Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
687 research outputs found
Sort by
Stratifikasi Risiko Kematian Jantung Mendadak pada Sindrom Koroner Akut
Sudden cardiac death is the leading cause of cardiovascular mortality in acute coronary syndrome. Risk stratification scoring tools are available to better identify patients at risk after acute myocardial infarction. In addition plenty of factors and treatment modalities modulate the risk of sudden cardiac death.A case of in-hospital SCD in a young woman with acute anterior STEMI is presented as a trigger to the importance of risk stratification and treatment according to guidelines in preventing SCD.Kematian jantung mendadak merupakan penyebab penting mortalitas kardiovaskular pada sindrom koroner akut. Terdapat beberapa sistem stratifikasi risiko yang sudah mapan yang dapat mengidentifikasi lebih baik pasien dengan risiko kematian jantung mendadak. Selain itu banyak faktor-faktor lain dan modalitas terapi yang dapat mengubah risiko kematian jantung mendadak.Ditampilkan suatu kasus kematian jantung mendadak pada perempuan muda dengan STEMI anterior sebagai pencetus diskusi pentingnya stratifikasi risiko dan terapi yang sesuai dengan petunjuk baku untuk mencegah kematian jantung mendadak pasca infark
Interval Elektromekanikal Atrium Menggunakan Doppler Jaringan Sebagai Prediktor Kejadian Fibrilasi Atrium Pasca Operasi Bedah Pintas Arteri Koroner
Background. Atrial fibrillation (AF) is the most common arrhythmia complication in patient undergone coronary artery bypass grafting (CABG) with the incidence of 20-50% according to different studies. Although this complication is temporary but can be life threathening, and increased the number of mortality and morbidity. Thus, it is very important to identified factors that can predict the occurance of AF post CABG. This study use atrial electromechanical interval and interval dispertion as predictor of AF post CABG.Methods. One hundred and eight patients were included in this case control study. Samples were taken consecutively from May to September 2012 among patients with coronary artery disease undergoing CABG at the National Cardiovascular Center Harapan Kita Jakarta. The patients underwent a preoperative transthoracic echocardiography with tissue doppler evaluation. We measured the atrial electromechanical interval in the lateral of left atrium, septal and lateral of right atrium also inter and intra atrial interval dispertion. Patients was monitored thorugh out hospitalization for the occurance of AF.Result. In our study, 27 out of 108 (25%) patients developed AF post CABG. There are 3 independent parameters that can predict AF post CABG. These parameters are electromechanical interval in lateral left atrium, left atrial volume index, and post operative beta blocker. There are longer electromechanical interval in lateral left atrium in patients with AF post CABG (81,12±9,84 ms vs 64,43±13,53 ms, P=0.00). Patients with AF had bigger left atrial volume index (37,31±9,50 ml/m2 vs 30,28±8,19 ml/m2, P=0.037) and more beta blocker post CABG (20 (74,1%) vs 72(88,9%), P=0.026). There are no difference intra and interatrium dispertion of electromechanical interval.Conclusion. The interval of Electromechanical in the lateral left atrium using tissue dopper echocardiography can predict the occurrence of AF post CABG.Latar Belakang. Fibrilasi atrium (AF) adalah komplikasi aritmia yang paling sering ditemukan pada pasien yang menjalani operasi bedah pintas arteri koroner (BPAK). Insidensinya dilaporkan sangat bervariasi antara 20-50%. Walaupun diketahui sebagai gangguan yang bersifat sementara namun AF pasca operasi dapat mengancam jiwa serta dikaitkan juga dengan peningkatan angka kesakitan dan kematian yang bermakna. Sehingga diperlukan identifikasi terhadap faktor-faktor yang dapat menjadi prediktor terhadap kejadian AF pasca BPAK. Penelitian ini menilai interval elektromekanikal atrium menggunakan doppler jaringan dan dispersi interval elektromekanikal sebagai prediktor kejadian AF pasca BPAK.Metode. Seratus delapan pasien diambil secara konsekutif untuk studi case control ini, mulai bulan Mei hingga September 2012 dari antara pasien penyakit jantung koroner yang menjalani operasi BPAK di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta. Pasien-pasien ini menjalani pemeriksaan echokardiografi sebelum menjalani operasi BPAK. Dilakukan penilaian terhadap interval elektromekanikal dengan doppler jaringan pada lateral atrium kiri, septal dan lateral atrium kanan serta dispersi interval baik intra maupun interatrial. Pasien dimonitor selama perawatan terhadap kejadian AF.Hasil. Dalam studi kami, 27 dari 108 (25%) pasien mengalami AF pasca operasi BPAK. Setelah dilakukan analisis terdapat 3 parameter yang menjadi prediktor independen terhadap kejadian AF pasca BPAK yaitu interval elektromekanikal di lateral atrium kiri, indeks volume atrium kiri dan pemberian obat penyekat reseptor beta setelah operasi BPAK. Didapatkan perbedaan interval elektromekanikal di lateral atrial kiri yang bermakna pada pasien dengan AF pasca BPAK dibandingkan dengan pasien yang tidak mengalami AF (81,12±9,84 ms vs 64,43±13,53 ms, P=0.00). Pasien dengan AF mempunyai indeks volume atrium kiri yang lebih besar (37,31±9,50 ml/m2 vs 30,28±8,19 ml/m2, P=0.037) dan lebih banyak diberikan obat penyekat reseptor beta (20 (74,1%) vs 72(88,9%), P=0.026). Dispersi terhadap interval elektromekanikal baik intra maupun inter atrium tidak berbeda pada kedua kelompok.Kesimpulan. Interval elektromekanikal pada lateral atrium kiri dengan menggunakan doppler jaringan dapat digunakan sebagai prediktor terhadap kejadian AF pasca BPA
Interaksi Jantung–Paru Evaluasi dan Peran Ekokardiografi di Ruang ICCU
Istilah interaksi jantung-paru (heart-lung interactions) bukanlah merupakan istilah yang baru. Istilah ini sudah dikenal sejak sekitar tahun 1962. Hal ini dihubungkan dengan, salah satunya, tatalaksana pasien di ruang intensif (ICCU) dimana dokter harus menerjemahkan secara akurat hasil pemeriksaan hemodinamik dengan analisa gas darah pada kasus-kasus seperti acute respiratory distress syndrome (ARDS), serangan asma akut, penyakit jantung obstruktif kronis (PPOK) ataupun pasien dalam ventilasi mekanis.Ekokardiografi saat ini merupakan alat pemeriksaan yang sangat akurat, bahkan mungkin adalah yang paling akurat untuk mengevaluasi fungsi jantung secara langsung, denyut demi denyut dalam suatu siklus respirasi. Pemeriksaan ini tidak memerlukan persiapan khusus, alat yang “terlampau” canggih, namun hanya memerlukan “kesempatan” untuk menilai jantung dengan baik pada pasien dalam alat ventilator maupun napas spontan
LAA Closure: Where we stand now?
Insiden fibrilasi atrium diperkirakan akan makin meningkat dimasa yang akan datang. Stroke merupakan persoalan besar pada fibrilasi atrium dengan risiko hingga 5 kali lebih besar dibandingkan pasien tanpa fibrilasi atrium. Bahkan risiko stroke tersebut tidak berbeda baik pada fibrilasi atrium yang paroksismal maupun persisten. Terlebih lagi penderita fibrilasi atrium bila mengalami stroke umumnya mempunyai gejala yang lebih berat, disabilitas yang lebih parah serta rekurensi yang lebih sering dibandingkan pasien non fibrilasi atrium. Oleh karena itu stratifikasi risiko stroke pada pasien fibrilasi atrium menjadi sangat penting untuk pencegahan stroke yang lebih baik dan terarah. Skor CHA2DS2VaSc terbukti efektif sebagai panduan pemilihan pasien fibrilasi atrium yang mendapat terapi antikoagulan. Antikoagulan baik antagonis vitamin K (warfarin) maupun antikoagulan oral baru (direct antithrombin atau anti faktor Xa) secara signifikan dapat menurunkan kejadian stroke dengan komplikasi perdarahan yang kecil
Tips Dan Trik: Mengenali Tamponade
Tamponade merupakan kondisi klinis mengancam jiwa dimana fungsi jantung terganggu oleh penekanan dari ruang pericardium, baik oleh cairan, massa, bekuan darah, ataupun kombinasi antara ketiganya. Fisiologi tamponade terjadi akibat terganggunya hemodinamik akibat peningkatan tekanan intra pericardium sehingga mengganggu pengisian ruang jantung. Tamponade dapat terjadi akibat adanya volume efusi yang cukup besar atau terbentuknya efusi dalam waktu yang singkat. Perlu diingat bahwa efusi yang besar dapat tidak menimbulkan tamponade bila terakumulasi bertahap sehingga memungkinkan rongga perikard meregang dan beradaptasi. Harus pula digaris bawahi diagnosis tamponade merupakan diagnosis berdasarkan klinis namun ekokardiografi seringkali dapat mengenali adanya tamponade dengan lebih dini
Pemasangan Stent pada Pasien dengan Myocardial Bridging Simtomatik
Background : Myocardial bridging is a congenital coronary anomaly withmostly benign course throughout life. However, several pathological clinicalmanifestations may accompany myocardial bridging, such as arrhythmia,angina, depressed left ventricular function, myocardial stunning, myocardialinfarction, and sudden death. Symptomatic management with anti anginalagents should be adequate in most cases. Stenting, surgical resection ofthe bridge (myotomy), and coronary bypass surgery are only reserved forthe rare patient with severe symptoms.Case Report : A 44 year old man was admitted to the hospital because ofthe recurrent episodes of palpitations, syncope and chest pain. ECG showedsinus rhythm with bigeminy ventricular extra systoles. Echocardiographyshowed no regional wall motion abnormalities with normal ejection fraction.Coronary angiography showed myocardial bridging in mid LAD withno associated atherosclerotic coronary disease.Recurrent episodes of angina and non-sustained VT were detected duringobservation in ICCU, despite anti-arrhytmic drug treatment and Kaliumcorrection. Decision was made to perform PCI to cover bridging segmentusing drug eluting stent (DES). Post stent angiography showed no subsequentmilking effect of systole with improvement in the occurrence ofarrhythmia. Holter monitoring which was done 1 week after PCI showedno ventricular extrasystole found. Clinical evaluation and treadmill test at3 months after the procedure demonstrated good clinical condition andthe patient remained free of symptoms.Conclusion : A successful coronary stenting to mid LAD due to myocardialbridging with persistent symptoms despite medial therapy. A thorough followup should be done to identify the possibility of luminal narrowing causedby intimal proliferation or stent fracture due to external compression.Latar belakang : Myocardial bridging (MB) adalah kelainan kongenital degnan perjalanan penyakit yang jinak pada sebagianbesar kasus. Namun, beberpaa manifestasi klinis patologis dapat menyertai MB, diantaranya adalah aritmia, angina, penurunanfungsi ventrikel kiri, myocardial stunning, infark miokard, dan kematian mendadak. Penanganan simtomatik dengan obat antiangina memberikan efek yang baik pada kebanyakan kasus. Stenting, operasi reseksi otot MB (miotomi), dan bedah pintascoroner (coronary artery bypass surgery/CABG) hanya dilakaukan untuk kaus tertentu dengan gejala yang berat dan refrakterterhadap medikamentosa.Case Report : Seorang pria 44 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan palpitasi, nyeri dada, dan sinkop berulang. EKGmenunjukkan irama sinus dengan ekstrasistole ventrikel bigemini. Ekokardiografi menunjukkan hasil yang normal, angiografikoroner menunjukkan adanya MB pada mid-LAD tanpa adanya atherosklerosis. Terdapat episode takikardia ventrikel selamaobservasi di ruang rawat intensif jantung dengan pemberian amiodarone intravena.Intervensi koroner perkutan (percutaneous coronary intervention/PCI) dilakuan 2 hari setelah angiografi koroner dengan menggunakandrug eluting stent (DES) sepanjang segmen MB. Angiografi setelah pemasangan stent menunjukkan tidak didapatkan lagimilking effect pada fase sistol dan ekstrasistol ventrikel juga tidak lagi ditemukan. Holter monitoring yang dilakukan 1 minggusetelah PCI menunjukkan tidak ada ekstrasistol yang terekam. Evaluasi klinis dan tes treadmil setelah 3 bulan pemasangan stentmenunjukkan hasil yang normal tanpa ada gejala sisa nyeri dada dengan kapasitas latihan yang baik.Conclusion : Telah dilaporkan pemasangan stent koroner pada pasien dengan MB pada mid-LAD yang refrakter terhadapterapi medikamentosa, dengan hasil yang baik. Pemantauan berkala harus terus dilakukan untuk mengidentifikasi penyempitanlumen pembuluh darah yang disebabkan oleh proliferasi intima atau fraktur stent karena kompresi eksternal
Seeing the Inner from Outer
Since Furchgott et al1 showed that acetylcholine requires the presence of endothelial cells to induce vasodilation, the importance of the endothelial cell layer for vascular homeostasis has been increasingly appreciated. Endothelial dysfunction was initially identified as impaired vasodilation to specific stimuli such as acetylcholine or bradykinin. A broader understanding of the term would include not only reduced vasodilation but also a proinflammatory and prothrombic state associated with dysfunction of the endothelium.2 Figure 1 describe regulation function of endothelium during normal and dysfunction condition.3 In human, endothelial dysfuntion was first described in forearm of hypertensive patient.4 Dysfunction of the endothelium has been attributed to the pathophysiology of different forms of cardiovascular disease, including hypertension, coronary artery disease, chronic heart failure, peripheral artery disease, diabetes, and chronic renal failure.
Amiodaron dan Toksisitas terhadap Paru
Amiodarone is an antiarrhythmic agent commonly used to treat supraventricular and ventricular arrhythmias. The drug prevents the recurrence of life-threatening ventricular arrhythmias and produces a modest reduction of sudden deaths in high-risk patients. This drug is an iodine-containing compound that tends to accumulate in several organs, including the lungs. It has been associated with a variety of adverse events. Of these events, the most serious is amiodarone pulmonary toxicity. Although the incidence of this complication has decreased with the use of lower doses of amiodarone, it can occur with any dose. Because amiodarone is widely used, all clinicians should be vigilant of this possibility. Pulmonary toxicity usually manifests as an acute or subacute pneumonitis, typically with diffuse infiltrates on chest x-ray and high-resolution computed tomography. Other, more localized, forms of pulmonary toxicity may occur, including pleural disease, migratory infiltrates, and single or multiple nodules. With early detection, the prognosis is good. Most patients diagnosed promptly respond well to the withdrawal of amiodarone and the administration of corticosteroids, which are usually given for four to 12 months. It is important that physicians be familiar with amiodarone treatment guidelines and follow published recommendations for the monitoring of pulmonary as well as extrapulmonary adverse effects.Amiodaron merupakan obat antiaritmia yang umumnya digunakan untuk aritmia supraventrikular dan aritmia ventrikel. Obat ini mencegah aritmia ventrikel berulang yang mengancam nyawa dan menurunkan kematian mendadak pada pasien berisiko tinggi. Obat ini mengandung senyawa yodium yang cenderung menumpuk di beberapa organ termasuk paru. Hal inilah yang dikaitkan menimbulkan berbagai efek samping amiodaron. Peristiwa yang paling serius adalah toksisitas amiodaron terhadap paru. Meskipun kejadian komplikasi ini mengalami penurunan dengan penggunaan amiodaron dosis yang lebih rendah dari biasanya namun hal ini masih dapat terjadi pada dosis berapapun. Oleh karena itu semua dokter harus waspada terhadap kemungkinan ini. Manifestasi toksisitas paru biasanya berupa pneumonitis akut atau subakut yang ditandai infiltrat difus pada foto toraks dan High Resolution Computed Tomography (HRCT). Toksisitas paru akibat amiodaron dapat terjadi secara lokal seperti pleura, berupa infiltrat, nodul tunggal atau ganda. Prognosis semakin baik dengan deteksi dini. Sebagian besar pasien dengan efek samping amiodaron yang terdiagnosis dini berespon baik dengan pemberian kortikosteroid yang dapat diberikan selama empat sampai 12 bulan. Penting bagi dokter yang sering menggunakan obat amiodaron untuk mengikuti aturan yang direkomendasikan dan juga melakukan pemantauan terhadap paru serta efek sampingnya
Patient-, Disease-, or Doctor-Centered Medicine
Majelis Kehormatan dan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) melaporkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan laporan tindak pelanggaran disiplin kedokteran. Sepanjang tahun 2012 terdapat 23 kasus pelanggaran disiplin sedangkan semester pertama tahun ini sudah terdapat 35 kasus yang dilaporkan ke MKDKI. Sebuah kemajuan dari perspektif kesadaran masyarakat tentang pelayanan kesehatan yang baik dan keberanian melaporkan kejanggalan pelayanan yang terjadi. Tetapi tentu saja tidak dapat dihindari adanya faktor lain yang turut berperan terhadap peningkatan laporan pelanggaran disiplin tersebut. Komunikasi dokter-pasien sering menjadi akar dari berbagai ketidakpuasan dalam pelayanan praktik kedokteran yang kemudian berujung pada pengaduan. Salah satu faktor yang turut mempengaruhi buruknya komunikasi dokter-pasien adalah belum dimilikinya konsep “patient-centered medicine” oleh sebagian praktisi kedokteran
Sedasi Analgesi Untuk Kardioversi Elektrik Di IGD
General practitioner assigned in emergency room must have ability to do electrical cardioversion either in emergency, urgent or elective setting. Analgetic sedation is mandatory to avoid severe pain during electrical cardioversion. Limited number of anesthesiologist and emergency setting that need prompt electrical cardioversion warrant of selecting and using of analgetic sedation agents by doctor in emergency room. Characteristics of those agents must have strong analgesic effect and rapid onset and offset, minimize pain and anxiety and maximize amnesia with minimal adverse effect. This paper reviews some randomized control trial of those agents.Seorang dokter IGD dituntut untuk mampu melakukan kardioversi elektrik, baik untuk kasus emergensi, urgensi maupun elektif di IGD. Kardioversi elektrik merupakan tindakan yang menimbulkan rasa nyeri pada pasien, sehingga dibutuhkan sedasi dan analgesi. Karena terbatasnya jumlah dokter anesthesia, maka dokter IGD diharapkan mampu melakukan sedasi dan analgesi procedural di IGD. Oleh karenanya dokter IGD harus mampu memilih agen anesthesia yang tepat. Agen anesthesia yang diperlukan untuk sedasi dan analgesi prosedur kardioversi elektrik harus mampu memberikan level sedasi yang adekuat dengan waktu induksi dan rekoveri yang pendek, meminimalkan nyeri dan ansietas, memaksimalkan amnesia, dan memiliki potensi efek samping yang minimal. Namun tidak ada agen anesthesia yang memenuhi semua kualifikasi tersebut. Tinjauan kepustakaan ini bertujuan merangkum bukti-bukti dari kumpulan Uji klinis kontrol teracak mengenai pemilihan agen anestesi untuk kardioversi elektrik di UGD