Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    Revitalisasi Studi Hisab di Indonesia

    Get PDF
    This article tries to look at the study of Science of Islamic Calendar (Ḥisab) in Indonesia. In the first part of this writing, the writer shows the golden age of this science when such great Islamic scientists as al-Khawārizmi, al-Battany, al-Birūni and Ulugh Beg, flourished. The writer argues that this development was achieved because there was no dichotomy between this Science of Islamic Calendar and Astronomy. However, currently, study of Science of Islamic Calendar in the Muslim world, particularly in Indonesia, has stagnated. By examining bibliography on this study, the writer surveys the causes of this stagnancy. According to him, this condition is caused by frame of thought of dichotomy between religious knowledge and science, which in tum leads to the dichotomy between the Science of Islamic Calendar and Astronomy. The former is identified as one of religious matters and the latter is regarded as a "pure science" which has its own authority. Religion, then, regards as something that is difficult to attain and does not touch the reality; while the science develops in accordance with the needs of times. As a result, Astronomy develops rapidly; while the Science of Islamic Calendar stagnates. To deal with this problem, the writer suggests that in order to revitalize the Science of Islamic Calendar in Indonesia, Muslims must return the science to its origin as part of religious function and stop the dichotomy between the Science of Islamic Calendar and Astronomy by regarding the needs of time

    The Islamic Concept of Man and Its Implications for the Muslim’ Appreciation of the Civil and Political Rights.

    Get PDF
    Dalam membincang masalah agama (Islam) dan hak-hak sipil dan politik, perlu dikedepankan terlebih dahulu konsep Islam tentang 'manusia' sebagaimana yang dipaparkan oleh Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad.  Dengan demikian, menurut penulis, diskusi tidak terjebak dan tereduksi pada pandangan individual maupun kolektif mengenai hak-hak ini yang hanya bersifat sepotong-sepotong.  Pada peristiwa penciptaan Adam, Allah telah mengumumkan bahwa Adam (i.e. manusia) akan dijadikan wakilNya di bumi. Untuk itu Allah membekali Adam, sang manusia, dengan kemampuan intelektual dan spiritual untuk membaca, mengerti, memahami serta memanfaatkan pengetahuannya itu guna menjalankan fungsi khilafah yang diembannya.  Disamping itu, kebebasan/ freedom adalah hak lain yang dianugerahkan Allah kepada Adam sebagai manusia, dengan satu-satunya pembatasan agar ia jangan mendekati 'pohon kejahatan.  Berkaitan dengan pemberian kemampuan intelektual-spiritual dan kebebasan tersebut, Allah membuat perjanjian suci (mithaq) dengan manusia,  bahwa manusia hanya akan menuruti jalan Allah, dan menolak jalan-jalan lain yang ditawarkan oleh setan. Umatmanusia di seluruh dunia, sebagai anak-anak Adam, memiliki hak dan kewajiban sebagaimana tertera dalam perjanjian primordial tersebut di atas. Naluri dan fitrahnya akan selalu mencari jalan untuk memenuhi perjanjian suci yang telah dibuat di hadapan Tuhan. Secara natural pula, setiap manusia memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan hid up, ikut berpartisipasi dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan kelangsungan hidupnya. Inilah landasan dasar hak-hak sipil dan politik dalam Islam

    Memahami Kitab kuning Melalui Terjemah Tradisional (Suatu Pendekatan Tradisional terjemahan Pondok Pesantren)

    No full text
    Abd al-Wakil al-Darūbī mendefinisikan terjemah sebagai berikut:التر جمة نقل الكلام من لغة عن الى لغة عن طريق التدرج من الكلمات الجزئية ثم الجمل ثم المعانى الكليةTerjemah adalah mentransfer al-kalam dari satu bahasa ke Bahasa yang lain secara bertahap, dari bagian-bagian kata, kalimat, dan arti keseluruhan. Berangkat  dari  pengertian  terjemah di atas,  maka upaya  memahami  Kitab• Kuning (KK) bertolak dari memahami bahasa KK yaitu bahasa Arab sebagai bahasa  sumber  (BSu)  yang  memiliki  perbedaan  deogan  bahasa  Indonesia sebagai  bahasa  sasaran  (BSa).  Perbedaaan  di  sini bukan  hanya  perbedaan bahasa sebagai satu sistem struktur, tetapi juga berdasarkan perbedaan bahasa sebagai basil kebudayaan yang berbeda. Oleh karena itu, menerjemah itu tidak. sekedar mencari padanan  kata, makna leksikal, gramatikal dan sintaksis,  tapi perlu memperhatikan teks yang a.kan diterjemah, baik dari segi isi teks, ragam bahasanyadan  latar bela.kangnya kalau ada. Dari definisi  terjemah di atas juga nyata betapa penting memperhatikan perbedaan  satuan semantis  yang diletakkan dalam tatanan kata,  frase kalimat clan wacana.  Pembagian satuan semantis seperti ini akan tampa.k kegunaanoya jika kita menyadari  bahwa kata kadang-kadang  baru jelas artinya jika berada dalam  lingkungan   kata  lain,  misaloya  dalam  frase,  kalimat  atau  wacana. Begitu juga dengan  frase,  arti  frase baru jelas jika berada dalam lingkungan kalimat atau  wacana.  Kalimat  itu  seodiri,  yang  dianggap  mengandung   arti lengkap, sering pula tidak dapat diartikan secara tepat tanpa menempatkannya dalam lingkungan yang lebih luas, misalnya dalam ruang lingkup wacana. Abstraksi seperti ini kiranya yang dapat kita angkat dari model  terjemah KK yang telah menjadi sistem yang dianut oleh pondok pesantren kita di Indonesia untuk  memahami  KK yang  isinya  banya.k menyentuh  kaidah-kaidah agama Islam, baik yang menyangkut  aKidah, syari'ah, akhlak clan tasawuf sehingga ditempuh sistem terjemahan yang mementingkan  keutuhan stuktur BSu

    Paradigma Pemikiran Islam dan Penelitian Agama

    Get PDF
    Problem pemikiran Islam dan penelitian agama (selanjutnya pemikiran Islam) dapat dibedakan ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama, berkaitan dengan obyek pemikiran dan penelitian, dan yang kedua, batasan mengenai kebenaran. Jawaban atau penjelasan terhadap problem pertama akan menentukan jawaban problem kedua. Problem mengenai obyek pemikiran Islam meliputi berbagai hal yang berhubungan dengan ke-berada-an Tuhan, alam serta manusia. Termasuk di dalamnya, agama sebagai aktivitas manusia. Mengenai masalah ini sejak mula  muncul pertanyaan; apakah pemikiran Islam meliputi dimensi ke-gaib-an terutama Tuhan. Sementara masalah agama sebagai aktivitas manusia berkaitan dengan ukuran-ukuran obyektif dari kualitas keberagamaan antara lain seperti; takwa, ikhlas dan iman. Selanjutnya, persoalan kebenaran pemikiran Islam berkaitan dengan absolusitas dan relativitas serta ukuran dan bukti-bukti obyektifnya apakah bersifat sepekulatif ataukah empirik. Persoalan ini berhubungan dengan keyakinan mengenai letak absolusitas kebenaran wahyu yang muncul dari pengkutub-an Tuhan dan segala hal yang berkaitan dengan-Nya pada satu sisi. Sementara manusia memiliki sisi obyektif dan empirik maupun sisi spekulatif ditempatkan dalam suatu kutub lain yang seolah berlawanan

    Pendidikan Etika Lingkungan Hidup Orientasi ke arah Pendidikan yang Holistik

    Get PDF
    Dalam konferensi Tingkat Tinggi Bumi (KTT-Bumi) di Rio De Jenairo pada bulan Juni 1992 yang lalu, telah menghasilkan beberapa kesepakatan penting yang salah satu diantaranya, yang relevan dengan makalah ini, adalah sebuah kerangka kerja yang diperuntukkan kepada masyarakat internasional yang disebut sebagai AGENDA 21. Rencana kerja ini bertujuan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan (Sustainable Developmen) pada abad mendatang. Salah satu program dari Agenda 2l yang sangat penting untuk diperhatikan adalah program pendidikan Lingkungan Hidup, yang didalamnya tercakup tiga hal penting (Bab 36 Agenda 2l), yakni: (a). Mereorientasi pendidikan ke arah pembangunan berkelanjutan' (b). Meningkatkan kesadaran masyarakat akan perlunya menjaga kelestarian lingkungan, dan (c). Meningkatkan latihan. Program-program ini sesungguhnya merupakan tindak lanjut dari deklarasi dan rekomendasi Konferensi Tbilisi yang diselenggarakan oleh UNESCO dan UNEP pada tahun 1917 yang lalu, yang menegaskan perlunya memperhatikan dunia pendidikan dalam upaya menyelamatkan lingkungan hidup

    Prawacana

    Get PDF

    Kata Pengantar

    Get PDF

    Masyarakat Akademik dan Penyebaran Ilmu Pengetahuaan

    Get PDF
    Untuk dapat diketahui, dikenal dan diakui, masyarakat akademik perlu menginformasikan pokok-pokok pikiran baik bersifat lontaran maupun tanggapan yang berupa pemikiran-pemikiran, ide-ide, penemuan­penemuan, teori-teori keterangan-keterangan dan sebagainya, kepada masyarakat. Karena itu adanya suatu media penyampaian infonnasi akademik dipandang perlu. Media dimaksud dapat berupa jurnal, bulletin, atau yang semacam itu. Dimaksud dengan jurnal dan bulletin dalam pembicaraan ini adalah jurnal ilmiah atau jurnal akademik dan bulletin akademik. Suatu Lembaga ilmiah (atau lembaga akademik) apalagi universitas-universitas terkenal, biasanya memiliki setidak-tidaknya jurnal dan bulletin akademik. Entah diterbitkan oleh universitasnya, entah oleh fakultasnya atau oleh jurusan­jurusannya atau bahkan oleh lembaga-lembaga yang ada di lingkungan akademik dimaksud. Masyarakat akademik dimaksudkan disini bukan hanya masyarakat universitas atau masyarakat perguruan tinggi saja akan tetapi juga kelompok-kelompok profesi semisal kelompok profesi kedokteran, teknik, antropologi, sosiologi, hukum, beberapa kelompok profesi bidang budaya, "kelompok studi (ke)wanita(an)" dan "kelompok studi keagamaan "

    Filsafat Ilmu dan Studi Agama (Ulasan Terhadap Tulisan Frank Whaling, “Additional Note on the Philosophy of Science and the Study of Religion)

    Get PDF
    Walaupun bermacam-macam, namun jelas bahwa apa yang dinamakan metode studi agama itu ada, baik metode studi agama yang belum ilmiah maupun metode studi agama yang sudah ilmiah. Memang baru lebih kurang pertengahan abad 19 Masehi studi agama itu dituntut untuk dihargai sebagai studi yang ilmiah dengan menggunakan metode perbandingn. Orang yang pertama-tama mengklaim studi agama dapat menjadi studi ilmiah adalah seorang sarjana Jerman yang bemama F. Max Muller (1823-1900 M.) dan studi agama yang ilmiah itu di namakan Ilmu agama atau Science of Religion untuk membedakannya dengan studi agama yang lain yaitu teologi filsafat. Memang ada Sarjana yaitu M. Kitagawa yang memisahkan studi agama yang dinamakan Science of Religion itu dengan studi agama yang nornatif dan studi agama yang deskriptif. Studi agama yang normatif itu katanya adalah filsafat dan teologi, dan studi agama yang deskriptif itu seperti misalnya studi antropologi dan sosiologi terhadap agama, jadi studi ilmu-ilmu deskriptif terhadap agama. Sedang studi agama yang dinamakan Ilmu Agama atau Science of Religion itu lain lagi, bukan yang normatif dan bukan pula yang deskriptif. Ilmu yang demikian itu dinamakannya Ilmu Agama atau Science of Religion atau History of Religion, atau Comparative of Religion atau dapat juga dinamakan Phenomenologi of Religion. Metode studi agama yang Science of Religion demikian itu tidak normatif dan tidak pula deskriptif, tetapi religio-scientifical

    Prawacana

    No full text

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇