Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
    687 research outputs found

    Hemodynamic Profiles as a Predictor of Mortality and Length Of Stay in ICCU: Insight from Registry of Acute and Intensive Cardiovascular Care Outcome

    Get PDF
    Aims: The ability to differentiate high risk and low risk patients in ICCU is beneficial. Hemodynamic profiles can be used to describe patient’s condition immediately. Based on the presence of congestion and poor perfusion, patients can be divided into four hemodynamic profiles. We aim to evaluate the prognostic value of hemodynamic profiles for patient’s mortality and length of stay (LOS) in intensive cardiac care unit (ICCU). Methods: In this retrospective cohort study, patients who admitted to ICCU of National Cardiovascular Center Harapan Kita Jakarta, Indonesia, were classified into four hemodynamic profiles: dry-warm, dry-cold, wet-warm, and wet-cold. Bivariate analysis was performed to see the significance between hemodinamic profiles with mortality and LOS, continued with multvariate analysis to evaluate the contribution of other significant factors. Results: Of 742 patients included, the mortality rate was 7.8%. With dry-warm profile as reference, relative risk for mortality was 2.3 (95% CI 1.303-4.076), 5.8 (95% CI 1.992-16.906), and 8.7 (95% CI 3.513-21.567) for wet-warm, dry-cold and wet cold, consecutively. Mean differences of LOS (days) as follows: wet-warm (1.719; 95% CI 1.21-2.23), dry-cold (3.418; 95% CI 1.52-5.32), and wet-cold (4.654; 95% CI 2.64-6.67) compared to dry-warm. Hemodynamic profiles, especially wet-cold profile, consistently predicted mortality and longer LOS in ICCU by multivariable analysis. Conclusion: The presence of “wet†profile double the risk of death, “cold†profile has five fold risk of death, while the presence of both has the highest risk for mortality and longer LOS. Hemodynamic profiles assessme   Abstrak Latar Belakang: Kemampuan untuk membedakan pasien resiko tinggi dan resiko rendah di ICCU sangat penting. Profil hemodinamik dapat digunakan untuk mengenali kondisi pasien secara cepat. Berdasarkan adanya tanda kongesti dan perfusi yang buruk pasien dapat dikelompok­kan ke dalam empat profil hemodinamik. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi nilai prognostik profil hemodinamik terhadap mortalitas dan lama rawat pasien di Intensive Cardiac Care Unit (ICCU). Metode : Studi kohort retrospektif ini dilakukan di Rumah Sakit Pusat Jantung dan Pembuluh Darah Nasional Harapan Kita, Jakarta, Indo­nesia. Pasien yang dirawat di ICCU dikelompokkan ke dalam empat profil hemodinamik: kering-hangat, kering-dingin, basah-hangat dan basah-dingin. Analisis bivariate dilakukan untuk menilai hubungan antara profil hemodinamik dengan mortalitas dan lama rawat di ICCU, dilanjutkan dengan analisis multivariate untuk mengevaluasi kontribusi faktor-faktor lain yang signifikan Hasil : Total pasien yang ikut dalam studi sebanyak 742 pasien dan tingkat mortalitas sebesar 7,8%. Resiko relatif (RR) mortalitas untuk profil basah-hangat, kering-dingin dan basah-dingin berturut-turut sebesar 2.3 (95% CI 1.303-4.076), 5.8 (95% CI 1.992-16.906), dan 8.7 (95% CI 3.513-21.567) bila dibandingkan terhadap profil kering-hangat sebagai referensi. Rerata perbedaan lama rawat sebesar 1.719 (95% CI 1.21-2.23), 3.418 ( 95% CI 1.52-5.32), (4.654 (95% CI 2.64-6.67) untuk profil basah-hangat, kering-dingin, dan basah dingin berturut-turut bila dibandingkan dengan profil kering-hangat. Profil hemodinamik, terutama profil basah-dingin secara konsisten memprediksi mortalitas dan lama rawat yang lebih panjang setelah analisis multivariat. Kesimpulan: Profil “basah†memiliki resiko mortalitas dua kali lipat, profil “dingin†memiliki resiko mortalitas lima kali lipat, sedangkan ked­uanya secara bersamaan memiliki resiko mortalitas dan lama rawat lebih panjang paling tinggi. Profil hemodinamik dapat digunakan sebagai prediktor mortalitas dan lama rawat pasien di ICCU secara efektif. &nbsp

    Sistem Skoring Diagnosis Fibrilasi Atrium pada Kasus Stroke Iskemik

    Get PDF
    Background & Objectives. Atrial Fibrillation (AF) is the most common arrhytmia that is found in daily practices. Patients with AF have four- to five-fold increased risk of developing ischemic stroke compared to normal population. Diagnosing AF can sometimes be quite difficult especially in the setting of paroxysmal AF. Moreover, paroxysmal AF can also increase the risk of thromboembolic complications. Some cases of cryptogenic stroke are believed to be cardioembolic in origin which caused by occult AF. This study aimed to develop a simple scoring system to detect patients with ischemic stroke most likely to have AF, so that recurrent stroke can be prevented.Methods. We conducted diagnostic study using cross sectional design. Total 173 subjects were gathered. Those subject were patients with ischemic stroke admitted in Belitung or Ruteng General Hospital from January 2014 until August 2015. Data collected were subjects’ characteristics, hypertension, diabetes, obesity, dyslipidemia, smoking history, congestive heart failure (CHF), alcohol consumption, valvular heart disease, chronic obstructive pulmonary disease, myocardial infarct history, previous stroke, Modified National Institutes of Health Stroke Scale (mNIHSS) score, and left atrial diameter (LAD). We analyzed those data using bivariate and logistic regression multivariate analysis.Results. Multivariate analysis showed significant relationship between AF and some of the variables, which are hypertension, diabetes, obesity, CHF, left atrial enlargement, age and mNHISS score. We developed 7-point scoring system derived from those variables. A cutoff score of 3 or higher has sensitivity 97,1% and specificity 54,3%. Also, this scoring system has Area Under the Curve (AUC) value of 88,9% (IK95% 83,1% - 94,7%).Conclusion. This scoring system uses only clinical and echocardiographic profile that are easy to do, so it can be utilized as a simple diagnostic tool to identify ischemic stroke patient who is likely to have AF. Future studies are needed to determine another possibly related parameters.Pendahuluan. Fibrilasi Atrium (FA) merupakan aritmia tersering yang ditemukan pada praktik sehari-hari. Penderita FA mempunyai risiko stroke empat sampai lima kali lipat lebih besar dibandingkan populasi normal. Diagnosis FA kadang menjadi masalah khusus terutama pada FA yang bersifat paroksismal, padahal pasien dengan FA paroksismal tetap memiliki risiko stroke. Beberapa kasus stroke kriptogenik seringkali memiliki etiologi kardioembolik yang disebabkan oleh FA yang tidak terdeteksi. Penelitian ini bertujuan untuk mencari suatu sistem skoring sederhana untuk mendeteksi kemungkinan adanya fibrilasi atrium pada kasus stroke iskemik, sehingga kejadian stroke berulang dapat dicegah.Metode. Penelitian ini merupakan studi diagnostik dengan desain potong lintang terhadap 173 pasien stroke iskemik yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Belitung atau RSUD Ruteng dalam rentang waktu Januari 2014-Agustus 2015. Data yang dikumpulkan berupa karateristik subjek, hipertensi, diabetes, obesitas, dislipidemia, merokok, gagal jantung kongestif, hipertiroid, konsumsi alkohol, penyakit katup, penyakit paru obstruktif kronik, riwayat infark miokard, riwayat stroke berulang, skor Modified National Institutes of Health Stroke Scale (mNIHSS), dan ukuran diameter atrium kiri. Dari data tersebut dilakukan analisis bivariat dilanjutkan analisis mutivariat menggunakan regresi logistik.Hasil. Analisis multivariat menunjukkan hubungan yang bermakna antara variabel hipertensi, diabetes, obesitas, gagal jantung kongestif, dilatasi atrium kiri, usia, dan skor mNHISS dengan fibrilasi atrium. Dari variabel tersebut dibuat suatu sistem skoring dengan maksimal skor 7. Skor 3 atau lebih sebagai titik potong memiliki sensitivitas 97,1% dan spesifisitas 54,3%. Nilai Area Under the Curve (AUC) dari sistem skoring ini adalah 88,9% (IK95% 83,1% - 94,7%).Simpulan. Sistem skoring pada penelitian ini menggunakan profil klinis dan ekokardiografi yang mudah untuk dikerjakan, sehingga, dapat digunakan sebagai alat diagnostik sederhana untuk menilai kemungkinan adanya FA pada pasien dengan stroke iskemik. Penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk menilai parameter-parameter lain yang mungkin berhubungan dengan kejadian FA pada pasien stroke iskemik tersebut

    Hubungan antara Perubahan Dispersi QT pada Uji Latih Treadmill dengan Derajat Keparahan Lesi Koroner pada Pasien Terduga Penyakit Jantung Koroner Stabil

    Get PDF
    Background: QT Dispersion (QTd) is known as a spatial dispersion indicator during myocardial repolarization, and elongation of QTd is related with ventricular arrhythmia event and sudden cardiac death in ischemic heart disease. The increase of QTd happens in coronary heart disease during myocardial ischemia induced by treadmill test. There is no research linking changes of the QTd (?QTd) on exercise test with the severity of coronary lesions in patients with suspected stable coronary artery disease. The aim of this study was to determine the relationship between QTD changes on exercise test with the severity of coronary lesions in patients with stable coronary artery disease and to determine discriminatory value of QTD changes based on the degree of coronary lesions.Methods: This study was a cross-sectional study in Dr. Sardjito Hospital using data from January 1, 2012. Patients with positive exercise test result, already performed coronary angiography and meet the inclusion and exclusion criteria included in the study. QTd changes during exercise test were measured and Syntax scores were assessed based on the results of coronary angiography. Statistical analysis was performed to determine the relationship between two variables.Results: There were 76 patients with average of 56.64±7.41 years old, with 54 male subjects (71.1%). The most frequent risk factor were hypertension, there were 57 subjects (75%), followed by 32 subjects of dyslipidemia (42.1%), 27 subjects of DM (35.5%), 24 smoker (31.6%), and 2 subjects with family history of CHD (2.6%). Subjects with high Syntax score were 30 subjects (39.5%) and the low Syntax score were 46 subjects (60.5%). In this research, there was positive relationship with medium strength (r=0.531, p<0.001) between ?QTd and Syntax score. Value of QT dispersion changes of 44.78 milliseconds is optimal cut-off point that discriminates between high and low Syntax score.Conclusion: There were positive correlations between changes of QTd dispersion with degree of coronary lesion that was analyzed using Syntax with medium strength.Latar Belakang: Dispersi QT (QTd) telah diketahui sebagai indikator dispersi spasial selama repolarisasi otot jantung. Pemanjangan QTd berhubungan dengan kejadian aritmia ventrikuler dan kematian jantung mendadak pada penyakit jantung iskemik. Belum ada penelitian yang menghubungkan perubahan QTd saat uji latih treadmill (ULT) dengan derajat keparahan lesi koroner pada pasien terduga penyakit jantung koroner (PJK) stabil. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara perubahan QTd saat ULT dengan derajat keparahan lesi koroner pada pasien PJK stabil dan mencari nilai QTd yang diskriminatif berdasarkan derajat lesi koroner.Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang di RSUP dr. Sardjito dengan menggunakan data sejak 1 Januari 2012. Pasien dengan ULT positif, telah mendapatkan angiografi koroner dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dimasukkan ke dalam penelitian. Pengukuran perubahan QTd dilakukan pada saat ULT dan penilaian skor Syntax dilakukan berdasarkan hasil angiografi koroner. Analisis statistik dilakukan untuk mengetahui hubungan kedua variabel.Hasil: Terdapat 76 pasien dengan rerata usia 56,64±7,41 tahun, dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 54 subjek (71,1%). Faktor risiko terbanyak adalah hipertensi yaitu 57 subjek (75%), diikuti dislipidemia 32 subjek (42,1%), DM 27 subjek (35,5%), merokok 24 subjek (31,6%), dan riwayat keluarga menderita PJK 2 subjek (2,6%). Pada penelitian ini didapatkan hubungan yang positif dengan kekuatan sedang (r=0,531, p<0,001) antara ?QTd dengan skor Syntax. Nilai ?QTd 44,78 milidetik merupakan titik potong optimal yang diskriminatif antara skor Syntax tinggi dan rendah.Kesimpulan: Terdapat hubungan yang positif antara perubahan dispersi QT dengan derajat keparahan lesi koroner yang dinilai menggunakan skor Syntax dengan kekuatan sedang

    Ruptur Aneurisma Sinus Valsava Ke Ventrikel Kanan: Peranan Ekokardiografi

    Get PDF
    1% of the incidence of congenital cardiac anomalies. The most frequent complication is rupture into the right ventricle, causing a shunt from left to right or aortic valve insufficiency with congestive heart failure requiring immediate surgical management. Echocardiography is a diagnostic modality that can be used to help diagnose the presence of sinus Valsalva aneurysm and complications.Clinical case: A 35 years old man with complaints dating dyspnoea on exertion and swelling in both legs. Cardiac auscultation obtained their continuous noisy grade III / VI in the lower left sternal border. Electrocardiography showed sinus tachycardia tachycardia with right axis deviation, right ventricular hypertrophy, and ventricular extrasystoles. Transthoracic echocardiography (TTE) and transesophageal echocardiography (TEE) shows an overview of the sinus of Valsalva aneurysm rupture to the right of the right ventricle.Discussion: When on the clinical findings led to the suspicion rupur sinus of Valsalva aneurysm, the evaluation can be performed using TTE, TEE, Magnetic Resonance Imaging (MRI), maupunkateterisasi heart. Gold standard diagnosis of ruptured sinus Valsalva aneurysm is a cardiac catheterization, but with the advancement of a new generation of engines echocardiography, TTE and TEE has played an important role in the diagnostic confirmation of sinus of Valsalva aneurysm rupture.Conclusion: Echocardiography is the diagnostic modality that is quite helpful in making the diagnosis, complications and surgical therapeutic options in cases of ruptured sinus of Valsalva aneurysm.Latar Belakang: Aneurisma sinus valsava merupakan anomali yang jarang terjadi yang hanya meliputi 1% dari kejadian anomali jantung bawaan. Komplikasi yang paling sering adalah ruptur ke ventrikel kanan, menyebabkan pirau dari kiri ke kanan atau insufisiensi katup aorta dengan gagal jantung kongestif yang memerlukan manajemen bedah segera. Ekokardiografi merupakan modalitas diagnostik yang dapat digunakan untuk membantu mendiagnosis adanya aneurisma sinus valsava maupun komplikasinya.Kasus klinis: Seorang pria 35 tahun dating dengan keluhan sesak saat aktivitas dan bengkak pada kedua kaki. Pemeriksaan auskultasi jantung didapatkan adanya bising kontinu grade III/VI di batas sternum kiri bawah. Elektrokardiografi menunjukkan takikardia sinus takikardia dengan deviasi aksis ke kanan, hipertrofi ventrikel kanan, dan ventrikel ekstrasistol. Ekokardiografi transtorakal (TTE) dan ekokardiografi transesofageal (TEE) menunjukkan gambaran aneurisma dari sinus Valsava kanan yang ruptur ke ventrikel kanan.Diskusi: Apabila dari temuan klinis mengarah ke kecurigaan adanya rupur aneurisma sinus Valsava, maka evaluasi dapat dilakukan menggunakan TTE, TEE, Magnetic Resonance Imaging (MRI), maupun kateterisasi jantung. Baku emas diagnosis adanya ruptur aneurisma sinus Valsava adalah kateterisasi jantung, tetapi dengan kemajuan generasi baru mesin ekokardiografi, TTE dan TEE telah memainkan peran penting dalam konfirmasi diagnostik ruptur aneurisma sinus Valsava.Kesimpulan: Ekokardiografi merupakan modalitas diagnostik yang cukup membantu dalam menegakkan diagnosis, komplikasi maupun pilihan terapi bedah pada kasus ruptur aneurisma sinus Valsava

    Implikasi Klinis Gambaran Elektrokardiogram Low-voltage

    Get PDF
    Low-voltage on the surface electrocardiogram (ECG) is classically defined as peak-to-peak QRS voltage less than 5 mm in all limb leads and less than 10 mm in all precordial leads. There are many causes of low QRS voltage (LQRSV), and they can be differentiated into those due to the deficient heart’s generated potentials (cardiac causes) and those due to the attenuating influences of the pericardial space and pericardium, or the passive body volume conductor, enveloping the heart (extracardiac causes). In some patients, LQRSV voltage may only represent a normal variant. The ECG challenge for this issue is to examine the physiological, anatomical and electrical equipment problems of low-voltage, or low-amplitude, ECG and to suggest methods for troubleshooting the low-voltage ECG to ensure reliable cardiac monitoring.Gambaran low-voltage pada elektrokardiogram (EKG) secara klasik didefinisikan sebagai voltase QRS dari puncak ke puncakkurang dari 5 mm pada seluruh elektroda ekstremitas dan kurang dari 10 mm pada seluruh elektroda prekordial. Terdapatbanyak penyebab dari gambaran EKG low-voltage, yang dapat dibedakan menjadi akibat defisiensi pembentukan aksi potensialjantung (penyebab kardiak) dan akibat pengaruh rongga perikard dan perikard, atau konduksi pasif volume tubuh yangmelingkupi jantung (penyebab ekstrakardiak). Pada beberapa pasien, gambaran EKG low-voltage dapat merupakan variasinormal. Tantangan para klinisi dalam menghadapi gambaran EKG ini adalah menyesuaikan kembali temuan pemeriksaan fisik,anatomis, dan permasalahan teknis EKG untuk menelaah kembali gambaran EKG low-voltage dalam hubungannya denganmonitoring masalah jantung

    Peran Asam Lemak Omega-3 pada Dislipidemia dan Penyakit Kardiovaskular

    Get PDF
    Globally, coronary heart disease (CHD) is a leading cause of mortality and morbidity, especially in developing countries. Both marine and plants sources of omega-3 fatty acids has been shown to be beneficial in reducing CHD mortality. Beside of anti-arrhythmic effects, omega-3 has been shown anti-thrombotic and anti-atherosclerotic effect. In 2011, US population spent about 25 billion US dollar for omega-3 supplement; it is projected to be 35 billion US dollar in the year 2016. Several reviews on randomized controlled trial conclude that omega-3 fatty acids reduced plasma triglyceride level consistently in a dose-dependent fashion. Other beneficial effects on blood pressure, endothelial function and high density lipoprotein (HDL) level participate in lowering CHD mortality. American Heart Association (AHA) recommended routine fish consumption as secondary prevention in patient at risk. Omega-3 fatty acids role in primary prevention is inconclusive and need further investigation regarding cost-benefit and bleeding risk.Penyakit jantung koroner (PJK) menempati urutan pertama penyebab mortalitas dan morbiditas secara global, terutama di negara berkembang. Asam lemak omega-3 baik dari hewan laut maupun tanaman disebutkan dalam beberapa studi terbukti dapat menurunkan risiko kematian akibat penyakit jantung koroner. Selain efek anti-aritmiknya, asam lemak omega-3 juga ditemukan memiliki efek anti-trombotik dan anti-aterosklerotik. Pada tahun 2011, masyarakat Amerika Serikat menghabiskan sekitar 25 miliar dolar AS untuk suplemen omega-3; angka ini diperkirakan mencapai 35 miliar dolar AS pada tahun 2016. Kajian terhadap beberapa uji terkontrol acak menunjukkan asam lemak omega-3 secara konsisten menurunkan kadar trigliserid plasma bergantung dari dosis yang diberikan. Efek lainnya terhadap penurunan tekanan darah, perbaikan fungsi endotel, dan peningkatkan kadar high density lipoprotein (HDL) dalam darah juga disebut berperan menurunkan mortalitas pada PJK. American Heart Association (AHA) merekomendasikan konsumsi ikan yang rutin sebagai bentuk pencegahan sekunder pada kelompok pasien berisiko tinggi PJK. Peran asam lemak omega-3 sebagai pencegahan primer perlu dikaji lebih lanjut dengan mempertimbangkan risiko perdarahan dan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk suplemen omega-3

    Efek Akut Manuver Slow Deep Breathing terhadap Penderita Hipertensi Esensial Derajat 1 dan 2

    Get PDF
    Background: Hypertension remains one of the most common health issues in Indonesia. Slow deep breathing maneuver is a non-pharmacological therapy that achieves systolic and diastolic blood pressure lowering effect through sympathetic and parasymphathetic firing rate.Methods: This study was done using cross-sectional design, with consecutive sampling. Sample population was patients with hypertension stage 1 and 2, age range 40-55 years old, who came to Puskesmas Balaraja.Results: Systolic blood pressure lowered from 148.04+5.82 mmHg to 138.15+5.9 mmHg (p<0.05) and diastolic pressure lowered from 85+5.05 mmHg to 78.47+5.46 mmHg (p<0.05). This study showed that there is a relation between the manuever and lowering the systolic and diastolic blood pressure (p=0.000, on T-Test analytical study).Conclusion: Based on the data, the slow deep maneuver can be used as a non-pharmacological therapy for patients with hypertension. Because the effect is acute, it can be considered for hypertension crisis, but further studies are still needed.Latar Belakang: Hipertensi masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia. Manuver slow deep breathing merupakan tata laksana non-farmakologis dengan mekanisme kerja menurunkan tekanan darah sistolik maupun diastolik dengan memodifikasi firing rate saraf simpatik dan parasimpastik.Metode: Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang. Yang menjadi sampel penelitian adalah penderita hipertensi derajat 1 dan 2 di rentang usia 40-55 tahun yang datang memeriksakan diri ke Puskesmas Balaraja. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode consecutive sampling.Hasil: Tekanan darah sistolik turun dari 148,04+5,82 mmHg menjadi 138,15+5,9 mmHg dengan p<0,05, dan tekanan darah diastolik turun dari 85+5,05 mmHg menjadi 78,47+5,46 mmHg. Penelitian ini membuktikan bahwa terdapat hubungan antara manuver dengan penurunan tekanan darah sistolik maupun diastolik, p=0,000, pada uji analisis T-Test.Kesimpulan: Berdasarkan data, manuver slow deep breathing ini dapat dijadikan terapi non-farmakologis bagi pasien. Karena efeknya akut, manuver ini bisa dipertimbangkan untuk keadaan krisis hipertensi namun diperlukan penelitian lebih lanjut pada populasi tersebut

    Shock Index as Simple Clinical Independent Predictor of In-hospital MACEs in NSTEMI Patients Presenting with Heart Failure

    Get PDF
    Background: Identification of Non-ST Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI) patientsat higher risk of in-hospital complications is very important. Such identification will givecrucial information in determining treatment strategy especially for those come with heartfailure. One of the simple predictor for short term prognosis in acute coronary syndromeis shock index (SI), which is the ratio of heart rate over systolic blood pressure on admission.There had not been any study conducted to evaluate the use of SI in NSTEMI patientscome with heart failure. The aim of this study is to evaluate the SI compared with otherroutine clinical and laboratory examination as a predictor of in-hospital major adversecardiac events (MACEs) in NSTEMI patients presenting with heart failure.Methods: We performed a retrospective analysis of NSTEMI patients with heart failureadmitted to Haji Adam Malik General Hospital in Medan from January 2014 until July 2015.SI was calculated as the ratio of heart rate over systolic blood pressure on presentation.Patients presenting with cardiogenic shock were excluded.Results: There were 55 patients eligible in this study. In-hospital MACEs was found in 24patients (44%) compared with 31 patients (56%) without in-hospital MACEs. Patientswith in-hospital MACEs were older (60.6±10.8 vs. 57.2±7.9, p=0.178), had less historyof dyslipidemia [8(33%) vs. 19 (61%), p=0.032], faster heart rate (111.4±35.8 vs.96.5±24.3, p=0.032], higher GRACE score [139(98-187) vs. 120 (91-148); p=0.001],and higher SI [0.83(0.57-1.5) vs. 0.67 (0.38-1.27), p=0.013). SI >0.8 was the only independentpredictor of MACEs in NSTEMI patients presenting with heart failure (OR=4.3,CI=1.247-14.328, p=0.048).Conclusion: Beyond other routine examinations, SI is the only independent predictor ofin-hospital MACEs in NSTEMI patients presenting with heart failure

    Perkembangan Implikasi Biologi dan Klinis Proprotein Convertase Subtilisin-Kexin 9

    Get PDF
    Pada tahun 2003 Proprotein Convertase Subtilisin-Kexin 9 (PCSK9) berhasil diidentifikasi.1 PCSK9 berfungsi meningkatkan kadar LDL Cholesterol (LDL-C) melalui degradasi LDL Receptor (LDLR).2 Penemuan PCSK9 telah merevolusi serta merupakan perkembangan terpenting pada bidang riset kardiovaskular satu dekade terakhir, terutama dalam regulasi LDL-C. 1Pada tahun 2003 Proprotein Convertase Subtilisin-Kexin 9 (PCSK9) berhasil diidentifikasi.1 PCSK9 berfungsi meningkatkan kadar LDL Cholesterol (LDL-C) melalui degradasi LDL Receptor (LDLR).2 Penemuan PCSK9 telah merevolusi serta merupakan perkembangan terpenting pada bidang riset kardiovaskular satu dekade terakhir, terutama dalam regulasi LDL-C.

    Era Jaminan Kesejahteraan Nasional: Tantangan dan Kesempatan untuk Standarisasi Pelayanan Kardiovaskular

    Get PDF
    Cerita dimulai dengan terbitnya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang merupakan salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak.1 Sistem ini tentu saja ditunggu oleh berbagai pihak yang mengharapkan peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan jaminan sosial dari negara.Cerita dimulai dengan terbitnya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang merupakan salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak.1 Sistem ini tentu saja ditunggu oleh berbagai pihak yang mengharapkan peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan jaminan sosial dari negara

    607

    full texts

    687

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Journal of Cardiology
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇