Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
687 research outputs found
Sort by
Intermittent Wide Qrs Complex During Sinus Rhythm
Seorang pria 40 tahun datang ke poli Aritmia dengan keluhan palpitasi berulang. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Ekokardiografi didapatkan EF 56% dan angiografi menunjukkan arteri koroner normal. Rekaman EKG terlihat seperti gambar di bawah ini,Rekaman EKG menunjukkan gambaran bigemini yaitu selang-seling antara kompleks QRS sempit dan lebar. Perhatikan bahwa baik kompleks QRS sempit maupun lebar keduanya didahului oleh gelombang P. Yang menarik adalah (1) interval PR sangat pendek pada saat kompleks QRS lebar dan (2) interval PP kompleks QRS sempit ke QRS sempit(A) tidak merupakan du
Peranan Trimetazidine pada Reperfusion Injury
The incidence rate of ST-Elevation acute Myocardial Infarct (STEMI) keeps increasing. Currently, myocardial reperfusion, either with thrombolytic or Primary Percutaneous Coronary Intervention (PPCI), is the main treatment. However, mortality rate of STEMI patients undergoing PPCI is still high which is 6% to 14%. The main purpose of PPCI is to restore the patency of infarcted epicardial artery and to establish microvascular reperfusion as soon as possible so that it can reduce enlargement of irreversible necrotic myocardial tissue. In the other hand, restored patency of infarcted epicardial artery does not indicate sufficient reperfusion to microvascular. Such phenomenon is called no-reflow or microvascular obstruction (MVO). Specific pathogenic component of MVO is reperfusion injury. Reperfusion injury involves some mediator and mechanisms, one of which is the process of thrombolysis and angioplasty. Mediator that play a certain role is inflammatory neutrophil which is activated and accumulated. Trimetazidine is an anti-ischemic agent which selectively inhibits end stage activation of oxidation pathway of 3-ketoacyl coenzyme Athiolase. Trimetazidine has an ability to reduce the accumulation of neutrophilAngka kejadian IMA EST semakin meningkat, reperfusi miokardium dengan trombolitik atau intervensi koroner perkutan primer ( IKPP) adalah terapi utama pada pasien yang mengalami IMA EST. Namun angka kematian saat di rumah sakit pada kelompok pasien dengan IKPP masih cukup bermakna yaitu 6% hingga 14%. Tujuan utama IKPP untuk mengembalikan patensi arteri epikardial yang mengalami infark dan mencapai reperfusi mikrovaskular secepat mungkin, sehingga dapat mengurangi perluasan trauma ireversibel atau nekrosis miokardium. Namun keberhasilan mengembalikan patensi dari arteri koroner epikardial setelah oklusi tidak selalu menjamin cukupnya reperfusi ke level mikrovaskular. Fenomena ini disebut no-reflow atau microvascular obstruction (MVO). Salah satu komponen patogenetik dari MVO adalah reperfusion injury. Reperfusi aliran koroner diperlukan pada miokardium yang mengalami iskemia. Reperfusi memfasilitasi penyelamatan kardiomiosit dan menurunkan angka kesakitan dan kematian. Namun kebalikannya reperfusi area yang mengalami iskemia dapat menimbulkan disfungsi, yang disebut sebagai repefusion injury. Terjadinya reperfusion injury melibatkan beberapa mekanisme dan mediator, antara lain proses trombolisis dan angioplasty. Salah satu mediator yang berperan yaitu aktivasi dan akumulasi mediator inflamasi netrofil. Trimetazidine (TMZ;1-[2,3,4-trimethoxybenzyl]piperazine) adalah agen anti iskemia yang secara selektif menghambat aktivitas akhir dari enzim jalur oksidasi asam lemak 3-ketoacyl coenzyme Athiolase. Trimetazidine memiliki kemampuan menurunkan akumulasi netrofil
Interferensi Listrik terhadap ECG
Seorang laki-laki, 71 tahun dengan riwayat PPOK, dirujuk ke poli Aritmia dengan dugaan fibrilasi atrial. Keluhan pasien lebih menggambarkan gejala PPOK tanpa keluhan tambahan. Gambar EKG yang menjadi alasan dirujuk disertakan di bawah ini
Akurasi fibrinogen dan hs-crp sebagai biomarker pada sindrom koroner akut (SKA)
Background: acute coronary syndrome (ACS) refers to any group of clinical symptom compatible with acute myocardial infarction (AMI). AMI is a major cause of death and disability worldwide with the greates risk of death within the first hours of AMI onset. Thus, the identification of novel biomarkers that improve current strategies and/or accurately identify subjects who are at risk of developing acute and chronic manifestation of cardiovascuar disease are desperately needed.Obsjective: this study was aimed to determine the accuracy diagnostic value of Fibrinogen and High Sensitivity C-Reactive Protein as a biomarker for Acute Coronary SyndromeSubjects and methods: an observational study with cross sectional approach, was conducted from February to July 2011 involving 76 male and female patients aged 35 to 80 years old for cases all well as controls. The biomarker measured were level of Fibrinogen and Hs-CRP. We used Receiver Operating Curve to determine the cut off test. We calculated of sensitivity, specificity, likelihood ratio, negative predictive value, and postive predictive value for biomarkers in combination and single.Results : the mean age in both groups was 57.5 year old. Level of the Fibrinogen in cases (5.8±1.56) was significantly different than control (3.78±1.78). concentration Hs-CRP in cases (4.04±1.94) was significantly different than control (1.98±1.25). both these biomarkers can be used as a diagnostic tool for Acute Coronary Syndrome in combination or single.Conclusion : the combination of Fibrinogen and Hs-CRP has the better diagnostic value that when used single.Latar belakang : sindrom korener akut merupakan kumpulan gejala yang terkait dengan infark miokard akut (IMA). IMA merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia dengan resiko kematian terbesar pada jam pertama saat onset IMA. Oleh karena itu, identifikasi biomarker yang membantu meningkatkan strategi dan atau mengidnetifikasi subjek dengan resiko besar mengalami manifestasi akut dan kronis penyakit jantung sangat dibutuhkan.Tujuan : untuk mengetahui akurasi nilai diagnostik Fibrinogen dan Hs-CRP sebagai biomarker pada sindrom koroner akutSubyek dan Metode : desain penelitian yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan potong lintang yang berlangsung pada bulan Februari sampai dengan Juli 2011. Jumlah subyek untuk tiap kelompok kasus maupun kontrol adalah 76, laki-laki dan perempuan, berusia antara 35 sampai dengan 80 tahun. Kedua kelompok diukur kadar Fibrinogen dan Hs-CRP. Cut off masing-masing biomarker diukur dengan Receiving Operating Curve. Selanjutnya dihitung nilai sensitivitas, spesifisitas, resiko kemungkinan, nilai duga positif dan nilai duga negatif, baik secara kombinasi maupun terpisah.Hasil : umur rerata pada kedua kelompok 57.5 tahun. Kadar Fibrinogen pada kelompok kasus (5.8±1.56 g/L) berbeda bermakna dibandingkan dengan kelompok kontrol (3.78±1.78 g/L). Kadar Hs-CRP pada kelompok kasus (4.04±1.94 mg/L) berbeda bermakna dibanding kelompok kontrol (1.98±1.25 mg/L). Kedua biomarker baik secara kombinasi atau terpisah dapat dipakai sebagai alat diagnostik pada sindrom koroner akut.Kesimpulan : Fibrinogen dan Hs-CRP mempunyai nilai diagnsotik terbaik dibanding bila digunakan terpisah
Peran Fibrinogen dan hs-CRP sebagai biomarker pada Penyakit Jantung Koroner
Sindroma Koreoner Akut (SKA) yang merupakan penyebab kematian utama dari Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah suatu sindroma yang kompleks dengan penyebab multiple, sehingga upaya pengobatan akan lebih efektif jika ditujukan pada penyebab yang mendasarinya. Penyebab utama SKA meliputi: (1) adanya rupture plak disertai trombosis akut, (2) obstruksi mekanik yang progresif, (3) inflamasi, (4) adanya angina tak stabil sekunder dan (5) adanya obstruksi yang dinamik (vaso-konstriksi).1 Masing-masing penyebab ini saling menyumbang dan memberikan gambaran klinis yang berbeda satu sama lain sesuai dengan variasi kombinasi penyebab. Keadaan itu mempengaruhi strategi pengobatan yang berbeda pula. Pemberian vasodilator seperti nitrat, obat penyekat kalsium amat berguna jika penyebab utamanya suatu vasokonstriksi dinamik. Pemberian statin yang berfungsi sebagai antiinflamasi mungkin dapat berguna pada penderita dengan komponen inflamasi yang dominan
Sindrom Bradi-Takiaritmia
Seorang perempuan usia 67 tahun datang ke poli Aritmia dengan keluhan sering lemas dan berdebar. Tidak ada riwayat pingsan atau nyeri dada. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Pemeriksaan laboratorium tidak menunjukkan kelainan yangbermakna. Pemeriksaan holter 24 jam menunjukkan gambaran di bawah ini (Gambar 1)
Fibrilasi Atrial pada sindrom WPW
Background : In large-scale general population studies involving children and adults, the prevalence of WPW is estimated to be 1–3 in 1000 individuals. At present, it is estimated that approximately 65% of adolescents and 40% of individuals over 30 years with WPW pattern on a resting ECG are asymptomatic. An incidence of 4.5 episodes of sudden death, including resuscitated sudden cardiac death (SCD), per 1000 patient-years was recently reported. The mechanism of sudden cardiac death in patients with WPW is thought to be associated with atrial fibrillationCase Illustration : We reported a case of 45 year old female came with unstable irregular wide complex tachycardia in the form of pre-excited AF. Cardioversion successfully terminate the tachyaarhythmias. ECG in sinus rhythm revealed WPW pattern ECG. Patient then referred for catheter ablation. Successful ablation was done resulting a normal pattern ECGConclusion : AF in WPW syndrome could lead to devastating events such as cardiac arrest. ECG recognition at the first place is very important for early management. Early stratification and management in patients with WPW is important to diminished the risk of AF occurence and SCD.Latar Belakang : Prevalensi sindrom WPW pada populasi diperkirakan sebanyak 1-3 kasus dalam 1000 individual. Saat ini diperkirakan 65% remaja dan 40% orang berusia di atas 30 tahun dengan sindrom WPW pada temuan EKG tidak menunjukkan gejala. Kematian jantung mendadak pada populasi WPW memiliki insidens sebesar 4.5 kasus dalam 1000 tahun pasien. Mekanisme kematian jantung mendadak pada pasien sindrom WPW berkaitan dengan terjadinya fibrilasi atrial.Ilustrasi Kasus : Sebuah kasus wanita usia 45 tahun datang dengan takikardia QRS lebar disertai tanda instabilitas hemodinamik. EKG menunjukan ambaran fibrilasi atrial dengan preeksitasi. Kardioversi elektrik sukses menghentikan takikardia. EKG setelah kardioversi menujukkan pola WPW dengan irama sinus. Ablasi kateter lalu dilakukan pada pasien dan sukses menghilangkan gelomabng delta pada EKGKesimpulan : Fibrilasi atrial pada sindrom WPW dapat mengakibatkan henti jantung. Identifikasi EKG saat takikardia sangat penting untuk menentukan manajemen awal. Stratifikasi resiko dini dan manajemen pada pasien WPW sangat penting untuk mengurangi resiko terjadinya kematian jantung mendadak
Penyakit Arteri Koroner: Pilih CABG atau PCI?
Strategi revaskularisasi pada penyakit arteri koroner (PAK) terus menjadi bahan debat di kalangan kardiologi. Berbagai uji klinis yang telah dilakukan menunjukkan hasil yang bervariasi dan harus ditelaah secara detil karena persoalan strategi revaskularisasi menjadi masalah yang tidak sederhana tetapi harus memperhatikan subset pasien yang befvariasi untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Prinsip dasar yang harus tetap dijaga oleh para kardiolog adalah keputusan medis harus berorientasi pada pasien. Patient first!Perbandingan secara tidak langsung antara bedah pintas arteri koroner (BPAK/CABG) dengan intervensi koroner perkutan (IKP/PCI) menunjukkan dengan CABG keperluan pengulangan revaskularisasi lebih sedikit. Masalah yang selalu dipertanyakan dalam membandingkan kedua teknik revaskularisasi itu adalah pengaruh perkembangan teknologi stent terhadap luaran pasien. Berbeda dengan teknik CABG relatif tidak banyak berubah yaitu terdiri dari teknik on- atau off-pump, sedangkan teknologi stent berkembang cepat dan mungkin akan memberikan luaran yang berbeda karena stent generasi terakhir dipercaya memiliki patency rate yang lebih baik. Teknologi stent berkembang dari bare-metal stent ke drug-eluting stent, kemudian drug eluting stent juga berevolusi mulai dari generasi pertama yang memakai obat sirolimus atau paclitaxel ke generasi kedua yang memakai obat everolimus atau zotarolimus. Demikian juga farmako-teknologi polymer yang berkembang ke arah polymer-free stent. Dalam hal platform stent dimulai dari stainless steel, cobalt chromium, platinum dan terakhir memakai polylactyic acid yang dapat diserap
Takikardia Supraventrikular Paroksismal pada Pemberian Ondansentron Intravena: Suatu Laporan Kasus
Ondasentron is selective serotonin 5-HT3 receptor antagonist. It is widely used as the drug of choice for preventing nausea and vomiting associated with chemotheraphy and post-surgery. This drug become more popular because it’s superior efficacy and minimal side effect. Although cardiovascular adverse effect caused by ondansentron administration is rare, some cardiovascular events have been reported, from atrial fibrillation to fatal ventricular tachycardia. This case reports paroxysmal supraventricular tachycardia in male 23 years old following administration of 4 mg intravenous ondansentronOndansentron adalah antagonis reseptor serotonin 5-HT3 yang bersifat selektif. Ondansentron dipilih sebagai obat lini pertama pada penanganan kasus mual muntah pasca kemoterapi dan operasi, karena tingkat efikasinya tinggi dan efek samping yang ditimbulkan minimal. Efek samping kardiovaskular akibat pemberian ondansentron jarang terjadi, namun pada beberapa kasus dilaporkan adanya efek samping, seperti atrial fibrilasi hingga takikardia ventrikular. Pada kasus ini dilaporkan laki-laki 23 tahun mengalami takikardia supraventrikular paroksismal pasca pemberian 4 mg ondansentron intravena
Optimalisasi Pengobatan Tekanan Darah dengan Fixed-Dose Combination Perindopril/Amlodipine
A lot of hypertensive patients require two or more antihypertensive drugs to control and maintain normal blood pressure. Combination of antihypertension is recommended either as first or second line treatment. Among available antihypertension medications, combination of renin-angiotensinaldosteron (RAAS) inhibitor with calcium channel blocker or diuretics are more recommended as they have sinergistic clinical and biomolecular effects.Furthermore, single pill dosage is associated with higher patients compliants and lower faults incidence in medication. Severeal fixed-dose combinations are currently available in the market to give easier hypertension control and patients compliants. This short review focus on combination of perindropril and amlodipineBanyak pasien yang memerlukan 2 atau lebih obat anti-hipertensi untuk menjaga tekanan darah agar terkontrol. Oleh karena itu, terapi kombinasi dapat merupakan terapi lini pertama atau kedua anti hipertensi. Panduan tatalaksana hipertensi telah menetapkan bahwa strategi memilih kombinasi penghambat sistem renin-angiotensinaldosteron (RAAS) dengan penghambat kanal kalsium(CCB) atau diuretic harus lebih diutamakan agar memaksimalkan cara kerja dan jalur molekuler mereka yang sinergis.Selanjutnya formulasi pil tunggal (single pill) yang diyakini akan meningkatkan kepatuhan minum obat dan menurunkan kejadian kesalahan dalam pengobatan. Oleh karena itu saat ini banyak tersedia antihipertensi dengan fixed dose combination yaitu pil tunggal yang berisi kombinasi 2 jenis obat. Tulisan ini membahas kombinasi perindropril dan amlodipin sebagai sebuah fixed dose combinatio