Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
878 research outputs found
Sort by
Sir Sayyid Ahmad Khan
Sir Sayyid Ahmad Khan lahir 17 Oktober 1817 di Delhi. Dia berasal dari keturunan Husin, cucu Nabi Muhammad saw. Leluhurnya dari jazirah Arab melarikan diri ke Iran, kemudian pindah ke Afganistan. Diantara keluarganya, berangkat ke india dimasa pemerintahan Syikh Jahan (1628-1666), AKHIRNYA DIANTARA MEREKA DAPAT MEMEGANG JABATAN PENTING DALAM PEMERINTAHAN ITU. Neneknya Bernama Sayyid Hadi adalah pembesar istana dimasa raja Alamghir II. Ayahnya, Mir Muttaqi seorang yang banyak bergaul dengan orang-orang sufi, dan anggota perserikatan rahasia (mistik), dan mempelajari buku agama untuk membersikan jiwa dari dosa. Perserikatan mistik seperti ini, cara berfikirnya lebih bebas, yang mana rupa-rupanya mempengaruhi cara berfikir anaknya kelak. Sedangkan ibunya seorang perempuan Islam, keturunan bnagsawan, berbudi tinggi, berpendidikan baik, dan sangat benci kepada takhayul-takhayul. Sir Sayyid Ahmad Khan dimasa mudanya belajar pengetahuan agama, bahasa Arab, Bahasa Persi dan berhitung. Dia sangat rajin membaca buku berbagai ilmu pengetahuaan. Disamping itu dia juga belajar memanah dan berenang pada ayahnya
Snouck Hurgronje & Studies of Islam
Dalam rangka memperingati 100 tahun lahirnya Snouck Hurgronje (lahir 8 Februari 1857), Universitas Leiden pada tanggal 10 Februari 1957 mengadakan suatu upacara bertempat diruangan audiensi kotapraja Leiden. Di dalam upacara tersebut dikemukakan suatu ceramah mengenal Snouck Hurgronje yang berhubungan dengan kegiatannya dalam bidang Islamic Studies yang disampaikan oleh Prof. Dr. G.W.J Drewes yang pada waktu itu menjadi Guru Besar Islamic Studies di Universitas Leiden. Bagi Universitas Leiden nama Snouck Hurgronje merupakan kebanggaan mereka karena sarjana Belanda yang kenamaan ini telah memberikan sumbangan yang sangat besar dalam lapangan ilmu pengetahuaan Islam, yang kegunaannya bukan saja dinikmati oleh kalangan universitas tetapi juga pemerintah Belanda yang sengaja memanfa’atkan hasil-hasil research Snouck Hurgronje untuk tujuan-tujuan penetrasi politik kolonialnya di Hindia Belanda. Walapun demikian Riwayat hidupnya belum banyak diungkapkan oleh orang-orang Belanda, karena mereka lebih tertarik kepada hasil-hasil karyanya daripada menyelidiki latar belakang kehidupan pribadinya akibatnya sarjana-sarjana Belanda sekarang mengeluh karena mereka tidak dapat menyelami Riwayat hidup pribadi Snouck Hurgronje secara terperinci
New Lights on Prophecy-Pretending and Mimetic Religions in Medieval Islamic North Africa
This paper addresses the proliferation of prophetic movements and mimetic religions in medieval Islamic North Africa, focusing on the Barghwāṭa and Ghumāra tribes. It critiques medieval Arabic and Orientalist terminologies used to explain this complex issue, arguing that they fail to capture the dynamics of these movements. The paper introduces the concept of mimetic religion to interpret localized prophetic movements that emerged on the periphery of the established religion, namely Islam, retaining its structure while presenting parallel, rather than counteractive, religio-cultural projects. Drawing on primary sources, it highlights how misrule and exploitative practices by early conquerors fueled North African resistance, leading to revolutionary and prophetic movements. It challenges both medieval historiographical reductions of these movements to sectarianism and modern interpretations shaped by French colonial Orientalism, which often reduced them to ethnic or religious conflicts between Arab-Muslim conquerors and indigenous North Africans. By analyzing primary sources and questioning Orientalist biases, the paper emphasizes the interplay of political, economic, social, and cultural factors in shaping North African religious settings. Ultimately, it defines new boundaries for re-contextualizing and re-interpreting mimetic religion as expressive of a complex texture framing religious, cultural, and social nomenclature rooted in local North African indigenous heritage. [Makalah ini membahas proliferasi gerakan-gerakan kenabian dan agama-agama mimetik di wilayah Afrika Utara abad pertengahan, dengan fokus pada suku Barghwāṭa dan Ghumāra. Studi ini mengkritisi terminologi Arab klasik dan orientalis terkait persoalan yang kompleks ini, dengan kesimpulan bahwa terminologi tersebut gagal menangkap dinamika gerakan yang terjadi. Konsep agama mimetik diperkenalkan untuk memahami gerakan-gerakan kenabian lokal yang berkembang di samping agama yang mapan, yaitu Islam, dengan mempertahankan struktur dasar, namun membawa konsep religio-kultural yang sejajar tanpa mengambil posisi kontradiktif. Berdasarkan sumber-sumber primer, tulisan ini menunjukkan bahwa ketidakadilan pemerintahan dan praktik eksploitasi oleh para penakluk awal turut memicu perlawanan di Afrika Utara yang kemudian melahirkan gerakan-gerakan revolusioner dan kenabian. Penulis menolak reduksi historiografi abad pertengahan yang memandang gerakan-gerakan tersebutsebagai bentuk sektarianisme semata, sekaligus menolak interpretasi modern a la orientalisme kolonial Prancis, yang menyederhanakan gerakan-gerakan tersebut menjadi konflik etnis atau agama antara penakluk Arab-Muslim dan masyarakat pribumi Afrika Utara. Tulisan ini menekankan pentingnya interaksi antara faktor politik, ekonomi, sosial, dan budaya dalam membentuk lanskap keagamaan di Afrika Utara. Agama mimetik adalah ekspresi dari tekstur kompleks yang membingkai nomenklatur religius, kultural, dan sosial yang berakar pada warisan budaya lokal masyarakat pribumi Afrika Utara.
Dari Ijtihad Fardi Menuju Ijtihad Jama’i
Arti Ijtihad menurut Bahasa, Ijtihad berarti “pencurahan segenap kesanggupan untuk mendapatkan sesuatu dari berbagai urusan atau perbuatan”. Menurut istilah kebanyakan ahli ushul, Ijtihad berarti “Pencurahan segenap kesanggupan (secara Maximal) untuk mendapatkan sesuatu hukum syara’ yang dhanni sifatnya, maksudnya hukum yang ditetapkan berdasarkan dalil nash yang dhanni, baik Tsubut maupun dalalahnya, yakni: 1.1. Hadis Ahad. Ijtihad disini sebelum menetapkan hukumnya, menyelidik. Dulu tentang sanadnya dan dapat tidaknya untuk dijadikan dasar hukum. 1. 2. Ayat Al-Qur’an yang dalalah lafadnya dhanni, ijtihad disini mencari tafsir atau ta’wilnya, mencari makna yang dimaksud, mencari apakah ada pertentangannya dengan ayat lain atau menentukan ‘aam dan khasnya. Berkenaan dengan dalil yang bersifat dhanni ini dapat diterangkan pula bahwa kedudukan ijtihad itu sendiri adalah dhanni sifatnya, sehingga hasilnyapun dhanni. Sekalipun pengertian ijtihad itu begitu umum, namun dalam pelaksanaannya ada yang mengartikan ijtihad itu dalam arti sempit, seperti yang diberikan oleh Imam Asy Syafi’I dalam Arrisalah, bahwa ijtihad itu satu makna dengan Qias
Pengaruh Tasauf dalam Kesusastraan Jawa
Sesudah wafatnya sultan Agung Anyokrokusumo, kerajaan Mataram kemudian diperintah oleh putranya yang bergelar amanbkurat (1645-1677). Dalam masa pemerintahannya timbul pemberontakan yang dipimpin oleh trunojoyo dari Madura yang dibantu oleh Karaeng Galesong dari Makasar, Amangkurat dengan bantuan tantara kompeni (Belanda) tidak sanggup mengatasi pemberontakan ini, bahkan Trunojoyo mendapat bantuan pangeran Kajoran dari Mataram yang tidak puas terhadap pemerintahan Amangkurat. Dalam tatun 1677 Amangkurat wafat dan diganti oleh putranya yang bergelar Amangkurat II yang memerintah sampai tahun 1703. Pemberontakan Trunojoyo yang selain mendapat bantuan pangeran Kajoran juga dibantu oleh Pangeran Puger dan Pangeran Giri akhirnya bisa dihancurkan oleh Amangkurat II dengan bantuan Belanda 1670. Sebagai upahnya seluruh daerah pesisir utara terpaksa digadaikan kepada Belanda (kompeni), dan kemudian ibu kota kerjaan dipindah keKartosuro oleh Amangkurat I
Gerakan-Gerakan Pembaharuan Dalam Islam
Didalam Sejarah kita melihat munculnya sekte-sekte dalam Islam, dan selama dua setengah abad sebelum lahirnya golongan sunni seseorang pada hakikatnya tidak dapat berbicara apakah itu kebangkitan (revival) atau atau pembaharuaan (reform), sebab kedua kata ini secara logika baru bisa diperkatakan sesudah golongan sunni lahir sebagai suatu Gerakan yang formatif. Walaupun demikian keliru sekali apabila dikatakan bahwa golongan sunni timbul sesudah terjadinya perjuangan yang Panjang dalam bidang politik, ide-ide moral dan tujuan-tujuan spirituil. Sebab ide-ide moral dan pendapat-pendapat mengenai sprirituil sudah ada jauh sebelumnya sesudah Rasulllah meninggal dunia. Pendapat-pendapat yang dikemukakan pada waktu itu ialah apakah orang-orang Islam harus mempunyai negara sendiri, dan jikalau memang perlu bagaimana dan susunannya; apakah masyarakat islam didasarkan kepada toleransi atau eksklusivisme; bagaimana bentuk ekonomi yang dinamakan ekonomi Islam; apakah tiap-tiap orang mempunyai kebebasan dan bertanggung jawab, atau apakah Gerakan-gerakan yang akan dilakukannya ditetapkan lebih dahulu sebelumnya; bagaimana masyarakat akan memutuskan sesuatu pendapat didalam suasana kelompok melalui ijma’ atau apakah pendapat-pendapat yang dikeluarkan itu cukup ditentukan oleh imam itu saja yang dianggap tidak pernah salah. Semua masalah ini timbul pada waktu itu dan dalam beberapa hal berhasil dijawab pada masa itu pula
Sayyid Ahmad Syahid Gerakan Mujahidin
Sayyid Ahmad Syahid (bisa disebut Sayyid Ahmad), lahir di Rae Bareli (Barelawi), dekat Lucknow India, pada tahun 1786 M dan wafat pada tahun 1831 M. sewaktu masih muda ia pernah menjadi anggota pasukan berkuda (Kavaleri) Nawab Amir Khan. Disini ia memperoleh pengetahuaan dan pengalaman militer yang dikemudian hari sangat berguna baginya dalam memimpin Gerakan Mujahiddin. Kemudian ia keluar dari dinas militer dan pergi ked elhi untuk belajar pada Syah Abdul Aziz setelah Nawab Amir Kahan berdamai dengan penguasa Inggris di India. Setelah merasa mempunyai pengetahuaan agama yang cukup, ia mulai berdakwah di depan umum, sehingga Namanya mulai popular. Daerah operasi berdakwah meliputi kota delhi dan daerah-daerah yang jauh dari ibu kota, misalnya didaerah Kampur dimana tinggal orang-orang Afganistan dan di Kalkuta. Ia mengarang buku yang diberi nama “Shirathlm Mustaqim” yang penyusunnya banyak dibantu oleh murid-muridnya. Isi buku tersebut kebanyakan berisi pemikiran-pemikiran pembaharuaan yang menunjang pemikiran-pemikiran pembaharuan yang telah dirintis oleh Syah Waliyullah
Perguruan Tinggi Sebagai Medan Bakti Untuk Lebih Meningkatkan Pembinaan Kesatuan Bangsa
Syukur Alhamdulillah bahwa Studi Purna Sarjana (SPS) Dosen-Dosen IAIN se Indonesia Angkatan ke IV dapat dibuka pada pagi hari ini. Mengapa “Ilmu Sejarah” dan mengapa “Ilmu Filsafat” yang diberikan dalam SPS ini, telah pernah kami berikan alas an-alasannya pada pembukaan SPS-SPS yang lalu. Bahkan methodologinya juga sudah kita bahas; dan SPS methodologi penelitian Agama itu akan terus dibahas dan disempurnakan. Oleh karena itu, semua itu tidak akan kami uraikan disini. Peningkatan Pembinaan Kesatuan Bangsa. Satu hal yang kami rasa harus mendapat perhatiaan kita Bersama, terutama bagi kita yang memilih perguruan tinggi sebagai medan baktinya, ialah usaha kita Bersama untuk lebih meningkatkan pembinaan kesatuan bangsa. Kesatuan bangsa yang utuh dan tunggal harus kita bina. Tanpa kesatuaan yang utuh dan tunggal, “Indoonesia” tidak ada artinya sama sekali. Jangankan kita akan bicara soal pembangunan! Pembangunan hanya akan merupakan omongan yang kosong belaka, tanpa adanya kesatuan bangsa yang utuh dan tunggal itu
Ajaran-Ajaran Pokok Filsafat Existensialisme
Filsafat Existensialisme merupakan aliran filsafat modern yang bukan saja tokoh-tokohnya terdapat beberapa dari beberapa negara, tetapi ada diantaranya yang tidak mengakui dirinya sebagai existensialist. 1) oleh karena itu maka perytentangan atau ketidak-samaan ajaran-ajaran exixtensialisme bukan suatu hal yang tidak mungkin. 2) itu, sudah merupakan suatu mas’alah tersendiri dalam membahas filsafat existensialisme, sehingga dari kesemuanya itu merupakan ketekunan dalam mempelajarinya. Apabila filfat pada umumnya mempersoalkan tentang tuhan, macrocosmos, microcosmos, maka filsafat Existensialisme dalam kenyataannya memusatkan pikirannya pada microcosmos. Manusia memikirkan dirinya siapa dia dihadapan macrocosmos dan Tuhan. 3) dalam hal itu, agama mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, dengan ditunjang oleh kenyataan bahwa manusia kurang mampu dalam berhadapan dengan lingkungannya, dalam pengertian inklusif dengan sesamanya sendiri. Lebih jauh dari itu, manusia menghadapi kenyataan bahwa seseorang akan berakhir hidupnya pada saat yang tidak dapat diketahui kapan, namun pasti