Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    Hermeneutical Problems of Religious Language

    No full text
    Artikel ini membahas masalah-masalah hermeneutic bahasa agama. Hermeneutik merupakan tradisi berpikir atau refleksi filosofis yang mencoba menjelaskan konsep pemahaman dengan medium bahasa berupa penjelasan, penerjemahan, atau pengungkapan kembali. Karena itu, salah satu masalah epistemologis dalam hermeneutik adalah bagaimana mengungkapkan arti sebenamya dari teks dan para pembacanya dapat memahaminya dengan benar.  Peran interpretasi harus mengubah sesuatu yang tidak dikenal, jauh dan samar menjadi sesuatu yang nyata, dekat dan jelas. Tidak ada teks yang bebas dari bias sosiologis dan psikologis. Karena itu, salah satu masalah epistemologis adalah apa pembenaran bahwa suatu teks tertentu mengungkapkan kebenaran dan di sisi lain dipahami oleh para pembacanya?  Artikel ini menggunakan hermeneutik Gadamerian karena, pertama,  pilihan subyektif penulis; kedua, teori hermeneutik dapat memahaman al-Qur'an dalam pandangan baru yang lebih kaya. Untuk memahami al-Qur'an,  pembaca akan dituntun dulu oleh bahasa, termasuk tata bahasa dan semiotiknya. Tuntunan lain adalah peta historis dan psikologis Muhammad s.a.w .. Setelah itu, pembaca harus berinteraksi dengan kandungan teks. Hermeneutik menganjurkan antara "pikiran al-Qur'an" dan "pikiran pembaca" untuk saling mendengarkan, toleransi dan respek lalu dilanjutkan dengan tahap sintesis. Paling tidak ada empat jenis interpretasi: Pertama, interpretasi sebagai penafsiran makna yang unik. Kedua, interpretasi sebagai penafsiran makna kedua dengan menambah arti literal yang pertama. Ketiga, interpretasi sebagai makna tambahan, yaitu, menafsirkan teks yang selalu mempunyai makna yang beragam. Keempat, interpretasi yang bukan berupa menafsirkan tapi menemukan makna. Memahami pemikiran Gadamerian bukanlah mengambil obyek dari luar diri kita tapi dari dalam diri kita. Bahasa dan tradisi adalah rumah eksistensi kita. ini, kita dapat menyatakan bahwa al-Qur'an adalah penjelmaan pikiran Tuhan dalam sejarah, mengunjungi manusia dan mengajak mereka untuk mengadakan dialog dan menjelajahi sejarah. Pertanyaan dan jawaban dialektis menunjukkan hubungan timbal balik sebagaimana percakapan sebagai model fenomena herrneneutik. Teks berbicara seperti lawan bicara dalam dialog. Hal ini juga berlaku dalam memahami al-Qur'an. Untuk memahami al-Qur' an yang diturunkan pada masa lalu dan dalam budaya asing berarti mengundangnya ke dalam konteks kita dan kemudian membangun perpaduan atau berbagi pandangan untuk menatap masa depan

    Socrates and Suhrawardi: Historical Affinities?

    Get PDF
    Socrates (469-399 SM) dan Suhrawardi (m. 1191 M) hidup di dua dunia yang sangat berbeda, baik secara waktu, tempat, budaya maupun kepercayaan yang ada disekitar mereka. Perbedaan itu iuga mempunyai konsekuensi pada perbedaan hidup dan pemikiran mereka. Walaupun demikian, anehnya, mereka mempunyai kesamaan. Kesamaan mereka adalah pada upaya mereka untuk menyingkap hakekat sesuatu. Sedangkan kesamaan yang lain adalah bahwa hidup mereka sama-sama berakhir secara tragis. Socrates yang tidak pemah menulis apapun, terkenal dengan metode dealektikanya. Dialektika Socrates, sebagai upaya investigasi kritis, adalah sarana untuk menjangkau hakekat sesuatu di luar kepercayaan umum saat itu. Dengan dialektika, socrates berusaha untuk melawan hegemoni kaum agamawan dan masyarakat Athena saat itu yang acuh dengan kebenaran. Dengan mengenalkan penalaran induktil, Socrates mencoba menyingkap hakekat universal tentang Tuhary tentang keadilan dll. Suhrawardi, di pihak lain, mempunyai tujuan yang sama dengan socrates, tapi dengan metode yang berbeda. Misteri tentang perbedaan dalam kesamaan inilah yang akan disingkap dalam artikel ini

    Between Polygyny and Monogamy: Marriage in Saudi Arabia and Beyond

    Get PDF
    Saudi Arabia has long been portrayed as a “hub of polygyny,” a practice of marriage in which a man marries several women simultaneously. However, my recent research among Saudi male youths suggest that this practice is waning nowadays. A younger generation in the Kingdom seems to prefer monogamy—a man marrying one wife—to polygamy for several essential reasons, factors and arguments. Based on interviews and conversations with a number of young Saudis as well as outcomes of survey findings, this article tries to debunk the myth of polygyny in the Kingdom and attempts to understand the rationales and logics behind monogamy choice among male (and female) youths of contemporary Saudi Arabia. The article also briefly highlights the practice of polygyny and monogamy in multiple societies outside Saudi Arabia to compare and gain knowledge on various practices of marriage. Seen from another viewpoint, the article is a reflection of a modern-day fruitful socio-cultural development and change in Saudi Arabia that have received enthusiastic and public acclaim across the globe.Arab Saudi digambarkan sejak lama sebagai ‘pusat poligini’, sebuah praktik pernikahan satu laki-laki dengan sejumlah perempuan secara simultan. Namun dalam penelitian saya terbaru terhadap sejumlah laki-laki muda Arab menyatakan praktik poligini mulai memudar saat ini. Generasi muda di wilayah kerajaan Arab tampaknya mulai memilih monogami, daripada poligami, dengan beberapa alasan, faktor dan argumen yang mendasar. Berdasarkan wawancara dan percakapan dengan sejumlah pemuda Arab yang temuannya menunjukkan, seperti dalam artikel ini adalah menyanggah mitos poligini di kerajaan Saudi dan usaha memahami rasionalitas dan logika monogami pemuda dan pemudi di Arab Saudi dewasa ini. Artikel ini juga sekilas membahas praktik poligini dan monogami di luar Arab Saudi sebagai perbandingan dan pengetahuan mengenai ragam bentuk praktik pernikahan di berbagai masyarakat. Dengan sudut pandang lain, artikel ini mencerminkan kehidupan modern dari aneka perkembangan sosial budaya dan perubahan di Arab Saudi yang menerima semangat dan penerimaan publik lintas dunia.

    The Curriculum of Islamic Studies in Traditional and Modern Dayahs In Aceh: A Comparative Study.

    Get PDF
    Paper ini membandingkan kurikulum keilmuan Islam yang diterapkan pada sekolah-sekolah agama Islam di Aceh, terkenal dengan sebutan Dayah, yang masih tradisional dan modern. Hal ini dianggap penting, karena Aceh adalah institusi pendidikan yang paling tua dan dominan di Aceh, sehingga perubahan dan perkembangan kurikulum keilmuan Islam di Aceh dinilai akan berpengaruh terhadap perkambangan keilmuan keislaman dii Indonesia secara umum. Dalam melakukan studi ini, penulis melakukan observasi secara langsung pada Dayah-dayah tradisonal dan modern, selain juga mempelajari dokumen-dokumen dan buku-buku yang memuat informasi mengenai masalah yang dibahas. Sesuai dengan perkembangan zaman, di Aceh telah muncul Dayah-dayah  baru yang menerapkan kurikulum yang berbeda dengan yang selama ini diterapkan dalam Dayah yang masih dikelola secara tradisional. Ilmu-ilmu yang secara tidak langsung berkaitan dengan teks-teks ajaran Islam, seperti matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosal, bahasa asing (selain bahasa Arab) mulai diajarkan di Dayah modern. Selain perbedaan kurikulum, perbedaan lain juga ditemukan pada sisi menejemen dan pengelolaan Dayah secara umum

    The Formalization of Sharia in Aceh to Discipline the Female Body

    Get PDF
    The formalization of sharia (particularly regional regulations on sharia in Aceh) since 2001 up to 2019 had incorporated economic and political contents between local and national elites. Such condition was a result of local and national elite interests gaining political advantages wherein sharia was utilized as a tool by the elites to dominate civilians. Due to political interests, civilians became marginalized by sharia. The current article demonstrates that local and national political elites had used sharia for their political interests without considering the substantial purpose of sharia itself. Women, in particular, are disadvantaged by the various regulations (qanun) issued by wilayatul khisbah as the guardians of sharia in Aceh. The article also aims to show existing contradictions between the ideal aspirations of wilayatul khisbah and the actual practice of regional regulations pertaining to sharia on the ground, namely the involvement of political elites in advocating sharia, which has not made people become more religious but provoked them to resist in secret instead. Data in the article were acquired through literature study, field observations, and in-depth interviews with a number of informants[Formalisasi syariah Islam di Aceh melalui Peraturan Daerah (Qanun) sejak 2001 telah melibatkan kolaborasi ekonomi dan politik antara elit lokal dan nasional. Situasi tersebut menyebabkan kepentingan elit lokal dan nasional berebut keuntungan politis sebagai alat mendominasi warganya, sehingga menyebabkan kepentingan warga termarjinalisasi. Artikel ini membahas elit lokal dan nasional yang memanfaatkan syariat Islam untuk kepentingannya sendiri tanpa mempertimbangkan tujuan utamanya. Perempuan sering dirugikan oleh sejumlah aturan yang dikeluarkan oleh tim penegak syariat Islam (wilayatul khisbah). Artikel ini juga memperlihatkan kontradiksi antara  aspirasi ideal dan praktik di lapangan lembaga wilayatul khisbah yang mana keterlibatan elit politik dalam advokasi syariat Islam tidak mendorong lebih religius tetapi justru mendorong warga melawan diam-diam. Data artikel ini didapatkan dari studi literatur, observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan sejumlah informan.

    Taqdīm dan Ta'khir dalam Al-Qur'an (Pendekatan Qawāid al-Lughah al-‘Arabiy ah)

    No full text
    There are many secrets and wonders in the precedence and postponement in holy Qur'an previewed from both linguistic structure and grammatical point of view. One of these secrets may lay in the utilizing a single word for different linguistic purposes in different parts of the speech in which a speaker may have certain different meanings.  The following article is trying to show these sorts of Precedence and Postponement, categorizing them into two kinds:1- Precedence and postponement as previewed in a linguistic point of view, considering the use of words in phrases or verses depending on standard grammars stated by the linguists.2- Precedence and postponement as previewed in the terminologist point of view, considering in the holy Qur'an.The first type discusses the principle of faith and literature that has the purpose of precedence and postponement for specialization as it leads to the principle of unity of almighty God. The research involves the precedence and postponement which is found (from linguistic point of view) in the holly verses of Qur'an, such as, preceding the reference on the reference to or vice versa. The precedence and postponement have an influence (on the terminology point of view) on understanding of the holly Qur’an, especially for worshipping and lows. In worshipping, the precedence and postponement, may concern the arrangement of certain deeds like performing the ablutions (wudlu) before praying than praying. For laws or rules, it precede the male's name before the female's, and also, preceding the more than the less; such as preceding the man thief on the woman thief, for many of those could be man, and preceding woman on man in adultery

    Non-Muslim (Western) Scholars' Approach to Hadith. An Analytical Study on the Theory of “Common Link and Single Strand”

    No full text
    UIN Alauddin MakassarDalam studi hadith, ada perbedaan fundamental antara metode yang dikembangkan oleh sarjana-sarjana Muslim dengan metode yang dikembangkan oleh sarjana-sarjana Barat. Sarjana-sarjana Muslim menekankan pada penelitian tentang bagaimana memilah hadith sahih dari yang palsu, sedangkan penelitiaan hadith di barat adalah how to date a particular hadith ( bagaimana menentukan tanggal atau umur) hadith tertentu untuk menaksir asal-usulnya. Hal ini disebabkan karena Sebagian besar, untuk tidak mengatakan semuanya, sarjana-sarjana barat percaya bahwa sangat sedikit, kalaupun ada, hadith yang bisa disandarkan secara historis kepada Nabi. Oleh karena itu, penelitian tentang kapan, siapa dan dimana hadith yang sedang diteliti dibuat harus dilakukan. Untuk menjawab pertanyaan sentral tersebut sejumlah metode telah dikembangkan dalam kesarjanaan barat ( Westem scholarship). Diantara metode tersebut dikenal teori common link yang telah menelorkan sejumlah konsep seperti single strand, partial common Iink, spider, driving dll.Teoi common link  pertama kali diperkenalkan oleh Joseph Schacht dalam bukunya The Origins of Muhammadan Jurisprudence (1950) yang mendapat inspirasi dari Ignaz Goldzther dalam bukunya Muhammadan Studien. Teori tersebut secara umum telah menginspirasi sariana Barat yang datang sesudahnya. Diantara yang paling setia, yang bukan hanya mengadopsi teori Schacht tapi telah mengembangkannya secara signifikan dalam skala besar, meskipun berbeda dari Schacht dalam sejumlah point penting, adalah G.H.A. Juynboll. Sebaliknya kritik tajam terhadap sejumlah premis dan methodologi Schacht dan Juynboll diartikulasikan oleh Harald Motzki dalam karya monumentalnya Die Anfange der Islamischen Jurisprudence. Ihre Entwicklung in Mekka bis zur Mitte  des 2./8. Jahrhundert 1991, meskipun kemudian dikritik oleh Irene Schneider. Polemik tentang akurasi teort common link dan implikasi metodologis yang ditimbulkannya sampai hari ini masih terus berlangsung dalam journal international studi Islam seperti Der Islam. Bagaimana teori tersebut bekerja dan sejauh mana akurasi teori tersebut dapat menyajikan taksiran historis untuk menentukan kualitas hadith akan dibahas dalam artikel ini

    Bank Interest, Pilgrimage, and Modernism

    No full text

    Editorial

    Get PDF

    Strategi Dakwah Islam dalam Pendekatan Rasional Transendental

    No full text
    This article tries to apply the transcendental rational approach to the preaching of Islam. The characteristic preaching of Islam in transcendental rational approach relies on how ratio works in catching reality in the real world empirically, and then we analyze through an intergalactic combination between "fikir" and "zikir" to answer mankind's problems based on Allah's sayings and the prophet's tradition. The author tries to offer preaching of Islam's comprehension scientifically as follow: (1). Normatif preaching i.e., preaching of Islam which is based on Al-Qur'an and Hadith and is analyzed hermeneutical, dialectical, systematically in order to seize the moral teachings integrally without doing any reductions on both sources; (2). Historic preaching i.e., preaching of Islam which develops post Rasulullah's life up to recent days which is made as consideration to understand both sources (Al-Qur'an and Hadith). Whereas the characteristic of historic preaching is always open for changes, criticism, and giving reinterpretation and comprehension toward the reality of existing preaching

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇