eJournals System Universitas Mulawarman
Not a member yet
4795 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU (MPASI) DENGAN KEJADIAN STUNTING DI KELURAHAN GUNUNG KELUA SAMARINDA
Stunting yaitu kondisi gangguan pertumbuhan karena gizi kurang kronis yang ditunjukkan dengan tinggi badan <-2 SD pada hasil penilaian tinggi badan menurut umur. Kelurahan Gunung Kelua merupakan wilayah dengan kejadian balita stunting tertinggi tahun 2020 di Samarinda. Permasalahan pertumbuhan masa awal kehidupan dapat disebabkan karena pemberian makanan pendamping air susu ibu (MPASI) yang tidak mencukupi dan tidak tepat. Tujuan penelitian ini yaitu hubungan antara frekuensi MPASI, porsi MPASI, dan variasi MPASI dengan kejadian stunting di Kelurahan Gunung Kelua Samarinda. Desain penelitian ini yaitu analisis observasional menggunakan pendekatan kasus kontrol. Data penelitan ini adalah data primer dari kuesioner dan sekunder dari data balita di Puskesmas Juanda dengan teknik total sampling pada sampel kasus dan simple random sampling pada sampel kontrol didapatkan 24 kasus serta 24 kontrol. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Analisis data didapatkan terdapat hubungan antara frekuensi MPASI (p=0,016) dan porsi MPASI (p=0,008) dengan kejadian stunting, serta tidak terdapat hubungan antara variasi MPASI (p=0,057) dengan kejadian stunting. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan terdapat hubungan antara frekuensi dan porsi MPASI dan tidak terdapat hubungan antara variasi MPASI dengan kejadian stunting.
MANAJEMEN PERIOPERATIF PADA PASIEN HIPERTENSI
Hipertensi merupakan salah satu penyakit utama yang menyebabkan kematian di dunia. Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi hipertensi sebesar 34,11% pada penduduk berusia >18 tahun di Indonesia. Komplikasi hipertensi berdampak pada pembuluh darah, jantung, otak, ginjal, mata, dan organ lainnya. Pasien dengan hipertensi tidak terkontrol dan menjalani operasi dapat mengalamipenurunan tekanan darah yang besar selama pemberian anestesi yang menyebabkan kerusakan organ. Laporan ini bertujuan mendiskusikan kasus seorang pria berusia 67 tahun dengan Batu Renal Staghorn disertai hipertensi yang menjalani operasi. Dokter layanan primer berperan dalam mendiagnosis pasien hipertensi, mengupayakan tekanan darah pasien tetap terkontrol, mengoptimalkan kondisi pasien pada persiapan perioperatif guna menurunkan kemungkinan timbulnya komplikasi akibat hipertensi
Analisis Faktor Risiko Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Kerja Puskesmas Bengkuring Kecamatan Samarinda Utara Kota Samarinda Tahun 2023
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah Kesehatan pada masyarakt Indonesia. Di Kalimantan Timur kasus DBD masih merupakan masalah Kesehatan, pada tahun 2023 kasus DBD di wilayah ker Puskesmas Bengkuring sebesar 97 kasus dan menjadi yang tertinggi di Samarinda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Bengkuring Kecamatan Samarinda Utara Kota Samarinda Tahun 2023. Jenis penelitian adalah obervasional analitik dengan pendekatan case control. Data sampel penelitian diperoleh dari kuesioner dan data Puskesmas Bengkuring atahun 2023. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian sebanyak 19 sampel, yaitu 97 sampel kasus DBD dan 97 sampel kontrol. Analisis bivariat dengan menggunakan uji chi-square menyatakan terdapat hubungan yang bermakna antara densitas jentik (p=0,001) dan perilaku PSN 3M (p=0,001) serta tidak ada hubungan antara kepadatan hunian (p=1,000), penggunaan kasa pada ventilasi rumah (p=0,608) dan kebiasaan menggantung pakaian (p=0,106) dengan kejadian DBD. Berdasarkan analisis bivariat bahwa ada hubungan densitas jentik dengan kejadian DBD, serta adanya hubungan antara perilaku PSN 3M dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Bengkuring Kecamatan Samarinda Utara Kota Samarinda tahun 2023.
Kata kunci: faktor risiko, demam berdarah dengu
HUBUNGAN HIPERTENSI DENGAN KUALITAS HIDUP PADA LANSIA DI WILAYAH PUSKESMAS LEMPAKE SAMARINDA
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang sering diderita oleh lansia dan dapat mempengaruhi kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hipertensi dengan kualitas hidup pada lansia di wilayah Puskesmas Lempake Samarinda. Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada bulan Agustus 2023. Data diperoleh dari 56 lansia berusia antara 60-84 tahun yang diambil dengan teknik consecutive sampling di Posyandu Lempake Samarinda. Penelitian ini menggunakan tensimeter dan kuesioner EuroQol 5-Dimension. Hasil penelitian ini didapatkan hipertensi dan kualitas hidup tidak memiliki hubungan yang bermakna (p= 0,108) dengan uji Chi-square. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara hipertensi dengan kualitas hidup lansia di wilayah Puskesmas Lempake Samarinda
PENGARUH INDEPENDENSI, KOMPETENSI, BUDAYA ORGANISASI TERHADAP OPINI AUDIT YANG MODERASI OLEH TINGKAT RELIGIUSITAS
ABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi pengaruh indenpendensi, kompetensi, budaya organisasi terhadap opini audit dengan religiusitas sebagai variabel moderating. Penelitian ini menggunakan metode analisa data kuantitatif dengan melibatkan 45 auditor yang bekerja pada kantor akuntan publik Kota Malang dan menggunakan analisa data SmartPLS dengan purposive random sampling. Sumber data pada penelitian ini menggunakan data primer dan data skunder. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa variabel indenpendensi( XI) pengaruhi positif terhadap opini audit dengan angka 0, 737, besar pengaruh kompetensi( X2) dengan angka 0, 860 dan budaya organisasi( X3) dengan angka 0, 729 pengaruhi positif signifikan terhadap opini audit serta variabel religiusitas berpengaruhi terhadap opini audit dengan angka 0, 810, variabel yang pengaruhi kuat terhadap opini audit pada penelitian ini yaitu kompetensi dengan angka 0, 860. Kata Kunci : Indenpendensi, Kompetensi, Budaya Organisasi, Opini Audit, Religiuaitas
SWOT ANALYSIS BUSINESS MODEL CANVAS DALAM STRATEGI PENGEMBANGAN DESA WISATA TEPAS PAPANDAYAN
Sektor pariwisata memiliki potensi yang signifikan untuk pertumbuhan, terutama dalam pengembangan desa wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi pengembangan Desa Wisata Tepas Papandayan di Desa Karamatwangi, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut. Pendekatan yang digunakan adalah Business Model Canvas (BMC) dan analisis SWOT untuk menghasilkan strategi alternatif. Metode yang diterapkan adalah metode kombinasi dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, kuesioner dan FGD. Pendekatan kuantitatif mencakup penyebaran kuesioner kepada 98 warga lokal untuk menggambarkan sembilan dimensi BMC. Pendekatan kualitatif melibatkan wawancara dan FGD dengan tiga informan: Kepala Desa, Pengelola dan ketua pokdarwis. Hasil analisis menunjukkan respon positif terhadap sembilan dimensi BMC. Analisis SWOT menempatkan Desa Wisata Tepas Papandayan dalam kuadran I, mendukung strategi pertumbuhan yang agresif. Dengan demikian, desa ini dapat memanfaatkan potensi internal dan peluang eksternal. Hasil dari kedua pendekatan digabungkan untuk menghasilkan strategi alternatif, termasuk kampanye pemasaran yang menonjolkan keindahan alam, pengembangan Community-Based Tourism (CBT) untuk melibatkan masyarakat lokal, promosi produk lokal melalui tiket masuk terpadu, peningkatan infrastruktur dan keselamatan, pelatihan kewirausahaan dan pengelolaan usaha souvenir serta penyusunan kalender acara wisata untuk menarik pengunjung melalui acara khusus. Dengan strategi ini, Desa Wisata Tepas Papandayan berpotensi menjadi tujuan wisata yang unik, berkelanjutan dan berdampak positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar
PERAN APARAT KELURAHAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KELURAHAN TALANG SEMUT KOTA PALEMBANG
There are officials who are lazy because of the lack of awareness of Talang Semut Village officials in community empowerment. There is a significant gap between expectations and reality in the involvement and support of Villages officials. This study aims to analyze the role of the Talang Semut Village apparatus in the implementation of community empowerment in Kedaung Village. This research uses a descriptive method with a qualitative approach. Data collection techniques used in research are observation, interviews and documentation. This study was analyzed using Soekanto's role theory (2012: 213), namely roles include norms associated with a person's position or place in society; behavior carried out by individuals in society as an organization; and individual behavior that is important to the social structure of society. The results of the study found that the Talang Semut Village apparatus played a role in community empowerment, seen from the three indicators, namely the norms of the Talang Semut Village apparatus which became the basis for community empowerment, namely openness and transparency, justice and equality, active community participation, sustainability and responsibility, collaboration and partnership and responsive to community needs. These norms have been successfully implemented and used as a benchmark in implementing the role of apparatus in community empowerment. The behavior of Talang Semut Villages officials has been successful in empowering the community, although it is considered weak because no data has been found to support arguments. However, efforts to increase community participation, identification of problems and needs, program planning, program implementation, as well as evaluation and monitoring carried out by village officials have had a positive impact and empowered the community effectively. The important behavior of individuals in the social structure of society has been successful which is reflected in the positive impact felt by the community. Communities experience increased access to public services, improved quality of life, increased participation in decision-making, and increased involvement in social and economic activities
KINERJA PUSTAKAWAN DALAM PEMBERIAN PELAYANAN PUBLIK PADA DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN PROVINSI SUMATERA SELATAN
This study aims to analyze and explain the performance of librarians in providing public services at the South Sumatra Province Library and Archives Service and to explain the inhibiting factors of librarian performance in providing public services. The low competence of librarian human resources and the lack of number of librarians in the Soeman HS public library managed by the South Sumatra Province Library and Archives Service, means that the number of services available and the amount of workload is not balanced. The research method used is a qualitative approach. Data collection techniques in the form of interviews, observation, and documentation. while the research informants who were included by researchers were 12 (twelve) people. The results of this study explain that the performance of librarians in providing public services at the Riau Province Library and Archives Service is quite good according to their main duties and functions. However, in the context of Human Resources, qualified librarians are still needed through appointments made by the Regional Government or from librarianship training with the aim that services at the South Sumatra Province Library and Archives Service can improve. If seen from the performance indicators based on Sedarmayanti's theory, there are still inhibiting factors for librarian performance in providing public services at the South Sumatra Province Library and Archives Service, namely. Judging from the work quality indicators, there is still a lack of user guidance for novice users who need to get various information and facilities needed available in the library; Judging from the timeliness indicator, there is still a lack of discipline in returning books. Judging from the Initiative Indicators, there is still a lack of cooperation with schools in Palembang City. Judging from the Capability Indicator, there is still a lack of individual librarian competence. Judging from the communication indicators, there is still a lack of information guides in the Soeman HS library. Librarians need to improve performance in providing services in terms of quality and quantity of work by participating in training or technical guidance to increase competence
Bentuk dan Makna Kontekstual Onomatope pada Webtoon ‘Who’s Mr. President?’ Karya S.M.S
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk, makna dan fungsi onomatope pada Webtoon 'Who's mr. President?' Karya S.M.S. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data diambil dari Webtoon dan sumber data berasal dari keseluruhan 68 episode Webtoon 'Who's Mr. President?' Karya S.M.S. Metode pengambilan data yang digunakan adalah teknik studi pustaka dan dokumentasi. Peneliti menggunakan metode padan dan agih untuk melakukan analisis bentuk, makna, dan fungsi dari onomatope. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat bentuk onomatope dalam Webtoon 'Who's Mr. President?'. Di antaranya ditemukan 4 onomatope suara hewan, 5 onomatope suara alam, 93 onomatope suara manusia, dan 64 onomatope aneka ragam imitasi suara. Kemudian, terdapat 4 makna kontekstual yang terkandung di dalam Webtoon 'Who's Mr. President?', yaitu makna kontekstual waktu, suasana hati, situasi, dan tempat. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan 3 dari 4 fungsi yaitu fungsi menambah informasi pada sebuah tulisan, fungsi memberikan kesan yang kuat bagi pembaca dan fungsi memaksimalkan realitas dalam suatu peristiwa. Kemudian, terdapat anomali onomatope suara manusia yang direpresentasikan oleh karakter hewan dalam Webtoon 'Who's Mr. President?' Karya S.M.S
Beyond Productivity: The Role of Organizational Support and Work Engagement in Employee Well-Being within the Automotive Industry
The automotive industry is a dynamic and complex manufacturing sector that requires employees not only to excel in technical skills but also to maintain psychological well-being in order to support optimal performance. Employee well-being is a crucial aspect that encompasses physical health, mental health, and job satisfaction. However, in practice, employee well-being is often influenced by psychosocial factors such as organizational support and work engagement. This study aims to analyze the influence of perceived organizational support and work engagement on employee well-being in the context of the automotive industry. The research involved 57 employees of PT. X selected through random sampling. The instruments used included the Employee Well-Being Scale (EWBS), the Perceived Organizational Support Scale (SPOS), and the Utrecht Work Engagement Scale (UWES). Data analysis was conducted using multiple linear regression. The results revealed that perceived organizational support and work engagement significantly influenced employee well-being (R² = 0.567; p < 0.05). Partially, perceived organizational support (β = 1.017; p = 0.015) and work engagement (β = 0.640; p = 0.000) contributed positively and significantly to employee well-being. These findings highlight the importance of organizational support and work engagement in enhancing employee well-being. The implications suggest that organizations need to strengthen internal support and design effective engagement strategies to promote a healthier and more productive workforce.Industri otomotif merupakan sektor manufaktur yang dinamis dan kompleks, yang menuntut karyawan tidak hanya unggul dalam keterampilan teknis, tetapi juga memiliki kesejahteraan psikologis yang baik guna mendukung kinerja optimal. Employee well-being menjadi aspek penting yang mencakup kesehatan fisik, mental, serta kepuasan kerja. Namun, dalam praktiknya kesejahteraan karyawan kerap dipengaruhi oleh faktor psikososial, seperti dukungan organisasi dan keterikatan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perceived organizational support dan work engagement terhadap kesejahteraan karyawan dalam konteks industri otomotif. Penelitian dilakukan pada 57 karyawan PT. X dengan metode random sampling. Instrumen yang digunakan meliputi Employee Well-Being Scale (EWBS), Perceived Organizational Support Scale (SPOS), dan Utrecht Work Engagement Scale (UWES). Analisis data menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceived organizational support dan work engagement berpengaruh signifikan terhadap employee well-being (R² = 0,567; p < 0,05). Secara parsial, perceived organizational support (β = 1,017; p = 0,015) dan work engagement (β = 0,640; p = 0,000) memberikan kontribusi positif dan signifikan terhadap kesejahteraan karyawan. Temuan ini menegaskan pentingnya dukungan organisasi dan keterikatan kerja dalam meningkatkan kesejahteraan karyawan. Implikasi penelitian menunjukkan perlunya organisasi untuk memperkuat dukungan internal serta merancang strategi keterlibatan kerja yang efektif guna mewujudkan tenaga kerja yang lebih sehat dan produktif