Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    Syi’ah Imamiah Itsna ‘Asyariah dan Tafsirnya

    No full text
    Kegiatan mempelajari Al-Qur’an di kalangan Muslim sejak zaman Nabi s.a.w hingga kini tidaklah dapat dipisah-pisahkan dari kegitan-kegitan yang lain, karena Al-Qur’an bukan saja dipandang sebagai kitab yang menjadi sumber hukum, tetapi juga dipandang sebagai kitab yang mengandung bimbingan menuju kebahagiaan manusia baik didunia maupun diakhirat

    Kata Pengantar

    Get PDF

    Western Qur’anic Studies in Indonesian Islamic Universities: Responses, Contestations, and Curriculum Politics

    Get PDF
    This article examines how lecturers of Qur’anic Studies at five Indonesian Islamic universities engage with Western scholarship on the Qur’an. Drawing on fieldwork conducted at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Alauddin Makassar, UIN Imam Bonjol Padang, and UIN Bukittinggi, the study investigates how faculty members negotiate the incorporation of Western approaches in their academic programs. The article also engages with recent academic literature to reinforce its contemporary relevance. Our findings suggest that although there is a general openness to Western methodologies, significant tensions persist, particularly regarding the design of curricula. Influential figures within these departments have shaped what they view as an appropriate orientation for students, revealing competing visions between two educational aims: (1) engaging with Western academic approaches to the Qur’an and tafsīr, and (2) mastering Qur’anic knowledge for Islamic missionary purposes.[Artikel ini mengkaji pandangan para dosen Ilmu al-Qur’an di Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir dari lima Universitas Islam Negeri terhadap keilmuan Barat tentang al-Qur’an: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Alauddin Makassar, UIN Imam Bonjol Padang, dan UIN Bukittinggi. Data yang dianalisis dalam studi ini diperoleh melalui kunjungan lapangan ke lima program studi tersebut. Selain itu, artikel ini juga berinteraksi secara kritis dengan literatur akademik mutakhir, sehingga memperkuat posisinya dalam wacana keilmuan kontemporer. Kami berargumen bahwa meskipun terdapat kecenderungan kuat di program studi tersebut untuk menerima keilmuan Barat untuk kajian al-Qur’an, muncul pula sejumlah keberatan yang turut memengaruhi arah dan pengembangan kurikulum program studi. Beberapa figur yang dominan dan berpengaruh di lingkungan program studi memainkan peran penting dalam merumuskan kurikulum yang mereka anggap paling sesuai bagi mahasiswa Ilmu al-Qur’an. Perdebatan muncul terkait pencapaian dua tujuan pembelajaran utama antara: (1) memahami dan menerima pendekatan keilmuan Barat dalam studi al-Qur’an dan tafsir; atau (2) menguasai pengetahuan keislaman yang mendalam mengenai al-Qur’an dan tafsir untuk kepentingan dakwah Islam.

    The Epistemological Reading of Religious Knowledge in the Thought of ʻAbd Al-Karīm Soroush

    Get PDF
    This study explores the epistemological dimensions of religious reform advanced by ʻAbd al-Karīm Soroush within the framework of ʻilm al-kalām al-jadīd (modern Islamic theology). It examines how Soroush conceptualizes the relationship between religion (al-dīn) and religious knowledge (al-maʻrifah al-dīniyyah), positing that the latter is inherently dynamic, historically situated, and epistemologically contingent. At the heart of his framework lies the assertion that religious knowledge is not fixed but evolves in tandem with developments in human understanding, cultural contexts, and scientific progress. Employing both epistemological and hermeneutical methodologies, this study analyzes Soroush’s engagement with contemporary philosophy, science, the human sciences, and Islamic mysticism (ṣūfism). It argues that Soroush advocates a clear distinction between the divine essence of religion and the human endeavor to understand it—an approach that challenges absolutist readings of scripture and affirms the relative, interpretive nature of religious knowledge. Furthermore, the study highlights Soroush’s acknowledgment of the interdependence between religious and non-religious forms of knowledge, emphasizing their mutual borrowing and discursive entanglement. His intellectual orientation reveals a deliberate engagement with the foundational critiques of Western modernity, particularly those articulated by reformist Christian theologians and philosophers. This is most evident in his seminal works al-Qabd wa al-Basṭ fī al-Syarīʻah (The Expansion and Contraction of Religious Knowledge) and al-Ṣirāṭ al-Mustaqīm (The Straight Paths), which articulate a sophisticated vision of reform grounded in both tradition and critical modern thought.[Tulisan ini mengkaji hakikat pembaharuan dalam warisan keagamaan yang diserukan oleh ʻAbd al-Karīm Soroush dalam lingkup ilmu kalam kontemporer. Fokus utamanya adalah menyingkap berbagai bentuk pendekatan terhadap agama dan pengetahuannya, serta bagaimana pemikir ini mengkaji pengetahuan keagamaan dengan perangkat epistemologis dan hermeneutik untuk membaca, membedah, dan menganalisis pengetahuan manusia, dalam rangka menangkap dimensi yang tetap dan yang berubah dalam agama. Penelitian ini juga menekankan prinsip dasar bahwa pengetahuan keagamaan bersifat dinamis dan senantiasa mengalami transformasi. Dengan pembacaan kritis terhadap konsep dīn (agama) dan al- maʻrifah al-dīniyyah (pengetahuan keagamaan), penelitian ini memanfaatkan pendekatan epistemologis dan hermeneutik, serta temuan ilmu pengetahuan dan filsafat kontemporer, ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan, serta tasawuf Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ʻAbd al-Karīm Soroush menekankan pentingnya pemisahan antara agama dan pengetahuan yang lahir darinya. Pengetahuan keagamaan hanyalah salah satu bentuk dari pengetahuan manusia yang bersifat relatif dan --oleh karena itu-- senantiasa dapat berubah dan berkembang, karena merupakan hasil pemahaman manusia terhadap agama yang bersifat historis. Soroush juga menegaskan adanya keterkaitan erat antara pengetahuan keagamaan dan pengetahuan non-keagamaan, yang saling memberi dan menerima. Dengan demikian, proses memahami agama dan membaca teks-teks sucinya merupakan proyek yang bersifat relatif dan tidak mungkin mencapai kesempurnaan atau kebenaran absolut. Soroush berupaya mendekati agama dan pengetahuan keagamaan dengan menggunakan pendekatan-pendekatan dari modernitas Barat, sebagaimana yang telah diterapkan dalam teologi Kristen oleh para filsuf dan reformis sebelumnya, sebagaimana dijelaskan dalam karyanya al-Qabḍ wa al-Basṭ fī al-Syarīʻah dan al-Ṣirāṭ al-Mustaqīm

    The Advent of Islam In Indonesia and some Problems Related to the History of the Eraly Muslim Period

    No full text
      The Question often raised is: ‘whether Islam came to Indonesia from Arabia, the subcontinent of India, or China? Firstly, it is not a question of ‘or’ but of ‘and’: Muslims from these and other countries, but more so from the different part of the archipelago itself, contributed to the growth and development of Islam in what is now know as Indonesia. However, the first to bring Islam to the Indonesian shores, and further north to China were the early Arab Muslim. On the basis of available historical record, it would be reasonable to conclude that their intransit visits and temporary hats, first most probably on the coaslines of Sumatra, took place in the 1st century of Hijra (7th A.D), while the more frecuent and longer visit as well as permanent settlements came during the 2nd H./8th century A.D

    Tinjauan Tentang Pengajaran Bahasa Arab Pada Lembaga Bahasa IAIN Sunan Kalijaga

    No full text
    Lembaga Bahasa IAIN Sunan  Kalijaga yang ada sekarang sebetulnya telah berdiri sejak tahun 1973, dengan Surat Keputusan Rektor No. 251/Ba-O/A/1973. Susunan personalianya adalah sebagai berikut : seorang ketua, seorang sekertaris dan tiga orang anggota. Lembaga Bahasa (seterusnya akan disingkat LB) itu pada tahun 1976 diperbaharuhi personalianya dengan adanya surat keputusan Rektor No. 13 tahun 1976 tertanggal 1 April 1976, dengan pertimbangan bahwa di IAIN terjadi perkembangan baru, terutama dengan telah ditetapkannya kurikulum baru. Personalia tersebut terdiri atas direktur, sekertaris, ketua seksi Bahasa Inggris, ketua seksi Bahasa arab dan ketua seksi Bahasa Indonesia, masing-masing dipegang oleh satu oran

    Praduga tak bersalah dalam hukum positif di Indonesia

    No full text
    Praduga tak bersalah yang artinya = bahwa setiap orang itu harus dianggap tidak bersalah sampai kesalahannya dibuktikan dimuka siding pengadilan, adalah suatu asas yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat. Sebab dengan asas itu antara lain diharapkan orang akan dapat hidup saling percaya mempercayai antara yang satu dengan yang lainnya dan tidak saling curiga-mencurigai antara warga yang satu dengan warga yang lain dalam masyarakat itu dan lain-lain

    Kata Pengantar

    Get PDF

    Mu’jizat al-Qur’an Diteliti Dengan Komputer

    No full text
    Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari hasil wawancara Jamal Arief, wartawan majalah Akhirus Sa’ah yang terbit di Mesir, tentang hasil penelitiaan seorang sarjana kimia Mesir, yaitu Dr. Rasyad Khalifah yang kemudian di muat dalam majalah tersebut. Dr. Rasyad Khalifah adalah alumnus fakultas pertanian universitas AINSYAMS Mesir yang kemudian melanjutkan studinya ke Amerika Serikat dengan mengambil jurusan Bio-kimia, kemudian berhasil memperoleh gelar Doktor dengan disertasi tentang pembuatan protein dari minyak. Ia Kembali ke Kairo pada tahun 1966. Pada tahun 1968 ia Kembali lagi ke Amerika Serikat dan bekerja sebagai konsultan disebuah perusahaan industry makan di St. Louis, Misouri, yang kemudian membeli hasil penelitiaannya mengenai perbuatan protein tersebut seharga US$20.000.000

    George Wilhem Friedrich Hegel, (1770-1831) Pemikirannya tentang Ide dan Sejarah

    No full text
    Dia adalah seorang filsuf Jerman yang ideal (mitsaaliy). Lahir di Stuggart, dan memasuki sekolah teologi Seminary pada Universitas Tubingen tahun 1788. Schelling dan penyair Friedrich Hoiderlin adalah diantara teman sekelasnya. Setelah menamatkan pelajarannya disana tahun 1793, dia menjadi tutor di rumah keluarga aristocrat di Bern. Pada tahun 1796 diamengerjakan pekerjaan yang sama di Frankfurt. Pada tahun1800 dia pergi ke jena, tempat Schelling menggantikan Fichte sebagai professor filsafat dan mengembangkan filsafat ideal alarm dan metafisika, karena ia telah diterima sebagai guru di Jena berdasarkan atas kekutan desertasinya yangberjudul De Orbitis Planetarium (1801). Ia bekerja sama dengan Schelling dalam menerbitkan jurnal filsafat Kritisches Journal der Philosophie. Hegel meninggalkan Jena pergi ke Bamberg untuk menjadi editor surat kabar harian di Bamberg Bavaria

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇