Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
    687 research outputs found

    Intermitten PR Interval Changes

    Get PDF
    Seorang anak perempuan usia 10 tahun dikonsulkan ke Divisi Aritmia dengan keluhan palpitasi berulang. Ekokardiografi menunjukkan anatomi dan fungsi jantung yang normal. Rekaman EKG diperlihatkan pada gambar 1.Takikardia QRS sempit dengan pola P-QRS-T yang menetap dapat merupakan suatu atrial atau sinus takikardia. Perhatikan bahwa gelombang P pada saat takikardia sama sekali berbeda dengan morfologi gelombang P saat irama sinus. Hal ini lebih menunjukkan suatu atrial takikardia daripada suatu irama sinus.Atrial takikardia bisa merupakan suatu fokal atau makroreentri. Suatu atrial makroreentri atau atrial flutter umumnya mempunyai panjang siklus antara 200–150 mdet, sedangkan pasien ini mempunyai panjang siklus (interval PP) sekitar 380 mdet sehingga suatu atrial takikardia yang fokal lebih memungkinkan. Di antara mekanisme atrial takikardia fokal dapat berupa otomatisasi, mikroreentri atau bahkan triggered activity. Perhatikan pola terminasi dan induks

    Pengaruh Trimetazidine Terhadap Jumlah Netrofil Pasca IKPP

    Get PDF
    Background: Reperfusion strategy, either with thrombolytic or Primary Percutaneous Coronary Intervention (PPCI), is the core treatment for Acute ST-Segment Elevation Myocardial Infarct (STEMI). The goal of PPCI is to restore the patency of infarcted epicardial artery and establish microvascular reperfusion as soon as possible so that necrotic myocardial area can be reduced. However, successful restoration of infarcted epicardial artery is not always followed by enough reperfusion to the microvascular part. Trimetazidine can reduce neutrophil which was mediated by tissue trauma during ischemic heart condition. Unfortunately, its influence over neutrophil accumulation in acute STEMI patients which undergo PPCI is not well understood.Method: There were 68 consecutive-selected acute STEMI patients which undergo PPCI since January 2015 until Juni 2015. They were admitted in emergency department. Peripheral vein blood sampling was taken to measure neutrophil before PPCI was performed. Six hour after PPCI was conducted, another peripheral vein blood sampling was taken for another neutrophil measurement. Neutrophil measurement was performed with Sysmex 2000i. Statistical analysis was performed by using SPSS 17.Result: Among 68 patients, divided in two groups, trimetazidine 28 patients and plasebo 40 patients. There were no differences amount of neutrophils in trimetazidine or plasebo group, before or after PPCI. Neutrophil pre PPCI in trimetazidine vs plasebo group 10.71 ± 3.263 vs 10.99 ± 3.083, p:0,341. Neutrophil post PPCI in trimetazidine vs plasebo group 9.49 ± 3.135 vs 9.92 ± 3.463, p:0,664.Conclusion: There were no reducing amount of neutrophils after trimetazidine was given in patients STEMI which underwent PPCILatar belakang : Reperfusi miokardium adalah terapi utama pada pasien IMA EST. Namun keberhasilan mengembalikan patensi dari arteri koroner epikardial setelah oklusi tidak menjamin cukupnya reperfusi ke level mikrovaskular, yang disebut sebagai fenomena no reflow. Salah satu penyebab no reflow adalah jejas reperfusi yang menyebabkan infiltrasi masif dan aktivasi netrofil yang akan mengeluarkan radikal bebas oksigen, enzim proteolitik dan mediator proinflamasi yang secara langsung menyebabkan kerusakan jaringan dan endotel. Trimetazidine menurunkan netrofil setelah jantung mengalami jejas reperfusi. Akan tetapi belum diketahui pengaruh trimetazidine terhadap akumulasi netrofil pada IMA EST yang dilakukan IKPP.Metode : Sebanyak 68 pasien IMA EST yang menjalani IKPP dipilih secara konsekutif sejak Januari 2015 - Juni 2015, dilakukan pengambilan darah vena perifer untuk menghitung jumlah netrofil sebelum IKPP. Dibagi menjadi dua kelompok, plasebo dan trimetazidine. Kemudian pasien menjalani IKPP. Setelah 6 jam paska IKPP dilakukan pengambilan kembali darah vena perifer untuk menghitung netrofil paska IKPP. Hitung netrofil diperiksa dengan Sysmex 2000i. Statistik dinilai dengan SPSS 17.Hasil : Dari 68 subyek, dibagi menjadi 28 subyek pada kelompok yang diberikan trimetazidine dan 40 subyek yang diberikan plasebo. Tidak didapatkan perbedaan jumlah netrofil pada kelompok perlakuan dan kontrol baik sebelum maupun sesudah IKPP, netrofil pre IKPP pada trimetazidine vs plasebo 10.71 ± 3.263 vs 10.99 ± 3.083, p:0,341. Netrofil post IKPP pada trimetazidine vs plasebo 9.49 ± 3.135 vs 9.92 ± 3.463, p:0,664.Kesimpulan : Tidak terdapat penurunan jumlah netrofil pasca pemberian trimetazidine pada pasien IMA EST yang menjalani IKPP

    Regurgitasi Mitral Kronik: Waktu Intervensi yang Optimal

    Get PDF
    Chronic mitral regurgitation is commonly encountered valve disease. In this disease, there is volume overload on the left ventricle leading to left ventricle dilatation and dysfuction. Surgical or percutaneous intervention can improve prognosis, however optimal timing of intervention still controversial. In the past, timing of intervention was based solely on symptoms and left ventricle function. There have been recent advances in our knowledge, diagnosis, and treatment of mitral regurgitation. All of these advances have provided an incentive to change the indication for timing of operations in patients with mitral regurgitation, setting a new paradigm of an early operation before the onset of ventricular dysfunction. In this article we will outline these newer advances and provide recommendations regarding optimal timing of intervention for mitral regurgitation.Regurgitasi mitral kronik merupakan salah satu penyakit katup jantung yang sering dijumpai. Pada kelainan ini ditemukan beban volume yang berlebihan pada ventrikel kiri yang akhirnya berakibat pada dilatasi dan gangguan fungsi ventrikel kiri. Intervensi yang tepat akan dapat memperbaiki gangguan ini, akan tetapi waktu yang optimal untuk pembedahan pada pasien dengan regurgitasi mitral kronik berat masih menjadi kontroversi hingga saat ini. Pada masa lalu saat untuk melakukan intervensi bedah ditentukan oleh gejala dan gangguan fungsi ventrikel kiri, akan tetapi sejalan dengan berkembangnya pemahaman tentang patofisiologi regurgitasi mitral kronik dan semakin majunya teknik pembedahan, banyak studi yang melaporkan bahwa pembedahan yang dilakukan sebelum timbul gejala atau gangguan fungsi ventrikel kiri dapat memberikan prognosis lebih baik. Pada tinjauan pustaka ini akan dibahas lebih detail tentang waktu intervensi yang optimal pada regurgitasi mitral kronik yang ddidasarkan pada pemahaman terkini patofisiologi katup mitral dan kemajuan teknik pembedahan

    Evaluasi Alat Pacu Jantung Permanen Dari Elektrokardiogram

    Get PDF
    KasusSeorang pria, 67 tahun datang ke poli jantung di RSU Jambi dengan riwayat pemasangan alat pacu jantung di RSU Bengkulu 6 bulan yang lalu. Tidak terdapat keluhan dan pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari sebagai seorang pensiunan pegawai negri sipil.Rekaman EKG diperlihatkan pada gambar di bawah ini

    Terapi Resinkronisasi Jantung pada Penanganan Gagal Jantung

    Get PDF
    Heart failure (HF) is a worldwide health problem with high prevalence rate. The prevalence is over 23 million worldwide. It is a chronic disease characterized by the inability of the heart to pump an adequate amount of blood to achieve the demand of the different organ systems and/or doing so at increased filling pressures. Despite many recent advances in medication, the rate of people with HF is rising. This health challenges need to be answered properly. One of the new important treatment for HF is cardiac resynchronization therapy (CRT). Many patients with HF also have an abnormality of the heart’s electrical system resulting in asynchronous contraction pattern of heart muscle.The ultimate goal of CRT is to restore synchrony of the heart rhythm in HF patients. CRT implantation in heart failure patients with proper indications like wide QRS complexes, low left ventricular ejection fraction (LVEF), and left bundle branch block (LBBB) has been proved to reduce morbidity, mortality, and also improve symptoms and quality of life (QoL).Gagal jantung (GJ) merupakan masalah kesehatan utama dunia dengan tingkat prevalensi yang tinggi. Di seluruh dunia, prevalensi GJ mencapai 23 juta orang. GJ merupakan penyakit kronik dengan karakteristik berupa ketidakmampuan jantung dalam memompa darah untuk memenuhi kebutuhan sistem organ dan atau diikuti dengan terjadinya peningkatan tekanan isi sekuncup. Meskipun telah banyak kemajuan dalam pengobatan GJ, jumlah penderita GJ terus meningkat. Tantangan dalam dunia kesehatan ini perlu segera dipenuhi. Salah satu terapi baru dan penting dalam penanganan GJ ialah terapi resinkronisasi jantung (TRJ). Terdapat banyak pasien GJ juga mengalami abnormalitas sistem konduksi jantung yang menyebabkan terjadinya ketidaksinkronan pola kontraksi otot jantung.Tujuan utama dari TRJ ialah mengembalikan sinkronisasi ritme jantung pada pasien GJ. Pemasangan TRJ pada pasien GJ dengan indikasi yang tepat dan sesuai seperti kompleks QRS yang lebar, ejeksi fraksi ventrikel kiri yang rendah, dan blok berkas cabang kiri telah terbukti dapat menurunkan angka morbiditas, mortalitas, dan juga meningkatkan kualitas hidup serta memperbaiki gejala

    Pedoman Kepatuhan dalam Pengelolaan Pasien dengan Angina tidak stabil / Non - STEMI tanpa PCI Prosedur (Registry medis Dikelola)

    Get PDF
    Aim: To document current usage of antiplatelet therapy and the implementation of ACC/AHA 2007 guideline in the clinical management of unstable angina/ non-ST-elevation myocardial infarction (UA/NSTEMI) patients not undergoing PCI procedure in Indonesia (medically managed) and their risks according to Global Registry of Acute Coronary Events (GRACE) score as well as in-hospital mortality.Method: A multicenter observational, prospective disease registry, recruiting patients with UA/NSTEMI. No specific treatment will be recommended in this disease registry. Data will be collected based on Physician’s applicable daily practices without any intervention.Results: A total of 467 eligible patients, 246 patients with UA and 221 with NSTEMI, aged 18 years or older were recruited from 18 hospitals during December 2009 – January 2011. Most recruited patients were at low risk (63.9%) and only 0.9% patients were at high risk according to the GRACE score. Patients were treated with ASA (90.6%) and Clopidogrel (96.6%) when they reached the emergency department. Medical therapy instituted during hospitalization were injectable anticoagulant (91.4%), oral anticoagulant (0.9%), oral nitrate (82.7%), beta blocker (60.8%), ACE inhibitor (49%), angiotensin receptor blocker (20.3%), calcium channel blocker (19.9%), statin (13.1%), and other medications given according the presentation of complications or comorbidities. In-hospital mortality was documented in 3.2% of patients. At discharge ASA was given to 87.6% and clopidogrel to 94.2% patients.Conclusion: The result showed that most of the patients admitted with UA/NSTEMI were at low or moderate risk according to GRACE score. Although treatment with antiplatelet and anticoagulant largely followed the ACC/AHA guidelines, however, this registry documented under treatment of other medications such as ACE-inhibitors and beta blockers. Reinforcement of the guideline compliance and continuous medical education would provide better outcomes for the patients.Tujuan: Registri ini utamanya bertujuan melakukan dokumentasi terhadap pasien yang mendapatkan terapi antiplatelet dan implementasi pedoman tatalaksana klinis dari ACC/AHA bagi pasien angina tidak stabil/infark miokard tanpa elevasi segmen ST yang tidak menjalani terapi reperfusi di Indonesia (Medically Managed Registry). Tujuan tambahan adalah mengetahui tingkat risiko pasien berdasarkan Global Registry of Acute Coronary Events (GRACE) dan tingkat kematian selama perawatan di rumah sakit.Metodologi: Registri prospektif dan multi-senter dengan cakupan pasien yang telah terdiagnosis angina tidak stabil/infark miokard tanpa elevasi segmen ST yang tidak menjalani terapi reperfusi. Registri ini tidak merekomendasikan intervensi apapun. Data dicatat sesuai praktik dokter yang merawat.Hasil: Dari 18 rumah sakit di Indonesia, selama periode Desember 2009 sampai dengan Januari 2011, tercatat 467 pasien yang mempunyai kesesuaian dengan inklusi dan eksklusi, terdiri dari 246 pasien dengan angina tidak stabil dan 221 pasien dengan infark miokard tanpa elevasi segmen ST. Sebagian besar (63,9%) pasien mempunyai risiko rendah dan hanya 0,9% berisiko tinggi sesuai kriteria GRACE. Sebanyak 90,6% pasien mendapat terapi ASA dan 96,6% mendapat terapi clopidogrel saat dirawat di ruang gawat darurat. Terapi medikal yang diberikan selama perawatan rumah sakit adalah sebagai berikut: antikoagulan intravena (91,4%), antikoagulan oral (0,9%), preparat nitrat oral (82,7%), penyekat beta (60,8%), inhibitor ACE (49%), penyekat reseptor angiotensin (20,3%), calcium channel blocker (19,9%), statin (13,1%), dan obat lain sesuai komplikasi dan penyakit penyerta. Dari seluruh pasien, tercatat 3,2% meninggal selama perawatan rumah sakit. Terdapat 6,3% dari pasien dengan diagnosis infark miokard dan 0,4% dari pasien dengan diagnosis angina tidak stabil meninggal selama perawatan rumah sakit. Terapi antiplatelet yang diberikan saat meninggalkan rumah sakit adalah ASA (87,6%) dan clopidogrel (94,2%).Kesimpulan: Sebagian besar pasien mempunyai risiko rendah dan menengah berdasarkan kriteria GRACE. Sebagian besar pasien mendapatkan terapi antiplatelet yang dianjurkan oleh pedoman ACC/AHA. Registri ini mencatat sedikit pasien mendapatkan pengobatan seperti penyekat beta dan inhibitor ACE. Diperlukan usaha meningkatkan ketaatan menggunakan terapi medikal yang dianjurkan oleh pedoman tatalaksana pengobatan melalui pendidikan berkelanjutan

    Sindrom Metabolik sebagai Faktor Risiko Gagal Jantung Kongestif

    Get PDF
    Background : Congestive heart failure (CHF) and metabolic syndrome (MetS) are both current major cardiovascular problems. Until recently, the connection between them has not been well understood yet. Mets is composed by several facets which is closely related with the pathophysiology of CHF. This study will try to discuss the relationship between Mets and CHF.Methods: We conducted an observational analytic study using cross sectional design. Subjects were gathered from January until March 2015. All data are descriptively presented, and analyzed using bivariate and multivariate method.Results: MetS itself does not account as risk factor for CHF (OR 1,49; CI95% 0,67-3,32; p=0,328). Component of Mets which shows significant relationship with CHF are raised blood pressure (OR 6,82; CI95% 1,47-31,53; p=0,014) and impaired glucose tolerance (OR 5,95; CI95% 3,26-10,85; p=0,000)Conclusion: Some elements of Mets, not Mets per se, are strong independent predictor for congestive heart failure.Pendahuluan: Gagal jantung kongestif (CHF) dan sindrom metabolik (MetS) merupakan masalah kardiovaskular utama di berbagai negara maju maupun berkembang. Sampai sekarang, hubungan antara keduanya belum diketahui secara pasti. Mets sebagai kumpulan faktor risiko kardiovaskular terdiri dari beberapa komponen yang erat hubungannya dengan patofisiologi terjadinya gagal jantung kongestif. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Mets dengan CHF.Metode: Studi ini bersifat observasional analitik dengan desain potong lintang. Subjek penelitian diperoleh dari bulan Januari hingga Maret 2015. Data yang terkumpul dipaparkan secara deskritif lalu dianalisis secara bivariat dan multivariat.Hasil: Mets bukan merupakan faktor risiko indepeden dari CHF (RO 1,49; IK95% 0,67-3,32; p=0,328). Komponen Mets yang memiliki hubungan bermakna dengan CHF adalah pre-hipertensi (RO 6,82; IK95% 1,47-31,53; p=0,014), dan toleransi glukosa terganggu (RO 5,95; IK95% 3,26-10,85; p=0,000).Kesimpulan: Beberapa komponen dari Mets, bukan Mets itu sendiri, merupakan faktor risiko terjadinya CHF

    Parameter pengukuran ventrikel kiri (1) Update rekomendasi tahun 2015 dari American Society of Echocardiography dan European Association of Cardiovascular Imaging

    Get PDF
    Pemeriksaan dan pengukuran dimensi Ventrikel kiri (Vki) merupakan salah satu parameter utama dalam pencitraan kardiovaskular dalam hal ini ekokardiografi. Oleh karena itu diperlukan rekomendasi untuk menyamakan metodologi pengukurannya. American Society of Echocardiography (ASE) dan European Association of Echocardiography ( saat ini menjadi European Association of Cardiovascular Imaging/ EACVI) telah mengeluarkan rekomendasi yang diterbitkan sejak tahun 2005. Dikarenakan kemajuan teknologi di bidang ekokardiografi yang cukup pesat, maka diperlukan pembaharuan terhadap rekomendasi tersebut untuk mengakomodir teknik-teknik baru seperti 3 Dimensi ekokardiografi (3DE) dan pengukuran deformation imaging yang sudah banyak dipakai dalam praktek klinis sehari-hari. Tulisan ini merangkum rekomendasi terbaru yang dikeluarkan kedua asosiasi tersebut baru–baru ini

    Pemanfaatan Indole-3-Carbinol Sebagai Inhibitor Flavin Monooxygenase 3 (Fmo 3) Dalam Upaya Prevensi Aterosklerosis

    Get PDF
    Cardiovascular disease is the leading cause of death in the world, reaching 30% of all mortality. The most common cause of cardiovascular disease is the formation of atherosclerotic plaque in blood vessels. Treatment has been done to overcome atherosclerosisonly curative and still no preventive. Processes that play a role in the formation of atherosclerotic plaque is very complex and one of the causes deposition of plaques is the formation of the compound trimethylamine oxide (TMAO) in the body. TMAO that has produced can increase the accumulation of cholesterol in macrophages so that increasing the formation of foam cells in the arterial wall. These compounds are derived from trimethylamine (TMA), which is converted into TMAO by enzyme flavin monooxygenase (FMO). FMO enzyme that is able to make an impact in the formation of TMAO is flavin monooxygenase 1 (FMO1) and flavin monooxygenase 3 (FMO3). However, FMO3 showed activity ten times greater than FMO1 in turning TMA into TMAO. Indole-3-carbinol can be a role for this enzyme inhibitor so that the therapeutic use of indole-3-carbinol is expected to inhibit TMAO. Therefore, the authors propose the use of research in the form of indole-3-carbinol as an inhibitor of flavin monooxygenase 3 (FMO3) in atherosclerosis prevention efforts. The study design used was pure experimental research design (true experimental design) with post test only randomized control group design. Mice (Mus musculus) males were treated indole-3-carbinol and then is given atherogenic diet for the provision of intravenous adrenaline 0.00084 mg / 20 gBW and egg yolks 0.2 cc / day. The treatment group consisted of a positive control, negative control, treatment A (10 mg / kg BW of indole-3-carbinol), B (200 mg / kg BW I3C), and C (500 mg / kg BW I3C). The data observed in the form of cholesterol, foam cell histopathological picture of the aorta and the density of the band FMO3 activity. Blood cholesterol levels showed a decrease in accordance with increase in dose. Cholesterol control of negative group, positive, A, B and C respectively of 119.4 ± 28.94 mg / dL, 246 ± 8.52 mg / dL, 224 ± 15.30 mg / dL, 170.6 ± 12.54 mg / dL, and 154.8 ± 14.46 mg / dL (p <0.05). Histopathologic features foam cell in the aorta of mice showed an improvement with the increase in dose. FMO3 enzyme activity also showed a decrease when compared to the positive control in the optical density relative scale along with rising doses of indole-3-carbinol given. This shows that the use of indole-3-carbinol is very effective in atherosclerosis prevention efforts.Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia yakni mencapai 30% dari seluruh mortalitas. Penyebab tersering terjadinya penyakit kardiovaskuler ialah terbentuknya plak aterosklerosis pada pembuluh darah. Proses yang berperan dalam pembentukan plak aterosklerosis bersifat kompleks dan salah satu penyebabnya adalah akselerasi pengendapan plak akibat pembentukan senyawa trimethylamine oxide (TMAO) di dalam tubuh. Senyawa TMAO yang dihasilkan dapat meningkatkan akumulasi kolesterol di makrofag sehingga meningkatkan pembentukan foam cell pada dinding arteri. Senyawa ini berasal dari trimethylamine (TMA) yang diubah menjadi TMAO oleh enzim flavin monooxygenase (FMO). Enzim FMO yang mampu memberi pengaruh dalam pembentukan TMAO adalah flavin monooxygenase form 1 (FMO1) dan flavin monooxygenase form 3 (FMO3). Akan tetapi, FMO3 memperlihatkan aktivitas sepuluh kali lipat lebih besar daripada FMO1 dalam mengubah TMA menjadi TMAO.Indole-3-carbinol dapat berperan menjadi inhibitor bagi enzim ini sehingga terapi menggunakan indole-3-carbinol diharapkan dapat menghambat TMAO. Tujuan penelitian ini yakni untuk membuktikan indole-3-carbinol mampu menghambat FMO3, menurunkan kolesterol darah, dan mencegah pembentukan foam cell. Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian eksperimental murni (true experimental design)dengan rancangan post test only randomized control group design. Mencit (Mus musculus) jantan diberi terapi indole-3-carbinolkemudian diberi diet aterogenik berupa pemberian adrenalin intravena 0,00084 mg/20 gBB dan kuning telur 0,2 cc/hari. Kelompok perlakuan terdiri atas kontrol positif, kontrol negatif, perlakuan A (10 mg/kg BB indole-3-carbinol), B (200 mg/kgBB I3C), dan C (500 mg/kgBB I3C).Data yang diamati berupa kadar kolesterol, gambaran histopatologi foam cell pada aorta dan aktivitas FMO3 pada densitas band. Kadar kolesterol darah menunjukkan penurunan sesuai dengan kenaikan dosis. Kadar kolesterol kelompok kontrol negatif, positif, A, B dan C berturut-turut sebesar 119,4 ± 28,94 mg/dL, 246 ± 8,52 mg/dL , 224 ± 15,30 mg/dL, 170,6 ± 12,54 mg/dL, dan 154,8 ± 14,46 mg/dL. Gambaran histopatologi foam cell pada aorta mencit pun mengalami perbaikan seiring dengan kenaikan dosis. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan indole-3-carbinol sangat efektif dalam upaya prevensi aterosklerosis

    Prevalensi, Karakteristik, dan Faktor Risiko Penderita Peripartum Cardiomyopathy di RS.Hasan Sadikin Bandung

    Get PDF
    Background. Peripartum cardiomyopathy (PPCM) is one of the important health problem and can be fatal. The aim of this study is to determine the prevalence and characteristics of patients with PPCM in the Hasan Sadikin Hospital (RSHS).Methods. Data were retrieved retrospectively from medical records at the Cardiology and Vascular Medicine, RSHS, Bandung, from 1stJanuary2011 to 31thDecember, 2013. The analysis was performed using SPSS 21 and Chi Square significance test.Results.Eighty (26.23%,) subjects with PPCM out of 305 women with pregnancy or postpartum and cardiovascular complications are paticipated. The PPCMproportion are significantly decrease by time from 51.25%, 27.5%, 21,25% in 2011, 2012, and 2013 respectively. The average age was 30.3±7.9years. Deliveries were cesarean delivery in 43.8%, pervaginal in 37.5%, forceps in 15%, and vacuum-extractor in 3.8%. Preeclampsia was found in 43.8% of patients and most of them with NYHA functional class IV (86.3The average ejection fraction of 34.8±7.5%.Conclusion. The prevalence of PPCM in RSHS is 26.23%, with the majority (86.3%) was NYHA functional class IV.Significant risk factorsof PPCM were age over 30 years, multiparous, low socioeconomic, and preeclampsia.Latar Belakang. Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) merupakan salahsatu maslah kesehatn penting yang dapat berakibat fatal. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui prevalensi dan karakteristik penderita PPCM di RS. Hasan Sadikin (RSHS).Metode. Data diambil secara retrospektif dari catatan medik di bagian Kardiologi dan Kedokteran Vaskular RSHS Bandung periode 1 Januari 2011 hingga 31 Desember 2013. Analisis dilakukan dengan SPSS 21 dan uji kemaknaan chi square.Hasil. Didapatkan 80 penderita PPCM (26.23%) dari total 305 penderita dengan komplikasi kardiovaskular selama kehamilan dan pascapersalinan. Sebaran menurun signifikan (p 0.002) yaitu 51.25%, 27.5%, dan 21.25% pada tahun 2011, 2012 dan 2013 secara berurutan. Usia rata-rata penderita 30.3±7.9 tahun. Proses persalinan dengan operasi sesar (43.8%), spontan pervaginam (37.5%), forceps (15%), dan vacum (3.8%). Preeklampsi didapatkan pada 43.8% penderita dan mayoritas penderita termasuk NYHA kelas fungsional IV (86.3%) dengan gambaran kardiomegali (96.25%).Rerata fraksi ejeksi 34.8±7.5%.Kesimpulan. Prevalensi PPCM di RSHS 26.23%, dengan sebagian besar penderita (86.3%) termasuk dalam NYHA kelas fungsional IV. Beberapa faktor risiko yang signifikan adalah usia diatas 30 tahun, multipara, sosioekonomi rendah, dan hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia)

    607

    full texts

    687

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Journal of Cardiology
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇