eJournals System Universitas Mulawarman
Not a member yet
    4795 research outputs found

    The potential of stingless bees cultivation with agroforestry techniques in “Kebun Sidang” Antutan Village, Bulungan District, Indonesia

    Get PDF
    Honey, which is generated by honey bees, is one of the prominent non-timber forest products among the population. The stingless bee is the species of bee that has the most potential for cultivation (local name: Kelulut). The stingless bee is the species of bee that has the potential to be domesticated. The stingless bee is a little black insect with a 3 to 4 mm body length and an 8 mm wing span. This study sought to identify the pattern of agroforestry in the evolution of stingless bee cultivation. To determine the plant types and possibilities for stingless bee feed, as well as the viability of growing stingless bee agriculture in the Community Forest of Antutan Village, Bulungan Regency. The descriptive approach and interviews and field surveys are utilized for sample purposes. The results revealed that the applied agroforestry pattern was meliponiculture, or the production of stingless bees in conjunction with plantations and agriculture. There are nine plant species with a total of 64 individuals that could serve as stingless bee food. For the business feasibility value, the R/C ratio is 1.9 and the B/C ratio is 0.9, which shows that the firm is both profitable and possible to operate

    Karakteristik nata de coco dengan penambahan ekstrak buah durian

    Get PDF
    Nata de coco dihasilkan dari fermentasi air kelapa memiliki penampakan seperti jeli, berwarna putih hingga bening dan bertekstur kenyal. Nata de coco biasanya digunakan sebagai hidangan penutup. Nata de coco berasal dari Filipina, produk pangan ini tergolong produk probiotik yang berasal dari Acetobacter xylinum, dan baik untuk kesehatan tubuh karena memiliki kadar serat tinggi sehingga sangat baik untuk pencernaan dan sangat cocok untuk dikonsumsi oleh orang yang menginginkan makanan rendah kalori. Inovasi nata de coco dengan penambahan ekstrak buah durian (EBD) dicobakan pada penelitian ini untuk menambah variasi produk nata de coco. Penambahan EBD sampai dengan 20% dicobakan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga kali ulangan. Parameter yang diamati adalah yield, kadar air, dan karakteristik organoleptik hedonik. Data dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis dilanjutkan dengan uji Dunn. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan EBD sampai dengan 20% secara signifikan (p 0,05), penambahan EBD sampai 20% tetap mendapatkan respons suka untuk setiap atribut (warna, rasa dan tekstur) organoleptik hedonik

    An Analysis of Translation Techniques Used In The Encanto Film Subtitle

    Get PDF
    Translation of literary works including films is important because many films are in English in Indonesia and not many people can understand the language. Translating means communicating, that is conveying a message to others. In the translation process, it is necessary to follow the methods and techniques of translation. The researchers chose the Encanto as the object because the Encanto is an animation that could be presented by adults as well as children. In translating the film used technique of Molina and Albir which has a character where the techniques used are functional and unrelated to each other but are based on a certain context. After analyzing the data, there are 12 techniques were used by the translator to translate the dialog in the Encanto film, which contains 475 data, they are Borrowing (10 data), Established Equivalent (1 data), Generalization (1 data), Linguistic Amplification (13 data), Linguistic Compression (211 data), Literal Translation (155 data), Modulation (16 data), Particularization (3 data), Reduction (14 data), Substitution (10 data), Transposition (15 data), Variation (26 data)

    An Exploration of Gay Adolescents' Self-Concept in Terms of Subjective Well-Being and Social Support

    Get PDF
    The issue of homosexuality, particularly gay individuals, had been a topic of debate from various perspectives, including both pro and con views. In recent decades, the presence of gay individuals began to gain attention, especially through media and films. This research aimed to explore the relationship between self-concept, subjective well-being, and social support among gay adolescents in Samarinda, as well as analyze the role of social support in moderating or mediating the relationship between self-concept and subjective well-being. This study was quantitative research with a non-experimental approach. There was a significant relationship between self-concept and subjective well-being among gay adolescents in Samarinda, and social support also influenced subjective well-being. The implications of this research could provide insights for policy counseling and more targeted interventions to improve the well-being of gay adolescents through the development of better self-concept and social support. Isu homoseksualitas khususnya gay telah menjadi topik perdebatan dari berbagai sudut pandang termasuk pro dan kontra. Dalam beberapa dekade terakhir keberadaan gay mulai mendapatkan perhatian terutama melalui media dan perfilman. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri hubungan antara konsep diri, subjective well-being, dan dukungan sosial pada remaja gay di Samarinda, serta menganalisis peran dukungan sosial dalam memoderasi atau memediasi hubungan antara konsep diri dan subjective well-being. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan non-eksperimental. Terdapat hubungan yang signifikan antara konsep diri dan subjective well-being pada remaja Gay di kota Samarinda serta dukungan sosial yang turut mempengaruhi subjective well-being. Implikasi dari penelitian ini dapat memberikan wawasan bagi penyuluhan kebijakan dan intervensi yang lebih tepat sasaran dalam meningkatkan kesejahteraan remaja Gay melalui pengembangan konsep diri dan dukungan sosial yang lebih baik

    Tarsul dan Bedandeng Kutai dalam membangun identitas budaya masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Tarsul dan Bedandeng dalam membangun identitas budaya masyarakat Kutai Kartanegara. Tarsul, sebagai seni tutur yang berkembang dari akulturasi antara tradisi lokal dan pengaruh Islam, berfungsi sebagai simbol keagamaan, spiritualitas, serta pelestarian nilai-nilai adat dalam berbagai acara khusus, seperti perkawinan dan khatam Al-Quran. Sementara itu, Bedandeng muncul sebagai kesenian vokal yang dilantunkan dalam aktivitas sehari-hari, seperti berladang dan mencari ikan, berfungsi sebagai media ekspresi emosi, identitas personal, dan penguatan kohesi sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, meliputi observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi praktik budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tarsul dan Bedandeng tidak hanya mempertahankan kontinuitas tradisi, tetapi juga menegaskan identitas budaya yang dinamis dan adaptif terhadap perubahan sosial, sesuai dengan perspektif Stuart Hall (1996) bahwa identitas kebudayaan bersifat prosesual dan selalu dalam tahap “becoming.” Penelitian ini menegaskan bahwa kesenian tradisional berperan sebagai media representasi, negosiasi, dan rekonstruksi identitas budaya masyarakat Kutai Kartanegara

    Bahasa dan kebenaran dalam diskursus digital: Perspektif validity claim Habermas

    No full text
    Penyebaran hoaks yang cepat melalui platform digital telah menjadi tantangan signifikan terhadap validitas kebenaran dalam diskursus daring. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat 1.923 konten hoaks sepanjang tahun 2024, dengan peningkatan yang menonjol selama periode pemilu. Survei nasional oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan bahwa 24,7% hoaks tersebut bersifat politis, yang menegaskan dominasi misinformasi politik di ranah digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana bahasa dalam ruang digital memengaruhi konstruksi kebenaran dan validitas intersubjektif dengan merujuk pada teori klaim validitas Jürgen Habermas. Penelitian ini menggunakan metode perbandingan artikel, yaitu dengan menelaah dan membandingkan sejumlah studi terdahulu mengenai komunikasi digital, hoaks, dan demokrasi deliberatif, sehingga diperoleh gambaran persamaan, perbedaan, serta kecenderungan temuan yang relevan. Analisis difokuskan pada bagaimana setiap artikel mengidentifikasi klaim kebenaran, validitas normatif, serta relevansi informasi dalam diskursus digital. Temuan menunjukkan bahwa meskipun ada variasi dalam pendekatan penelitian, mayoritas artikel menegaskan bahwa diskursus digital sering kali gagal memenuhi kondisi ideal komunikasi rasional Habermas akibat bias algoritmik dan keterbatasan keterbukaan. Hal ini berimplikasi pada melemahnya konsensus dan rasionalitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan literasi digital kritis sangat penting untuk memungkinkan individu menilai klaim kebenaran secara lebih efektif, mengurangi penyebaran hoaks, serta meningkatkan validitas diskursus digital

    POLA BAHASA PADA INDIVIDU DENGAN KECENDERUNGAN DEPRESI DI MEDIA SOSIAL: SEBUAH KAJIAN PSIKOLINGUISTIK

    No full text
    Depresi menduduki posisi sebagai salah satu gangguan mental yang paling umum di dunia. Perkembangan teknologi mendukung upaya pendeteksian kecenderungan depresi melalui bahasa yang termuat dalam konten media sosial. Penelitian kualitatif ini menggunakan studi literatur untuk menghimpun informasi dari penelitian-penelitian yang dominan dilakukan di luar negeri tentang pola-pola bahasa pada individu dengan kecenderungan depresi di media sosial. Hasil penelitian menunjukkan adanya pola-pola bahasa berupa: (1) postingan dikategorikan bermuatan ekspresi emosional, dukungan dan informasi, atau ekspresi kontekstual; (2) penggunaan kata-kata absolut; (3) gaya linguistik berupa pemilihan kata yang memuat emosi negatif, kata yang berfokus pada masa lalu, dan urutan kata yang tidak biasa; (4) penggunaan kata ganti orang pertama tunggal; dan (5) narasi konten yang sangat panjang atau sangat pendek.Kata kunci: pola bahasa, depresi, media sosial, psikolinguisti

    Klasifikasi Citra Gerakan Takbir Berdasarkan Fikih Syaikh Al-Albani Menggunakan Model Hibrida CNN-SVM

    No full text
    Penelitian ini mengklasifikasikan kebenaran gerakan takbir dalam salat berdasarkan parameter fikih Syaikh Al-Albani menggunakan pendekatan hibrida CNN dan SVM. Alur kerja mencakup prapemrosesan citra melalui deteksi tepi operator Prewitt dan operasi morfologi untuk pemurnian kontur, diikuti normalisasi. Fitur mendalam diekstraksi dengan VGG16 melalui transfer learning, sedangkan klasifikasi dilakukan menggunakan Support Vector Machine dengan penalaan hiperparameter serta mekanisme ambang (threshold) untuk penetapan keputusan. Dataset terdiri atas 184 citra beranotasi (146 benar, 38 tidak benar) dengan pembagian 80:20 untuk pelatihan dan pengujian. Evaluasi menggunakan akurasi, precision, recall, F1-score, dan confusion matrix. Model mencapai akurasi 95% pada data uji, menunjukkan bahwa kombinasi prapemrosesan berbasis tepi, ekstraksi fitur konvolusional, dan klasifikasi margin-maksimum efektif membedakan variasi halus pada postur takbir. Temuan ini berimplikasi pada pengembangan alat bantu pembelajaran dan koreksi gerakan salat, termasuk skenario umpan balik real-time. Keterbatasan meliputi ukuran serta ketidakseimbangan dataset dan rujukan fikih tunggal; penelitian lanjutan diarahkan pada perluasan data, validasi eksternal, dan pengujian pada perangkat nyata

    ANALISIS STABILITAS GEOMETRI LERENG DI PIT KUNGKILAN PT. BUDI GEMA GEMPITA PROVINSI SUMATERA SELATAN

    No full text
    Penelitian ini menganalisis tentang kestabilan lereng di Pit Kungkilan, PT. Langgeng Daya Agrindo, IUP PT. Budi Gema Gempita, Provinsi Sumatera Selatan, dengan berfokus pada probabilitas kelongsoran suatu lereng. Metode yang digunakan meliputi analisis kesetimbangan batas (Metode Bishop) dan simulasi probabilistik kelongsoran Monte-Carlo, dengan data geoteknik dari uji laboratorium. Permodelan dilakukan menggunakan Software Minescape 5.7 dan  Software Rocscience Slide 6.0. Hasilnya menunjukkan bahwa lereng dengan sudut 45° memiliki Faktor Keamanan sebesar 2,3 yang berarti (stabil), dan melakukan simulasi untuk mengoptimasikan nilai lereng sehingga akan tetap stabil pada sudut 45° (FK 1,3), tetapi cenderung tidak stabil pada sudut 50° (FK 1,2) dan 55° (FK 1,1). Simulasi probabilistik juga menunjukkan peningkatan risiko kelongsoran seiring bertambahnya sudut lereng. Rekomendasi mempertahankan sudut lereng sesuai standar KEPMEN ESDM No.1827 (FK>1,25) untuk menjamin keselamatan. Penelitian ini mendukung desain lereng tambang terbuka yang aman dan efisien

    Pengaruh Penambahan Protein Ampas Tahu pada Bioplastik berbahan dasar Selulosa Nanofiber dan Kitosan

    No full text
    ABSTRAK Perkembangan industri plastik telah menimbulkan masalah lingkungan yang signifikan, mendorong pencarian solusi ramah lingkungan seperti bioplastik. Bioplastik didefinisikan sebagai plastik yang berasal dari sumber daya alam hayati, termasuk polisakarida, protein, kitosan, dan lipid yang diproduksi oleh mikroorganisme. Produksi bioplastik melibatkan tiga tahapan utama: sintesis cellulose nanofibers, isolasi protein, dan formulasi bioplastik. Tahap pembuatan bioplastik diawali dengan preparasi larutan kitosan dan protein, diikuti penambahan selulosa nanofiber (CNF) serta gliserol (jika digunakan), kemudian dilanjutkan dengan pencetakan dan pengeringan menggunakan oven. Bioplastik selanjutnya dikarakterisasi melalui uji SEM, FTIR, dan biodegradasi. Hasil SEM menunjukkan permukaan bioplastik yang rata, mengindikasikan dispersi komponen yang sempurna, sementara permukaan yang tidak rata menandakan dispersi yang belum optimal. Analisis FTIR mengidentifikasi vibrasi gugus fungsional seperti O-H stretching, C-H stretching, C-O-O, C-OH, N-H, dan C-O-C. Uji degradasi yang dilakukan selama 5 hari menunjukkan bahwa bioplastik terdegradasi sempurna pada hari ke-4.Kata Kunci: ampas tahu, bioplastik, nanofiber selulosaABSTRACT The development of the plastic industry has caused significant environmental problems, driving the search for environmentally friendly solutions such as bioplastics. Bioplastics are defined as plastics derived from biological natural resources, including polysaccharides, proteins, chitosan, and lipids produced by microorganisms. The production of bioplastics involves three main stages: cellulose nanofibers synthesis, protein isolation, and bioplastic formulation. The bioplastic manufacturing stage begins with the preparation of chitosan and protein solutions, followed by the addition of cellulose nanofiber (CNF) and glycerol, and then proceeds with molding and drying using an oven. The bioplastics were further characterized through SEM, FTIR, and biodegradation tests. SEM results showed a smooth bioplastic surface, indicating perfect component dispersion, while an uneven surface indicated suboptimal dispersion. FTIR analysis identified functional group vibrations such as O-H stretching, C-H stretching, C-O-O, C-OH, N-H, and C-O-C. Degradation tests conducted over 5 days indicated that the bioplastic was completely degraded by the 4th day.Keyword: tofu waste, bioplastic, cellulose nanofibe

    4,239

    full texts

    4,795

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournals System Universitas Mulawarman
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇