Jurnal Online Universitas Galuh
Not a member yet
8739 research outputs found
Sort by
Problematika Literasi Statistik Berdasarkan Tingkat Adversity Quotient (AQ) Pada Peserta Didik
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan keterampilan literasi statistik dalam perspektif Adversity Quotient (AQ) pada peserta didik. Literasi statistic adalah suatu kemampuan yang diperlukan oleh setiap individu untuk dapat memahami informasi secara tepat, dengan kemampuan literasi statistik yang baik, peserta didik akan dapat menyelesaikan masalah yang sederhana maupun kompleks berdasarkan fakta dari informasi yang ada sehingga tidak mudah terbawa opini. Sementara itu, Adversity Quotient mewakili kemampuan seorang individu dalam upaya merespon dan mengatasi rintangan. Studi ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif terhadap subjek penelitian yang berjumlah 36 peserta didik yang berada di kelas VII I di SMP Negeri 2 Mandiraja, dengan pemilihan sampel yang dianalisis menggunakan teknik purposive sampling, memilih 3 peserta didik untuk mewakili ketiga tipe Adversity Quotient pada peserta didik. Data dikumpulkan melalui angket Adversity Response Profile (ARP), tes tertulis mengenai kemampuan literasi matematis, dan hasil wawancara terhadap subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik tipe climber memiliki kemampuan literasi statistik yang lebih unggul dibandingkan peserta didik tipe camper dan quitter. Tipe climber unggul dalam orientasi dan interpretasi data, serta dapat menjalankan proses literasi statistik secara sistematis. Sementara itu, tipe camper menunjukkan kemampuan baik dalam orientasi dan pemrosesan data, namun tipe quitter memiliki kemampuan literasi statistik yang rendah, ditandai dengan kesulitan dalam memahami informasi dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Peneliti menyarankan agar studi lebih lanjut dilakukan untuk mengeksplorasi media pembelajaran yang dapat menunjang proses pembelajaran bagi peserta didik dalam meningkatkan kemampuan literasi statistik berdasarkan tingkat Adversity Quotient.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan keterampilan literasi statistik dalam perspektif Adversity Quotient (AQ) pada peserta didik. Literasi statistic adalah suatu kemampuan yang diperlukan oleh setiap individu untuk dapat memahami informasi secara tepat, dengan kemampuan literasi statistik yang baik, peserta didik akan dapat menyelesaikan masalah yang sederhana maupun kompleks berdasarkan fakta dari informasi yang ada sehingga tidak mudah terbawa opini. Sementara itu, Adversity Quotient mewakili kemampuan seorang individu dalam upaya merespon dan mengatasi rintangan. Studi ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif terhadap subjek penelitian yang berjumlah 36 peserta didik yang berada di kelas VII I di SMP Negeri 2 Mandiraja, dengan pemilihan sampel yang dianalisis menggunakan teknik purposive sampling, memilih 3 peserta didik untuk mewakili ketiga tipe Adversity Quotient pada peserta didik. Data dikumpulkan melalui angket Adversity Response Profile (ARP), tes tertulis mengenai kemampuan literasi matematis, dan hasil wawancara terhadap subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik tipe climber memiliki kemampuan literasi statistik yang lebih unggul dibandingkan peserta didik tipe camper dan quitter. Tipe climber unggul dalam orientasi dan interpretasi data, serta dapat menjalankan proses literasi statistik secara sistematis. Sementara itu, tipe camper menunjukkan kemampuan baik dalam orientasi dan pemrosesan data, namun tipe quitter memiliki kemampuan literasi statistik yang rendah, ditandai dengan kesulitan dalam memahami informasi dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Peneliti menyarankan agar studi lebih lanjut dilakukan untuk mengeksplorasi media pembelajaran yang dapat menunjang proses pembelajaran bagi peserta didik dalam meningkatkan kemampuan literasi statistik berdasarkan tingkat Adversity Quotient
Efektivitas Project Based Learning Berbantuan Simulasi dalam Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis Mahasiswa Pendidikan Akuntansi
Pembelajaran di era digital menuntut inovasi, sehingga pendidik perlu mengembangkan media dan model pembelajaran untuk menghasilkan mahasiswa yang mampu berpikir kritis. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas model Project-Based Learning (PjBL) berbantuan media simulasi dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa pada mata kuliah Sistem Informasi Akuntansi. Metode yang digunakan adalah pre-experimental design dengan desain one group pretest-Posttest. Teknik Pengumpulan data menggunakan Observasi dan test dengan sampel sebanyak 30 Orang. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kemampuan berpikir kritis mahasiswa setelah penerapan Model Project-Based Learning (PjBL) yang dibantu media simulasi. Hasil tes awal (Pre-test) menunjukkan rata-rata skor sebesar 70.53, Setelah intervensi pembelajaran, skor rata-rata pada tes akhir (Post-test) meningkat drastis menjadi 91.73. hal ini menunjukkan bahwa Penerapan Model Project-Based Learning (PjBL) berbantuan media simulasi terbukti efektif secara signifikan dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa, dengan rata-rata peningkatan sebesar 66.77% yang termasuk dalam kategori sedang
PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS V PADA MATERI SIKLUS AIR
Kekurangan kesempatan untuk melatih pemikiran kritis dalam proses pembelajaran menyebabkan siswa menghadapi berbagai kesulitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh model problem based learning (PBL), dampaknya terhadap keterampilan pemikiran kritis siswa kelas V pada topik siklus air, serta perbandingan pemikiran kritis antara pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional. Metode quasi-eksperimental dengan desain kelompok kontrol non-ekuivalen digunakan. Sampel terdiri dari siswa kelas V dari SDN 2 Rajapolah (29 siswa) dan SDN 6 Rajapolah (32 siswa), yang dipilih menggunakan sampling purposive. Alat ukur meliputi pedoman observasi dan tes esai. Hasil menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah diterapkan dengan sangat baik, dengan skor aktivitas guru dan siswa mencapai 83% pada pertemuan pertama dan 96% pada pertemuan kedua. Uji hipotesis menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah secara signifikan mempengaruhi keterampilan berpikir kritis siswa (sig. 2-tailed 0,000 0,8). Kemudian, keterampilan berpikir kritis pada model pembelajaran berbasis masalah dan model pembelajaran konvensional menunjukkan perbedaan (sig. 2-tailed 0,000 < 0,05). Namun, berdasarkan nilai n-gain, pembelajaran berbasis masalah menghasilkan peningkatan yang lebih besar (0,3416) dibandingkan dengan pembelajaran konvensional (0,0772), menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi
EFEKTIVITAS PENDEKATAN CULTURALLY RESPONSIVE TEACHING DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA TEKS PUISI BUDAYA SURABAYA
Pembelajaran membaca teks puisi seringkali menghadapi tantangan dalam hal pemahaman, terutama ketika puisi tidak dikaitkan dengan budaya siswa. Culturally Responsive Teaching (CRT) merupakan pendekatan yang mengintegrasikan budaya siswa dalam pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas pendekatan CRT dalam pembelajaran keterampilan membaca puisi berbasis budaya surabaya di SMA Muhammadiyah 10 Surabaya. Metode penelitian yang digunakan yakni deksriptif kuantitatif dengan desain pre-eksperimental (one-group pretest-posttest). Sampel penelitian terdiri dari 18 siswa kelas X-4. Hasil pretest menunjukkan bahwa hanya 4 siswa yang mencapai nilai KKM (≥75), sedangkan hasil posttest menunjukkan peningkatan dengan 17 siswa mencapai nilai KKM. Rata-rata nilai meningkat dari 56,2 (pretest) menjadi 76,6 (posttest) yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterampilan membaca puisi siswa setelah penerapan pendekatan CRT. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pendekatan CRT terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan apresiasi siswa terhadap pusi berbasis budaya lokal (surabaya). Guru berperan penting dalam mengaitkan materi dengan pengalaman budaya siswa untuk menciptakan pembelajaran yang lebih inklusif dan kontekstual. Oleh karena itu, penerapan CRT dalam pembelajaran sastra direkomendasikan agar pembelajaran menjadi lebih relevan dengan kehidupan siswa
LEKSIKON KULINER KHAS BETAWI SEBAGAI REKOMENDASI BAHAN AJAR TEKS DESKRIPSI DI SMP (SEBUAH KAJIAN EKOLINGUISTIK)
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan makna leksikon kuliner khas Betawi serta merekomendasikannya sebagai bahan ajar teks deskripsi di tingkat SMP. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya keterlibatan generasi muda dalam pewarisan tradisi kuliner lokal serta minimnya pembahasan kuliner tradisional dalam pembelajaran di sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap masyarakat Betawi. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan teori leksikon dan ekolinguistik untuk mengidentifikasi bentuk (monomorfemis dan polimorfemis) serta makna leksikon kuliner Betawi dalam konteks budaya dan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 60 leksikon kuliner khas Betawi yang diklasifikasikan berdasarkan jenis makanan berat, makanan ringan, minuman, dan sajian upacara adat. Leksikon-leksikon tersebut memiliki makna yang erat kaitannya dengan nilai-nilai sosial, budaya, dan lingkungan masyarakat Betawi. Penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan hasil kajian leksikon kuliner Betawi sebagai bahan ajar teks deskripsi di SMP, melalui pengembangan handout dengan uraian materi, menganalisis teks deskripsi, dan latihan menulis. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan apresiasi siswa terhadap warisan budaya kuliner Betawi serta memperkuat identitas budaya melalui pembelajaran Bahasa Indonesia
OPTIMALISASI PENGUASAAN TIK OLEH GURU DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK (Studi kasus di SMPN 2 Lakbok)
Sumber Daya Manusia memiliki peran strategis dalam menentukan mutu dan efektivitas lembaga pendidikan. Di era digital, pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) menjadi salah satu strategi penting untuk mendukung proses pembelajaran di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis optimalisasi penguasaan TIK oleh guru dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik di SMPN 2 Lakbok, Kabupaten Ciamis. Fokus penelitian mencakup tiga aspek: perencanaan pembelajaran, proses pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Informan terdiri dari guru, kepala sekolah, dan pengawas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguasaan TIK oleh guru dalam perencanaan pembelajaran sudah baik, namun pemilihan media pembelajaran perlu ditingkatkan. Dalam proses pembelajaran, TIK terbukti meningkatkan motivasi siswa, tetapi integrasi antara media dan metode pembelajaran masih perlu disesuaikan. Sementara itu, dalam evaluasi pembelajaran, penggunaan TIK juga memberi dampak positif terhadap motivasi belajar, meskipun guru masih perlu meningkatkan keterampilan pengembangan diri agar mampu mengikuti perkembangan teknologi secara berkelanjutan
Pengaruh Karakteristik Inovasi terhadap Keputusan Adopsi Inovasi Lokal pada Budidaya Kopi Arabika di Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut
Inovasi lokal dalam praktik budidaya merupakan solusi alternatif untuk petani di pedesaan yang kurang percaya diri untuk mengadopsi teknologi modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik petani kopi di Desa Cikandang dan menganalisis pengaruh karakteristik inovasi meliputi keunggulan relatif, kesesuaian, kompleksitas, kemudahan untuk diuji coba, dan kemudahan diamati terhadap keputusan adopsi inovasi lokal dalam budidaya kopi. Desain penelitian ini deskriptif kuantitatif dengan metode survei, dengan responden 50 petani anggota aktif kelompok tani Karya Mandiri. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas petani adalah pria usia 21–40 tahun, berpendidikan SD, menggarap lahan seluas 0,5–2 ha, dan modal Rp 3,1–6 juta. Dari kelima aspek karakteristik inovasi, hanya tiga aspek meliputi keunggulan relatif, kesesuaian, dan kemudahan untuk diamati yang memiliki pengaruh terhadap keputusan adopsi inovasi lokal pada budidaya kopi arabika di Desa Cikandang. Kata Kunci : adopsi, inovasi lokal, petani kopi, persepsi petan
Peran Pendidikan dalam Mewariskan Kebudayaan Sunda: Tinjauan Historis dan Strategis
This research examines the role of education as a custodian of Sundanese cultural heritage through historical approaches and cultural inheritance strategies. The phenomenon of the declining interest of the younger generation in Sundanese culture raises the urgency to examine how education can be an effective means of preserving and passing on these cultural values. This study reviews literature related to Sundanese education and culture, identifies gaps in the integration of formal and non-formal education in cultural inheritance, and offers novelty in the form of an adaptive inheritance strategy model. The methods used are historical and qualitative studies with documentation analysis and interviews. The results show that formal and informal education has an important role in maintaining and passing on Sundanese culture, but needs a more innovative and participatory strategy. The discussion highlights the importance of collaboration between educational institutions, communities and government in developing curriculum and cultural activities. The conclusion emphasizes education as the main guardian of Sundanese cultural heritage with recommendations to strengthen the cultural curriculum and actively involve the community in cultural heritage
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN KURIKULUM MERDEKA BELAJAR DI JAKARTA BARAT
Kebijakan Kurikulum Merdeka Belajar (KMB) telah diterapkan di lebih dari 80% sekolah Indonesia pasca Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024, meningkatkan literasi dan numerasi nasional melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM) serta program Guru Penggerak. Namun, di Jakarta Barat, khususnya SDN Tanjung Duren, implementasi masih menghadapi tantangan lokal. Masalah utama mencakup ketidakmerataan informasi, keterbatasan sarana digital seperti internet tidak stabil, perbedaan pemahaman guru, biaya proyek P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) yang membebani, serta resistensi guru senior terhadap teknologi, yang menghambat tujuan pendidikan nasional. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui studi kasus pada 3 (tiga) SDN di Tanjung Duren, dengan pengumpulan data via wawancara semi-terstruktur, observasi, dan analisis dokumen berdasarkan teori Charles Edwards III (komunikasi, sumber daya, disposisi pelaksana, struktur birokrasi). Hasil menunjukkan kemajuan seperti sosialisasi PMM dan pelatihan guru, tapi tantangan tetap ada. Rekomendasinya adalah tingkatkan implementasi KMB melalui pemahaman mendalam kerangka kebijakan nasional dengan penguatan komunikasi hybrid jelas, alokasi sumber daya memadai untuk pelatihan guru dan infrastruktur
PENGARUH KUALITAS SUMBER DAYA, BUDAYA ORGANISASI, DAN KEBIJAKAN PEMASYARAKATAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN DI KELAS IIA KEMBANG KUNING NUSAKAMBANGAN
Penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan di Lapas Kelas IIA Kembang Kuning Nusakambangan. Faktor-faktor tersebut meliputi sumber daya yang tersedia, budaya organisasi yang berkembang di lapas, dan kebijakan masyarakat yang diterapkan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode penelitian survei. Populasi penelitian ini adalah Pegawai Lapas Kelas IIA Kembang Kuning Nusakambangan, sehingga sampel dalam penelitian ini berjumlah 65 responden. Analisis data diperoleh dengan menggunakan Uji Asumsi Klasik, Regresi Linear Berganda, Uji Koefisien Korelasi, Uji F (Uji Simultan), dan Uji T (Uji Parsial). Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa ketiga variabel bebas yaitu kualitas sumber daya, budaya organisasi, dan kebijakan masyarakat secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kualitas pelayanan. Hasil uji koefisien korelasi menunjukkan bahwa kualitas sumber daya, budaya organisasi, dan kebijakan masyarakat memiliki hubungan yang sangat kuat terhadap kualitas pelayanan. Sementara itu, hasil uji koefisien determinasi menunjukkan nilai R² sebesar 91,4%, kualitas pelayanan di Lapas Kelas IIA Kembang Kuning Nusakambangan dipengaruhi oleh kualitas sumber daya, budaya organisasi, dan kebijakan pemasyarakatan. Sementara itu, sisanya (8,6%) dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian