Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
    687 research outputs found

    Permanent Pacemaker Implantation Through Persistent Left Superior Vena Cava: Safe for Normal Heart Position and Dextrocardia

    Get PDF
    Permanent pacemaker implantation in patient with persistent left superior vena cava (LSVC) has been reported in literature. Some authors has also been reported pacemaker implantation in patient with dextrocardia. Both of this situation has a challenging situation in placing the lead in right ventricle and risks of lead dislocation. We report two cases of successful pacemakers implantation,one with mirror image dextrocardia, in patient with persistent LSVC

    Membedakan Takikardia Ventrikel dan Takikardia Supraventrikular Dengan Aberansi Pada Takikardia Dengan Kompleks QRS Lebar

    Get PDF
    Wide complex tachycardia is a quite common rhythm found in ECG. Basicly there are 3 arrhytmia that can cause wide QRS complex tachycardia, which are: Ventricle tachycardia (VT) which is the most common (80%), Supraventricular tachycardia (SVT) with abberancy (15-20%), and Atrioventriculare Reentrant Tacycardia (AVRT) with antidromic conduction (1–6 %). Correct diagnosis in differentiating SVT with aberancy and VT is important, due to the different patophysiology and different mechanism they present. Thus the therapy and management will be different, and miss treatment proven to be fatal.          Since ECG is still the main modality to provide the diagnosis in wide QRS complex tachycardia, many effort were done including the creation of algorhythms to help establish the diagnosis for wide complex tachycardia. The oldest and most widely used algorhythm is the Brugada algorhythm with respectable sensitivity and specificity. In 2007 Vereckei et al proposed a new algorhythm for differentiating VT and SVT with abberancy, and in 2008 Vereckei renew his previous algorhythm into only using single aVR lead to differentiate VT and SVT with abberancy, which was made solely based on the differences in the direction and velocity of the impulse. The latest method was again proposed by Brugada in 2010 which was called the ultrasimple Brugada criterion evethough there still haven’t many research that discuss the accuracy of such criteria.Takikardia dengan kompleks QRS lebar adalah gambaran EKG yang cukup sering kita temukan. Pada dasarnya, ada 3 kelainan irama jantung yang dapat menghasilkan gambaran EKG takikardia dengan kompleks QRS lebar, yaitu: takikardia ventrikel (VT) merupakan yang paling umum ditemukan (80%), takikardia supraventrikular (SVT) dengan aberansi (15 – 20 %), dan Atrioventriculare Reentrant Tacycardia (AVRT) dengan konduksi antidromik (1 – 6 %). Diagnosa yang tepat untuk membedakan SVT dengan aberansi dan VT sangatlah penting, karena keduanya memiliki patofisiologi dan mekanisme yang berbeda. Hal tersebut menyebabkan terapi yang perlu diberikanpun berbeda, dan kesalahan dari pemberian terapi dapat berakibat cukup fatal.Karena EKG tetap merupakan modalitas utama untuk menegakkan diagnosis pada takikardia dengan kompleks QRS lebar, maka banyak algoritme yang diajukan untuk membantu menegakkan diagnosis. Algoritme yang paling umum digunakan adalah algoritme Brugada yang sudah sejak lama ada dan memiliki spesifisitas dan sensitifitas yang cukup baik. Pada tahun 2007 Vereckei et al. membuat algoritme baru yang digunakan untuk membedakan SVTdengan aberansi dan VT. Pada tahun 2008, Vereckei kembali memperbaharui algoritmenya dengan hanya menggunakan satu lead yaitu aVR saja untuk dapat membedakan VT dan SVT dengan aberansi dimana algoritme tersebut dibuat berdasarkan prinsip perbedaan arah vektor dan kecepatan impuls listrik. Selain itu ada pula metoda baru yang disebut sebagai ultrasimple Brugada criterion yang diajukan oleh Brugada pada tahun 2010 dimana belum banyak penelitian yang membahas mengenai akurasi dari kriteria tersebut

    Sindroma Pre Eksitasi Asimtomatik: Ablasi Versus Konservatif

    Get PDF
    Wolff-Parkinson-White (WPW) is a sporadic and familial abnormality. Epidemiologicaldata indicate that 0.1% to 0.3% of the general populationhave ECG findings suggesting that during sinus rhythm. The risk of suddencardiac death is around 0.25%. Patients with WPW syndrome is oftensymptomatic because of cardiac arrhythmias. Sometimes the arrhythmiacan be life-threatening, and leads to sudden cardiac death. However, thereis still controversy in management of individuals with asymptomatic WPWpattern. Despite radiofrequency catheter ablation remains the first linetherapy of the WPW syndrome, the risk of complications of this procedureis almost the same as the risk of sudden cardiac death in asymptomaticWPW. Therefore, an algorithm to determine the appropriate managementof asymptomatic WPW patients is needed.Sindrom preeksitasi pada Wolff-Parkinson-White (WPW) bersifat sporadik dan familial. Prevalensi pada populasi diperkirakan sekitar 0,1-0,3%. Risiko terjadinya kematian jantung mendadak sekitar 0,25%. Gejala yang dialami pasien WPW terjadi karena adanya aritmia jantung, yang dapat mengancam jiwa. Pada individu dengan gambaran WPW yang asimtomatik, masih terdapat kontroversi mengenai tatalaksana yang tepat. Kateter ablasi merupakan terapi definitif terhadap adanya sindrom WPW, namun risiko komplikasi akibat tindakan hampir sama dengan risiko timbulnya kematian jantung mendadak pada WPW yang asimtomatik. Oleh karena itu, diperlukan suatu algoritma untuk menentukan tatalaksana yang tepat bagi pasienWPW yang asimtomatik

    Perbedaan Rasio Kadar Serum MMP-9/TIMP- 1 pada Kejadian Infark Miokard Akut Elevasi Segmen ST (IMA-EST) dan Sindroma Koroner Akut Non Elevasi Segmen-ST (SKA-NEST)

    Get PDF
    Background: Differences between the pathogenesis of ST-Elevation Myocardialinfarction (STEMI) and Non-ST Elevation Acute Coronary Syndrome(NSTE-ACS) had yet unknown. Matrix metalloproteinase-9 (MMP-9) as thematrix degradation enzyme secreted by inflammatory cells play a role in thepathogenesis of plaque rupture. MMP-9 proteolytic activity is inhibited byspecific inhibitors of the Tissue Inhibitor of metalloproteinase-1 (TIMP-1).MMP-9/TIMP-1 ratio describes the actual proteolytic activity of MMP-9.This ratio may distinguish the pathogenesis of STEMI and NSTE-ACS.Objective: To examine the difference serum level ratio MMP-9/TIMP-1 inpatients with STEMI and NSTE-ACS.Methods and subjects: This is a cross-sectional study which recruits patientsconsecutively with ACS admitted to ICCU of Dr. Sardjito General Hospital Yogyakartawithin 24 h onset. Acute infection, chronic inflammation, acute stroke,kidney failure requiring renal replacement therapy, chronic heart failure, liver cirrhosis,acute exacerbation of COPD and pneumonia, thromboembolic disease,malignancy, pregnancy and the use of steroids and steroid anti-inflammatorydrugs are excluded. Serum levels of MMP-9 and TIMP-1 examined using themethod of sandwich enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).Results: The total of 60 subjects with STEMI patients 31 (51.7%) and NSTEACS29 (48.3%). Level of serum MMP-9/TIMP-1 ratio is significantly higher inSTEMI compared to NSTE-ACS (1.106 ± 0.065 vs. 1.046 ± 0.057, p <0.001).MMP-9/TIMP-1 ratio in serum is an independent factor for STEMI (p = 0.003)followed by blood sugar level (p = 0.013) and MMP-9 (p = 0.033). Interestingly,patients with serum MMP-9/TIMP-1 ratio> 1.0639 has a prevalence riskof 1.7 times having STEMI (p = 0.039; KI95% from 1.040 to 8.508). Levels ofserum MMP-9/TIMP-1 ratio significantly higher in STEMI compared to NSTEMIgroup (p = 0.003) and in the STEMI and UAP group (0.026), but did not differsignificantly in NSTEMI and UAP group (p = 0.045).Conclusion: High levels of serum MMP-9/TIMP-1 ratio in patients withSTEMI than NSTEACS may explain the role of serum MMP-9/TIMP-1 ratioin differentiating the pathogenesis of STEMI and NSTE-ACS.(J Kardiol Indones. 2013;34:160-6)Latar Belakang: Perbedaan antara patogenesis Infark miokard akut elevasi segmen ST (IMA-EST) dan Sindroma koronerakut non elevasi segmen ST (SKA-NEST) sampai saat ini belum jelas. Matrix Metalloproteinase-9 (MMP-9) sebagai enzimdegradasi matrik yang disekresikan oleh berbagai sel inflamasi berperan dalam patogenesis ruptur plak. Aktivitas proteolitikMMP-9 dihambat oleh inhibitor spesifiknya yaitu Tissue Inhibitor Metalloproteinase-1 (TIMP-1). Rasio MMP-9/TIMP-1menggambarkan aktivitas proteolitiknya MMP-9 sebenarnya. Rasio ini mungkin membedakan patogenesis IMA-EST danSKA-NEST. Akan tetapi, sampai saat ini belum ada studi yang membandingkan rasio kadar serum MMP-9/TIMP-1 padapasien IMA-EST dan SKA-NEST.Tujuan: untuk mengetahui perbedaan rasio kadar serum MMP-9/TIMP-1 pada pasien IMA-EST dan SKA-NEST.Subjek dan metode penelitian: penelitian ini merupakan studi potong lintang dengan pengambilan sampel penelitian secarakonsekutif pada pasien sindroma koroner akut (SKA) yang dirawat di Intensive Coronary Care Unit (ICCU) dalam waktu 24jam onset. Pasien infeksi akut, inflamasi kronik, stroke akut, gagal ginjal yang membutuhkan terapi pengganti ginjal, gagaljantung kronik, sirosis hepatis, PPOK eksaserbasi akut dan pneumonia, penyakit tromboemboli, keganasan, kehamilan danpenggunaan steroid dan obat anti inflamasi bukan steroid dieksklusi. Kadar serum MMP-9 dan TIMP-1 diperiksa denganmetode sandwich enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).Hasil: Total subjek penelitian sebanyak 60 pasien SKA dengan IMA-EST 31 (51,7%) dan SKA-NEST 29 (48,3%). Rasiokadar serum MMP-9/TIMP-1 lebih tinggi bermakna pada IMA-EST dibandingkan SKA-NEST (1,106±0,065 vs 1,046±0,057;p<0,001). Rasio kadar serum MMP-9/TIMP-1 merupakan faktor independen untuk IMA-EST (p=0,003) diikuti gula darahsewaktu (p=0,013) dan MMP-9 (p=0,033). Menariknya, pasien dengan rasio kadar serum MMP-9/TIMP-1 >1,0639 memilikirisiko prevalensi 1,7 kali terjadi IMA-EST (p=0,039;KI95% 1,040-8,508). Rasio kadar serum MMP-9/TIMP-1 lebih tinggibermakna pada kelompok IMA-EST dibandingkan IMA-NEST (p=0,003) dan pada kelompok IMA-EST dan Angina pektoristidak stabil (APTS) (0,026), tapi tidak berbeda bermakna pada kelompok IMA-NEST dan APTS (p=0,045).Kesimpulan: Tingginya rasio kadar serum MMP-9/TIMP-1 pada pasien IMA-EST dibandingkan SKA-NEST mungkinmenjelaskan peran rasio kadar serum MMP-9/TIMP-1 dalam membedakan patogenesis IMA-EST dan SKA-NEST.(J Kardiol Indones. 2012;33:160-6

    Hubungan mean platelet volume dengan miocardial blush kuantitatif pada pasien ima-est yang menjalani intervensi koroner perkutan primer

    Get PDF
    Background. Mean platelet volume is a marker of platelet, size and activation functions. Increased mean platelet volume showed a large and active platelet release more thromboxane A2 than smaller ones. A simple marker was detected using a fast and functional techniques will help approaches to inflammation caused by platelets. Thus MPV is an important examination of effective simple, easy, and low cost to be used and explored extensively, particularly in developing countries such as Indonesia, to predict the likelihood of complications to come.Methods and Results. Seventy-two patients (age minimum 30 years and maximum 80 years who came to the hospital with a presentation IMA-EST onset less than 12 hours were included in this study. Following primary percutaneous intervention coroner examined myocardial blush with Qube and see the relationship with the value mean platelet volume (MPV) in assessing myocardial flow. End point of this study is the lack of correlation between MPV values in the assessment of myocardial blush Qube post-reperfusion.Conclusion. MPV values in this population as the initial entry no relationship with Qube in assessing the value of post-reperfusion myocardial blushLatar belakang. Mean platelet volume (MPV) adalah penanda ukuran, fungsi dan aktivasi platelet. Peningkatan nilai MPV menunjukkan platelet aktif dan besar yang melepaskan lebih banyak tromboksan A2. Sebuah penanda mudah dideteksi dengan menggunakan teknik yang cepat dan fungsional akan membantu pendekatan untuk peradangan yang disebabkan oleh platelet. Dengan demikian MPV adalah pemeriksaan yang penting efektif sederhana, mudah, dan biaya yang murah harus digunakan dan dieksplorasi secara luas, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia, untuk memprediksi kemungkinan komplikasi yang akan datang.Metode dan Hasil. Tujuh puluh dua pasien (umur minimum 30 tahun dan maximum 80 tahun yang datang ke rumah sakit dengan presentasi IMA-EST awitan kurang dari 12 jam diikutkan dalam studi ini. Setelah dilakukan intervensi coroner perkutan primer dilakukan pemeriksaan myocardial blush dengan QuBE dan dilihat hubungan dengan nilai mean platelet volume (MPV) dalam menilai aliran myocardial. End point studi ini adalah tidak adanya hubungan antara nilai MPV dengan QuBE dalam penilaian myocardial blush paska reperfusi.Kesimpulan. Pada populasi ini nilai MPV saat awal masuk tidak ada hubungan dengan nilai QuBE dalam menilai myocardial blush pasca reperfusi

    Giant Coronary Artery Aneurysms in Kawasaki Disease Detected by Multi Detector Computed Tomographic

    Get PDF
    Kawasaki disease is an acute, self -limited vasculitis of unknown etiology that occurs predominantly in infants and young children. The major sequele of Kawasaki disease are related to the coronary arterial system. Cardiac imaging is a critical part in evaluation of all patients with suspected Kawasaki disease. Multi Detector CT (MDCT) provides a safe non-invasive approach to accurately delineate coronary artery anatomic structure. We report a case of a 6 years old boy with history of Kawasaki disease. Multi detector CT scan showed giant aneurysm at proximal LAD, proximal RCA and medium aneurysm at proximal LCX. Patient then treated with the anticoagulant therapy

    Nilai Prediktif Mri Kardiak Pasca Stemi Peran Late Enhancement

    Get PDF
    Forum Pencitraan Kardiovaskular edisi sebelumnya membahas tentang peran Magnetic Resonancec Imaging (MRI) kardiak pada kasus Penyakit Jantung Koroner dalam kondisi akut maupun kronik. Dalam forum kali ini, kami sajikan contoh kasus penggunaan MRI kardiak pada pasien pasca Infark Miokard Akut Elevasi ST (IMAEST) yang dilakukan pemeriksaan MRI kardiak saat perawatan sebagai stratifikasi risiko pasien pasca IMAEST. Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas tertinggi di dunia, dengan penyakit arteri koroner (PAK) sebagai manifestasi utamanya.1 Dengan semakin berkembangnya manajemen serangan jantung akut, setidaknya 70% pasien yang dirawat di rumah sakit dengan infark miokard akut (IMA) berhasil melewati fase akutnya. Namun, konsekuensi jangka panjang pasca serangan akut tetap dapat terjadi meskipun intervensi fase akut telah dilakukan. Dengan demikian, ketepatan waktu dalam mendiagnosis IMAEST menjadi sangat penting

    Torsades de Pointes pada pasien Hipokalemia: Peranan Afterdepolarization pada mekanisme Takiaritmia

    Get PDF
    KasusSeorang wanita usia 56 tahun, dengan riwayat gagaljantung dalam pengobatan dengan obat diuretik furosemid, mengalami muntaber selama 3 hari terakhir. Saat tiba di UGD, EKG dengan irama sinus tiba-tiba mengalami degenerasi menjadi takikardia QRS lebar polimorfik saat perekaman. Presentasi hemodinamik pasien menjadi tidak stabil sehingga diputuskan untuk dilakukan kardioversi elektrik. Setelah defibrilasi, irama jantung kembali menjadi irama sinus dan hasil laboratorium menujukkan hipokalemia berat (2,4 meq/L). Setelah koreksi potassium dan perawatan, pasien membaik kemudian dipulangkan. Apa mekanisme tercetusnya torsades de pointes pada pasien ini

    Takikardia QRS lebar dengan hemodinamik tidak stabil

    Get PDF
    KasusSeorang laki-laki, 56 tahun datang ke UGD RS daerah di Jawa Tengah dengan keluhan lemas yang sudah dirasakan sejak seminggu sebelum masuk RS. Pasien juga mengeluh berdebar dan muntah-muntah. PPemeriksaan fisik didapatkan TD 90/60, RR 24 kpm dengan laju nadi sulit dihitung karena terlalu cepat. Tanda fisik lain tidak menonjol kecuali terdapat edema di kedua tungkai. Rekaman EKG diperlihatkan pada gambar 1. Bagaimana bersikap terhadap keadaan klinis pasien ini?Gambar 1. Rekaman EKG 12 sadapan. Takikardia QRS lebar dengan gelombang P bebas (anak panah

    Skrining Oportunistik untuk Mendeteksi Diabetes Melitus yang Baru Terdiagnosis

    Get PDF
    Background. It is estimated that 50% of the diabetic patients are undiagnosed.Opportunistic screening is one of the screening method, to detectnewly diagnosed diabetes mellitus. The aim of this study is to detect theundiagnosed diabetes mellitus by screening in the clinical setting.Subjects and Methods. Subjects were form the EIDEG screening fordiabetes mellitus. The procedure is a two step screening, first using thereflectance meter for capillary blood sugar, followed by confirmation testin the laboratory. Capillary blood sugar was divided into 3 groups, < 100mg/dL as normal, 100-199 mg/dl possible diabetes, and ? 200 mg/dL suspecteddiabetes. For group two, an OGTT was performed, and for groupthree, only FPG. Diabetes mellitus was diagnosed if FPG ? 126 mg/dl andor 2 hour OGTT ?200 mg/dl.Results. During the screening, 4737 subjects can be screened, only 1654completed the screening. Diabetes mellitus was diagnosed in 240 subjectsor 14.5%. There were more females compared to males, 52,9% and 47,1%subsequently, most were at the age ?50 years. More diabetic patients werediagnosed by OGTT compared to FPG only.Conclusions. This study showed that opportunistic screening may detectmore diabetic patients. It is suggested that this screening procedure canbe used by every clinicians in their daily practice.Latar belakang. Diperkirakan sekitar 50% dari penderita diabetes melitus tidak terdiagnsis. Skrining oportunistik merupakansalah satu cara skrining untuk menemukan diabetes melitus yang belum terdiagnosis. Tujuan penelitian ini adalah untukmendeteksi penderita diabetes melitus baru terdiagnosis di klinik.Subyek dan metoda. Subyek berasal dari program skrining oleh East Indonesia Diabetes Epidemiology Group. Cara skriningyang digunakan adalah cara dua tahap. Tahap pertama dengan menggunakan reflectance meter untuk pemeriksaan glukosadarah kapiler, kemudian dilanjutkan dengan tes konfirmasi di laboratorium. Glukosa darah kapiler dibagi atas 3 kelompok,<100 mg/dL normal, 100 -199 mg/dl mungkin diabetes melitus, dan ?200 mg/dL curiga diabetes melitus. Untuk kelompokkedua dilanjutkan dengan tes TTGO, sedang kelompok ketiga hanya dilakukan pemeriksaan glukosa plasma puasa. Diabetesmelitus didiagnosis apabila glukosa puasa ?126 mg/dl dan / atau 2 jam TTGO ?200 mg/dl.Hasil. Selama skrining dapat diperiksa sebanyak 4737 subyek, tetapi hanya 1654 orang melengkapi pemeriksaan. Dari jumlahtersebut, 240 subyek terdiagnosis sebagai diabetes melitus atau 14.5%. Lebih banyak wanita dibandingkan pria yaitu masingmasing52,9% dan 47,1%, penderita terbanyak pada usia ?50 tahun. Lebih banyak penderita terdiagnosis dengan pemeriksaanTTGO dibandingkan dengan kadar glukosa plasma puasa saja.Kesimpulan. Penelitian ini menunjukkan bahwa skrining oportunistik dapat mendeteksi cukup banyak penderita diabetesbaru. Dianjurkan cara skrining ini dapat dilakukan di klinik oleh para dokter praktek

    607

    full texts

    687

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Journal of Cardiology
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇