Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
687 research outputs found
Sort by
Potensi Xanton Terhadap Status Oksidan dan Antioksidan pada Tikus Model Aterosklerosis
Introduction. Xanthones, which have potent antioxidative and antiinflammatory, and various other bioactivities, are rich in a tropical fruit tree, mangosteen, Garcinia mangostana. The effect of xanthoneson oxidant level and antioxidant activity in hypercholesterolemic rats is still unknown.Objectives. To clarify an effect of xanthoneson oxidant level and antioxidant activity in hypercholesterolemic rats.Methods. A total of 32 Wistar rats were divided into four groups (n=8), include control, hypercholesterolemic diet groups, hypercholesterolemic diet + xanthoneat dose 35; 70; and 140 mg/kg body weight. Control group receive standart diet for 60 days. Hypercholesterolemic diet group receive standart diet plus yellow egg, sheep oil, cholic acid, and pig oil for 60 days per oral. Analysis of blood hydrogen peroxide level, aorta glutathione peroxidase activity, and aorta catalase activity, were done using spectrophotometric. The ANOVA test were used to analyze the different levels of hydrogen peroxide, glutahione peroxidase activity, and catalase activity.Result. Hypercholesterolemic diet increase blood hydrogen peroxide level significantly compared to control group (p<0.05). Xanthone decrease blood hydrogen peroxide level significantly at all dose compared to control group (p<0.05). There is no significant difference of aorta glutahione peroxidase activity in all groups (p>0.05). Xanthone modulate an activity of catalase in aorta at dose 140 mg/kg body weight.Conclusion. Xanthone has potency to decreaseblood oxidant level and modulate aorta catalase activity.Latar belakang. Xanton, yang berpotensi sebagai antioksidan dan antiinflamasi, serta berbagai bioaktivitas, banyak terkanding pada buah tropis, manggis. Efek xanton terhadap kadar oksidan dan aktivitas antioksidan pada tikus hiperkolesterol belum diketahui.Tujuan. Untuk mengklarifikasi efek xanton terhadap kadar oksidan dan aktivitas antioksidan pada tikus hiperkolesterol.Hasil. Tiga puluh dua ekor tikuu yang terbagi dalam empat kelompok (n=8), meliputi kontrol; kelompok diet hiperkolesterol; kelompok diet hiperkolesterol + xanton dosis 35; 70; dan 140 mg/kgBB. Kelompok diet tinggi lemak mendapat diet standar ditambah kuning telur, minyak kambing, asam kolat, dan minyak babi selama 60 hari. Analisis kadar hidrogen peroksida darah, aktivitas glutation peroksidase aorta, dan aktivitas katalase aorta dilakukan secara spektrofotometrik. Uji ANOVA dilakukan untuk menganalisa perbedaan kadar hidrogen peroksida, aktivitas glutation peroksidase, dan aktivitas katalase. Hasil. Diet hiperkolesterol meningkatkan kadar hidrogen peroksida darah secara bermakna dibandingkan kelompok kontrol (p<0.05). Xanton menurunka kadar hidrogen peroksida darah secara bermaknapada semua dosis dibandingkan kelompok diet hiperkolesterol (p<0.05). Tidak didapatkan perbedaan bermakna aktivitas glutation peroksidase aorta pada berbagai kelompok perlakuan (p<0.05). Xanton dapat memodulasi aktivitas catalase aorta pada dosis 140 mg/kgBB.Kesimpulan. Xanton berpotensi untuk menurunkan kadar hidrogenperoksida darah dan memodulasi aktivitas katalase aorta
Studi Prospektif Pemakaian Stent Bioaktif Pada Intervensi Koroner Perkutan Primer
Background. Limited data are available on efficacy and safety of bioactive stent implantation in acute STEMI patient. This study aims to evaluate efficacy titanium nitrit-oxide stent implantation during primary percutaneous coronary intervention.Methods and Results. Thirty eight patients (age of 55.9 ± 8.35 years) presenting with less than 12 hours onsetacute STEMI enrolled in this study. After titanium nitrit oxide bioactive stent implantation then 12 months clinical follow up was performed. Infarct location were anterior (58%) and Killip class I (82%) in majority of cases. Average door to balloon time is 85.7 ± 33.88 minutes. Cilprit lesions have characteristics of simple lesion as it comprised of almost 90% of denovo and 60.5% were type A lesion. Proportion of history of myocardial infarction is higher in patients experienced of MACE but other characteristics were similar as compare to non-MACE group. MACE-free survival is 83.6% during 12 months follow up.Conclusion. In our population, implantation of bioactive stent during primary PCI of STEMI patient is safe and effective. Twelve months MACE-free survival is similar to other study using similar stent or drug eluting stent.Latar belakang. Data mengenai keamanan dan efektifitas implantasi stent bioaktif pada pasient STEMI masih sangat terbatas. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi efektifitas implantasi stenttitanium nitrit oksida pada saat intervensi koroner perkutan primer.Metode dan Hasil. Tiga puluh delapan pasien (umur 55.9 ± 8.35 tahun) yang datang ke rumah sakit dengan presentasi STEMI akut awitan kurang dari 12 jam diikutkan dalam studi ini. Setelah dilakukan implantasi stent titanium nitrit oksida, dilaku-kan pengamatan selama 12 bulan. End point studi adalah kejadian kardiovaskular mayor (KKM). Lokasi infark miokard di anterior (58%)dengan kelas Killip 1 (82%) pada kebanyakan kasus. Rerata waktu door to balloon adalah 85.7 ± 33.88 menit. Karakteristik lesi culprit merupakan lesi sederhana yaitu terdiri dari 90% denovo dan 60.5% lesi tipe A. Proporsi riwayat infark miokard lebih tinggi pada pasien yang mengalami KKM, tetapi variabel lain tidak berbeda bermakan dibandingkan dengan pasien yang tidak mengalami KKM. Kesintasan bebas KKM dalam observasi selama 12 bulan adalah 83.6%.Kesimpulan. Pada populasi ini, implantasi stent bioaktif pada saat intervensi koroner perkutan primer terbukti aman dan efektif. Kesintasan bebas KKM dalam masa pengamatan 12 bulan setara dengan studi lain yang memakai stent yang sama maupun stent lapis obat
Perbedaan Luaran Klinis Jangka Panjang Komisurotomi Mitral Transvena Perkutan Berdasarkan Kriteria Keberhasilan Ekokardiografi Dan Kateterisasi
Background. Balloon Mitral Valvuloplasty (BMV) can provides effectively the mechanical obstruction relief in mitral stenosis. Achieving a successful BMV based on echocardiographic criteria potentially increase mitral regur-gitation complication. In addition, long-term clinical outcome of a successful BMV based on catheterization criteria has not been widely elaborated. This study aims to compare the long-term clinical outcome of BMV based on the echocardiographic criteria and the catheterization criteria. Methods. A cross sectional study was conducted in mitral stenosis patients after BMV procedure. Patients was divided into 2 groups based on suc-cessful echocardiographic criteria (MVA = 1,5 cm 2vs MVA < 1,5 cm2). The long-term clinical outcome was evaluated using 6 minute walk test and SF-36 questionnaire. Results. Twenty two female patients were fulfilling study criteria with aged 38,8 ±12,0 years and 63,6% in atrial fibrillation. The characteristic between two groups were not significantly different. Six minute walk test results was not significantly different between two groups (6,6 ±0,8 vs 7,3±1,0 p = 0,103). SF-36 physical components summary was not significantly different between two groups (43,0±7,5% vs 42,1±6,7 p = 0,770). Also, SF-36 mental components summary was not significantly different between two groups (50,7±5,9 vs 53,9±8,9 p = 0,338).Conclusion. There was no significantly different of long-term clinical out-come between the echocardiographic criteria of successful BMV and the catheterization criteria of successful BMV.Latar Belakang. Salah satu tatalaksana stenosis mitral adalah menghilangkan obstruksi aliran katup mitral melalui tindakan Komisurotomi Mitral Transvena Perkutan (KMTP). Pencapaian tingkat keberhasilan KMTP yang optimal menurut ekokar-diografi berpotensi menimbulkan komplikasi regurgitasi mitral. Di samping itu, saat ini keberhasilan KMTP menurut kriteria kateterisasi belum jelas hubungannya dengan luaran klinis jangka panjang. Penelitian ini bertujuan membandingkan luaran klinis jangka panjang pada pasien yang dilakukan KMTP didasarkan kriteria ekokardiografi dan kateterisasi.Metode. Studi cross sectionaldilakukan pada pasien stenosis mitral yang menjalani KMTP. Pasien dibagi 2 kelompok berdasarkan kriteria keberhasilan ekokardiografi (MVA >1,5 cm 2vs MVA < 1,5 cm2). Dinilai perbedaan luaran klinis jangka panjang yaitu hasil 6-minute walk test dan SF-36 antar kedua kelompok. Hasil. Didapatkan 22 pasien perempuan yang memenuhi kriteria penelitian, dengan usia 38,8±12,0 tahun dan 63,6% irama fibrilasi atrium. Karakteristik kedua kelompok tidak berbeda bermakna. Hasil 6-minute walk testtidak berbeda bermakna antara kedua kelompok (6,6 ±0,8 vs 7,3±1,0 p = 0,103). Hasil kuesioner SF-36 komponen fisik tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok (43,0±7,5% vs 42,1±6,7 p = 0,770). Begitu pula SF-36 komponen mental juga tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok (50,7±5,9 vs 53,9±8,9 p = 0,338).Kesimpulan. Tidak didapatkan perbedaan bermakna luaran klinis jangka panjang antara kelompok KMTP yang berhasil menurut kriteria ekokardiografi dan kelompok yang gagal menurunt kriteria ekokardiografi tetapi berhasil menurut kriteria kateterisasi
Peran Lipopolisakarida Helicobacter pylori terhadap Aktivitas Neutrofil pada Penderita Infark Miokard Akut melalui Degradasi Kolagen Tipe IV
Matrix metalloproteases (MMPs) are proteolytic enzymes that play a criti-cal role in decreasing the stability of atherosclerotic plaque causing Acute Myocardial Infarction (AMI). In this process, degradation of type IV col-lagen as an important component of endothelial membrane is thought to be important. Several microorganisms and their products including Li-popolysaccharide (LPS) have been suggested to be able to activate MMPs.The aim of this study is to investigate the role of Helicobacter pyloriLPS in type IV collagen degradation (in vitro). We used two stages in this study: MMP production stage and degradation of type IV collagen. MMP derived from the neutrophils of AMI and non-AMI patients that had been stimulated with LPS of Helicobacter pyloriwere used to digest type IV collagen. Analysis of type IV collagen degradation was performed with SDS-PAGE and Western blot.This study showed MMP isolated from neutrophil of AMI patients is an active MMP-9 at Molecular weight of 72 kDa. It can degrade type IV col-lagen at MW 78.6 kDa, 60 kDa, 50 kDa, 47.8 kDa and 43.8 kDa. Whereas MMP isolated from neutrophil of non-AMI have MW of 91.2 kDa and can only degrade collagen IVat merely 60 kDa.In conclusion, Helicobacter pyloriLPS is able to induce neutrophil of AMI patients to produce an active MMP-9 at MW 72 kDa and the enzyme may play strategic role in the degradation of type IV collagen.Matriks Metalloprotease (MMP) merupakan enzim proteolitik yang berperan dalam ruptur plak aterosklerosis, sehingga menyebabkan terjadinya Infark Miokard Akut (IMA). Hal ini melibatkan degradasi kolagen yang menyusun membran basal lapisan endotel. Beberapa mikroorganisme baik virus maupun bakteri serta produk mikroorganisme tersebut diduga dapat mengaktivasi MMP. Lipopolisakarida (LPS) merupakan salah satu produk yang dihasilkan oleh bakteri Gram negative. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran endotoksin Helicobacter pyloridalam mendegradasi kolagen pada penderita IMA.Penelitian ini dibagi dalam dua tahap, yaitu tahap produksi enzim MMP dan tahap degradasi kolagen tipe IV. Enzim MMP diperoleh dari isolasi neutrofil penderita IMA dan darah sehat yang dipapar oleh lipopolisakarida Helicobacter pylori enzim MMP yang diperoleh kemudian dipaparkan pada kolagen tipe IV yang diharapkan terjadi degradasi kolagen tipe IV. Data yang diperoleh berupa pita-pita hasil SDS-PAGE dan Western blot yang kemudian dianalisis secara deskriptif.Enzim MMP yang berasal dari neutrofil penderita IMA merupakan MMP-9 aktif pada 72 kDa dapat mendegradasi kolagen tipe IV pada berat molekul 78.6 kDa, 60 kDa, 50 kDa, 47.8 kDa dan 43.8 kDa sedangkan enzim MMP yang berasal dari neutrofil darah sehat hanya dapat mendegradsi kolagen tipe IV pada berat molekul 60 kDa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa LPS Helicobacter pyloridapat menginduksi neutrofil dalam menghasilkan enzim MMP-9 dan enzim tersebut dapat berperan dalam degradasi kolagen tipe IV
Distribusi Kematian Pasien Penyakit Jantung Bawaan di Instalasi Rawat Inap Anak Rumah Sakit Dokter Soetomo Tahun 2004, 2005, dan 2006
Background. Congenital heart disease (CHD) is a significant cause of mortality in pediatric patients. Meanwhile, malnutrition remains a public health problem in Indonesia. Combined with infection, these condition will increase mortality rate of patients with CHD.Objectives.The objective of this study is to describe the cause of mortal-ity among CHD patients who were hospitalized in pediatric ward, Doctor Soetomo General Hospital, Surabaya during period 2004-2006. Methods. This study is a descriptive evaluation base on Medical Record data.Results. Of patients hospitalized from 2004 to 2006, 189, 185, and 186 respectively grouped into neonatal, infant, and childhood age. Medical record data in 3 years was described into distributive frequency and cross table. Ventricular septal Defect (VSD), Tetralogy of Fallot (TOF), Atrial Septal Defect (ASD), and Patent Ductus Arteriosus (PDA) were the four major CHD. Hospital mortality rate was 11,64% (2004), 11,35% (2005), and 13,44% (2006), infant were the main portion 72,73% (2004), 76,19% (2005), 64% (2006). Respiratory and cardiac failure were two leading cause of death. Fifty percent of death case was underlied by pnemonia and bron-chiolitis. VSD, ASD and TOF were the most common CHD associated with mortality. Death rate was significantly high in malnourished patients, from 2004 to 2006: 45,45% (10/22), 66,67% (14/21), and 72% (18/25) respectively.Conclusions.High mortality rate in our patients with with CHD were associated with age (first year of life), respiratory infections (pnemonia, bronchiolitis), and malnutrition.Latar Belakang. Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan penyebab kematian penting pada pasien pediatric. Saat ini, malnutrisi masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Bersama-sama dengan infeksi, kedua kondisi tersebut meningkatkan kematian pasien dengan PJB.Tujuan Penelitian.Penelitian ini bertujuan untuk mencari penyebab kematian pada PJB yang dirawat di Instalasi Rawat Inap Anak rumah sakit dokter Soetomo, Surabaya, selama periode 2004-2006.Metode dan Hasil. Penelitian ini merupakan studi deskriptif berdasarkan data rekam medis. Dari pasien yang dirawat di unit tersebut selama periode 2004 sampai dengan 2006 secara berurutan julahnya 189, 185, dan 186 pasien, yang dikategorikan atas kelompok neonatus, bayi dan anak-anak. Ventricular septal Defect (VSD), Tetralogy of Fallot (TOF), Atrial Septal Defect (ASD), dan Patent Ductus Arteriosus (PDA) merupakan 4 jenis PJB yang paling sering ditemukan. Mortalitas di rumah sakit adalah 11,64% (2004), 11,35% (2005), and 13,44% (2006), bayi merupakan kelompok terbesar 72,73% (2004), 76,19% (2005), 64% (2006). Gagal nafas dan gagal jantung merupakan dua kondisi yang menjadi penyebab kematian. Lima puluh persen kasus PJB yang meninggal disebabkan oleh pnemonia and bronkiolitis. VSD, ASD dan TOF merupakan PJB yang paling banyak berhubungan dengan kematian. Angka kematian tertinggi terjadi pada pasien yang juga disertai malnutrisi, dari 2004 sampai dengan 2006 secara berurutan adalah 45,45% (10/22), 66,67% (14/21), dan 72% (18/25).Kesimpulan. Angka kematian yang tinggi pada pasien PJB kami berhubungan dengan faktor usia (bayi), infeksi saluran nafas bawah (pnemonia, bronkiolitis), dan malnutrition
Kulit Manggis Menghambat Aktivasi Nuclear Factor ?B (NF-?B) dan Menurunkan Ekspresi ICAM-1 pada Tikus dengan Diet Tinggi Kolesterol
Background: Atherosclerosis is widely viewed as an inflammatory disease with hypercholesterolemia being a dominant underlying risk factor. This study aimed to determine the effect of mangosteen pericarp in inhibition of NF-?B activation and ICAM-1 expression in rat fed with high cholesterol.Methods and Results: Various doses of crude extract mangosteen pericarp were administered to the high fat diet wistar rats and the activity of NF-?B measured by immunohistochemistry to assess nuclear NF-?B expression and the ICAM-1 expression. The high fat diet resulted significant increased serum LDL levels. Increased nuclear NF- ?B activation and ICAM-1 expression were also observed in high fat diet rats in concurrence with increased serum LDL. The inhibitory effect on NF- ?B activity and ICAM-1 expression was observed when 400 mg of mangosteen pericarp crude extract was administered and even showed a higher inhibitory effect in 800 mg of mangosteen pericap treated rats. The 800 mg extract treatment resulted in decreased ICAM-1 expression similar to those of non high fat rats.Conclusion: The administration of 800 mg mangosteen pericarp crude extract significantly inhibited NF-?B activation and reversed the expression of ICAM -1 to the normal level in high cholesterol diet rats.Latar belakang: Aterosklerosis secara luas dipandang sebagai penyakit inflamasi dengan hiperkolesterolemia menjadi faktor risiko dominan yang mendasari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kulit manggis dalam penghambatan aktivasi NF-kB dan ekspresi ICAM-1 pada tikus yang diberi pakan tinggi kolesterol.Metode dan Hasil: Berbagai dosis ekstrak kasar kulit manggis diberikan pada tikus wistar dengan pakan tinggi lemak dan aktivasi NF-kB diukur dengan imunohistokimia untuk menilai ekspresi NF-kB inti sel dan ekspresi ICAM-1. Pakan tinggi lemak mengakibatkan peningkatan kadar LDL serum yang signifikan. Peningkatan aktivasi NF-kB dan ekspresi ICAM-1 juga diamati pada tikus diet tinggi lemak sesuai dengan peningkatan serum LDL. Efek penghambatan pada aktivasi NF-kB dan ekspresi ICAM-1 dapat diamati pada pemberian ekstrak kasar kulit manggis 400 mg dan bahkan menunjukkan efek penghambatan lebih tinggi pada tikus yang diberi ekstrak kulit manggis dengan dosis 800 mg. Pemberian ekstrak kulit manggis 800 mg menghasilkan penurunan ekspresi ICAM-1 mirip dengan tikus yang tidak diberi pakan tinggi lemak.Kesimpulan: Pemberian ekstrak kasar kulit manggis 800 mg menghambat aktivasi NF-kB secara signifikan dan menurunkan ekspresi ICAM -1 ke tingkat normal pada tikus dengan pakan tinggi lemak
Sindrom Brugada: Diagnosis dan Tatalaksana
Brugada syndrome associated with high incidence of sudden death in young and otherwise healthy adults in many parts of the world. The Brugada syndrome which is characterized by an ST-segment elevation in the right precordial ECG leads, is a familial disease that displays an autosomal dominant mode o? transmission with incomplete penetrance. The first and only gene to be linked to Brugada syndrome is SCN5A, the gene that encodes for the subunit of the cardiac sodium channel gene. More than 80 mutations in SCN5A have been linked to the syndrome.Based on ECG characteristics the syndrome divided into three types. Brugada syndrome is definitively diagnosed when a type 1 ST-segment elevation is observed in >1 right precordial lead (V1 to V3) in the presence or absence of a sodium channel– blocking agent, and in conjunction with one of the following: documented ventricular fibrillation (VF), polymorphic ventricular tachycardia (VT), a family history of sudden cardiac death at < 45 years old, coved-type ECGs in family members, inducibility of VT with programmed electrical stimulation, syncope, or nocturnal agonal respiration. Currently, an implantable cardioverter defibrilla?or (ICD) is the only proven effective treatment for the disease.Sindrom Brugada menyebabkan insiden kematian mendadak yang tinggi pada orang muda yang normal secara fisik. Sindrom Brugada yang ditandai dengan elevasi segmen ST di sadapan prekordial kanan merupakan suatu penyakit familial dengan trans-misi autosomal dominan yang tidak lengkap. The first and only gene to be linked to Brugada syndrome is SCN5A merupakan gen yang pertama diketahui dan juga satu-satunya yang berkaitan dengan sindrom Brugada. Gen ini melakukan encoding subunit a dari gen kanal natrium jantung. Terdapat lebih dari 80 mutasi SCN5A yang berkaitan dengan sindrom Brugada. Berdasarkan karakteristik EKG, sindrom Brugada dibagi menjadi 3 tipe. Diagnosis pasti sindrom Brugada ditegakkan bila didapatkan gambaran EKG tipe 1 yaitu elevasi segmen ST di V1 sampai V3 baik dalam keadaan dengan atau tanpa obat penghambat kanal kalsium, disertai adanya salah satu berikut ini: VF terdokumentasi, VT polimorfik, riwayat keluarga dengan kematian jantung mendadak pada usia kurang dari 45 tahun, gambarn EKG coved pada anggota keluarga, terinduksi VT pada stimulasi elektrik, sinkop, atau adanya respirasi agonal nokturna. Saat ini ICD merupakan satu-satunya terapi yang terbukti efektif untuk sindrom ini
Blok AV Mobitz II atau APC Bigeminy?
Seorang perempuan 82 tahun dengan keluhan fatigue dirujuk ke poli aritmia untuk evaluasi lebih lanjut kemungkinan pemasangan alat pacu jantung menetap. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Rekaman EKG sebagaimana terlihat pada gambar 1.Gambaran EKG di atas memperlihatkan jarak interval PP yang tetap dengan gelombang P yang dikonduksikan ke ventrikel membentuk kompleks QRS (conducted) berselang seling dengan gelombang P yang tidak diteruskan ke ventrikel (non-conducted). Secara singkatrekaman EKG tersebut akan membawa pembaca pada diagnosis blok AV tipe Mobitz II.Blok AV tipe Mobitz II disebut juga blok AV derajat kedua tipe 2 ditandai dengan gambaran EKG yang menunjukkan gelombang P non-conducted yang intermiten tanpa didahului oleh pemanjangan interval PR dan tidak diikuti oleh pemendekkan interval PR. Umumnya letak blok berada di bawah nodal AV (infranodal). Oleh karena itu kompleks QRS pada Mobitz II hampir selalu memperlihatkan gambaran blok berkas cabang atau blok fasikular. Sebagian ahli mengelompokkan blok 2:1 ke dalam kelompok tersendiri yang tidak termasuk Mobitz I atau II karena hilangnya sifat intermiten blok yang biasanya terjadi pada Mobitz II.Seorang perempuan 82 tahun dengan keluhan fatigue dirujuk ke poli aritmia untuk evaluasi lebih lanjut kemungkinan pemasangan alat pacu jantung menetap. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Rekaman EKG sebagaimana terlihat pada gambar 1.Gambaran EKG di atas memperlihatkan jarak interval PP yang tetap dengan gelombang P yang dikonduksikan ke ventrikel membentuk kompleks QRS (conducted) berselang seling dengan gelombang P yang tidak diteruskan ke ventrikel (non-conducted). Secara singkatrekaman EKG tersebut akan membawa pembaca pada diagnosis blok AV tipe Mobitz II.Blok AV tipe Mobitz II disebut juga blok AV derajat kedua tipe 2 ditandai dengan gambaran EKG yang menunjukkan gelombang P non-conducted yang intermiten tanpa didahului oleh pemanjangan interval PR dan tidak diikuti oleh pemendekkan interval PR. Umumnya letak blok berada di bawah nodal AV (infranodal). Oleh karena itu kompleks QRS pada Mobitz II hampir selalu memperlihatkan gambaran blok berkas cabang atau blok fasikular. Sebagian ahli mengelompokkan blok 2:1 ke dalam kelompok tersendiri yang tidak termasuk Mobitz I atau II karena hilangnya sifat intermiten blok yang biasanya terjadi pada Mobitz II
Paradox Obesitas pada Pasien Gagal Jantung
Obesitas sudah menjadi sebuah epidemi di negara maju. Ukuran objektif obesitas biasanya dinilai dari nilai IMT, dimana ukuran international untuk obesitas adalah IMT =30 kg/m2, sedangkan untuk ukuran orang Asia obesitas didefinisikan dengan nilai IMT=25 kg/m2.Obesitas memiliki hubungan yang erat dengan tingginya kejadian penyakit kardiovaskular. Obesitas dapat meningkatkan kadar trigliserid yang buruk untuk kesehatan jantung dan menurunkan kadar high density lipoprotein (HDL) yang bersifat kardioprotektif. Selain itu, seiring meningkatnya obesitas, meningkat juga angka hipertensi. Obesitas juga dapat menyebabkan disfungsi diastolik dan berhubungan dengan memburuknya fungsi sistolik.Walaupun obesitas merupakan faktor risiko penyakit jantung koroner, hal yang berbeda ditemukan pada kasus gagal jantung. Berdasarkan beberapa studi, pasien gagal jantung dengan Indeks Masa Tubuh (IMT) yang lebih tinggi memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan mereka dengan IMT yang lebih rendah. Selain itu, analisis dari beberapa studi oleh Oreopoulos et al menyimpulkan bahwa IMT yang lebih tinggi berhubungan dengan prognosis yang lebih baik pada pasien gagal jantung. Hal inilah yang disebut paradox obesitas (Obesity paradox).Obesitas sudah menjadi sebuah epidemi di negara maju. Ukuran objektif obesitas biasanya dinilai dari nilai IMT, dimana ukuran international untuk obesitas adalah IMT =30 kg/m2, sedangkan untuk ukuran orang Asia obesitas didefinisikan dengan nilai IMT=25 kg/m2.Obesitas memiliki hubungan yang erat dengan tingginya kejadian penyakit kardiovaskular. Obesitas dapat meningkatkan kadar trigliserid yang buruk untuk kesehatan jantung dan menurunkan kadar high density lipoprotein (HDL) yang bersifat kardioprotektif. Selain itu, seiring meningkatnya obesitas, meningkat juga angka hipertensi. Obesitas juga dapat menyebabkan disfungsi diastolik dan berhubungan dengan memburuknya fungsi sistolik.Walaupun obesitas merupakan faktor risiko penyakit jantung koroner, hal yang berbeda ditemukan pada kasus gagal jantung. Berdasarkan beberapa studi, pasien gagal jantung dengan Indeks Masa Tubuh (IMT) yang lebih tinggi memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan mereka dengan IMT yang lebih rendah. Selain itu, analisis dari beberapa studi oleh Oreopoulos et al menyimpulkan bahwa IMT yang lebih tinggi berhubungan dengan prognosis yang lebih baik pada pasien gagal jantung. Hal inilah yang disebut paradox obesitas (Obesity paradox)
Biomarker pada Infark Miokard Akut: Diperlukan yang lebih Dini
Paling tidak dalam 4 dekade terakhir, Infark Miokard Akut (IMA) masih menempati urutan pertama dalam daftar penyakit penyebab kematian di seluruh dunia. Secara historis, terdapat kemajuan yang sangat pesat dalam penatalaksanaan penyakit ini, baik dalam segi diagnostik, terapi medikamentosa, maupun tindakan revaskularisasi. Khususnya di bidang diagnostik, penggunaan 3 kriteria WHO yang meliputi nyeri dada tipikal, perubahan EKG dan meningkatnya biomarker (enzim) yang spesifik sangat membantu meningkatkan akurasi diagnostik IMA secara signifikan. Bandingkan, pada tahun 19401950 hanya sekitar 15 persen penderita yang dirawat di ICCU dengan dugaan ternyata benarbenar mengalami IMA.Kemajuan di bidang diagnostik juga diikuti oleh kemajuan yang sangat pesat dalam penata laksanaan IMA, dimana fokus utama tatalaksana IMA telah bergeser dari limitasi luasnya infark dengan cara menurunkan kebutuhan oksigen miokard menjadi terapi reperfusi, baik dengan cara farmakologi (fibrinolitik) maupun secara mekanik (Primary PCI)Paling tidak dalam 4 dekade terakhir, Infark Miokard Akut (IMA) masih menempati urutan pertama dalam daftar penyakit penyebab kematian di seluruh dunia. Secara historis, terdapat kemajuan yang sangat pesat dalam penatalaksanaan penyakit ini, baik dalam segi diagnostik, terapi medikamentosa, maupun tindakan revaskularisasi. Khususnya di bidang diagnostik, penggunaan 3 kriteria WHO yang meliputi nyeri dada tipikal, perubahan EKG dan meningkatnya biomarker (enzim) yang spesifik sangat membantu meningkatkan akurasi diagnostik IMA secara signifikan. Bandingkan, pada tahun 19401950 hanya sekitar 15 persen penderita yang dirawat di ICCU dengan dugaan ternyata benarbenar mengalami IMA.Kemajuan di bidang diagnostik juga diikuti oleh kemajuan yang sangat pesat dalam penata laksanaan IMA, dimana fokus utama tatalaksana IMA telah bergeser dari limitasi luasnya infark dengan cara menurunkan kebutuhan oksigen miokard menjadi terapi reperfusi, baik dengan cara farmakologi (fibrinolitik) maupun secara mekanik (Primary PCI