Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
    687 research outputs found

    Penanganan Gagal Jantung Diastolik

    Get PDF
    The diastolic heart failure also referred to as heart failure with preserved left ventricular systolic function (preserved ejection fraction). The difference between systolic and diastolic HFs is a pathophysiological one and isolated forms of left ventricular dysfunction are rarely observed. In diastolic HF left ventricular systolic function is normal or only slightly impaired, and the typical manifestations of HF result from increased filling pressure caused by impaired relaxation and compliance of the left ventricle. The management should include antihypertensive treatment, maintenanceof the sinus rhythm, prevention of tachycardia, venous pressure reduction, prevention of myocardial ischemia and prevention of diabetes mellitus. Treatment of diastolic HF is aimed to stop the progression of the disease, relieve its symptoms, eliminate exacerbations and reduce the mortality. The predisposing factors for diastolic dysfunction include elderly age, female sex, obesity, coronary artery disease, hypertension and diabetes mellitus. The European Society of Cardiology specifies the type of therapy in diastolic HF based on: angiotensin converting enzyme inhibitors, angiotensin receptor blockers, beta-blockers, non dihydropyridine calcium channel blockers, diuretics.Gagal jantung diastolik disebut juga sebagai gagal jantung dengan fungsi sistolik ventrikel kiri yang normal (ejeksi fraksi normal). Perbedaan antara gagal jantung sistolik dan diastolik terletak pada patofisiologinya. Pada gagal jantung diastolik fungsi ventrikel kiri normal atau sedikit menurun dan manifestasi yang timbul disebabkan oleh peningkatan tekanan pengisian yang disebabkan oleh gangguan relaksasi dan komplains ventrikel kiri. Manajemen gagal jantung diastolik meliputi terapi antihipertensi, pemeliharaan irama sinus, pencegahan takikardi, pengurangan tekanan vena, pencegahan iskemik miokard dan pencegahan diabetes melitus. Terapi gagal jantung diastolik bertujuan untuk mengurangi progresivitas, menghilangkan gejala, mencegah eksaserbasi dan menurunkan angka mortalitas. Faktor predisposisi disfungsi diastolik meliputi usia lanjut, jenis kelamin wanita, obesitas, penyakit jantung koroner, hipertensi dan diabetes melitus. The European Society of Cardiology mengeluarkan beberapa macam penatalaksanaan gagal jantung diastolik berdasarkan: ACE-inhibitors, angiotensin receptor blocker, beta bloker, calcium channel bloker non dihidropiridin, diuretik

    Pedoman Tatalaksana Dislipidemia PERKI 2013

    Get PDF
    Pedoman tatalaksana ini merupakan pedomantatalaksana dislipidemia pertama yang dibuat olehPERKI. Tujuan pembuatan pedoman tatalaksana iniadalah untuk membantu dokter membuat keputusandalam praktek sehari-hari. Pedoman inimenyarikandan mengevaluasi bukti-bukti yang ada ketikapedoman tatalaksana ini dibuat. Isi dari pedomantatalaksana ini mengacu terutama pada pedomantatalaksana dislipidemia ESC/EAS tahun 2011 sertaberbagai hasil penelitian lainnya. Keputusan akhirtentang terapi individual merupakan tanggung jawabdari dokter yang menangani pasien

    Ekokardiografi Transtorakal pada Deteksi Awal Gangguan Fungsi Katup Mitral Prostetik

    Get PDF
    Pemeriksaan ekokardiografi transtorakal (TTE)merupakan cara yang masih diandalkandalam skrening gangguan fungsi katup mitralprostetik (prosthetic mitral valve – PMV),karena ekokardiografi transesopagus (TEE) tidakdapat dikerjaan secara rutin. Tetapi adanya gambaranacoustic shadow sangat mengganggu pada deteksidisfungsi PMV dengan pemeriksaan TTE terutamaadanya regurgitasi

    Pedoman Terapi Memakai Alat Elektronik Kardiovaskular Implan (Aleka) Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia 2014

    Get PDF
    PEDOMAN TERAPI MEMAKAI ALAT ELEKTRONIK KARDIOVASKULAR IMPLAN (ALEKA)Perkembangan dan kemajuan pada diagnostik dan terapi dalam tata laksana pasien dengan kelainan irama jantung merupakan dasar disusunnya pedoman terapi memakai alat elektronik kardiovaskular implan (Aleka) ini. Pedoman ini disusun oleh Perhimpunan Aritmia Indonesia - Indonesian Heart Rhythm Society (lnaHRS), sebuah kelompok kerja dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), berdasarkan pedoman terbaru yang dipublikasi oleh perhimpunan Eropa maupun Amerika Utara dan disesuaikan dengan keadaan lokal di Indonesia.Pedoman Aleka ini terdiri dari alat pacu jantung permanen (APJP), defibrilator kardiak implan (DKI) dan terapi resinkronisasi jantung (TRJ). Kumpulan rekomendasi ini memberi pedoman untuk penggunaan Aleka dengan tepat tetapi bukan sebagai pedoman untuk tata laksana aritmia secara umum.Bradikardia simtomatik menjadi indikasi implantasi APJP. Sebelum keputusan diambil untuk implantasi APJP, pertanyaan utama yang muncul adalah apakah simtom yang dialami pasien berhubungan dengan bradikardia, baik yang dicurigai maupun terdokumentasi. Ada kemungkinan bahwa kondisi yang terjadi bersifat sementara (akibat iskemia, efek samping obat, gangguan elektrolit, inflamasi, sepsis) dan dapat ditangani dengan pemacuan temporer serta dapat disembuhkan dengan mengobati penyebab yang mendasari. lndikasi implantasi APJP haruslah dievaluasi secara teliti dan dicari penyebab yang mendasari. lndikasi kelas I untuk implantasi APJP tidak dapat menyingkirkan pilihan tata laksana alternatif yang mungkin ada. Diagnosis banding termasuk penyebab kardiak maupun non-kardiak harus disingkirkan terlebih dahulu.Untuk terapi memakai Aleka, tidak hanya dibutuhkan pengetahuan gangguan irama jantung yang dalam namun juga pengetahuan teknik dasar. Pendekatan transvena telah mempermudah teknik bedah dan memudahkan tindakan implantasi sehingga dapat dilakukan oleh kardiolog. Hanya dengan memiliki pengertian yang mendalam mengenai keterkaitan antara fungsi dari pemacuan yan

    Myxoma Atrium Kiri dengan Regurgitasi Trikuspid: Patofisiologi, Diagnosis dan Tata Laksana

    Get PDF
    Cardiac myxomas are the most common primary cardiac tumors. Myxoma are more common in women. Clinical manifestations can mimic many cardiac and noncardiac conditions. Transthoracic echocardiography (TTE) is the gold standard method in the diagnosis of cardiac myxoma. The management of cardiac myxoma are medical therapy for the treatment of associated conditions and surgical removal as the definitive treatment.Myxoma atrium kiri adalah tumor jinak jantung yang paling banyak ditemui. Myxoma atrium kiri paling banyak terjadi pada perempuan. Presentasi klinis myxoma atrium kiri dapat menyerupai berbagai macam penyakit baik kardiak maupun nonkardiak. Ekokardiografi merupakan modalitas diagnostik baku standar untuk menegakkan diagnosis myxoma atrium kiri. Prinsip penatalaksanaan myxoma atrium kiri meliputi terapi medikamentosa terhadap kondisi yang menyertai dan terapi definitif dengan ekstirpasi tumor

    Pengaruh Tingkat Keparahan Stenosis Mitral Terhadap Kadar Soluble Vascular Cell Adhesion Molecule-1 dan Soluble Intercellular Adhesion Molecule-1

    Get PDF
    Background: Blood Soluble Vascular Cell Adhesion Molecule-1 (sVCAM-1) and Soluble Intercellular Adhesion Molecule-1 (sICAM-1) levels are increased in Mitral Stenosis (MS) patients, but whether this phenomenon is due to chronic rheumatic inflammation process or because of hemodynamic effect of mitral stenosis severity is not clear yet.Objective: This research aims to study the effect of mitral stenosis severity on blood sVCAM-1 and sICAM-1 levels.Method: This study is a cross sectional study. Research subjects were divided into 3 groups: control patients, pre BMV (Baloon Mitral Valvulotomy) group, and post BMV group (patients who have already undergone BMV for ? 1year). Blood sVCAM-1 and sICAM-1 were measured using quantitative sandwich immunoassay method in all groups, and echocardiographic study to evaluate MS severity (MVA (Mitral Valve Area), mMVG (mean Mitral Valve gradient), TVG (Tricuspid Valve Gradient), mPAP (mean Pulmonary Artery Pressure), and LAVI (Left Atrial Volume Index) were performed to pre BMV and post BMV group at the same day with the blood sample collections.Results: There were 23 normal subjects, 26 patients in pre BMV group, and 27 patients in post BMV group. The sVCAM-1 and sICAM-1 levels in patients with MS (pre BMV and post BMV group) were higher than normal control subjects (536,87 ± 251,68 ng/ml vs 536,87 ± 149,22 ng/ml; p<0,001 and 270,04 ± 111,67 ng/ml vs 216,43 ± 50,60 ng/ml; p=0,006), meanwhile there were no differences of sVCAM-1 and sICAM-1 levels between pre BMV and post BMV group (854,67 ± 227,26 ng/ml vs 809,22 ± 275,63 ng/ml; p=0,515 dan 279,98 ± 114,39 ng/ml vs 260,49 ± 110,38 ng/ml; p=0,539). There were also no significant correlation between mitral stenosis severity (MVA, mMVG, TVG, mPAP dan LAVI) with sVCAM-1 and sICAM-1 levels (p>0,05).Conclusion: There were no correlation between mitral stenosis severity with blood sVCAM-1 and sICAM-1 levelsLatar Belakang: Kadar Soluble Vascular Cell Adhesion Molecule-1 (sVCAM-1) dan Soluble Intercellular Adhesion Molecule-1 (sICAM-1) diketahui meningkat pada pasien dengan stenosis mitral (SM). Namun, apakah kenaikan tersebut disebabkan oleh proses reumatik yang aktif ataukah karena pengaruh hemodinamik SM masih belum diketahui dengan jelas.Tujuan: Meneliti pengaruh tingkat keparahan SM pada kadar sVCAM-1 dan sICAM-1Metode: Penelitian ini berdesain potong lintang. Subjek penelitian dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol normal, kelompok pasien yang akan menjalani Komisurotomi Mitral Transvena Perkutan (kelompok pre KMTP), dan kelompok pasca KMTP ?1 tahun. Dilakukan pemeriksaan kadar sVCAM-1 dan sICAM-1 pada ketiga kelompok tersebut, dan pemeriksaan ekokardiografi untuk menilai tingkat keparahan katup mitral (Mitral Valve Area (MVA) mean Mitral Valve Gradient (mMVG), Tricuspid Valve Gradient (TVG), mean Pulmonary Artery Pressure (mPAP) dan Left Atrial Volume Index (LAVI)) pada kelompok pre KMTP dan kelompok pasca KMTP ?1 tahun.Hasil: Didapatkan 23 orang kontrol normal, 26 pasien kelompok pre KMTP, dan 27 pasien kelompok pasca KMTP ?1 tahun.. Kadar sVCAM-1 dan sICAM-1 pada kelompok pasien dengan SM (kelompok pre dan pasca KMTP ?1 tahun) lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol normal (536,87 ± 251,68 ng/ml vs 536,87 ± 149,22 ng/ml; p<0,001 dan 270,04 ± 111,67 ng/ml vs 216,43 ± 50,60 ng/ml; p=0,006). Namun tidak didapatkan perbedaan kadar sVCAM-1 dan sICAM-1 antara kelompok pre KMTP dengan kelompok pasca KMTP ?1 tahun (854,67 ± 227,26 ng/ml vs 809,22±275,63 ng/ml; p=0,515 dan 279,98 ± 114,39 ng/ml vs 260,49 ± 110,38 ng/ml; p=0,539). Tidak didapatkan hubungan antara tingkat keparahan katup mitral (MVA, mMVG, TVG, mPAP dan LAVI) dengan kadar sVCAM-1 dan sICAM-1 (p>0,05).Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antar tingkat keparahan katup mitral dengan kadar kadar sVCAM-1 dan sICAM-1

    Hubungan Inhibisi Agregrasi Platelet setelah Pemberian Eptifibatide dengan Kejadian Kardiovaskular Mayor pada Pasien Infark Miokard Akut Elevasi Segmen ST yang Menjalani Intervensi Koroner Perkutan Primer

    Get PDF
    Background: Eptifibatide, an inhibitor of glycoprotein IIb/IIIa administered as adjunctive therapy to reperfusion therapy Primary PCI in STEMI patients. Persistently high platelet reactivity was found in patients who experienced recurrent atherothrombotic events during antiplatelet therapy.Objective: To evaluate the level of platelet inhibition after eptifibatide therapy and to assess the relation between level of platelet inhibition and Major Cardiaovascular event (MACE).Methods: Platelet function test by Multiplate analyzer was performed in STEMI Patients who undergone Primary-PCI, 10 minutes after a bolus of eptifibatide. MACE were prospectively monitored during hospitalization and the incidence of MACE correlated with the measured level of platelet inhibition.Results: From 99 subjects, approximately 55% of the subjects were non-responders (high platelet reactivity). 18 patients experienced MACE, most were heart failure (8 people), malignant arrhythmias (3 people), recurrent angina (2 people), stroke (2 people) and reinfarction, infections and major bleeding each 1 person. 12 subjects experienced MACE was from the non-responder group and 8 subjects from the responder grup. The study was found that the level of platelet inhibition wasn’t an independent predictor for the risk of MACE.Conclusion: Less achieved therapeutic effects of platelet Inhibition (non-responders) was found in the majority (55%) subjects. Different level of platelet inhibition wasn’t an independent predictor for the risk of MACE.Latar Belakang: Reaktivitas platelet yang tinggi terutama pada kondisi IMA-EST memerlukan antiplatelet untuk menginhibisi aktivasi dan agregrasi platelet sehingga mencegah kejadian trombosis lebih hebat. Eptifibatide, suatu penghambat Gp IIb/IIIa diberikan sebagai terapi tambahan pada terapi reperfusi IKPP. Reaktivitas platelet yang tetap tinggi ditemukan pada pasien-pasien yang mengalami kejadian aterotrombosis yang berulang,Tujuan: Menilai inhibisi agregrasi platelet sebagai respon terapi eptifibatide dan menilai adanya hubungan antara respon inhibisi agregrasi platelet terhadap KKM pada pasien IMA-EST yang menjalani IKPPMetode: Pasien IMA-EST yang diberikan eptifibatide dan dilakukan IKPP dilakukan pemeriksaan fungsi platelet pada menit ke-10 setelah bolus eptifibatide dengan alat Multiplate analizer. Pasien akan diikuti selama perawatan rumah sakit untuk melihat KKM.Hasil: Dari 99 subyek penelitian, sekitar 55% subyek merupakan non-responder. Didapatkan 18 pasien mengalami KKM, terbanyak adalah gagal jantung (8 orang), aritmia maligna (3 orang), angina berulang (2 orang), stroke (2 orang) dan reinfark, infeksi dan perdarahan mayor masing-masing 1 orang. 12 orang subyek yang mengalami KKM merupakan kelompok subyek non-responder dan 8 subyek berasal kelompok responder. Dari analisa statistik didapatkan bahwa respon inhibisi agregrasi platelet yang kurang yaitu pasien non-responder terhadap eptifibatide tidak meningkatkan risiko terjadinya KKM.Kesimpulan: Inhibisi agregrasi platelet yang kurang mencapai efek terapi (non-responder) didapatkan pada sebagian besar (55%) subyek penelitian. Tidak terdapat adanya perbedaan angka kejadian kardiovaskular mayor pada kelompok dengan tingkat inhibisi agregrasi platelet yang berbeda

    Penurunan Fungsi Ventrikel Kanan pada Subjek dengan Obstructive Sleep Apnea

    Get PDF
    An analytical design study on the systolic right ventricle (RV) functionwas done in Obstructive Sleep Apnea (OSA) patients who underwentpolisomnography procedure and compare it with normal subject. Theassessment of the RV function was performed using the Speckle trackingechocardiography method. Other RV function parameters such as TAPSE,Tissue Doppler Imaging (TDI), dan Myocardial Performance Index (MPI)were also measured.The results showed RV dysfunction in OSA patients compared with normalsubject, the decrease of RV function was significantly different betweenthe two groups. Factors that contributed to RV dysfunction in OSA patientswere higher Apnea-Hypopnea Index (AHI) and Nocturnal OxygenDesaturation.Studi deskriptif analitik dilakukan terhadap fungsi ventrikel kanan (VKa) pada pasien dengan Obstructive Sleep Apnea (OSA)dibandingkan dengan subyek normal yang menjalani pemeriksaan polisomnografi. Penilaian dilakukan menggunakan metodeekokardiografi speckle tracking. Selain itu parameter fungsi sistolik dan diastolik Vka yang lain seperti TAPSE, Tissue DopplerImaging (TDI), dan Myocardial Performance Index (MPI) juga diukur. Penelitian ini merupakan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat penurunan fungsi global VKa pada pasien OSA dibandingkan dengan subyeknormal. Faktor yang mempengaruhi fungsi sistolik VKa adalah nilai AHI ( Apnea-Hypopnea Index ) yang tinggi dan saturasioksigen yang rendah saat tidur

    Hubungan Kadar Soluble Intercellular Adhesion Molecule-1 dan Soluble Vascular Cell Adhesion Molecule-1 dengan Gradasi Trombosis Atrium Kiri pada Stenosis Mitral

    Get PDF
    Background. The relationship between inflammation and coagulation has been widely described, which adhesion molecules play important role in inflammation. Soluble intercellular adhesion molecule-1 (sICAM-1) and soluble vascular cell adhesion molecule-1 (sVCAM-1) seem to be related to thrombosis in few previous studies. The level of those molecules were increased in mitral stenosis (MS), however their relationship with left atrial thrombosis gradation is still unknown.Methods. Patients with moderate-severe MS (without any significant mitral regurgitation) who underwent transesophageal echocardiography were recruited consecutively in September-October 2013. They were divided into 3 categories of left atrial thrombosis gradation: non-thrombus without dense left atrial spontaneous echo contrast (LASEC) group, and non-thrombus with dense LASEC group, and thrombus group.Results. A total of 39 subjects were enrolled in the study with a mean age of 40.97±9.61 year. Moreover, 71.8% of them were female and 67.7% of them had atrial fibrillation (AF). Evaluation on left atrial thrombosis gradation as mentioned above showed that sICAM-1 levels were 284.74 (218.79-321.00) ng/mL, 346.86 (125.68-698.12) ng/mL, and 395.93 (171.44-1021.53) ng/mL, consecutively (p=0.280). While sVCAM-1 levels gradually increased based on those groups consecutively: 729.01 (543.93-967.80) ng/mL, 1066.00 (581.36-2470.60) ng/mL, and 1158.00 (668.66-2498.30) ng/mL (p=0.016). Multivariate analysis showed that AF and mitral valve area (MVA) influence thrombosis gradation.Conclusion. Difference in sVCAM-1 levels were found among left atrial thrombosis gradation groups in mitral stenosis, but its effect on thrombosis gradation was influenced by AF and MVA.Latar belakang. Hubungan antara inflamasi dan koagulasi telah banyak dijelaskan, dimana molekul adhesi memiliki peranan penting dalam inflamasi. Soluble intercellular adhesion molecule-1 (sICAM-1) dan soluble vascular cell adhesion molecule-1 (sVCAM-1) tampak berkaitan dengan trombosis pada beberapa penelitian sebelumnya. Molekul-molekul tersebut meningkat pada stenosis mitral (SM) namun bagaimana hubungannya dengan derajat trombosis atrium kiri belum diketahui.Metode. Pasien SM derajat sedang-berat (tanpa adanya regurgitasi mitral signifikan) yang menjalani pemeriksan ekokardiografi transesofageal diikutsertakan secara konsekutif sejak September-Oktober 2013. Penilaian gradasi trombosis atrium kiri dilakukan untuk mengkategorikan mereka menjadi kelompok non-trombus dengan left atrial spontaneous echo contrast (LASEC) tebal, dan kelompok non-trombus tanpa LASEC tebal, dan kelompok trombus. Kadar sICAM-1 dan sVCAM-1 dari vena perifer diukur dengan teknik enzyme-linked immunosorbent assay.Hasil. Sebanyak 39 subyek penelitian dengan rerata usia 40,97±9,61 tahun, 71,8% berjenis kelamin perempuan, dan 67,7% memiliki irama fibrilasi atrium. Evaluasi terhadap gradasi trombosis atrium kiri sebagaimana disebutkan diatas menunjukkan kadar sICAM-1 sebesar 284,74 (218,79-321,00) ng/mL, 346,86 (125,68-698,12) ng/mL, dan 395,93 (171,44-1021,53) ng/mL secara berurutan (p=0,280). Sedangkan kadar sVCAM-1 meningkat secara bertahap pada 3 kelompok tersebut: 729,01 (543,93-967,80) ng/mL, 1066,00 (581,36-2470,60) ng/mL, dan 1158,00 (668,66-2498,30) ng/mL (p=0,016). Analisis multivariat menunjukkan fibrilasi atrium dan area katup mitral yang mempengaruhi gradasi trombosis.Kesimpulan. Terdapat perbedaan kadar sVCAM-1 pada kelompok menurut gradasi trombosis atrium kiri pada SM, namun pengaruh sVCAM-1 terhadap gradasi trombosis atrium kiri dipengaruhi oleh fibrilasi atrium dan area katup mitral

    Hubungan Kadar P-selectin dengan Fungsi Atrium Kiri pada Stenosis Mitral Rematik

    Get PDF
    Background. Mitral stenosis (MS) prevalence remains significant in developing countries because of the prevalence of Rheumatic Heart Disease (RHD). In moderate-severe MS patients, enormous increase in turbulent region and shear stress cause vascular endothelial dysfunction, and as the consequence, it increases the risk of thromboembolic complications. P-selectin is an adhesion molecule that play a role in the inflammation process, where it is expressed rapidly in mere minutes. Left Atrial Volume Index (LAVI) is a superior parameter compared with other two-dimensional echocardiography method to assess left atrial function.Methods. This was a cross-sectional study involving 20 MS moderate-severe patients with mitral valve area (MVA) < 1.5 cm2, to whom successful Percutaneous transvenous Balloon Mitral Valvulotomy (PBMV) was performed. Samples were taken consecutively from May-October 2013 at the National Cardiovascular Center Harapan Kita, Jakarta. Blood samples of P-selectin were collected pre and post-PBMV. The result was statistically analyzed with echocardiography data of LAVI prior PBMV to describe any association between expression of P-selectin and atrial function.Result.We found no association between LAVI and P-selectin level pre and post-PBMV in MS patients. That is described in the value of pre PBMV ?=-0.103 (95% CI -0.251-0.045) with p=0.16 and post-PBMV ?= 0.009 (95% CI -0.155-0.172) with p=0.91 We then performed linear regression test with adjusted confounding variable including sex, age, and atrial fibrillation, still we found no association between LAVI and P-selectin level, with the value of pre PBMV ?= -0.154 (95% CI -0.340-0.032) p=0.09 and post PBMV ?= -0.049 (95% CI -0.250-0.152) p=0.61.Conclusion. There is no difference in P-selectin level pre and post PBMV. There is no association between poor LAVI value and expression of P-selectin pre and post PBMV in MS.Latar Belakang. Stenosis Mitral (SM) tinggi prevalensinya di negara berkembang karena erat terkait dengan prevalensi penyakit jantung demam rematik (PJR). Pasien SM sedang-berat terdapat peningkatan regio turbulensi dan shear stress mengakibatkan kerusakan endotel pembuluh darah sehingga meningkatkan resiko tromboemboli. P-selectin sebagai molekul adhesi berperan dalam proses inflamasi dan faktor protrombotik yang diekspresikan secara cepat. Indeks volume atrium kiri (IVAK) merupakan parameter superior untuk mengukur fungsi atrium kiri dengan ekokardiografi.Metode. Penelitian potong lintang melibatkan 20 pasien SM sedang-berat dengan MVA <1.5 cm2 yang menjalani Komisuratomi Mitral Transvena Perkutan (KMTP) yang diambil secara konsekutif pada bulan Mei 2013 sampai Oktober 2013 di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta. Pasien diambil sampel darah pra dan pasca KMTP untuk diperiksa kadar P-Selectin dan hasilnya dianalisa secara statistik.Hasil. Dalam studi ini, tidak didapatkan asosiasi antara IVAK dengan ekspresi kadar P-selectin pra dan pasca KMTP. Hal ini ditunjukkan dengan nilai pra KMTP ?= -0.103 (95% CI -0.251,0.045) p=0.16 dan pasca KMTP ?= 0.009 (95% CI -0.155,0.172) p=0.91. Setelah dilakukan regresi linier dengan penyesuaian (adjusted) terhadap variabel perancu yakni usia, jenis kelamin, dan atrial fibrilasi tetap tidak didapatkan asosiasi antara IVAK dengan kadar P-selectin dengan nilai pra KMTP ?= -0.154 (95% CI -0.340,0.032) p=0.09 dan pasca KMTP ?= -0.049 (95% CI -0.250,0.152) p=0.61.Kesimpulan. Tidak ada perbedaan nilai P-selectin pra dan pasca KMTP. Nilai IVAK buruk tidak berhubungan dengan kadar P-selectin pra dan pasca KMTP pada pasien SM

    607

    full texts

    687

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Journal of Cardiology
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇