Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
687 research outputs found
Sort by
Vena Varikosa
Varicose vein is a common problem in vein. It is a dilated, elongated, and tortuous vein. It used to be a cosmetic problem, but nowadays it has become a more serious problem, since it can affect quality of life. It usually occurs in the inferior extremities. The venous system is divided into superficial vein, deep vein, perforator vein, and intramuscular sinus venosus. Pathological conditions that usually occur in the vein system are obstruction and valve incompetence. The risk factors of varicose vein are: elderly, history of family with varicose vein, pregnancy, occupation that requires long standing, sedentary life style, and obesity. Ultrasonography (USG) duplex is the most recommended modality to diagnose varicose vein. The classification of this disease is based on chronic venous disease classification, the CEAP (Clinical, Etiology, Anatomy, Pathophysiology) classification. The management for varicose vein includes intervention (sclerotherapy, endovenous ablation, and surgery) and non-intervention (education, compression stocking, and pharmacology) therapy.Vena varikosa merupakan masalah yang umum terjadi pada pembuluh darah vena. Vena varikosa adalah vena yang terdilatasi, memanjang, dan berliku-liku. Dahulu, vena varikosa menjadi masalah kosmetik, namun sekarang ini telah menjadi masalah yang lebih serius, karena penyakit ini dapat mempengaruhi kualitas hidup. Penyakit ini biasa terjadi di ekstremitas bawah. Sistem vena di ekstremitas inferior terbagi menjadi vena superfisial, vena dalam, vena perforator, dan sinus venosus intramuskular. Kondisi patologis yang umum terjadi pada sistem vena adalah obstruksi dan inkompetensi katup. Faktor risiko terjadinya vena varikosa antara lain: usia tua, riwayat keluarga dengan vena varikosa, kehamilan, pekerjaan yang membutuhkan berdiri lama, gaya hidup sedenter, dan obesitas. Ultrasonografi (USG) duplex merupakan modalitas yang paling direkomendasikan untuk mendiagnosis vena varikosa. Klasifikasi dari penyakit ini adalah berdasarkan klasifikasi penyakit vena kronis, yaitu klasifikasi CEAP (Clinical, Etiology, Anatomy, Pathophysiology). Penanganan vena varikosa meliputi terapi intervensi (skleroterapi, endovenous ablation, dan pembedahan) serta non-intervensi (edukasi, stoking kompresi, dan farmakologi)
Kontroversi peran studi elektrofisiologi pada sindrom brugada
Sindrom Brugada adalah suatu abnormalitas sistem listrik jantung yang merupakan predisposisi terjadinya takikardia ventrikel dan hilang kesadaran. Takikardia ventrikel dapat berhenti spontan dan pasien pulih dari sinkop lalu berobat dengan keluhan sinkop, atau takikardia berdegenerasi menjadi fibrilasi ventrikel (FV)dan menyebabkan kematian jantung mendadak. Oleh karena itu sangat penting mengenal gambaran EKG sindrom Brugada lalu melakukan stratifikasi risiko yang cermat.Salah satu yang menjadi perdebatan hangat adalah stratifikasi risiko sindrom Brugada melalui tindakan studi elektrofisiologi (SEF). Nilai prediktif induksi aritmia ventrikel saat SEF masih kontroversial. Studi yang melibatkan 408 pasien sindrom Brugada tanpa riwayat henti jantung menunjukkan bahwa pasien dengan indusibilitas FV memiliki risiko kematian jantung mendadak karena FV enam kali lipat dalam pengamatan 2 tahun.1 Akan tetapi studi multisenter dari Eropa,2, 3 Jepang4, 5 dan beberapa metaanalisis6, 7 tidak menunjukkan hasil yang positif sehingga indikasi SEF untuk stratifikasi risiko sindrom Brugada hanya IIb pada tahun 2013 (Gambar 1). Metaanalisis8 yang lain memperlihatkan hasil yang positif yaitu ketika presentasi klinis pasien sindrome Brugada dipisahkan antara sinkop dan asimtomatik dalam analisanya
Fistula Arteri Koroner, Penyebab Nyeri Dada yang Jarang Ditemukan pada Dewasa : Peran Computed Tomography Angiografi
Coronary artery fistula, usually congenital in origin, is an abnormal communication between a coronary artery and a cardiac chamber or great vessel. A coronary artery fistula can produce myocardial ischemia from coronary steal phenomenon. First case, a 54-year-old man was found to have a fistula from the left anterior descending coronary artery and right coronary artery to the main pulmonary artery, a rare anomaly. This patient developed chest pain due to myocardial ischemia in the left anterior descending coronary artery distribution for several months before evaluation. The patient was suggested to close the fistula but rejected. Second case, a-57 year-old woman was found to have fistula from left anterior descending coronary artery to main pulmonary artery. Patient presented with chest pain since 6 years ago. The patient was planned to close the fistula transcutaneously. Coronary artery fistulas, though rare, should be considered in the differential diagnosis when an adult patient presents with chest pain. Although coronary angiography is the gold standar diagnostic test for detection of coronary artery fistula, computed tomography angiography may be an alternative test through its good spatial resolution.Fistula arteri koroner, biasanya kongenital, merupakan komunikasi abnormal antara arteri koroner dan ruang jantung atau pembuluh darah besar. Fistula arteri koroner dapat menyebabkan iskemia miokardium melalui steal phenomenon. Kasus pertama, laki-laki 54 tahun didapatkan memiliki fistula arteri koroner dari arteri koroner left anterior descending (LAD) ke main pulmonary artery (MPA) dan right coronary artery (RCA) ke MPA, kelainan yang jarang. Pasien mengalami nyeri dada selama beberapa bulan karena iskemia miokardium di teritori LAD. Pasien disarankan untuk menutup fistula namun menolak. Kasus kedua, perempuan 57 tahun diketahui memiliki fistula arteri koroner dari LAD ke MPA. Pasien mengeluh nyeri dada sejak 6 tahun yang lalu. Pasien direncanakan penutupan fistula secara perkutan. Fistula arteri koroner, meskipun jarang, pertimbangkan sebagai diagnosis banding apabila pasien dewasa datang dengan keluhan nyeri dada. Meskipun angiografi koroner merupakan pemeriksaan standar emas untuk mendeteksi fistula arteri koroner, computed tomography angiografi menjadi pemeriksaan alternatif karena memiliki resolusi spasial yang baik
Pengalaman Awal Tindakan MitraClip di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta
Background: Percutaneous mitral valve repair (PMVR) with MitraClip is considered as an optional treatment for patients with significant MR who are high risk for having surgery. This novel therapy is less invasive, safe, and effective for MR reduction, and hence improve symptoms of heart failure, as well as reverse left ventricle remodeling. The purpose of this study was to report the early experience of Mitraclip procedure for treating significant MR at the National Cardiovascular Center Harapan Kita.Methods: This retrospective study was conducted at National Cardiovascular Center Harapan Kita Hospital, Jakarta. The data was retrieved from computerized database and medical records from February 2014 to January 2015, and then analyzed with SPSS.Results: A total of 6 patients with age 51 - 75 years old, underwent MitraClip procedure. Of all patients, the MR were severe in 5 patients and moderate in 1 patient. One was female and 5 were male. Among these patients, 2 were degenerative MR and 6 were functional MR. Two patients were treated with single MitraClip and 4 patients required double MitraClip. Post proccedure, there was reduction of MR to mild was achieved in 2 patients and to moderate in 4 patients. The left ventricular end diastolic dimension decreased from 66 ± 6.5 mm at baseline to 59 ± 7.3 mm (p=0.04) and end systolic dimensions decreased from 50 ± 10.6 mm at baseline to 48 ± 10.0 mm before discharge (p=0.27) as evaluated from predischarge echocardiography. At one month after procedure, 2 patients were in New York Heart Association (NYHA) functional class I and 4 patients were in class II. In-hospital mortality was 0%. Only 1 patient was re-hospitalized after procedure due to heart failure.Conclusion: From our early experience, MitraClip was considered an effective and safe option for patients with functional and degenerative MR who are at high risk for open-heart surgery. Left ventricle dimension, NYHA functional class, MR reduction, and re-hospitalization rate were improved after procedure.Latar Belakang: MitraClip merupakan pilihan terapi untuk pasien regurgitasi katup mitral berat yang berrisiko tinggi untuk dilakukan operasi. Terapi baru ini minimal invasif, aman, dan efektif untuk mengurangi keparahan regurgitasi, gejala gagal jantung, dan mengurangi proses remodeling ventrikel. Tujuan penelitian ini adalah melaporkan tindakan MitraClip di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta,Metode: Penelitian retrospektif dilakukan di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta. Data diperoleh dari database komputer dan rekam medis dari Februari 2014 sampai Januari 2015, kemudian dianalisis dengan SPSS.Hasil: Enam orang pasien berusia 51 – 75 tahun, dilakukan tindakan MitraClip. Dari 6 pasien, 5 pasien dengan regurgitasi katup mitral berat dan 1 pasien dengan regurgitasi katup sedang. Satu pasien berjenis kelamin perempuan dan 5 pasien laki-laki. Dua pasien merupakan regurgitasi mitral degeneratif dan 4 pasien regurgitasi mitral fungsional. Dua pasien dilakukan pemasangan satu buah MitraClip dan 4 pasien dipasang dua buah MitraClip. Setelah tindakan, derajat regurgitasi berkurang menjadi ringan pada 2 pasien dan menjadi sedang pada 4 pasien. Dimensi diastolik akhir ventrikel kiri berkurang dari 59 ± 7.3 mm saat awal menjadi 59 ± 7.3 mm (p=0,04) saat pulang. Dimensi sistolik akhir ventrikel kiri berkurang dari 50 ± 10.6 mm saat awal menjadi 48 ± 10.0 mm saat pulang (p=0,27), berdasarkan pemeriksaan ekokardiografi sebelum pulang rawat. Satu bulan setelah tindakan MitraClip, 2 pasien dengan kelas fungsional I dan 4 pasien dengan kelas fungsional II. Tidak ada pasien yang meninggal dalam perawatan di rumah sakit. Satu pasien perawatan ulang di rumah sakit karena gagal jantung.Kesimpulan: Berdasarkan pengalaman awal kami, MitraClip merupakan pilihan terapi yang efektif dan aman untuk pasien dengan regurgitasi mitral degeneratif dan fungsional yang risiko tinggi untuk operasi. Dimensi ventrikel kiri, kelas fungsional NYHA, derajat keparahan regurgitasi katup, dan tingkat perawatan ulang mengalami perbaikan setelah MitraClip
Myocardial Bridging: Peran ct dan mri dalam Diagnosis dan Stratifikasi Risiko
PendahuluanMyocardial bridging (MB) adalah anomali kongenital arteri koroner yang paling umum ditemukan. MB adalah bila terdapat sebagian segmen dari arteri koroner yang berjalan epikardial mengambil jalur menukik ke dalam miokard sehingga menciptakan jembatan di atas segmen arteri koroner tersebut. Insidens MB berdasarkan temuan studi-studi otopsi, didapatkan angka terendah adalah 15% dan angka tertinggi 85%.1 Arteri koroner yang paling sering mengalami myocardial bridging adalah Left Anterior Descending (LAD), yang berdasarkan studi-studi didapatkan angka terendah 67% dan angka tertinggi 98% pasien.2,3 MB dikategorikan termasuk varian normal arteri koroner, dan sebagian besar kasus tidak menampilkan gejala, namun terdapat kasus yang menjadi masalah. Gejala dan gambaran elektrokardiografi yang ditimbulkan oleh iskemia pada MB tidak spesifik sehingga sulit dibedakan dengan iskemia akibat aterosklerosis arteri koroner.4 MB menyebabkan kompresi segmen arteri sehingga terjadi perubahan hemodinamika yang mengakibatkan iskemia, sehingga dapat tampil dengan gejala dan tanda khas iskemia seperti angina, atau temuan iskemia miokard berdasarkan uji stres, datang dengan sindrom koroner akut, temuan disfungsi ventrikel kiri, aritmia bahkan hingga kematian jantung mendadak.5Kemaknaan klinis MB yang tidak spesifik dan rentangnya luas mulai dari dianggap varian normal hingga dapat fatal menjadikan MB perlu mendapatkan perhatian di awal untuk mendapatkan data diagnosis anatomi MB kemudian stratifikasi risiko sesuai kemaknaan fisiologis
Double Inlet Left Ventricle (DILV), Double Outlet Left Ventricle (DOLV), Malposisi Pembuluh Darah Besar, Ventricle Septal Defect (VSD) Inlet, dan Patent Ductus Arteriosus
Congenital heart disease is an interesting area which present a great various arrangement of the cardiac stucture. We present a rare case of 11 months old male with complex congenital heart disease consisted of Double Inlet Left Ventricle (DILV), Double Outlet Left Ventricle (DOLV) with Malposition of Great Arteries, Inlet Ventricle Septal Defect (VSD) and Patent Ductus Arteriosus (PDA).Patient was an eleven months old male who was admitted in our institution for cardiac operation. He was diagnosed with congenital heart disease since three days old with initial presentation of cyanosis when he was crying. His physical growth was retarded but his developmental Milestones was considered normal. On admission, his oxygen saturation was 88% with ambient air. The diagnosis was confirmed by echocardiography. He was planned to undergo staging surgery which would end to Fontan Procedure. Pulmonary Artery (PA) banding was performed to reduce blood flow to pulmonary circulation, distribute more blood from the left ventricle to aorta and systemic circulation and prepare for bidirectional Glenn Shunt procedure one year later and Fontan procedure a year after that.Penyakit jantung kongenital merupakan area kardiologi yang menarik karena presentasi dari stuktur jantung yang terjadi dapat sangat bervariasi. Disini kami memaparkan sebuah kasus pada anak laki-laki berusia 11 bulan dengan penyakit jantung kongenital kompleks yang terdiri dari inlet ventrikel kiri ganda, outlet ventrikel kiri ganda dengan malposisi arteri besar, defek septum ventrikel inlet dan duktus arteriosus paten.Pasien laki-laki sebelas bulan dirawat di institusi kami dengan perencanaan tindakan operasi. Sebelumnya, pasien terdiagnosa memiliki penyakit jantung congenital sejak usia tiga hari dengan presentasi awal berupa sianosis ketika menangis. Pertumbuhan fisiknya pun terhambat namun perkembangannya menurut Milestones masih tergolong normal. Saat masuk ruang perawatan saturasi oksigen 88% tanpa suplementasi oksigen. Diagnosis dikonfirmasi dengan menggunakan echokardiografi dan pasien direncanakan untuk mendapatkan tindakan pembedahan yang berakhir pada prosedur Fontan. Pengikatan arteri pulmonaris dilakukan telebih dahulu pada perawatan ini dengan tujuan untuk mengurangi aliran darah ke sirkulasi pulmonal, mendistribusikan lebih banyak darah dari ventrikel kiri ke aorta dan sirkulasi sistemik dan mempersiapakan untuk prosedur bidirectional Glenn Shunt satu tahun kemudian dan prosedur Fontan satu tahun setelahnya
LONG RP TACHYCARDIA: What is the mechanism?
Seorang anak perempuan, 11 tahun dikonsulkan ke poli Aritmia dengan keluhan sesak dan berdebar. Rasa berdebar sudah dirasakan sejak lebih dari satu tahun yang lalu. Akhir-akhir ini pasien juga mengeluh sesak dan mudah capek. Pada pemeriksaan fisik didapatkan batas jantung kiri yang membesar dengan fixed wide split bunyi jantung kedua. Tidak terlihat sianosis. Ekokardiografi menunjukkan sebuah atrial septal defek sekundum yang besar dengan diameter 2.5 cm. Pasien mengalami takikardia incessant yang tidak respon dengan beberapa anti-aritmia dengan rekaman EKG 12 sadapan diperlihatkan di bawah ini.Tampak suatu takikardia regular dengan laju 115 kpm. Durasi QRS sempit (110 mdet) dengan morfologi gelombang P di belakang setiap kompleks QRS. Jarak awitan kompleks QRS ke awitan gelombang
Parameter Pengukuran Ventrikel Kiri menggunakan Ekokardiografi Bagian 2
1. Fungsi regional ventrikel kiriModel pembagian segmen Vki digunakan dalam praktek klinis sehari-hari. Model pembagian menjadi 17 segmen direkomendasikan untuk menilai perfuso miokardial dengan menggunakan ekokardiografi dan teknik atau modalitas pencitraan lainnya . ( PET Scan atau Cardiac MRI). Model ini dapat dilihat pada gambar 4Model 16 segmen direkomendasikan dipakai secara rutin untuk menilai gerakan dinding Vki karena gerakan endokardial dan penebalan pada bagian apeks Vki sulit untuk bisa dideteksi. Untuk menilai gerakan dinding ini , setiap segmen sebaiknya di dievaluasi menggunakan berbagai pandangan dan 4 tingkatan penilaian digunakan yaitu (1) normal atau hiperkinetik, (2) hipokinetik, (3) akinetik (tidak adanya penebalan miokard atau penebalan minimal), dan diskinetik (penipisan saat sistolik atau penipisan)
Dyslipidemia Aterogenic, antara fakta dan harapan yang akan datang
Disregulasi dari metabolisme lipoprotein merupakan inti dari perkembangan aterosklerosis. Suatu studi epidemi prospektif secara konsisten menunjukkan bahwa kenaikan dari Low Density Lipoprotein Cholesterol (LDL-C) dihubungkan dengan peningkatan risiko dari penyakit kardiovaskular, namun hal tersebut mungkin secara terpisah menyebabkan dislipidemia aterogenik, jika bergabung dengan hipertensi, obesitas sentral dan resistensi insulin, yang secara bersamaan dikenal sebagai sindroma metabolik. Dislipidemia aterogenik ditandai dengan tingginya trigliserid (TG) plasma, rendahnya High Density Lipoprotein Cholesterol (HDL-C) dan tingginya konsentrasi apolipoprotein (apo)-B yang berisi lipoprotein, khususnya peningkatan small dense LDL.Hipertrigliserid (HTG) adalah peningkatan kadar trigliserid (TG) puasa di atas normal (> 150 mg/dl). Pada 2010 di Amerika Serikat ada 74,6 juta penduduk mempunyai peningkatan kadar trigliserid, 36,4 juta diantara mereka memiliki kadar triglsierid yang tinggi (200-499 mg/dl), dengan meningkatnya prevalensi ini secara paralel juga terjadi peningkatan yang tajam terhadap kejadian obesitas.
Stratifikasi Risiko, Cost-Analysis dan Jaminan Kesehatan Nasional di Bidang Kardiovaskular
Mulai berlakunya sistem kesehatan nasional di Indonesia menandai era baru di bidang pembiayaan kesehatan nasional, dimana pembiayaan kesehatan yang sebelumnya didominasi oleh pembayaran tunai secara pribadi kini secara perlahan tapi pasti telah bergeser pada sistem asuransi, dimana keikutsertaan seluruh warga negara merupakan salah kunci sukses terselenggaranya sistem pembiayaan ini dengan baik. Berkaca pada pendapat para ahli di bidang pembiayaan kesehatan dan pengalaman negara-negara maju, tidak disangsikan lagi, ketika telah berjalan dengan sempurna sistem ini merupakan sistem pembiayaan terbaik. Tentu saja pada tahap awal pelaksanaan sistem jaminan ini masih terdapat beberapa kekurangan mendasar yang perlu mendapat perhatian serius untuk dapat segera diperbaiki.Seperti mengkonfirmasi data statistik yang telah ada tentang mortalitas dan morbiditas, BPJS kesehatan baru-baru ini me release data penyakit dengan pembiayaan kesehatan tertinggi dimana penyakit jantung dan pembuluh darah, keganasan (kanker) dan penyakit ginjal kronik merupakan 3 penyakit yang memuncaki tabel pengeluaran keuangan BPJS kesehatan.1 Penyakit jantung dan pembuluh darah berada di urutan pertama dengan jumlah pengeluara