Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    Editorial

    Get PDF

    Unsur-unsur Zoomorfik dalam Seni Rupa Islam

    Get PDF
    On the one hand, the appearance of visual factors in the Islamic fine arts which projects an image of pictures about creatures or forms of animal (zoomorphic),  can possibly be related to the Islamic concept and spiritualization in valuing and regarding God's creatures as noble. This can also be confined to the various forms of aesthetic expressions which rise and grow in cultural history at the local environment. On the other hand, visualization of fine arts expressions cannot totally be liberated from the Islamic law perspective (fiqhiyyah) which states that drawing picture of living creatures can be categorized as forbidden acts. Therefore, various aspects of creativity and expression as well as theory and practice of fine arts in contemporary lslamic culture become neglected and marginalized from religious discourses

    The Wedhatama and Its Impact on Islamic Legal Thought in Indonesia

    Get PDF
    Karya Wedhatama tergolong karya monomental dalam literatur Jawa. Pada dasarnya ia menggambarkan idiologi dan kehidupan praktis masyarakat Jawa, khususnya di kalangan keluarga keraton. Karena itu tidak mengherankan jika sejumlah sarjana tenama memberi perhatian terhadap karya dimaksud sebagai salah satu sarana memahami falsafah kehidupan orang Jawa. Tulisan berikut bermaksud memberi perhatian sebagaimana para penulis terdahulu, dengan fokus pada pengaruh falsafah Jawa dalam Wedhatama terhadap pemikiran hukum Islam di fawa atau Indonesia pada umumnya. Tulisan ini berkesimpulan bahwa salah satu poin penting kandungan Wedhatama adalah pentingnya perhatian terhadap tradisi setempat (Jawa) bagi kehidupan setiap orang. Pemikiran demikian ternyata sejalan dengan pemikiran ahli hukum Islam kontemporer yang menyatakan bahwa rumusan hukum Islam hendaknya memperhatikan tradisi yang berkembang pada setiap masyarakat termasuk masyarakat Jawa atau Indonesia pada umumnya

    The Framework and Practice of Islamic Insurance in Malaysia

    Get PDF
    Asuransi telah menjadi fenomena yang jamak di era modern di belahan dunia manapun. Di Malaysia, asuransi konvensional dipandang oleh Komisi Fatwa sebagai tidak Islami karena mengandung beberapa elemen seperti riba, gharar dan maysir. Permasalahan inilah yang akhimya mengundang perhatian kalangan Muslim sehingga mereka mengupayakan asuransi yang lebih sesuai dengan syariat Islam. Maraknya bisnis asuransi Islami atau takafuI inilah yang menarik perhatian saya (penulis) untuk melihat secara dekat wacana dan praktek asuransi Islam di Malaysia. Walupun banyak bisnis asuransi Islam yang muncul, namun penulis hanya akan membahas salah satunya, yaitu syarikat Takaful Malaysia Berhad (STMB) yang merupakan asuransi takaful pertama di Malaysia. Banyak permasalahan yang bisa dilihat dan didiskusikan dalam artikel ini, diantaranya adalah awal tradisi asuransi, pandangan Islam tentang praktek asuransi modern dan beberapa permasalahan yang berhubungan dengan praktek asuransi di Malaysia. Penulis akan lebih memfokuskan pada bagaimana pelaksanaan konsep takaful dalam Islam di dalam pelaksanaan asuransi ini. Apakah konsep mudharabah dan tabarru menjadi dasar dalam praktek asuransi takaful pada syarikat Thkaful Malaysia Berhad (srMB) khususnya dan asuransi takaful yang lain pada umumnya

    Manhaju Tauthīq Mutūn al-Ḥadīth ‘inda ‘uṣulīya al-‘aḥnāf

    No full text
    This article discusses the method of evaluating the authenticity of hadits, based on the internal criticism which was applied by the scholars of Hanafi School. In this writing, it is mentioned that the scholars have developed five criteria for examining a hadits. First a hadits does not contradict Qur' anic texts. This leads the Hanafi School to refuse takhṣīṣ and taqyīd theories of al-Qur'an with ahad hadits. Second, a hadits is not contrary to a popular sunnah (masyhūr). Under this criterion, they avoided confronting a ḥadīts with each other in order to seek in their consistency; third, a ḥadīts is not garīb (isolating) if it is connected to usual and common case. Fourth, a ḥadīts is not abandoned by the Companions in their discussion. Finally, a ḥadīts must in agreement with (analogies) general rule of syari' ah if it contains legal matters, but was reported by the authority of a non-expert in law. The ḥadīts which do not meet with the five criteria are considered inauthentic. Compared to the traditionalist school that focuses more on the authority of ḥadīts reporters, the Hanafi School is more critical of the ḥadīts

    The “semiotic” Enterprise of Ian R. Netton: A Deconstructionist Approach of Islamic Thought?

    Get PDF
    Tulisan ini mengkaji penerapan pendekatan semiotik terhadap pemikiran Islam yang dilakukan oleh Ian Richard Netton dalam bukunya Allāh Transcendent (1994). Seperti halnya Arkoun, Netton mengusulkan suatu ancangan baru untuk melihat pemikiran Islam, khususnya pemaknaan filosofis terhadap konsep-konsep teologinya melalui penggunaan suatu metode yang merupakan campuran dari teori-teori strukturalis dan semiotic moderen guna menyibak beberapa struktur filsafat dan teologi Islam Zaman Tengah. Karena keterbatasan ruang, tulisan ini tidak menjajaki semua pengarang Muslim yang pemikirannya dikaji oleh Netton melalui pendekatan semiotik. Tinjauan tulisan ini terfokus pada analisis semiotic Netton terhadap tradisi illuminasionis Suhrawardi. Dalam tulisan ini ditunjukkan beberapa kesulitan Pendekatan semiotic Netton. Misalnya ia meminjam secara amat tidak kritis konsep-konsep dan idea-idea dari sumber yang luas sejak dari pendekatan Levi-Strauss dalam antropologi, pendekatan Saussure dalam linguistik hingga pendekatan Barthes dan Eco dalam semiotik. Konsep-konsep pinjaman ini tersebar dalam berbagai bagian karya Netton tanpa adanya perhatian untuk melakukan suatu elaborasi terpadu mengenai konsep-konsep ini pada bagian pendahuluan karya tersebut. Tidak ada suatu analisis tajam mengenai apa yang membentuk semiotic itu. Ketika berhadapan dengan terma "tanda" (sign) Netton mengusulkan suatu pengertian cukup longgar yang mencakup beberapa definisi yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh mulai dari Aristoteles, St. Thomas Aquinas sampai kepada Saussure, Peirce, Eco dan lain-lain. Akibatnya pembaca tidak memperoleh kesan mengenai adanya pengolahan teoritis mengenai batasan "tanda" (sign) yang ia terima atau mengenai penyelidikan analitis tentang fungsinya. Secara umum orang bisa terkejut atas sedikitnya kontribusi yang ditawarkan Netton dalam kajian semiotiknya terhadap pemikiran Suhrawardi. Ia tidak membawakan suatu informasi baru mengenai pengaruh Zoroasterian dalam karya-karya Suhrawardi dan tidak monyumbangkan suatu pandangan berbeda dari kajian-kajian tradisional tentang tokoh illuminasionis ini yang telah dikemukakan oleh tokoh-tokoh seperti Henri Corbin dan Seyyid Hossein Nasr. Dari sini orang dapat mempertanyakan apakah studi Netton telah mencapai harapan-harapan yang diusulkannya sendiri dalam projek semiotiknya

    Kalimah Ma’alī al-Duktūr ‘Aḥmad Muḥamad ‘Alī Ra’īsa al-Binak al-‘Islāmī Liltanmīyya fi al-Mu’tamar al-Sādis li Wizrā‘I al-‘Auqāf wa al-Shu’ūn al-Islāmīyya bi Jakarta

    No full text
    Pidato: Kalimah Ma’alī al-Duktūr ‘Aḥmad Muḥamad ‘Alī Ra’īsa al-Binak al-‘Islāmī Liltanmīyya fi al-Mu’tamar al-Sādis li Wizrā‘I al-‘Auqāf  wa al-Shu’ūn al-Islāmīyya bi Jakart

    Antara Filsafat Dan Kalam Sebuah Kesalahfahaman Paradigmatik

    No full text
    The emerging phenomenon of religiosity force us to make a reevaluation without neglecting our keen analysis. Recent religious discourse tends more on the repetition of some old discourses using “new Clothes” and gives only little constructive-subtantive information. It is understandable, therefore, that the jargons of “majority-minority” “minna-minhum”, “you-we” “right-wrong”, are still widely believed as the manifestation of the level of someone’s adherence to their religions. This condition seems to be valid for all religions, including Islam. In Islam, kalam and philosophy are the two important sources which have great access especially in constructing the mode of thought embodied in the daily activities of the ummah. The emergence of some sects in Islam including shī’ah, Mu’tazilah, Jabariah and Sunni as well as the easy judgment given each other by, and for, the philosopher and the ologians as the unbelives clearly show how was the political conflict of that time. This interest was then neatly covered by the “religious robe” which, in trun, leaved an unpleasant attitude for the next generations. Thus, the research on Islamic becomes closed and is no longer opened. It would be more ironic when one realizes that historical interpretations of the Qur’an and the Hadith are believed as the facts themselves which are free from mistakes. In responds to this phenomenon, there emerges a new critical thought which tries to be neutral in understanding some aspects of these products of thought. The type of the relationship between the doctrinal, theological, historical-empirical and critical -philosophical. This alternative is, so far, considered as the most appropriate one although it does not escape some problems. To mention but few are the apriori attitude and the intellectual arrogance which might blur the problems. This article is aimed as another alternative to deal with the Problems

    Refleksi Teologis terhadap Etos Kerja

    Get PDF
    Apa yang dikaji oleh pemikir-pemikir dan Ilmuwan sosial sangat menarik karena pilihan ini menunjukkan prioritas dari suatu masyarakat. Peranan yang dimainkan oleh teologi dalam suatu peningkatan etos kerja sebetulnya merupakan kajian interdisipliner yang sangat menarik. Apakah masyarakat melayani cita-cita suatu teologi atau teologi yang melayani cita-cita masyarakat. Ada berbagai macam sudut pandang suatu kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama, lembaga-lembaga sosial, filsafat, Pendidikan religius, refleksi teologis, dan kehidupan komoditas. Hal-hal tersebut pasti mempengaruhi suatu etos kerja. Analisis akan lebih menarik lagi kalau suatu masyarakat meliputi penganut dari agama yang berbeda-beda seperti di Indonesia. Untuk itu akan dicoba suatu tulisan yang berkenaan dengan Refleksi teologis terhadap etos kerja

    Cultural Acculturation of Javanese Islam: A Critical Study of the Slametan Ritual

    No full text
    Upacara slametan merupakan topik perdebatan klasik di kalangan kaum muslimin. Masalah pokoknya terletak pada pertanyaan apakah praktek slametan itu islami atau tidak. Meskipun perdebatan mengenai slametan ini sempat terhenti, tetapi ia masih mendatangkan problem teologi yang bersifat inklusif. Di kalangan para sarjana asing, sebagaimana dibahas dalam tulisan ini, slametan mampu menarik perhatian dan mengundang penelitian yang menimbulkan kontroversi lebih jauh. Setidak-tidaknya, kontroversi itu sendiri berasal dari tiga faktor pokok yang terkait. Pertama, faktor perbedaan dasar teoritik yang dipakai oleh para ilmuwan dalam pengamatan mereka. Sebaliknya perbedaan dasar teoritik itu sendiri membawa pada faktor yang wajar, yaitu perspektif satu sisi; dan faktor terakhir adalah konteks historis dimana dan kapan penelitian dilakukan. Tulisan ini dimaksudkan untuk menjadi “Jembatan akademik" antara posisi-posisi tersebut. Dalam membicarakan pokok permasalahan, analisis campuran, perspektif antropologi dan teologi akan ditawarkan. Paduan antara kedua analisis itu dimaksudkan agar ada keseimbangan dalam melakukan analisis. Persoalan apakah secara teologis slametan itu sendiri segaris dengan ajaran Islam, bukanlah merupakan perhatian tulisan ini. Tetapi tulisan ini memiliki dua tujuan: pertama melakukan analisis singkat dua teori mayor tentang slametan dari Geertz dan Woodward. Kedua, memaparkan unsur-unsur slametan mana yang berasal dari Islam dan mana yang lebih dipengaruhi oleh budaya Jawa lokal

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇