Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    Religious Thought In Indonesia An Overview

    Get PDF
    Indonesians, like other people in different parts of the world, are religious people. Different religions and beliefs, whether revealed or non­revealed, have been embraced and practised with full conviction from time immemorial. This is because, on the one hand, being religious is a particular characteristic of man and, on the other hand, man needs religion. Men live in this world in uncertainty and dependency. This is true not only of primitive and developing societies, but of developed societies as well. In addition, there always emerge problems of destiny, suffering, and death.This fact is further aggravated by the fact that the discrepancy between expectation and actual happenings in society is quite significant It is too frequent that not good but bad men succeed. In this situation, religion is considered a way of making sense of the world which is increasingly difficult to make sense of. With religion men can patiently bear suffering and misfortune; with religion men can legitimate the good fortunes they have. Indeed, "religion has been the historically most widespread and effective instrumentality of legitimation (because) ... it relates the precarious reality constructions of empirical societies with ultimate reality,"1 With religion men can resolutely accept their failure; and with religion men can enjoy their victories the way they should. In sum, religion is able to create power in men. Men who have just communicated with God will feel stronger both in bearing suffering and in conquering it in other words, religion is a means of coping with the world. The importance of religion has officially been recognized by the Indonesian Government since the proclamation of the independence of the Republic of Indonesia as shown in the first principle of Pancasila (Five Principles)2, the national ideology. This paper will discuss the Indonesian Government's view on religion, the general views of Muslims on religion and politics, and the Qur'ān's view on religion

    Historiografi Islam Di India Pada Awal Abad Ke-20 (Dua Pendekatan Terhadap Sejarah Islam) Tinjauaan terhadap karya anis ahmad, Two Approachs to Islamic History: A Critique of Shibli Nu’mani and Syed Ameer ‘Ali Intepretations of History, Doctor of Philosophy Dissertation (Temple University, 1980)

    No full text
    Karya Anis Ahmad ini adalah disertasi untuk memperoleh gelar doctor dari Temple University Amerika Serikat pada tahun 1980, kemufdian naskah digandakan oleh University Microfilms Internasional Ann Arbor, Michigan Amerika Serikat dalam bentuk Xerography tahun 1986. Penulis tinjauan ini belum mendapatkan informasi, apakah naskah disertasi ini sudah diterbitkan. Menurut penulis disertasi ini, bahwa abad ke 20 bagi seorang ahli sejarah agama, menunjukkan fenomena khusus. Abad ini secara umum menunjukan suatu kebangkitan Islam dari Marokko dan Kazakhstan sampai ke Mozambique dan Indonesia. Apabila melihat kepada factor-faktor yang menyebabkan adanya kebangkitan ini, maka Nampak adanya suatu konflik antara kekuatan-kekuatan “tradisionalisme’’, pengikut ajaran yang setia dan taat kepada Quran dan Sunnah dan “Liberalisme”, Westernisasi dan Sekularisasi. Pada awal abad ke 20, pemikiran agama di anak benua India, Shibli dan Ameer Ali dianggap oleh umat Islam mewakili kedua aliran ini. Karena itu menurut Anis Ahmad dan Ameer Ali terhadap sejarah Islam, dengan memusatkan perhatiannya terhadap pemikiran agama dari kedua pemikiran Islam tersebut.

    Filsafat dan Syari’ah dalam Pemikiran Ibnu Rusyd (1126-1198)

    No full text
    Ibnu Rusyd mempunyai posisi tinggi dalam sejarah filsafat, dan posisi itu bahkan multi segi. Penerjemahan komentar-komentarnya terhadap ariestoteles ke dalam Bahasa latin antara tahun 1217 dan 1256 telah meneguhkan popularitasnya di dunia filsafat sebagai” komentator Aristoteles yang tiada duanya”. Komentar-komentar itu segera menjadi sumber pokok untuk mempelajari Aristoteles sejak waktu itu hingga akhir abad ke-16. Salah satu hasil langsung dari penerjemahan komentar-komentar tersebut adalah bahwa buah pemikiran ibnu rusyd kemudian menjadi bagian dari warisan aristotalian di Eropa Barat. Namun demikian “nasionalis” terhadap tokoh paripatetik muslim  terbesar ini harus dilakukan dengan hati-hati. Penonjolan perannya dalam keikutsertaan menafsirkan warisan Aristotalian itu telah memalingkan perhatian dari peran yang dimainkannya dalam mencari penyelesaiaan masalah perdamaiaan antara filsafat dan syari’ah, yang justru di sini komitmen intelektualnya yang paling dalam ditonjolkan. Pemikiran keagamaan Ibnu Rusyd terkandung dalam tiga maqnum opus, yaitu Tahāfutu, t-Tahāfut, yang disusunnya sekitar tahun 1180, faṣlu ‘l-maqāl fi mā Baina al-Ḥikmah wa ‘sy-Syarīáh min al-Ittisal dan al-Kasyaf ‘an Manāhij al-adillah. Kedua karya terakhir ini disusunnya beberapa waktu sebelum menyusun karya pertama. Ketiga buku ini merupakan corpus yang sangat penting dalam usaha usaha melacak inti pemikiran yang khas Ibnu Rusyd, bahkan juga perkembangan pemikiran islam secara umum, dalam masalah hubungan antar filsafat dan Syari’ah

    Prawacana

    Get PDF

    Orientalisme dan Oksidentalisme (Suatu Agenda Masalah)

    Get PDF
    Diskusi tentang Orientalisme dan Oksidentalisme dikalangan intelektual Islam bukan suatu yang asing akan tetapi segera akan terasakan, bahwa Orientalisme dan Oksidentalisme tidak selalu dihayati dalam citra yang sama, dipahami menurut pengertian yang sama, atau dibicarakan dengan memakai idiom-idiom yang sama. Perbedaan­perbedaan ini selain menyangkut variasi dalam aksentuasi juga melibatkan perbedaan logika, baik yang menyangkut kerangka konseptual, maupun berkenaan dengan lingkup minat dan kepentingan masing-masing. Persoalan akan timbul dan perbedaan akan terasa jika Orientalisme dan Oksidentalisme tidak sekedar dipandang sebagai suatu kajian ilmiah, tetapi dihadapkan sebagai "objektif'. Orientalisme dan Oksidentalisme sebagai kenyataan objektif, bagaimana keduanya didefinisikan? Adakah prasangka yang membayangi? Perlu dikemukakan terlebih dahulu, bahwa tulisan ini ingin mengambil posisi problematis, dan yang diusahakan disini adalah mencari agenda persoalan. Siapa tabu, posisi yang demikian itu akan lebih mengacu respons dan kritik yang akan berguna bagi kita. Pada jaman mutakhir ini Iiteratur keislaman dibanjiri oleh bahan-bahan dalam berbagai bahasa Barat yang kaya. Negeri-negeri Muslim bekas jajahan Inggris misalnya, kini sangat produktif dengan karya-karya penting. Ini merupakan keuntungan tersendiri bagi kaum Muslim yang tidak mengenal bahasa Inggris, dan bisa menjadi sebab semakin melebamya jurang intelektual antara yang tersebut terakhir ini dengan yang pertama. Jadi merupakan tantangan metodologis tersendiri bagi mereka dalam kajian keislaman

    Sepuluh Wasiat (Wahyu Allah dalam Perjanjian Lama dan Al-Qur’an)

    Get PDF
    Yahudi, Nasrani dan Islam adalah tiga agama bersaudara kandung, berasal dari satu sulbi, sulbi Ibrahim. Tetapi kondisi hubungan sejarah ketiganya selalu dalam keadaan konfliks. Konfliks mereka bukan Cuma kontliks teologis, tapi juga ideologis, sosiologis dan kultural. Kondisi eksklusifisme dan intolerance, rasa curiga dan permusuhan, telah berpuluh abad mewarnai hubungan mereka, dan merupakan warisan sejarah yang masih tersisa sampai sekarang. Banyak faktor penyebab semuanya itu, salah satunya adalah klem yang sangat dominan dari masing-masing tentang otentisitas atau orisinalitas wahyu yang dimiliki sebagai dasar yang memiliki otoritas tertinggi, dan keabsolutan kebenaran masing-masing. Terjadi perebutan mati-matian dan tidak henti-hentinya untuk menempati posisi paling puncak oleh masing-masing sepanjang sejarah, semenjak ketiganya saling bersentuhan. Wahyu adalah isyarat atau petunjuk yang diturunkan Allah secara langsung kepada nabi-nabi-Nya, atau dengan perantaraan malaikat untuk kepentingan rnanusia mengenal Tuhan, Alam, Diri Sendiri, dan Niiai dalam hidup dan kehidupannya. Oleh sebab itu gagasan wahyu ini adalah menembus, mencerahkan dan memberi makna bagi seluruh realitas kongkrit, menjadi representasi peraturan sentral kaum yahudi, masehi dan Islam, serta mendominasi seluruh sejarah masyarakat yang tersentuh olehnya

    Kata Pengantar

    Get PDF

    Dialectic of Religion and National Identity in North Sulawesi Jewish Communities in The Perspective of Cross-Cultural and Religious Psychology

    Get PDF
    This study aims to explore how theology and culture influence the national attitude and behavior of Jews in North Sulawesi. The question arises because of Judaism teaching on Promised Land, an always-longed place by the Jews of the diaspora country. The qualitative study employs purposive sampling by using the Cross-Cultural and Religious Psychology approach. It relied on interviews from Jews prominent figures and its followers in North Sulawesi and was complemented by the non-Jews religious leader, documents, and literature. Data analysis consists of data reduction, exploration, and verification. The last step was data contextualization by combining field and library research data. The study found that Jews in North Sulawesi harbored a longing for the Promised Land, but it did not prevent the growth of their nationalism spirit and loyalty to the Republic of Indonesia. Furthermore, their firm nationalism to Indonesia, and the objective approach to the Promised Land proofing their loyalty to the Torah. This research also discovered, behind the exclusive impression of Jews, their teachings there had a very pluralist and inclusive vision. The study concludes, the assumption that Jews in North Sulawesi will face loyalty problem to the Republic of Indonesia appear unproven, because they can interpret their faith flexibly and rationally.  [Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana teologi dan budaya mempengaruhi sikap dan perilaku nasionalisme orang Yahudi di Sulawesi Utara. Pertanyaan itu muncul karena Yudaisme memiliki ajaran tentang Tanah Perjanjian, tempat yang selalu dinanti oleh orang-orang Yahudi di negara diaspora. Penelitian kualitatif ini menggunakan purposive sampling dengan menggunakan pendekatan Psikologi Lintas Budaya dan Agama. Pengumpulan data mengutamakan wawancara dari tokoh-tokoh Yahudi dan pengikutnya di Sulawesi Utara dan para tokoh agama non-Yahudi, kemudian dilengkapi dengan dokumen, dan studi literatur. Analisis data terdiri dari reduksi data, eksplorasi, dan verifikasi. Langkah terakhir adalah kontekstualisasi data dengan menggabungkan data penelitian lapangan dan perpustakaan. Studi ini menemukan bahwa orang-orang Yahudi di Sulawesi Utara menyimpan kerinduan akan Tanah Perjanjian, tetapi itu tidak menghalangi pertumbuhan semangat nasionalisme dan kesetiaan mereka kepada Republik Indonesia. Lebih jauh lagi, nasionalisme mereka yang kuat terhadap Indonesia, dan pendekatan objektif terhadap Tanah Perjanjian membuktikan kesetiaan mereka kepada Taurat. Penelitian ini juga menemukan, di balik kesan eksklusif orang Yahudi, ajaran mereka di sana memiliki visi yang sangat pluralis dan inklusif. Studi ini menyimpulkan, anggapan bahwa orang Yahudi di Sulawesi Utara akan menghadapi masalah kesetiaan kepada Republik Indonesia tampaknya tidak terbukti, karena mereka dapat menafsirkan iman mereka secara fleksibel dan rasional.

    Islamic Calligraphy in Batik Medium Contemporary of the Indonesian Islamic Fine Art

    Get PDF
    Paper ini menyoroti mengenai Kaligrafi Islam dalam karya-karya batik.  Kaligrafi merupakan karya seni menulis indah bahasa Arab yang sudah ada sejak kemunculan Kerajaan Islam pertama di ]awa, Kerajaan Demak.  Kaligrafi pada masa ini dipercaya mempunyai kandungan magis. Kaligrafi berbentuk manusia seperti bentuk Semar, satu tokoh dalam pewayangan, salah satu contoh kaligrafi Islam yang mempunyai efek magis. Penerimaan umat Islam terhadap kaligrafi Arab ini memunculkan digunakannya berbagai macam alat, teknik dan jenis media kaligrafi. Namun, dalam keragaman ini ada kesamaan dalam kata-kata yang digunakan yaitu yang mempunyai kandungan keindahan spiritual, kebijaksanaan, dan keagungan' Ala dua jenis kaligiafi yaitu kaligrafi tulis tangan dan kaligrafi gambar' Kaligrafi jenis pertama merupakan ekspresi seni tulis huruf Arab yang sudah diwariskan oleh generasi-generasi pendahulu. Dalam kaligrafi ini, kebebasan hanya pada pemilihan materi dan alat tulis, tetapi harus sesuai dengan standar kaligrafi seperti naskhi, farisi, diwani, rihyani, riq'iy dan kufi.  Sedangkan kaligrafi lukis membolehkan pengembangan jenis-jenis huruf Arab secara elastis sesuai dengan ide dan imajinasi para pelukisnya. Kedua ienis kaligrafi ini juga menggunakan media dan alat yang berbeda. Lebih jauh, penulis menguraikan peran estetik kaligrafi batik. Batik tidak hanya berfungsi sebagai pakaian tetapi juga merefleksikan status sosial. Batik-batik tertentu seperti Parang Barong,Udan Liris, Cemukiran atau Parang Rusak,  menyimbolkan status yang tinggi sehingga dapat dipakai oleh para bangsawan maupun raja. Alat-alat batik juga menyimbolkan makna keagamaan. canting yaitu alat untuk melukis batik, misalnya, mempunyai arti firman-firman Tuhan. Tungku atau alat pemanas bahan batik mempunyai arti alam kecil (alam Shagir). Arang yaitu bahan untuk dibakar, mempunyai arti Kekuasaan Allah ,(Qaharullah). Sedangkan asapnya mempunyai arti Nabi Allah (Nabiullah).  Dalam paper ini juga dikemukakan Proses pembuatan Kaligrafi Batik. Selain hal-hal yang disebut diatas, perlengkapan pembuatan batik lain adalah isen vaitu untuk memperkaya tekstur batik. Sedangkan untuk memperkaya efek keindahan digunakan antara lain uwer (lingkaran), cecek (titik-titik), temukan  (pecahan), ombak, dan wajik (segitiga). Teknik yang digunakan antara lain, teknik hitam-putih dan teknik sedikit demi sedikit (step by step)

    Editorial

    Get PDF

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇