Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
878 research outputs found
Sort by
John G. Finch Symposium ‘’Obat-obat Bius dan Pengalaman Keagamaan” (suatu Refleksi Qur’ani)
Penelitian tentang gejala-gejala keagamaan merupakan salah satu kepentingan psikologi Amerika sejak G. Stanley Hall. Penelitian tentang itu menarik perhatian banyak sarjana terkemuka, namun tidak banyak kemajuan yang dicapai. Di antara sebab-sebabnya ialah keraguan sarjana psikologi untuk memasuki daerah yang dianggap "keramat" itu dan juga karena kurangnya upaya-upaya eksperimental untuk meneliti agama. Keberanian Walter Houston Clark yang istimewa dalam bidang ini disamping gembira. Keterlibatannya yang lama dalam bidang ini membuahkan hasil dengan terbitnya The Psychology of Religion dalam tahun 1958. Terbitannya setelah itu ialah Chemical ecstacy: psychedelic Drugs arul Religion (l%9). Kemudian,pada tahun 60-an John G. Finch merasakan perlunya pembekalan bagi tenaga-tenaga psikoterapis yang berwawasan Kristiani.Tetapi Finch melihat tidak ada kurikulum yang mengarah ke wawasan itu di Amerika Serikat. Akhirnya, dalam suatu rangkain ceramah di Fuller Theological Seminary, dia mengusulkan pendirian suatu School of Psychology yang akan menghubungkan agama dan psikologi bagi pembekalan tenaga-tenaga psikologi klinis. Atas peranannya, 2 tahunkemudian dibukalah Graduate School of Psychology pada tahun 1965.
Spiritualitas Dan Kesusastraan Indo-Muslim
Barangkali reaksi pertama yang timbul dalam pikiran seorang barat Ketika mendengar kata “India” adalah Taj Mahal, karena Taj ini dipandang sebagai pengejahwantahan dari keindahan india. Orang yang tertarik kepada sejarah agama mungkin akan berfikir bahwa Upanishad adalah ungkapan kearifan tertinggi, sejak Anquetil-Duperron menerjemahkannya ke dalam Bahasa lain pada tahun 1801. Tetapi sedikit orang yang mengetahui bahwa Taj Mahal adalah suatu karya seni Islam dan terjemahan Upanishad dalam Bahasa Persia, yang menjadi dasar terjemah Anquetil-Duperron, adalah karya Dārā Shikoh, serang putra mahkota Imperium Mughal yang cenderung kepada mistik, yang dieksekusi oleh adiknya, Aurangzeb, pada tahun 1069/1659 karena dianggap telah menyimpang. Kedua pangeran tersebut termasuk diantara 14 putra Mumtāz Mahal, yang untuk mengenang dirinyalah Taj Mahal itu dibangun, dari suaminya Shahjahan, penguasa Mughal kelima dari keurunan Timur di India.
Penokohan dan Latar Al Karnak (Pengenalan Awal Karya Najib Mahfuz)
Pertumbuhan sastra Arab modem yang kita kenal sekarang, memasuki kawasan Timur Tengah menjelang akhir abad ke-19. Sebelum itu, yakni sekitar abad ke-17 dan ke-18 bangsa-bangsa dikawasan tersebut, tampaknya sedang tidur nyenyak, kalau tidak akan dikatakan sedang pingsan, dalarn arti politik, agama dan kebudayaan. Dan bersamaan dengan itu pula kuku-kuku penjajahpun mulai mencekam, satu persatu mereka jatuh ketangan penjajah, terutama Prancis dan Inggis. Sudah barang tentu, setiap penjajah meninggalkan pengaruh budaya yang negatif dan positif bagi bangsa yang dijajah. Kalau dilihat segi positifnya dapat ditandai pada adanya kontak budaya dan akulturasi. Dan salah satu sisi pengaruh barat tersebut terlihat pada pertumbuhan dan perkembangan Sastra Arab modem sekarang ini terutama dalam bidang methode teori dan aliran kesusasteraan baik jenis novel, drama, cerita pendek, puisi maupun kritik sastra, termasuk novel Al-Karnak Karya Najib Mahfuz ini. Banyak karya novelis ini yang mula-mula berlatar belakang sejarah Mesir purba dari dinasti Firaun, tetapi dalam karya-karyanya yang kemudian ia lebih akrab dengan tokoh-tokoh dan peristiwanya dari kenyataan hidup sehari-hari masa sekarang, berupa kritik- kritik sosial, politik termasuk kritik-kritik dalam partai-partai politik seperti yang diterangkannya dalam Al-Karnak. Untuk sekedar pengenalan awal, makalah ini menyajikan novel AlKarnak lewat penokohan dan latar dalam upaya awal memahami, menikmati dan merenungkan karya-karya novelis kontroversial ini. Bagi orang yang kurang memahami Najib Mahfuz, karya-karyanya nampak sering menimbulkan ''kegerahan'', kata Ali Sudah, seorang pengamat Sastra Arab modern. Bahkan karya-karyanya yang berlatar belakang agama ditanggapi secara a priori, lalu sebagian orang cepat-cepat menganggapnya tidak menghormati nilai-nilai agama (Z. Rosdy 1990: XXII). Pengkajian terhadap karya-karya NM dari berbagai aspeknya patut disambut, untuk lebih mengenali pemenang hadiah Nobel bidang Sastra yang dilukiskan oleh mingguan Akhbar Al' Alam al Islami sebagai(kebanggaan dunia, Arab dan Mesir) فخرعالمى لكل عربى ومصرى (9 Januari 1989 : 12 )
Islamic Studies In Japan An Historical Overview
I would like to take "Islamic studies" here broadly as meaning the study of the Muslim world as well as of Islam as a religion. Then it goes more than a century back to the middle of the 19th century. Let me divide its history into four periods: First Period, 1868 – 1930 Second Period, 1930-1945 Third Period, 1945- 1970 Fourth Period,1970- present (I) First Period (1868 - 1930) This is a period of preparation. After the Meiji Revolution, Japan opened the door to foreign countries and launched to modernize the country, discarding the isolation policy of the Tokugawa feudal government. The Japanese began traveling abroad, either to study Western civilization or for political, diplomatic, or economic reasons. Foreigners also came in. The Japanese went not only to Europe and America, but also to China, India, Southeast Asia, and the Middle East, where they mingled with Muslims and encountered Islam. Yamada Torajiro and Ariga Bunpachiro, said to be the first Japanese Muslims, entered the faith either abroad - Yamada in the Ottoman Turkey, Ariga in India - or after returning to Japan
Konsep Tuhan Menurut Syah Waliyullah Dihlawi
dasarnya teologi itu berada di luar batas kewenangan manusia dan melampaui kemampuan rasional orang: “Tuhan itu terlalu agung untuk dipersamakan dengan apa yang terpikirkan maupun yang terdampak” (H.B.I.63). oleh karena itu maka ”nabi tidak bisa mengajukan orang-orang agar memikirkan Esensi (ẓāt) dan atribut (ṣifat) Tuhan… Nabi Muhammad saw, hanyalah terus menganjurkan mereka supaya meminta syafaat kepada barakah dan kemahakuasaan Tuhan (H.B.I, 86). Meskipun esensi tuhan itu benar-benar diluar tanggapan akal (idrāk) manusia, namun mungkinlah untuk mendapatkan suatu pengetahuaan (‘irfān) tentang Nama-Nama Tuhan melalu ẓawq (perasaan intuitif), sebagaimana syāh Waliyullāh dapat memastikan dari pengalaman pribadinya. Kemudian dengan memakai suatu manifestasi esensi Tuhan, yang idrāk tidak mampu menerima, suatu pengetahuaan diperoleh dalam misteri ini. “ini merupakan suatu pengalaman yang sama sekali menakjubkan” demikianlah orang suci delhi memberikan kesaksian (khizānah). Keberuntungan yang luar biasa karena dimungkinkan memperoleh pengetahuan tentang setiap nama Tuhan itu biasanya diberikan kepada orang-orang ‘arif (ahli sūfi) (Tafh, I,15).
Dimensi Etis-Teologis dan Etis-Antropologis dalam Pembangunan Berwawasan Lingkungan
Isu pembangunan berwawasan lingkungan sebenarnya belum lama. Jika kita ambil patokan konferensi Stockholm yang diadakan oleh PBB pada tahun 1072, maka isu tersebut baru berumur dua puluh tahun. Isu lingkungan hidup mulai gencar dibicarakan oleh Ilmuan, politikus dan para cendikiawan Ketika dunia maju sudah lama menikmati kue pembangunan hasil teknologi Industri dan dunia berkembang sedang merayab menuju era industrialisasi. Para pemimpin politik dunia berkembang meragukan kemauaan baik dunia maju Ketika baru-baru ini dunia maju mengajukan persyaratan perlunya pengkaitan dana bantuan luar negeri dengan isu lingkungan hidup dan pelestarian lingkungan. Ironisnya, pada saat duni amju telah menikmati hasil revolusi industry dan sudah pula merasakan pahit getirnya dampak negative era industrialisasi terhadap lingkungan hidup (hujan asam, pemunahan jenis, lubang ozon, pemanasan global dan sebagainya ), maka mereka buru-buru menghimbau perlunya pembangunan berwawasan lingkungan. Sebaliknya, Ketika dunia berkembang baru hendak memasuki era industrialisasi dengan dampak negative seperti yang telah dialami oleh negara-nera industry maju, maka dunia berkembang pun perlu mempertimbangkan rencana-rencana pembangunannya, terlepas adanya himbauan darinegara maju atau tidak. Dalam sisuasai yang dilematis seperti ini, lagi-lagi dunia berkembang yang sarat dengan berbagai persoalan social-ekonomi banyak mendapat tekanan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Keadan social-ekonomi duania berkembang membutuhkan akselerasi pembangunan, sedang isu globalisasi lingkungan hidup menambah beban tambahan yang perlu dipertimbangkan secara serious oleh dunia berkembang, termasuk Indonesia, jika mereka ingin terlepas dari nasib serupa yang dialami oleh dunia maju
Analisis Kritis Terhadap Metode Pendekatan Dalam Teologi Islam
Para teolog Islam selain berada dalam kesamaan sikap penerimaan dan keberimanan, juga mempunyai tujuan yang sama di dalam upaya merumuskan konsepsi teologis mereka, yaitu sama-sama untuk mengkofirmasikan masalah keakidahan dalam Islam. Namun karena latar belakang yang mempenguhi lahirnya hampir setiap aliran itu berbeda, yang karenanya metode pemikiran dan pendekatan yang mereka pergunakan itupun berbeda, maka timbullah perbedaan dan geterogenitas konsepsi teologis antar mereka. Dengan kalimat lain, walaupun mereka berada dalam kesamaan sikap penerimaan, keberimanan, dan tujuan, namun karena latar belakang bagi kelahiran mereka berbeda maka terjadilah perbedaan dan keanekaragaman, baik metode pemikiran, pendekatan maupun konsepsi teologis antar mereka. Realisasinya, Mu'tazilah tampil sebagai kelompok rasionalis dan Asy'ariyah muncul dengan metode sintesismenya - dua aliran yang dipandang cukup mewakili bagi sekalian aliran teologi Islam pada umumnya. Kedua Aliran tersebut sedemikian Konsisten memegangi serta mempergunakan metode pemikiran dan pendekatan mereka masing-masing, sehingga karenanya menimbulkan kesan dan konsekuensi logis sendiri-sendiri, khususnya dalam masalah keadilan Tuhan, sebagai pokok kajian dalam penelitian ini