Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    Wilfred Cantwell Smith on Religious Faith and Trith.

    Get PDF
    Sarjana-sarjana muslim maupun sarjana-sarjana studi keislaman dan studi agama-agama telah lama mengenal Wilfred Cantwell Smith beserta karya-karya tulisannya yang telah dipersembahkan bagi perkembangan studi agama-agama pada umumnya dan bagi studi Islam pada khususnya. Minimal ada empat sarjana terkenal yang telah mengakui kepiawaiaan dia. Mereka antara lain mengatalan bahwa melalui konse-konsep tentang agama dan agama-agama yang dikemukakannya, smith telah menolong kita memahami kehidupan keagamaan umat manusia berdasarkan keinginanya akan tercapainya saling tolong menolong dan saling pengertiaan serta menghargai antara umat beragama yang beraneka ragam. Smith juga telah banyak berpengaruh besar pada studi ketimuran dan teologi dan telah turut menyemarakkan pentingnya ideology keagamaan. Tidaklah dapat disangkal lagi adanya satu kenyataan bahwa para peminat studi agama-agama harus mengakui kontribusi smith yang sangat luar biasa bagi pemahaman terhadap Islam. Makalah ini merupakan satu usaha untuk mengelaborasi konsep-konsep smith tentang kepercayaan dan kebenaran agama yang sangat krusial bagi studi agama. Juga dikemukakan konsep-konsepnya tentang agama serta kepercayaan kepada agama lain

    Editorial

    No full text

    Muhammadiyah’s Views and Actions on the Protection of Civilians during the Japanese Invasion of the Netherlands Indies, 1941-1942

    Get PDF
    Studies on Muhammadiyah largely ignore Muhammadiyah’s perceptions of war. This study explores Muhammadiyah’s thoughts and practices on the protection of civilians in a so far neglected war, namely Japanese invasion of the Netherlands Indies in 1941-1942. Using historical research method, this study scrutinizes previously unexamined primary sources, the weekly magazine Adil, which was published by Surakarta branch of Muhammadiyah, in editions between 1941-1942. By examining edicts from the Central Board of Muhammadiyah as well as the writings of individuals affiliated with Muhammadiyah published by Adil, this study argues that Muhammadiyah was highly attentive to efforts to protect the civilians in times of war, by basing its thoughts on the interplay between Islamic principles and modern ideas about the rights of non-combatants in battle. Muhammadiyah strongly emphasized that during the war the civilians must be protected by the state. It moreover advised people to build spiritual and mental strength so that they can survive the war and advocated a self-protection of civilians by encouraging every resident of the Indies to help each other during the war. It campaigned for the protection of civilians with various methods and by establishing a special agency to organize the protection efforts. This study elucidates the role of Muhammadiyah in providing information, religious guidance and practical supports to its members and the Indonesian people in general regarding the protection of civilians in a war that finally overthrew European colonial powers in Southeast Asia.Studi-studi tentang Muhammadiyah masih mengabaikan tema persepsi Muhammadiyah tentang perang. Kajian ini mengeksplor pandangan dan tindakan Muhammadiyah terkait perlindungan warga sipil di masa perang, dalam konteks yang selama ini terabaikan, yaitu invasi Jepang ke Hindia Belanda pada 1941-1942. Dengan menggunakan metode penelitian sejarah, studi ini mengkaji sumber-sumber primer yang belum pernah diteliti sebelumnya, yaitu majalah mingguan Adil yang diterbitkan oleh Muhammadiyah cabang Surakarta, di edisi antara tahun 1941-1942. Dengan menelaah maklumat-maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah serta tulisan individu-individu yang berafiliasi dengan Muhammadiyah yang diterbitkan oleh Adil, penelitian ini berargumen bahwa Muhammadiyah menaruh perhatian besar pada upaya melindungi warga sipil di masa perang, dengan mendasarkan pemikirannya pada saling interaksi antara prinsip-prinsip Islam dan ide-ide modern tentang hak-hak non-kombatan dalam pertempuran. Muhammadiyah sangat menekankan bahwa selama perang warga sipil harus dilindungi oleh negara. Selain itu, Muhammadiyah mengajak masyarakat untuk membangun kekuatan spiritual dan mental sehingga mereka dapat bertahan dari perang dan menganjurkan agar warga sipil berupaya melindungi diri mereka sendiri dengan mendorong setiap penduduk Hindia untuk saling membantu selama perang. Muhammadiyah mengkampanyekan perlindungan warga sipil dengan berbagai metode dan dengan membentuk badan khusus untuk menyelenggarakan upaya perlindungan. Kajian ini menjelaskan peran Muhammadiyah dalam memberikan informasi, panduan keagamaan, dan dukungan praktis kepada anggotanya dan masyarakat Indonesia pada umumnya mengenai perlindungan warga sipil dalam perang yang akhirnya menggulingkan kekuatan kolonial Eropa di Asia Tenggara.

    Al-Ta’wīl al-‘Ilmī: Kearah Perubahan Paradigma Penafsiran Kitab Suci

    No full text
    This article tries to describe al-ta'wil al-'ilmī approach as an alternative model of exegeses on text by using Hermeneutic circle which dialogize exactly between paradigms of Bayani epistemology nd paradigm of irfani epistemology.  According to the writer al-ta'wil al-'ilmī cannot be developed on either parallel or linear relation pattern. This is because parallel relation pattern cannot open newly transformable horizon, views and ideas. Each epistemology stops and remains at its own position and has difficulty in dialoging between one kind of epistemology and others. Like a railway, these three epistemologies will remain at each own track and will not meet in a convergent point. Whereas linear relation pattern that assumes that there is finality will trap someone or a group of people on exclusive-polemic-dogmatic situation. Linear relation pattern will regard other kinds of epistemology as not valid. Then, he/she will enforce one of epistemologies that has been habit of mind to be implemented at the expense of inputs from other epistemologies. Therefore, he/she is easily trapped into truth claim, i.e. to regard that it is only its own kind of epistemology that is right, while others are wrong. Contemporary approach of Islamic studies and conventional Ulumuddin is, according to the writer, can only take scholars and students of religious sciences to a choice between one of the two forms of above relation of scientific epistemology. Both forms of choices are less conducive to take to one's Islamic maturity and even to Muslim community as a group. Both are easily trapped into communalism thought, especially if they are faced to problems of socio-religious relations in a pluralistic society. For this reason, this epistemology should be complement with relation pattern of the three existing epistemologies that offer alternative new way of thinking which are reformative, re-constructive and transformable. This is regarded as circular relation, this means that each epistemology of Islamic studies used in Islamic studies can recognize its   limitation and weaknesses and at the same time, can take advantage of inventions offered by other scientific tradition as well as have ability to make up the weaknesses which embody in its own

    Isa and Jesus: A Comparison of the Life of The Prophet Isa in the Qur'an and Christ in the New Testament

    No full text
    Nabi Isa merupakan tokoh yang sangat penting bagi penganut agama-agama Ibrahim, khususnya Islam dan Kristen/Nasrani. Walaupun banyak persamaan hal pada tokoh fenomenal ini, namun tidak sedikit pula perbedaannya. Dari Namanya, masing-masing agama Ibrahim empunyai perbedaan sebutan, Isa, Yesus, dan Yeshua. Konsep masing-masing umat beragama tentang Nabi Isa, putra Maryam, ini juga banyak perbedaannya, misalnya, apakah Isa benar-benar mati disalib atau tidak. Artiel ini berusaha ntuk mendeskripsikan konsep Nabi Isa menurut al-Qur’an dan juga konsep Jesus menurut kitab Injil versi Perjanjian Baru. Gambaran dari kedua kitab Suci ini akan lebih menjelaskan persamaan dan sekaligus perbedaannya. Akhirnya, persamaan dan perbedaan itu harus dipahami dengan baik dan penuh toleran tanpa harus diperselisihkan

    Uslūb al-Kināyah Kaẓāhirah Uslūbīyah Hāmah Fī al-Qur’an al-Karīm

    No full text
    One of the miracles of Qur'an is its wording. Qur'an was revealed in Arabic for the people who had a great on language aesthetics (literature) to convey the message and use various literaly styles. One of them is kinayah.  This article examines the issue of the literary style in Qur'an' kinayah, which is multipurpose. It can be used to depict either human interest or godhead. Kinayah is used, among other things, because of the restriction on language to express certain ideas. As a holy book for human that is valid forever, Qur'an uses kinayah to create new meanings, because the characteristic of kinayah is its possibility to be undersiood from "stem-meaning" (al-ma'na al malzum)point of view and from ”derivative-meaning”(al-ma,na al-lazim)  Point of view.  The derivative meaning that emerged by kinayah, everyone has distinct perceptions based on their own reagolrs. There is a plural sense here that enables the understanding on Qur'an as well as means as a symbol of Qur'anic dynamism all the time.[Salah satu kemukiizatan al-Qur'an adalah redaksi yang digunakannya. Al-Qur’an yang diturunkan  dalam bahasa Arab pada masyarakat yang mempunyai perhatian besar pada keindahan bahasa  (sastra) dalam menyampaikan Pesan-Pesannya, menggunakan gaya bahasa yang sangat variatif. Di antaranya adalah gaya bahasa kinayah. Artikel ini membicarakan fenomena gaya bahasa kinayah dalam al-Qur'an yang digunakan untuk berbagai macam tujuan, baik untuk mengungkapkan masalah-masalah kehidupan manusia, maupun masalah-masalah yang berkaitan dengan sifat ketuhanan. Gaya bahasa kinayah digunakan , antara lain, karena keterbatasan bahasa unfuk mengungkapkan gagasan-gagasan tertentu. sebagai kitab petunjuk bagi manusia yang berlaku sepanjang masa sejak diturunkan, al-Qur'an memanfaatkan gaya bahasa kinayah untuk melahirkan makna-makna baru, sebab ciri bahasa kinayah adalah kemungkinannya unfuk dapat dipahami dari sisi "arhasal" (al-ma,naalmalzum)  dan sisi "arhbaflr" (al-ma'na al-azim) sekaligus.  Tentang arti baru yang ditimbulkan oleh bahasa kinnyah ini, antara sesorang dengan yang lain dapat berbeda .atas dasar alasan masing-masing. Di sini terletak pluralitas makna yang memungkinkan perkembangan pemahaman terhadap al-qur’an, sekaligus juga merupakan tanda dinamika al-Qur'an, yang berlaku sepanjang masa, itu sendiri

    Kontribusi Daerah Aceh terhadap Perkembangan Awal Hukum Islam di Indonesia.

    Get PDF
    This paper tries to trace the contribution of Aceh in the development of Islamic law in lndonesia. so far the study on the early development of Islamic law is rarely carried out. The condition might be influenced by scholars' statement that the school of thought that spread widely in Aceh was shafi'1ryah. The statement seems to be agreed since no study tries to trace the contribution of Aceh in the development of Islamic law in lndonesia. In this paper, the writer try to prove that Shafi,iyyah was not the only school spread in Aceh, but there was shi'ite Islamic law in Aceh. After a deep study, begun with the description of Islamic law, then followed by the arrival of Islam in Aceh, the writer comes to a conclusion that shi'i school come to Aceh before shafi’i. Shafi’i school came and developed after the demolishment of shi'i. This opinion is supported by the traditions of Aceh that still go on. This is also supported by the lineage of perlak sultans. Meanwhile, the writer is involved in the polemic on the existence of shi'ite in Indonesia. The polemic was raised by Azyumardi Azra with his statement that there was no shi'it's influence in Aceh, let alone in Nusantara during 9th century. Azra's opinion could be caused by his fear of local historiography. He said that local historiography is difficult to encounter other sources and historical development. In this paper, the writer encounters Azra's opinion using the book "Tazbira Ṭabagat jumū’Sulṭān as-Salāṭīn. The book explains clearly the date of crowning Perlak's Sultans. Furthermore, the writer found that Perlaks Sultans were the descendants of Shi'ites

    ‘Ikhwān al-Ṣafā’ wa Falsafatuhum al-Siyāsīyya

    No full text
    Ikhwan as-Safa, a group of philosophers which rised in 4th century of Higra or l0th century AD, in Basra, Irak, has attracted many scholars to study their thought, especially their scientific ideas which were compiled on their master piece Rasa'il lkhwan as-Safa wa Khulan al-wafa. This paper tries to raise their notion on political philosophy in regard to the assumption that Ikhwan as-Safa was not merely a group of philosophers whose concerns were purely scientific matters, but also a group of philosophers with political concerns. They dreamt of an idealistic country which they called al-Madina al-Fadilah as a substitute of an evil country, a country filled with evils, corruptions a deviation which they called al-Madina al-Ja'ira. In order to know further their idealistic country, one should understand their concepts of human being, country, leadership and how to choose the leader. These points are discussed here. According to Ikhwan, human being is a social creature. They cannot live alone and autonomous in doing such aspects as trade, industry, science and so forth. For them social life for them is a kind of obligatory, for two reasons. The first is because human being cannot autonomously discover their potentials, whether in scientific aspects or in other aspects of life. The second is the different ability of every single person as well as their natural potentials. This condition leads them to a position in which they cannot master all sciences and skills. Umma or society, according to Ikftwan, is a nation with similarities in language, characteristics, traditions, culture, geography, as well as color of skin and physical posture. The idealistic country for them is a country whose society consist of good people ‘Qaumun akhyarun', philosophers or wise people, and it has rules of social relation among themselves or between them and People of evil country. These criteria must be based on obedience to Allah. Dealing with imama or leadership, Ikhwan sees it as obligatory. Imama should exist, not only for mundane aspects resolving conflict, but also for religious goals. For them a leader (imam) must have their criteria mentioned earlier

    Eontemporary Islamie Renewal in Indonesia

    No full text
    Artikel ini memfokuskan perhatianya pada kajian tentang kebangkitan Kembali dan reinvigurasi Islam dalam kehidupan soeial dan politik di Indonesia sebelum membahas masalah tersebut  Azvumardi Azra mengemukakan serangkaian kebijakan Pemerintah yang keres terhadap umat Islam sehingga menyebabkan terjadinva ketegangan dan konflik antara pihak yang perama dengan pihak yang kedua Di bidang politik, kebiiakan-kebijakan pemerintah sangat ketat  dan keras berkaitan dengan penolakannya terhadap rehabilitasi partai Masyumi, pembersihan terhadap Mereka yang diasosiasikan sebagai penganut politik gerakan Darul Islam/tentara Islam Indonesia, penumpasan gerakan 'Komando Jihad' dan penangkapan terhadap para penentang kebijakan asas tunggal Paneasila.kebijakan pemerintah ini terkesan seolah-olah telah terjadi proses 'depolitisasi' Islam di Indonesra Di bidang kehidupan sosial keagamaan, Pemerintah juga mengambil sikap, ketat dan kebiiakan keras, yang serupa terhadap umat Islam. Hal ini misalnya dapat di lihat dari kebijakan pemerintah ketika mengajukan RUUP (Rancangan Undang-Undang Perkawinan) ke DPR pada tahun 1973. Yang di pandang oleh umat Islam sebagai muatan sekuler karena tidak mengindahkan nilai-nilai perkawinan yang Islami. Kebijakan lain yang diambil Pemerintah adalah mengakui secara resmi dan memasukkan aliran kepercayaan ke dalam GBHN. Yang ditanggapi oleh kalangan lslam sebaqai telah menempatkan aliran kepercayaan itu setingkat dengan agama. Secara pelan tetapi pasti, keadaan tersebut di atas mulai berubah pada akhir tahun 1980-an menyusul penerimaan kebijakan asas tunggal oleh umat Islam. Menurut penulis, faktor-faktor internasional dan domestik telah ikut memberikan kontribusi terhadap terjadinya perubahan ini " Artikel ini lebih mengkonsentrasikan  untuk menyoroti indikator-indikator internal bagi munculnya Kembali lslam kultural ini dapat disebut antara lain  pembentukan Yayasan Amal Bhakti muslim Pancasila, pengiriman da'i ke daerah-daerah transmigrasi, pembentukan Bank Mu'almalat. Maraknya pembentukan kelompok-kelompok remaja maslid, merebaknya kajian-kajian Islam di berbagai kampus Perguruan tinggi, Meningkanva jumlah umat lslam yang menunaikan haji dan berkembangnya aktivitas-aktivitas dakwah dan pengajian-pengajian baik di kalangan masyarakat umum maupun di kalangan para birokrat dan para eksekutif. Reinvigorasi Islam di bidang politik ditandai dengan pembentukan ICMI (lkatan Cendekiawan Muslim se-lndonesia) yang pendirianya mendapat persetujuan dan restu dari Presiden Soeharto sendiri Banvak tokoh-tokoh ICMI yang mendapatkan posisi-posisi penting dalam jabatan politik dan pemerintahan. Indikator-indikator di atas, dalam pandangan penulis, merupakan tanda-tanda yang baik bagi kebangkitan Kembali islam untuk menuju kearah kebangkitan yang sebenarnya adalah bagaimana menghilangkan. paling tidak mengurangi  anggapan entusiasme agama dan praktik-praktik sosial pada dataran kehidupan nyata. Hal ini penting disadari oleh umat Islam. karena masih banvak praktik yang tidak Islami yang harus dihadapi dan ditanggulangi oleh mereka seperti korupsi. ketidakadilan, penvalahgunaan kekuasaan. dan etos sertadisiplin kerja yang lemah. Oleh karena itu, menurut penulis, jika umat Islam benar-benar serius untuk membangkitkan kembali lslam dan umatnya, mereka harus membangun suatu korelasi yang lebih baik antara entusiasme agar mereka dengan kerja-kerja sosial pada dataran kehidupan nyata. Jika tidak, revivalisme Islam dalam arti yang sesungguhnya hanya akan merupakan suatu illusi

    A profile of The ‘Ulamā’ In Acehnese Society

    Get PDF
    Melalui artikel ini penulis memaparkan profil, yakni karakteristik umum, potret, pendidikan, pandangan hidup serta gaya hidup keseharian ulama dalam masyarakat Aceh. Sebenarnya ulama Aceh dapat dipilah ke dalam beberapa tipe dan kategori, diantaranya ulama tradisional dan ulama pembaharu, dan artikel berikut lebih berkonsentrasi pada profil ulama tradisional yang dalam beberapa hal masih bersifat monolitik, dibandingkan dengan ulama pembaharu yang lebih variatif.  Dengan teliti dan menarik penulis menjelaskan model-model pendidikan ulama tradisional yang dilangsungkan di lembaga pendidikan agama yang disebut dayah. Tercakup di sini adalah corak-corak kehidupan dalam dayah dari masa ke masa dan dari satu wilayah ke wilavah vang lain.  Pandangan hidup para ulama tradisional, karena dikutuk oleh model pendidikan di dayah yang sangat terbatas, juga menjadi spesifik, misalnya, menghindari penggunaan akal dalam memahami teks agama (Qur'an hadits). Namun, karena kesalehannya, Para ulama tradisional mendapat penghormatan yang tinggi dari masyarakat sekitar

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇