Al-Mishbah (E-Journal)
Not a member yet
106 research outputs found
Sort by
MEMBANGUN POLA KOMUNIKASI KELUARGA UNTUK MENINGKATKAN RESILIENSI ANAK PASCA BENCANA
This paper aims to elaborate family communication patterns in increasing resilience of children after disasters. A number of studies have stated that children are the most vulnerable victims of mental disorders, and have unstable resilience after a disaster. However, the writings there still revolve around the importance of disaster mitigation education since, no one has touched on the importance of family communication patterns in increasing children's resilience. This paper addresses this problem through content analysis of a number of primary sources of books and journals. The results of this study indicate that there are two effective patterns of family communication to build and increase resilience of children after a disaster. First, pluralistic communication is characterized by children's independence in making decisions. Second, consensus communication, which is a pattern of communication that is built on the principle of openness between parents and children, but the final decision is still determined by parents. Both patterns are very effective in building self-confidence, empathy and responsibility which are the characteristics of a strong child. Tulisan ini bertujuan mengelaborasi pola komunikasi keluarga dalam meningkatkan resiliensi anak pasca bencana. Sejumlah penelitian menyatakan bahwa anak adalah korban yang paling rentang mengalami gangguan mental, dan memiliki ketangguhan yang labil pasca bencana. Namun tulisan yang ada masih berkutak pada pentingnya pendidikan mitigasi bencana sejak, belum ada yang menyinggun pentingnya pola komunikasi keluarga dalam meningkatkan resilensi anak. Tulisan ini menjawab persoalan tersebut melalui analisi konten terhadap sejumlah sumber primer beruba buku dan jurnal. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada dua pola komunikasi keluarga yang efektif untuk membangun dan meningkatkan resiliensi anak pasca bencana. Pertama, komunikasi pluralistic yang ditandai dengan kemandirian anak dalam mengambil keputusan. Kedua, komuniasi consensus, yaitu pola komuniasi yang dibangun dengan asas keterbukaan antara orang tua dan anak, namun keputusan akhir tetap ditentukan oleh orang tua. Kedua pola tersebut sangat efektif dalam membangun kepercayaan diri, rasa empati dan tanggungjawab yang merupakan ciri anak yang tangguh
AKTIVITAS KOMUNIKASI PEMASARAN HOTEL GRAND DAFFAM BELA TERNATE
Bela International Hotel is the only five-star hotel in Ternate where in deal with competition between hotels, it is necessary to provide specific and innovative facilities and services to be superior to its competitors. Competitive competition in the hospitality world at this time encourages every hotel to create a promotional program offered to hotel guests. Thus, the function and role of strategic marketing communication is needed so that positive information about the hotel can be received by the public so that in the end the community makes the hotel as a choice. Marketing communication activities carried out by paying attention to two aspects namely; internal and external marketing communication. With the concept of integrated marketing communication, it is not enough to depend on just one material, so that Bela International Hotel combines the concept of marketing with customer relations and maintenance services.Bela International Hotel satu-satunya hotel berbintang di Kota Ternate dimana dalam menghadapi dunia persaingan antar hotel merasa perlu untuk menyediakan fasilitas dan pelayanan jasa yang spesifik dan juga inovatif agar dapat lebih unggul dari para pesaingnya. Persaingan yang sangat kompetitif di dunia perhotelan pada saat ini mendorong setiap hotel untuk membuat program promosi yang ditawarkan kepada tamu hotel. Sehingga, diperlukan fungsi dan peran komunikasi pemasaran yang strategis agar informasi-informasi yang positif tentang hotel dapat diterima oleh masyarakat sehingga pada akhirnya masyarakat menjadikan hotel tersebut sebagai pilihan. Aktivitas komunikasi pemasaran yang dilakukan dengan memerhatikan dua aspek yakni; komunikasi pemasaran internal dan eksternal. Dengan konsep komunikasi pemasaran yang terpadu, maka untuk tergantung pada satu materi saja tidak akan cukup, sehingga Hotel Bela Internasional menggabungkan konsep pemasaran dengan customer relation dan maintenance service/pelayanan
INTERPRETASI MAKNA SAPAAN MAS TERHADAP ETNIK JAWA DI MAKASSAR (STUDI KOMUNIKASI ANTAR-BUDAYA DI MAKASSAR)
One of the Javanese ethnic identities present in Makassar is called Mas for male Javanese. This nickname has been going on for a long time and it is not yet known exactly when it began, with a span of time, then the identity of Mas has become the property of Javanese men in Sulawesi, especially Makassar. The two ethnic groups in Makassar, namely; ethnic outside of Java and Javanese have the same usage of Mas, namely; is a greeting to pay respect to others and as a door of intimacy to people who have not known their identity, especially for traders, Mas greetings are common, but the problem is the application and generalization of Javanese ethnic in MakassarSalah satu identitas etnik Jawa yang hadir di Makassar adalah dengan panggilan Mas bagi orang Jawa laki-laki. Panggilan Mas ini telah berlangsung sekian lama dan belum diketahui pasti kapan dimulainya, dengan rentang waktu, maka identitas Mas sudah menjadi milik orang Jawa laki-laki di Sulawesi khususnya Makassar. Kedua etnik di Makassar yakni; etnik luar Jawa dan etnik Jawa memiliki pemakaan yang sama terhadap Mas yaitu; merupakan sapaan untuk memberikan penghormatan kepada orang lain dan sebagai pintu keakraban terhadap orang yang belum diketahui identitasnya, terutama untuk para pedagang, sapaan Mas merupakan hal yang biasa, namun yang menjadi problem adalah pada aplikasi dan generalisasi terhadap etnik Jawa di Makassar
PERSEPSI MAHASISWA JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM TERHADAP PENYEBARAN BERITA HOAKS DI MEDIA SOSIAL
This paper discusses students’ perception on hoax postings on son social media sites. The focus of the study is to find out how students' of IAIN Palu perceive hoax dissemination on social media. This research is a qualitative study. In collecting data researchers used in-depth interview methods, observations, and documents. The subjects of this study are students majoring in Islamic Communication and Broadcasting starting from second semester two to the eight semester. The results of this study indicate that students have different perceptions on hoax dissemination, where some students realize that it is important to read, and examine carefully information or news received from social media sites, so that they can find out about the authenticity of the news or information, and it is not wise to share news that is not yet known to be true, and there are also some students who are actually involved in spreading hoaks due to trial and error.Tulisan ini membahas tentang Persepsi Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Palu terhadap penyebaran berita hoaks dimedia sosial. Adapun fokus masalah yang di bahasa dalam tulisan iin adalah bagaimana persepsi mahasiswa komunikasi dan penyiaran Islam terhadap penyebaran berita hoaks dimedia sosial Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Dalam mengumpulkan data peneliti menggunakan metode wawancara secara mendalam (in-dept interview), observasi, dan dokument. Adapun sumber data penelitian ini adalah mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam mulai dari semester 2 sampai semester 8. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa mahasiswa memiliki persepsi yang berbeda-beda, dimana sebagian mahasiswa menyadari bahwa akan pentingnya membaca, dan meneliti suatu informasi atau berita yang diterima sehingga bisa mengetahui tentang keaslian berita ataupun informasi, dan tidak mudah menyebarkan sesuatu yang belum diketahui kebenarannya, dan ada pula sebagian mahasiswa yang justru ikut terlibat dalam melakukan penyebaran hoaks itu sendiri dengan alasan mencoba-coba, dan hanya sekedar ikut-ikutan
AKSI KEMANUSIAAN DALAM BINGKAI POLITIK
Discourse about human rights (human rights talk) can not be separated from the discussion of philosophy, law, and politics. In the meantime, to build a comprehensive understanding of human rights and their relationship with politics and humanitarian action, this paper will provide a brief overview of the history of human rights. Then a review of human rights based on the three levels of analysis above. In the philosophical aspect, will be reviewed regarding the development of the idea of human rights. Followed by a discussion of the legal nature of the law and its relationship to the normative ideal values that underlie humanitarian action. And finally, the discussion is about the political dynamics that characterize the issue of human rights and humanitarian actions.Wacana seputar HAM (human rights talk) tidak dapat dilepaskan dari bahasan filsafat, hukum, maupun politik. Dalam pada itu, untuk membangun sebuah rangkaian pemahaman yang menyeluruh atas HAM dan hubungannya dengan dunia politik dan aksi kemanusiaan, tulisan ini akan memberikan gambaran singkat tentang sejarah HAM. Kemudian ulasan mengenai HAM berdasarkan tiga tingkatan analisa di atas. Pada aspek filosofis, akan diulas mengenai perkembangan ide hak asasi manusia. Dilanjutkan dengan pembahasan legal hukumnya dan hubunganya dengan nilai ideal normatif yang melandasi aksi kemanusiaan. Dan yang terakhir, adalah pembahasan mengenai dinamika politik yang mewarnai isu ham dan aksi kemanusiaan (humanitarian actions). 
REPRESENTASI IDENTITAS SANTRI (Analisis Semiotika Model John Fiske Dalam Film Cahaya Cinta Pesantren)
The film is included in the mass communication media that are considered capable of being an effective media to persuade and persuade a broad audience. The film influences audiences through signs that appear in shows like in the Film Cahaya Cinta Pesantren. This research was conducted to determine the signs that represent identity in the film Cahaya Cinta Pesantren. This type of research is descriptive qualitative by using John Fiske's semiotic analysis model. The results of this study are the representations of santri's representations composed by John Fiske's semiotic code, namely appearance, expression, camera, setting, and action. In addition, this film also contained subcultural ideology, namely students are figures who come out of the dominant culture with daily activities that are more concerned with the afterlife.Film termasuk dalam media komunikasi massa elektronik yang dianggap mampu menjadi media efektif untuk membujuk dan mempersuasi khalayak luas. Film mempengaruhi khalayak melalui tanda-tanda yang dimuculkan dalam tayangan seperti yang terdapat dalam Film Cahaya Cinta Pesantren. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tanda-tanda yang merepresentasi identitas santri dalam film Cahaya Cinta Pesantren. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika model John Fiske. Hasil penelitian ini adalah adanya representasi identitas santri yang digambarkan melalui kode semiotika John Fiske yakni penampilan, ekspresi, kamera, latar dan tindakan. Selain itu, dalam film ini juga terkandung ideologi subkultur, bahwa santri merupakan sosok yang keluar dari budaya dominan dengan melakukan kegiatan sehari-hari yang lebih mementingkan kehidupan akhirat
MEMAHAMI ASPEK FILSAFAT DALAM ILMU KOMUNIKASI DAN DAKWAH
Three aspects of philosophy have become the study of academics and practitioners, namely aspects of ontology, epeistemology, and axiology. This paper deals with the determination of the concepts of onilology, epistemology, and axiology in the science of communication and da'wah. The method used is the literature review method by collecting data by reviewing a variety of literature in the form of books, journals, and online sources. The results of this study explain that by understanding the concepts of ontology, epistemology, and axiology, the search for truth and the science of communication and propaganda can be obtained essentially. In the case of Islamic broadcasting communication, the process of presenting information cannot be compared to presenting information in the context of public communication that is more concerned with business and financial interests. In Islamic broadcasting communication, communication must be seen in an Islamic context where the information presented must be true, obtained through the correct method (epistemology), and has a good aesthetic so that it can be justified.Tiga aspek filsafat telah menjadi kajian para akademisi dan praktisi, yaitu aspek ontology, epeistimologi, dan aksiologi. Tulisa ini mengkasi penetapan konsep ontoilogi, epistemology, dan aksiologi dalam ilmu komunikasi dan dakwah. Metode yang digunakan yaitu metode kajian pustaka dengan pengumpulan data dilakukan dengan mengkaji berbagai literature baik berupa buku, jurnal, dan sumber-sumber online. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa dengan memahami konsep ontology, epistimologi, dan aksiologi, maka pencarian kebenaran dan ilmu komunikasi dan dakwah dapat diperoleh secara hakiki. Dalam hal komunikasi penyiaran Islam, maka proses penyajian informasi tidak bisa disamakan dengan penyajian informasi dalam kontek komunikasi umum yang lebih mementingkan kepentingan bisnis dan financial. Dalam komunikasi penyiaran Islam, komunikasi itu harus dilihat dalam kontek ke-Islaman dimana informasi yang disajikan harus lah benar, diperoleh melalui metode yang benar (epistimologi), dan memiliki estetika yang baik sehingga dapat dipertanggung jawabkan
STRATEGI KOMUNIKASI GURU MEMOTIVASI PESERTA DIDIK DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR
Motivation is something that is very important for someone in doing an activity. Motivating learning motivation can encourage optimal learning achievement. Motivation has a very important role in individual activities. Motivation needs for individual activities to produce effective results, there is a need for strong motivation and for this reason efforts are needed to generate motivation. Many teachers feel that their job is only to teach, not to motivate students. When in the classroom the teacher solely conveys the contents of the lesson to the students, in terms of conveying the lesson where students do not feel attracted by the lesson which is less favorable. Students need to get motivated. A student who has motivation will be able to learn more and faster than those who lack motivation
Teacher communication with students in face-to-face activities in the teaching and learning process can be done, both individually or in groups, in the form of verbal and non-verbal, and assisted with media and learning resources. The teacher provides information, messages, ideas to students with the intention of students actively participating well in learning so that the core of the learning process can be achieved to the maximum levelMotivasi merupakan sesuatu yang sangat penting bagi seseorang dalam melakukan sesuatu kegiatan. Menggerakkan motivasi belajar dapat mendorong pencapaian prestasi belajar secara optimal. Motivasi mempunyai peran yang sangat penting dalam kegiatan individu. Agar kegiatan individu memberikan hasil yang efektif, maka perlu adanya motivasi yang kuat dan untuk itu perlu adanya usaha-usaha untuk membangkitkan motivasi. Banyak guru yang merasa bahwa tugasnya hanyalah mengajar, tidak memotivasi anak. Ketika di dalam kelas guru semata-mata menyampaikan isi pelajaran kepada anak, pada hal menyampaikan pelajaran dimana anak tidak merasa tertarik dengan pelajaran yang kurang menguntungkan. Anak perlu memperoleh motivasi. Seorang anak yang memiliki motivasi akan dapat belajar lebih banyak dan cepat daripada mereka yang kurang memiliki motivasi
Komunikasi guru dengan peserta didik dalam aktifitas tatap muka didalam proses belajar mengajar dapat dilakukan, baik secara individual ataupun kelompok, dalam bentuk verbal maupun non verbal, dan dibantu dengan media dan sumber belajar. Guru memberikan informasi, pesan, gagasan, ide kepada peserta didik dengan maksud peserta didik ikut berpartisipasi aktif dengan baik dalam pembelajaran sehingga inti dari proses pembelajaran itu dapat dicapai secara maksimal
IMPLEMENTATION OF MADRASAH HEAD LEADERSHIP COMMUNICATION IN THE DEVELOPMENT OF RELIGIOUS CHARACTERS
The purpose of this paper to analyze the communication headmaster duties and functions of leadership in the religious character building of students. Qualitative methods used scrutinize the meaning of the study contains analysis techniques of data reduction, data display and data verification. This paper has resulted in findings; First, communication headmaster leadership in carrying out duties effectively develop the religious character of learners. Second;religious character values developed in the private learners were devout religious practices, mutual respect, social care, have an attitude of individual learning motivation and collaboration, and to produce an honest attitude, creative, responsible and inclusive on a private learners.Tujuan dari tulisan ini adalah menganalisis komunikasi kepemimpinan sebagai tugas dan fungsi kepala sekolah dalam pembentukan karakter keagamaan siswa. Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini adapun teknik yang digunakan yakni analisis reduksi data, tampilan data dan verifikasi data. Adapun temuan dari penelitian ini yakni ; Pertama, komunikasi kepemimpinan kepala sekolah dalam melaksanakan tugas secara efektif mengembangkan karakter keagamaan peserta didik. Kedua, nilai-nilai karakter keagamaan yang berkembang dalam diri individu pembelajar adalah praktik keagamaan yang taat, saling menghormati, kepedulian sosial, memiliki sikap motivasi dan kolaborasi dalam belajar mandiri, selain itu juga menghasilkan sikap jujur, kreatif, bertanggung jawab dan inklusif pada diri pembelajar
DINAMIKA INTERAKSI SOSIAL PADA PAGUYUBAN PASUNDAN DI KOTA TERNATE
Sundanese as the second largest ethnic group after Java, known as a tribe who does not like to migrate, comfortable natural conditions and the stigma of "kurung batokeun" may be one of the reasons why Sundanese do not like to wander. However, as the development, many Sundanese tribes who do unity, not only wander within the country but wander throughout the world, so that the Sundanese known not to wander began to break. One of the destinations to wander the Sundanese tribe is Ternate City of North Maluku. The research purposse to determine social interaction and communication patterns among fellow immigrants from the Sundanese who are members of the Paguyuban Pasundan, because they want to see a culture of communication in depth, this study uses qualitative ethnographic communication research. The conclusions resulting from this research (1) Social interaction between Sundanese tribes in the Paguyuban Pasundan is conducted intensively, a feeling of equality and interaction is carried out very well. (2) The pattern of communication among Sundanese tribes who are members of the Paguyuban Pasundan, is easy to open, without obstacles, is equivalent to quality and very significant good communication Suku Sunda sebagai etnis terbesar kedua setelah Jawa, dikenal sebagai suku yang tidak suka merantau, kondisi alam yang nyaman dan stigma “kurung batokeun” bisa jadi menjadi salah satu alasan kenapa suku Sunda tidak suka merantau. Akan tetapi seiring perkembangan, suku Sunda banyak juga yang melakukan pernatuan, bukan hanya merantau didalam negeri akan tetapi merantau keseluruh penjuru dunia, sehingga suku Sunda yang dikenal tidak suka merantau mulai terpatahkan. Salah satu yang menjadi destinasi merantau suku Sunda adalah Kota Ternate Maluku Utara. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interkasi sosial dan pola komunikasi antar sesama perantau dari suku Sunda yang tergabung dalam Paguyuban Pasundan, karena ingin melihat budaya komunikasi secara mendalam maka penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif etnografi komunikasi. Adapun kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian ini adalah (1). Interaksi Sosial antara sesama suku Sunda di dalam Paguyuban Pasundan dilakukan secara intensif, muncul perasaan setara dan interkasi berlangsung dengan sangat baik. (2) Pola komunikasi sesama suku Sunda yang tergabung dalam Paguyuban Pasundan, cenderung terbuka, tanpa hambatan, setara dengan kualitas dan kuantitas komunikasi yang sangat signifikan baik