Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    Tafsir Al-Manar (Antara al-Syaikh Muhammad ‘Abduh dan al-Sayyid Muhammad Rasyid Ridla)

    Get PDF
    Di antara nama-nama kitab tafsir al-Quran yang muncul di abad keduapuluh ini, nama al-Manar berada pada deretan pertama, baik dalam hal popularitas tokoh penulisnya, maupun dalam hal kualitas isi yang dikandungnya. Dalam kaitannya dengan nama-nama tokoh yang berperan dalam kemunculan kitab Tafsir al-Manar ini, al-Syaikh Muhammad al-Fadlil ibn 'Asyur menyebut 3 (tiga) buah nama. Pertama: al-Sayyid Jamal al-Din al-Afghaniy (1839-1897) yang merupakan tokoh pencetus ide keharusan adanya perbaikan masyarakat Islam, dengan jalan membawa umat Islam untuk kembali kepada sumber ajaran agama yang murni. Kedua: al-Syaikh Muhammad 'Abduh (1849-1905) sebagai tokoh yang secara langsung melakukan penafsiran al-Quran al-Karim sebagai sumber pertama dan utama ajaran Islam, dalam rangka merealisir ide yang telah dicanangkan oleh tokoh pertama. Ketiga: al-Sayyid Muhammad Rasyid Ridla (1865-1935) sebagai tokoh pendamping dan penerus tokoh kedua dalam melestarikan dan mengembangkan usaha penafsiran al-Quran dimaksud. Mengingat kenyataan bahwa ketiga nama tokoh di atas merupakan nama-nama yang sudah sangat dikenal, dan jarak waktu antara kita dengan mereka relatif tidak begitu jauh, maka makalah ini sengaja tidak mengupas seluk-beluk riwayat hidup mereka. Yang penting untuk dibahas dalam makalah ini ialah kepastian tentang siapakah sebenarnya penyusun kitab Tafsir al-Manar ini. Hal ini berkaitan erat dengan kenyataan masih seringnya terjadi kekaburan di sekitar masalah dimaksud. Ungkapan yang berbunyi: Ta'lif al-Sayyid Muhammad Rasyid Ridla Munsyi' Majallah al-Manar, yang menghiasi setiap halaman judul dari masing-masing juz al-Manar, sepintas lalu dapat menimbulkan kesan bagi sementara orang bahwa Rasyid Ridlalah penyusun dan pemilik ide penafsiran al-Manar; padahal --seperti telah disinggung sebelumnya-- Rasyid Ridla merupakan pendamping dan penerus ide penafsiran Muhammad 'Abduh. Demikian pula sebaliknya --seperti ditulis oleh A. Mahmud Syihatah-­ tidak sedikit ilmuwan yang menisbatkan al-Manar seluruhnya kepada Muhammad 'Abduh. Kekeliruan terakhir ini di samping dilakukan oleh beberapa ilmuwan Arab sendiri, juga dilakukan oleh orientalis terkemuka, Ignaz Goldziher dalam karya monumentalnya, Richtungen der Islamischen Koranauslegung, yang telah dua kali diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Mengingat adanya kesimpangsiuran diantara nama Muhammad 'Abduh dan Rasyid Ridla dalam kaitannya dengan penyusunan kitab Tafsir al-Manar ini, maka pembahasan makalah ini juga diarahkan pada beberapa masalah yang berkaitan dengan penafsiran kedua tokoh tersebut, baik dalam hal saham masing-masing, maupun dalam hal ciri-ciri khas yang menonjol dari penafsirannya

    Dimansi Kebermaknaan dan Kearifan dalam Proses Receptionlearning dan Learning by Discovery

    No full text
    Pembaharuan dalam dunia pendidikan pada dewasa ini mencakup berbagai bidang aktivitas, rencana, metode serta merintis cara-cara baru sebagai langkah optimalisasi sistem non-verbal dan cara memanipulasi pengalaman belajar-mengajar di dalam maupun di luar kelas. Penekanan bidang pendidikan selanjutnya diletakkan pada metode belajar self discovery (menemukan secara mandiri) maupun belajar untuk problem solving (memecahkan masalah) di samping itu berkembang pula ketidakpuasan terhadap tehnik-tehnik belajar-mengajar yang hanya mengandalkan instruksi verbal saja. Teori dalam bidang pendidikan dewasa ini semakin cenderung untuk menerima asumsi-asumsi sebagai berikut: (a) Berbagai generalisasi yang disajikan kepada para siswa/mahasiswa tidak lain merupakan suatu bentuk produk dari suatu aktivitas problem-solving, dan  (b) Semua usaha untuk menguasai konsep-konsep dan proposisi-proposisi verbal tidak lain hanyalah merupakan belajar yang tak bermakna, kecuali bila siswa/mahasiswa telah memiliki pengalaman sebelumnya yang sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh konstruksi verbal tersebut. Satu alasan yang dirasa cukup logis bagi sebab kegagalan dalam sistem  expository-teaching (pengajaran terbuka) dalam bentuk verbal adalah kenyataan masih banyaknya materi pokok bermakna yang disampaikan dengan menggunakan bentuk rote-learning (hafalan). Adapun alasan bahwa generalisasi konsep verbal diamati sebagai produk problem-solving maupun tehnik belajar menemukan sebelumnya adalah timbul dari teori belajar modern sebagai berikut: (a) Adanya kecenderungan para ahli psikologi pendidikan untuk menyamaratakan berbagai jenis dan kualitas proses belajar dalam satu model pengajaran sehingga semakin mengkaburkan perbedaan yang mendasar antara reception-learning (belajar secara reseptif) dengan learning by discovery (belajar menemukan) maupun antara belajar hapalan dengan belajar bermakna.  (b) Belum terdapatnya teori yang mapan tentang belajar verbal yang bermakna dan kecenderungan para ahli psikologi untuk menginterpretasikan belajar terhadap suatu materi, memerlukan waktu yang lama dan berdasar pada konsep yang sama. Oleh karena itu perlu digaris bawahi perbedaan antara belajar reseptif dengan  belajar menemukan dan antara belajar dengan hapalan dan belajar bermakna. Membedakan antara "reception" dan "discovery" dalam belajar itu penting, oleh karena pada umumnya pemahaman yang diperoleh siswa/mahasiswa di dalam maupun di luar kelas adalah dari "penyampaian" dan bukan dari yang "ditemukan". Karena materi/bahan pelajaran itu kebanyakan disampaikan secara verbal, maka semakin penting artinya untuk menilai peran belajar reseptif sebagai yang kita sebut dengan istilah "reception-learning" yang pada dasarnya tidaklah mesti dengan ciri hapalan, namun dapat juga dalam bentuk belajar bermakna (meaningful) tanpa harus didahului oleh pengalaman non-verbal dan problem solving. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi serta input untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam meluruskan persepsi kita terhadap peran dan fungsi belajar reseptif melalui sistem pengajaran verbal dan langsung (directl)

    Jihad Dalam Perspektif Al-Qur’an

    No full text
    Al-Qur'an sebagai sumber hidayah dan petunjuk hidup dan kehidupan umat Islam berisi berbagai macam prinsip tentang usaha-usaha dan upaya-upaya yang perlu serta harus dilakukan untuk menegakkan nilai­nilai kebenaran yang dibawanya (Al-Qur'an). Persoalan-persoalan yang bertalian dengan ide-ide yang berisi gagasan-gagasan revolusioner tentang penumbuhan dan pengembangan kebenaran ajaran-ajarannya dipaparkan di dalam berbagai ayat yang dikandungnya. Jihad yang menjadi tema pembahasan tulisan ini, merupakan salah satu prinsip dasar sekaligus metode yang digariskan oleh Al-Qur'an, untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran yang diajarkannya. Sebagai suatu label spesiftk yang menjadi identitas perjuangan hidup seorang muslim, jihad mendapat perhatian yang cukup besar dari Al-Qur'an. Hingga hampir pada setiap surah-surah Madaniyyah terdapat ayat-ayat yang berisi perintah atau dorongan-dorongan untuk melakukan jihad. Mengingat luasnya ruang Iingkup kajian, penulis hanya akan membatasi pembahasan tema jihad ini pada masalah-masalah: pengertian jihad, macam-macam jihad dan tujuan- tujuan jihad

    Some Notes on European History

    Get PDF
    Ringkasan: sebagai kaji awal tulisan ini mencoba mengungkap pengaruh peradaban dan kebudayaan Eropa di dunia saat ini, sekalipun pengaruh tersebut demikian bervariasi. Pengaruh Eropa yang cenderung menegasikan agama, nampak berakar pada masa Abad Tengah. Masa tersebut dikenal pula sebagai Abad Iman, The Age of Relief yang berlaku hampir di seluruh Eropa, kecuali di Spanyol atau Andalusia yang berada dalam kekuasaan Islam. Saat tersebut justru Spanyol tampil sebagai siglo de oro atau abad emas. Keadaan ini menjadi salah satu sebab mengapa di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim, agama Islam masih mempunyai peran yang penting

    Konsep Ummah dalam Piagam Madinah

    Get PDF
    Pada dasarnya alur perjalanan sejarah Islam yang panjang itu bermula dari turunnya wahyu di Gua Hira', sejak itulah nilai-nilai kemanusiaan yang dibawah bimbingan wahyu Ilahi menerobos arogansi kultur jahiliyyah, merombak dan membenahi adat istiadat budaya jahiliyyah, yang tidak sesuai dengan fitrah manusia. Dengan seruan agama tauhid (monotheisme) yang gaungnya menggetarkan seluruh jazirah Arabia, maka fitrah dan nilai kemanusiaan didudukkan ke dalam hakekat yang sebenarnya. Seruan agama tauhid inilah yang merubah wajah masyarakat jahiliyyah menuju ketatanan masyarakat yang harmonis, dinamis dibawah bimbingan wahyu. Kemudian hijrah Rasulullah ke Madinah adalah merupakan suatu momentum bagi kecemerlangan Islam di saat-saat selanjutnya. Dalam waktu yang relatif singkat Rasulullah telah berhasil membina jalinan persaudaraan antara kaum Muhajirin sebagai imigran-imigran Makkah dengan kaum Ansar penduduk asli Madinah. Beliau mendirikan masjid, membuat perjanjian kerjasama dengan nonmuslim, serta meletakkan dasar-dasar politik, sosial dan ekonomi bagi masyarakat baru tersebut, suatu fenomena yang menakjubkan ahli-ahli sejarah dahulu dan masa kini. Suatu kenyataan yang menggoyahkan kedudukan Makkah dan menjadikan orang-orang Quraisy Makkah semakin bergetar manakala melihat misi kerasulan Nabi Muhammad semakin nampak nyata. Keberhasilan Rasulullah membentuk masyarakat Muslim di Madinah oleh sebagian intelektual Muslim masa kini disebut dengan negara kota (city state), dan dengan dukungan kabilah-kabilah dari seluruh penjuru jazirah Arab yang masuk Islam, maka muncullah kemudian sosok negara bangsa (nation state): Walaupun sejak awalnya dalam kandungan sejarahnya, Islam, tidak memberikan ketentuan yang pasti tentang bagaimana bentuk dan konsep negara yang di kehendaki, namun suatu kenyataan bahwa Islam adalah Agama yang mengandung prinsip-prinsip dasar kehidupan termasuk politik dan negara

    The Idea of Progress: Meaning and Implications of Islam Berkemajuan in Muhammadiyah

    Get PDF
    Muhammadiyah is an Islamic religious organization founded in 1912 that has survived for more than a century in Indonesia. The survival and dynamic development of Muhammadiyah has inspired exploratory studies revealing the concomitant factors behind the proliferation of Muhammadiyah, one of which is the idea of Islam Berkemajuan (progressive Islam). This study relies mostly on the official documents and individual works published before and after the coinage of the terminology in the early 2000s. This study approaches the subject by systematically and critically constructing the historical and theological perspectives. This research shows that Islam Berkemajuan finds its roots in progressivice Islamic discourse among Muslim intellectuals and activists in early twentieth-century Indonesia. The idea of progress then serves as an intellectual response to social, political, and economic plight of Indonesians under Dutch colonial rule. In addition, the idea of progress is also particularly found in the discourse among inner circles of Muhammadiyah to advance the position of Muslims. Islam Berkemajuan was founded on theological grounds. In this, the teaching of Ahmad Dahlan on surah al-‘Ashr and surah al-Ma’un has become a strong inspiration behind Muhammadiyah’s commitment to using religious and rational understanding in teaching and action, developing education, health services, economic development, empowerment, philanthropy, and humanitarian action. [Muhammadiyah adalah organisasi keislaman di Indonesia yang berdiri sejak 1912 dan telah bertahan lebih dari seabad. Keberlangsungan dan dinamika perkembangan Muhammadiyah telah menginspirasi kajian eksploratif yang mencerahkan seiring faktor dakwah Muhammadiyah, salah satunya ide tentang Islam Berkemajuan. Tulisan ini sebagian besar berdasar dokumen resmi lembaga dan publikasi personal tentang Muhammadiyah baik sebelum dan sesudah terminologi ini muncul di awal tahun 2000an. Tulisan ini menggunakan pendekatan sistematis dan konstruktif kritis pada perspektif sejarah dan teologis organisasi ini. Tulisan ini ingin menunjukkan bahwa Islam Berkemajuan berakar pada progresifitas diskursus keislaman diantara intelektual dan aktivis muslim Indonesia awal abad 20. Ide kemajuan kemudian berkembang sebagai respon intelektual terhadap memburuknya sosial, ekonomi dan politik Indonesia dimasa kolonial Belanda. Ide kemajuan juga sebagian berkembang dilingkungan internal Muhammadiyah untuk mendorong posisi muslim Indonesia. Islam berkemajuan juga mempunyai landasan teologisnya dalam ajaran Ahmad Dahlan terkait surah al-‘Ashr dan surah al-Ma’un. Hal ini menjadi inspirasi kuat selain komitmen Muhammadiyah menggunakan agama dan pemahaman rasional dalam ajaran dan aksi, pengembangan pendidikan, pelayanan kesehatan, kesejahteraan ekonomi, pemberdayaan, filantropi dan aksi kemanusiaan.

    Intishār al-Lughah al-'Arabīyah wa Mashkulātihi fi Indunīsiyah

    No full text
    Arabic (language) is not something new for Indonesian Muslims. Arabic came along with the arrival of Islam in Nusantara. Since then, Indonesian Muslims learn Arabic in various pesantrens, either traditional or modern one. Although Islam has undergone some major developments in its substance and teachings, Arabic has not undergone such major progress. In other words, most pesantrens still employ classical methods in teaching the Arabic. Few pesantrens, however, have developed their methods of Arabic teaching, particularly modern pesantrens such as Pondok Modem Gontor. According to the writer, it is interesting to study these phenomena by viewing some advantages and disadvantages of employing the new methods of Arabic learning. By taking into account of some significant developments in the teaching methods generally, this article is trying to offer an alternative method of Arabic teaching in a way that Indonesian Muslims could learn Arabic easily

    The Debate on Muslim Family Law Reforms in Indonesia: The Case of Representation of Heirs and Obligatory Bequest’

    Get PDF
    Kebutuhan terhadap pembaharuaan hukum keluarga Islam di Indonesia sudah mulai diartikulasikan sejak tahun 1940-an. Namun, realisasi dari kebutuhan tersebut baru tercapai Ketika Kompilasi hukum Islam melalui Istruksi Presiden disahkan pada tahun 1991. Hasil dari Kerjasama antara Departemen Agama dan Mahkamah Agung yang kemudian diklaim sebagai ijtihad kolektif ‘ulama Indonesia itu disebut dengan baik oleh berbagai kalangan dan dianggap sebagai suatu Langkah besar dalam sejarah perkembangan hukum Islam di Indonesia. Walaupun demikian, beberapa aturan yang termuat dalam kompilasi masih dipertanyakan oleh sejumlah tooh Islam. Aturan yang dipakai untuk menengahi atauran atau adat dan huku Islam mengenai status anak angkat dalam warisan, di mana adat menganggap anak angkat dan juga orang tua angkat sebagai anak dan orang tua asli, sehingga mereka berhak saling mewarisi, sementara hukum Islam menentang praktek kewarisan tersebut, juga diperdebatkan. Aturan ini dianggap berlebihan dan tidak mempunyai dasar yang kuat dalam teks al-Qur’an dan telah menyimpang dari prinsip kewarisan Islam. Artikel ini akan mencoba mendiskusikan perdebatan kedua atauran tersebut dan mencari titik masalah dari perdebatan tersebut

    Para Pendengar Firman Turhan: Telaah Terhadap Efek Estetik al-Qur'an

    Get PDF
    Buku berjudrul Gott ist schőn; Das ästhetische Erlebens des Koran ("Tuhan Maha Indah; Penghayatan Estetik terhadap al-Qur'an") yangmenjadi sentral ulasan berikut bukanlah karya pertama Navid Kermani, islamisis lran kelahiran Jerman. Buku ini asal mulanya adalah disertasi Doktor di "Orientalisches Seminar" Universitas Bonn tahun 1998. Di tahun-tahun sebelumnya Kermani sudah berperan aktif dalam meramaikan kajian al-Qur'an di Barat. Buku pertama yang dihasilkan adalah Offenbarung als Kommunikation; Das Konzept waly in Naṣr Abū Zaids Mafhūm al-Nasṣ (Wahyu sebagai Komunikasi; Telaah atas Konsep Abu Zaid tentang Wahyu dalam Mafhūm al-Nasṣ, terbit 1996). Sedangkan karya-karyanya yang lain banyak berupa artikel dibeberapa jurnal studi Islam intemasional

    The Response of Muhammadiyah To the Bill of National Education of 1988

    Get PDF
    Semenjak munculnya orde Baru dan adanya restrukturisasi Lembaga DPR, ada beberapa kebijakan pemerintah yang menimbulkan reaksi penentangan dari organisasi-organisasi Islam. Di antara kebijakan tersebut adalah Peraturan Pemerintah yang menghilangkan libur sekolah selama bulan Ramadlan. Karena munculnya berbagai penentangan dari organisasi-organisasi Islam dan kelompok umat Islam yang lain terhadap peraturan tersebut menyebabkan turun Tangannya Presiden Dengan mengambil jalan tengah, yaitu meliburkan satu minggu pertama dan sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan. Perubahan terhadap kebijakan pemerintah ini menunjukkan kekuatan umat Islam dalam melindungi kepentingan mereka. Berpangkal dari peristiwa di atas, tulisan ini mencoba melihat reaksi Muhammadiyah terhadap kebijakan yang hampir sama meskipun berbeda esensi dan waktunya, yaitu RUU Pendidikan Nasional tahun 1988. RUU Pendidikan Nasional yang terdiri Dari 18 Bab dan 60 pasal, oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hasan diharapkan dapat merangkum kebijakan-kebijakan pendidikan yang komprehensif, dari tujuan pendidikan nasional, dasar filosofi pelajaran agama dan status sekolah-sekolah agama. secara umum Muhammadiyah menilai bahwa RUU tersebut dapat diterima kecuali beberapa bab yang berhubungan dengan tujuan Pendidikan nasional, posisi pelajaran agama pada setiap jenjang pendidikan, posisi sekolah agama dan swasta dalam system Pendidikan nasional serta sangsi terhadap Lembaga yang tidak melaksanakan undang-Undang tersebut. Menurut Muhammadiyah RUU ini mendeskreditkan mata pelajaran agama karena mata pelajaran tersebut hanya diajarkan pada jenjang pendidikan tertentu Di samping itu RUU tersebut tidak menghargai Pendidikan agama karena hanya mengijinkan pendirian sekolah agama sampai pada tingkat menengah. Lebih dari itu, hilangnya kata "iman" dari tujuan Pendidikan nasional Yang selalu Disatukan dengan Kata "taqwa" Dianggap dapat memudarkan Iman umat Islam, khususnya generasi mudanya

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇