Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
878 research outputs found
Sort by
Memikirkan Makna Dompu dalam Rangka Mencari Identitasnya
Mkalah ini disusun berdasarkan hasil rekaman serangkaian wawancara yang dilakukan penulis beberapa waktu yang lalu dengan beberapa orang pemuka/tokoh yang dipandang mempunyai “simpnaan” pengetahuan tentang tradisi lisan (folklore) dari masyarakat Kabupaten Dompu (karena memang mereka tidak memiliki tradisi tulis). Wawancara difokuskan pada keluarga almarhum Haji Muhammad Ali Kamarudin, Desa Kandai Dua.Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, Propinsi Nusa Tenggara Barat. Tentu saja disamping tokoh-tokoh masyarakat Dompu yang lain yang sifatnya melengkapi, kalua-kalau ada versinya yang lain. Setelah itu dilakukan analisis dan sistematisasi sesuai materinya, sehingga menghasilkan sebuah makalah dengan judul “ Memikirkan Makna Dompu dalam Rangka Mencari Identitasnya,” (sebuah refleksi hermeneutic) seperti naskah sekarang ini.
Pergolakan Pemikiran Agama dan Sekularisasi Suatu Upaya Menatap Masa Depan
Nampaknya ada ke Simpang siuran penggunaan istilah sekularisasi di dalam arus pemikiran agama di Indonesia (untuk survei secara cepat lihat kata pengantar m dalam Raharjo di dalam bukunya Nurcholis Majid, Islam Kemodern dan Keindonesiaan Bandung: Mizan 1987). Di dalam literatur Barat istilah sekularisasi terutama digunakan dalam hubungannya dengan masalah dualisme, oposisi, atau pemisahan antara agama yang diwakili pihak gereja dan negara. Oleh karena itu saya ingin membatasi pengertian saya tentang istilah itu. Sekularisasi adalah “pembebasan manusia dari tuntunan petunjuk agama dan metafisika, pengalihan perhatian dari dunia lain ke arah dunia ini.” (Lihat Harvey Cox. The Secular City, Revised edition, New York: The Macmillan Company, 1967, hlm 15). Sedangkan di dalam Islam, sekularisasi adalah suatu proses pemakaian hukum-hukum dan lembaga-lembaga sosial politik tanpa rujukan dari ajaran Islam yakni tanpa bersumber dari, atau ada hubungannya dengan, prinsip-prinsip Al-Qur’an dan Sunnah (lihat fazlur Rohman, ” Islamic modernism: Its Scope, Methods, and Alternatives” 1, 1970 hlm 331)
Mengenal Afghanistan
Afghanistan adalah sebuah negara yang terkurung daerah bergunung-gunung. Terjepit diantara Uni Soviet, Iran, Pakistan, Kashmir dan Cina. Afganistan benar-benar terletak pada persimpangan antara Timur dan Barat. Afganistan dengan lebih dari 17 juta penduduk dari bermacam-macam asal suku dan adat kebiasaan, sebelum dikuasai Rusia adalah sedang dalam masalah transisi. Pada zaman dahulu merupakan tanah rampasan. Afghanistan mencapai tingkat kesatuan Nasional pada tahun 1747 dan menjadi sebuah kerajaan konstitusional pada tahun 1931. Tetapi kekuatan politik tetap pada kekuasaan keluarga Kerajaan sampai tahun 1964 ketika sebuah konstitusi baru diumumkan secara resmi. Pada tahun 1973 sebuah Republik ditegakkan dengan suatu kudeta
Factionalisation in the Prosperous Justice Party (Partai Keadilan Sejahtera): Underlying Reasons for the Emergence of the New Direction of the Indonesia Movement (Garbi)
This article examines the emergence of the New Direction of Indonesia Movement (Garbi) as a result of factionalisation within the Prosperous Justice Party (Partai Keadilan Sejahtera, PKS). This study argues that a number of interconnected factors contributed to the emergence of Garbi, implying that factionalisation in political parties requires multifactor analysis rather than a single factor. This study employs qualitative data gathered through in-depth interviews with central figures in PKS and Garbi. Secondary data is gathered by analysing and reviewing scholarly sources. The study finds two factors for the emergence of Garbi: disagreements over ideological interpretation and uncompromising leadership practices. However, the findings of this study contradict a third factor, which is the absence of an effective conflict resolution process. PKS, as a cadre party, has a regeneration mechanism for dispute resolution, yet it serves as a conduit for the spread of factionalisation until the emergence of Garbi. [Artikel ini mengkaji kemunculan kelompok Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) sebagai akibat dari faksionalisasi di dalam Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Penelitian ini berargumen bahwa sejumlah faktor yang saling berhubungan berkontribusi pada kemunculan Garbi, menyiratkan bahwa faksionalisasi dalam partai politik membutuhkan analisis multifaktor daripada faktor tunggal. Penelitian ini menggunakan data kualitatif yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh sentral di PKS dan Garbi. Data sekunder dikumpulkan dengan menganalisis dan mengkaji sumber-sumber ilmiah. Studi ini menemukan dua faktor kemunculan Garbi: ketidaksepakatan atas interpretasi ideologis dan praktik kepemimpinan yang tidak kenal kompromi. Namun, temuan penelitian ini bertentangan dengan faktor ketiga, yaitu tidak adanya proses resolusi konflik yang efektif. PKS, sebagai partai kader, memiliki mekanisme kaderisasi untuk penyelesaian konflik, namun mekanisme ini justru menjadi saluran penyebaran faksionalisasi hingga kemunculan Garbi.
Kata Pengantar
TRANSLATE with x EnglishArabicHebrewPolishBulgarianHindiPortugueseCatalanHmong DawRomanianChinese SimplifiedHungarianRussianChinese TraditionalIndonesianSlovakCzechItalianSlovenianDanishJapaneseSpanishDutchKlingonSwedishEnglishKoreanThaiEstonianLatvianTurkishFinnishLithuanianUkrainianFrenchMalayUrduGermanMalteseVietnameseGreekNorwegianWelshHaitian CreolePersian // TRANSLATE with COPY THE URL BELOW Back EMBED THE SNIPPET BELOW IN YOUR SITE Enable collaborative features and customize widget: Bing Webmaster PortalBack/
Tafsir Isyari dan Kegunaannya dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuaan
Apabila orang menelusuri perkembangan tafsir al-Qur’an dari masa-kemasa, niscaya ia akan menemukan salah satu corak diantara beraneka ragamnya tafsir al-Qur’an, yang terkenal dengan tafsir Isyari. Tafsir ini terkenal pula dengan tafsir faidli. Kegiatan penafsira al-Qur’an tersebut dikenal dikalangan cendikiawan sebagai salah satu kegiatan dalam menguraikan makna ayat-ayat al-Qur’an yang tersirat, yang tidak Nampak dari susunan kata-katanya yang tersurat. Makna itu peroleh dengan memperhatikan isyarat yang tersembunyi, yang hanya tampak bagi orang-orang yang mempunyai kemahiran tertentu dalam memahami perpautan maknanya yang tersurat dean tersirat.TRANSLATE with x EnglishArabicHebrewPolishBulgarianHindiPortugueseCatalanHmong DawRomanianChinese SimplifiedHungarianRussianChinese TraditionalIndonesianSlovakCzechItalianSlovenianDanishJapaneseSpanishDutchKlingonSwedishEnglishKoreanThaiEstonianLatvianTurkishFinnishLithuanianUkrainianFrenchMalayUrduGermanMalteseVietnameseGreekNorwegianWelshHaitian CreolePersian // TRANSLATE with COPY THE URL BELOW Back EMBED THE SNIPPET BELOW IN YOUR SITE Enable collaborative features and customize widget: Bing Webmaster PortalBack/
Perkembangan Kebudayaan Jawa dan Serat Pamoring Kawula-Gusti
Suku bangsa Jawa sebelum datangnya pengaruh agama Hindu mungkin belum mengenal tulisan. Namun demikiaan menurut penelitiaan ahli-ahli sejarah, kebudayaan jawa dalam masa pra-sejarah ini telah mengalami perkembangan. Dalam ceritera Aji Saka dating ke Jawa, yang melambangkan masuknya pengaruh unsur-unsur kebudayaan Hindu (kebudayaan suku Scyth=Saka), dinyatakan bahwa pulau jawa telah diperintahkan oleh raja yang kekuasaannya membentang sampai kelaut selata. Walaupun peradaban negeri ini masih jauh lebih renda dari peradaban suku bangsa Scyth (Hindu), dimana rajanya digambarkan masih suka makan daging manusia, namun ceritera ini menunjukkan bahwa suku bangsa jawa dalam bidang politik/ kenegaraan telah mengenal system kerajaan yang teratur dan luas daerah kekuasaannya. Bahkan adanya hukum adat yang merupakan warisan asli peradaban suku bangsa Jawa, jelas bahwa suku bangsa Jawa telah membentuk kehidupan social yang cukup teratur. Telah mengenal system hukum yang cukup effectif mengatur hubungan-hubungan social dan kekeluargaan. Dan demikian pula suku bangsa Jawa telah mengenal cara menenun pakaian, membuat rumah, bercocok tanam, sebagainya
Menyingkap Al-Mansur, Si Pemenang (Awal Kejatuhan Daulah Bani Umayyah di Spanyol)
Masa al Hakam II, Khalifah Sanjana (al jamiah No. 29, th.1983), secara ringkas telah diungkapkan salah satu masa keemasan, “”\sigle de ore” dari kaum Muslim di Andalusia, Spanyol. Sebagai kelompok kecil di tengah-tengah mayoritas pemeluk Nasrani, kaum Muslim pada waktu itu telah berhasil membuktikan diri mereka sebagai “creative minority” kelompok kecil yang kreatif. Mereka telah membaktikan seluruh hidup mereka dengan kerja keras tanpa mengenal Lelah bagi tegaknya panji-panji Islam, sebagaimana dilihat antara lain dalam bidang ilmu, tehnologi, dan arsitektur yang telah mereka wariskan. Ini dibuktikan oleh hamper setiap penduduk Spanyol pada waktu itu telah dapat membaca dan menulis, sedang pada masa yang sama bagain Eropa yang lain tengah tertidur dalam abad tengah, abad kegelapan; para penguasa tertinggi, para raja Eropa pada waktu itu masih sulit untuk dapat menuliskan nama mereka sendiri. Dalam bidang tehnologi, umat Islam waktu itu telah mampu membangun dan mengembangkan jaringan pengairan, irigasi, yang berhasil menyuburkan lahan-lahan pertaniaan yang gersang yang memberikan kemakmuran dengan hasil-hasil pertaniaan yang beraneka ragam dan berlimah ruah. Mereka juga dapat membangun dan mengembangkan jaringan jalan-jalan yang memberikan keamana bagi seluruh rakyat, serta memperlancar komunikasi dan perdagangan; sedang dalam waktu yang sama jalan-jalan di jantung London masih penuh lumpur lebih-lebih pada waktu hujan. Mereka juga telah berhasil mendirikan berbagai istana, rumah sakit, maupun Gedung-gedung perpustakaan. Alhambra menjadi salah satu bukti puncak arsitektur muslim pada waktu itu. Kaum muslim yang kecil dan penuh kreativitas serta menjalankan adidah Islam sebaik-baiknya dan berpihak pada golongan dhuafa, kaum lemah, telah melahirkan masa keemas an yang belum pernah dialami Spanyol baik sebelum maupun sesudahnya. Serba kelebihan Spanyol pada waktu itu dengan padat diketengahkan oleh salah seorang cendikiawan non-Muslim, Stanley Lane-Poole: “For nearly eight centuries, under her Mohammedan ruler, Spain set to all Europe a Shining example of a civilized and enlightened state”
Kondisi dan Faktor-Faktor Penyokong Meluasnya Islam ke Luar semenanjung Arabia
Setiap bangsa tentu mengenal pasang-naik dan pasang-surut dalam sejarahnya. Hal ini tergantung dari dua factor. Pertama, Situasi dan kondisi luar negeri yang mengelilingi negeri ini. Kedua, Situasi dan kondisi luar negeri yang mengelilingi negeri ini. Apabila kedua factor ini saling menguntungkan, maka sesuatu bangs aitu akan mengalami pasang-naik. Tapi sebaliknya apabila kedua hal tersebut tidak menguntungkan atau merugikan maka bangs aitu akan mengalami kemunduran