Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
687 research outputs found
Sort by
A Registry to regionalized treatment of Unstable Angina/Non-ST Elevation Myocardial Infarction
multicentre Registry to access the current usage of antiplatelet therapy was conducted recently in Indonesia, that can be found in the current edition of this journal. 1 This was the only registry conducted in Indonesia and this was the only one that try to see the current compliance of the anti-platelet therapy in patients with Unstable Angina / Non-ST Elevation Myocardial Infarction not undergoing PCI procedure in Indonesia. This was very relevant since there is a surge of this diseases in the last decade and more cardiologist worked in the area and also there is more cath lab available to do invasive therapy. Such a facility should be used appropriately and efficiently as not to overburden the available resources both in time and economic aspect, especially in the era of BPJS (universal Health Coverage) which already use up much of these resources.The BPJS program is an ideal program which give treatment to the majority of people but since the resources is limited it is the duty of the government not to use it indiscriminately and as efficient as possible so it can be delivered to the right people according to its priority. As Indonesia is comprised of large area with thousands of Islands and many population that are devided of many subethnics that are different in man
Catheter Directed Thrombolysis pada Trombosis Vena Dalam Iliofemoral
Background Iliofemoral deep vein thrombosis (IFDVT) is associated with more severe outflow obstruction which results in more severe DVT symptoms and late clinical sequelae. Despite anticoagulation therapy, IFDVT patients is still at risk to develop postthrombotic syndrome (PTS). Recent studies found that additional catheter-directed thrombolytic therapy may offer advantages in reducing PTS and maintaining venous patency. Several ongoing multi-center randomized controlled trials are expected to evaluate safety and efficacy of CDT in IFDVT patients, and define who will benefit most.Case Illustration A 59-year-old male was presented with numbness, pain, and movement limitation in the left leg that were preceded by left leg swelling. Peripheral edema was found in both patient’s leg but more prominent on the left side. Dupplex sonography revealed extensive soft thrombus from left iliac vein to left tibialis vein. Initial anticoagulation therapy took no effect to the thrombus. Catheter-directed thrombolysis was performed and provided satisfactory symptoms resolution as well as thrombus dissolution.Summary A case of iliofemoral DVT has been reported. The present therapeutic strategy of anticoagulation therapy has not been proven to prevent PTS. CDT is an effective way in achieving clot lysis in acute thrombosis, and this may help to prevent PTS and subsequent ulceration. The potential benefits of therapy must be weighed carefully against the risk of bleeding. There are several ongoing RCTs that are awaited to help provide evidence on functional outcome after CDT and define who will benefit most.Latar Belakang : Trombosis vena dalam iliofemoral berhubungan dengan obstruksi aliran vena berat yang mengakibatkan gejala dan sekuele yang lebih berat. Pasien dengan kondisi ini memiliki risiko tinggi terjadinya sindrom pasca trombosis walaupun sudah mendapat terapi antikoagulan. Studi terkini menunjukkan bahwa terapi trombolisis dengan bantuan kateter memberikan manfaat dalam mengurangi sindrom pasca trombosis dan menjaga patensi vena. Beberapa randomized controlled trials besar sedang berjalan dan diharapkan dapat mengevaluasi keamanan dan efikasi tatalaksana ini pada pasien dengan trombosis vena dalam iliofemoral, dan juga menjelaskan siapa saja yang paling mendapat manfaat.Ilustrasi Kasus : Seorang laki-laki 59 tahun datang dengan keluhan baal, nyeri, dan sulit menggerakan tungkai kiri yang didahului dengan kaki bengkak. Edema perifer ditemukan pada kedua tungkai pasien namun lebih berat pada tungkai kiri. Duplex sonografi menunjukkan trombus yang ekstensif dari vena iliaka hingga tibialis kiri. Terapi antikoagulan saja tidak memberi efek terhadap trombus. Trombolisis dengan bantuan kateter dilakukan dan memberikan perbaikan gejala dan pengurangan trombus yang bermakna.Kesimpulan : Dilaporkan sebuah kasus trombosis vena dalam iliofemoral. Strategi tatalaksana terkini dengan antikoagulan tidak terbukti dalam hal mencegah sindrom pasca trombosis. Trombolisis dengan bantuan kateter adalah cara yang efektif dalam mencapai lisis bekuan darah pada trombosis akut, dan dapat membantu mencegah kejadian sindrom pasca trombosis. Potensi keuntungan dari terapi ini harus ditimbang baik-baik mengingat risiko perdarahan yang dapat terjadi. Saat ini terdapat beberapa randomized controlled trials besar yang sedang berjalan dan diharapkan dapat menyediakan basis bukti atas tatalaksana ini
Farmakoterapi pada Upaya Berhenti Merokok
Nicotine dependence is a main role in tobacco dependence. Its physiological and psychological effect make smoker difficult to quit, making low success rate in smoking cessation. Combination of different method and continuity will increase smoking cessation success rate. Evidence shown that pharmacotherapy will increase success rate. Guideline’s for smoking cessation endorse physician to use first line pharmacotherapy, but it’s clinical application still limited. Physician should be aware about possibility for side effect. Some randomized controlled trial report major cardiovascular event in first line pharmacotherapy. Recent systematic review report no correlation between first line pharmacotherapy in smoking cessation and major cardiovascular event.Nikotin merupakan zat adiktif utama pada mekanisme ketergantungan tembakau. Efek nikotin terhadap fisiologi dan psikologi perokok membuat perokok sulit berhenti sehingga angka keberhasilan upaya berhenti merokok sangat rendah. Penggunaan kombinasi beberapa metode dan pendampingan yang kontinyu meningkatkan angka keberhasilan upaya berhenti merokok. Farmakoterapi meningkatkan kesuksesan upaya berhenti merokok. Pedoman yang ada saat ini menekankan pentingnya pemakaian farmakoterapi lini pertama, tetapi hingga saat ini aplikasi klinisnya masih terbatas. Dokter harus mengetahui efek samping yang mungkin muncul dari pemakaian obat tersebut. Beberapa randomized controlled trial melaporkan efek kardiovaskular mayor pada penggunaan farmakoterapi lini pertama. Systematic review terkini menunjukkan bahwa penggunaan farmakoterapi dalam upaya berhenti merokok tidak berhubungan dengan kejadian kardiovaskular mayor
Benarkah Obat Penghambat Pompa Proton Meningkatkan Risiko Infark Miokard?
Isu tentang pengaruh obat Penghambat Pompa Proton (P3) terhadap kejadian kardiovaskular mayor sudah cukup lama menjadi debat di kalangan kardiologi. Berbagai studi terkait masalah ini telah dilakukan tetapi memberikan hasil yang kontradiktif. Ching dkk1 meneliti hampir 3300 pasien pasca intervensi koroner perkutan yang dibagi jadi dua kelompok yaitu dengan dan tanpa P3. P3 yang dikonsumsi meliputi lansoprazole, pantoprazole, omeprazole dan esomeprazole. Pada pengamatan selama 9 bulan didapatkan insiden mortalitas, revaskularisasi dan kejadian kardiovaskular mayor yang lebih tinggi pada kelompok P3 dengan rasio hazard 1.7. Sebaliknya metanalisis dari 23 studi oleh Kwok dkk memperlihatkan tidak terdapat perbedaan kejadian kardiovaskular mayor pada pasien yang mengkonsumsi klopidogrel dan P3.2Sebuah studi yang dimuat di jurnal terbuka Plos One pertengahan tahun ini cukup mengejutkan kalangan kardiologi. Shah dkk3 melakukan studi observasional dari sekitar 16 juta data rekam medis dan menyimpulkan bahwa obat P3 berhubungan dengan peningkatan risiko infark miokard pada populasi umum. Enam belas persen penderita penyakit refluks gastroesofageal (GERD) yang diberi P3 menunjukkan peningkatan risiko infark miokard (95%IK 1.09 hingga 1.24) dan peningkatan risiko mortalitas kardiovaskular (HR 2.0, 95%IK 1.07 hingga 3.78, p = 0.031).Jadi ada dua isu besar terkait P3, yaitu diduga meningkatkan kejadian kardiovaskular mayor pada pasien penyakit jantung koroner (PJK) dan peningkatan kejadian infark miokard pada populasi umum. Bagaimanakah sikap yang harus diambil oleh para klinisi terkait hal di atas? Tulisan ini merupakan suatu stimulus agar para klinisi melihat lebih seksama pengaruh interaksi P3 pada pasien maupun populasi umum.Isu tentang pengaruh obat Penghambat Pompa Proton (P3) terhadap kejadian kardiovaskular mayor sudah cukup lama menjadi debat di kalangan kardiologi. Berbagai studi terkait masalah ini telah dilakukan tetapi memberikan hasil yang kontradiktif. Ching dkk1 meneliti hampir 3300 pasien pasca intervensi koroner perkutan yang dibagi jadi dua kelompok yaitu dengan dan tanpa P3. P3 yang dikonsumsi meliputi lansoprazole, pantoprazole, omeprazole dan esomeprazole. Pada pengamatan selama 9 bulan didapatkan insiden mortalitas, revaskularisasi dan kejadian kardiovaskular mayor yang lebih tinggi pada kelompok P3 dengan rasio hazard 1.7. Sebaliknya metanalisis dari 23 studi oleh Kwok dkk memperlihatkan tidak terdapat perbedaan kejadian kardiovaskular mayor pada pasien yang mengkonsumsi klopidogrel dan P3.2Sebuah studi yang dimuat di jurnal terbuka Plos One pertengahan tahun ini cukup mengejutkan kalangan kardiologi. Shah dkk3 melakukan studi observasional dari sekitar 16 juta data rekam medis dan menyimpulkan bahwa obat P3 berhubungan dengan peningkatan risiko infark miokard pada populasi umum. Enam belas persen penderita penyakit refluks gastroesofageal (GERD) yang diberi P3 menunjukkan peningkatan risiko infark miokard (95%IK 1.09 hingga 1.24) dan peningkatan risiko mortalitas kardiovaskular (HR 2.0, 95%IK 1.07 hingga 3.78, p = 0.031).Jadi ada dua isu besar terkait P3, yaitu diduga meningkatkan kejadian kardiovaskular mayor pada pasien penyakit jantung koroner (PJK) dan peningkatan kejadian infark miokard pada populasi umum. Bagaimanakah sikap yang harus diambil oleh para klinisi terkait hal di atas? Tulisan ini merupakan suatu stimulus agar para klinisi melihat lebih seksama pengaruh interaksi P3 pada pasien maupun populasi umum
What is The Pacing Mode?
Seorang wanita 56 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan dada rasa tidak nyaman dan sensasi seperti ada hentakan di dada sampai ke leher yang dirasakan sejak 3 bulan terakhir yang makin sering. Kadang pasien merasakan sesak nafas dan nyeri kepala. Pasien dengan riwayat pemasangan pacu jantung kurang lebih 8 tahun yang lalu. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Rekaman EKG terlihat seperti gambar di bawah ini,Pada panel A, tampak rekaman EKG yang memperlihatkan adanya pacing spike sebelum timbulnya gelombang QRS, yang menandakan pemacuan dari ventrikel. Namun bila kita lihat lebih memperlihatkan adanya pacing spike sebelum timbulnya gelombang QRS, yang menandakan pemacuan dari ventrikel. Namun bila kita lihat lebihPanel A. Rekaman 12 sadapan EKGJurnal Kardiologi Indonesia304Jurnal Kardiologi Indonesia • Vol. 35, No. 4 • Oktober - Desember 2014teliti, pada beat pertama dan beat kedua terlihat adanya gelombang P yang mendahului (terutama pada sadapan III, gelombang P terlihat paling jelas) sebelum timbulnya gelombang QRS. Tidak ada pacing spike yang mendahului timbulnya gelombang P menandakan tidak adanya pemacuan dari atrium, hanya sensing dari gelombang atrium. Pada beat ke-3 dan ke-4 tidak terlihat adanya gelombang P yang mendahului pemacuan ventrikel, dan terlihat interval yang memanjang antara beat ke-2 dan ke-3 serta beat ke-4. Dari EKG diatas, apa mode pacu jantung yang dipasang pada pasien tersebut dan apakah terdapat disfungsi alat pacu jantung sehingga terdapat keluhan tidak nyaman pada pasien ini dalam 3 bulan terakhir
Peranan Mitral Leaflet Separation Index (Mlsi ) dalam Menentukan Severitas Stenosis Mitral
Objective. To Correlate MLSI with 3-D mitral valve area (MVA) planimetry in determining mitral stenosis (MS) severity.Background. Mitral Stenosis (MS) is still a major problem in cardiology, and causes of morbidity dan mortality worldwide. Echocardiogrphy plays an important role in assessing mitral stenosis severity. Mitral leaflet separation index (MLSI) is one of simple method that can be used in peripheral by using common ultrasound to assess the severity mitral stenosis.Methods. We employed a cross sectional study. Mitral stenosis patients who referred for evaluation echocardiography in National Cardiac Center Harapan Kita from April to September 2011. MLSI was obtained by averaging the maximal leaflet separation distance at the tips in diastole in parasternal long-axis and apical four- chamber views. 3-Dimensional (3-D) mitral valve area (MVA) planimetry as a reference. The only exclusion criteria was severe calcification and poor echo window. Echocardiography examination using Philips E33i.Results. Seventy six consecutive patients were enrolled, 5 subjects were excluded from study because of severe calcification and poor echo window. Proportion of woman is 73.2 % and mostly in age group < 40 years old (43.7 %). Severe mitral stenosis was dominate the subject, 47 subject (66.2 %), moderate was 19 subject (26.8 %), and mild only 5 subjects (7.0 %). Analysis with Spearman correlations obtained a good correlation with r = 0.70, p < 0.001, good correlation was found in sinus rhythm with r = 0.78, p < 0.001 and atrial fibrillation with r = 0.79, p < 0.001. MLSI less than 0.69 cm predicted severe MS with 85 % sensitivity and 82.4 % specificity.Conclusions. Mitral leaflet separation index (MLSI) has a good correlation with 3-D MVA planimetry. MLSI less than 0.69 cm can estimate severe SM.Tujuan. Mendapatkan korelasi antara pemeriksaan MLSI dengan pemeriksaan ekokardiografi 3-D mitral valve area (MVA) planimetri dalam menentukan severitas stenosis mitral (SM).Latar Belakang. Stenosis mitral (SM) masih merupakan masalah utama di bidang kardiologi, dan penyebab morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Ekokardiografi memegang peranan penting didalam menilai severitas SM. Mitral leaflet separation index (MLSI) merupakan salah satu metode sederhana yang dapat digunakan didaerah perifer dengan menggunakan ultrasonografi umum untuk menilai severitas SM.Metode. Penelitian ini merupakan studi potong lintang. Pasien SM yang menjalani evaluasi ekokardiografi di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita dari bulan April sampai September 2011. Pasien SM dinilai severitasnya dengan MLSI dan 3-Dimensi (3-D) mitral valve area (MVA) planimetri sebagai rujukannya. Kriteria eksklusi hanya pada pasien dengan kalsifikasi berat dan poor echo window. Penilaian MLSI merupakan nilai rata-rata pada posisi parasternal long aksis (PLAX) dan apikal posisi 4-chamber fase diastolik pada saat pembukaan maksimal ujung katup mitral. Pemeriksaan ekokardiografi menggunakan Philips E33i.Hasil. Dari 76 pasien SM yang menjalani ekokardiografi 3-D MVA planimetri, 5 subyek dikeluarkan dari penelitian oleh karena kalsifikasi yang berat dan poor echo window. Karakteristik subyek dengan proporsi perempuan lebih banyak (73,2 %), dan lebih banyak pada kelompok umur < 40 tahun (43,7 %). Derajat SM berat 47 subyek (66,2 %) mendominasi subyek, SM sedang 19 subyek (26,8 %), SM ringan 5 subyek (7,0 %). Analisa dengan korelasi Spearman didapatkan korelasi yang kuat dengan r = 0,70, p = 0,000, sedangkan pada irama sinus didapatkan r = 0,78, p = 0,000 dan atrial fibrilasi didapatkan r = 0,79, p < 0,001. MLSI kurang dari 0,69 cm memprediksi SM berat dengan sensitifitas 85 % dan spesifisitas 82,4 %.Kesimpulan. Mitral leaflet seperation index (MLSI) mempunyai korelasi yang baik dengan pengukuran MVA menggunakan 3-D planimetri. MLSI kurang dari 0,69 cm dapat mengestimasi SM berat
Fibrilasi Atrium pada Penyakit Paru Obtruktif Kronik
Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) often coexists with cardiovasculae disease (comorbidities) that may have a significant impact in prognosis. Atrial fibrillation (AF) is the most common comorbid, which is supraventricular tachyarrhythmias uncoordinated and ineffective atrial activation. Emergence of atrial fibrillation if not handled properly associated with morbidity and mortality are high . Exact pathogenesis of AF in COPD but may associated with atrial factors , inflammation ,activation of the renin - angiotensin - aldosterone system (RAAS), coronary heart disease , disorders of the autonomic tone and pharmacological. Complications of AF consisted of thromboembolic events including stroke. The management of AF with COPD should be adjusted to optimize therapeutic resultPenyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) yang disertai penyakit kardiovaskular sebagai komorbid akan memperberat prognosis. Komorbid tersering adalah fibrilasi atrium yaitu takiaritmia supraventrikular yang tidak terkoordinasi dan tidak efektifnya aktivasi atrium. Munculnya fibrilasi atrium apabila tidak tertangani dengan baik berkaitan dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Patofisiologi fibrilasi atrium pada PPOK diduga antara lain akibat faktor atrium, inflamasi, aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron, penyakit jantung koroner, gangguan tonus otonom dan farmakologis. Komplikasi fibrilasi atrium adalah terjadinya tromboemboli sistemik yaitu stroke. Penatalaksanaan fibrilasi atrium pada PPOK harus disesuaikan agar mencapai hasil pengobatan optimal
Ekstraksi lead crt ventrikel kiri yang patah
In recent years, implantation of cardiac resynchronization therapy (CRT) devices has significantly increased. Left ventricular (LV) pacing through the Coronary Sinus (CS) is the standard approach for CRT. Many LV lead placement techniques to get lead stability and optimal threshold, one with wire PCI. We presented a case with LV lead CRT extraction were broken after being fitted with wire PCI with stabilization purpose and to obtain an appropriate threshold, the extraction was done by snaring techniques.Pemasangan terapi resinkronisasi jantung pada beberapa tahun belakang semakin meningkat. Pacu ventrikel kiri melalui sinus koronarius menjadi pendekatan standar pada terapi ini. Berbagai teknik penempatan lead ventrikel kiri untuk mendapatkan stabilitas lead dan threshold yang optimal, salah satunya dengan menggunakan wire PCI. Kami mempresentasikan sebuah kasus ekstraksi lead CRT ventrikel kiri yang patah setelah dipasang bersama dengan wire PCI dengan tujuan stabilisasi dan untuk mendapat theshold yang sesuai, ekstraksi dilakukan dengan teknik snaring
Defek Konotrunkal Jantung
Conotruncal anomalies comprise a diverse group of congenital heart defects involving the outflow tracts of the heart and the great .They are a leading cause symptomatic cyanotic cardiac disease diagnosed in utero. Conotruncal anomalies can be diagnosed by prenatal echocardiography with a high degree of accuracy. The overall prognosis for fetuses with a conotruncal anomaly is poorDefek konotrunkal adalah penyakit jantung kongenital yang melibatkan saluran outflow dari jantung dan pembuluh darah besar. Defek konotrunkal menjadi penyebab utama pada penyakit jantung sianotik yang simptomatis yang dapat didiagnosis pada saat didalam kandungan Kelainan konotrunkal dapat dideteksi melalui fetal ekokardiografi dengan tingkat akurasi yang tinggi. Prognosis kelainan konotrunkal pada fetus buruk
Peran Ekokardiografi sebagai Modalitas Diagnostik Pendukung pada Diseksi Aorta Stanford A Terlokalisir
Ascending Stanford type A aortic dissection carries a high morbidity and mortality. Proper identification of the proximal origin of the dissection and determination of concomitant aortic valve involvement significantly facilitate surgical repair which may improve survival.2Rapid imaging is necessary for the timely diagnosis of a potentially life-threatening condition. Transthoracic Echocardiography is highly accurate for the detection of acute aortic syndromes especially identify ascending aortic pathology such as type A aortic dissection.3 We report the unusual case of 52-years old male who present atypical presentation of aortic dissection with unclear view of dissection by CT Angiography aorta, and diagnosed as Localized Stanford A Aortic dissection with supported data by echocardiography modality.Latar Belakang : Trombosis vena dalam iliofemoral berhubungan dengan obstruksi aliran vena berat yang mengakibatkan gejala dan sekuele yang lebih berat. Pasien dengan kondisi ini memiliki risiko tinggi terjadinya sindrom pasca trombosis walaupun sudah mendapat terapi antikoagulan. Studi terkini menunjukkan bahwa terapi trombolisis dengan bantuan kateter memberikan manfaat dalam mengurangi sindrom pasca trombosis dan menjaga patensi vena. Beberapa randomized controlled trials besar sedang berjalan dan diharapkan dapat mengevaluasi keamanan dan efikasi tatalaksana ini pada pasien dengan trombosis vena dalam iliofemoral, dan juga menjelaskan siapa saja yang paling mendapat manfaat.Ilustrasi Kasus : Seorang laki-laki 59 tahun datang dengan keluhan baal, nyeri, dan sulit menggerakan tungkai kiri yang didahului dengan kaki bengkak. Edema perifer ditemukan pada kedua tungkai pasien namun lebih berat pada tungkai kiri. Duplex sonografi menunjukkan trombus yang ekstensif dari vena iliaka hingga tibialis kiri. Terapi antikoagulan saja tidak memberi efek terhadap trombus. Trombolisis dengan bantuan kateter dilakukan dan memberikan perbaikan gejala dan pengurangan trombus yang bermakna.Kesimpulan : Dilaporkan sebuah kasus trombosis vena dalam iliofemoral. Strategi tatalaksana terkini dengan antikoagulan tidak terbukti dalam hal mencegah sindrom pasca trombosis. Trombolisis dengan bantuan kateter adalah cara yang efektif dalam mencapai lisis bekuan darah pada trombosis akut, dan dapat membantu mencegah kejadian sindrom pasca trombosis. Potensi keuntungan dari terapi ini harus ditimbang baik-baik mengingat risiko perdarahan yang dapat terjadi. Saat ini terdapat beberapa randomized controlled trials besar yang sedang berjalan dan diharapkan dapat menyediakan basis bukti atas tatalaksana ini