Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
878 research outputs found
Sort by
Pembahasan Risalah Tauhid Karya Muhammad Abduh
Risalah Tauhid, adalah salah satu karya Muhammad Abduh, yang membicarakan masalah akidah Islam/ Ilmu Kalam. Dengan Risalah Tauhidnya itu –disamping tulisan-tulisannya yang lain—dia berjuang untuk menyehatkan dan membangkitkan semangat dunia Islam, khususnya masyarakat mesir waktu itu. Yaitu semangat untuk membebaskan kaum muslimin dari kejumutan, kelemahan, keterbelakangan dan penjajahan. Karena itulah ’barangkali’ Risalah Tauhid-nya itu memikat para (banyak) Ilmuan dan diterjemahkan ke dalam beberapa Bahasa; antara lain bahasaPerancis, Urdu, Indonesia dan lain-lain. Sedangkan tulisan (paper) ini dihidangkan, juga karena ingin turut kmembicarakannya, walaupun dangkal dan sederhana sekali
Penelitian Agama (Suatu Pembahasan tentang Metode dan Sistem)
Bangsa Indonesia menyimpan berbagai kemajemukan dan keberanekaan. Kemajemukan dan keberanekaragaman ini mewujudkan dalam pelbagai segi kehidupan bangsa Indonesia yang menempati gugusan kepulauan yang ribuan jumlahnya disatu Kawasan yang amat luas wilayahnya. Bangsa Indonesia terdiri dan dibentuk oleh berbagai suku bangsa yang mempunyai adat istiadat dan Bahasa sendiri-sendiri disamping menganut agama yang berbeda-beda. Oleh karena itu adalah suatu hal yang tak terhindarkan bahwa tata nilai yang dihargai dan dihayati oleh masyarakat tidak sama apalagi satu.
Tafsir Al Manar (Suatu Tinjauaan Deskriptip)
Penafsiran Al-Qur’an sebenarnya telah banyak dilakukan pada zaman permulaan Islam, yang mana pada waktu itu Nabilah yang menjadi penafsir utama, sebab Allah telah memerintahkan agar menjelaskan makana Al-Qur’an kepada umatnya. Penafsiran oleh Nabi itulah yang paling dapat dipercaya, sebab beliaulah yang paling mengetahui makna Al-Qur’an. Setelah Rsu wafat, para sahabat meneruskan dan kemudian dilanjutkan oleh para tabiin. Hanya saja penafsiran mereka sedikit yang sampai kepada generasi sekarang, sebab tidak dibukukan secara sempurna. Selanjutnya penfsiran Al-Qur’an dilakukan dan disempurnakan oleh generasi ulama berikutnya, dan dengan taufiq dari Allah berhasil dibukukandengan sempurna, sehingga dapat dibaca umat yang hidup di zaman mutakhir ini
Filsafat Sebagai Salah Satu Sarana Pendekatan Interdisiplin
Membahas masalah pendekatan interdisiplin dan saran yang diperlukan adalah masalah baru dan tidak mudah.memang gasan tentang pendekatan interdisiplin itu sudah lama ada, sudah sering dibicarakan, didiskusikan, dibukukan, meskipun demikiaan gagasan itu tetap merupakan masalah baru selagi sarana pendekatannya belum terlihat jalan yang terang. Dikatan masalahnya tidak mudah, dal ini dapat dimengerti karena masalah yang dihadapi manusia saat ini sudah demikian kompleks yang menuntut adanya berbagai spesialisasi, mengakibatkan tumbuhnya berbagai disiplin yang makin kuat berdiri sendiri yang terpisah, ditunjang dengan tumbuhnya perkembangan spesialisasi yang makin ketat; terkadang diwarnai dengan vested interest yang menunjang differensiasi yang cukup kuat; menimbulkan pandangan bahwa disiplin lain dipandang tidak banyak gunanya
Agama Sebagai Dasar Penguasaan Manusia Atas Dirinya Dalam Rangka Terwujudnya Perdamaiaan Dunia
Uraiaan ini merupakan pembahasan bapak Mentri Munawir Sjadzali. Saya sangat setuju dengan beliau itu. Uraiaan ini –kalau bisa—dimaksudkan untuk menambah uraiaan Bapak Mentri. Kaian dan Habel (kejadiaan) atau Qabil dan Habil (al-Qur’an), kedua anak Nabi Adam, bertengkar karena urusan persembahan kurban kepada Tuhannya. Karena pertengkaran itu maka Qabil (kain) membunuh adiknya, Habil. Agama telah ada dalam: waktu itu, karena esensi agama adalah percaya kepada Yang Supra-Alami dan berusaha untuk berbakti kepada-nya. Tetapi dalam waktuyang sama pembunuhan atau perang-pun telah terjadi
For Donation, Organisation, and Nation: Muhammadiyah’s Charity Stamp Program, 1941-1942
Studies on Muhammadiyah’s charitable works mostly discuss the charitable institutions Muhammadiyah founded, such as hospitals and orphanages, and neglect one-off fundraising activities. This study examines Muhammadiyah’s strategies in promoting ‘Muhammadiyah charity stamps’ to the Netherlands Indies people in 1941. This study shows that although stamps are only small postal items, Muhammadiyah paid great attention to promoting and selling these stamps. It ran a well-organised and national-scale campaign, mobilising its network of branches and groups throughout the Indies. Muhammadiyah used all available campaign media, such as magazines, newspapers, pamphlets, pictures, songs and meetings. To maximise promotion, Muhammadiyah emphasised that buying these charity stamps meant giving donations that Allah would reward, supporting Muhammadiyah’s movements, and helping the welfare of the indigenous people. These charity stamps helped Muhammadiyah raise enormous funds and strengthened its reputation at home and abroad as a social movement that cared for the less fortunate. This study elucidates the largest and most successful one-off charitable fundraising effort, but so far still forgotten in the historiography of Indonesian Islam, which was carried out by an indigenous Muslim socio-religious organisation during the colonial period, using previously overlooked primary documents dating from 1941-1942.[Studi mengenai kiprah Muhammadiyah di bidang amal umumnya membahas tentang institusi amal yang didirikannya, seperti rumah sakit dan panti asuhan. Kegiatan pengumpulan dana yang sifatnya sekali waktu saja banyak diabaikan. Kajian ini membahas strategi Muhammadiyah dalam mempromosikan ‘prangko amal Muhammadiyah’ kepada masyarakat Hindia Belanda pada tahun 1941. Kajian ini menunjukkan bahwa walaupun prangko hanya berupa benda pos kecil, Muhammadiyah memberikan perhatian yang luar biasa untuk mempromosikan dan menjual prangko ini. Organisasi ini menjalankan kampanye yang rapi dan berskala nasional, dengan menggerakkan jaringan cabang dan rantingnya di seluruh Hindia. Muhammadiyah menggunakan segala macam media kampanye yang tersedia, seperti majalah, surat kabar, pamflet, gambar, nyanyian, dan pertemuan-pertemuan. Untuk memaksimalkan promosi, Muhammadiyah menekankan bahwa membeli prangko amal ini berarti melakukan amal yang berpahala, menyokong gerakan sosial Muhammadiyah, dan membantu menyejahterakan masyarakat pribumi. Prangko amal ini membantu Muhammadiyah mengumpulkan dana yang sangat besar dan memperkuat reputasinya di dalam dan luar negeri sebagai gerakan sosial yang menaruh perhatian pada mereka yang kurang beruntung. Kajian ini menerangkan tentang usaha pengumpulan dana amal sekali-waktu yang terbesar dan tersukses, namun sejauh ini masih terlupakan dalam historiografi Islam Indonesia, yang dilakukan suatu organisasi sosial-keagamaan Muslim pribumi pada masa kolonial, dengan menggunakan dokumen-dokumen primer yang berasal dari tahun 1941-1942.
Kata Pengantar
TRANSLATE with x EnglishArabicHebrewPolishBulgarianHindiPortugueseCatalanHmong DawRomanianChinese SimplifiedHungarianRussianChinese TraditionalIndonesianSlovakCzechItalianSlovenianDanishJapaneseSpanishDutchKlingonSwedishEnglishKoreanThaiEstonianLatvianTurkishFinnishLithuanianUkrainianFrenchMalayUrduGermanMalteseVietnameseGreekNorwegianWelshHaitian CreolePersian // TRANSLATE with COPY THE URL BELOW Back EMBED THE SNIPPET BELOW IN YOUR SITE Enable collaborative features and customize widget: Bing Webmaster PortalBack/
Metodologi Humaniora Dilthey (Sejarah, Pemikran, dan Pengaruhnya)
Dalam Penelitiaan Ilmu-Ilmu Sosial serta Agama, Orang mempergunakan berbagai metode dan Teknik dalam upaya memahami subyek penelitiaan, agar memperoleh informasi yang reliabel mengenai obyek penelitiannya. Diantara metode-metode itu ialah metode verstehen, yang dalam dunia filsafat dikenal sebagai metodologi. Kata verstehen berarti memahami atau mengerti dari dalam. Maksudnya, memahami subyek dan obyek penelitiaan ataupun masyarakat informan dan masalahnya dari dalam diri mereka sendiri. Untuk itu para peneliti harus membuat diri mereka sendiri. Untuk itu para peneliti harus membuat diri mereka Bersatu mengomplot dengan subyek penelitiannya, dan merasa di dalamnya. Dengan kata lain, ia harus melakukan emphaty atau penghayatan terhadap masyarakat yang diteliti. Jadi metode verstehen ini, bersifat masyarakat-sentrik (Mulder, 1979: 7). Yang memasarkan metode verstehen ini dalam sosiologi ialah Max weber. Tujuan sosiologi Weber ialah memahami arti subyektif kelakuaan social (A. Sartono, 1970:66). Max Webersendiri menyadap metode verstehen itu dari Dilthey, penciptannya apa dan bagaimanakah sebenarnya makna serta kegunaan verstehen itu sebagai metode penelitian seperti yang dikehendaki oleh perumusnya, inilah yang menjadi masalah makalah ini. Untuk menjawabnya, diperlukan sistematika p-embahasan sebagai berikut: Sejarah hidup Dilthey; Pemikiran Dilthey tentang metodologi Humaniora; pengaruh Pemikiran Dilthey
Nuzulur al-Qur’an dan Pemeliharaan-Nya dari Masa Ke-Masa
Untuk mengetahui peranan yang dimainkan al-Qur’an dalam memperbaiki dan mengembalikan manusia kepada fungsi dan tujuaan hidupnya sesuai dengan fitrahnya, perlu diketahui situasi dunia, baik dalam bidang kepercayaan (Aqidah) kepada Tuhan, budi pekerti (Akhlak) dan aturan hidup bermasyarakat (syari’at) secara singkat.