Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
687 research outputs found
Sort by
The Need for National Registry
Currently medical outcomes research has generally been conducted with 3 sources of data: randomized clinical trials, administrative claims databases, and data registries. Each of these data sources has a unique set of applications, data quality issues, and requirements.1 In United State, clinical trials is part of the pharmaceutical and device pre-approval process thus it has highly regulated requirements for source document verification.2 In contrast, quality control of administrative data is primarily limited to fields directly related to claims adjudication. Thus, administrative claims data are significantly limited for the purposes of performing healthcare research.3 Like administrative claims data, registries are nonrandomized, observational datasets that can be generalized to real-world practice, depending on the representativeness of participants and the completeness of enrollment.4 However, as with the data collected in randomized clinical trials, registries include detailed clinical data using standardized data definitions
Diagnostik Angiografi dan Intervensi Non-Invasif pada Tetralogy of Fallot (Tof)
La Maladie Bleue yang dideskripsikan olehLouis Arthur Etienne Fallot pada tahun 1888,merupakan gambaran klinis dari fisiologiyang disebabkan malformasi anatomisPenyakit Jantung Bawaan (PJB) yang saat ini disebutdengan Tetralogy of Fallot (TOF).1 Gambaran utamakelainan ini terdiri dari hubungan interventrikularatau ventricular septal defect, hubungan biventrikulardari cabang aorta yang menaiki otot septum ventrikel,obstruksi aliran ventrikel kanan, dan hipertrofiventrikel kanan. Tiap komponen mempunyai derajatkeparahan yang bervariasi, dan mempengaruhimanifestasi klinis dan tatalaksana penyakit tersebut.1,2Perkembangan tatalaksana TOF dari paliatif menjadibedah korektif pada balita dan anak-anak diikuti denganberkembangnya peran intervensi transkateter
Secretory Phospholipase A2 Tipe Ii (Spla Ii) pada Penyakit Kardiovaskuler
Reaksi inflamasi berperan dalam beberapa pathogenesis kondisi kardiovaskuler seperti atherosklerosis dan kerusakan iskemikpada infark miokard akut (IMA). Di antara mediator-mediator yang terlibat dalam inflamasi tersebut adalah enzim secretoryphospholipase A2 tipe II (sPLA2-II). Meskipun beberapa sel memang memproduksi sPLA2-II, namun sintesis oleh sel-sel tertentuseperti hepatosit, adalah khas sebagai reaktan fase akut. Literatur terbaru menyatakan banyaknya peran dari sPLA2-II dalampenyakit kardiovaskuler. Dalam tulisan berikut, akan mendiskusikan peran sPLA2-II dalam berbagai model atherosklerosisatau IMA, baik in vitro maupun in vivo, termasuk perspektif terapeutik dari sPLA2-II inhibitor. Disimpulkan bahwa sPLA2-IImerupakan mediator inflamasi yang penting dalam penyakit kardiovaskuler
Hubungan Albuminuria dengan Silent Myocardial Ischemia dan Keterlambatan Heart Rate Recovery pada Subjek Pria Hipertensi Tanpa Diabetes Melitus
Background: Silent myocardial ischemia (SMI) defined asmyocardial ischemiawithout anginal pain. SMI is frequently found in diabetes due to autonomic neuropathy, but in hypertension the involvement of autonomic neuropathy is still not known. Heart rate recovery(HRR) has been known as manifestation of autonomic neuropathy.The simple measurement of HRR is potential as screening tools for autonomic neuropathy. Nevertheless, SMI and delayed HRR are known as independent predictors for cardiovasluar mortality, hence emphasize the importance for early diagnosis. In diabetes, albuminuria has been proven to be an independent predictor for SMI and delayed HRR, but in hypertensive patients without diabetes the correlation is still unclear.Objectives: This study is aimed to determine the incidence of SMI, delayed HRR, and albuminuria in hypertensive patients without diabetes, the correlation between albuminuria and SMI and delayed HRR.Methods: This is an observational study with cross-sectional approach. Fourty consecutive hypertensive without diabetes, history of chest pain, and known CAD. They underwent treadmill exercise testing with collection of spot urine before exercise to measure albumin urine to creatinine ratio (ACR). SMI and HRR to 3 minutes were then recorded.Results: SMI was diagnosed in 15% patients. The incidence of delayed HRR in the first, second and third minute after peak exercise were 60%,80%, and52.5% respectively. Albuminuria was significantly associated with SMI (OR 13.889 (1.423 – 135.544), p = 0.014). There were no signification correlation between albuminuria and delayed HRRConclusion: Albuminuria is a good predictor for SMI in hypertensive patients.Latar belakang: Silent myocardial ischemia (SMI) adalah iskemia miokard tanpa gejala angina. SMI sering ditemukan pada pasien diabetes melitus (DM) dan hipertensi. SMI pada DM dikaitkan dengan neuropati autonom (NA), sedangkan pada hipertensi keterlibatan NA belum diketahui. Heart rate recovery (HRR) merupakan manifestasi NA.SMI dan keterlambatan HRR berhubungan dengan peningkatan risiko kematian kardiovaskular, sehingga deteksi dini keduanya merupakan hal yang sangat penting. Albuminuria diketahui memiliki hubungan dengan SMI dan NA pada pasien DM, namun penelitian pada pasien hipertensi masih terbatas.Tujuan: Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui angka kejadian SMI, keterlambatan HRR, dan albuminuria, dan hubungan albuminuria dengan SMI dan keterlambatan HRR.Metode: Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan potong lintang pada bulan September-Desember 2014 . Jumlah sampel adalah 40 orang laki-laki, usia 40-60 tahun dengan hipertensi tanpa DM. Semua subjek dilakukan pengambilan sampel urin sewaktu untuk pengukuran albumin urine to creatinine ratiodan pemeriksaan TST dengan protokol Bruce untuk mendeteksi SMI dan keterlambatan HRR menit ke-1 sampai menit ke-3. Albuminuria dan keterlambatan HRR menit ke-1 sampai ke-3 dinyatakan sebagai positif dan negatif sesuai dengan nilai ambang.Hasil: Angka kejadian SMI sebesar 15%, keterlambatan HRR menit ke-1 sebesar 60%, keterlambatan HRR menit ke-2 sebesar 80%, dan keterlambatan HRR menit ke-3 sebesar 52.5%. Ditemukan hubungan bermakna antara albuminuria dengan SMI positif (OR 13.889 (IK 95% 1.423 – 135.544), p = 0.014). Tidak ditemukan hubungan bermakna antara albuminuria dengan keterlambatan HRR menit ke-1 sampai menit ke-3.Kesimpulan: Albuminuria merupakan prediktor SMI pada pasien hipertensi tanpa DM
Myxoma Atrium Kiri pada Kehamilan: Tantangan dalam Diagnosis dan Tatalaksana
Primary tumors of the heart are rare where myxomas predominate as the most common type of primary cardiac tumors in all age groups. Even rarer, the incidence of myxomas during pregnancy is reported extremely low in the medical literature. The hemodynamic changes during pregnancy play an important role in influencing the clinical manifestation. The management is vary, depending on the week of gestation and risk assessment for both the mother and baby.We report a case of left atrial myxoma in 33-34 weeks of pregnancy. After judicious consideration, the patient was planned to have caesarian section at the full term pregnancy that will be followed one week after by tumor resection.Tumor primer jantung terhitung jarang dimana myxoma mendominasi sebagai tumor primer jantung yang terbanyak di semua kelompok umur. Insidens myxoma pada kehamilan dilaporkan lebih jarang lagi di dalam literatur medis. Perubahan hemodinamik selama kehamilan mempengaruhi tampilan klinis. Tatalaksana bervariasi, tergantung pada usia kehamilan dan pengkajian risiko baik untuk ibu maupun janin
Fibrilasi Atrial dengan Takikardia QRS Lebar
Seorang pria Bngladesh, 65 tahun datng ke UGD dengan keluhan mau pingsan. Pasien adalah pasien lama dengan 3VD yang sudah dilakukan revaskularisasi lengkap dengan pemasangan stent. Riwayat medis sebelumnya adalah rawat inap berulang karena ADHF. Hasil ekokardiografi menunjukkan suatu disfungsi ventrikel kiri berat, fraksi ejeksi (EF) 35%, dimensi end diastolik ventrikel kiri (EDD) 66 mm dan dimensi atrium kiri (LAD) 52 mm. Pemeriksaan fisik dalam batas normal
Asosiasi Kadar Fibrinogen dengan Indeks Resistensi Mikrovaskular pada Penderita Infark Miokard Akut dengan Elevasi Segmen ST yang menjalani Intervensi Koroner Perkutan Primer
Background: Primary percutaneus coronary intervention (PPCI) is a first of choice to return patient’s blood flow and perfusion with ST-segment elevation myocardial infarction (STEMI), however reperfusion in macrocirculation level is not always accompanied by a sufficient microcirculation reflow due to Microvascular Obstruction (MVO). Previous study demonstrated thathigh fibrinogen concentration may affect rheological parameters of the blood and play an important role in the pathomechanism of myocardial non-reperfusion phenomenon following successful mechanical recanalisation of the infarct-related coronary artery. Another study show eda more compact, lysis-resistant fibrin network in no reflow group, but without significant relation to fibrinogen level. However, there is a lack of data regarding fibrinogen and MVO. The aim of this study is to evaluate association between fibrinogen and MVO by index of microcirculatory resistance (IMR).Methods. 55 STEMI patients undergoing primary PCI were consecutively included. The fibrinogen was evaluated using clauss method and IMR was done right after PPCI to evaluate MVO.Results. From fifty-five patients included in the study, there were 87,3% men, with mean age 53,1±8.9 years old, and smoker show the biggest proportion compare with risk factor for coronary artery disease. All the patient undergo primary percutaneus coronary intervention with mean door-to-ballon time of 89.04+37.114 minute and ischemia time of 458,69+170,709 minute. Mean IMR was 55,2 + 47,454 and mean fibrinogen level was 350,8+103,19. From the scaterred plot fibrinogen prone to had a weak negative correlation with IMR and statistically non-significant(r = -0,137; p=0,319).Conclusion. There is no correlation between fibrinogen level and IMR value in STEMIpatients undergoing PPCILatarBelakang: Intervensi koroner perkutan primer (IKPP) merupakan pilihan utama untuk mengembalikan aliran darah dan perfusi pasien yang mengalami Infark Miokard Akut dengan Elevasi Segmen ST (IMA-EST), namun reperfusi ditingkat makrovaskular tidak selalu mengembalikan aliran yang cukup pada tingkat mikrosirkulasi, akibat obstruksi mikrovaskular (OMV). Studi sebelumnya memperlihatkan kadar fibrinogen yang tinggi berperan penting pada mekanisme fenomena no-reperfusion setelah tindakan reperfusi yang berhasil pada arteri koroner terkait infark. Studi lain menunjukkan pada kelompok OMV didapatkan struktur fibrin yang padat serta lebih resisten terhadap lisis dan tidak adanya korelasi antara kadar fibrinogen dengan MVO. Bagaimanapun, saat ini data mengenai hubungan fibrinogen dengan OMV masih belum memadai. Studi ini bertujuan untuk menilai asosiasi fibrinogen terhadap kejadian obstruksi mikrovaskular dengan pemeriksaan indeks resistensi mikrovaskular (IRM), yang memiliki korelasi baik dengan standar baku (MRI).Metode: Sebanyak 55 subjek IMA–EST yang menjalani IKPP dipilih secara konsekutif. Fibrinogen dievaluasi menggunakan metode clauss dan penilaian IMR diambil segera setelah tindakan IKPP.Hasil: Dari lima puluh lima pasien yang masuk dalam penelitian didapatkan proporsi laki-laki 87,3%, dengan rerata umur pasien adalah 53,1+8,9 tahun. Faktor risiko penyakit jantung koroner yang paling besar adalah merokok yaitu 76,36. Semua pasien menjalani IKPP dengan waktu perfusi 89.04+37.114 menit dan waktu Iskemia 458,69+170,709. Nilai rerata IMR 55,2 + 47,454 dengan nilai rerata fibrinogen 350,80+103,190. Melalui diagram scattered plot didapatkan kadar fibrinogen memilliki kecenderungan yang terbalik terhadap IMR, dengan kekuatan hubungan yang lemah dan secara statistik tidak bermakna. ( r = - 0,137 ; p = 0,319 )
Peptida Polisakarida: Anti Inflamasi dan Anti Oksidan yang Menjanjikan pada Atherosklerosis
Background : Heart disease is the leading cause of death for both men and women, but heart disease is preventable and controllable. Ganoderma lucidum is widely used as traditional medicine for centuries particularly in China, Japan, and Korea. Previous study showed antioxidative activity of polysaccharide peptide (PsP) from Genoderma lucidum.Objective : This study was aimed to evaluate anti-inflammatory and antioxidant effect of polysaccharide peptide (PsP) from Ganoderma lucidum in atherosclerotic rats.Methods : The atherosclerotic rats were randomly divided into four groups (5 rats each group) : atherosclerotic model with high-fat diet, low dose PsP treated group (50 mg/kgBW), medium dose PsP treated group (150 mg/kgBW), high dose PsP treated group (300 mg/kgBW), with normal mice used as a control group. Parameters measured were the level of MDA, SOD, IL - 6 , IL - 10, hsCRP, TNF - ?, lipid profile and foam cell.Results : After PsP therapy for 5 weeks, the levels of MDA (p=0.01), hsCRP (p=0.018) in rats model of atherosclerosis decrease significantly. PsSP can reduce levels of IL - 6 (p=0.933) and increase levels of SOD (p=0.28) descriptively at PsP doses 150 mg/kgBW. While the levels of TNF-? (p=0.894) and IL-10 (p=0.98) was not affected by administration of PsP. PsP improve the lipid profile by increasing HDL (p=0.002) and lowering total cholesterol (p=0.04). The formation of foam cells (p=0.024) as a marker of atherogenesis significantly decreased by administration of PsP .Conclusion : PSP can be useful to reduce inflammatory processes and oxidative stress to prevent the process of atherogenesis.Latar belakang: Penyakit jantung adalah merupakan penyebab kematian utama pada pria dan wanita, akan tetapi penyakit jantung dapat dicegah dan dikotrol. Ganoderma lucidum telah digunakan selama berabad-abad, khususnya di China, Jepang, dan Korea. Pada beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan efek antioksidan dari peptida polisakarida yang berasal dari Ganoderma lucidum.Tujuan: Mengevaluasi efek anti-inflamasi serta anti-oksidan dari peptida polisakarida (PsP) ekstrak Ganoderma lucidum pada tikus yang diberi paparan diet tinggi lemak.Metode: Tikus aterosklerosis dibagi menjadi empat kelompok (5 tikus masing-masing kelompok) : model aterosklerosis dengan diet tinggi lemak, diberi terapi PsP dosis rendah (50mg/kgBB), dosis sedang (150mg/kgBB), dan dosis tinggi (300mg/kgBB), serta kelompok tikus normal sebagai kontrol negatif. Parameter yang diukur adalah kadar MDA, SOD, IL-6, IL-10, hsCRP, TNF-?, profil lipid dan juga foam cell.Hasil: Setelah pemberian terapi PsP selama 5 minggu, kadar MDA (p=0.01), hsCRP (p=0.018) pada tikus model atherosklerosis dapat turun secara signifikan. Pemberian PsP dapat menurunkan kadar IL-6 (p=0.933) dan meningkatkan kadar SOD (p=0.28) secara deskriptif pada dosis PsP 150 mg/kgBB. Sedangkan kadar TNF-? (p=0.894) dan IL-10 (p=0.98) tidak terpengaruh dengan pemberian PsP. PsP memperbaiki profil lipid dengan meningkatkan kadar HDL (p=0.002) dan menurunkan Kholesterol total (p=0.04). Pembentukan foam cell (p=0.024) sebagai penanda atherogenesis ternyata menurun secara signifikan dengan pemberian PsP.Kesimpulan: PsP dapat bermanfaat untuk menurunkan proses inflamasi dan oksidatif stres untuk mencegah proses atherogenesis
An effort to find biomarker for micro-vascular obstruction in patient with myocardial infarction undergoing primary revascularization: is fibrinogen the answer?
Meski revaskularisasi telah menunjukkan manfaat besar dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas pada pasien infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (IMA-EST), manfaat dari intervensi koroner perkutan primer (IKPP) yang berhasil mengembalikan aliran koroner epikardial seringkali tidak optimal di tingkat mikro sirkulasi karena adanya obstruksi mikrovaskular.Obstruksi mikrovaskular (OMV) berperan penting dalam menentukan prognosis pasien paska tindakan,1, 2 dan telah dilaporkan bahwa keberadaan obstruksi mikro-vaskular berkorelasi dengan penurunan survival pasien paska IMA-EST, melalui pengaruhnya pada proses remodeling ventrikel.3,
Temuan Gambaran CT Napkin Ring Sign Pada Pasien Asimtomatik
KasusSeorang laki-laki usia 56 tahun datang ke poliklinik rawat jalan untuk memeriksakan kesehatannya saat dalam keadaan tanpa keluhan atau asimtomatik. Keluhan selama ini tidak ada yang memiliki karakteristik angina atau sesak napas. Pasien memiliki riwayat penyakit jantung koroner dikeluarganya, yaitu dua orang kakak kandungnya (laki-laki) yang telah menjalani operasi jantung dan dipasang ring.Pasien pernah memeriksakan faktor risiko kardiovaskular dengan hasil terdapat peningkatan kadar kolesterol dalam darah yaitu LDL setinggi 150 mg/dL. Selain itu pasien juga dengan hipertensi grade 1 tekanan darah sistolik berkisar 140-150mmHg. Hasil EKG menunjukkan kesimpulan normal sinus ritme, tidak ditemukan kelainan pada setiap gelombang PQRST maupun setiap segmen PR dan ST.Karena gambaran EKG masih normal, dengan faktor risiko usia jenis kelamin dan riwayat keluarga serta dislipidemia, maka kami menganjurkan deteksi aterosklerosis kepada pasien dengan metode CT coronary angiography (CTCA)