Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
687 research outputs found
Sort by
Peran Remodeling Atrium pada Fibrilasi Atrium
Atrial fibrillation (AF) is the most common arrhytmia. AF usually found at older age. AF means greater complication with higher morbidity and mor-talitiy. AF tends to be more frequent and severe. Patients with AF usually very difficult to maintain sinus rhytm after cardioversion. This phenom-enon shows that AF tends to be more severe after time. Atrial fibrillation can influence the condition in atrium so the atrium tends the withold the arryhtmia condition. Changes in atrium induced by atrial fibrillation that starts atrial fibrillation called atrial remodelling. This phenomenon is called AF begets AF. Respons can be miocyt growth, hyperthrophy, necrosis, and apoptosis, the disturbance of extracellular matrix composition, changes in the expression of ion channel, atrial hormon and return to fetal gen programe. These changes causing cascade of reaction that makes atrial remodelling with structural, functional and electrical effect.Fibrilasi atrium (FA) adalah aritmia yang paling sering ditemukan. Fibrilasi atrium banyak ditemukan pada usia tua. FA berhubungan dengan komplikasi yang luas dan meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas.Fibrilasi atrium cenderung untuk menjadi semakin sering dan semakin berat.Pasien dengan fibrilasi atrium, sangat sulit untuk mempertahankan irama sinus setelah kardioversi.Hal ini menunjukkan bahwa FA adalah fenomena yang dapat terus memberat dengan waktu. Fibrilasi atrium sendiri dapat mempengaruhi kondisi atrium sehingga atrium mempunyai kecenderungan untuk tetap mempertahankan kondisi aritmia. Perubahan-perubahan pada atrium yang diinduksi oleh atrial fibriasi yang menyebabkan inisiasi proses fibrilasi atrium dinamakan remodeling atrium. Fenomena ini dinamakan AF begets AF.Respon ini dapat berupa pertumbuhan miosit, hipertrofi, nekrosis, dan apoptosis, gangguan terhadap komposisi matriks ekstraselular, perubahan pada ekspresi dari kanal ion dan hormon atrium dan berbalik pada program gen fetus.Perubahan-perubahan ini mengakibatkan kaskade reaksi yang menyebabkan remodeling dari atrium dengan konsekuensi terhadap struktural, fungsional dan elektrikal
Suatu Variasi Takikardia QRS Sempit Regular
Seorang perempuan, 51 tahun datang ke UGD dengan keluhan utama berdebar dan sesak nafas. Sesak nafas makin memberat dalam satu minggu terakhir. Terdapat dyspnoe on effort dan orthopnoe. Keluhan berdebar sudah dirasakan sejak beberapa bulan sebelumnya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda gagal jantung dengan gambaran rontgen thorax yang menunjukkan CTR 65% dan tanda bendungan paru. Rekaman EKG di UGD diperlihatkan pada gambar 1
Dampak Pasar Bebas ASEAN Terhadap Praktek Kardiologi di Negara – Negara ASEAN
Tanggal 19 Oktober 2008 yang lalu Dr. Dar-Ching Wu, Ahli Bedah Senior dari Singapura telah menyampaikan Sukaman Lecture,segera setelah The 17th Asean Congress of Cardiology dibuka. Acara Ilmiah Kardiologi yang diselenggarakan di kota Hanoi, Vietnam ini sangat meriah, sejalan dengan tumbuhnya perekonomian negara tersebut.Menurut dokter yang sudah banyak makan garam ini, kedokteran adalah praktek dari pengobatan dan pencegahan suatu penyakit. Dokter disanjung sebagai profesi yang sangat terhormat, karena dengan segala kemampuan yang ia miliki dapat menolong orang sakit yang seringkali sangat parah kondisinya. Terdapat hubungan langsung antara dokter dengan pasien, dan pasien sangat menghargai pertolongan dokternya. Dengan berkembangnya ilmu dan teknologi kedokteran, karakter layanan kesehatan pun berubah. Banyak pelaku lain yang ikut berperan, yakni tenaga kesehatan selain dokter, manajemen rumah sakit, dan penyandang dana. Kedokteran akhirnya berubah menjadi industri jasa pelayanan kesehatan
Total Anomalous Pulmonary Venous Drainage
Total Anomalous Pulmonary Venous Drainage (TAPVD) pertama kali dilaporkan oleh Friedkowsky pada tahun 1868, namun baru pada tahun 1942 TAPVD dikenal sebagai sebuah entitas penyakit. Penyakit ini jarang terjadi, insidensinya sekitar 1-3% dari semua penyakit jantung bawaan (PJB) atau sekitar 0,008% dari seluruh bayi lahir hidup.Di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (PJN-HK), selama tahun 2006 terdapat 8 kasus (5 laki-laki dan 3 perempuan) atau sekitar 0,7% dari total kasus PJB. Pasien dengan TAPVD sebagian besar akan menunjukkan gejala pada usia <1 tahun, dan bila tidak segera dikoreksi maka 80% kemungkinan akan meninggal pada usia 1 tahun. Sementara pasien yang tidak menunjukkan gejala pada umur <1 tahun biasanya mempunyai prognosis yang relatif lebih baik, dan operasi koreksi bisa dilakukan elektif saat usia kanak-kanak.Terapi medikamentosa, terutama ditujukan untuk mengatasi gagal jantung, dan umumnya cukup membantu. Namun pada kasus TAPVD dengan obstruksi atau dengan hipertensi pulmonal, terapi medikamentosa ini tidak meningkat-kan angka survival. Kami sajikan tiga kasus TAPVD sebagai ilsutrasi kasus
Penyakit Jantung Koroner pada “Chronic Kidney Disease”
Pada populasi normal, proses aterosklerosis terjadi selama puluhan tahun. Tetapi pada pasen-pasen usia muda dengan gagal ginjal kronik (Chronic Kidney Disease, CKD), telah ditemukan kelainan vaskular sebelum terjadi penyakit ginjal stadium lanjut (end stage renal disease, ESRD).Komplikasi kardiovaskular ini kemudian menjadi penyebab kematian utama pada pasen CKD. Maka timbullah pertanyaan: apakah pasien uremi mengalami percepatan aterosklerosis?Penelitian epidemiologi klinik melaporkan angka mortalitas penyakit kardiovaskular meningkat 20 kali lebih banyak pada pasen dialisis, dibanding populasi normal; karena keterlibatan faktor risiko tradisional (Framingham Risk Factors) dan faktor risiko terkait uremia
Trombosis pada Katup Prostetik Mekanik
Trombosis pada katup prostetik jarang terjadi, namun dapat mengancam jiwa pasien dengan penggantian katup. Komplikasi ini lebih sering terjadi pada katup prostesis mekanik, meskipun kejadiannya hanya 0,3-4,3 % pertahun.Trombosis katup prostetik ditandai dengan adanya trombus, tanpa disertai infeksi, yang melekat pada atau dekat katup, yang menyumbat aliran darah atau mengganggu fungsi katup. Hal ini tergantung pada jenis katup (katup plat berdiri atau katup bola), struktur (katup mekanik), lokasi (mitral) dan kepatuhan pasien terhadap penggunaan obat anti koagulan
Women Make the Difference in Heart Disease
Cardiovascular disease develops 10 to15 years later in women than in men and is the major cause of death in women older than 65 years of age. The risk of heart disease in women however is still underestimated and many women are not aware of their own risk factors.In a recent report from the European Heart Survey on stable angina pectoris it was found that women are less likely to be referred for functional testing for ischemia, with a lower rate of diagnostic angiograms and interventional procedures.The under-recognition of heart disease and differences in clinical presentation in women lead to less aggressive treatment strategies and a lower representation of women in clinical trials. In the current review we summarize the major issues that are important in the diagnosis and treatment of coronary heart disease (CHD) in women
“Endovascular Stent Graft” pada Diseksi Aorta Tipe B
Pada tahun 1970, Nicholls, seorang dokter kerajaan Inggris, melakukan otopsi terhadap King George II yang mengalami kematian mendadak. Ternyata penyebab kematian sang Raja adalah efusi masif perikardium, rongga perikard dipenuhi bekuan darah, akibat robekan dinding aorta. Hirs dkk (1958) pernah membuat penelusuran terhadap 505 penderita dengan gejala klinis serupa, ia memperlihatkan tingginya angka kematian serta sulitnya menegakkan diagnosis, sehingga pasien umumnya meninggal. Kemajuan modalitas pencitraan berperan sangat penting dalam mendiagnosis diseksi akut aorta secara dini, dan kemajuan teknik terapi akhirnya mampu meningkat-kan harapan hidup pasien dengan kelainan ini
Takikardia QRS Lebar Regular: Apa Mekanismenya?
Seorang pria, 66 tahun, datang ke UGD Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (PJNHK) dengan keluhan palpitasi. Tidak ada angina pectoris. Pasien dikenal sebagai pasien lama PJNHK dengan penyakit jantung koronek (PJK) dan riwayat dilakukan CABG. Hemodinamik cukup stabil dengan TD 110/60 mmHg. Rekaman EKG sadapan diperlihatkan pada Gambar 1: Apakah mekanisme takikardia di atas
Seleksi Kandidat Balloon Mitral Valvuloplasty pada Stenosis Mitral Rematik
Balloon Mitral Valvulotomy (BMV), sometimes also referred to as Percutaneous Transcatheter Mitral Commissurotomy (PTMC) is becoming a common treatment option for patients with mitral stenosis. Compared to surgical valvotomy, it has less procedural risk, shorter hospital stay and comparable outcome. However, that good result can only be achieved in selected good candidates. This article will give a highlight of some consideration to choose a good candidate for BMV mostly evaluated by echocardiography.Valvulotomi katup mitral perkutan (BMV) merupakan pilihan terapi yang umum bagi pasien stenosis mitral. Dibandingkan valvotomi secara pembedahan, BMV memiliki risiko yang lebih kecil, masa rawat yang lebih singkat, dengan hasil yang sebanding. Namun demikian, hasil yang baik akan dapat dicapai dengan pemilihan kandidat yang baik untuk tindakan tersebut. Artikel ini memberika ulasan singkat mengenai beberapa pertimbangan memilih kandidat BMV yang sebagian besar dilakukan dengan pemeriksaan ekokardiografi