Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
    687 research outputs found

    Ablasi Ventrikel Takikardia Outflow Tract

    Get PDF
    Tachycardia of right ventricular outflow tract (RVOT) is the most common cause of nonischemic ventricular tachycardia (VT). It is commonly due to idiopathic RVOT tachycardia. Idiopathic RVOT tachycardia is a nonfamilial and benign condition that occurs in young individuals without structural heart disease. Radiofrequency ablation has a high successful rate to eliminate this arrhythmia. Non contact mapping can be very helpful in patient with nonsustained tachycardias. We report the case of a 55-year-old man who presented with non sustained ventricular tachycardia and was successfully underwent radiofrequency ablation using non contact mapping.Takikardia ventrikel yang berasal dari right ventricular outflow tract (RVOT) adalah penyebab terpenting takikardia ventrikel non iskemik. Seringkali penyebabnya tidak diketahui (idiopatik). Aritmia ini merupakan suatu kondisi yang ringan pada pasien tanpa kelainan struktur jantung dan tidak melibatkan genetik. Ablasi radiofrekuensi mempunyai angka keberhasilan yang tinggi untuk menghilangkan aritmia ini. Non contact mapping berguna pada pasien dengan takikardia yang hanya muncul sesaat. Kami laporkan laki-laki usia 55 tahun dengan takikardia ventrikel yang tidak menetap dan berhasil dilakukan ablasi radiofrekuensi dengan menggunakan metoda non contact mapping

    Jaras Tambahan Yang “Tidak Biasa”

    Get PDF
    Two cases of accessory pathway that were considered uncommon are presented. The first case shows of ECG limitation to identified manifest accessory pathway location based on delta wave morphology. The second case shows rare dual accessory pathways. Radiofrequency ablation has successfully eliminated all accessory pathway in both cases.Dua kasus pasien dengan jaras tambahan yang tidak biasa di ulas dalam laporan kasus ini. Kasus pertama menunjukkan kegagalan identifikasi lokasi jaras tambahan berdasarkan morfologi gelombang delta pada EKG. Sedangkan kasus kedua adalah jaras tambahan ganda yang jarang ditemukan. Ablasi frekuensi radio berhasil mengeliminasi jaras tambahan pada kedua kasus tersebut

    Teknik Balon Ganda Untuk Ablasi Septum Miokardium Transluminal Perkutan Pada Kardiomiopati Hipertrofik

    Get PDF
    Percutaneous transluminalseptal myocardial ablation (PTSMA), has been a standard treatment of hypertrophic cardiomyopathy (HCM). Rarely, special technique of PTSMA needed for complicated HCM case with collateral of target artery (septal perforator) into distal left anterior descending. To overcome such problem, a case of double balloon technique during PTSMA will be elaborated.Percutaneous transluminalseptal myocardial ablation (PTSMA), telah menjadi terapi standar terapi kardio miopati hipertropi (KMH). Kadang-kadang didapatkan kasus KHM dengan target arteri (septal perforator) yang mempunyai kolateralke distal left anterior descendens(LAD), sehingga diperlukan teknik khusus dalam melakukan PTSMA. Akan dilaporkan suatu kasus KHM yang memerlukan teknik balon ganda pada saat PTSMA

    Bradikardia Simtomatik: Mekanisme dan Tatalaksana

    Get PDF
    Seorang pria, 65 tahun datang ke klinik aritmia dengan keluhan keleyengan dan lemas yang menahun. Pasien adalah penderita hipertensi lama dengan terapi amlodipine 5 mg. Terdapat riwayat TIA 3 tahun yang lalu. Tidak ada riwayat diabetes melitus. Rekaman EKG terlihat seperti gambar di bawah. Pemeriksaan ekokardiografi menunjukkan fungsi sistolik normal, relaksasi abnormal tetapi tidak terdapat hipertrofi ventrikel kiri.Apakah diagnosis EKG di bawah ini? Apakah gejala pasien berhubungan dengan gambaran EKG-nya? Bagaimana tatalaksana pasien ini

    Pelatihan Intervensi Non-Bedah

    Get PDF
    Sejak dimulainya upaya untuk melihat gambaran sistim vaskuler yang dipelopori oleh Forsman dengan memasukkan kateter kedalam pembuluh darah dan melakukan tindakan angiografi ventrikel dan kemudian angiografi yang lebih selektif pada pembuluh koroner oleh Sones, metoda perkutan oleh Seldinger, maka tindakan yang sifatnya invasif ini amat membantu dalam memberikan data pendukung untuk mengelola berbagai kelainan kardiovaskular melalui cara-cara pembedahan. Dengan berkembangnya teknologi untuk mendapatkan “gambaran” (image) yang lebih baik maka kemudian berkembang pula tindakan-tindakan yang sifatnya lebih kearah pengobatan baik paliatif maupun definitif yang komplementer dengan pembedahan.Inovasi dari teknologi yang lebih akurat dalam imaging serta berkembangnya alat-alat bantu dalam mengatasi berbagai kelainan kardiovaskular struktural (katup), bawaan (ASO = Amplatzer Septal Occluder, ADO = Amplatzer Duct Occluder, AVO = Amplatzer Ventricle Occluder), kelainan struktural lain terutama katup maupun koroner (PCI) maupun vaskular memerlukan pula keterampilan dari operator dalam mencapai hasil yang optimal

    A young man with typical STEMI presentation: A case of myocarditis A Cardiac MRI Diagnosis

    Get PDF
    A 19 years old man, originated from Kongo, presented to a hospital with acute chest pain since several hours before admission. The pain was sharp in quality, distributed in the middle of left chest, not exercise related and not radiating. Although there were times in which the patient felt the pain was downgrading, it did not totally fade away. The patient was non-smoker with no risk factors of diabetic, hypertension and dyslipidaemia. He was oriented with temperature of 38.5 C, pulse was 110 tpm, blood pressure was 128/85 mmHg with fast and shallow respiration at the rate of 32 tpm. S1/S2 normal, no additional sound and significant murmur detected. Apart from minimal harsh respiratory sound at the basis of left lung, the examinations of JVP, lung and abdomen were unremarkable. Since 7 days before admission, the patient suffered cough, runny nose and throat pain with feverish but did not seek treatment for it. ECG showed sinus tachycardia with ST-elevation in inferior and anterolateral leads. Elevated cardiac enzymes CKMB 32 and Trop T 1,86

    Pemeriksaan Stenosis Mitral Akibat Proses Rheumatik Dengan Ekokardiografi

    Get PDF
    Stenosis mitral (SM) merupakan salah satu penyakit katup mitral yang paling sering dijumpai di negara-negara berkembang seperti di Indonesia ini. Diagnosis awal kecurigaan suatu SM tentunya ditegakkan dari pemeriksaan fisik, anamnesa yang baik dan pemeriksaan penunjang yang sederhana lainnya seperti elektrokardiogram ataupun roentgen toraks. Ekokardiografi berperan sebagai alat untuk menegakkan diagnostik pasti sekaligus memberikan arahan manajemen selanjutnya serta menentukan prognosis pasien ke depannya. Untuk itu metode pemeriksaan dan pelaporan katup ini memerlukan keseragaman dalam rangka memberikan informasi yang lengkap bagi pasien dan kardiolog yang menanganinya untuk menentukan manajemen berikutnya

    Rehabilitasi Kardiovaskular Di Indonesia

    Get PDF
    “A process by which a person is restored to an optimal physical, medical, psychological, social, emotional, sexual, vocational and economic status.” Itulah definisi Cardiac Rehabilitation dari WHO tahun 1969, yang kemudian ‘disempurnakan’ pada saat ini dengan memperhatikan dasar penyakit, proses dan kondisi pasca sakit. Definisi tersebut dijabarkan dalam definisi terkini yaitu:“The rehabilitation of cardiac patients is the sum of activities required to influence favourably the underlying cause of the disease, as well as the best possible physical, mental and social conditions, so that they may by their own efforts, preserve or resume when lost, as normal a place as possible in the society”

    Kejadian Kardiovaskular Mayor pada Perempuan

    Get PDF
    Adalah menarik untuk membagi usia muda dan tua bagi seorang wanita dalam wawasan faktor risiko. Faktor risiko (usia) penyakit jantung koroner untuk pria adalah >45 tahun dan wanita >55 tahun, wanita terlambat 10 tahun dibanding pria karena berbagai teori, antara lain hormonal seperti estrogen dan ferritine. Danny SS membagi wanita dalam penelitiannya sebagai kelompok usia muda bila <55 tahun dan kelompok usia tua >55 tahun. Apakah wanita berumur 56 tahun sudah pantas dikelompok kan sebagai usia tua

    Intervensi penyakit jantung koroner dengan Sindroma Gagal Jantung

    Get PDF
    Revaskularisasi koroner pada pasien dengan gagal jantung seringkali menjadi keputusan yang sulit akibat diperlukannya pertimbangan antara keuntungan dan risiko perioperatif yang lebih besar pada kelompok pasien seperti ini. Sementara itu, angka mortalitas pasca tindakan CABG pada pasien dengan gagal jantung di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (PJNHK) cukup tinggi. Data yg tercatat pada tahun 2006-2008 menunjukkan bahwa 14 dari 85 orang (16,4%) pasien akhirnya meninggal di rumah sakit.Apakah revaskularisasi dengan PCI pada penyakit jantung koroner (PJK) dengan EF rendah namun miokardium yang viabel memiliki peranan di PJNHK? Melaui pemaparan kasus ini akan didiskusikan manajemen Sindroma Gagal Jantung yang disebabkan oleh PJK dengan EF buruk menggunakan revaskularisasi PCI pada pasien yang menolak CABG

    607

    full texts

    687

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Journal of Cardiology
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇