Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
878 research outputs found
Sort by
Khalifah Umar (634-644)
Setelah peperangan riddah dapat dipadamkan oleh khalid pada pertempuran Aqraba633, maka seluruh suku Arab dapat dipersatukan Kembali. Dalam pada itu situasi di Iraq, daerah kerajaan Sasan, sangat menguntungkan untuk diserang. Karena itu al-Muthanna, kepada suku Syaiban, menyerbu Iraq. Dia dibantu oleh Khalid b. Walid atas persetujuaan Khalifah Abu Bakar. Sebelumnya Abu Bakar. telah mengirim ekspedisi pula ke front Suriah. Karena peperangan di Suriah ini hamper mengalami kekalahan, maka khalifah menyuruh Khalid yang sedang berperang di Iraq untuk menggabungkan diri dengan kawan-kawannya di Suriah guna menghadapi tentara Bizantium yang Tangguh itu. Tak lama kemudian Abu Bakar meninggal dunia (634), yaitu setelah memimpin negara selama lebih kurang dua tahun. Dalam keadaan yang seperti itulah Umar memangku jabatan khalifah, menggantikan Abu Bakar
Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy Dalam Perspektif Sejarah Pemikiran Islam Di Indonesia
Hasbi dilahirkan dan dibesarkan pada saat-saat di Jawa tumbuh gerakan pembaharuan pemikiran Islam (kaum pembaharu) yang meniupkan pula semangat kebangsaan Indonesia serta anti penjajah dan di Aceh perang melawan Belanda sedang berkecamuk. Baik gerakan pembaharuan pemikiran Islam yang lahir di Jawa, maupun perang Aceh sama-sama dimotori dan dipimpin oleh para ulama atau oleh pemimpin yang perjuangannya disemangati oleh jiwa agama. Mereka mampu menggerakkan masyarakat ke arah perubahan dan membangkitkan semangat untuk berjuang, karena posisi ulama di mata rakyat jauh lebih tinggi daripada posisi kaum pemegang hak kekuasaan negeri (kaum adat). Ajakan bekerja yang didasari oleh rasa ikhlas demi mendapatkan keridlaan Allah
Kenapa Islam Lenyap Sama Sekali Dari Spanyol?
Sebelum penaklukan Islam, semenanjung Iberia telah beberapa kali menjadi jajahan berbagai bangsa. Dikatakan bahwa bangsa Iberia merupakan penduduk asli tertua di sana. Karenanya negara ini disebut juga dengan semenanjung Iberia. Ketika negeri ini dikuasai oleh bangsa Romawi tahun 133 masehi mereka menamainya Asbaniyah untuk seluruh semenanjung itu. Di masa pemerintah mereka masuk pulalah sejumlah bangsa Yahudi. Bersamaan dengan penduduk ini berhadapan Romawi dan agama Nasrani pun masuk. Pada abad ke-5 bagian selatan semenanjung itu pernah takluk kepada suku-suku bangsa Vandal sehingga bagian tersebut disebut “Vandalisia menurut nama suku-suku itu. Ketika orang-orang Islam sampai ke sana Mereka menamakan daerah itu bahkan seluruh semenanjung Iberia, dengan al-Andalus, yang secara etimologis ada kaitannya dengan kata Vandal. Dan pada abad ke-5 itu pula bangsa Gotia Barat sebagai suku Teutoria menyerang Spanyol. Mereka mengusir bangsa Vandal yang mendahuluinya itu
The Ottoman Measures to Prevent Attacks on the Hejaz Railway, 1908-1911: The Ottoman Archives as a Source
This study discusses the “Hamidiyah Hijazi Railway”, established by the Ottoman Empire to support Islamic politics worldwide. The importance of this study lies in its discussion, which focuses on a fragment of the glorious period of Islamic history that provided extraordinary services for Hajj pilgrims at that time. The Hijaz railway line was one of the most significant achievements of the Ottoman Empire and proved their intensive efforts in handling this matter as a religious matter. This study relies primarily on the Ottoman documents from 1908-1911, deposited in the Presidency of the Republic of Turkey Directorate of State Archives in Istanbul. This article focuses on the steps taken by the Ottoman Empire in securing the Hijaz railway from attacks by Bedouin tribes and maintaining its religious reputation concerning the safe journey of Hajj pilgrims via the railway. The author argues that the measures the Ottoman Empire took were ineffective in preventing these attacks. The Ottoman Empire secured the railway line by entrusting it to the sheikhs of the local tribes and holding celebrations for the development of the line. With this celebration, the Ottoman Empire wanted to show the importance of developing the Hijaz railway to unite Muslims under their flag and strengthen the Ummah movement in the spirit of Islamic unity in the confrontation with Western countries. [Studi ini membahas “Jalur Kereta Api Hamidiyah Hijaz”, yang dibangun Kesultanan Turki Uthmani untuk mendukung perpolitikan Islam di dunia. Pentingnya studi ini terletak pada pembahasannya yang berfokus pada satu penggal periode kejayaan sejarah Islam, yang memberikan layanan luar biasa untuk para jamaah haji pada masa itu. Jalur kereta api Hijaz ini dipandang sebagai salah satu capaian Islam yang paling signifikan dan menjadi bukti adanya upaya intensif Kesultanan Uthmaniyah dalam menangani urusan keagamaan ini. keuntungan. Studi ini terutama mengandalkan dokumen resmi Pemerintah Turki dari tahun 1908-1911, yang disimpan di Direktorat Arsip Kepresidenan Turki di Istanbul. Tulisan ini mengambil fokus pada langkah-langkah yang diambil Kesultanan Uthmaniyah dalam mengamankan di jalur kereta api Hijaz dari serangan suku-suku Badui dan menjaga reputasi keagamaannya terkait dengan keselamatan perjalanan jamaah haji melalui jalur kereta api. Penulis berargumentasi bahwa langkah-langkah yang diambil oleh Kesultanan Uthmaniyah tidak efektif dalam mencegah serangan-serangan tersebut. Kesultanan Uthmaniyah mengamankan jalur kereta api dengan mempercayakannya kepada para syaikh dari suku-suku lokal dan menyelenggarakan perayaan-perayaan atas pembangunan jalur kereta. Dengan perayaan ini, Kesultanan Uthmaniyah ingin menunjukkan pentingnya pembangunan jalur kereta api Hijaz dalam menyatukan umat Islam di bawah benderanya dan memperkuat gerakan ummat di bawah semangat kesatuan Islam dalam menghadapi negara-negara Barat.
Negotiating Salafi Islam of Hang Radio: Responses of Active Muslim Audiences to Hang Radio in Batam, Indonesia
Salafi groups have garnered a significant urban following in Indonesia. However, in religiously diverse contexts --particularly urban centers-- the extent to which Salafi teachings are fully embraced remains uncertain and often prompts critical engagement. This article investigates how active Muslim listeners respond to daʻwah programs aired by Hang Radio, a Salafi-affiliated radio station based in Batam. It argues that these audiences are not passive recipients but rather active and discerning participants who negotiate the religious messages they encounter. The study identifies a spectrum of responses: while some listeners resonate with and adopt Salafi practices, others reject specific elements of the messaging. Such responses reflect a pattern of critical engagement, wherein audiences selectively accept or dismiss particular aspects of the content. The findings indicate that, although Salafi messaging aligns with urban preferences for clarity, simplicity, and immediacy, listeners nevertheless engage in interpretive negotiation. This critical stance reflects a broader communal disposition to maintain continuity with long-established religious understandings and practices in Batam, which constitute a core dimension of their religious habitus.[Kelompok Salafi telah membangun basis pengikut yang signifikan di kawasan perkotaan. Namun, dalam konteks yang ditandai oleh keberagaman keagamaan seperti di wilayah urban, sejauh mana ajaran Salafi dapat diterima sepenuhnya tetap menjadi pertanyaan dan dapat memicu sikap kritis dari masyarakat. Artikel ini mengkaji respons pendengar terhadap program dakwah yang disiarkan oleh Hang Radio, sebuah stasiun radio yang berafiliasi dengan gerakan Salafi di Batam. Artikel ini berargumen bahwa para pendengar Muslim Hang Radio bukanlah penerima pasif, melainkan aktor yang aktif dan kritis dalam menegosiasikan pesan-pesan keagamaan yang disampaikan. Studi ini menemukan adanya spektrum respons: sebagian pendengar menunjukkan keterpautan dengan praktik keislaman Salafi dan menerimanya, sementara yang lain menolak sebagian isi pesan tersebut. Respons ini mencerminkan keterlibatan kritis, di mana pendengar secara selektif menerima atau menolak elemen-elemen tertentu dari siaran yang disuguhkan. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun pesan-pesan Salafi sesuai dengan preferensi masyarakat perkotaan yang mengutamakan kejelasan, kesederhanaan, dan kepraktisan, para pendengar tetap melakukan negosiasi interpretatif. Sikap kritis ini mencerminkan suatu kecenderungan komunitas yang berakar pada keinginan untuk tetap konsisten dengan pemahaman dan praktik keagamaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun di Batam, yang menjadi bagian integral dari habitus mereka.
Reevaluating Approaches to Religious Moderation at the Grassroots Level: The Role of Muslim Youth in Advancing Interfaith Dialogue
This paper examines the potential role of Muslim youth as alternative partners in fostering religious moderation at the grassroots level. It identifies two central issues in current religious moderation policies in Indonesia: (1) an overemphasis on programs aimed at security and deradicalization, which overshadow initiatives that encourage harmonious inter- and intra-religious relationships, and (2) a predominantly top-down approach that limits grassroots participation, particularly among young people. These challenges expose gaps in policy strategies and highlight unequal public engagement in religious moderation efforts led by the government. Addressing these concerns, the study proposes alternative policy strategies that actively involve Muslim youth, who bring their own understanding of religious moderation cultivated through participation in various Islamic organizations and youth forums. This study adopts a qualitative research methodology, incorporating data from in-depth interviews with students, academics, and activists; direct observations of interfaith dialogue groups and communities; and document analysis. Fieldwork was conducted in Semarang and Yogyakarta—cities renowned for their robust interfaith dialogue networks and advocacy in Indonesia. The paper ultimately argues that Muslim youth’s active involvement in interfaith dialogue is a viable strategy to expand engagement at the grassroots level, especially among marginalized communities or those disadvantaged by hierarchical religious moderation policies.[Tulisan ini mengkaji peran muda-mudi muslim sebagai mitra alternatif dalam implementasi moderasi beragama di tingkat akar rumput. Ada dua permasalahan yang perlu digarisbawahi terkait kebijakan moderasi beragama: 1) program yang berorientasi pada keamanan dan deradikalisasi lebih besar daripada upaya membangun keharmonisan hubungan antar/intra umat beragama dalam kebijakan moderasi beragama, 2) pendekatan top-down tidak mengakomodasi partisipasi dari bawah khususnya generasi muda. Kedua permasalahan ini menimbulkan kesenjangan antara strategi kebijakan dan respons masyarakat terhadap program moderasi beragama yang dilakukan pemerintah. Berangkat dari permasalahan tersebut, tulisan ini menawarkan alternatif strategi kebijakan yang melibatkan generasi muda, yang mempunyai definisi tersendiri mengenai moderasi beragama melalui keterlibatan mereka dalam beberapa organisasi Islam dan forum kepemudaan lainnya. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan data berupa hasil wawancara mendalam dengan mahasiswa, akademisi, dan aktivis; observasi langsung pada kelompok/komunitas dialog antaragama; dan analisis dokumen. Penelitian lapangan dilakukan di Semarang dan Yogyakarta, dua kota di Indonesia yang memiliki jaringan dan advokasi dialog antaragama yang baik. Penelitian ini menunjukkan bahwa keterlibatan generasi muda dalam dialog antaragama dapat menjadi strategi alternatif untuk menjangkau lebih banyak komunitas di tingkat akar rumput, terutama kelompok masyarakat yang menyandang status minoritas dan posisi yang tidak terfasilitasi akibat kebijakan moderasi beragama yang bersifat hierarkis.
In-Hospital Death and the Change of the Grave Trajectory: The Cosmological Meanings of Sadness in Moroccan Context during the COVID-19 Pandemic
This study examines the institutional changes and topographical landmarks within which the incident of death took place in the Moroccan context by focusing on the topic of in-hospital death during the COVID-19 pandemic. The complicated aspects surrounding the death arise from the process of medicalization, burial, and mourning among the relatives of the deceased. Methodologically, the research is based on a grounded phenomenological analysis of the experiences of relatives (50 participants) who lost their deaths in the first wave of the pandemic in four Moroccan cities: Rabat, Kenitra, Fez, and Missour. The study concludes that the negative attitude of Moroccans towards in-hospital death does not stem from the fragility of health services or the characteristics of loneliness and isolation, as revealed by Norbert Elias’s sociology. However, it closely links to the anthropological factors that construct the personal concept in the Moroccan context as a knot of relationships and looks at the body in its social, cultural and cosmological extensions.[Penelitian ini mengkaji perubahan institusional dan landmark topografis tempat terjadinya kematian dalam konteks masyarakat Maroko dengan fokus kematian di rumah sakit selama pandemi COVID-19. Aspek rumit kematian muncul selama proses penanganan medis, penguburan, dan perkabungan di antara kerabat almarhum. Secara metodologis, penelitian ini didasarkan pada analisis fenomenologis terhadap pengalaman 50 orang dari keluarga orang yang meninggal pada gelombang pertama pandemi COVID-19 di empat kota di Maroko: Rabat, Kenitra, Fez, dan Missour. Tulisan ini menyimpulkan bahwa sikap negatif masyarakat Maroko terhadap kematian di rumah sakit tidak berasal dari buruknya layanan kesehatan atau pun dari dampak isolasi dan rasa kesepian yang khas, seperti yang diungkapkan sosiologi Norbert Elias. Namun, sikap negatif tersebut erat terkait dengan faktor antropologis yang mengkonstruksi konsep personal dalam konteks masyarakat Maroko yang menjadi simpul hubungan sosial dan pandangan terhadap jasad dalam konteks sosial, budaya, dan kosmologi.
Sejarah Ummat Islam Uni Soviet
Kaum Muslimin di Uni Soviet kini meliputi 20% dari 270 juta pendudk seluruh negara. Laju pertumbuhannya merupakan yang tertinggi diantara semua golongan penduduk yang tinggal disana. Masalah ini merupakan masalah serius yang harus dihadapi oleh Pemerintah Pusat di Uni Soviet, karena akan dapat menjadi suatu factor yang menjurus kepada terpecah belahnya republic terluas itu dilihat dari segi lain. Penganut Islam di Uni Soviet terdiri dari 35 suku yang memakai sekitar 100 bahasa yang berlainan.
Al Farabi dan Logika Aristoteles
Studi sejarah kebudayaan memberikan kesan kepada kita bahwa ilmu pengetahuan itu berinduk kepada filsafat. Filsafat menghadapi segala masalah dengan pemikiran radikal, berusaha mengungkap hakikat sesuatu objek secara tuntas, hingga diperoleh kebenaran hakiki. Kemudian berangsur-angsur muncul berbagai cabang ilmu pengetahuan, yang taraf pemikiran untuk memperolehnya tidak seradikal pemikiran filsafat. Corak dan sebutan ilmu pengetahuan itu bergantung kepada macam objekformal yang menjadi acuan memandangannya
Pandangan H.M. Rasyidi Tentang Kebatinan
Tulisan ini akan mengulas salah satu karya H.M Rasjidi yang berjudul Islam dan Kebatinan yang diterbitkan oleh yayasan Islam Study Club Indonesia, Jakarta 1967. Buku ini telah memancing timbulnya polemik yang tajam antara Warsito, H.M Rasjidi, Hasbullah Bakry, yang dimuat dalam harian KAMI dari bulan Maret hingga September 1972. Kumpulan polemik ini kemudian diterbitkan dengan judul Di Sekitar Kebatinan oleh Bulan Bintang, Jakarta 1973. Dari buku Islam dan Kebatinan dan dari bukunya Menganggap Aku Tetap Memeluk Agama Islam bisa diketahui bahwa lingkungan kehidupan H.M Rasjidi sewaktu kanak-kanak hingga menjelang muda, amat besar pengaruhnya bagi pertumbuhan pemikiran dan perhatian beliau terhadap masalah-masalah agama dan filsafat. H.M Rasjidi Dilahirkan di Kotagedhe, suatu kota yang menurut serat Babat merupakan bekas ibukota kerajaan Mataram. Di Kotagedhe itulah terdapat makam leluhur raja-raja Mataram yang amat dikeramatkan baik oleh keluarga raja-raja ataupun oleh masyarakat Jawa pada umumnya. Yakni makam Panembahan Senopati yang menurut serat babat diceritakan sebagai cikal bakal kerajaan Mataram. Di dalam kompleks makam yang dikeramatkan itu terdapat Sendang (kolam) dengan ikan lele dan bulus kuning, serta pohon beringin, yang juga dikeramatkan dan dipandang bertuah oleh masyarakat. Juga benda-benda yang menurut dongeng dulu dipergunakan oleh Penambahan Senopati, seperti batu gatheng, batu gilang, dan lain-lainnya. Oleh karena itu setiap hari kamis malam (malam Jumat), terutama malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon, yakni hari-hari oleh tradisi kejawen dipandang bertuah, berdatangan orang-orang untuk mengadakan sesaji dan minta barakah kepada kuburan dan benda-benda keramat tersebut di atas. Praktek-praktek pengalaman agama Islam tradisional yang dicampuradukkan dengan kepercayaan dan praktek-praktek ketahayulan ini sangat menarik perhatian H.M Rasjidi. Apalagi sesudah munculnya gerakan Muhammadiyah di kota gedhe yang berusaha memberantas berbagai ketahayyulan dan praktek-praktek tradisional secara drastis