Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    Memahami Hikayat Sultan Ibrahim Ibn Adham

    Get PDF
    Aspek pokok dan terkait dalam menghadapi karya sasra adalah aspek penikmatan, pemahaman, dan Aspek kritis yang juga merupakan aspek implikatif. Bagi Pembaca karya sasta, niat yang paling pokok adalah ingin menikmati karya tersebut. Akan tetapi, penikmatan Itu sendiri tidak Akan pernah berhasil Dengan baik tanpa didukung oleh aspek pemahaman. Pemahaman tidak akan sempurna tanpa Didukung oleh Aspek kritis. Pola Asumtif tersebut tampaknya Telah membawa Pada suatu analog Konseptis bahwa Karya sastra Merupakan suatu Yang komplek (Djoko Pradopo, 1983:7) Yang perlu dianalisis Dalam proses pemahamannya. Sementara itu, dalam menganalisis karya sastra kita akan dihadapkan pada berbagai altematif konsekuensif pada efek pemahaman, yaitu pemakaian metode pendekatan. Tulisan ini ingin menelaah satu karya yang berjudul Hikayat Sultan Ibrahim lbn Adham selanjutnya disingkat HSIIA sebagai suatu karya yang otonom. Dengan demikian, aspek kritisnya lebih mengutamakan pada analisis struktur intinsiknya, analisis kompleksitasnya dan analisis bentuk formalnya. Untuk itu, metode yang akan digunakan adalah metode struktural sebagai sarana untuk menganalisis karya terlepas dari kelebihan dan kekurangan atau kelemahan yang ada pada metode tersebut. Disamping itu, HSIIA sebagai Suatu karya Sastra yang arkaistik, agaknya didapati kesulitan untuk melakukan pendekatan lain selain pendekatan obyektif, misalnya pendekatan mimetik, pragmatik atau ekspresif; atau pun pemakaian metode yang lain selain metode struktural. Karena karya Tersebut sebagai Karya yang arkaistis Sulit sekali Untuk diperoleh Data dan informasinya Secara lengkap

    Majid Fakhry Tentang Fundamentalisme dan Oksidentalisme

    Get PDF
    Kesan dan kekaguman umat Islam terhadap teknologi dan pengetahuan diantaranya telah melahirkan gerakan pembaharuan baik dalam bentuk modernisasi, reformasi, sekularisasi, maupun revivalisasi dan revitalisasi. Disamping itu fundamentalisme dan oksidentalisme juga muncul sebagai tesa lain. Issu fundamentalisme --yang sebenamya tidak hanya ada dalam Islam saja akan tetapi juga terdapat di beberapa agama besar lain semacam Yahudi, Kristen, Hindu, Buddha dan bahkan dalam agama Kong Hu Cu -- juga telah menimbulkan rasa gelisah dunia Barat sehingga Barat menaruh perhatian yang cukup serius dan kemudian issu fundamentalisme ditulis oleh beberapa intelektual 1). Diantaranya adalah seorang intelektual Libanon yang berkiprah di dunia Barat, Arab dan Islam yang telah mengemukakan pokok-pokok pikirannya. Dalam kesempatan ini akan dicoba memahami bagaimana pokok-pokok pikiran Majid Fakhry tentang fundamentalisme dan oksidentalisme, yang tertuang dalam artikelnya yang berjudul "The Search for Cultural Identity: Fundamentalism and Occidentalism" dalam Islam The Perenniality of Values, CULTURES, IV, no.1 (The Unesco Press and Ia Baconniere). Menurut Majid Fakhry, pencarian identitas budaya dalam Islam sudah sejak lama dilakukan oleh para pemikir Islam. Dalam pencarian identitas budaya ini mereka melakukan pengisolasian beberapa unsur penting untuk membatasi sikap terhadap masa silam dan terhadap pewarisan budaya (turath)Iain terutama budaya Barat. Ia melihat ada tiga macam sikap dalam menghadapi warisan Islam dan budaya Barat kontemporer yaitu:1. yang dapat digolongkan sebagai "fundamentalisme” 2. yang disebutnya dengan "modernisme", dan 3. yang dimaksudkannya dengan "oksidentalisme". Majid Fakhry memberi komentar terhadap tiga sikap ini; sikap pertama dan kedua bersifat desisif, menentukan dan meyakinkan; dan sikap ketiga seringkali bersifat "sekularis", politis dan teologis. Kecenderungan sekularis ini dipandang bertentangan dengan etos fundamental. Apa, mengapa dan bagaimana "sekularis" dimaksudkan tidak dijelaskan lebih lanjut oleh Majid Fakhry. Ia menyajikan sikap-sikap tadi secara berurutan dan dengan tekanan-tekanan tertentu

    Benturan Kebudayaan?

    Get PDF
    Perilaku dunia politik sedang memasuki suatu tahapan baru, dan para, cendekiawan tidak ragu-ragu mengobral pandangan tentang apa yang akan terjadi --berakhirnya sejarah, kembalinya permusuhan tradisional antara negara-negara bangsa dan runtuhnya negara bangsa antara lain-lain karena konflik tarik-menarik antara gagasan kesukuan dan gagasan globa masing-masing pandangan ini mengandung aspek-aspek realitas yang akan muncul. Tetapi pandangan-pandangan itu kehilangan aspek utama yang sangat penting tentang kira-kira seperti apa perilaku politik global itu pada tahun-tahun yang akan datang. Saya berhipotesa bahwa sumber konflik yang terpenting di dunia baru ini bukanlah terutama bersifat ideologis atau bersifat ekonomi. Perbedaan-perbedaan terbesar antar umat manusia dan sumber konflik yang paling dominan adalah kultural. Negara-negara bangsa akan tetap menjadi pelaku paling berjaya dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia, tetapi konflik pokok dari perilaku politik global akan terjadi antara bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok yang berbeda kebudayaan. Benturan kebudayaan akan menguasai perilaku politik global. Garis rawan antara kebudayaan-kebudayaan akan menjadi ajang peperangan masa depan

    Hakekat Inti Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Qashash: 88 Surat Al-Nisā’: 122

    Get PDF
    Penelitian ini adalah penelitian dari aspek filsafat, bukan penelitian untuk mengembangkan ilmu Tafsir al-Qur'an, jadi bukan penelitian tafsir al-Qur'an. Sekalipun demikian data dari berbagai Tafsir al-Qur'an amat diperlukan sebagai bahan pertimbangan guna bahan interpretasi kefilsafatan. Penelitian ini adalah penelitian agama yang obyeknya adalah teks agama. Teks agama yang diteliti adalah al-Qur'an, oleh karena itu kritik intern dan kritik extern tidak diperlukan lagi, karena tidak menghasilkan harapan peneliti. Peneliti mengajukan gagasan model lain yaitu krtik posilif. Kritik positif adalah suatu usaha untuk memahami apa yang tersurat dan apa yang tersirat di dalam teks itu; ini berarti berusaha untuk memahami apa yang tersirat itu dengan mereflelsi inti dari berbagai tafsir yang memiliki nilai-nilai kefilsafatan dan karya filsafat kontempoer yang bermunculan membahas tentang Tuhan. Dengan demikian melibatkan suatu usaha untuk melakukan reduksi kefilsafatan yaitu berusaha menyaring dan memahami serta menempatkan pada suatu prinsip yang proporsional, pada posisi Necessity Being (Wājib al-Wujūd) dan contingency being (mumkin al-wujūd). Tujuan reduksi kefilsafatan itu untuk berusaha menemukan prinsip-prinsip yang esensial, dan pola pemikiran filsafatnya atas dasar kefilsafatan yang teistik.

    Epistemologi ‘Abd Al-Jabbār Bin Ahmad al-Hamadzānī

    No full text
    Epistemologi (dari bahasa Yunani Kuna, episteme = pengetahuan dan logos = teori) didifinisikan, antara lain, sebagai cabang filsafat yang menyelidiki asal, struktur, metode-melode dan keabsahan pengetahuan. Dengan demikian judul di atas mengandung pengertian konsep 'Abd al-Jabbār mengenai hal-hal yang berkenaan dengan teori pengetahuan itu. Akan tetapi tulisan ini tidak membicarakan semua masalah itu. Ini dilakukan selain karena keterbatasan ruang dan waktu, juga karena kenyataan bahwa 'Abd al-Jabbār tidak menulis teorinya tentang pengetahuan secara lengkap dengan maksud khusus untuk menjelaskan konsepnya tentang pengetahuan. Memang ia menulis satu buku penuh dengan masalah pokok penalaran dan pengetahuan, yakni juz XII dari al-Mughnī fī Abwāb al-Tawhīd wa al-‘ad-l yang diberi anak judul al-Nadhar wa al-Ma'ārif, namun buku itu ditulis sebagai satu bahagian dari pembicaraannya tentang masalah teologi. Buku itu dimaksudkan sebagai landasan bagi konsepnya tentang kewajiban yang diberikan Allah kepada manusia. (taklīf). Yang akan dibicarakan dalam tulisan ini hanyalah konsep 'Abd al-Jabbār tentang pengetahuan, kriteria-kriteria pengetahuan yang benar macam-macam pengetahuan dan penalaran sebagai alat untuk mencapai pengetahuan yangbenar.  Bagaimana pengetahuan diungkapkan dalam bentuk yang bisa ditangkap orang lain dan sumber-sumber pengetahuan, tidak akan dibahas  dalam tulisan ini

    Forest Stewardship: Deforestation Analyzed Islamecocritically in Canadian Ecopoetry

    Get PDF
    Deforestation is one of the current global hot issues. It has a complicated web of causes and effects. Besides, it requires intricate long-term solutions because many countries are involved. The present study presents an Islamecocritical reading of deforestation causes, effects, and solutions. The literary discussion is combined with religion and science through analyzing selected Canadian poems in reference to Islamic doctrines and scientific facts. The concept of forest stewardship is highlighted as a worldwide demand for handling this issue. Forest stewardship is definitely tied to other fundamental Islamecocritical principles like moderation; corruption prohibition; harm prevention; innateness; animism; the unity principle; heavenly balance; and divine judgment. These ethical pillars are supposed to guarantee the wished-for harmonious responsible relationship between humans and forests. [Deforestasi merupakan salah satu isu penting global saat ini. Hal ini seperti jaring kompleksitas dari sebab dan akibat. Disamping itu, persoalan ini membutuhkan solusi jangka panjang karena melibatkan banyak negara. Artikel ini membahas pembacaan ekokritisme Islam pada sebab, akibat dan solusi dari deforestasi. Literasi diskusi adalah kombinasi agama dan sains melalui analisa puisi dari Kanada yang terkait dengan doktrin Islam dan fakta sains. Konsep pelestarian hutan menjadi sorotan yang lebih luas dalam mengatasi persoalan ini. Pelestarian hutan menjadi pengikat pasti dari prinsip dasar ekokritis Islam seperti: pencegahan korupsi, anti kekerasan, pembawaan, animisme, kesatuan, keseimbangan, dan keadilan Tuhan. Pilar pilar etik inilah yang kira-kira menjamin hubungan harmonis antara manusia dan hutan.

    Quo Vadis Acehnese Shari’a: A Critical Approach to the Construction and Scope of Islamic Legislation

    Get PDF
    The main purpose of implementing Shari’a is to benefit humanity in all areas of life in this worldly life and the hereafter. Based on this circumstance, this article critically sheds light on the existing implementation of Acehnese Shari’a by examining its scope and the existing qanun issued to seek that purpose. This article is grounded in a qualitative research query with a reflective approach. This study finds that the existing scope of the Acehnese Shari’a has not responded to the ideal of Shari`a, which is based on maqashid presumptions; dharuriyat, hajiah and tahsinat. The results of this study indicate that the application of Shari’a in Aceh is far from the goal of ideal Shari’a for its application does not cover every aspect of life, but is limited to only covers legal aspects (punishment). This study also shows that Acehnese Shari’a has not ruled over political affairs, governing system, health issues, economic matters, and defense issues. Therefore, the scope of Acehnese Shari`a implementation should be reconstructed in order to respond to the ideal  Shari’a, which is universal and inclusive.[Tujuan utama penerapan syariat Islam adalah untuk mencapai kemaslahatan umat manusia dalam segala bidang kehidupan di dunia dan di akhirat. Berdasarkan hal tersebut, artikel ini mencari peta implementasi penerapan syariat Islam di Aceh antara idealisme dengan realitas kekinian. Metode penelitian dalam artikel ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan reflektif. Kajian ini mencerminkan cita-cita penerapan syariat Islam di Aceh dengan realitas yang terjadi, kemudian menyajikan roadmap agar syariat Islam dapat diterapkan di Aceh sesuai dengan ide dasarnya. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penerapan syariat Islam di Aceh jauh dari tujuan syariat Islam karena syariat Islam tidak muncul kecuali di bidang hukum (hukuman), dan juga kajian ini menunjukan bahwa  syariat  Islam di Aceh belum menyentuh permasalah politik, pemerintahan, kesehatan, ekonomi, pertahanan, pendidikan, sosial budaya, dan lingkungan, Oleh karena itu, peta implementasi harus direkonstruksi untuk menerapkan syariat Islam yang sesuai dengan cita-cita penerapan syariat Islam di Aceh

    Pertautan Epistemologi Bayani dan Pendidikan Islam Masa Keemasan

    No full text
    Historically, the current Islamic thought is essentially a continuation of the result of Islamic thought theorizing that peaked in the Golden ages (III - V H). As a consequence of bayaniyyun domination the product of Islamic thought in the Golden ages has succeeded to build an image that Islamic Arabic thought inherited by us currently is nothing but an "Islamic law" civilization. This can be viewed from epistemological fact; the wriggle of Islamic Arabic thought is always present at the firm hegemony of bayani reason structure attaining a supremacy momentum from Islamic humanism and scholasticism movements.Furthermore, the bayani reason structure has subsequently permeated into Islamic education as a cultural "reason" for education at that time. Then, this permeating has caused appearing of "the religious-conservative" education school that less is appreciated to every rational impact from "outside", so that tends to make marginal intellectual sciences. It was natural in its development, "intellectualism" becomes overcast from the realm of Moslem consciousness. This reality has been made worse by madrasa as a par excellence institution in the Islamic world that has changed its function as only a "wagon" mover of bayani tradition. This article tries to investigate the process of awakening of bayani epistemology and its linkage with Islamic Education in the Golden ages with Islamic education in the Golden ages

    Juristic Differences( lkhtilāf) in Islamic Law: Its Meaning Early Discussions, and Raesons (A Lesson for Contemporary Characteristics

    Get PDF
    Perbedaan pendapat atau perbedaan keputusan dalam hukum Islam :di antara ulama fiqh (ikhtilāf al-fuqahā) merupakan kebiasaan sejak masa awal.  Bahkan, ketika Nabi Muhammad, saw masih hidup, perbedaan itu telah :merjadi. Yaitu, ketika sahabat Nabi terjadi perbedaan dalam memahami perintah Nabi atau dalam memahamai teks al-Qur'an, Nabi dalam beberapa hal membiarkanny. Ini pahami sebagai dibolehkannya terjadi perbedaan pendapat dalam dalam menentukan hokum Islam sejak masa awal. Ikhtilāf al-fuqahā kemudian telah didiskusikan sejak masa sahabat dan juga ditulis sejak masa yang sangat awal. Buku tentang Ikhtilāf al-fuqahā juga bertambah terus. Dalam perkembangannya itu,, saya mengelompokkan tulisan, termasuk buku, mengenai ikhtilāf al-fuqahā itu pada dua kelompok: pertama, saya sebut dengan polemical (model polemic) dan kedua desctiptive (model deskriptif). Yang pertama (polemical) bertujuan untuk melemahkan pendapat pemikiran atau ulama (madhhab yang lain.) Dimuatnya pendapat orang atau mashhab lain dengan maksud untuk menjelaskan kelemahan-kelemahan yang ada untuk dikritik dan dilemahkan yang kemudian untuk mengatakan bahwa pendapatnya sendirilah yang lebih kuat dan hebat. Yang kedua, si penulis sekedar menguraikan ada adanya tentang apa yang terjadi mengenai perbedaan pendapat dalam menentukan hukum islam itu. Si penulis tidak mempunyai target atau tujuan demi menguatakan pendapatnya. Namun semata-mata menginformasikan kepada pembaca apa yang terjadimengenai perbedaan pendapat dalam penentuaan hokum Islam. Menurut hemat saya, kini harus dilakukan studi kritis dan serius mengenai ikhtilāf al-fuqahā. Bahkan akan lebih baik jika ikhtilāf al-fuqahā itu menjadi sebuah topic atau bahkan semacam sub-disiplin keilmuan yang dibahas serius dan detail. Menurut hemat saya, kajian mengenai ikhtilāf al-fuqahā jauh lebih diperlukan dari pada kajian mengenai ijma’. Namun kini yang terjadi sebaliknya. Ijma’ dibahas banyak orang dan secara panjang lebar;sedangkan ikhtilāf sedikit sekali dibahas orang, apalagi yang bercirikan kajian kritis ini. Padahal, ijma’ itu sudah tidak lagi realistic (kalau toh ada hanya sedikit dan dalam batasan yang sangat prinsip), sementara itu ikhtilāf sangat realistic dan akan selalu terjadi sampai dengan akhir nanti. Kajian ikhtilāf pada masa klasik itu dapat kita jadikan pelajaran untuk masa kontemporere ini. Pelajaran ini8 meliputi sikap mental (way of life) para ilmuan muslim kontemporer, sehingga terjadi toleransi dalam kehidupan pluralistic dalam hal berpendapat. Dan dalam waktu bersama, juga dapat menjadi pelajaran dalam hal way of thinking, baik dalam hal metodologi maupun lainnya. Oleh karena itu, dengan menjadikan contoh-contoh kajian klasik kita membuat analogi untuk kasus-kasus kontemporer, seperti masalah-masalah politik, dan kehidupan umat secara keseluruhan. Kita dapat belajar dari para pemikir muslim klasik dalam membahas kasus-kasus yang bermunculan dimasa kini. Menurut hemat saya, bukan hanya yang berkaitan dengan hokum dalam pengertiaan khusus seperti dalam ilmu hokum namun sekaligus meliputi masalah-masalah social dan humaniora secara keseluruhan yang dalam tradisi islam dapat masuk ke dalam pembahasan hokum Islam

    The Trajectory of the Jihad Discourse in Malay World: An Analysis on the Baḥr Al-Mādhī by Muḥammad Idrīs Al-Marbawī

    Get PDF
    The term of jihad has a significant role in the formation of Islamic identity, politics, and nations. For example, the Malay World during the colonial or pre-independence, has created the momentum among community to break free from the colonial at the time. This spirit was injected with elements of jihad through the advice of scholars, graduates returning from the middle east who brought the spirit of independence and through writing. Among the writings that may have a role in explaining jihad among the Malay community is Baḥr al-Mādhī [1924-1960]. This article will analyse on the representation of jihad and warfare term in the Baḥr al-Mādhī, a book written by Muḥammad Idrīs al-Marbawī [1896-1989]. It can be considered as one of the greatest masterpieces of Malay Muslim scholar in the twentieth century. It was composed as a commentary to the hadith in Jāmi‘ al-Tirmidhī and have been written in Malay language. This article also analyses al-Marbawi’s contribution to Malay community understanding jihad in pre independence period of Malaysia through his commentary and translation of the hadith of jihad in Baḥr al-Mādhī. This study applied qualitative study, data collected by library research and analysed by document analysis methodology. Study found that, the Baḥr al-Mādhī by Muḥammad Idrīs al-Marbawī has played a major role in the understanding of jihad among Malays in pre-independence period. This book symbolizes the local wisdom of the Malay community at the earliest time. This contribution can be understood through the background of the writing of this book, its wide pertinence into society and the content of jihad in it.[Konsep jihad mempunyai peran signifikan dalam pembentukan identitas keislaman, politik dan kebangsaan. Misalnya seperti dunia Melayu pada masa kolonial atau pra kemerdekaan dimana sarjana muslimnya yang pulang dari belajar di Timur Tengah mendorong masyarakatnya berjuang melawan kolonialisme dan menuntut kemerdekaan melalui tulisan mereka. Salah satu tulisan yang menerangkan konsep jihad dalam masyarakat Melayu adalah Baḥr al-Mādhī. Artikel ini menjelaskan konsep jihad dan perang dalam karya Baḥr al-Mādhī, satu karya terbaik sarjana muslim Melayu abad 20, yang ditulis oleh Muḥammad Idrīs al-Marbawī (1896-1989). Karya ini merupakan komentar terhadap kitab hadist Jāmi‘ al-Tirmidhī yang ditulis dalam bahasa Melayu. Artikel ini juga membahas kontribusi penting al-Marbawī dalam menjelaskan jihad dalam masyarakat Melayu masa pra kemerdekaan. Dengan studi literatur dan analisis dokumen terkait, artikel ini menunjukkan bahwa karya al-Marbawī merupakan simbol dari kearifan lokal masyarakat Melayu pada masa awal. Kontribusi pentingnya terlihat dari luasnya pengaruh dan pendalaman pemahaman tentang jihad di masyarakat Melayu saat itu.

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇