Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
    687 research outputs found

    Predictor of Left Atrial Spontaneous Echocardiographic Contrast in Rheumatic Mitral Stenosis Patients

    Get PDF
    Background: Previously conducted researches showed that presence of SEC in the left atrium can constitute a risk factor for thrombus formation. Some previous studies have also reported that in addition to atrial fibrillation and blood stasis in the left atrium, the pathophysiology of left atrial thrombus and SEC occurring in patients with rheumatic mitral stenosis exhibits some other mechanisms, such as autoimmunity, inflammation and increased thrombotic activity. Methods: Cross sectional study was conducted between July 2015 to July 2017 in patient who admitted to Haji Adam Malik Hospital due to rheumatic mitral stenosis. They were divided into two groups according to presence of left atrial SEC. Result: From 104 patients, 52 (mean age 40 ± 11 years; 71,2% women) were in the left atrial SEC-negative group and 52 patients (mean age 40 ± 10 years; 73,1% women) were in the left atrial SEC-positive group. There were no significant differences in the leucocyte, 8,06±1,54 were in the left atrial SEC-negative group and 7,37±1,76 were in the left atrial SEC-positive group. In multivariate analysis, atrial fibrillation (OR = 51,311, 95% CI 3,723 – 707,100, p = 0,003) neutrophil/lymphocyte ratio (OR = 21,641, 95% CI 5,174 – 90,528, p < 0,001), mitral valve area (OR = 14,423, 95% CI 1,665 – 124,908, p = 0,015), and RDW (OR = 5,743, 95% CI 1,349 – 24,445, p = 0,018), These study show that neutrophil/lymphocyte ratio with cut off point of >3,2 had sensitivity, spesificity, positive predictive value, and negative predictive value to predict left atrial SEC is the same 81%, respectively. Conclusion: Atrial fibrillation, neutrophil/lymphocyte ratio, RDW and mitral valve area can predict left atrial spontaneous echocardiographic contrast in rheumatic mitral stenosis patients.   Abstrak Latar Belakang: Penelitian sebelumnya menunjukkan adanya SEC di atrium kiri menjadi faktor risiko untuk pembentukan trombus. Pada pasien stenosis mitral rematik, risiko trombosis dan perkembangan SEC di atrium kiri tinggi. Beberapa penelitian sebelumnya melaporkan bahwa patofisiologi trombus dan SEC di atrium kiri selain fibrilasi atrium dan stasis aliran darah di atrium kiri juga adanya beberapa mekanisme lain seperti respon imun, inflamasi dan peningkatan aktifitas trombotik. Metode: Ini adalah penelitian observasional yang bersifat cross sectional, dilakukan dari Juli 2015 sampai Juli 2017 terhadap pasien stenosis mitral rematik yang datang ke rumah sakit Haji Adam Malik. Pasien dibagi 2 kelompok berdasarkan kehadiran SEC di atrium kiri menurut hasil pemeriksaan ekokardiografi. Hasil: Didapatkan 104 pasien, dimana 52 pasien (usia rata-rata 40 ± 11 tahun, 71% wanita) merupakan kelompok tanpa SEC, dan 52 pasien (usia rata-rata 40 ± 10 tahun, 73% wanita) merupakan kelompok dengan SEC. Tidak ada perbedaan bermakna pada lekosit, dimana kelompok tanpa SEC (8,06±1,54) dan kelompok dengan SEC (7,37±1,76). Dari analisis multivariat regresi logistik, didapatkan fibrilasi atrium (OR = 51,311, nilai IK 95% antara 3,723 – 707,100, p = 0,003) rasio netrofil/limfosit (OR = 21,641, nilai IK 95% antara 5,174 – 90,528, nilai p < 0,001), area katup mitral (OR = 14,423, nilai IK 95% antara 1,665 – 124,908, nilai p = 0,015), dan RDW (OR = 5,743, nilai IK 95% antara 1,349 – 24,445, nilai p = 0,018), merupakan prediktor independen untuk terjadinya SEC. Titik potong untuk nilai rasio N/L > 3,2 memiliki angka sensitivitas, sensitifitas, nilai prediktif positif dan nilai prediktif negatif yang sama yaitu masing-masing 81% untuk memprediksi kejadian SEC di atrium kiri pada pasien stenosis mitral rematik. Kesimpulan: Fibrilasi atrium, rasio netrofil/limfosit, RDW dan area katup mitral dapat menjadi prediktor SEC di atrium kiri pada pasien stenosis mitral rematik

    Laporan Dua Kasus Sindrom Twiddler pada Pasien dengan Pemasangan Implanted Cardioverter-Defibrillator dan Permanent Pacemaker

    Get PDF
    Background: Twiddler syndrome is an infrequent but potentially dangerous complication of device therapy for dysrhythmias. This syndrome results from manipulation of implanted pulse generator by the patient, leading to traction and subsequent lead dislodgement. It can also occur spontaneously. It has been increasingly reported with pacemaker or implantable cardioverter-defibrillators (ICDs). In this reports, we describe two patients with Twiddler syndrome with substantial retraction of their lead who denied any manipulation of their device.Case Illustration: The first patient was a 56 year-old man with single-chamber ICD due to dilated cardiomyopathy (DCM) with congestive heart failure and severe systolic left ventricular dysfunction (ejection fraction 18%). The dislodged lead causing rhythmical twitching of left pectoral muscles and abdominal pulsations. The second patient was a 69 year-old man with dual-chamber pacemaker due to total atrioventricular block with normal systolic left ventricular function (ejection fraction 70%). It manifested as dyspnea on effort, and he also underwent pacemaker implantation. They underwent primary devices implantation at April 2016 and reposition of generators and its leads in December 2016. The first and second patients denied of manipulating the generator of ICD or pacemaker and rotated their left arm and right arm, respectively, after implantation.Summary: Other unconscious arm abduction during sleep or increased muscular activity of the shoulder and arm might have led to repetitive motions within the pocket and dislodge the device. Adequate individualized patient and family education and regular evaluation every 6 month of the leads position with fluoroscopy or chest X-ray is advisable.Latar belakang: Sindrom Twiddler merupakan komplikasi yang jarang terjadi namun berpotensi bahaya pada tatalaksana disritmia. Sindrom ini terjadi akibat manipulasi pada generator yang menyebabkan tarikan sehingga lead terlepas atau terjadi spontan. Komplikasi ini semakin banyak dilaporkan pada pasien dengan permanent pacemaker (PPM) atau implanted cardioverter-defibrillator (ICD). Laporan kasus ini menunjukkan dua pasien dengan ICD dan PPM yang mengalami sindrom Twiddler walaupun kedua pasien tersebut menyangkal melakukan manipulasi pada alat.Ilustrasi kasus: Pasien pertama, seorang laki-laki berusia 56 tahun dengan single chamber ICD karena kardiomiopati dilatasi (DCM) dengan fraksi ejeksi 18%. Keluhan sindrom Twiddler dirasakan sebagai kejutan listrik yang teratur di dinding dada dan pulsasi di abdomen. Pasien kedua seorang laki-laki 69 tahun dengan dual chamber pacemaker karena penyumbatan atrioventrikular total (TAVB) dengan fungsi ventrikel kiri normal. Manifestasi sindrom ini adalah pasien merasakan keluhan yang sama seperti sebelum pemasangan pacemaker yaitu sesak saat beraktivitas. Kedua pasien menjalani implantasi alat pada April 2016 dan reposisi dilakukan pada Desember 2016. Keduanya sama-sama menyangkal melakukan manipulasi pada alat.Kesimpulan: Gerakan yang tidak disadari saat tidur dan peningkatkan aktivitas otot bahu dan lengan menimbulkan gerakan berulang yang memicu tarikan pada lead sehingga terjadilah sindrom Twiddler. Edukasi pada pasien dan keluarga serta evaluasi teratur dengan fluoroskopi atau rontgen thorax secara berkala setiap enam bulan sangat diperlukan

    Dilema Penggunaan Statin dan Aspirin sebagai Alternatif Pencegahan Primer Penyakit Kardiovaskular

    Get PDF
    Cardiovascular disease is one of the deadliest diseases in the world. Nowadays, alongside the developments of various medical therapeutic strategies, there is a decreasing trend of cardiovascular mortality. However, this reduction is not adequate and needs to be supported by cardiovascular prevention approaches. Statins and aspirin are two of cardiovascular drugs that are believed to be beneficial in cardiovascular prevention. Their magnificent efficacies in the secondary prevention setting lead them to be used in the primary prevention. However, some safety issues associated with the drugs should be considered. For that reason, based on previous trials and studies, some recommendations regarding the efficacy-safety issues are developed.Penyakit kardiovaskular adalah salah satu penyakit dengan angka kematian tertinggi di dunia. Saat ini, seiring dengan perkembangan berbagai metode penatalaksanaan medis penyakit kardiovaskular, didapatkan penurunan angka kematian yang diakibatkan oleh penyakit-penyakit tersebut. Namun, penurunan ini belum adekuat dan masih membutuhkan upaya pencegahan penyakit kardiovaskular sebagai intervensi penunjang. Statin dan aspirin adalah dua jenis obat kardiovaskular yang diyakini memiliki efek farmakologis mumpuni dalam pencegahan penyakit kardiovaskular. Efikasi kedua obat tersebut dalam pencegahan sekunder mengarahkan penggunaannya dalam lingkup yang lebih luas, yakni pencegahan primer penyakit kardiovaskular. Namun, beberapa masalah keamanan obat sering ditemui dan harus diperhatikan dalam penggunaannya. Dengan alasan inilah, berdasarkan penelitian dan eksperimen terkini, rekomendasi mengenai penggunaan kedua obat tersebut untuk penyakit kardiovaskular saat ini sedang dikembangkan

    Aktivasi Neurohormonal dan Remodeling Atrium Kiri pada Stenosis Mitral

    Get PDF
    Mitral stenosis is closely related with the hemodynamic consequences of obstructed mitral leaflet. Definitive therapy in mitral stenosis is mechanical intervention. Late presentation of mitral stenosis patients to medical facilities due to limited health facilities and Indonesian’s demographic, often make patients’ condition deteriorates, in which intervention need to be delayed or even no longer suitable. Stretched left atrium and reduced cardiac output stimulate several neurohormonal activation; renin-angiotensin-aldosterone and symphatetic nervous system. Left atrial remodeling further worsen hemodynamic ststus. Renin-angiotensin-aldosterone and sympathetic blockage could improve mitral stenosis patients’ condition with close observation to hypotension status.Gejala dari stenosis mitral berkaitan erat dengan konsekuensi hemodinamik yang diakibatkan oleh obstruksi dari katup mitral. Terapi definitive pasien dengan stenosis mitral adalah intervensi mekanik baik dengan komisurotomi mitral perkutan atau pun intervensi bedah. Keterlambatan presentasi pasien pada akses medis yang didukung oleh keterbatasan fasilitas kesehatan dan letak demografis Indonesia, terkadang membuat keadaan pasien hadir dengan presentasi yang lebih berat. Sehingga tidak jarang suatu tindakan, baik intervensi non bedah atau pun intervensi bedah harus ditunda dengan memberikan optimalisasi medika mentosa terlebih dahulu. Peregangan atrium kiri dan penurunan curah jantung mengaktifkan serangkaian aktivasi neurohormonal. Remodeling atrium kiri diperantai oleh aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS) dan simpatis yang memperburuk gejala dari pasien dengan stenosis mitral. Blokade dari aktivasi RAAS dan simpatis dapat memperbaiki gejala pada pasien dengan stenosis mitral dengan melakukan observasi pada status hipotensi

    Pemeriksaan Ekokardiografi Fungsi Diastolik Ventrikel Kiri: Apa yang baru dari Rekomendasi ASE dan EACVI 2016? (Bagian 1)

    Get PDF
    Pemeriksaan fungsi diastolik ventrikel kiri merupakan bagian tidak terpisahkan pada setiap pemeriksaan ekokardiografi rutin. Gangguan fungsi diastolik yang dinilai melalui pemeriksaan ekokardiografi merupakan salah satu kriteria diagnosis gagal jantung dengan fraksi ejeksi normal (heart failure with preserved ejection fraction, HFpEF).1 ASE (American Society of Echocardiography) dan EACVI [European Association of Cardiovascular Imaging]) telah mengeluarkan panduan pemeriksaan ekokardiografi fungsi diastolik ventrikel kiri pada tahun 2009.2 Sayangnya panduan tersebut terlalu banyak menggunakan parameter fungsi diastolik sehingga agak sulit diaplikasikan pada pemeriksaan rutin ekokardiografi sehari-hari. Panduan tersebut juga tidak memuat konsensus yang jelas untuk menentukan derajat disfungsi diastolik bila terdapat ketidaksesuaian hasil antara berbagai parameter yang ada

    Panduan Interpretasi dan Pelaporan Angiografi Koroner dengan Tomografi Komputer

    Get PDF
    Pencitraan kardiak non-invasif dengan teknologi tomografi komputer multi-potongan telah menempati peranan penting dalam diagnosis penyakit jantung dan pembuluh darah. Di Indonesia, penggunaan tomografi komputer kardiak (TKK) telah meluas di kota-kota besar.Panduan yang menjadi standar pelayanan TKK di Indonesia diperlukan agar dokter yang melakukan interpretasi di seluruh Indonesia melaporkan interpretasinya dalam struktur yang seragam sehingga mudah dipahami oleh dokter pengirim. Hal ini menjamin pelayanan terbaik dan keamanan bagi pasien, dokter, dan fasilitas kesehatan, serta menjadi acuan kualitas pelayanan TKK yang berlaku di seluruh Indonesia. Standarisasi ini tentu bermanfaat untuk pendidikan dan penelitian serta penelaahan sejawat.Pencitraan kardiak non-invasif dengan teknologi tomografi komputer multi-potongan telah menempati peranan penting dalam diagnosis penyakit jantung dan pembuluh darah. Di Indonesia, penggunaan tomografi komputer kardiak (TKK) telah meluas di kota-kota besar.Panduan yang menjadi standar pelayanan TKK di Indonesia diperlukan agar dokter yang melakukan interpretasi di seluruh Indonesia melaporkan interpretasinya dalam struktur yang seragam sehingga mudah dipahami oleh dokter pengirim. Hal ini menjamin pelayanan terbaik dan keamanan bagi pasien, dokter, dan fasilitas kesehatan, serta menjadi acuan kualitas pelayanan TKK yang berlaku di seluruh Indonesia. Standarisasi ini tentu bermanfaat untuk pendidikan dan penelitian serta penelaahan sejawat

    Pedoman Tatalaksana Takiaritmia Supraventrikular (TaSuV)

    Get PDF
    No abstrac

    Faktor Risiko Tradisional Kardiovaskular terhadap Kejadian Disfungsi Ereksi pada Pasien Penyakit Jantung Koroner

    Get PDF
    Background: Erectile Dysfunction (ED) is defined as the inability to achieve or maintain an erection sufficient to permit satisfactory sexual intercourse. Erectile dysfunction affects more than 150 million men worldwide and impairs psychological well-being and personal relationships, hence quality of life. Recent studies have shown that ED is present in 42% to 76% of men with coronary artery disease (CAD). Epidemiological study showed clearly role of traditional cardiovascular risk factors such as diabetes, hypertension, dyslipidemia and smoking in CAD. Erectile dysfunction and vascular diseases share a similar risk factors and pathogenic involvement of nitric oxide (NO)-pathway leading to impairment of endothelium-dependent vasodilatation (early phase) and structural vascular abnormalities (late phase). This study was conducted to determine whether the stable CAD patients who have traditional cardiovascular risk factors has a higher risk for ED compared with stable CAD patients without traditional cardiovascular risk factors.Methods: We performed an age matched-paired case control study. Men with CAD documented by angiography were evaluated for ED. Erectile function was assessed by a 5-item version of the International Index of Erectile Function (IIEF-5). Traditional cardiovascular risk factors such as diabetes, hypertension, dyslipidemia and cigarette smoking were assesed. Depression and anxiety were screened using Indonesian version of Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS). Basic demographic and other variables were also collected.Results: This study evaluated 127 men, 96.8% of them had traditional cardiovascular risk factors, 25.2% had diabetes mellitus, 77.2% had dyslipidemia, 55.9% had hypertension and 64.6% were smoker. Traditional cardiovascular risk factors was strongly associated with ED (OR=10.67 [1.25-232.83]). ED was independently associated with diabetes mellitus (OR=4.17 [1.14-15.24]), hypertension (OR=2.64 [1.07-6.49]) and cigarette smoking (OR=2.26 [1.01-5.75]).Conclusion: CAD patients with traditional cardiovascular risk factor had more risk for developing ED than those with no traditional cardiovascular risk factor.Latar belakang: Disfungsi ereksi (DE) didefinisikan sebagai ketidakmampuan mencapai dan mempertahankan ereksi untuk mencapai kepuasan seksual. Diperkirakan lebih dari 150 juta laki-laki menderita DE. Prevalensi DE pada penderita PJK berkisar 42%-76%. Disfungsi ereksi dan penyakit kardiovaskular memiliki faktor risiko yang sama. Gangguan jalur nitric oxide (NO) yang mengganggu mekanisme vasodilatasi (fase awal) dan kerusakan struktur vaskular (fase akhir) dipercaya sebagai patofisiologi yang mendasari DE dan penyakit vaskular.Metode: Disfungsi ereksi pada laki-laki penderita penyakit jantung koroner (PJK) yang sudah dilakukan angiografi koroner diperiksa dengan kuesioner International Index of Erectile Function (IIEF-5). Anamnesis dan pemeriksaan dilakukan untuk menilai adanya faktor risiko tradisional kardiovaskular seperti diabetes mellitus, hipertensi, dislipidemia, dan merokok.Hasil : Dari 127 subjek, 96,8% di antaranya memiliki faktor risiko tradisional kardiovaskular, 25,2% menderita diabetes mellitus, 77,2% menderita dislipidemia, 55,9% menderita hipertensi, dan 64,6% di antaranya merokok. Subjek yang memiliki faktor risiko tradisional kardiovaskular memiliki risiko kejadian DE lebih besar dengan rasio odds (OR) 10,67 (IK 1,07-106,72). Diabetes mellitus, hipertensi, dan merokok secara independen berpengaruh terhadap kejadian DE dengan OR untuk DM 6,73 (IK 1,45–31,15), hipertensi 2,93 (IK 1,16 –7,43), dan merokok 3,04 (IK 1,18 – 7,85). Skor IIEF-5 juga semakin rendah pada subjek yang memiliki lebih banyak faktor risiko tradisional kardiovaskular.Kesimpulan: Penderita PJK yang memiliki faktor risiko tradisional kardiovaskular mempunyai risiko DE lebih tinggi dibandingkan dengan penderita PJK yang tidak mempunyai faktor risiko tradisional kardiovaskular

    Apolipoproten B , LDL Kolesterol dan apoB / apoA -I Rasio Pasien Angina Stabil

    No full text
    Aim: To acknowledge the nature of correlation between apolipoprotein B concentrations and LDL cholesterol levels in patients with stable angina pectoris and also to show that the ratio of apoB/apoA-I may be a promising predictor for the risk of cardiovascular disease.Methods: This is an observational study with cross-sectional approach of 34 patients with stable angina pectoris. Prior to the study, patients were advised to fast for 10-12 hours and must complete the informed consent. Patients underwent physical examination and anthropometric measurements (height, body weight, waist circumference), blood test, and ECG check.Results: From 34 patients, the prevalence of high levels of total cholesterol (>200 mg/dl) in men and women are 45.5% and 47.8%, respectively; and 90.9% men and 87% women with increased LDL-C (?100 mg/dl). Low value of apoA-I was determined in 5 men (45.5%) and 4 women (17.4%); and high value of apoB was found in 7 men (63.6%) and 11 women (47.8%), whereas 13 subjects with unfavorable apoB/apoA-I ratio. Six subjects had low levels of apoA-I along with high levels of apoB. ApoB/apoA-I ratio above 0.9 was found in 6 or 11 men (54.5%) and 7 of 23 women (30.4%).Conclusion: We found that in 34 patients with stable angina, 18 of them (52.9%) showed high plasma apoB concentration. This is parallel to 30 subjects (88.2%) with high LDL cholesterol levels, and also 13 subjects (38.2%) with high apoB/apoA-I ratio. It can be concluded the higher the ratio of apoB to apoA-I, the greater the risk of cardiovascular disease. Lifestyle management and pharmacological intervention in dyslipidemia is important in reduction of cardiovascular events.Tujuan: Membuat model prognostik mortalitas 30-hari setelah transplantasi jantung.Metode: Kami melaporkan pembuatan model prognostik mortalitas 30-hari setelah transplantasi jantung pada pasien dewasa. Analisis regresi logistik digunakan untuk membuat model menggunakan data 1,262 pasien dewasa yang menjalani transplantasi jantung. Akurasi model dinilai dari aspek kalibrasi (kesesuaian antara probabilitas yang diprediksi dengan mortalitas yang diobservasi) serta diskriminasi (kemapuan model untuk membedakan pasien dengan probabilitas kematian yang tinggi dan rendah dalam waktu 30 hari setelah transplantasi). Validitas internal dinilai menggunakan teknik bootstrapping.Results: Usia dan jenis kelamin resipien, diagnosis pre-transplantasi, status transplantasi, waktu tunggu, durasi operasi bypass kardiopulmoner, usia dan jenis kelamin donor, serta ketidaksesuaian indeks masa tubuh dan golongan darah donor-resipien terpilih sebagai prediktor independen mortalitas 30-hari setelah transplantasi jantung. Model menunjukkan kalibrasi dan diskriminasi yang cukup baik (area di bawah the receiver operating characteristic curve adalah 0.71). Validitas internal model memadai. Untuk penggunaan dalam praktik sehari-hari, kami mentransformasi model logistik menjadi score chart.Conclusion: Model prognostik mortalitas 30-hari setelah transplantasi jantung pada pasien dewasa ini memiliki akurasi dan validitas yang memadai. Model ini dapat membantu pengambilan keputusan melalui stratifikasi resipien berdasarkan probabilitas kematian setelah transplantasi dan memungkinkan alokasi donor transplantasi jantung secara lebih optimal

    Nilai Diagnostik Duke Treadmill Score untuk Mendeteksi Keparahan Lesi Koroner pada Pasien yang Terduga Penyakit Jantung Koroner Stabil

    Get PDF
    Background: Duke Treadmill Score (DTS) is a well known score to stratify prognosis with good diagnostic value in predicting number of diseased coronary arteries in ischemic heart disease patient. DTS has also been shown to have a strong correlation with the severity of coronary lesion based on the Syntax score. However, the diagnostic value of DTS in predicting the coronary lesions severity based on Syntax score has not been well established.Methods: Cross-sectional study was performed in Dr. Sardjito General Hospital based on data from 1st January 2012. Patients with positive exercise test results and already had coronary angiography were included in the study. DTS was calculated based on the assessment of the exercise test result and Syntax score I was measured from the coronary angiography result.Results: There were 76 patients with average age of 56.64±7.41 year old consisting of 53 male subjects (70%) and 23 female subjects (30%). Hypertension was found to be the most common risk factors in 57 subjects (75%), dyslipidaemia in 33 subjects (43.3%), Diabetes Mellitus in 27 subjects (35.5%), smoking in 24 subjects (31.6%) and family history in 1 subject (1.3%). Subjects with high Syntax score and the low Syntax score were found in 30 subjects (39.5%) and 46 subjects (60.5%) respectively. In this study, the DTS diagnostic value in predicting high Syntax score was determined by the value of area under the curve based on the the Receiver Operating Characteristic (ROC) curve analysis was 92% (95% CI: 86%-97%, p<0.0001). Moreover, DTS with value -8.5had 83% sensitivity, 82% specificity, 75% positive predictive value, 88% negative predictive value, and 83% accuracy to predict high Syntax score.Conclusion: DTS has a good diagnostic value in predicting coronary lesions severity, particularly in patients with suspected stable coronary artery diseases. DTS value of -8.5 has shown to have the best cut point in this study.Latar Belakang: Duke Treadmill Score (DTS) diketahui dapat menunjukan stratifikasi prognosis dan memiliki nilai diagnostik yang baik dalam memprediksi jumlah arteri koroner yang terlibat pada populasi pasien dengan penyakit jantung iskemik. Selain itu, DTS juga terbukti memiliki korelasi yang kuat dengan keparahan lesi koroner yang dinilai berdasarkan nilai Syntax. Walaupun demikian, belum ada data mengenai nilai diagnostik DTS dalam memprediksi keparahan lesi koroner berdasarkan nilai Syntax.Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang di RSUP Dr. Sardjito dengan menggunakan data sejak 1 Januari 2012. Pasien dengan Uji Latih Treadmill (ULT) positif, telah dilakukan angiografi koroner, dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dimasukan ke dalam penelitian. Penilaian DTS dilakukan berdasarkan hasil ULT dan nilai Syntax I berdasarkan hasil angiografi koroner. Dilakukan analisis statistik untuk mengetahui nilai diagnostik DTS guna mendeteksi keparahan lesi koroner berdasarkan nilai Syntax.Hasil: Didapatkan 76 pasien dengan rata-rata usia 56,64±7,41 tahun yang terdiri atas laki-laki sebanyak 53 subjek (70%) dan perempuan sebanyak 23 subjek (30%) dengan faktor risiko terbanyak adalah hipertensi yaitu 57 subjek (75%), diikuti dislipidemia sebanyak 33 subjek (43,3%), DM sebanyak 27 subjek (35,5%), merokok sebanyak 24 subjek (31,6%), dan riwayat keluarga menderita PJK sebanyak 1 subjek (1,3%). Total subjek yang memiliki nilai Syntax tinggi sebanyak 30 subjek (39,5%), dan nilai Syntax rendah sebanyak 46 subjek (60,5%). Pada penelitian ini didapatkan nilai diagnostik DTS untuk memprediksi nilai Syntax tinggi berdasarkan nilai area bawah kurva berdasarkan analisis dengan kurva Receiver Operating Characteristic (ROC) adalah sebesar 92% (95% IK: 86%-97%; p=0,000). Duke Treadmill Score -8,5 memiliki nilai sensitivitas sebesar 83%, spesifisitas sebesar 82%, nilai duga positif sebesar 75%, nilai duga negatif sebesar 88%, dan akurasi 83% untuk mendeteksi lesi koroner dengan nilai Syntax tinggi.Kesimpulan: Duke Treadmill Score memiliki nilai diagnostik yang baik untuk mendeteksi derajat keparahan lesi koroner pada pasien yang terduga penyakit jantung koroner stabil. Nilai batas prediksi yang dapat digunakan untuk mendeteksi derajat keparahan lesi koroner adalah DTS -8,5

    607

    full texts

    687

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Journal of Cardiology
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇