Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
878 research outputs found
Sort by
Colonial Educational Policy & Muhammadiyah’s Education (Analitical History Muhammadiyah in Yogyakarta 1912-1942)
This research takes object of Muhammadiyah Educational Development on the Islamic Village in Yogyakarta 1912-1942. Muhammadiyah was an Islamic Missionary Organization and movement founded on November 18, 1912 by kyai Haji Ahmad Dahlan at Yogyakarta. It had aim to spread of the true and genuine teaching of Islam among the population and especially among its members. If the various kinds of an economic, Social, Political, as well as cultural aspects were the whole process of growth of Indonesian Nationalism, Muhammadiyah, for the reason, could be said had the goal or value orientation. Because it could be considered as the Muslim, Social, educational and religious movement possessed the goal to attain away of life free from colonialism. In a colonialism situation nationalism might be seen as a social and moral force which had and orientation to wards the future. In the main while, Muhammadiyah might be understood as a group action or collective activity to face a condition of backwardness by responding according to its position. This organization fashioned nationalism by constituting and influential moral force, that tried to moralize all developments in the society, without any political ambition whatever, as a response to political, cultural and social conditions. Some social changes introduced in 1912-1942 with a formal and non-formal education system were adopted of the methods of the west, which were practiced in other activities. For these purpose, under the first four period charismatic had been set up and dedicated for the people’s welfare and progress. The social contribution given by Muhammadiyah in the field of social welfare from (1912-1942) were: bureaucratization as the process of rationalizing organization, the establishment of the new system of educational institution (1912, 1920, 1921, 1926, 1934, 1937), form of scout movement hizb al-wathan (1918), to educate young generation, the founding of hospital and clinic (1923) and orphanage (1925) among the Indonesian in general, and Muslim in particular, which were not only in backwardness, but also in weakest condition socially, economically and politically, suppressed by Duch colonialism. Muhammadiyah emphasized the importance of schools as means of education in both general and religious subjects. The combination of the two kinds of education so that became typical in all Muhammadiyah schools, from kindergartens to senior high schools. The school established by Muhammadiyah had been most beneficial to the Indonesian people, particularly in the Dutch Colonial rule when schools were rare. Colonial educational policy was only to supply skilled and semi-skilled laborers for industries and plantation owned by the Dutch and to fill jobs and lower government officials. It was not possible the Dutch policy to emancipate the Indonesian people from the backwardness and therefor the number of public school was kept as low as possible
Sufi dan Penguasa Perilaku politik kaum tarekat di Priangan abad XIX-XX
Para ahli memberikao indikasi bahwa Islam yang tersebar untuk pertama kalinya di Indonesia adalah bercorak sufistik. Di antara mereka misalnya A.H. Johns, seorang ahli filologi Australia menyatakan bahwa agama ini menyebar berkat usaha para penyiar ajaran tasawuf yang telah menjadi anggota sesuatu ordo tarekat; mereka adaJah musafir-musafir dari Bagdad setelah kota itu diserbu tentara Mongol pada tahun 1258 (Koentjaraningrat, 1984:53). Hal ini dapatlah dipahami karena tasawuf ketika itu merupakan corak keagamaan yang dominan di dunia Islam. Di samping itujuga perkembangan tasawuf tidak lagi merupakan gerakan individual dari elit-elit kerohanian, melainkao ia telah berkembang dalam bermacam-macam aliran tarekat yang ratusan jumlahnya. Melalui gerakan inilah tasawuf bisa bersifat kolektif dan dapat dijalankan oleh segala lapisan termasuk orang-orang awam, karena tarekat tampak lebih mengutamakan aspek praktis dari ajaran-ajaran tarekat itu. Seiring dengan islamisasi itu, sejarah Indonesia pun telah mencatat begitu banyak sumbangan yang telah diberikan oleh kaum tarekat terutama berupa saham budaya dalam proses panjang difusi Islam di tanah air. Bila pada abad-abad pertama dalam proses tersebut terpusat di kota-kota pesisir, maka pada akhir abad XVIII para guru tarekat mulai memasuki daerah pedesaan. Mereka membangun pesantren dan mengajarkao ajaran agama yang pragmatikal kepada para petani. Melalui cara seperti ini Islam dapat berkembang daJam suasana dialog dan integrasi, sehingga ia tampil sebagai pengisi kevacuman budaya akibat jatuhnya kerajaan-kerajaan lokal Hindu dan penetrasi Belanda yang sangat kuat. Demikian pesatnya pengaruh tarekat, bahkan pada akhir abad XIX para penganutnya telah mengambil peran politik yang sangat pentiog dalam gerakan-gerakan rakyat, khususnya di pulau Jawa
Peran Cendikiawan dalam Perjuangan Kemerdekaan Palestina Pendekatan Sejarah
Sebetulnya Palestina pada mulanya memang merupakan tanah air bagi bangsa Israel yaitu dari 1000 SM - 135 M. ada tahun 1000 SM Nabi Daud a.s. bersama dengan raja Thalut (lihat Al-Qur'an 2:246-251) dapat mengalahkan bangsa Ammonit (Amaliqah) dan Philistine (rakyat yang suka berperang di Palestina) dari negeri Palestina. Setelah kemenangan itu maka Daud a.s. bersama dengan keturunannya menjadi raja di sana. Dalam rentang waktu yang lama itu (1000 SM - 135 M) negeri Palestina pernah berada di bawah kerajaan Achaemanid Persia (539 SM - 330 SM. Kira-kira dua abad sebelumnya negeri itu berada di bawah kerajaan Assyria dan Babilonia. Nebuchadrezzar dari Babilonia menguasai Suriah dan Palestina tahun 598 SM. Setelah itu selama ±300 tahun Palestina berada di bawah dinasti Ptolemy dari Mesir dan dinasti Seleucid dari Asia Kecil bagian barat. Kira-kira tahun 100 SM Roma muncul dalam arena percaturan politik. Pompey yang Agung yang baru saja menaklukkan kerajaan Seleucid, juga mengatur situasi di Palestina (63 SM). Tahun 66 M timbul huruhara oleh orang-orang Yahudi, namun tahun 67 M Vespasian, raja yang akan datang, dengan anaknya Titus, datang dengan kekuatan kira-kira 60.000 orang dan peperangan bertambah menjadi. Menjelang akhir tahun 67 Galillee direbut, dan Judea diambil dalam tiga kali pertempuran yang berakhir dengan kejatuhan Jerusalem tahun 70 M. Palestina sekarang menjadi provinsi Judea (nama bagian yang dipakai untuk keseluruhan)
Anak Dalam Persepektif Al-Qur’an (Kajian Dari Segi Pendidikan)
Di mata iman umat lslam, al-Qur'an adalah sebagai hudan (Q.2:2, Q.l6:89, Q.27:2,77, Q.3l:3) dan menempati posisi sentral dalam Pendidikan Islam. Ia sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk berfikir kreatif dan bertindak arif. Selama umat Islam belum mampu menempatkan al-Qur'an sebagai hudan (petunjuk) dalam mengembangkan intelektual, hati dan ketrampilan, berarti mereka belum mampu memahami elan dasar al-Qur'an. AI-Qur'an sebagai hudan memberi acuan konseptual yang sangat komperehensip kepada umat manusia guna menyikapi kehidupannya. AI-Qur'an memberi perhatian yang serius terhadap masalah pendidikan. AI-Qur'an sangat banyak menggelar informasi tentang manusia. Mereka yang akan menggumuli Pendidikan Islam harus memahami konsep tentang manusia menurut al-Qur'an, sebab manusialah yang mempunyai dominasi dalam proses pendidikan. Sifat yang sesungguhnya dari system Pendidikan Islam dan perbedaannya dengan sistem Pendidikan yang lain hanya dapat difatrami dengan semestinya jika konsep tentang manusia difahami dengan inrik. Al-Qur'an telah memberi sinyal yang jelas kepada umat bahwa manusia itu ciptaan Allah (Q.96:2, Q.86:5,6,7, Q.2Z:5, Q.55:14, Q.25:5, Q.32;7,8,9, Q.l5:26, Q.l5:28, Q.4O:67, Q.3O:54,Q.53:45, Q.23: 12, 13, 14)
Dialog Peradaban menghadapi Era Postmodernisme Sebuah Tinjauan Filosofis-Religius
Ketika wilayah perenungan dan pemikiran filosof tentang alam semesta telah diambil alih para ilmuan dalam cabang ilmu-ilmu kealaman 'empiris', juga ketika renungan para tilosof dalam bidang kemanusiaan telah diambil oper oleh para ilmuan sosial, maka orang bertanya-tanya apa manfaat dan jasa yang dapat diberikan oleh "filsafat". Orang meragukan apakah filsafat masih dapat menyumbangkan jasanya dalam era "dominasi" ilmu pengetahuan empiris baik dalam wilayah ilmu-ilmu kealaman maupun dalam ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. Bahkan dikalangan pemikiran keagamaan yang tipikal "konservatif', sudah lama filsafat dianggap sebagai suatu hal yang kurang berharga, sehingga tidak lagi patut untuk dipertimbangkan dalam proses pematangan dalam wilayah diskursus keagamaan. Menurut doktrin agama-agama besar di dunia, khususnya yang bersifat monoteistik, "kebenaran" hanya dapat diperoleh lewat "wahyu". Sejauh mana peran akal dalam memahami wahyu, apakah pemahaman dan campuran tangan historisitas kemanusiaan dalam memahami wahyu masuk dalam katagori wahyu itu sendiri ataukah masuk dalam wilayah historisitas pemahaman manusia, kadang diketepikan begitu saja. Ketika peran filsafat --baik dalam hal yang menyangkut Epestimologi, Etika maupun Metafisika-- ditepikan sebegitu rupa, tiba-tiba dalam dasa warsa ke 90-an masyarakat indonesia khususnya dikejutkan dengan istilah "baru" yang disebut-sebut dengan postmodernisme. Ditilik dari segi peristilahan yang muncul kepermukaan, jelas tampak bahwa istilah tersebut erat terkait dengan khazanah filsafat, tidak beda dari istilah-istilah seperti naturalisme, supernaturalisme, determinisme, modernisme, historisisme dan lain sebagainya. Jika peristilahan filsafat pada umumnya, hanya terbatas pada dataran kognitif, yang sering kali terlampau abstrak, sehingga sulit untuk dicerna dan dipahami oleh masyarakat luas, maka lain halnya dengan istilah postmodernisme. Istilah postmodernisme, yang sebenarnya juga ada pada dataran kognitif-abstrak, namun kemunculannya pada masa sekarang ini disertai dengan bukti sejarah yang kongkrit, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat luas
Pemikiran Ibnu ‘Arabi Tentang Hakekat Wujud
Ibnu 'Arabi, nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad Abdullah al Thai al Hatimi, lahir 17 Ramadlan 560 H, atau 27 Juli 1165 M di Mursia Andalus, wafat 638 H /1240 M. Nama Ibnu 'Arabi diberikan oleh orang-orang Abbasiyah, sedang di Andalus dikenal dengan nama Ibnu Quraqah. Dia adalah seorang tokoh sufi dan filsafat agama yang produktif yang berhasil merekonstruksikan pendekatan tasawuf dengan filsafat dalam mengkaji masalah "wujud" yang kemudian dipadukan menjadi satu kesatuan yang utuh dalam ajaran "wahdatul wujud") Ajaran ini cukup menggemparkan dunia tasawuf sehingga kepadanya diberikan gelar Syekh al Akbar. Uraian pemikirannya sistematis, luas dan mendalam tentang tasawuf. Hal mana belum didapati pada sufi sebelum bahkan sesudahnya. Ajaran "wahdatu al wujud" dalam tasawuf Ibnu 'Arabi merupakan suatu ajaran yang melihat masalah wujud dalam hal ini Tuhan, alam dan manusia sebagai suatu kesatuan. Namun berada pada dimensinya masing-masing, dan Tuhan meliputi segala yang ada. Sehingga yang "ada" bersifat nisbi; merupakan "ada" yang diadakan tidak lain dari yang mengadakannya. Sebab apa yang ada merupakan penampakan bagi diriNya, dan segala yang ada bersumber dariNya serta Dia pulalah yang menjadi esensinya. Namun itu tidak berarti yang diadakan dan yang terbatas menjadi yang tak terbatas. Tidak berarti alam semesta dan manusia menjelma menjadi Tuhan dan Tuhan menjadi manusia. Antara Tuhan, alam semesta dan manusia sekalipun dikatakan berada dalam satu keberadaan atau wahdatu al wujud namun alam semesta dan manusia nisbi dan terbatas. Keberadaannya bergantung pada Yang Tak Terbatas. Sedang Tuhan yang tidak terbatas ada di luar relasi, bukan yang ada dalam pengertian dan perasaan. Tuhan adalah independen atau mandiri dari semua makhlukNya. AdaNya bukan dari luar diriNya dan bukan pula karena selain diriNya. Akan tetapi ada karena diriNya dan oleh diriNya sendiri. Ia meliputi semua yang diciptakanNya. Hubungan dengan segala yang diciptakanNya. Dia membutuhkan mereka dalam kaitannya dengan ketuhananNya. Sebab tanpa makhluk ciptaanNya Dia tidak dikenal sebagai Tuhan; yaitu obyek pujaan (ilah) sampai ma'luh (komplemen logis dari ilah) diketahui. Maka Ibnu 'Arabi melihat realitas alam dan manusia tidak lain dari tajalli ilahi sekaligus sebagai cermin untuk melihat diriNya yang maha sempurna. Demikian pula sebagai pengenaIan akan keberadaanNya. Hal yang demikian ini pulalah yang menjadi tujuan dari penciptaan-Nya.
Islami In Indonesia: An Introductory Remarks
To speak about Islam in such a big population will involve a very large range of problems, from the insufficiency of the materials, to the disputes over subjects on which several researches have been done. The most important historicals are those related to its coming in this archipelago. To this day, no one can tell exactly when it came here for the first time, why it was accepted by the majority of the people, who propagated it here etc. The social scientist faces the problem that Islam is expressed here, as in any other part of Muslim world, in a vast number of variations. We can see, on the one hand, many "Muslims" in whom Islam. is only a "transparent veneer that fails to disguise the underlying substance of purely heathen character" On the other hand, we find puritans who see Islam as a total system that has to be applied in all aspects of their life. Therefore, we have to restrict ourselves to the most important subjects to talk about. As an introduction to the study of Islam in Indonesia, this paper will deal only with its system of beliefs and practices, its organizations, its educational institutions, its political appearances and its relations to the government Of course, these subjects cannot be dealt with sufficiently without placing them in its historical background
Taha Husain Pandangan dan Teorinya Tentang Puisi Arab Jahiliah
Sejak awal karirnya sebagai sastrawan Arab, Taha Husain telah menyuguhkan kritik-kritik sastra kontemporer yang cukup mencengangkan dunia sastra Arab pada umumnya. Hal tersebut cukup dibuktikan dengan banyaknya komentar dan tanggapan terhadap berbagai pemikiran dan karyanya. Taha Husain bukan saja sosok kritikus unggulan Mesir pada jamannya, namun juga dikenal sebagai sejarawan besar untuk sastra Mesir pada khususnya. Dari Sejarah Klasik yang ditekuni, Taha Husain kemudian beralih kepada Sastra Arab, yaitu dimulai pada tahun 1925, pada saat Universitas Mesir berubah statusnya menjadi universitas negeri. Di bawah bimbingan Taha Husain inilah, berawalnya satu periode di mana studi tentang Sastra Arab mulai menyemarak, seiring dengan munculnya tokoh-tokoh lain semisal Ahmad Amin, Abd al-Wahhab Azzam, Amin al-Khulli, Muhammad Khalafallah Ahmad dan Ahmad as Sayib yang juga melahirkan kritik-kritik sastra sejalan dengan semaraknya studi mengenai sastra pada umumnya. Sebagai penulis yang cukup prolifik, karya-karya Taha cukup banyak, baik yang berbentuk essay, historiografi, autobiografi, tulisan-tulisan fiksi, terjemahan, karya-karya kumpulan dan karya-karya kolaborasi. Taha Husain juga merupakan polemis andalan, terbukti ketika masih menjadi mahasiswa, dia telah dengan berani mempublikasikan sanggahannya yang cukup pedas terhadap gurunya, Al-Mahdi, dan juga terhadap Ar-Rafi, Yang terakhir ini juga tidak kalah serunya dalam membalas Taha Husain dengan jalan melontarkan kritikan terhadap karya Taha yang berjudul Fi asy-Syi' ir al Jahilly, terbitan tahun 1926. Taha Husein juga terlibat polemik dengan Zakki Mubarak, sekretarisnya dan dengan sastrawan-sastrawan kontemporer lainnya semacam Haykal, Taufiq al-Hakim, Mansur Fahmi, al-Aqqad dan al Mazini
Kissah dan Pendidikan (Sebuah Studi tentang Tema)
Konsep Ki Hajar Dewantara tentang Tahap Perkembangan pada pokoknya adalah: 1. Masa Wiraga atau masa anak-anak 2. Masa Wirama atau masa Remaja dan 3. Masa Wirasa atau masa Dewasa Dalam hubungannya dengan penelitian di Sekolah Dasar, ternyata sebagian di antara anak-anak SD berada dalam tahap Wiraga-Wirama Maka menurut Ki Hajar, di samping kegiatan-kegiatan Wiraga, kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan-Wirama pun perlu mendapat perhatian bagi keberhasilan pendidikan, sebab dengan Wirama yang tepat akan menghasilkan prestasi yang gemilang. Memperhatikan tahap-tahap perkembangan diatas jelas merupakan hal yang amat esensial dalam dunia pendidikan. Di samping pentingnya kisah dalam pendidikan, maka tahap-tahap perkembangn pun perlu dikaji dan disesuaikan. Inilah yang hendak dikemukakan dalam pembahasan ini.