Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    Revelatio

    Get PDF
    Kata revelatio ini berasal dari bahasa Latin, dari kata kerja revelare yang berarti: membuka selubung,  menyingkapkan, memperkenalkan, memperlihatkan. Agama-agama Barat bertujuan untuk membantu orang-orang yang beriman untuk mengikuti kehendak Tuhan. Tetapi bagaimana untuk mengetahui Kehendak Tuhan itu? Maksud dan tujuan dari pada revelatio atau revelasi itu ialah memperkenalkan kepada manusia, bahwasannya Tuhan itu telah berbicara atau berfiman, telah menunjukkan, telah berkomunikasi dengan manusia

    Knowledge of God: A Glance at the Development of Al-Ghaz.alī’s Concept in His Later Works.

    Get PDF
    Pertanyaan tentang mungkinkah manusia mencapai pengetahuan (ma'rifat) tentang hakekat Tuhan, dan dengan cara bagaimanakah manusia dapat mencapai ma'rifat itu, dibahas oleh penulis dalam artikel ini. Penulis menganalisis pemikiran "hujjatul Islam" Imam Al-Ghazali tentang permasalahan di atas yang tertuang dalam ketiga bukunya: 1. lhyā 'Ulum al-Dīn, khususnya pada kitab al-'ilm 2. Al-Munqidh min al-Ḍalāl, dan; 3. Iljūm al: Awām' an' ilm al-Kalām.  Penulis secara berurutan menguraikan bagaimana Tuhan dapat dipersepsi oleh manusia, sebagaimana tertuang dalam ketiga karya al-Ghazali di atas. Tercakup dalam pembahasan pengetahuan manusia tentang Tuhan adalah zat Tuhan, sifat-sifat Tuhan yang azali, abadi dan sempurna, serta karya-karya Tuhan. Meskipun ada perbedaan penekanan kalimat dalam ketiga kary any a,namun Al-Ghazali cukup konsisten menggarisbawahi Peran penting dhawq bagi manusia dalam menggapai ma'rifat hakekat Tuhan

    Prawacana

    Get PDF

    Raja Ali Haji dan Pemikiran Kebahasaannya: Studi Terhadap Kitāb Bustan Al-khatibin li As-subyān al-Muta’allimin.

    No full text
    At  the  time when the political, military and economic power of the Riau  Empire went  down as a consequence  of the colonialization and division  of Melayu into  two  poles,   Singapore  and Semenanjung Tanah Melayu  (the  North Melayu   was under the colonialization of the British) and  the islands   of Riau (the South Melayu was under the colonialization of the  Dutch),  people were eager to preserve the Melayu and Islamic traditional  values  which  were inherited from their  ancestors. This event, in turn, raised   some defensive fights by means   of the Islamic culture and languages. Kitab Bustan al-Katibin of Raja Ali Hajjis one of the scholarly answers to the need of the Melayu grammar, which, at the sometime, helps to set   the character of Riau as   a center for culture and language training in the 19” century.  As the first book of Melayu grammar, this book, on the one hand, could fill the lacunae of resources on the subject. But on the other hand, the kitab was not successful enough to satisfy the need for a good grammar book which represents the character of the Melayu language, it only absorbed the Arabic grammar. Thus, the significance of the book lies on Raja Ali Haji's thought of Islam, language, and Melayu, and not on the aspect of the grammar. In short, the "kitab" can be seen as the reflection on of the Melayu Riau    intellectuals of the time in guiding their society to completely undestand the Islamic doctrines

    Sunni Dalam Perspektif Sejarah

    Get PDF
    Sunni berasal dari kala sunnah. Arti Sunnah secara harfiah ialah tradisi, adat kebiasaan yang telah melembaga dalam masyarakat. Dalam al-Quran, tema sunnah biasanya muncul dalam dua konteks: (I) sunnat al-awwalin = kebiasaan orang-orang terdahulu (viii: 38; xv: l3; viii: 55; xxv: 43) dan (2) sunnat Allah (xvii: 77; xxxiii: 62; xxxv: 43 xlviii: 23). Tema sunnah dalam pengertian syara' ialah: tradisi yang dikerjakan oleh Rasulullah Saw dan diteruskan oleh para Salaf yang saleh. Sunnah yang semakna dengan hadits, setelah menjadi terma karakteristik untuk teori dan praktek kaum Muslimin orthodoks, maknanya dalam batasan yang sempit ialah semua perbuatan (fi 'il),  ucapan (qaul) dan persetujuan diam Nabi (taqrir). Dalam batasan yang sedikit  lebih luas, dimasukkan juga perbuatan, fatwa, dan tradisi yang diintroduksikan oleh para Shahabi (atsar Shahabi). Sunnah dalam batasan pengertian ahli kalam ialah, keyakinan (i'tiqad) yang didasarkan pada dalil naqli (al-Quran, hadits dan qaul (ucapan) Shahabi) bukan semata bersandar pada pemahaman akal (rasio). Dalam pengertian ahli politik, sunnah ialah jejak yang ditinggalkan oleh Rasulullah Saw dan para Khulafa ar-Rasyidin. Jadi, yang dimaksud dengan sunni ialah nama bagi kelompok muslim pendukung sunnah menurut terminologi syara' ahli hadits, ahli kalam dan ahli politik. Mereka dinamakan juga Muslim orthodoks yang menjadi oposan bagi pendukung aliran Syiah dan Khawarij --yang discbut hetcrodoks--. Kalau begitu, Sunni ialah seorang Muslim yang tidak mengatakan secara jelas bahwa ia adalah pendukung Syi'ah atau Khawarij, tanpa harus mengatakan bahwa ia pengikut atau mengikuti sesuatu mazhab fiqh. Satu prinsip dasar yang dipegang Sunni, --yang ini menjadi ciri baginya--, ialah dalam memahami agama mereka mengambil jalan tengah (wasathan). Mereka berpegang pada asas keseimbangan (cqualibrium) yang mengacu pada al-Qur’an dan as-Sunnah dan berusaha mencari perdamaian antara dua sisi ekstrim yang bertentangan. Sunni menyeimbangkan dan mendamaikan antara akal dan naqal, menyeimbangkan antara dunia dan akhirat, mendamaikan antara fiqh dan tasawwuf

    Sayap Pembaharu & Tradisionalis Islam (Mitos atau realitas?)

    Get PDF
    This study, dealing with reformist and traditionalist wings on Islamic movements in Indonesia, is based on research which among other thorough direct participation in many Islamic discourses held Muhammadiyah and NU, at different places and times. In addition to this, the writer conducted several in depth interviews and discussions with either Muhammadiyah's and NU's activists or leaders. in strengthening this study, this writing also based on intensive literature research using primary and secondary sources. Though both wings have stressed their activities in different fields, however both have same aim, especially as their founders also graduated from ponpes (pondok pesantren). The trend of Muhammadiyah's activities in stimulating education is by founding schools such as Mualimin and Muallimat, which on the whole are located in cities or urban areas. While the trend of NU's activities is by strengthening and modernizing their ponpes, which mostly are located in rural areas. However, as the time passes by, both wings tend to get closer and working hand in hand

    Dalam Mengoperasionalkan Pendekatan ini, Metode Tafsir yang Tibyān fi Ma’rifat al-Adyān (Suntingan Teks, Karya Intelektual Muslim, dan Karya Sejarah Agama-agama Abad ke-17)

    No full text
    Disertasi ini mengambil objek salah satu karya sastra kitab abad ke-l7 yang berjudul Tibyān fi Ma’rifat al-Adyān.Karya ini ditulis oleh Nūru ‘I-Dīn selaku penasihat dan atas perintah sulṭanah Ṣafiatu ‘l-Dīn syah. Nūru 'l-Dīn adalah ulama besar pada masanya dengan latar belakang lingkungan yang sangat luas : India tempat ia dilahirkan, Mekah tempat ia tumbuh, dewasa, memperoleh pendidikan, dan memperdalam ilmu pengetahuan, dan, Melayu serta Aceh tempat ia menjadi matang, melakukan darma bakti, dan mengajarkan ilmunya. sebagai akibat berkembangnya dan tersebarnya agama Islam, dunia Islam dari segi geopolities dan pemahaman serta penghayatan keagamaan dapat dikatakan terpilah-pilah. Nūru 'l-Dīn  hidup dalam suatu masyarakat yang pluralis, baik dalam agama, etnis, budaya, pemikiran, maupun dalam pengalaman serta penghayatan keagamaan. Beberapa karya pemikiran dan penghayatan keagamaan dari intelektual muslim telah muncul di India sebelum abad ke-17. pemikiran, pengalaman, dan penghayatan keagamaan dimaksud diduga ada kaitannya dengan pandangan dan pemikiran keagamaan dalam Tibyān fi Ma’rifat al-Adyān. Nūru 'l-Dīn belajar dari berbagai ulama Mekah. Dengan sendirinya ia hidup dalam jaringan ulama-ulama besar yang berasal dari berbagai negara, termasuk India, Melayu, dan Indonesia (Jawi). Sebelum datang di Aceh ia telah mengenal masyarakat Melayu atau Jawi di koloni-koloni yang ada di Mekah. Di India, ia hidup dalam lingkungan masyarakat yang pluralis. India merupakan wilayah tumbuh dan semaraknya sekte-sekte keagamaan yang bervarian; di antaranya agama yang tergolong primitif (animisme, dinamisme, magis), agama dualis (Majusi, Zoroaster), agama-agama etnis, dan agama yang dianut pada masanya (Buddha, Hindu, Yahudi, Kristen, dan Islam)

    The Idea of Qurbā In Early Sufism: A Preliminary Observation

    Get PDF
    Makalah ini membahas pemikiran para sufi mengenai terminology qurbā (kedekatan) dalam kaitannya dengan wacana walāya (ke-wali-an). Dalam literatur sufi kata-kala qurbā sering dihubunglan dengan ide mengenai cinta  (maḥabba), rindu (shauq), dan keintiman (uzs). secara spesifik makalah ini mengangkat pemikiran tiga orang sufi besar, yaitu al-Tirmidhi (w. 905), al-Niffari (w. 965) dan Ibn al-'Arabi (w.1240). Al-Tirmidhī setelah membedakan dua jenis wali; wali haqq Allah dan wali Allah, mengatakan bahwa tahapan tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang wali haqq Allah adalah maqam yang disebut maḥall al-qurbā tempat kedekatan. Pada posisi tersebut seorang wali dapat menerima pancaran nur al- qurbā dari Allah, sehingga ia tetap dapat mengontrol hawa nafsunya. Al-Niffari menghubungkan pendapatnya mengenai ide qurbā ini dengan fase-fase pemberhentian (mawāqib) yang ia lalui sebagai seorang sufi. Menurutnya mawāqib qurbā ada pada urutan kedua, dan hanya dapat dicapai oleh mereka yang selalu menjauhkan diri dari godaan dunia (zuhd). Sedangkan Ibn al-'Arabi, pemikiran mengenai qurbā ini tidak dapat dipisahkan dengan walāya (kewalian) dan nubuwwa (kenabian). Maqām qurbā menurutnya terletak di antara kedudukan para nabi pembawa shari'at (nubuwwat al-tashri') dan para pembenar nabi yang pernah iman (ṣiddiqiya). Di tempat kedekatan ini (maḥall al-qurbā), seseorang dapat bertemu secara langsung dengan malaikat yang suci.

    Isa Almasih, Wafat dan Kebangkitannya (Gagasan Kristologi Islam)

    Get PDF
    The death of Jesus Christ and his raise have been sensitive and debatable themes of discussion among followers of Christianity and Islam. This is because both Bible and Al-Qur'an do provide several verses mentioning the disputed affairs. Al-Qur'an Considers Jesus as a respectable prophet and is endowed special quality. This special view of lslam, however, does not transfer him from his humanity to divinity. Jesus is a human and God's messenger. Al-Qur'an also speaks about Jesus' death, though in aquite ambiguous manner. According to the writer, when Al-Qur'an explains about above matter it does not speak about historical event concerning his death. Rather, it shows God's superiority over the Jew's plan and claim on their success to crucify Jesus. With regard to Jesus' raise, Al-Qur'an says, according to the writer's interpretation, that ie raise must be understood as the same idea as the victory of the Muslims over the unbelievers in Badar Battle. If does not mean that Jesus physically raise and bring salvation to mankind. The victory gained by Jesus and Muhammad signifies God's approval to believers

    Kedudukan Wanita Dalam Syariát Islam

    Get PDF
    Wanita adalah makhluk yang penuh "misteri". Kehadirannya dalam kehidupan umat manusia mutlak diperlukan. Tetapi realita menunjukkan bahwa "nasib" kaum wanita dalam sejarahnya selalu tidak menggembirakan, bahkan menyedihkan. Pada masa-masa sebelum Islam, kaum wanita selalu ditempatkan pada posisi sebagai "obyek". Wanita dianggap kurang berharga, sehingga seringkali dieksploitasi melebihi batas-batas perikemanusiaan. Penempatan wanita dalam posisi yang rendah itu meliputi; kawasan pemikiran maupun kawasan sikap dan perlakuan dalam realitas kehidupan. Filosof Yunani yang ternama dalam sepanjang sejarah umat manusia, Aristoteles, beranggapan bahwa wanita merupakan laki-laki yang tidak sempuma, dan oleh karena itu laki-laki menguasai jiwa wanita. Ide yang menganggap wanita lemah terus dipertahankan dan disebarkan oleh para filosof ternama semisal Kant, Schopenhauer, dan Fichte, (Arief Budiman; 1985; pp. 6-7). Kant tidak percaya bahwa wanita memiliki kesanggupan mengerti tentang prinsip-prinsip. Menurut Schopenhauer, wanita terbelakang dalam segala hal, tidak memiliki kesanggupan untuk berpikir dan berefleksi. Lebih jauh dia mengatakan bahwa wanita diciptakan hanya untuk mengembangkan keturunan. Bahkan menurut Fichte penguasaan laki-laki atas wanita merupakan keinginan wanita itu sendiri

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇