Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    Elit Nu: Kyai, Ulama’, dan Cendikiawan Muslim

    No full text
    Dalam kehidupan keagamaan di masyarakat, berkenaan dengan keterkaitannya antara yang satu dengan yang lain, kalau distratifikasi/klasifikasi secara garis besar ada Dua kelompok jenjang, yaitu: ulama sebagai kelompok elitis dan awam – bukan elitis. Yang sudah barang tentu, kelompok awam itulah kelompok yang terbanyak. Dalam keterkaitan kedua kelompok tersebut, tugas ulama' adalah melindungi, mengarahkan, membina dan bahkan juga memberikan pelayanan kebutuhan keagamaan pada kelompok awam. Imam Maraghiy ketika menafsirkan Surat 4 (An Nisa') Ayat 58 yang berkenaan Dengan amanat Yang harus dipikul oleh seseorang dalam hubungannya dengan orang lain (amanat al abdi maa al naas), memasukkan tentang adilnya pemerintah terhadap rakyat dan adilnya ulama' terhadap orang awam. Tentang adilnya ulama terhadap orang awam ini beliau menyatakan:     …. بان يرشدوهم الى اعتقادات واعمال تنفعهم فى دنيا هم واخرا هم من امور التربية الحسنة وكسب الحلال, ومن المواعظ والا حكام التى تقوى ايمانهم وتنقذ هم من الشروروالا ثاو وترغبهم فى الخير والاحسان"Ulama selalu memberikan petunjuk kepada orang awam berupa pegangan-pegangan Batin (iktikad) dan Amal perbuatan yang bermanfaat bagi orang awam itu baik di dunia maupun di akhirat. Petunjuk ulama itu dapat berupa Pendidikan yang baik, usaha yang halal, pengajaran dan fatwa-fatwa yang menguatkan iman serta menyelamatkan dari kejahatan dan dosa-dosa serta mendorong mereka untuk mencintai kebaikan dan perbuatan yang baik"

    India Abad 16 dan 17 (Tinjauan Tentang Ke-beragam-an dalam Beragama)

    No full text
    Sebagaimana diketahui bahwa di India pada abad 16 dan 17 terdapat budaya dan agama yang sangat beragam. Walaupun terdapat penganut agama Yahudi di selatan, Zoroaster dari Persia di barat Laut, sekte Jain di Gujarat, Sikh di Amritsar, keberadaan dua agama yaitu Hindu dan Islam hamper meliputi seluruh Kawasan india. Khusus agama hindu sangat banyak ragam dan varian-nya dan hampir setiap kasta terdapat bentuk peribadatan dengan dewa-dewanya masing-masing. Begitu pula dikalangan Islam  di India terdapat penganut agama Islam yang bervarian dan beragam corak dan penghayatan agama mereka.Keadaan sangat beragam ini mendapat perhatian pengasa pada waktu itu yang berusaha untuk mempersatukan budaya dan agama di India. Salah seorang tokoh yang sangatterkenal adalah akbar (1556-1605) yang berusaha mengampuh dan  mengembangkan pemaduan budaya dan agama di India terutama Hindu dan Islam. Langkah dan usaha akbar ini kemudian dilanjutkan oleh para penggantinya yaitu Jahangir (Salim, 1605-1627), shah Jahān (1628-1658) saatmana policy Akbar mencapai puncaknya. Sudah wajar kalua gaya dan cara masing-masing penerus ini juga mempunyai persamaan dan perbedaan. Langkah dan usaha Akbar dan para penerusnya tersebut ada yang dapat terbaca dalam beberapa karya Dārā Shikōh yang akan dikemukakan dalam bagian tulisan ini. Tentang India dapatlah dikatakan bahwa di India abad 16 dan 17 telah berakar kuat ke-beragam-an agama yang dari sisi budaya-agama barangkali dapat diungkapkan dengan “sinkretisme” dan “sintetisme”. Dalam kesempatan ini akan dicoba untuk mengemukakan apa yang terjadi secara budaya-agama di Inia abad dimaksud dengan berangkat sambil memperhatikan karya Dārā Shikōh

    Zakat, Islamic Virtues, and Social Justice: A Case of the Chiang Mai Zakat (Bayt al-Māl) Fund in Chiang Mai Province of Thailand

    No full text
    This research aimed to study Islamic virtues underlying the reform and practice of the Chiang Mai Zakat (Bayt al-Māl) Fund to promote social justice in Muslim communities Chiang Mai Province, Thailand. Data were collected through in-depth interviews with its key figures including three advisors, three administrative members and one supporting staff. Non-participatory observation was also conducted on its activities between 2017 and 2018. The data were analyzed to find out about religious motivation and understandings behind the organizational reform and practice. Findings showed that three Islamic virtues of amānah, ikhlās and ukhūwah provided a guiding framework for the Chiang Mai Zakat (Bayt al-Māl) Fund in its effort to meet the social goal of the Islamic prescription of zakat and respond to needs of underprivileged Muslims. [Artikel ini membahas keutamaan nilai Islam pada konteks reformasi dan praktik dari rumah zakat Chiang Mai dalam mempromosikan keadilan sosial pada komunitas muslim di Provinsi Chiang Mai, Thailand. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam pada tokoh kunci lembaga seperti; penasehat, staf administrasi dan staf pembantu. Pengamatan lapangan dilakukan antara 2017-2018. Kesimpulan analisisnya menunjukkan bahwa pemahaman dan motivasi agama menjadi landasan praktik dan reformasi organisasi. Amanah, ikhlas dan ukhuwah merupakan tiga nilai yang menjadi kerangka panduan lembaga zakat Chiang Mai dalam mempertemukan nilai sosial wajib zakat dengan kelompok muslim yang kurang mampu secara ekonomi.

    Preaching Islamic Legal Rules on Screen: Conservatism on Islamic Family Law in Digital-Based Dakwah Program Mamah dan Aa Beraksi

    Get PDF
    Conservatism on Islamic Law has been widely discussed by scholars, be it in printing media (such as fiqh works of traditional ulama, and Islamic self-help books) or in online media (such as on social media platforms containing Islamic dakwah). Their studies portray the diffusion of conservative  Islamic thought from one media to another. However, among  existing works, it can be said that there has not been much discussion about how this conservatism is transmitted by a mubalig (Muslim preacher) particularly about Islamic law. Considering the function of a preacher in Indonesia is significant because has long been the main mouthpiece of Islamic teaching, this paper discussed the conservatism of Islamic family law in the Mamah dan Aa Beraksi preaching program. By using qualitative content analysis, this paper argues that the sermons in the Mamah dan Aa Beraksi contain conservative view of  Islamic family law. This conservatism is indicated by the sermons which tends to refer to traditional fiqh with a gender bias characteristic. This conservatism seems latent through the way the lecturers present her fatwa using short textual interpretations that represent traditional thinking more than modernism. [Konservatisme Hukum Islam telah banyak dibicarakan oleh para ulama, baik di media cetak (seperti literatur karya fikih ulama tradisional, dan buku swabantu Islami) maupun di media online (seperti di platform media sosial yang memuat dakwah Islam). Kajian mereka mempotret difusi konservatisme pemikiran Islam dari satu media ke media lainnya. Namun, di antara karya-karya yang ada, dapat dikatakan bahwa belum banyak pembahasan tentang bagaimana konservatisme itu ditransmisikan oleh seorang mubalig khususnya tentang hukum Islam. Mengingat fungsi mubalig di Indonesia cukup signifikan karena telah lama menjadi corong utama ajaran Islam kepada masyarakat, tulisan ini bertujuan untuk membahas konservatisme Hukum Keluarga Islam dalam program Mamah dan Aa Beraksi. Dengan menggunakan analisis isi kualitatif, tulisan ini berpendapat bahwa ceramah dalam program Mamah dan Aa Beraksi mengandung konservatisme Hukum Keluarga Islam. Konservatisme ini terlihat dari materi ceramah yang cenderung mengacu pada fikih tradisional dengan ciri bias gender. Konservatisme ini tampak laten melalui cara penceramah memaparkan argumentasi hukumnya dengan menggunakan interpretasi secara tekstual yang singkat, nan lebih merepresentasikan pemikiran tradisional daripada modernis.

    Mohammad Ilyas dan Gagasannya tentang Kalender Islam Internasional

    Get PDF
    This paper describes Muhammad llyas’ thought on international Islamic Calendar and its position in Contemporary Islamic studies. Ilyas is one of Muslim thinkers who tries very hard in uniting lslamic calendar around the world. Actually, his methodological efforts is a further development of a tradition which had been developed by previous Muslim thinkers such as ibn taymiyah, Ahmad Muhammad Syakir, abu Zahrah and T.M. Hasby as-Shiddiqy. However, these thinkers had only used normative-deductive domain. While Ilyas has not only dealt with normative-deductive domain but also empirical-inductive data using modern Science. For supporting his views, Ilyas conducted many research for about 20 years (1973-1993). For llyas, scientific study on International islamic calendar cannot be set aside because it is aproduc to history in which the role of reason or ijtihad is more dominant in producing it by basing on data taken from nafural phenomenon.Therefor, Ilyas argued that dialog on lntemational lslamic Calendar,especially on problem of lntemational Lunar Dateline (ILDL) will run well and harmonious if each representative of nation has a good education and holistic-comprehensive understanding.  Ilyas believes that his effort will be realized especially after he knows Muslim’s ability and quality in sciences have been improved and wide spread. Apart from how later responses on his lnternational lslamic calendar will rise, what has been developed by Ilyas through his project of international Islamic Calendar program (IICP) and other works is renewal of the existing calendar. Therefore, his existence in contemporary Islamic studies is very significant in order that we will not be trapped into existing mapping of contemporary Islamic Thought, namely Theology, law, Philosophy, and Sufism. Thus, we need to include science in contemporary Islamic Studies

    Theory of Deconstruction: A Comparative Study of the Views of Western and Muslim Theorists and Philosophers

    Get PDF
    This research paper deals with the theory of deconstruction, as enunciated by French abstruse theorist and philosopher Jacques Derrida. This notable theory is considered to be one of the most significant theories of Postmodernism, a literary and philosophical trend that is famous for its distrust of ideologies and theories whatsoever and stresses the importance of conventions. This literary and philosophical theory challenges our perceived notions regarding text and their meanings by emphasizing the fact that language is nothing but a chain of signifiers. In other words, it means that meanings of a text–worldly or transcendental–are not stable ones; they are unstable and transient. Though this theory has gained much power and prestige in the realm of literature and philosophy; however, this theory has been castigated both by Muslim and Western philosophers and theorists, too. This paper is a humble effort to analyze the views of some well-known and veteran Muslim and Western theorists and philosophers. [Artikel ini bersepakat dengan teori dekonstruksi yang dikenalkan oleh filosof Prancis Jacques Derrida. Sebagai salah satu teori yang penting dalam teori-teori posmodern, kepopulerannya dalam sastra dan filsafat menggoyahkan ideologi dan teori lain serta menekankan pentingnya konvensi umum. Teori sastra dan filsafatnya menantang apa yang sudah kita yakini tentang teks dan makna dengan menekankan fakta bahwa bahasa bukan apa apa selain rangkain pertanda. Dengan kata lain, makna sebuah teks, imanen atau transenden, adalah tidak tetap, mereka labil dan sementara. Walaupun teori ini mendapat posisi kuat dan prestisius dalam sastra dan filsafat, namun disangsikan oleh beberapa pemikir muslim dan barat. Artikel ini merupakan usaha menganalisa pandangan mereka mengenai teori dekonstruksi, baik dari pemikir muslim dan barat.

    Taghayyur al-Mustawā al-ām lil- Athār wa Arahu ala al-ḥuqūq wa al-Wājibāt

    No full text
    The hardest economic problem faced by human being is the instability or the fluctuation of prices. This phenomenon is closely related to inflation, i.e., the uprising of prices continuously, or the decrease of the value of a currency toward goods and services. As an example, someone borrowed to someone else as much as 1 million rupiahs and returned it back two years later with the same amount. Due to the inflation during that period, the value of 1 million rupiahs in the time of transaction is very different from that in the time of return. This problem has been becoming one of the polemics among fuqaha, either in the medieval era or in the modern one. This article is trying to observe the problem more objective without relying on a certain school of Islamic jurisprudence (madhhab), and providing the best ijtihad derived from certain fuqaha. Some considerations to decide which would be the best ijtihad are the arguments on which the fuqaha’s based on their decision. Besides, the writer also takes into account some norms of Islamic jurisprudence: taysir (to take it easily) and 'adamul haraj (to exclude obstacles). Finally, the writer offers some discussion on the issue among contemporary fuqaha

    Al-Miqyās al Islāmī wa al-hal al-amthal lil qadāyā al-ijmāiyaah

    No full text
    Problems that happened and developed in society could not be separated from human beings as the main doer. Human beings have many characteristics that contribute to its attitude in society. Two of its characteristics, and also its major Powers are its curiosity and its need of financial. However human beings would not achieve its highest curiosity unless he/she already has been fulfilled its financial need. So, the two characteristics is rather a cause-effect relationship than a complementarily relationship. These two characteristics, however, are significant to analyze some social problems. One of the problems in society is that there are a small number of rich people and the existence of an enormous quantity of the poor people. The writer assumes that the above economical gap is initiated by an unjust social order. With her framework of Islam, the writer would portray some social problems and then provide some solutions for the problems. For the writer, human beings should put everything, as it should be and as it stated in Islam, because Islam has already made an obvious pattern to reach the ultimate goal of life.[Berbagai persoalan yang muncul dan berkembang dalam masyarakat tidak bisa dilepaskan dari manusia sebagai pelaku utama. Manusia memiliki berbagai karakteristik yang menentukan sikapnya dalam bermasyarakat. Dua di antara karakteristik dan sekaligus potensi menonjol manusia adalah rasa ingin tahu dan kebutuhan akan materi. Walaupun demikian, yang disebut pertama tidak bisa optimal sebelum faktor kedua terpenuhi. Jadi, dua karakteristik itu lebih bersifat sebab-akibat dari pada bersifat komplementer. Dua karakteristik ini cukup penting untuk melihat berbagai permasalahan yang muncul di masyarakat. Di antara permasalahan yang cukup signifikan adalah adanya orang kelompok kecil masyarakat yang kaya, di satu pihak, dan kelompok besar masyarakat yang tidak mampu di pihak lain. Penulis beranggapan bahwa kesenjangan ekonomi di atas bermula dari tatanan sosial yang serba tidak adil. Dengan kacamata Islam, penulis akan memotret berbagai persoalan sosial dan kemudian menyodorkan altematif solusi. Bagi penulis, manusia harus meletakkan berbagai persoalan sesuai dengan proporsinya dalam agama Islam, karena Islam telah membuat standar yang jelas untuk mencapai tujuan hidup yang ideal.

    Ketika Agama Menyejarah

    Get PDF
    Religions, especially Abrahamic religions, are having a great role in building human civilization in the world. History recorded that some of the greatest wonders of the world, such as pyramid in Egypt, Borobudur Temple in Indonesia, and some enormous buildings in Greece have been built under the spirit of religion. since the great role of religions nowadays religion is always attached to actual phenomena in the framework of changes in the world. This article is trying to understand religion without the border of language and culture that is local and particularistic. Abrahamic religions normatively and theologically do not share many differences. However, pragmatically and historically their differences are the big problems of the world. Most of the bloody wars that happened in some parts of the world lately are fueled by religious disagreements. Finally, pragmatically the writer explains the role of religion in the development of great civilizations in the world, including the role of religion in the democratization of Indonesia. For it, to be a democratic state, pluralism and inclusivism in understanding religion should be the heart of Indonesian society

    Mencari Rumusan Ushul Fiqih Untuk Masa Kini

    Get PDF
    Barangkali tidak berlebihan ketika Bernard G. Weiss mengatakan bahwa Wael B. Hallaq dikenal sebagai one of the most prolific scholars dalam bidang kajian sejarah hukum Islam. Karir keilmuannya mulai Nampak terutama sejak diterbitkan karyanya "Was the Gate of ljtihad Closed?" Karya dimaksud menjungkir-balikkan asumsi dasar yang telah berkembang lama di kalangan Orientalis. Semula, dimotori oleh hasil penelitian Joseph Schacht,  para Orientalis meyakini bahwa sejak rnasa kernunduran Islam, ijtihad telah tertutup. Hasil penelitian Hallaq justru mengatakan sebaliknya: "setelah  dicermati data sejarah hukum Islam pada masa klasik dan tengah, temyata ijtihad tidak pemah ditutup." Hasil ini telah membuat para Orientalis berpikir ulang tentang sejarah ijtihad pada khususnya dan sejarah awal hukum Islam pada umumnya.  Hingga di situ Hallaq berhasil mengajak para sarjana hukum Islam untuk meneliti kembali dan mengkaji ulang tesis-tesis yang telah berkembang, khususnya yang terkait dengan  insidad bab al-ijtihad, tertutupnya pintu ijtihad. Ini tidak berarti bahwa pemikiran Hallaq tidak mengandung kelemahan, disamping kelebihannya. Kritik konstruktif kemudian muncul dari para penulis berikutnya, antara lain M. Hoebink, Frank E. Vogel, Sherman A. Jackson, dan penulis makalah ini. Pada dasamya, kritikan bertumpu pada sikap ekstrem dari para peneliti dalam membaca data sejarah

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇