Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
    687 research outputs found

    Takikardia Qrs Lebar: Apa Mekanismenya?

    Get PDF
    Seorang pria, 60 tahun sedang dirawat di ruang rawat intensif pasca operasi bedah pintas koroner (BPAK) dengan episode takikardia QRS lebar berulang. Pasien masih dalam keadaan terintubasi dan mendapat obat-obat vasokonstriktor/inotropik. Sebelum operasi BPAK irama jantung irama sinus normal, tetapi pasca BPAK mengalami fibrilasi atrium. Terjadi penurunan lebih lanjut tekanan darah pada saat takikardia dengan QRS lebar. Pemberian amiodarone drip tidak dapat ditoleransi karena menyebabkan tekanan darah turun, sehingga diberikan xylocard drip.Apakah mekanisme takikardia QRS lebar? Apakah xylocard obat yang tepat

    Perbaikan Progresif Kardiomiopati Peripartum dengan Fraksi Ejeksi Awal Rendah

    Get PDF
    Peripartum cardiomyopathy (PPCM) is a pregnancy-associated, idiopathic cardiomyopathy secondary to marked left ventricular dysfunction, which manifests between the last month of pregnancy and the first five months postpartum. While it is relatively rare, PPCM is associated with significant morbidity and can be fatal. Its diagnosis is often delayed because its symptoms closely resemble those within the normal spectrum of pregnancy and the postpartum period. When PPCM is misdiagnosed or is not diagnosed in time, the consequences for patients could be deadly. We present a rare case which was first misdiagnosed but had a continuous progressive recovery of LV systolic function (LVSF) within five years after it was finally diagnosed and treated.A 23 year-old female, P1A0, 8-weeks postpartum, was admitted to the emergency unit of our hospital because of dyspnea and fatigue, which developed three days after the delivery of her child. A week prior to delivery she was admitted to the hospital due to coughing, proteinuria and edema of her lower extremities. She was then diagnosed with severe preeclampsia. The patient, however, refused the administration of Magnesium-sulfate as a therapy because of personal reasons. 48 hours later, the patient was induced with oxytocin and she delivered a living female infant via vaginal delivery with no labor complications and was later discharged. Three days after delivery, the patient complained about having shortness of breath and fatigue. She went to a general practitioner who thought her symptoms were normal after a delivery. Two months later she went to an obstetric clinic for a check-up and was referred to the cardiology unit at our hospital. She stated that for the past two months, she had been experiencing symptoms such as exhaustion, palpitations, an inability to lay flat, decreased exercise tolerance and severe dyspnea.PPCM is a rare but potentially lethal disease that remains a challenge to diagnose, prognosticate, and treat. It is increasingly recognized that the condition is often diagnosed late which may indicate a poor prognosis. However, there are cases in which the initial severity of left ventricular dysfunction or dilatation is not necessarily predictive for long-term functional outcome.Kardiomiopati peripartum (PPCM) merupakan suatu keadaan kardiomiopati idiopatik yang berhubungan dengan kehamilan. Penyakit ini bermanifestasi sebagai gagal jantung akibat disfungsi ventrikel kiri dan dapat terjadi pada satu bulan terakhir kehamilan sampai dengan lima bulan setelah melahirkan. Meskipun prevalensinya tergolong rendah, PPCM dikaitkan dengan angka morbiditas yang signifikan dan dapat berakibat fatal. Diagnosis sering tertunda karena gejalanya serupa dengan gejala yang muncul pada kehamilan normal dan periode setelah melahirkan. Ketika PPCM salah atau terlambat terdiagnosis, konsekuensinya dapat berakibat fatal. Kami menyajikan sebuah kasus yang jarang terjadi ketika PPCM terlambat terdiagnosis namun mengalami pemulihan progresif dan terus menunjukkan perbaikan fungsi sistolik ventrikel kiri dalam waktu lima tahun.Seorang wanita berusia 23 tahun, P1A0, 8 minggu pospartum, diterima di Unit Gawat Darurat karena dispnea dan rasa lelah yang dirasakannya tiga hari setelah melahirkan. Seminggu sebelum melahirkan, pasien dirawat di rumah sakit karena batuk, proteinuria, dan edema pada anggota gerak tubuh bagian bawah. Pasien kemudian didiagnosis preeklampsia berat. Empat puluh delapan jam kemudian pasien melahirkan bayi perempuan dengan persalinan normal tanpa komplikasi setelah diinduksi dengan oksitosin dan diperbolehkan kembali ke rumah. Tiga hari setelah melahirkan, pasien mengeluhkan sesak napas dan rasa lelah. Pasien memeriksakan diri ke dokter umum yang menganggap bahwa gejala tersebut normal dialami setelah melahirkan. Dua bulan kemudian pasien melakukan pemeriksaan di klinik bersalin dan dirujuk kepada unit kardiologi dengan keluhan kelelahan, palpitasi, tidak bisa berbaring telentang, batas toleransi rendah terhadap kegiatan fisik, dan dispnea berat.Kardiomiopati peripartum adalah penyakit yang jarang ditemukan namun berpotensi fatal. Penyakit ini sulit terdiagnosis, terprognosis, dan diobati. Sering kali penyakit ini terlambat didiagnosis yang bisa mengindikasikan prognosis buruk. Meskipun demikian, ada kasus-kasus ketika tingkat keparahan awal disfungsi atau dilatasi ventrikel kiri belum tentu bisa memprediksi hasil jangka panjang

    Pelayanan Kesehatan Kardiologi di Era Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan: Sebuah Antitesis

    Get PDF
    Sehat adalah kebutuhan dasar setiap manusia, dan menjamin kesehatan warga adalah tugas setiap negara. Di sisi lain, untuk menjaga kesehatan diperlukan biaya yang tidak sedikit.Pada awal praktik pengobatan, pembiayaan kesehatan ditanggung oleh perseorangan. Pasien berobat ke dokter dan sebagai tanda terima kasih, pasien memberikan penghargaan berupa uang atau bentuk lainnya. Perkembangan sistem pembiayaan kesehatan dewasa ini mengarah kepada pembiayaan kolektif ketika masyarakat yang menjadi peserta dibebani premi yang dikumpulkan oleh suatu badan tertentu dan dipakai apabila peserta tersebut menerima pelayanan kesehatan. Pada dasarnya, sistem pembiayaan kolektif ini sangat baik karena akses terhadap pelayanan kesehatan menjadi lebih terbuka, biaya pelayanan kesehatan seharusnya menjadi lebih murah, dan dapat terjadi pembiayaan silang untuk mereka yang kurang mampu. Sistem pembiayaan kesehatan secara kolektif ini dikenal dengan asuransi kesehatan, dan yang tengah menjadi primadona di negara kita adalah asuransi kesehatan yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial – Kesehatan (BPJS-K). Meskipun banyak manfaat yang dapat diperoleh dari BPJS-K, apakah ada kelemahan dari sistem ini ditinjau dari profesional medis? Beberapa prinsip pengelolaan pasien yang memiliki potensi bermasalah pada pelayanan kesehatan berbasis asuransi kesehatan adalah sebagai berikut.Sehat adalah kebutuhan dasar setiap manusia, dan menjamin kesehatan warga adalah tugas setiap negara. Di sisi lain, untuk menjaga kesehatan diperlukan biaya yang tidak sedikit.Pada awal praktik pengobatan, pembiayaan kesehatan ditanggung oleh perseorangan. Pasien berobat ke dokter dan sebagai tanda terima kasih, pasien memberikan penghargaan berupa uang atau bentuk lainnya. Perkembangan sistem pembiayaan kesehatan dewasa ini mengarah kepada pembiayaan kolektif ketika masyarakat yang menjadi peserta dibebani premi yang dikumpulkan oleh suatu badan tertentu dan dipakai apabila peserta tersebut menerima pelayanan kesehatan. Pada dasarnya, sistem pembiayaan kolektif ini sangat baik karena akses terhadap pelayanan kesehatan menjadi lebih terbuka, biaya pelayanan kesehatan seharusnya menjadi lebih murah, dan dapat terjadi pembiayaan silang untuk mereka yang kurang mampu. Sistem pembiayaan kesehatan secara kolektif ini dikenal dengan asuransi kesehatan, dan yang tengah menjadi primadona di negara kita adalah asuransi kesehatan yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial – Kesehatan (BPJS-K). Meskipun banyak manfaat yang dapat diperoleh dari BPJS-K, apakah ada kelemahan dari sistem ini ditinjau dari profesional medis? Beberapa prinsip pengelolaan pasien yang memiliki potensi bermasalah pada pelayanan kesehatan berbasis asuransi kesehatan adalah sebagai berikut

    Pedoman Kepatuhan dalam Pengelolaan Pasien dengan stabil Angina/Non-STEMI tanpa PCI Prosedur (Registry Medis Dikelola)

    Get PDF
    Aim: To document current usage of antiplatelet therapy and the implementation of ACC/AHA 2007 guideline in the clinical management of unstable angina/ non-ST-elevation myocardial infarction (UA/NSTEMI) patients not undergoing PCI procedure in Indonesia (medically managed) and their risks according to Global Registry of Acute Coronary Events (GRACE) score as well as in-hospital mortality.Method: A multicenter observational, prospective disease registry, recruiting patients with UA/NSTEMI. No specific treatment will be recommended in this disease registry. Data will be collected based on Physician’s applicable daily practices without any intervention.Results: A total of 467 eligible patients, 246 patients with UA and 221 with NSTEMI, aged 18 years or older were recruited from 18 hospitals during December 2009 – January 2011. Most recruited patients were at low risk (63.9%) and only 0.9% patients were at high risk according to the GRACE score. Patients were treated with ASA (90.6%) and Clopidogrel (96.6%) when they reached the emergency department. Medical therapy instituted during hospitalization were injectable anticoagulant (91.4%), oral anticoagulant (0.9%), oral nitrate (82.7%), beta blocker (60.8%), ACE inhibitor (49%), angiotensin receptor blocker (20.3%), calcium channel blocker (19.9%), statin (13.1%), and other medications given according the presentation of complications or comorbidities. In-hospital mortality was documented in 3.2% of patients. At discharge ASA was given to 87.6% and clopidogrel to 94.2% patients.Conclusion: The result showed that most of the patients admitted with UA/NSTEMI were at low or moderate risk according to GRACE score. Although treatment with antiplatelet and anticoagulant largely followed the ACC/AHA guidelines, however, this registry documented under treatment of other medications such as ACE-inhibitors and beta blockers. Reinforcement of the guideline compliance and continuous medical education would provide better outcomes for the patients.Tujuan: Registri ini utamanya bertujuan melakukan dokumentasi terhadap pasien yang mendapatkan terapi antiplatelet dan implementasi pedoman tatalaksana klinis dari ACC/AHA bagi pasien angina tidak stabil/infark miokard tanpa elevasi segmen ST yang tidak menjalani terapi reperfusi di Indonesia (Medically Managed Registry). Tujuan tambahan adalah mengetahui tingkat risiko pasien berdasarkan Global Registry of Acute Coronary Events (GRACE) dan tingkat kematian selama perawatan di rumah sakit.Metodologi: Registri prospektif dan multi-senter dengan cakupan pasien yang telah terdiagnosis angina tidak stabil/infark miokard tanpa elevasi segmen ST yang tidak menjalani terapi reperfusi. Registri ini tidak merekomendasikan intervensi apapun. Data dicatat sesuai praktik dokter yang merawat.Hasil: Dari 18 rumah sakit di Indonesia, selama periode Desember 2009 sampai dengan Januari 2011, tercatat 467 pasien yang mempunyai kesesuaian dengan inklusi dan eksklusi, terdiri dari 246 pasien dengan angina tidak stabil dan 221 pasien dengan infark miokard tanpa elevasi segmen ST. Sebagian besar (63,9%) pasien mempunyai risiko rendah dan hanya 0,9% berisiko tinggi sesuai kriteria GRACE. Sebanyak 90,6% pasien mendapat terapi ASA dan 96,6% mendapat terapi clopidogrel saat dirawat di ruang gawat darurat. Terapi medikal yang diberikan selama perawatan rumah sakit adalah sebagai berikut: antikoagulan intravena (91,4%), antikoagulan oral (0,9%), preparat nitrat oral (82,7%), penyekat beta (60,8%), inhibitor ACE (49%), penyekat reseptor angiotensin (20,3%), calcium channel blocker (19,9%), statin (13,1%), dan obat lain sesuai komplikasi dan penyakit penyerta. Dari seluruh pasien, tercatat 3,2% meninggal selama perawatan rumah sakit. Terdapat 6,3% dari pasien dengan diagnosis infark miokard dan 0,4% dari pasien dengan diagnosis angina tidak stabil meninggal selama perawatan rumah sakit. Terapi antiplatelet yang diberikan saat meninggalkan rumah sakit adalah ASA (87,6%) dan clopidogrel (94,2%).Kesimpulan: Sebagian besar pasien mempunyai risiko rendah dan menengah berdasarkan kriteria GRACE. Sebagian besar pasien mendapatkan terapi antiplatelet yang dianjurkan oleh pedoman ACC/AHA. Registri ini mencatat sedikit pasien mendapatkan pengobatan seperti penyekat beta dan inhibitor ACE. Diperlukan usaha meningkatkan ketaatan menggunakan terapi medikal yang dianjurkan oleh pedoman tatalaksana pengobatan melalui pendidikan berkelanjutan

    Hubungan Kadar Soluble Intercellular Adhesion Molecule-1 dan Soluble Vascular Cell Adhesion Molecule-1 dengan Gradasi Trombosis Atrium Kiri pada Stenosis Mitral

    Get PDF
    Background. The relationship between inflammation and coagulation has been widely described, which adhesion molecules play important role in inflammation. Soluble intercellular adhesion molecule-1 (sICAM-1) and soluble vascular cell adhesion molecule-1 (sVCAM-1) seem to be related to thrombosis in few previous studies. The level of those molecules were increased in mitral stenosis (MS), however their relationship with left atrial thrombosis gradation is still unknown.Methods. Patients with moderate-severe MS (without any significant mitral regurgitation) who underwent transesophageal echocardiography were recruited consecutively in September-October 2013. They were divided into 3 categories of left atrial thrombosis gradation: non-thrombus without dense left atrial spontaneous echo contrast (LASEC) group, and non-thrombus with dense LASEC group, and thrombus group.Results. A total of 39 subjects were enrolled in the study with a mean age of 40.97±9.61 year. Moreover, 71.8% of them were female and 67.7% of them had atrial fibrillation (AF). Evaluation on left atrial thrombosis gradation as mentioned above showed that sICAM-1 levels were 284.74 (218.79-321.00) ng/mL, 346.86 (125.68-698.12) ng/mL, and 395.93 (171.44-1021.53) ng/mL, consecutively (p=0.280). While sVCAM-1 levels gradually increased based on those groups consecutively: 729.01 (543.93-967.80) ng/mL, 1066.00 (581.36-2470.60) ng/mL, and 1158.00 (668.66-2498.30) ng/mL (p=0.016). Multivariate analysis showed that AF and mitral valve area (MVA) influence thrombosis gradation.Conclusion. Difference in sVCAM-1 levels were found among left atrial thrombosis gradation groups in mitral stenosis, but its effect on thrombosis gradation was influenced by AF and MVA.Latar belakang. Hubungan antara inflamasi dan koagulasi telah banyak dijelaskan, dimana molekul adhesi memiliki peranan penting dalam inflamasi. Soluble intercellular adhesion molecule-1 (sICAM-1) dan soluble vascular cell adhesion molecule-1 (sVCAM-1) tampak berkaitan dengan trombosis pada beberapa penelitian sebelumnya. Molekul-molekul tersebut meningkat pada stenosis mitral (SM) namun bagaimana hubungannya dengan derajat trombosis atrium kiri belum diketahui.Metode. Pasien SM derajat sedang-berat (tanpa adanya regurgitasi mitral signifikan) yang menjalani pemeriksan ekokardiografi transesofageal diikutsertakan secara konsekutif sejak September-Oktober 2013. Penilaian gradasi trombosis atrium kiri dilakukan untuk mengkategorikan mereka menjadi kelompok non-trombus dengan left atrial spontaneous echo contrast (LASEC) tebal, dan kelompok non-trombus tanpa LASEC tebal, dan kelompok trombus. Kadar sICAM-1 dan sVCAM-1 dari vena perifer diukur dengan teknik enzyme-linked immunosorbent assay.Hasil. Sebanyak 39 subyek penelitian dengan rerata usia 40,97±9,61 tahun, 71,8% berjenis kelamin perempuan, dan 67,7% memiliki irama fibrilasi atrium. Evaluasi terhadap gradasi trombosis atrium kiri sebagaimana disebutkan diatas menunjukkan kadar sICAM-1 sebesar 284,74 (218,79-321,00) ng/mL, 346,86 (125,68-698,12) ng/mL, dan 395,93 (171,44-1021,53) ng/mL secara berurutan (p=0,280). Sedangkan kadar sVCAM-1 meningkat secara bertahap pada 3 kelompok tersebut: 729,01 (543,93-967,80) ng/mL, 1066,00 (581,36-2470,60) ng/mL, dan 1158,00 (668,66-2498,30) ng/mL (p=0,016). Analisis multivariat menunjukkan fibrilasi atrium dan area katup mitral yang mempengaruhi gradasi trombosis.Kesimpulan. Terdapat perbedaan kadar sVCAM-1 pada kelompok menurut gradasi trombosis atrium kiri pada SM, namun pengaruh sVCAM-1 terhadap gradasi trombosis atrium kiri dipengaruhi oleh fibrilasi atrium dan area katup mitral

    Anomali Pangkal Arteri Koroner: Peran CT Angiografi

    Get PDF
    Introduction: The anomalous origin of the right coronary artery (RCA) from the left coronary sinus coursing between the aorta and the pulmonary trunk is rare, but may cause myocardial ischemia and sudden death. Multislice CT coronaryangiography offers the possibility to visualize anomalous coronary artery origin non-invasively in details.Case Illustration: A 54-year-old man with a history of arterial hypertension, and hypercholesterolemia began to present with typical chest pain. After some non-invasive examination, he had coronary angiographythat revealed 70% stenosis at mid intermediate artery, normalLMCA, LAD and LCX. Ostium of RCA was found near the left valsava sinus afterrepeated cannulation attempts, no stenosis was found at RCA. After successful revascularization at intermediate artery, patient still had typical chest pain with positive ischemic response in treadmill test. Multislice CT coronary angiography was performedto evaluate the etiology of chest pain. The scan showed patent stent at intermediate artery and anomalous RCA origin from the left coronary sinus withacute angle take-off, luminal narrowing of the osteal-proximal part, as well as luminal compression between the ascending aorta and the pulmonary trunk (an interarterial course) while RCA appeared as dominant vessel. These features were considered as malignant coronary anomaly that could lead to the recommendation of surgical correction.Discussion: Accurate recognition and documentation of coronary artery anomalies are essential to determine the significance of such findings and to avoid furtherclinical complications. Multislice CT coronary angiography is a non-invasive imaging modality that can easily and precisely depict the origin and course of coronary artery anomalies as well as its relationship with adjacent structures.Pendahuluan Kasus anomali dimana arteri koroner kanan berasal dari sinus koronarius kiri yang melintas diantara aorta dan arteri pulmonalis adalah jarang, namun dapat menyebabkan iskemia miokardium dan kematian jantung mendadak. Pencitraan dengan multislice CT angiografi koroner dapat mendeteksi anomali arteri koroner secara detail dan non invasif.Ilustrasi Kasus Laki laki berusia 54 tahun dengan riwayat hipertensi dan hiperkolesterolemia datang dengan keluhan nyeri dada tipikal. Setelah dilakukan beberapa pemeriksaan non invasif, pasien menjalani angiografi koroner dan didapatkan stenosis 70% pada arteri mid intermediate, normal arteri koroner cabang utama, arteri koroner anterior desendens, dan arteri koroner sirkumfleksa. Ostium arteri koroner kanan ditemukan setelah beberapa usaha kanulasi dan terletak dekat sinus valsava kiri. Tidak didapatkan stenosis pada arteri koroner kanan. Setelah dilakukan revaskularisasi pada arteri intermediate dengan sukses, pasen masih mengeluh nyeri dada tipikal dengan respon iskemik positif pada uji latih jantung. MSCT angiografi koroner dilakukan untuk evaluasi etiologi nyeri dada. Hasil MSCT angiografi koroner menunjukkan bahwa stent pada arteri intermediate paten dan anomali arteri koroner kanan dimana berasal dari sinus koronarius kiri dengan sudut yang berbelok tajam, penyempitan lumen pada bagian osteal-proksimal, serta adanya kompresi lumen antara aorta asendens dengan arteri pulmonalis (interarterial course) dimana arteri koroner kanan merupakan pembuluh darah dominan. Anomali ini dianggap sebagai anomali koroner yang malignan dan memerlukan rekomendasi koreksi pembedahan.Diskusi Deteksi akurat dan dokumentasi anomali arteri koroner penting untuk menentukan apakah anomali tersebut menngakibatkan dampak yang signifikan atau tidak dan untuk menghindari komplikasi klinis lebih lanjut. MSCT angiografi koroner adalah modalitas pencitraan non invasif yang dapat dengan mudah dan teliti untuk mendapatkan asal maupun jalur anomali arteri koroner dan hubungannya dengan anatomi struktur lainnya

    Cardiac Cachexia dan Dampaknya terhadap Sintasan Penderita Gagal Jantung

    Get PDF
    Background. Cardiac cachexia (CC) is one of indicator of poor prognosis in heart failure. Unfortunately, its existence is often overlooked by many cardiologists, this is further complicated by small number of study concerning CC, and the controversial issues they encompasses.Methods. The aim of this study is to analyze the survival in heart failure (HF) patients with cachexia complications. A retrospective cohort study was conducted on the data from Hasan Sadikin General Hospital HF registry from March 2013 – August 2014. The inclusion criteria was the data registry (registry’s inclusion criterias: HF patients above 18 years of age with left ventricle ejection fraction (LVEF) below 40%, time onset of HF more than 6 months and exclusion criterias were valvular diseases as primary etiology of HF). The exclusion criteria was if the patients have other chronic disease (COPD, CKD, cancer). Cardiac cachexia was diagnosed in patients fulfilling the criteria from international cachexia consensus.Results. There were 39 patients, most of them were female (61.5%), with mean LVEF 28.5% (+6.7). Cardiac cachexia was diagnosed in 6 (15.3%) patients. At 6 months of follow-up after initial enrollment, the cumulative rate of death from cardiovascular cause was 83% among cachectic as compared 37.5% among noncachectic patients p=0.001 Adjusted HR (95%CI) = 8.05 (2.40–27.04). There were no association between mortality with sex (p=0.268), etiology of HF (p=0.288), LVEF (p=0.061), comorbid condition (hypertension p=0.237, diabetes mellitus p=0.163).Conclusions. We conclude that patients with cardiac cachexia is independent predictor of death in HF and warrants a special consideration in the management of HF.Latar belakang Cardiac cachexia (CC) merupakan salah satu indikator prognosis yang buruk dari gagal jantung, namun sebagian besar dari klinisi masih belum menyadari pentingnya dan besarnya dampak yang ditimbulkan oleh CC. Hal tersebut juga dipersulit dengan penelitian mengenai CC yang masih jarang dan masih banyaknya hal – hal mengenai CC yang masih kontroversial. Tujuan penelitian adalah menganalisa sintasan antara penderita gagal jantung yang menderita komplikasi CC.Metode Penelitian retrospektif kohort menggunakan data yang diambil secara konsekutif dari registri Heart Failure (HF) dilakukan di RSUP Hasan Sadikin dari Maret 2013 – Agustus 2014. Kriteria inklusi adalah semua data dari registri HF (kriteria inklusi registri: usia diatas 18 tahun, ejeksi fraksi < 40%, waktu menderita gagal jantung lebih dari 6 bulan dengan kriteria eksklusi adalah kelainan katup sebagian penyebab primer). Kriteria eksklusi adalah bila penderita memiliki kondisi kronik lain (PPOK, gagal ginjal kronik, kanker). Diagnosis CC ditegakkan menggunakan kriteria konsensus cachexia internasional.Hasil Jumlah penderita yang memenuhi kriteria adalah 39 penderita, sebagian besar adalah perempuan (61.5%) dengan rata – rata fraksi ejeksi 28.5% (+6.7). Diagnosa CC ditegakkan pada 6 penderita (15.3%). Follow up 6 bulan dilakukan dan angka kematian yang disebabkan oleh kardiovaskuler terjadi pada 83% penderita cachexia sedangkan pada penderita tanpa cachexia adalah 37.5%, p=0.001. Adjusted HR(95%CI)=8.05(2.40–27.04). Tidak ada asosiasi antara kematian dengan jenis kelamin (p=0.268), etiologi gagal jantung (p=0.288), ejeksi fraksi (p=0.061) atau kondisi komorbid (hipertensi p=0.237, diabetes mellitus p=0.163).Kesimpulan Cardiac cachexia merupakan prediktor kematian yang tidak tergantung pada faktor lainnya dan membutuhkan perhatian khusus dari klinisi dalam tatalaksana penderita gagal jantung

    Polimorfisme Gen UCP2 Dan Kadar H2O2 Terhadap Variasi CEC Sebagai Prediktor Aktivasi Endotel Pada Pasien Stroke

    Get PDF
    Research Background. Stroke as brain vascular disorder that can be ruptured vascular commonly referred to as a bleeding stroke or ischemic stroke may be due to cerebral arterial thrombosis as a final impact the progression of atherosclerosis, especially in the area of branching blood vessels. Atherogenesis related to endothelial dysfunction as a consequence shear stress exposure leads endothelial cells undergo premature senescence and activation of endothelial than occur endothelial detachment from the basement membrane as a circulating endothelial cells (CEC). Mechanism shears stress on endothelial activation can not be separated from the increased production of hydrogen peroxidase (H2O2), which will activate the PPAR-? then increase levels of free fatty acids are capable of modulating the uncoupling protein 2 (UCP 2) gene as a compensation for lowering of free fatty acids.Reseach Methods and Results. Researchers used 40 subjects were classified into two categories on a range of healthy and sick, who then performed blood sampling edge for lipid profile analysis, CEC using flowcytometry, H2O2 measurement with ELISA techniques and DNA isolation followed by PCR procedures with the Genomic DNA that has been extracted from blood samples amplified with the 5’-GCT GCT CAC AGG TCT GCC AC-3’sebagai forward primer and 5’-AGG CGT CAG GAG ATG GAC CG-3’sebagai reverse primer (Sesti et al, 2003; Oktavianthi et al, 2012). Genotype (-866) AA is characterized by fragments of 363 bp cutting results Mlu1 sites, whereas genotypes (-866) GG marked on fragments of 295 bp and 68 bp. The equipment used was a thermal cycler (Gene Amp® PCR System 9700 [Applied Biosystems, Foster City, CA, USA]). Results showed thatConclusion. CEC in the group sick 3 times higher than the healthy group as well as the levels of H2O2, but the two groups are not found polymorfism in both groups. Similarly, from the analysis of UCP2 gene allele frequencies between groups of stroke was not significantly different from the control group, this means yet certain UCP2 gene predispose and contribute to the pathogenesis of stroke.Latarbelakang. Stroke merupakan salah satu bentuk gangguan vaskuler otak yang dapat berupa ruptur vaskuler yang umum disebut sebagai bleeding stoke atau dapat berupa stroke iskemik akibat trombosis arteri serebral sebagai dampak akhir progresi aterosklerosis terutama pada area percabangan pembuluh darah. Proses aterogenesis tidak lepas dari disfungsi endotel akibat paparan shear stress yang menyebabkan sel endotel mengalami premature senescence dan terjadi aktivasi endotel yang diikuti proses pelepasan endotel (endothelial detachment) dari membran basalis dalam bentuk circulating endothelial cells (CEC). Mekanisme shears stress pada aktivasi endotel tidak lepas dari peningkatan produksi hidrogen peroxidase (H2O2) yang akan mengaktivasi PPAR-? yang kemudian akan meningkatkan kadar asam lemak bebas yang mampu memodulasi uncoupling protein 2 (UCP 2) gene sebagai bentuk kompensasi untuk menurunkan asam lemak bebas.Tujuan. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui kadar H2O2,mutasi gen UCP2 danlevel CEC didalam darah pasien stroke dan kelompok kontrol sehat. Selanjutnya akan dilihat keterikatan antara kadar H2O2 dan mutasi gen UCP2 terhadap level CEC pada seluruh sampel penelitian.Metode dan Hasil Penelitian. Peneliti menggunakan 40 subyek yang dikelompokkan menjadi 2 kategori pada rentang sehat dan sakit, yang kemudian dilakukan pengambilan darah tepi untuk dilakukan analisa lipid profile, CEC dengan menggunakan flowcytometry, pengukuran H2O2 dengan tehnik ELISA dan isolasi DNA dan dilanjutkan dengan prosedur PCR dengan Genomic DNA yang telah diekstraksi dari sampel darah diamplifikasi dengan 5’-CAC GCT GCT TCT GCC AGG AC-3’sebagai forward primer dan 5’-AGG CGT CAG GAG ATG GAC CG-3’sebagai reverse primer (Sesti et al, 2003;Oktavianthi et al, 2012). Genotipe (-866)AA ditandai oleh fragmen sebesar 363 bp hasil pemotongan situs Mlu1, sedangkan genotipe (-866)GG ditandai pada fragmen 295 bp dan 68 bp. Alat yang dipakai adalah thermal cycler (Gene Amp® PCR System 9700 [Applied Biosystem, Foster City, CA, USA]) . Hasil menunjukkan bahwaKesimpulan. CEC pada kelompok sakit 3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok sehat demikian juga dengan kadar H2O2, namun pada kedua kelompok tidak ditemukan polymorfism pada kedua kelompok. Demikian pula dari analisa frekuensi alel gen UCP2 antara kelompok stroke tidak berbeda nyata dengan kelompok kontrol, ini berarti gen UCP2 belum bisa dipastikan menjadi faktor predisposisi dan berkontribusi pada patogenesis strok

    Trombolisis dengan Panduan Kateter pada Pasien dengan Iskemia Tungkai Akut Derajat IIB

    Get PDF
    Acute limb ischemia was defined as sudden decrease in limb perfusion of less than 14 days duration, resulting in variable ischaemic clinical manifestation and potential risk of limb loss. We reported a case female 64 years old with sudden onset of right leg pain in last 3 days with history of hipertension, Diabetes Mellitus and heart failure. From physical examination of lower extremity was found pulselessness, pallor, paresthesi, poikilothermia, paralysis, and pain at the level of A. Poplitea dextra. Diagnosis was confirmed with Duplex Ultrasonography. From arteriography we found thrombus with subtotal occlusion at proximal a. Femoralis dextra and diffuse stenosis at the distal. Operation was not carried out as the request of the patient and it was decided to performed Catheter-directed Thrombolysis. In evaluation there was flow improvement at a. Femoralis dextra but it did not reach peripheral perfussion due to reperfussion injury.Iskemia tungkai akut didefinisikan sebagai hilangnya perfusi secara mendadak dari ekstremitas dengan durasi kurang dari 14 hari yang menyebabkan berbagai manifestasi klinis iskemia dan berpotensi menyebabkan kematian ekstremitas. Kami laporkan sebuah kasus wanita 64 tahun dengan keluhan nyeri mendadak pada tungkai kanan sejak 3 hari dengan riwayat hipertensi, Diabetes Mellitus dan gagal jantung. Dari pemeriksaan fisik ekstremitas bawah didapatkan hilangnya pulsasi, pucat, parestesia, rasa dingin, paralisis, dan nyeri setinggi A. Poplitea kanan. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan Duplex Ultrasonografi. Dari arteriografi didapatkan trombus dengan subtotal oklusi di proksimal A. Femoralis kanan dengan stenosis luas di distalnya. Operasi tidak dilakukan atas permintaan pasien sehingga dikerjakan Trombolisis dengan Panduan Kateter. Evaluasi paska tindakan didapatkan aliran darah pada a. Femoralis kanan baik namun perfusi tidak sampai ke perifer akibat adanya injuri reperfusi

    Perubahan metabolisme dan peran radikal bebas pada iskemia miokard

    Get PDF
    Myocardial ischemic results from severe impairment of coronary blood supply and produces a spectrum of clinical syndromes. It results in a characteristic pattern of metabolic and structural changes that leads to extremely complex situations, which have been extensively studied in recent years. A detailed understanding is now available of the complexity of the response of the myocardium to an ischemic insult. Reperfusion is the most effective way to treat the ischaemic myocardial. But, restoration of flow, however, might result in numerous other negative consequences, thus directly influencing the degree of recovery. Much evidence shows that during the period of myocardial ischemia and reperfusion can occur various changes both in terms of metabolic, electrical, histology, structural, and physiological. Pathological changes in the form of metabolic changes and the role of free radicals on the condition of ischemia and reperfusion injury will be discussed. There are several potential manifestations and outcomes associated with myocardial ischemia and reperfusion.Iskemia miokard yang timbul akibat gangguan aliran darah koroner yang berat dapat menimbulkan suatu sindroma klinis. Iskemia menyebabkan perubahan metabolik dan struktural yang sangat kompleks, dan telah dipelajari secara ekstensif dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini pemahaman mengenai kompleksitas respon miokardium terhadap kejadian iskemia secara rinci telah tersedia. Reperfusi adalah cara yang paling efektif untuk mengobati iskemia miokard. Tetapi, pemulihan aliran darah tersebut, dapat mengakibatkan berbagai konsekuensi negatif, sehingga secara langsung dapat mempengaruhi timbulnya tingkat pemulihan. Banyak bukti menunjukkan bahwa selama periode iskemia miokard dan reperfusi dapat terjadi berbagai perubahan baik dari segi metabolisme, listrik, histologi, struktural, dan fisiologis. Perubahan patologis dalam bentuk perubahan metabolik dan peran radikal bebas pada kondisi iskemia dan cedera reperfusi akan dibicarakan. Terdapat beberapa manifestasi dan hasil penting yang terkait dengan iskemia miokard dan reperfusi

    607

    full texts

    687

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Journal of Cardiology
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇