eJournals System Universitas Mulawarman
Not a member yet
    4795 research outputs found

    The Influence of Geological Structure against Gunung Batu Pek in New Ritan Village, Tabang District, Kutai Kartanegara Regency

    No full text
    “Intrusi Atan” is one of the formations that compose the upper part of the Kutai Basin, dating from the Oligocene–Miocene. A notable feature of this Intrusion is Gunung Batu Pek, located in Ritan Baru Village. The aim of this study is to determine the characteristics of the rock at Gunung Batu Pek as well as its genesis. The research was conducted using the FFD (Fault–Fracture–Density) method to identify the structural geological trends controlling the area, followed by geological mapping to characterize the local rock types. The study identified six stations, each revealing that Gunung Batu Pek is composed of andesite, exhibiting well-developed columnar jointing. The Atan Intrusion formed due to volcanic activity associated with an extensional phase of the Kutai Basin during the Late Oligocene to Early Miocene.

    Daya terima kulit pie substitusi tepung pisang termodifikasi fisik sebagai alternatif pangan rendah gluten

    No full text
    Pisang merupakan komoditas hortikultura terbesar di Provinsi Lampung. Tepung pisang merupakan tepung bebas gluten. Tepung terigu sebagai sumber gluten utama dalam produk makanan perlu disubstitusi dengan bahan alternatif yang aman namun tetap mempertahankan karakteristik fungsional. Tepung pisang termodifikasi fisik mempunyai stabilitas termal baik dan mengurangi daya lengket. Penelitian ini mengkaji penggunaan tepung pisang sebagai substitusi tepung terigu pada kulit pie. Penelitian bertujuan menganalisis karakteristik organoleptik kulit pie dengan tepung terigu komposit yang disubstitusi tepung pisang termodifikasi fisik sebagai alternatif pangan rendah gluten. Desain penelitian adalah true experiment dalam Rancangan Acak Lengkap dengan tiga pengulangan. Terdapat 5 formula (perbandingan tepung pisang termodifikasi fisik (TP) dan tepung terigu TR): TP 10% : TR 90% (P1), TP 20% : TR 80% (P2), TP 30% : TR 70% (P3), TP 40% : TR 60% (P4), TP 50% : TR 50% (P5). Parameter yang diamati adalah respons organoleptik hedonik untuk warna, aroma, rasa, tekstur dan penerimaan keseluruhan. Data dianalisis dengan ANOVA, dilanjutkan uji Duncan pada a 5%. Panelis menyukai kulit pie pada level netral cenderung agak suka dari formula P3 (TP 30% dan TR 70%) dengan skor tertinggi untuk warna, aroma, rasa, dan tekstur. Formula tepung terigu komposit dengan substitusi tepung pisang termodifikasi fisik 30% dapat menjadi bahan baku diversifikasi pangan lokal rendah gluten

    Formulasi pembuatan sirop herbal bunga telang (Clitoria ternatea) dengan penambahan jahe (Zingiber officinale)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan menentukan formulasi optimal sirup herbal berbahan bunga telang dengan penambahan jahe serta mengevaluasi karakteristik fisikokimia dan organoleptiknya. Penelitian ini adalah penelitian faktor tunggal (penambahan jahe, 0-30 g untuk setiap bunga telang sebanyak 5 g) yang dirancang dalam Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA dilanjutkan dengan DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan jahe berpengaruh signifikan terhadap respons organoleptik untuk rasa dan aroma sirup herbal bunga telang, tetapi tidak untuk warna. Sirup dengan penambahan jahe 20 g mendapatkan respons organoleptik hedonik tertinggi untuk parameter rasa 7,20 dan aroma 7,30. Respons organoleptik mutu hedonik menunjukan bahwa penambahan jahe meningkatkan kualitas rasa dan aroma sirup, dengan nilai tertinggi pada penambahan 30 g jahe yang memberikan skor untuk rasa 4,23 dan aroma 4,07. Nilai pH berkisar antara 5,56 (F0) hingga 5,83 untuk sirop tanpa penambahan jahe sampai dengan penambahan jahe 30 g, dengan perbedaan signifikan. Nilai pH yang diperoleh sesuai dengan rekomendasi bahwa sirup yang baik, memiliki pH antara 4-7. Melalui uji kualitatif, semua sampel diketahui mengandung senyawa flavonoid dan senyawa fenolik. Selain itu, semua formulasi menunjukkan homogenitas yang baik

    Pengaruh pemberian tepung Yakon (Smallanthus sonchifolius) terhadap profil glukosa darah pada tikus model diabetes

    No full text
    Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik dengan prevalensi meningkat dan menimbulkan komplikasi serius. Pengelolaan diabetes tidak hanya mengandalkan terapi farmakologis, tetapi memerlukan pendekatan pangan fungsional. Yakon (Smallanthus sonchifolius) merupakan sumber fruktooligosakarida (FOS), inulin, dan polifenol yang berperan dalam modulasi metabolisme glukosa, sensitivitas insulin, serta perlindungan terhadap stres oksidatif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh tepung yakon terhadap profil glukosa darah pada tikus model diabetes. Desain penelitian menggunakan pre-test and post-test control group dengan 30 tikus Wistar yang dibagi dalam enam kelompok: normal, kontrol negatif, kontrol positif (glibenklamid), dan tiga kelompok perlakuan dengan dosis tepung yakon berbeda. Induksi diabetes dilakukan dengan streptozotocin dan nikotinamid, dilanjutkan intervensi tepung yakon selama 14 hari. Hasil menunjukkan kelompok perlakuan mengalami penurunan nyata kadar glukosa darah puasa dibandingkan kontrol negatif (p<0,05), dengan efek terbesar pada dosis 2 g / kg BB. Pemberian tepung yakon membantu mempertahankan berat badan tikus lebih stabil dibandingkan kontrol negatif. Mekanisme yang mendasari adalah fermentasi FOS menghasilkan short-chain fatty acids (SCFA) serta meningkatkan sekresi GLP-1. Simpulan penelitian ini adalah tepung yakon berpotensi sebagai intervensi nutraseutikal dalam pengelolaan diabetes melitus

    Pemanfaatan bioproduk dan hasil samping pengolahan karet alam dan potensi konversi menuju produk bernilai tambah: Sebuah tinjauan literatur

    No full text
    Industri pengolahan karet alam di Indonesia, yang merupakan komoditas ekspor utama, menghadapi tantangan serius dari limbah cair dan padat seperti serum lateks, lumpur, biji karet, dan cangkang biji karet. Limbah-limbah ini memiliki komponen berharga tetapi juga dapat merusak lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Mempertimbangkan kesulitan dalam pengelolaan limbah dan peluang untuk meningkatkan nilai, tinjauan ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi konversi produk sampingan dan limbah dari pengolahan karet menjadi berbagai produk bernilai tambah. Tinjauan ini dilakukan secara sistematis dengan mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis literatur ilmiah (2015–2025) dari basis data seperti Scopus, Web of Science, dan Google Scholar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap jenis limbah memiliki potensi konversi yang signifikan: serum lateks dapat diubah menjadi pestisida biologis, lumpur dapat menjadi biogas atau arang aktif, biji karet dapat digunakan untuk biodiesel atau produk pangan, dan cangkang biji karet dapat dibuat menjadi arang aktif atau biobriket. Potensi ini mengubah limbah menjadi aset, meningkatkan efisiensi sumber daya, dan mendukung keberlanjutan industri. Meskipun terdapat tantangan seperti komposisi bahan baku yang bervariasi, kebutuhan detoksifikasi, dan biaya investasi awal, keberhasilan pemanfaatan potensi ini bergantung pada pengembangan teknologi konversi yang efisien, penerapan konsep biorefineri terpadu, dan dukungan regulasi yang kuat

    Analisis optimalisasi pemesanan bahan baku pepaya merah dengan pendekatan MRP pada agroindustri cocktail buah

    No full text
    Sistem perencanaan pemesanan kebutuhan bahan baku pepaya merah pada produk cocktail di Agroindustri Cocktail belum optimal karena masih menggunakan metode yang menimbulkan biaya persediaan bahan baku yang relatif besar serta sering mengalami kekurangan pasokan bahan baku akibat kurang tepatnya perencanaan pemesanan ulang bahan baku, sehingga menghambat proses produksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kebutuhan serta waktu pemesanan bahan baku yang optimal dan efisiensi biaya persediaan dalam produksi cocktail buah dengan bahan baku pepaya merah pada agroindustri cocktail buah. Analisis data dilakukan menggunakan metode Material Requirement Planning (MRP) dengan membandingkan teknik lot sizing, yaitu Lot for Lot (LFL), Economic Order Quantity (EOQ), dan Periodic Order Quantity (POQ). Hasil analisis menunjukkan bahwa metode LFL merupakan teknik pemesanan yang paling efisien dengan frekuensi pemesanan sebanyak 52 kali dalam satu tahun dan total biaya persediaan sebesar Rp780.000,00. Sementara itu, kebijakan pemesanan yang diterapkan oleh perusahaan menunjukkan frekuensi pemesanan sebanyak 160 kali dalam satu tahun dengan total biaya persediaan sebesar Rp6.150.000,00

    Integrasi Prinsip Circular Economy dalam Kebijakan Publik untuk Mewujudkan Tata Kelola Lingkungan Berkelanjutan di Kota Padang

    No full text
    Permasalahan utama yang dihadapi Kota Padang dalam pengelolaan lingkungan adalah meningkatnya tekanan terhadap sumber daya alam akibat urbanisasi dan pola konsumsi linear. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi prinsip circular economy dalam kebijakan publik lingkungan sebagai upaya mewujudkan tata kelola yang berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen perencanaan daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip circular economy telah mulai diadopsi dalam kebijakan Kota Padang, khususnya pada pengelolaan sampah berbasis 3R dan program bank sampah. Namun, penerapannya masih terbatas, belum merata di seluruh sektor, dan menghadapi hambatan seperti rendahnya kapasitas sumber daya manusia, regulasi yang belum adaptif, serta kurangnya kesadaran masyarakat. Implementasi teknologi dan inovasi sosial terbukti mendukung efektivitas kebijakan, meskipun masih terkendala keterbatasan anggaran. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kota Padang telah menunjukkan arah positif menuju ekonomi sirkular, namun memerlukan penguatan kebijakan, kolaborasi lintas sektor, dan pemberdayaan masyarakat untuk menciptakan tata kelola lingkungan yang sistemik dan berkelanjutan

    Penamaan alat menangkap ikan pada masyarakat Kutai di Muara Kaman: kajian antropolinguistik

    No full text
    Muara Kaman merupakan salah satu daerah yang dialiri oleh Sungai Mahakam. Beberapa masyarakat Muara Kaman berprofesi sebagai nelayan oleh sebab itu peneliti tertarik untuk meneliti penamaan alat menangkap ikan yang digunakan masyarakat Kutai di Muara Kaman. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bagaimana bentuk, makna dan fungsi serta nilai budaya pada penamaan alat menangkap ikan pada masyarakat Kutai di Muara Kaman. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini berupa tuturan tentang alat menangkap ikan dalam masyarakat Kutai di Muara Kaman. Penelitian ini dilaksanakan pada 14 Mei 2024-17 Mei 2024 yang berlokasi di Muara Kaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam penelitian penamaan alat menangkap ikan pada masyarakat Kutai di Muara Kaman terdapat 12 data nama alat menangkap ikan pada masyarakat Kutai di Muara Kaman. 12 data tersebut terdapat empat pola yang muncul yakni Nama Alat (NA), Nama alat dan Nama ikan (NA+NI), Nama Alat dan Tempat (NA+T), Nama Alat, Nama Ikan, dan ukuran ikan (NA+NI+UI). Terdapat dua fungsi yakni fungsi estetik dan fungsi informasional dalam penamaan alat menangkap ikan pada masyarakat Kutai di Muara Kaman serta nilai budaya yaitu nilai kesejahteraan, nilai kerja keras, nilai disiplin, nilai pelestarian dan kreativitas budaya, dan nilai peduli lingkungan. Kata kunci: antropolinguistik, alat menangkap ikan, muara kama

    Why does Peer Social Support not Always have The Same Impact? The Role of Savoring In Adolescent Social Well-being

    No full text
    The phenomenon of low social well-being is caused by a decline in socially conscious behaviors in adolescents and a lack of social support, which leads to a lack of social connection. Some previous studies have shown that peer social support affects social well-being, although other studies do not support this finding. This study suggests that there may be other factors (moderators) that affect the peer social support variable on social well-being, specifically savoring. The purpose of this study is to examine the effect of peer social support on social well-being with savoring as a moderator variable. This research was a quantitative study with a survey type, which was conducted on high school students in the city of Yogyakarta with a sample size of 291 students. The sample determination in this study employed a cluster random sampling technique, while the data collection utilized peer social support, social well-being, and savoring scales. Instrument validity used content validity, construct validity, and reliability based on Cronbach's Alpha with α peer social support scale = 0.947, α social well-being scale = 0.814, and α savoring scale = 0.791. Data analysis techniques using macro process by Andrew F. Hayes. The results of this study show that there is no interaction between savoring and peer social support against social well-being. This suggests that savoring is unable to moderate the impact of peer social support on adolescents' social well-being. Therefore, savoring can't change the effect of peer social support on social well-being in adolescents

    Assessing the Acceptance of Pedestrian-Activated Signal System (PASS) in Malang Campus Area

    No full text
    Implementing the Pedestrian-Activated Signal System (PASS) as a traffic safety technology innovation requires a deep understanding of user readiness and acceptance, especially in campus environments that are dense with pedestrian activity. This research aims to analyze the influence of Technology Readiness (TR) factors consisting of Optimism, Innovativeness, Discomfort, and Insecurity and Technology Acceptance Model (TAM) factors, namely Perceived Ease of Use, Perceived Usefulness on Behavioral Intention to Use the PASS system.This research uses a quantitative approach with a survey method of 215 respondents who are campus academics and the community who use the PASS in Malang City. Data analysis techniques were carried out using SPSS software with multiple linear regression tests to see the influence of variables in the TR and TAM models that had been formulated.The research results show that Optimism, Innovativeness, Perceived Ease of Use, and Perceived Usefulness have a positive effect on Behavioral Intention to Use. Meanwhile, Discomfort and Insecurity have a negative effect on Behavioral Intention to Use. This suggests that both psychological readiness and technology perception play an important role in shaping PASS intention to use.These findings confirm that the success of PASS implementation is not only determined by the technical aspects of the system, but also by the mental readiness and perception of the user. Therefore, it is important for institutions and technology developers to prioritize education and outreach strategies that strengthen user acceptance. Thus, PASS can be used sustainably to support pedestrian safety in the campus environment

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournals System Universitas Mulawarman
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇