Journal of IAIN Sultan Amai Gorontalo
Not a member yet
    2582 research outputs found

    The Efektivitas Metode NYAJI (Nyanyi-Ngaji) Terhadap Peningkatan Kemampuan Kognitif Siswa Mata Pelajaran Nahwu

    No full text
    The purpose of this study is to evaluate how well the NYAJI method works to enhance students\u27 cognitive abilities and motivation in the Nahwu subjects. The type of research used is quasi-experimental with posttest-only control group design. The study sample consisted of all 10th and 11th students with a total of 466 students. Sampling technique using is random sampling. Data collection techniques were carried out by questionnaires to measure students\u27 learning motivation and test sheet for the cognitive abilities. The data analysis used is Mann-Whitney test for the cognitive abilities. The results of the study was the classes that employ the NYAJI method differ from those that do not in that the former have higher cognitive abilities.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi seberapa baik metode NYAJI dalam meningkatkan kemampuan kognitif siswa dalam mata pelajaran Nahwu. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain posttest-only control group design. Sampel penelitian terdiri dari seluruh siswa kelas 10 dan 11 dengan jumlah 466 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah random sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan lembar tes untuk mengukur kemampuan kognitif. Analisis data yang digunakan adalah uji Mann-Whitney untuk kemampuan kognitif. Hasil dari penelitian ini menemukan jika kelas yang menggunakan metode NYAJI berbeda dengan kelas yang tidak menggunakan metode NYAJI, dimana kelas yang menggunakan metode NYAJI memiliki kemampuan kognitif yang lebih tinggi

    UPAYA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENUMBUHKAN MODERASI BERAGAMA DAN SIKAP TOLERANSI : DI SDN CLURING KECAMATAN KALITENGAH KABUPATEN LAMOMNGAN

    Full text link
    Islamic Religious Education (IRE) at the elementary school level plays a strategic role in shaping students’ moderate character and tolerance toward diversity. This study aims to describe the efforts of IRE teachers in fostering religious moderation and tolerance among students at SDN Cluring, Kalitengah Subdistrict, Lamongan Regency. Employing a qualitative approach with a case study method, data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis followed the Miles and Huberman model, including data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that IRE teachers implemented various strategies such as exemplary behavior, integration of tolerance values into lesson content, open class discussions, and habituation through routine school activities. These strategies proved effective in cultivating mutual respect and acceptance of differences among students. The results highlight the importance of strengthening the role of IRE teachers in building character education based on moderate Islamic values from an early age.Pendidikan Agama Islam (PAI) di tingkat sekolah dasar memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik yang moderat dan toleran terhadap keberagaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya guru PAI dalam menumbuhkan nilai moderasi beragama dan sikap toleransi di SDN Cluring, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan analisis data model Miles dan Huberman, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI menerapkan strategi keteladanan, integrasi nilai toleransi dalam pembelajaran, diskusi terbuka, serta pembiasaan sikap toleran melalui kegiatan rutin sekolah. Strategi tersebut terbukti efektif dalam membentuk sikap saling menghormati dan menerima perbedaan di kalangan siswa. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan peran guru PAI dalam membangun pendidikan karakter berbasis nilai islam moderat sejak dini

    Sufistic Psychotherapy Through Wirid Dalail Khairat: Towards A Resilient Mental Character

    Full text link
    Modernization has generated various life challenges that contribute to the rise of mental and psychological disorders, highlighting the need for alternative approaches beyond medical treatment. This study focuses on the Wirid Dalail Khairat as a form of Sufi psychotherapy in addressing mental health issues. The research employs a qualitative method using content analysis to examine the texts and meanings of Dalail Khairat, interpreted through the theoretical framework of Sufi psychotherapy. The findings indicate that the practice of Dalail Khairat contains psychological, moral, and spiritual dimensions that play a significant role in calming the mind, reducing stress, controlling excessive desires, fostering inner peace, and strengthening closeness to Allah. Therefore, Dalail Khairat can be understood as an effective Sufi psychotherapeutic method that contributes positively to individual well-being and quality of life in the context of modern challenges.  Modernisasi membawa berbagai persoalan kehidupan yang berdampak pada meningkatnya gangguan mental dan psikologis. Kondisi ini menuntut adanya pendekatan alternatif selain medis, salah satunya melalui pendekatan spiritual. Penelitian ini berfokus pada kajian Wirid Dalail Khairat sebagai bentuk psikoterapi tasawuf dalam membantu pemulihan kesehatan mental. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis isi (content analysis) terhadap teks dan makna Dalail Khairat, yang dianalisis menggunakan kerangka teori psikoterapi sufistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik Dalail Khairat mengandung dimensi psikologis, moral, dan spiritual yang berperan dalam menenangkan jiwa, mengurangi stres, mengendalikan hawa nafsu, serta menumbuhkan ketenangan batin dan kedekatan dengan Allah SWT. Dengan demikian, Dalail Khairat dapat dipahami sebagai salah satu metode psikoterapi tasawuf yang berkontribusi positif terhadap peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup individu.Kunci: Dalail Khairat, Psikoterapi, Sufisti

    Typology of Listening in the Qur’an: An Analytical Study of M. Quraish Shihab’s Tafsir al-Mishbah

    Full text link
     This study aims to explore the typology of “listening” in the Qur’an as interpreted in Tafsir al-Mishbah by M. Quraish Shihab. Employing a qualitative library research design with a descriptive–analytical approach, this study examines Qur’anic verses discussed in Tafsir al-Mishbah as its primary data sources. Data analysis follows the Miles and Huberman model, consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that Tafsir al-Mishbah identifies five typologies of listening: (1) physical listening, understood as a biological function and a sign of existence; (2) attentive listening, reflecting spiritual and intellectual awareness; (3) listening in the sense of granting or responding to supplications, which underscores God’s active responsiveness to human prayers; (4) listening with a positive response, signifying obedience, acceptance, and faith; and (5) listening with a negative response, which represents rejection and defiance of truth. These findings affirm that the Qur’anic concept of istimāʿ, as interpreted by Quraish Shihab, extends beyond physical activity and embodies deeper dimensions of consciousness, intention, and moral orientation

    Implementasi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 Terhadap Tata Kelola dan Kepastian Hukum Pertambangan Emas Skala Kecil dan Tradisional di Kabupaten Bone Bolango

    Full text link
    Artisanal and Small-Scale Gold Mining (ASGM) continues to take place outside the official licensing system and standardised management. This study aims to analyse the governance and legal certainty of small-scale mining based Law No. 3 of 2020 concerning Amendments to Law No. 4 of 2009 concerning Mineral and Coal Mining, and Government Regulation No. 96 of 2021 concerning the Implementation of Mineral and Coal Mining Business Activities, as well as to examine the gap between legal norms and their implementation at the regional level. This study uses a normative-empirical method utilising secondary data in the form of literature studies. The results show that the main problem with small-scale mining is not the absence of regulations, but rather the weak capacity of regional institutions, poor coordination between levels of government, the suboptimal designation of Small-Scale Mining Areas (WPR), and limited supervision and technical guidance. These conditions have led to the proliferation of small-scale gold mining without permits, high exposure to mercury in water and sediments, a decline in environmental quality, and increased occupational safety and health risks for miners. Thus, coordination and cooperation between the mining community and the government in these activities is necessary

    Pergeseran Paradigma Pemidanaan Indonesia: Implikasi Normatif dan Tantangan Implementasi Keadilan Restoratif dalam KUHP Nasional 2026

    Full text link
    This study discusses the paradigm shift in criminal punishment in the 2026 National Criminal Code as well as the normative implications and implementation challenges of the concept of restorative justice in the Indonesian criminal justice system ahead of its enactment in 2026.. This paradigm shift represents a fundamental transformation from a retributive approach, focused on punishing offenders toward a restorative approach that emphasizes the restoration of social relationships among offenders, victims, and the community. Normatively, the 2026 National Criminal Code introduces new provisions on conditional punishment, probationary sanctions, and case settlements through reconciliation, all of which reflect humanitarian and social justice values as embodied in Pancasila. This research employs a normative juridical method with statutory and conceptual approaches to analyze the substance of these changes and their legal implications. The findings indicate that although the restorative justice paradigm provides a new direction toward a more humanistic criminal law system, its implementation faces several challenges, including the readiness of law enforcement institutions, resistance rooted in a repressive legal culture, and the need for more operational derivative regulations. Therefore, the enforcement of the 2026 National Criminal Code serves as a crucial momentum for reforming Indonesia’s criminal law to ensure not only legal certainty but also substantive justice and social benefit for Indonesian society.Penelitian ini membahas perubahan paradigma pemidanaan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Nasional 2026 serta implikasi normatif dan tantangan implementasi konsep keadilan restoratif dalam sistem peradilan pidana Indonesia menjelang berlakunya di tahun 2026. Pergeseran paradigma ini menandai transformasi mendasar dari pendekatan retributif yang menitikberatkan pada pembalasan terhadap pelaku, menuju pendekatan restoratif yang berorientasi pada pemulihan hubungan sosial antara pelaku, korban, dan masyarakat. Secara normatif, KUHP Nasional 2026 memuat ketentuan baru mengenai pidana bersyarat, pidana pengawasan, dan penyelesaian perkara melalui kesepakatan damai, yang mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial sebagaimana terkandung dalam Pancasila. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif melalui pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Selain itu, analisis sosio-legal digunakan secara terbatas untuk menjelaskan tantangan implementasi keadilan restoratif dalam praktik penegakan hukum. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun paradigma keadilan restoratif membawa arah baru menuju sistem hukum pidana yang lebih humanis, namun implementasinya menghadapi berbagai tantangan, seperti kesiapan aparat penegak hukum, resistensi budaya hukum yang masih represif, dan kebutuhan akan perangkat hukum turunan yang lebih operasional. Dengan demikian, pemberlakuan KUHP Nasional 2026 menjadi momentum penting bagi pembaruan hukum pidana nasional agar tidak hanya menegakkan kepastian hukum, tetapi juga menghadirkan keadilan substantif dan kemanfaatan sosial bagi masyarakat Indonesia

    PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) DENGAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN HADITS KELAS VII

    Full text link
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar peserta didik yang belajar menggunakan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dengan hasil belajar peserta didik yang belajar menggunakan model pembelajaran Team Games Tournament (TGT) pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits kelas VII di MTsN 6 Agam. Jenis penelitian ini menggunakan  penelitian kuantitatif. Metode yang digunakan adalah metode penelitian eksperimen. Adapun desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Eksperimen Design (eksperimen semu) bentuk non equivalent control group design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan uji hipotesis dengan Uji Independent Sample T-test diperoleh nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0.158 maka diambil keputusan bahwa  (0.158 > 0.05). Hal ini berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar peserta didik yang belajar menggunakan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dengan hasil belajar peserta didik yang belajar menggunakan model pembelajaran Team Games Tournament (TGT) pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits dengan perolehan rata-rata post-test kelas eksperimen 2 VII.3 sebesar 89.06 dan rata-rata post-test kelas eksperimen 1 VII.4 sebesar 89.06. Perbedaan rata-rata kedua kelas tersebut sebesar 2.56, sehinnga  diterima dan  ditolak

    Manajemen Pendidikan Islam MANAJEMEN SEKOLAH DALAM MEMBUDAYAKAN LITERASI MEDIA DAN PENERAPAN TEKNOLOGI DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP BUKIT ASAM TANJUNG ENIM: SCHOOL MANAGEMENT IN CULTIVATING MEDIA LITERACY AND THE APPLICATION OF TECHNOLOGY IN ISLAMIC RELIGIOUS EDUCATION LEARNING AT SMP BUKIT ASAM TANJUNG ENIM

    No full text
    Abstract Improving the quality of education is the main goal in the Indonesian education system, especially in Islamic religious education. One approach that can be applied is through effective school management in cultivating media literacy and the application of technology in Islamic Religious Education (PAI) learning. This study aims to examine the implementation of school management in cultivating media literacy and the application of technology in PAI learning at SMP Bukit Asam. The method used in this study is descriptive qualitative with data collection through interviews, observations, and documentation. The results of the study indicate that the use of technology in learning and the media literacy program through "Dear Time" has succeeded in improving the quality of students\u27 understanding of PAI material, although there are still some obstacles in terms of technology access and students\u27 understanding of the use of digital media. Optimal implementation of technology can enrich students\u27 learning experiences and support improving the quality of education in schools. Keywords: Media Literacy, Technology, School Management, Education Quality.Abstrak Peningkatan mutu pendidikan merupakan tujuan utama dalam sistem pendidikan Indonesia, terutama dalam pendidikan agama Islam. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah melalui manajemen sekolah yang efektif dalam membudayakan literasi media dan penerapan teknologi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi manajemen sekolah dalam membudayakan literasi media serta penerapan teknologi dalam pembelajaran PAI di SMP Bukit Asam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dalam pembelajaran serta program literasi media melalui "Dear Time" berhasil meningkatkan kualitas pemahaman siswa terhadap materi PAI, meskipun masih terdapat beberapa kendala dalam hal akses teknologi dan pemahaman siswa terhadap penggunaan media digital. Implementasi teknologi yang optimal dapat memperkaya pengalaman belajar siswa dan mendukung peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Kata Kunci: Literasi Media, Teknologi, Manajemen Sekolah, Mutu Pendidikan

    IMPLEMENTASI GOOGLE EARTH SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI

    Full text link
    Effective geography education requires instructional media capable of visualizing spatial phenomena in a realistic and interactive manner. Google Earth, a digital mapping application based on satellite imagery and geospatial data, offers an innovative approach to address this need. This study aims to examineimplementation and advantages of Google Earth as a contextual learning medium in geography education through a systematic literature review. The analysis reveals that Google Earth significantly enhances students’ comprehension of key geographical concepts, including absolute and relative location, spatial distribution, spatial interaction, and regional dynamics, through 3D visualizations and geospatial data exploration. Furthermore, its integration supports project-based and inquiry-based learning models aligned with the Merdeka Curriculum. However, several challenges hinder its implementation, such as limited technological infrastructure, low digital literacy among educators and learners, and various technical issues. To fully leverage the potential of Google Earth in geography instruction, strategic implementation planning, teacher training, and institutional support are essential.Penguasaan konsep-konsep geografi oleh peserta didik menuntut adanya media pembelajaran yang mampu memvisualisasikan fenomena spasial secara nyata dan interaktif. Salah satu solusi inovatif yang dapat digunakan adalah Google Earth, aplikasi pemetaan digital berbasis citra satelit dan geospasial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi dan keunggulan Google Earth sebagai media pembelajaran kontekstual dalam mata pelajaran geografi melalui metode studi kepustakaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Google Earth memiliki potensi besar dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep lokasi, distribusi spasial, interaksi antar ruang, serta dinamika wilayah melalui visualisasi tiga dimensi dan eksplorasi data spasial. Selain itu, media ini juga mendukung pendekatan pembelajaran berbasis proyek dan inkuiri yang selaras dengan Kurikulum Merdeka. Namun demikian, implementasi Google Earth masih menghadapi sejumlah tantangan seperti keterbatasan infrastruktur teknologi, rendahnya literasi digital guru dan siswa, serta kendala teknis lainnya. Oleh karena itu, melalui kajian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa dibutuhkan strategi implementasi yang tepat, pelatihan guru, dan dukungan institusi pendidikan agar potensi Google Earth dapat dioptimalkan dalam proses pembelajaran geografi

    Penundaan Pelaksanaan Hak Suami Istri Pasca Akad Dalam Kawing Soro’ Pada Masyarakat Bugis Wajo Perspektif Sosiologi Hukum Islam

    Full text link
    Kawing soro’ is a customary marital practice of the Bugis community in Sajoanging District, Wajo Regency, in which the marriage contract is carried out prior to the traditional wedding reception. This arrangement results in a deliberate postponement of marital rights and obligations after the contract, including restrictions on cohabitation, sexual relations, and physical proximity until the customary ceremony is completed. This study aims to describe the pattern of deferred marital rights within the kawing soro’ tradition and to analyze it from an Islamic legal perspective. The research employs a qualitative field approach complemented by a Islamic law sociology framework. Data were collected through interviews with community leaders, religious figures, traditional practitioners, and married couples, as well as through library research. The data were analyzed descriptively and analytically by correlating empirical findings with Islamic legal principles.The findings indicate that the postponement of marital rights in kawing soro’ is not solely grounded in the concept of siri’ (family honor), but is also influenced by the widespread twin marriage myth, which holds that sexual relations before the traditional reception may bring misfortune, as well as by social-status considerations and economic readiness of the families involved. In Islamic law, however, once the marriage contract is valid, the couple attains full rights to cohabit and engage in lawful marital relations, without the obligation to wait for the reception. Thus, the practice of kawing soro’ is more strongly rooted in local custom and cultural belief than in Islamic jurisprudence. These findings illustrate a normative tension between adat and Sharia, highlighting the need for balanced cultural education so that customary values can coexist with Islamic legal principles, ensuring the fulfillment of marital rights as prescribed by the Sharia.Praktik kawing soro’ merupakan bagian dari adat perkawinan masyarakat Bugis di Kecamatan Sajoanging, Kabupaten Wajo, yaitu pelaksanaan akad nikah yang didahulukan sebelum resepsi adat dilangsungkan. Akibatnya, terjadi penundaan pemenuhan hak dan kewajiban suami istri pasca-akad, seperti larangan tinggal serumah, larangan berhubungan badan, serta pembatasan interaksi fisik hingga acara resepsi adat selesai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola penundaan hak suami istri dalam kawing soro’, sekaligus menganalisisnya melalui perspektif hukum Islam. Metode yang digunakan adalah penelitian lapangan dengan pendekatan sosiologis hukum Islam melalui wawancara tokoh masyarakat, tokoh agama, pelaku adat, pasangan pengantin, serta telaah literatur relevan. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitik untuk mengaitkan temuan empiris dengan norma hukum Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penundaan hak suami istri dalam kawing soro’ tidak semata-mata berlandaskan pada nilai siri’ (kehormatan keluarga), tetapi juga dipengaruhi oleh mitos kawin kembar yang diyakini membawa kesialan bagi keluarga jika hubungan suami istri dilakukan sebelum pesta adat selesai, serta pertimbangan status sosial dan kesiapan ekonomi keluarga mempelai. Namun, dalam hukum Islam, akad nikah yang sah langsung memberikan hak hubungan suami istri tanpa adanya kewajiban menunggu resepsi. Dengan demikian, praktik kawing soro’ lebih kuat berpijak pada adat dan kepercayaan lokal dibandingkan ketentuan fikih. Temuan ini memperlihatkan adanya ketegangan normatif antara adat dan syariat, sehingga diperlukan edukasi kultural yang lebih berimbang agar penghormatan adat dapat berjalan seiring dengan pemenuhan hak suami istri sesuai prinsip hukum Islam

    2,210

    full texts

    2,582

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journal of IAIN Sultan Amai Gorontalo
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇