristik yang sama dalam hal jenis kelamin, diabetes, hipertensi, dislipidemia, status merokok, pain-to-door time, pain-to-balloon time, lokasi infarct-related artery, dan TIMI flow. Analisa multivariat menunjukkan bahwa durasi QRS yang lebih panjang berhubungan dengan reperfusi yang tidak optimal setelah angioplasti primer (OR: 21.7, p = 0.014). Durasi QRS awal lebih dari 105 milidetik memiliki sensitivitas 84% dan spesifisitas 62% untuk memprediksi reperfusi yang tidak optimal setelah angioplasti primer.Kesimpulan. Durasi QRS awal yang lebih panjang dapat menjadi prediktor dari reperfusi miokard yang tidak optimal setelah angioplasti primer. Pasien STEMI dengan durasi QRS awal yang lebih panjang atau sama dengan 105 milidetik mungkin memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya reperfusi yang tidak optimal setelah angioplasti primer
Korelasi Kekakuan Arteri Dengan Kadar Endothelin-1 Plasma pada Laki-laki Obesitas
Background.Obesity is associated with increase arterial stiffness and el-evated plasma endothelin-1 concentration. However, there is still conflict-ing data regarding the effect of obesity on arterial stiffness and plasma endothelin-1 concentration.Objective.The purpose of the current study was to assess this effect and analyze whether there was correlation between arterial stiffness indices and plasma endothelin-1 concentration.Methods.The design of the study was cross sectional study that compare and correlate arterial stiffness and plasma endothelin-1 concentration be-tween obesity group (n=40) and normoweight group (n=40). Obesity was defined as body mass index = 25 kg/m2. Arterial stiffness was as-sessed by measuring carotid-femoral pulse wave velocity (PWV) dan ß stiffness index (ß) non-invasively using ultrasound method. Endothelin-1 was measured by ELISA.Results.There was no significant difference regarding PWV between obesity and normoweight group (mean ± SD: 809.44 ± 137.77 versus 850.96 ± 211.60 cm/s, p=NS), but ßwas significantly higher in obese group (8.79 ± 3.15 versus 7.28 ± 1.96, p=0.012). PWV and ßcorre-lated significantly with age (PWV: r=0.446, p<0.001, ß: r=0.354, p=0.001), but only ßcorrelated with body mass index (r=0.282, p=0.011) and waist circumference (r=0.312, p=0.005). There was no significant difference between obesity and normoweight group regard-ing plasma endothelin-1 concentration (0.94 ± 0.26 versus 0.95 ± 0.18 pg/dl, p=NS). There are no significant correlations between PWV/ßand plasma endothelin-1 concentration.Conclusions.These findings suggest that the effect of obesity on arterial stiffness is not uniformly seen throughout all arterial region. Obesity im-pact on carotid artery is greater than its impact on aorta, and this impact on arterial stiffness is not mediated by endothelin-1.Latar belakang.Obesitas dihubungkan dengan peningkatan kekakuan arteri dan kadar endothelin-1 plasma, namun masih terdapat kontroversi mengenai efek obesitas terhadap kedua hal ini. Tujuan penelitian ini untuk melihat efek obesitas terhadap kekakuan arteri dan kadar endothelin-1 plasma serta melihat apakah terdapat korelasi antara kekakuan arteri dan kadarendothelin-1 plasma.Metode.Desain penelitian adalah penelitian potong lintang yang membandingkan dan mengkorelasikan kekakuan arteri dan kadar endothelin-1 plasma antara kelompok obesitas (n=40) dengan kelompok berat badan normal (n=40). Obesitas didefinisikan sebagai indeks massa tubuh = 25 kg/m2. Kekakuan arteri dinilai dengan mengukur carotid-femoral pulse wave velocity(PWV) dan ß stiffness index(ß) secara non invasif dengan ultrasonografi. Endothelin-1 diperiksa menggunakan metode ELISA.Hasil.Tidak terdapat perbedaan PWV bermakna di antara kelompok obesitas dan berat badan normal (mean ± SD : 809.44 ± 137.77 versus 850.96 ± 211.60 cm/detik, p=NS), namun terdapat perbedaan ßyang bermakna di antara kedua kelompok (8.79 ± 3.15 versus 7.28 ± 1.96, p=0.012). Baik PWV maupun ßberkorelasi positif dengan usia (PWV: r=0.446, p<0.001, ß: r=0.354, p=0.001), namun hanya ßyang berkorelasi dengan indeks massa tubuh (r=0.282, p=0.011) dan lingkar perut (r=0.312, p=0.005). Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar endothelin-1 plasma pada kelompok obesitas dan berat badan normal (0.94 ± 0.26 versus 0.95 ± 0.18 pg/dl, p=NS). Tidak terdapat korelasi antara PWV dan ßdengan kadar endothelin-1 plasma.Kesimpulan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efek obesitas pada kekakuan arteri tidak tersebar secara uniform pada seluruh region arteri. Obesitas memberikan dampak yang lebih besar pada arteri karotis dibandingkan aorta, dan tampaknya efek obesitas pada kekakuan arteri tidak dimediasi oleh endothelin-1
Risiko Bedah pada Pasien Dewasa dengan Tetralogi Fallot
Background. The beneficiaries of successful pediatric cardiac surgery and cardiology increases surgical treatment in the adult population with congenital heart disease. Adults patient with Tetralogy of Fallot (TOF) will need surgery either reoperative, palliative or more commonly reparative by the time they come. Many of them face the prospect of further operations, arrhythmias, complications and if managed inappropriately will increase risk of heart failure and premature death. This study presents the early surgical results of adult TOF.Methods and results.Data were reviewed retrospectively related to the hospital course of TOF adult patients (age > 17 years) from June 1, 1998 to December 30, 2006 who require surgical treatment in National Cardiac Center - Harapan Kita, Indonesia. Most of the operations were corrective procedures (20 patients, 66.7%), followed by palliative procedures (6 patients, 20%), and reoperations (4 patients, 13.3%). Mean age at surgery was 20.87+5.49 years. There were no hospital mortality in the primary corrective group, one death (16.7) in the palliative group related to poor left ventricular function, and one death (25%) in the reoperation group related to perioperative bleeding. Follow up data of 11.73+17.68 months duration were available in 28 of 30 patients (93%) who were discharged home. Overall survival probability is higher for corrective procedures than palliative and reoperative procedures.Conclusions. Surgical treatment of TOF in adult patients proved quite save and beneficial.Latar Belakang.Keberhasilan bedah jantung anak telah membawa manfaat besar bagi populasi dewasa dengan penyakit jatung bawaan. Pasien dewasa dengan Tetralogi Fallot (TF) akan memerlukan tindakan bedah, mungkin reoperasi, bedah paliatif atau yang paling sering bedah reparatif/korektif. Bila tidak ditangani dengan baik, kebanyakan pasien ini akan menghadapi masalah bedah berulang, aritmia, gagal jantung dan kematian dini. Penelitian ini mempresentasikan hasil dini bedah pada pasien dewasa dengan TF.Metode dan hasil.Data rekam medis pasien dewasa dengan TF (usia 17 tahun atau lebih) yang menjalani pembedahan di Pusat jantung Nasional – Harapan Kita, Jakarta, Indonesia dalam periode 1 Juni 1998 sampai dengan 30 Desember 2006 dipelajari secara retrospektif. Sebagian terbesar telah dilakukan bedah korektif (20 pasien, 68%), diikuti dengan bedah paliatif (6 pasien, 20%), dan reoperasi (4 pasien, 13.3%). Usia rerata saat bedah adalah 20.87+5.49 tahun. Tak ada kematian pada kelompok bedah korektif primer. Satu kematian terjadi pada 6 kasus yang menjalani bedah paliatif (16.7%), dan satu kematian (25%) terjadi pada 4 kasus yang menjalani reoperasi pasca bedah paliatif sebelumnya. Data evaluasi lebih lanjut didapat dari 28 pasien (93%) yang diikuti selama periode rerata 11.73+17.68 bulan. Probabilitas survival keseluruhan lebih tinggi pada kelompok bedah korektif dibanding kelompok paliatif dan reoperasi.Kesimpulan.Pembedahan pada pasien dewasa dengan TF terbukti aman dan bermanfaat