Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    Dakwah Dalam Persepektif Hasan Al-Banna

    Get PDF
    Any movement requiring the involvement of people certainly needs careful plan and strategy in order to achieve its main goals, including "dakwah". In this article the writer tries to elaborate the concept and strategy of "dakwah" offered by an outstanding Muslim leader of Egypt, Hassan al-Banna. He is chosen since his thought has been influencing and inspiring Muslims all over the world. After giving considerable biographical notes of al-Banna the writer explains that according to al-Banna Islamic dakwah must cover and serve every aspect and basic need of human life, in other words it must be comprehensive. For this reason, to implement his thought on dakwah e built up a religions organization called Ikhwanul Muslimin which was managed professionally and provided services for people of Egypt.  This distinguished dakwah organization had colored the lives of the Egyptians for many decades and elevated their understanding on Islamic teachings. The phenomena of its success is still under discussion and inspiring many dakwah organizations in Indonesia

    Ibn Taymiyyah: His philoshophical Thought on Causality.

    No full text
    Ibn Taymiyyah, menurut penulis artikel ini, banyak disalahpahami. Ia lebih dikenal sebagai seorang tokoh yang anti-rasionalis, pemikir literal dan teolog revivalis, ketimbang seorang filosof. Berangkat dari sini lah artikel ini ingin melacak pemikiran filosofis Ibn Taymiyyah dengan merekonstruksi pemikirannya tentang kausalitas. Sebuah upaya yang tidak mudah memang, karena Ibn Taymiyyah tidak menulis satu buku tersendiri tentang hal ini. Upaya rekonstruksi dilakukan dengan melacak konsep itu yang masih terserak di berbagai karyanya. Maka dipilihkan pengkajian atas beberapa kata kunci yang mengekspresikan kausalitas itu. Dalam kata benda: sabab, al-‘illah, al-muatstsir, al-sababa, al-mūjid and al-ḥadats dalam kata kerja: sabbaba, 'allala, awjada, aḥdatsa, dan atstsara. Sementara kata yang mengekspresikan prosest ransformasi dari sebab keakibat (causationa) dalah al-ta'lil, al-ta'tsir, dan al-iḥdāth, sedangkan efek yang diproduksi oleh sebab diekspresikan dalam kata-kata: al-musabbab, al-ma’lūl, al-muḥdats dan al-muatstsar. Setelah membahas selintas tentang sejarah hidup Ibn Taymiyyah, penulis kemudian membahas sub-sub tema berikul kausalitas dan kausasi, elemen-elemen kausasi, macam-macam sebab, persepsi-rasa dan kemampuan akal, statemen-stetemen empirik, dan kausasi dan kemungkinan peristiwa melingkar tanpa batas (daur atau tasalsul)

    Konsep Keadilan dalam Al-Qur’an dan Implikasinya Terhadap Tanggung Jawab Moral.

    Get PDF
    Disertasi ini merupakan studi Al-Qurán dengan pendekatan tafsir ayat-ayat al-Qurán yang diyakini sebagai firman-firman Allah SWT( kalam Allah) dan diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW adalah sumber Informasi dan petunjuk bagi manusia. Pad penafsiran ini, tela’ahan bertumpuh pada teks-teks wahyu dengan memberi pemaknaan kontekstual kepada ayat-ayat yang berhubungan dengan penelitian. Penelitian berawal dan pertanyaan apakah hakikat keadilan yang terkandung dalam al-Qur’an. Diidentifikasi bahwa keadilan dalam Al-Qur’an, disamping dapat dipahami dari rangkaian ayat-ayat al-Qur’an yang paling awal diturunkan, yang mengkritik berbagai macam kepincangan dan ketidakadilan dalam berbagai sector kehidupan, juga dari simpul-simpul  yang secara langsung menyebut keadilan, yaitu al-adl al-Qist al-wazn dan al-wast. Kata al-adl dengansemua kata turunanya terulang dalam al-Qurán sebanyak dua puluh  delapan kali, kata al-wazn  dan al-mizān dan al-mawazīn terulang sejumlah dua puluh tiga kali, dan kata al-wasṭ sebanyak lima kali. Untuk mendapatkan akurasi makna, maka simpul-simpul keadilan dipahami dalam rangkaiaan simpul yang berlawanan dengan keadilan, yaitu kezaliman (al-ẓulm). Berkaitan dengan kata terakhir ini yang dalam berbagai bentuknya ditemukan sebanyak dua ratus kali dalam surat-surat Makkiyah dan seratus lima belas kali pada surat-surat Madaniyah, dua ratus delapan puluh Sembilan kali dari jumlah keseluruhannya mengandung makna ketidakadilan. Naskah al-Qurán yang dijadikan bahan penelitian ialah al-Qur’an Karim yang ditulis sesuai dengan al-rasm al-’usmaniy’, dan diterbitkan oleh Dar al-fikr, Bairut, tahun 1403H/1983M

    Al-‘Ulamā’ wa al-Ḥukūmaa wa al-Mujtami ‘a fi Indonesiā al-Mu’āṣiraa: Dirāsaa Tahdhībi al- li majlisi al-‘Ulamā’ al-Indonesiyyī

    No full text
    This article tries to analyze the relation between the MUl (Majelis Ulama Indonesia, or Council of Indonesian Ulama), the government, and the Muslim Community in last six-seven years. This study begins with an extensive and deep research previously conducted by the writer in preparation for writing his dissertation to be submitted to UCLA. The main focus of the writer’s research at that time was the role and development of the MUl between 1975-1983. ln his previous research, the writer described four significant roles played by the MUI in the Indonesian Muslim community First. the MUI played an important role in preserving and developing good relations with various Islamic organizations. At the beginning, many Muslim leaders were suspicious of the presence of the MUI and therefore they rejected the establishment of the MUI on the grounds that it would be used as a political tool by the government. To convince Muslim figures that the MUI was not the government’s political tool, it made various efforts such as inviting them to observe and participate in its activities or inviting them to discuss and solve the Muslim community's problems. In addition, the MUI showed is strong commitment to the Muslim community’s social concerns as well as its involvement in many national and international programs and activities. By doing so, the presence of the MUI was finally accepted by the whole Muslim community. second, the MUI aimed at establishing good relations with the government. The MUI's relations with the Muslims and the government were complex in nature. on one hand, many Muslim figures at the beginning were nor interested in the formation of the MUI because they regarded it as a government’s tool to legitimize its policies towards the Muslims. On the other hand, the government itself financially supported the MUI so that the relation between the two sides grew well. Between 1975-1988 the MUI produced twenty-two. fatwa’s (legal opinions): eight supported the government’s policies, eleven were neutral, and three were in contradiction to its policies However, generally speaking, the MUI's relation with the government became better and more cooperative in the face of religious and national affairs Third, the MUI encouraged the Muslims to take part very actively and extensively in the whole process of national development. These efforts were made by the MUI by cooperating with certain Ministries. Fourth. the MUI acted as a mediator which played a pivotal role in establishing good and harmonious relations between the Muslim community and other social-religious group existing in the country. In last six-seven years (from 1989-now). The MUl has persisted in keeping its significant role (as Mentioned above), even with more intensive and effective way. The MUI proves itself as an effective religious institution so that its presence and its function can be accepted and acknowledged by the Muslim as a whole. In this periode. The MUI intensifies its activities by implementing various program which had never been done before such as taking the of establishing the muamalat Bank and sending Muslim preachers (dā’ī’s) to the transmigration areas. More and More fatwā’s in this periode have also been produced by the MUI. This periode also witnesses a better and more cooperative relation between the MUI and the government. The MUI continues to motivate all segments of the Muslim community to be more involved in the whole process of social. educational, and cultural development carried out by the government. It also urges Muslim to support the government's political interests, especially in connection with its policies to preserve national unity Integrity and to maintain national security and dynamic stability in the country. [Tulisan ini mencoba mengkaji hakikat hubungan Majelis Ulama Indonesia (MUI), pemerintah dan masyarakat di Indonesia selama 6-7tahun terakhir. Analisis dalam kaiian ini berangkat dari hasil penelitian terdahulu penulisnya terhadap MUI periode 1975-1993. Dalam penelitian terdahulu itu ditemukan empat sikap pokok MUI yang mewadai kegiatanny: Pertama, adanya keinginan di pihak MUI untuk dapat diterima masyarahat dan untuk membangun hubungan baik dengan berbagai organisasi keislaman. Pada mulanya sebagian tokoh-tokoh umat Islam menolak kehadiran MUI karena dicurigai sebagai semata alat politik pemerintah belaka. Namun berkat kredibilitas para tokoh yang pernah menjadi ketua umumnya dan usaha-usaha yang dilakukannya, seperti mengunjungi organisasi-organisasi Isiam atau mengundang para pengurusnya untuk Menghadiri berbagai pertemuan MUI untuk membahas aneka persoalan, penunjukan komitmen yang tinggi terhadap kepentingan Islam dan kaum Muslimin serta kererlibatannya dalam berbagai kegiatan yang bertaraf internasional, akhinya ia lambat laun diterima oleh masyarakat Islam. Kedua, adanya keinginan untuk membina dan mempertahankan bubungan baik dengan pemerintah. Hubungan dengan pemerintah ini agak kompleks. Di satu sisi pada mulanya tokoh-tokoh Islam tidak tertarik kepada pembentukan MUI karena beberapa faktor politik sebelum terbentuknya MUI dan setelah terbentuknya karena adanya kesan pemerintah menekan MUI agar selalu melegitimasi kebijaksanaan-kebijaksanaannya. Di sisi lain pemerintah sendiri terus memberikan dukungan kepada MUI melalui bantuan finansial dan dari pihak MUI sendiri terdapat usaha-usaha untuk terus memperkokoh hubungan dengan pemerintah sehingga dari 22 fatwa yang diterbitkan selama periode 1975-1988 terdapat 8 farwa yang mendukung kebijaksanaan pemerinrah, 11 fatwa netral dan hanya tiga yang beroposisi terhadap pemerintah. Akan tetapi secara umum hubungannya dengan pemerintah bejalan ke arah semakin membaik. Ketiga, keinginan untuk mendorong umat Islam agar berpartisipasi sebanyak mungkin dalam pembangunan nasionaI. Ini dilakukan dengan menerbitkan keputusan-keputusan bersama dengan Departemen-Departemen tertentu. Keempat, keinginan untuk membina hubungan baik dengan kelompok-kelompok agama lain. Hubungan ini bersifat kompleks dan bahkan konflik dalam mana MUI memainkan Perannya dalam upaya untuk membina kerukunan antar pemeluk agama di mana umat Islam merupakan kelompok terbesar (88 %) yang karena itu, pada mulanya, enggan untuk duduk bersamal dengan kelompok agama lain yang lebih kecil. Pada periode 6 - 7 tahun terakhir ini (1989-hingga sekarang) MUI kerap mempertahankan empat sikap yang telah diambilnya pada periode terdahulu dengan perubahan dan intensitas dan aplikasi. Dalam periode ini MUI berhasil Mengukuhkan kehadirannya di tengah-tengah umat Islanm yang terbukti dari penerimaan penuh masyarakat dan organisasi  lslam terhadap keberadaannya. MUI Meningkatkan aktifitasnya dengen mencanangkan program-program khusus yang pada periode sebelumnya tidak dilakukan karena waktu itu ia lebih memfungsikan diri sebagai pemberi nasihat dan fatwa. Peningkatan aktifitas pada periode sesudah tahun 1990 terecermin dalam keterlibatannya, misalnya, mendirikan Bank Mu'amalat Indonesia, mengirim para da'I ke daerah transmigrasi, Menerbitkan sertifikat Makanan halal. Dalam kaitan hubungan baik dengan pemerintah, kedae pihak MUI dan pemerintah dapat membina kerja sama positif sebagai dampak dari dihilangkannya beberapa faktor pengganjal hubungan tersebut sebelumnya. Mengenai sikap MUI yang lahir dari keinginan untuk lebih mendorong umat Islam berpartisipasi lebih besar dalam pembangunan nasional sejalan dengan berkembangnya hubungan baik dengan pemerintah. MUI memberikan nasihat-nasihat yang berdimensi luas baik terhadap pemerintah maupun umat Islam berkenaan dengan masalah-masalah seperti ketahan dan stabilitas nasional pengumpulan zakat, pengembangan Pendidikan  dan sekolah-sekolah Islam dan lain-lain. Mengenai kerukunan umat beragama dikembangkan melalui Wadah Musyawarah Antar Umat Beragam, sekalipun sensitifitas terhadap Kristenisasi masih tetap muncul di permukaan.

    Ibnu Miskawaihi Pemikirannya Tentang Psikologi dan Pendidikan

    Get PDF
    Nama Lengkapnya Abu Ali Al-Khazin Ahmad ibn Muhammad ibn Ya'kub dikenal dengan gelar Ibnu Miskawaihi. Wafat pada tanggal 9 Safar 421 H. Dia berdarah Persi yang hidup tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat elite Arab. Memang orang Persi pada masa mula perkembangan Islam banyak yang menjadi pejabat pemerintahan Arab Islam. Diantaranya adalah Abu Muhammad Abdullah ibnu Maqaffa' wafat tahun 142 H. Orang Arab dalam menyelenggarakan pemerintahan mengangkat orang­ orang Persi yang memang mereka itu pilih tanding dalam intelektual, penguasaan ilmu bahasa, hikmah dan sejarah. Ibnu Miskawaihi salah seornng intelektual mereka, pakar dalam ilmu sejarah, banyak melahirkan karya tulis. Betulkah dia seorang Majusy lalu kemudian masuk Islam? Seperti dikatakan Yaqut dalam kitabnya Mu 'jamul Adibba, diikuti pula oleh Jurji Zaidan dalam bukunya Tarieh AI Adabil Arabiyah dan Lulfi Jum'ah dalam  Tarieh Falasifatil Islam. Dr. Yusuf Musa dengan tegas menolak pendapat ini. Tidak mungkin katanya, orang bisa masuk Islam tetapi pemikirannya demikian luas seperti filosof-filosof Islam lainnya. Yang benar barangkali neneknya beragama Majusy kemudian masuk Islam. Demikian pula dilihat  dari nama bapaknya "Muhammad" menunjukkan bahwa dia seorang muslim. Mungkin dulu ayahnya beragama Majusy lalu masuk Islam dan mengambil nama Muhammad. Apakah Miskawaihi atau lbnu Miskawaihi laqob (gelar) yang diberikan kepada Abu Ali Ahmad lbnu Muhammad ini? Miskawaihi adalah nama rumpun keluarga (trah). Dr. Yusuf Musa memilih Miskawaihi, berdasarkan nama yang diberikan oleh sejarawan-sejarawan Islam yang sezaman dengan Ibnu Miskawaihi seperti Abu Hayyan at Tauhidy, Yaqut dll

    Islam In Indonesia (The Politics of Recycling and the Collapse of a Paradigm)

    No full text
    Makalah ini menyoroti perkembangan politik lslam di Indonesia akhir-akhir ini. Untuk itu, penulis menguraikan,asal mula masuknya Islam ke Indonesia menurut berbagai versi. Selain itu, doktrin teologi Sunni dan struktur social di Indonesia juga ikut mempengaruhi pemikiran politik Islam Indonesia. Dalam masyarakat sunni, ulama berfungsi hanya sebagai patron yang nasehat dan teladannya meskipun perlu diikuti tetapi bukan dipandang sebagai kewajiban agama. Indonesia mengalami terpaan gelombang berbagai ideologi politik. Pada abad ke-19, memang bendera Islam menjadi inspirasi perjuangan bangsa Indonesia melawan para penguasa kafir. Namun, muncul ideologi nasionalisme yang memicu perdebatan dan pertentangan antara umat Islam "santri" dan "abangan". Di era orde lama, ideologi Komunis mengalami puncak kejayaan yang kemudian hancur lebur seiring dengan kemunculan orde Baru yang kemudian juga memarjinalkan ideorogi politik lslam. Dengan runtuhnya rezim Suharto, kebebasan dibuka kembali sehingga muncul romantisme untuk menghidupkan kembali partai-partai yang pernah aktif di masa Orde Lama termasuk partai-partai Islam. Umat Islam yang berusaha menghidupkan kembati politik Islam pada pemilu 1955 mempunyai resiko dan bisa kontra-produktif. Masyarakat Muslim Indonesia telah berubah. Mereka kini berpendidikan lebih baik dan memahami hubungan antara Islam dan nasionalisme dengan lebih kritis dan realistis. Pada pemilu 7 Juni 1999, partai-partai Islam tidak mendapat suara mayoritas. Karena itu, paradigma lama bahwa umat Islam akan lebih baik jika dilayani oleh parrai-partai Islam nampaknya telah runtuh. setidaknya pada pemilu terakhir ini, ketaatan dan afiliasi agama tidak lagi menjadi pertimbangan utama pemilihan suatu partai

    Sufisme dan Jihad Suatu Dikotomi Palsu

    Get PDF
    Kebanyakan manusia beranggapan bahwa sufisme atau tasawuf itu merupakan ajaran Islam yang pasif, dan secara total bertentangan dengan politik dan jihad. Akan tetapi, kalau kita lihat sejarah Islam di Afrika Barat dan Sudan pada abad ke-18 dan 19, akan terungkaplah bahwa gerakan politik di sana berasal dari sufisme, yang memainkan kepahlawanan yang tidak ada tandingannya dalam perlawanan mereka menentang penjajah atau rejim nasional yang suka korupsi.  Sebelum diterangkan tentang hubungan antara sufisme dan jihad, apakah keduanya memang terpisah atau ada hubungan yang erat, maka akan diterangkan terlebih dahulu dua kata kunci yaitu sufisme dan jihad.

    Book Review

    Get PDF
    Buku NU vis-a-vis NEGARA, menarik untuk dikaji. Tema vis-a-vis tidak berkonotasi NU "melawan" NEGARA. Lebih tepatnya NU di hadapan NEGARA atau 'dialog' interaktif antara NU dengan NEGARA. Klarifikasi ini pernah dikatakan Andree Feillard saat diskusi buku ini,27 Pebruari 1999, di Yogyakarta. Buku karya staf pengajar sejarah lslam di INALCO paris ini bisa memberikan infomrasi lengkap dan komprehensif mengenai NU. Sedikit melihat titik tekan karya-karya tentang NU sebelumnya, buku NU Tradisi Relasi-Relasi Kuasa Pencarian Wacana Baru, Martin van Bruinessen (LKiS,1994) mencoba mengelaborasi NU dengan penekanan pada konflik-kontlik kepentingan agama-politik-ekonomi. Buku Metamorfosis NU dan Politisasi Islam Indonesia, A. Gaffar Karim (LKiS, 1995) lebih mengkaji NU dari sisi politik, dengan pemilahan pra khittah dan pasca Khittah yang kemudian diarahkan pada analisis proses metamorfosis NU jangka panjang dan NU dalam politisasi Islam Indonesia. Sedangkan buku NU dan ljtihad Politik Kenegaraannya, Masyhur Amin (1996) lebih menekankan deskipsi-historis mengenai perkembangan NU dari sisi kelembagaan, pemikiran dan tjtihad politiknya. namun sayangnya disajikan tanpa analisis kritis yang berarti

    Editorial

    Get PDF

    Ad-Qādi Ábd al-Jabbār dan Ayat-ayat Mutasyābihāt dalamal-Qur’ān (Pembahasan tentang kitab Mutasyābih al-Qur’ān)

    No full text
    Al-Qur' an, sebagaimana dinyatakannya sendiri dalam surat 3/ aI-lmron:7, terdiri dari dua macam ayat: ayat-ayat yang jelas dan tegas  (muḥkamat) yang merupakan bahagian terbesar darinya, dan ayat-ayat yang mengandung ambiguitas (mutasyābihāt). Timbul banyak persoalan sekitar ayat-ayat yang mengandung ambiguitas. Misalnya, berapa jumlah ayat-ayat yang mengandung ambiguitas. Misalnya, berapa jumlah ayat-ayat yang mengandung ambiguitas itu, ayat-ayat apa saja yang termasuk di dalamnya, dapatkah kita memahaminya dan bagaimana -kalau dapat- kita memahaminya. Banyak aliran dalam Islam mempergunakan ayat-ayat al-Qur’an untuk mendukung pendapat mereka. Ayat-ayat yang secara lahiriah memberikan pengertian yang mendukung pendapat mereka, mereka anggap sebagai  mutasyābihhāt dan  karenanya mereka pakai ayat-ayat itu sesuai dengan pengertian lahiriahnya, sementara ayat-ayat yang secara lahiriah bertentangan dengan pendapat mereka, mereka anggap sebagai mutasyābihāt dan mereka menakwilkannya sehinggga memberi pengertian yang sesuai dengan pendapat mereka. Jadilah, karena itu, ayat-ayat tertentu mutasyābihāt bagi suatu aliran namun mutasyābihāt bagi aliran lain dan sebaliknya, ayat-ayat tertentu mutasyābihāt bagi aliran itu, namun mutasyābihāt bagi aliran lain. AI-Qādī 'Abd al-Jabbar, seorang tokoh penting dalam sejarah aliran Mu'tazilah, telah mendiktekan sebuah buku yang diberi judul Mutasyābih al-Qur’ān atau Bayān al-mutasyābih fi al-Qur 'ān, yang berusaha untuk memberikan penjelasan tentang ayat-ayat yang dianggap mengandung ambiguitas oleh kaum Mu'tazilah dan dipakai sacara salah oleh lawan-lawan mereka

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇