Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    Neo-Sinkretisme Petani Muhammadiyah

    Get PDF
    Syncretism is a belief that grows among rural peasants. The growth of the belief is closely related to their social and economies status for this reason Muhammadiyah, as an Islamic purifying organization, is not well accepted by them. social changes in which the number of populations increases and the farm-land and shelter decreases. has fostered rationalization of myths and supernatural belief. since then, Muhammadiyah is gradually accepted by rural peasants. In essence, the synergetic belief of the peasants is not in accordance with Muhammadiyah principles. Even though, the data show an increasing number of rural peasants who commit to this organization. This commitment means distortion of functional relationship patten between work and belief. Being Muhammadiyah followers can being contradiction to their previous belief and their life patten. Sueh kind of internal contradiction raises a conflict of belief which leads to the rise of new syncretism. In a new form the meaning and function of syncretism and Muhammadiyah movement changed on the bases of their cultural system. This fact shows belief dualism among rural peasants. Muhammadiyah has a mission of eradicating syncretism which has been the basis of rural peasants' view. The commitment of the peasants to follow this organization does not mean rejection of this belief. Rather, life patten and the struggle of fulfilling their daily needs make them choose both, organization and belief. which give rise to new syncretism. Economies and political crisis urges the peasants to take Muhammadiyah as their new identity which will bring up their position in the changing social structure. consequently, the function of the organization changes into more or less, a mediator in facing social, economies and political structure which is bigger and modern. on one hand, to make them accepted by Muhammadiyah community, their syncretic belief and its ritual systems are modified. And on the other hand, some of Muhammadiyah institution components are sacralized according to their way of life. Sueh a condition could bring a charismatic experience, ln which Muhammadiyah commitment of peasants is stronger than that of other followers

    Agama Dan Etos Kerja

    Get PDF
    Jika agama dibicarakan dalam kaitannya dengan etos kerja, maka persoalannya adalah agama dalam tahap penghayatan yang mana. Hal ini disebabkan karena etos kerja berkaitan langsung dengan usaha manusia mengatasi dan meningkatkan kehidupan produktivitas yang bersifat social ekonornis. Untuk meningkatkan produktivitas ekonomis yang berdimensi humanitas, diperlukan etos kerja yang bersumber pada penghayatan agama yang lebih antroposentris dengan memberikan peran Iebih besar dan "bebas" kepada manusia untuk mengembangkan kreativitasnya secara optimal. Pendekatan antroposentris dalam agama dimungkinkan, karena agama pada hakikatnya untuk manusia dan untuk memperkokoh kemanusiaan. Manusia membutuhkan agama untuk mengenal dan memasuki dimensi gaib yang telah menjadi bagian bawaan kodratnya, dan hanya agamalah yang dapat mengantarkan manusia berkenalan dan bahkan hidup dalam kegaiban. Agama sama sekali bukan dan tidak untuk Tuhan, karena Tuhan sama sekali tidak memerlukan dan membutuhkan apapun, apalagi agama. Etos suatu bangsa (Clifford Geertz: The Interpretation of Cultures, 1974) adalah sifat, watak, dan kualitas kehidupan mereka, moral dan gaya estetis dan suasana-suasana hati mereka. Etos adalah sikap mendasar terhadap diri mereka sendiri dan terhadap dunia mereka yang direfleksikan dalam kehidupan. Etos kerja adalah refleksi dari sikap hidup yang mendasar dalam kerja. Sebagai sikap hidup yang mendasar, suatu etos pada dasarnya merupakan cerminan dari pandangan hidup yang berorientasi pada nilai-nilai luhur yang transenden. Dalam kaitan ini, maka agama bagi pemeluknya merupakan sistem nilai yang mendasari suatu etos kerjanya. Kerja seyogyanya diletakkan sebagai realisasi dari ajaran agamanya. Telah banyak dilakukan studi-studi mengenai hubungan antara etos. Telah banyak dilakukan studi-studi mengenai hubungan antara etos kerja dengan agama. Hampir semua agama mengajarkan kepada manusia untuk memberikan sedekah dan menyantuni yang membutuhkan, mendorong pemeluknya untuk giat bekerja mendapatkan rezeki dan berkah dari  Tuhannya, bahkan dalam Islam, dikenal anjuran Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa tangan di atas Iebih mulia dari pada tangan di bawah, artinya memberi lebih mulia dari pada meminta, dan untuk dapat memberi tentu seseorang harus mempunyai kelebihan untuk dapat diberikan kepada sesamanya yang kekurangan. Dan untuk dapat memberi, diperlukan tidak saja ia selayaknya berkecukupan secara material, tetapi juga kedalaman spiritual sehingga memberi merupakan panggilan sosial keagamaan. Semangat agama pada dasamya adalah semangat memberi kepada sesamanya, seorang agamawan yang baik adalah orang yang hanya meminta kepada Tuhannya dan mernberi kepada sesamanya. Oleh karena semangat memberi kepada sesamanya yang besar, maka agama pada dasamya mendorong manusia untuk bekerja keras, mencapai kemampuan maksimal, karena dengan itu ia akan dapat memberi kepada sesamanya. Fenomena kemiskinan, kesengsaraan dan penderitaan dalarn kehidupan manusia, pada dasarnya banyak berkaitan dengan problematika ketimpangan dalam realitas hidup manusia sendiri

    Dunia Islam dan Tata Dunia Baru (Suatu Analisis Kritis)

    Get PDF
    Dewasa ini banyak bermunculan isu-isu kontroversial diantaranya ialah:  New Age, Clash Civilization, Posmo (Postmodcmismc), post strukturalisme, neo-modemisme, dan Tata Dunia Baru (the New World Order). Secara umum, istilah atau isu di atas menyiratkan adanya upaya pembongkaran (deconstruction), rekonstruksi dan reaktualisasi dalam berbagai bidang kehidupan manusia, kini dan mendatang. Sesuai dengan tema sentral tulisan ini, maka isu Tata Dunia Baru (the New World Order) akan lebih banyak disimak dan dikaji, agar dapat ditangkap perspektif maupun prospeknya di masa depan. Sementara itu lainnya hanya sebagai pelengkap belaka. Isu Tata Dunia Baru ini mendadak menjadi populer setelah dilontarkan  oleh mantan presiden AS, George Bush, yang secara ideologis-politis, isu tersebut diangkat untuk 'kepentingan' AS sebagai satu-satunya superpower dan sekaligus bertindak sebagai 'polisi' dunia, lebih-lebih setelah runtulmya Uni Soviet sebagai rival berat AS selama ini

    Petuah Ali Haji (1809-1872) Tinjauaan tentang Thamrah al-Muhimmah

    No full text
    Ali Haji (b. 1809) was as a prolific writer and considered to be a Malay historian of the nineteenth century Riau-Lingga. He produced many literary works, some of which have been translated into Dutch and English as well. However, his works on religions are remained untouched by European translators. One of his major works, Thamrah al-Muhimmah shows the great extent to which he mastered Islamic sciences, particularly Islamic law. It proves the position of AIi Haji as a religious scholar in contemporary Malay. The current paper is devoted to explore the significance of Thamrah al-Muhimmah. The author discovers two important points of the Thamrah al-Muhimmah: The position of religion in the context of Malay political life in the nineteenth century Riau-Lingga Kingdom, and the renewal of the traditional Malay political literature.

    Muslim Fertility In Indonesia a Feature of Proximate Determinants of Java-Bali

    Get PDF
    Studi ini mencoba melihat dan mengurai perbedaan dan faklor yang mempengaruhi fertilitas muslim di Indonesia, khususnya Jawa dan Bali. Bersamaan dengan itu, dicoba pula melihat seberapa dalam pengaruh itu memberikan kontribusi pada fertilitas muslim tersebut. Praktek dan kebijakan fertilitas secara umum banyak berhubungan dan dipengaruhi oleh agama. Coale (1973) mengemukakan bahwa gereja memainkan peranan yang demikian penting di dalam mempengaruhi percepatan dan waklu transisi fertilitas di Eropa. Demikian Juga hal yang Terjadi di negara-negara Sub-Sahara Afrika, penurunan fertilitas sangat tergantung pada system kepercayaan agama di sana. Di negara Arab yang penduduknya kebanyakan beragama Islam, tingkat fertilitasnya lebih besar dari negara non-Arab. Sementara itu, di negara-negara Islam pun tingkat fertilitasnya juga tidak kalah besar dari negara non-islam. Bersamaan dengan tingginya tingkat fertilitas ini, baik di negara Arab dan Islam, tingkat pendidikan dan kesehatan penduduknya sangat memprihatinkan. Di Indonesia, jumlah penduduk muslim dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan, 86.3 persen tahun 1995 (Jawa dan Bali 92.3 persen). Namun secara absolut jumlah ini terus meningkat tahun 1995 penduduk muslim Indonesia sekitar 167 juta dan 111 juta berada di Jawa dan Bali. Sedangkan tingkat fertilitas muslim Indonesia juga masih yang terbesar disbanding dengan yang non muslim. Kebijakan kependudukan lndonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, mengarah pada pembangunan sumber daya manusia. Tujuannya agar pembangunan nasional yang sedang berlangsung lebih efektif dan punya nilai lebih, serta meningkatkan kualitas kehidupan bangsa. Upaya ini ditempuh dengan cara mengontrol tingkat pertumbuhan penduduk melalui upaya penuntnan tingkat fertilitas dan mortalitas. Melalui program Keluarga berencana upaya ini telah banyak menunjukkan hasil. Meningkatnya kesehatan keluarga (terutama ibu dan anak) serta terwujudnya keluarga kecil bahagia dan sejahtera merupakan gambaran dari keberhasilan ini. Keluarga muslim Indonesia adalah yang terbanyak merasakan peningkatan ini. Melalui penelusuran data dan melihat pada berbagai upaya penerapan program tadi, telah ditemukan bahwa ada perbedaan gambaran fertilitas muslim pada masing-masing propinsi di Jawa dan Bali. Bali memperlihatkan angka fertilitas muslimnya yang paling tinggi, kemudian diikuti oleh Jawa Barat dan yang paling rendah adalah propinsi Jawa Timur. Sedangkan konstribusi pada menurunnya angka fertilitas, praktek pemakaian kontrasepsi modern menempati posisi paling tinggi. Konstribusi faktot postpartum infecundability menempati posisi kedua dan yang paling akhir adalah konstribusi dari indek perkawinan. Indek perkawinan ini menunjuk pada semakin tingginya umur kawin pasangan suami istri muslim lndonesia

    Modern Trends in Islamic Law: Notes on J.N.D. Anderson's Life and Thought

    Get PDF
    Sering dikatakan bahwa "Islam adalah agama hukum, Dengan adanya fakta ini, dipahami betapa iuga menjadi perhatian dalam agama Islam, bahkan hal yang utama. Hukum merupakan aspek penting dalam ajaran Islam. Charles J. Adams tidak berlebihan saat menyatakan:  "Tidak ada subyek yang lebih penting bagi pelajar Islam selain dari apa yang biasa disebut "hukum" Islam."'Maka dari itu, studi mengenai hukum Islam menempati posisi yang sangat penting di dalam ilmu pengetahuan Barat tentang Islam.  Beberapa sarjana Barat berpendapat bahwa perkembangan hokum Islam secara historis terbagi dalam tiga periode utama: periode klasik, periode pertengahan dan periode modern." Banyak dari sariana-sarjana tersebut telah membahas hukum Islam pada dua periode pertama. Nama-nama seperti Ignaz Goldzier Christian Snouck Hurgronje, Joseph Schacht, dan Noel James Coluson, untuk menyebut beberapa nama, adalah yang paling terkenal. Hal ini berbeda dengan J.N.D.Anderson. Meskipun beberapa di antara mereka yang telah disebut di atas telah membahas hukum Islam pada periode modern, Anderson membatasi perhatiannya secara khusus terhadap hukum Islam selama periode modern. Dengan mendasarkan diri utamanya atas hasil kerja Anderson, makalah ini ditujukan agar bisa memahami perkembangan historis hukum Islam pada periode modern. Konkritnya makalah ini bertujuan untuk menelaah sifat dasar reformasi hukum Islam dan karenanya mencakup pembahasan mengenai latar belakang, metode, akibat-akibat, dan permasalahan-perrnasalahan serta prospek reformasi tersebut

    Indonesian Islam and Its Relations with Nationalism and the Netherlands in the Early Decades of the 20 th Century : Some Important Notes.

    Get PDF
    Dalam artikel ini, Syafi'i Ma' arif mengemukakan argumentasinya bahwa umat Islam merupakan kekuatan pembebas  Indonesia dari penjajahan bangsa asing. Sejak Belanda menginjakkan kuku kekuasaannya di bumi Nusantara, umat Islam tidak pernah berhenti mengadakan perlawanan terhadap pemerintah penjajahan. Hal ini disebabkan Islam sendiri menghargai kebebasan dan kehormatan manusia di atas segalanya. Di antara perlawanan bersenjata yang paling ditakuti oleh pihak kolonial Belanda adalah Perang Padri (1821-1837) di Sumatra Barat, Perang Diponegoro (1825-1830) di Jawa Tengah, dan Perang Aceh (1873-1912) di Aceh. Bagi umat Islam, perang terhadap segala bentuk penjajahan adalah perang di jalan Allah dan kemerdekaan penuh hams diperoleh kembali. Karena itulah, ketika tentara Jepang menggantikan Belanda untuk menjajah bumi Indonesia, perlawanan serupa juga terus dikobarkan, meskipun tantangan semakin berat. Untunglah,  berkat Rahmat Tuhan, pendudukan Jepang tidak berlangsung lama.  Kegagalan perlawanan bersenjata disebabkan oleh beberapa hal.  Pertama, perlawanan berlangsung secara sporadis dan hanya dalam lingkup lokal. Kedua, mereka tidak disatukan secara terorganisir. Ketiga, teknik perang dan persenjataan kaum pejuang jauh tertinggal dari yang dimiliki para penjajah. Mereka juga tidak memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi untuk melawan. Selain itu, kaum terjajah juga mengidap mental terjajah yang kronis.  Untuk rnenanggulangi hal-hal tersebut, umat Islam membentuk organisasi pergerakan sejak awal abad ke-20. Maka muncullah Sarekat Islam,  Muharnmadiyah, al-Irsyad, Persatuan Islam, Nahdlatul Ulama dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah.  Sejak itu, konsep persatuan Indonesia sebagai satu bangsa mulai didengungkan. Agama (Islam), Bahasa (Indonesia) dan faham nasionalisme menjadi perekat persatuan. Tidak seperti Budi Utomo, Sarekat Islam yan

    Muslims' Participation in Christmas Celebrations: A Critical Study on the Fatwa of the Council of Indonesian Ulama

    Get PDF
    Pada dekade tahun 1980-an, isu perayaan Natal bersama (common Christmas celebration) antara umat Kristiani dengan sebagian umat Islam mencuat ke permukaan dan menjadi masalah kontroversial di kalangan umat Islam. Para pemuka agama Islam (ulama') memperdebatkan tentang boleh tidaknya seorang Muslim mengikuti perayaan Natal bersama. Pertentangan tersebut timbul karena belum adanya ketetapan hukum Islam yang secara khusus mengatur peran Serta umat Islam dalam Perayaan Natal bersama. Untuk menjaga kemurnian akidah umat Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa berkenaan dengan perayaan Natal bersama yang intinya mengharamkan umat Islam mengikuti upacara Natal bersama. Namun, fatwa tersebut justru mengundang reaksi dari berbagai kalangan. Reaksi keras muncul dari pemerintah Orde Baru yang pada saat itu sedang giat-giatnya mengkampanyekan Trilogi Kerukunan Beragama yang digagas oleh Menteri Agama, H. Alamsyah Ratuperwiranegara. Reaksi keras dari pemerintah tersebut akhirnya mendorong Prof. Dr. HAMKA mengundurkan diri dari jabatan ketua umum MUI. Di samping reaksi dari pemerintah, reaksi terhadap fatwa juga muncul dari umat Islam sendiri secara perorangan baik yang bernada positif (mendukung) maupun yang bernada negatif dan skeptif. Fatwa MUI ini secara nyata merefleksikan hubungan antara umat Islam dan umat Kristiani yang mengalami fluktuasi dari masa ke masa.

    Antara yang Berkuasa dan yang Dikuasai: Refleksi Atas Pemikiran dan Praktek Politik Islam

    Get PDF
    This article examines the relationship between the ruler and the ruled that are involved and become main factors and actors of socio-political life of a nation. In it, the writer explains the dynamics of political thought and. its consequent deeds in historical process of Islamic civilization both during pre-modem and modem.  Based on his research the writer concludes that there is a gap in the relationship between the ruler and the ruled in the perspective of Islamic political thought and practices. Political reality does not match with the religious ideality. The gap even continues in certain degree and in other form during current modem era.  Therefore, in order to develop modern society often called civil society, government role is very important, namely, to support the development of infra-structural life of community by providing public space in its real meaning. This means that government not only allows its people to speak but also opens its inner eyes for people's aspirations both delivered from formal and non-formal democratic institutions

    In the Making of Salafi-Based Islamic Schools in Indonesia

    No full text
    The Salafi manhaj (method) is emerging as a new form of Islamic education, in addition to the existing pesantren (Islamic boarding school) and madrasah (Islamic school) education systems, both of which have long histories in Indonesia. The presence of these schools reflects Salafi efforts to achieve “purification of Islam” though adherence to the idea of returning to the ‘authentic Islam’ as practiced by the early generations of Muslim. Salafi manhaj schools are also part of a transnational Islamic movement that has purposely spread ideas and movements from the Middle East around the world, including to Indonesia. Over time, these schools have developed into two models: Integrated Islamic Schools and Salafi manhaj pesantrens. Both aim to instill Islamic tenets that comply with the Salafi manhaj and disseminate and incorporate such tenets in the religious practices of Indonesian Muslims, although the Integrated Islamic Schools are more inclusive and teach aspects of the conventional state curriculum too. This article challenges previous findings that the influence of Salafi education has faded in Indonesia as efforts to combat Islamist terrorism globally have increased, arguing that Salafi educators have been strategic and effective in promoting their approach to religious education.[Manhaj Salafi merupakan model pendidikan Islam yang baru muncul melengkapi keberadaan model lama, pendidikan pesantren dan madrasah yang keduanya mempunyai sejarah panjang di Indonesia. Kehadiran sekolah Salafi mencerminkan usaha untuk ‘pemurnian Islam’ melalui ketaatan pada konsep mengembalikan ‘Islam autentik’ yang dipraktikkan oleh generasi awal muslim. Sekolah manhaj Salafi merupakan bagian dari gerakan Islam transnasional yang bertujuan menyebarkan ide dan gerakan asal Timur Tengah ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sejauh ini mereka mengembangkan dua model yaitu sekolah Islam terpadu dan pesantren manhaj salafi. Keduanya menerapkan prinsip Islam yang selaras dengan manhaj Salafi serta menyebarluaskan prinsip tersebut dalam praktik keagamaan muslim di Indonesia, meski sekolah Islam terpadu tersebut juga lebih inklusif dan menerapkan kurikulum standar nasional. Artikel ini menantang tesis sebelumnya yang menyatakan bahwa pengaruh pendidikan Salafi di Indonesia luntur oleh peningkatan usaha memerangi teroris global. Namun pada kenyataannya adalah pendidik Salafi mempunyai strategi yang efektif dalam mempromosikan pendekatannya dalam pendidikan keagamaan.

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇