eJournals System Universitas Mulawarman
Not a member yet
4795 research outputs found
Sort by
Identifikasi Prevalensi Telur Cacing pada Feses Sapi Bali (Bos sondaicus) di Kecamatan Samarinda Utara
Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi prevalensi telur cacing pada sapi dan jenis cacing apa saja yang menginfeksi sapi yang dipeliharan di Kota Samarinda serta berbagai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya cacingan. Delan puluh enam sampel feses sapi dikumpulkan dari Kecamatan Samarinda Utara. Feses diperiksa dengan meggunakan metode apung dan sedimentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi cacingan di kecamatan Samarinda Utara yaitu 42%. Spesies cacing yang ditemukan pada sapi Bali yaitu Dicrocoelium dendriticum, Toxocara vitulorum, Trichostrongylus, Oesophagostomum, Fasciola sp, dan Paramphistomum sp. tingkat infeksi diketahui dari penghitungan Egg Per Gram (EPG). Prevalensi infeksi cacingan pada ternak sapi Bali dapat disebabkan oleh berbagai faktor yaitu letak geografis, kondisi lingkungan, kualitas kandang ternak, sanitasi dan higienitas, kepadatan kandang, temperatur, humiditas, dan vegetasi
Peningkatan Populasi Ternak Ruminansia di Kabupaten Penajam Paser Utara Berdasarkan Potensi Hijauan Pakan
Sebagian wilayah Kabupaten PPU telah ditetapkan menjadi ibukota Republik Indonesia yang baru. Konsekuensi dari terbentuknya ibukota ini akan mengalami peningkatan penduduk yang sangat cepat, sehingga kebutuhan pangan di wilayah ini menjadi prioritas, termasuk bahan pangan asal ternak. Bahan pangan asal ternak yang kritis ketersediaannya di wilayah ini adalah yang berasal dari ternak ruminansia, oleh sebab itu perencanaan pengembangan ternak ruminansia di Kabupaten PPU menjadi penting. Untuk menentukan wilayah pengembangan ternak ruminansia di Kabupaten PPU perlu ditinjau keberadaan hijauan pakan di masing-masing kecamatan, diantaranya adalah sumber hijauan pakan beserta produksinya, kapasitas tampung hijauan pakan di setiap kecamatan, KPPTR, IDD hijauan pakan, IKT, dan LQ jenis ternak ruminansia yang dapat dikembangkan di amsing-masing kecamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh kecamatan di Kabupaten PPU memiliki potensi untuk mengembangkan ternak ruminansia. Hal ini ditinjau dari kapasitas tampung hijauan pakan, IDD hijauan pakan, dan KPPTR. Namun demikian, wilayah yang menjadi prioritas pengembangan ternak ruminansia di Kabupaten PPU adalah Kecamatan Penajam dan Kecamatan Sepaku, karena IKT kedua kecamatan ini > 1.
Informasi Spasial Sebaran Dan Analisis Kebutuhan Alat Dan Mesin Pertanian di Kabupaten Kutai Kartanegara
Pendataan terkait distribusi alat dan mesin pertanian (Alsintan) di lapangan menjadi elemen penting dalam perencanaan pengembangan mekanisasi pertanian pada suatu wilayah. Penggunaan alsintan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dirasa belum optimal karena distribusinya tidak merata sesuai kebutuhan. Alsintan memainkan peran yang sangat penting dan strategis dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan nilai tambah produksi pertanian. Penelitian ini diarahkan untuk mengatasi kurangnya informasi dengan tujuan utama menghitung luas cakupan dan kebutuhan alsintan, serta melakukan pemetaan status kecukupan alsintan, khususnya traktor roda 2, traktor roda 4, rice transplanter dan combine harvester di tingkat Kabupaten Kukar.Peta sebaran alsintan dibuat menggunakan ArcGIS dengan menggabungkan data spasial luas baku lahan sawah dan koordinat lokasi alsintan dengan data atribut jumlah dan jenis alsintan yang tersedia. Kemudian, tingkat kejenuhan alsintan dihitung dengan prosentase ketersediaan alsintan dengan kebutuhanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kejenuhan traktor roda 2 mencapai 82,38%, traktor roda 4 sebesar 10,00%, rice transplanter sebesar 2,17%, dan combine harvester sebesar 39,97%. Mengacu kepada luas baku lahan sawah dan tingkat kejenuhan alat dan mesin pertanian, direkomendasikan 5 kecamatan yang diprioritaskan untuk menerima alokasi program bantuan pemerintah, antara lain kecamatan Anggana, Loa Kulu, Marang Kayu, Muara Kaman, dan Tenggarong Seberang. Kecamatan-kecamatan ini menjadi prioritas utama untuk menerima program bantuan alat dan mesin pertanian dari pemerintah pusat maupun daerah
Understanding Online Buying Behavior in University Students: The Role of Conformity and Academic Stress on Compulsive Buying
Shopping, especially online shopping, has become common for university students. Online shopping behavior is often caused by the interest in advancing social status and getting rid of negative feelings that someone is experiencing. Unconsciously, if done repeatedly, this behavior can lead to compulsive buying. This study aimed to determine the role of conformity and academic stress on compulsive buying in online shopping among university students. This quantitative study, with convenient sampling to collect data. Respondents in this research involved 200 students aged 18-25 as the study sample. Regression analysis was executed by using SPSS. This study's results show a significant role of conformity and academic stress in compulsive buying among university students. Conformity significantly contributes to compulsive buying with a contribution of 15.1%, and academic stress can trigger compulsive online shopping behavior among university students with a contribution of 29%. Based on this research, university students need to understand their conformity related to their peers so they will not be impacted by compulsive buying. Moreover, university students also need to manage their stress levels associated with the academic environment so that they will not be impacted by compulsive buying.Berbelanja khususnya berbelanja online sudah menjadi hal yang biasa bagi kalangan mahasiswa. Perilaku berbelanja online sering disebabkan oleh kepentingan dalam mengedepankan status sosial dan menghilangkan perasaan negatif yang sedang dirasakan seseorang. Tanpa disadari hal tersebut jika dilakukan secara terus berulang dapat menimbulkan perilaku compulsive buying. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran konfomitas dan stres akademik terhadap compulsive buying dalam belanja online pada mahasiswa. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dengan pengambilan responden menggunakan convenient sampling. Subjek pada penelitian ini adalah 200 mahasiswa berusia 18-25 tahun. Analisis data menggunakan uji regresi menunjukkan bahwa terdapat peran signifikan konformitas dan stres akademik terhadap compulsive buying belanja online pada mahasiswa. Konformitas berperan signifikan terhadap compulsive buying dengan sumbangan sebesar 15,1% dan stres akademik mampu berperan dalam memunculkan compulsive buying belanja online pada mahasiswa dengan sumbangan sebesar 29%. Berdasarkan penelitian ini, mahasiswa perlu memahami konformitas dirinya dengan rekan sebayanya agar tidak terdampak compulsive buying. Selain itu, mahasiswa juga perlu mengelola stress yang berhubungan dengan lingkungan akademik agar tidak terdampak compulsive buying
Application of Cognitive Behavior Therapy (CBT) in the Treatment of Patients with Substance Induced Psychotic Disorder (SIPD)
Many people in Indonesia still use drugs with an estimated 4,8 million people from the entire population, and an increase of 0,15% compared to 2019. The type of drug that is often used is marijuana because it is relatively easy to obtain. Prolonged drug use can cause side effects, one of which is Substance Induce Psychotic Disorder (SIPD). Cognitive Behavior Therapy (CBT) is often given to treat psychosis so that the application of CBT to SIPD has a positive hypothesis. The aim of this study was to intervene in one of the patients with substance-induced psychotic disorder (SIPD). CBT was given to a 34-year-old patient of psychiatric hospital who suffered from SIPD due to prolonged consumption of marijuana. Researchers provide intervention in the form of Cognitive Behavior Therapy (CBT) with the aim of changing a weak belief system regarding the behavior of taking medication. The research method used in the research is qualitative case study research. CBT is effectively used as a therapeutic tool in shaping the subject’s negative thought patterns and behavior into more positive ones and can develop the subject’s potential. CBT can increase awareness of taking medication in SIPD patients. However, psychoeducation and additional interventions need to be provided, especially when the patient has returned home.Indonesia menghadapi tantangan besar dalam hal penggunaan narkoba. Diperkirakan 4,8 juta penduduk menggunakan narkoba, dan angka ini meningkat sebanyak 0,15% dibandingkan dengan tahun 2019. Jenis narkoba yang paling umum digunakan adalah ganja hal tersebut dikarenakan ganja relatif mudah didapatkan. Penggunaan narkoba dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai efek samping, salah satunya yaitu gangguan Substance Induced Psychotic Disorder (SIPD). Terapi Cognitive Behavior Therapy (CBT) terbukti efektif dalam mengobati psikosis, sehingga penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki penerapannya pada pasien Substance Induced Psychotic Disorder (SIPD). CBT diberikan pada pasien RSJ berusia 34 tahun yang mengidap SIPD akibat konsumsi ganja secara berkepanjangan. CBT secara khusus menargetkan keyakinan negative terkait kepatuhan terhadap pengobatan. Peneliti menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif untuk menganalisis pengalaman pasien dengan CBT. CBT efektif dalam mengubah pola pikir dan perilaku negative pasien terkait dengan pengobatan. Dengan menumbuhkan pola pikir yang positif, CBT berkontribusi pada potensi pemulihan pasien. Penelitian ini juga menyoroti kebutuhan penting akan intervensi tambahan, seperti psikoedukasi, terutama setelah pasien keluar dari rumah sakit, untuk memastikan keberhasilan jangka panjang. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Cognitive Behavior Therapy (CBT) efektif digunakan sebagai sarana terapi dalam pembentukan pola pikir dan perilaku subjek yang negatif menjadi lebih positif serta dapat mengembangkan potensi Subjek
Innovative Transformation: How Innovative Leadership Drives the Growth of Creativity in the Startup Industry
This research explores the role of innovative leadership in encouraging creativity and innovation in the start-up industry. Innovative leadership is a crucial element that determines the success of start-ups in facing fast and competitive market dynamics. This study found that innovative leaders, with a long-term vision and the ability to inspire teams, are able to create an organizational culture that supports the exploration of new ideas and experimentation without fear of failure. Leadership that provides autonomy and freedom to team members has been proven to increase individual sense of responsibility and motivation, thereby encouraging employees to think creatively and develop innovative solutions. Additionally, cross-functional collaboration and effective communication, facilitated by innovative leaders, enrich the quality of ideas generated and strengthen the sense of togetherness within the team. Trust between leaders and teams, built through integrity and support, creates a safe environment for team members to take risks and innovate. Investment in developing team skills through training has also been shown to expand capacity for innovation. Leaders who model innovation in daily actions inspire team members to follow in their footsteps, while rewards and recognition for innovative contributions increase motivation and morale. The ability to adapt quickly to environmental changes is also a hallmark of effective innovative leadership. In conclusion, innovative leadership plays an important role in driving creativity and innovation in the start-up industry, which in turn contributes to the success and sustainable growth of organizations.Penelitian ini mengeksplorasi peran kepemimpinan inovatif dalam mendorong kreativitas dan inovasi pada industri start-up. Kepemimpinan inovatif merupakan elemen krusial yang menentukan keberhasilan start-up dalam menghadapi dinamika pasar yang cepat dan kompetitif. Studi ini menemukan bahwa pemimpin inovatif, dengan visi jangka panjang dan kemampuan untuk menginspirasi tim, mampu menciptakan budaya organisasi yang mendukung eksplorasi ide-ide baru dan eksperimen tanpa rasa takut akan kegagalan. Kepemimpinan yang memberikan otonomi dan kebebasan kepada anggota tim terbukti meningkatkan rasa tanggung jawab dan motivasi individu, sehingga mendorong karyawan untuk berpikir kreatif dan mengembangkan solusi inovatif. Selain itu, kolaborasi lintas fungsi dan komunikasi yang efektif, yang difasilitasi oleh pemimpin inovatif, memperkaya kualitas ide yang dihasilkan dan memperkuat rasa kebersamaan dalam tim. Kepercayaan antara pemimpin dan tim, yang dibangun melalui integritas dan dukungan, menciptakan lingkungan yang aman bagi anggota tim untuk mengambil risiko dan berinovasi. Investasi dalam pengembangan keterampilan tim melalui pelatihan juga terbukti memperluas kapasitas untuk inovasi. Pemimpin yang mencontohkan inovasi dalam tindakan sehari-hari menginspirasi anggota tim untuk mengikuti jejaknya, sementara penghargaan dan pengakuan atas kontribusi inovatif meningkatkan motivasi dan semangat kerja. Kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan lingkungan juga merupakan ciri khas kepemimpinan inovatif yang efektif. Kesimpulannya, kepemimpinan inovatif memainkan peran penting dalam mendorong kreativitas dan inovasi pada industri start-up, yang pada gilirannya berkontribusi terhadap kesuksesan dan pertumbuhan berkelanjutan organisasi
PEMERIKSAAN CT SCAN UROGRAFI KONTRAS DENGAN KASUS KISTA GINJAL
Pemeriksaan CT Scan urografi merupakan pemeriksaan yang paling direkomendasikan oleh The European Society of Urogenital Radiology, karena mampu menghasilkan gambaran keseluruhan anatomi Tractus Urinarius dengan relatif cepat dan akurat. Pemeriksaan CT Scan urologi kontras dengan kasus kista ginjal memiliki persentase lebih dari 50% dari keseluruhan pemeriksaan CT Scan urologi tanpa kontras di Rumah Sakit PELNI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan CT Scan urologi kontras dengan kasus kista ginjal di Rumah Sakit Pelni. Penelitian ini dilakukan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit PELNI. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan berdasarkan informasi yang diperoleh dari pengamatan di lapangan dan studi pustaka. Berdasarkan hasil penelitian, pemeriksaan CT Scan urologi kontras dengan kasus urolithiasis di Rumah Sakit Pelni dilakukan dengan persiapan puasa makan makanan berserat dan minum garam inggris agar tractus digestivus tidak terisi udara maupun sisa pencernaan sehingga dapat meningkatkan visualisasi tractus urinarius beserta patologinya. Pemeriksaan dilakukanmenggunakan pesawat MSCT Scan GE Optima 660 128 Slice dengan parameter scan interval 5mm, gantry tilt 0, SFOV large body, kV 120, mA 300, alogaritma standard plus, dengan scan type helical. Gambaran CT Scan yang dihasilkan berupa gambar potongan axial dari fase pre kontras, axial dan coronal dari fase arteri, nefrogram dan uretrogram, dan gambaran 3D saluran kemih yang dapat menampilkan kelainan dalam saluran kemih dengan jelas
Analisis Potensi Pelepasan Kromium Hexsavalen Di Daerah Pertambangan Nikel
Ketidakteraturan penambangan sumberdaya nikel di Indonesia menyebabkan banyak masalah lingkungan yang serius. Tumpukan batuan sisa pada waste dump penambangan nikel berpotensi sebagai sumber rembesan logam berat ke airtanah. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi potensi pelepasan kromium hexsavalen yang dapat diakibatkan dari adanya kegiatan penambangan terhadap kualitas airtanah dan air permukan sekitar daerah pertambangan nikel. XRF (X-Ray Flourescence) dilakukan untuk mengetahui kandungan unsur dan mineral pada batuan. Toxicity Characteristics Leaching Procedure (TCLP) dilakukan untuk memperkirakan konsentrasi Cr6+ pada waste dump. AAS (Atomic Adsorption Spectrophotometer) untuk mengetahui kandungan Cr6+ pada sampel air permukaan dan airtanah. Hasil pengujian XRF kandungan Cr2O3 menunjukkan waste dump mengandung 2,409% – 2,985% Cr2O3 dengan rata – rata 2,729%. Hasil tersebut kemudian gunakan dalam analisis potensi pelindian laboratorium dengan TCLP, hasil menunjukkan kelarutan Cr (VI) sangat rendah yaitu dari ketiga sampel sebesar < 0,006 mg/l. Bedasarkan hasil tersebut maka dilakukan pengujian kandungan Cr (VI) dengan AAS pada beberapa sampel air untuk mengetahui hasil dari pelepasan atau pelindian Cr (VI) secara alami. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi tertinggi Cr6+ sebesar 0.0462 mg/L pada sampel sediment ponddekat waste dump. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa logam berat Cr(VI) pada tumpukan batuan sisa dari waste dump dapat tertransportasikan kedalam airtanah maupun ke air permukaan
STUDI PENURUNAN KONSENTRASI AIR LIMBAH PENAMBANGAN BATUBARA PADA SUMP PIT A2 DI PT. INDOMINING, SANGA-SANGA KUTAI KARTANEGARA
Salah satu dampak negatif dari kegiatan penambangan batubara adalah timbulnya air limbah. Air yang di pompa dari tambang dianggap sebagai air limbah hasil penambangan karena air tersebut masih bercampur dengan partikel lumpur yang sangat halus dan terkadang belum sesuai dengan baku mutu air limbah batubara berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur. Oleh sebab itu perlu dilakukan penurunan konsentrasi khususnya pada penurunan besi (Fe) dan mangan (Mn) menggunakan koagulan Aluminium Sulfat Al2(SO4)3, Ferric Chloride (FeCl3) dan Polly Aluminium Chloride, (PAC) dalam skala laboratorium menggunakan jar test dengan variasi dosis 100 mg/L, 150 mg/L, 200 mg/L dan 250 mg/L untuk mengetahui dosis optimum koagulan yang digunakan dan berapa efisiensi removal koagulan terhadap Fe dan Mn pada air limbah serta pH yang dihasilkan setelah penambahan koagulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis optimum yang diperoleh adalah 250 mg/L untuk koagulan Al2(SO4)3 dan PAC, sedangkan dosis optimum untuk FeCl3 adalah 100 mg/L. Efisiensi removal yang diperoleh untuk koagulan Al2(SO4)3 adalah Fe (99,89%), Mn (31,60%), koagulan FeCl3 Fe (60,65%), Mn (31,60%) dan koagulan PAC Fe ( 99,89%), Mn (27,88%). Berdasarkan hasil tersebut koagulan yang paling baik dalam penurunan konsentrasi Fe dan Mn pada air limbah batubara adalah Al2(SO4)3. serta pH yang dihasilkan adalah (6,84). Kata Kunci: limbah batubara, koagulan, jar test, Fe, M
Self-Regulation and Grit: The Role of Self-Regulation and Grit in Overcoming Thesis Writing Anxiety among Final-Year Students
A thesis is a mandatory component for every student to achieve an academic degree. Final year students engaged in conducting their theses sometimes experience heightened levels of anxiousness. Hence, interventions are necessary to mitigate this concern. One approach is to enhance self-regulation and grit abilities in the individual. This study aims to evaluate the effect of self-regulation and grit on anxiety levels experienced by final year students as they prepare to write their theses. Using a quantitative research strategy, our study zeroed down on 252 seniors working on their capstone projects. The approach used for participant selection was Probability Sampling with Purposive Random Sampling. The data for this study was collected using three questionnaire scales: the self-regulation scale with 21 items, the grit scale with 9 items, and the anxiety scale with 33 items. Simultaneously, the employed data analysis methods for hypothesis testing include simple linear regression analysis and multiple linear regression analysis. The findings of the study indicate that both self-regulation and grit exert a detrimental impact on anxiety. Specifically, self-regulation is found to have a negative influence on anxiety, whereas grit is positively associated with anxiety.Penulisan skripsi adalah prasyarat penting bagi mahasiswa untuk meraih gelar akademik. Proses ini seringkali menimbulkan kecemasan di kalangan mahasiswa tingkat akhir yang sedang dalam proses penyelesaian skripsi. Maka dari itu, diperlukan upaya untuk mencegah rasa cemas tersebut, salah satunya dengan upaya meningkatkan kemampuan regulasi diri dan grit pada individu tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dampak regulasi diri dan ketangguhan, juga dikenal sebagai grit, terhadap tingkat kecemasan mahasiswa tingkat akhir selama proses penyusunan skripsi. Dalam penelitian ini, metode kuantitatif dipilih. Sebanyak 252 mahasiswa tingkat akhir yang mengerjakan skripsi diambil dengan teknik purposive sampling probabilitas.Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan tiga skala kuesioner: skala regulasi diri dengan 21 item, skala grit yang memiliki 9 item, dan skala kecemasan yang berisi 33 item. Analisis regresi linear sederhana dan berganda adalah dua teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis. Hasil dari penelitian menunjukkan regulasi diri dan grit berpengaruh yang bernilai negatif terhadap kecemasan, regulasi diri berpengaruh yang bernilai negatif terhadap kecemasan, dan grit berpengaruh yang bernilai negatif terhadap kecemasan