Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    The Image of The Prophet In The Contemporary Western Scholarship: A Study of W. M. Watt’s and M.Cook’s Thought

    Get PDF
    Salah satu sumber penting untuk memahami Islam adalah figur Nabi Muhammad SAW, dan ia telah menjadi obyek kajian dalam studi keislaman, termasuk di kalangan Orientalis. Seperti biasa, kaiian ilmiah terhadap satu persoalan tidak selalu melahirkan pandangan yang sama, dan hal ini juga Nampak pada kajian Orientalis tentang figure Muhanunad yang menjadi focus telaah makalah berikut. Secara garis besar pandangan mereka terbagi menjadi dua kubu; pertama seperti terlihat pada karya-karya W.  Montgomery Watt dan kedua tergambar pada karya-karya Michael Cook. Dari satu sisi. Keduanya dapat dikatakan menggunakan pendekatan yang sama, yakni non-normative atau empeical approach; namun dari sisi lain keduanya dapat dikatakan berbeda karena ternyata keduanya memilih model empirical yang berbeda: Watt menganut irenic dan phenomenological approach yang sangat menghargai data-data tertulis warisan Islam; sedangkan Cook menggunakan a source-critical approach yang Pada dasarnya amat meragukan data-data tertulis warisan Islam dan lebih memilih data-data yang berasal dari non-muslim dan juga data arkeologi. Perbedaan pendekatan ini membawa pada kesimpulan yang berbeda pula, jika tidak dikatakan bertentangan. Watt cenderung melahirkan kesan (image) positif tentang Muhamrnad dan hampir sejalan dengan pandangan umum kalangan Muslim. Sebaliknya, Cook cenderung melahirkan image negatif tentang Muhammad terutama tentang hubungannya dengan masyarakat Yahudi pada saat itu. Artikel berikut menjadi sangat menarik karena mengkaji sejauh mana kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pendekatan yang digunakan sekaligus mengkritisi penggunaan pendekatan tesebut terhadap data-data tentang Muhammad dan hubungannya dengan Yahudi (non-Muslim). Pada akhimya makalah berikut menyarankan, bahwa untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan obyektif tentang figur Muhammad di kalangan Orientalis masih diperlukan penelitian lebih lanjut.

    Islamic Fundamentalism in Late-Colonial Indonesia: The Persatuan Islam Revisited

    Get PDF
    Persaman lslam, secara urnum dikenal sebagai organisasi yang cukup berpengaruh dalam tulisan keislaman di Indonesia pada awal abad kedua puluh. Meskipun tidak banyak menaruh perhatian dalam bidang politik, namun ide-idenya yang modern dan fundamentalistis serta ideologinya yang mumi mampu dianggap sebagai warisan yang penting dalam membentuk identitas lslam di Asia Tenggara. Organisasi yang didirikan oleh sekelompok cendekiawan muslim di Bandung pada tahun 1923 ini mempunyai sistem pengajaran yang berbeda dari sisrem yang banyak berlaku pada saat itu. Jika para ulama tradisionalis (kyai) menerapkan sistem pengajaran dengan pendekatan guru-murid, maka Persis menggunakan sistem klasikal. Berkaitan dengan materi yang diajarkan,75% adalah pelajaran agama dan 25% untuk pelajaran umum, khususnya dikelas-kelas dasar, adapun untuk kelas-kelas diatasnya perbandingannya adalah 50:50. Sebagai organisasi lslarn Persis mempunyai prinsip "memajukan Islarn dengan berdasar pada al-Qur'an dan al-Hadis." Para tokohnya menganggap diri mereka sebagai ulama baru yang berusaha membersihkan agama dari segala bid'ah, serta mengdaptasikan prinsip-prinsip agama pada kondisi kontemporer. Untuk menyebarkan ajaran-ajarannya digunakan majalah disamping sarana-sarana yang lain. Ada empat majalah yang diterbitkan antara uhun 1929 - 1941 yaitu ; Pambela Islam, al-Lisan, at-Fatwa dan. At-Taqwa. Gerakan yang telah dilakukan Persis ini dapat disejajarkan dengan apa yang telah dilakukan oleh para pembaharu yang lain semisal al-Afgani, Abduh dan Rasyid Rida. [The Persatuan Islam (Islamic Union; Persis) is generally recognized as an influential organization " in Indonesian Islamic writing on the twentieth century for its attempts to apply Islamic teachings to the Indonesian religious environment.2 While considered generally out of touch with political reality, its modernist, fundamentalist and ideological message has been regarded as an important legacy in the building of an Islamic identity in Southeast Asia. While the movement has moved to a very minor role in contemporary Indonesian Muslim activity, in its heyday in the 1930's and 1950's, it was an influential actor in both the Islamic community of Indonesia and on the political stage of those eras. The academic study of this movement was undertaken first by a Dutch administrator-scholar in the 1950’s in official reports and in a published study in the 1960's,3 and later through a dissertation and two ancillary studies by an American scholar in the l960's and 1970's.4 Since the appearance of those studies several Indonesian scholars have written studies of the movement and one Indonesian scholar has contributed a new dissertation on the legal teachings of one of its prominent activists.5  In view of these new studies and an extensive review of the original source materials of the movement, this essay reexamines the earlier evaluations and compares them with other Islamic thinkers movements of the twentieth century to gain fuller perspective of the persatuan Islam and its place in indonesia history. The focal point of this assessment is on the movement in the last two decades of Dutch rule in the lndies from approximately 1923 to 1942, which is the initial period of Persatuan lslam activity. What emerges from this reassessment is a fuller understanding of the role of the movement and its place in the Islamic activities of its day.

    The Idea of Tajdīd In The Seventeenth Century India: A Reconsideration of the Backround of Religious Life

    Get PDF
    Ide tentang tajdid dan munculnya mujaddid setiap satu abad sebagaimana disebut dalam satu hadis Nabi merupakan satu faham yang dianut secara meluas, termasuk kalangan masyarakal Islam di lndia. Salah seorang yang dipandang sebagai mujadid untuk milinium kedua adalah Syeh Ahmad Sirhindi. Menurut sebagian besar, jika tidak semua, karya-karya tentang Sirhindi, gerakan tajdid tersebut terutama disebabkan oleh praktek keagamaan masyarakal lndia yang dipandang telah jauh dari ajaran lslam yang sebenarnya; masyarakat setempat dipandang sering kali melakukan praktek-praktek bid'ah dan khurafat bahkan tidak jarang melakukan sesuatu yang justru cenderung menghancurkan Islam. Semua praktek tersebut semakin subur terutama sejak naiknya Akbar ke tahta Kerajaan Mughal, sehingga melahirkan pandangan bahwa Akbar telah keluar dari Islam. Yang menarik, makalah berikut mempertanyakan kembali tesis yang sudah mengakar itu. Dengan menelusuri data-data sejarah yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan pada masa Akbar dan Sirhindi, penulis makalah sampai pada kesimpulan bahwa tesis tersebut tidak bisa diterima, paling tidak masih memerlukan penelitian lebih jauh. Untuk mendukung tesisnya Penulis menujukkan bahwa perbedaan antara Akbar di satu sisi dan Sirhindi di sisi yang lain lebih banyak disebabkan oleh pertentangan elit yang lebih terorientasi politik dan bukan persoalan keagamaan; atau bukan pertentangan antara pandangan non-Muslim (Akbar) dan Muslim (Sirhindi) tapi lebih antara satu pemahaman dengan pemahaman yang lain tentang ajaran Islam' Akibat tulisan berikut cukup serius: klaim bahwa Sirhindi merupakan mujaddid pada milinium kedua adalah kurang didukung oleh data sejarah yang bisa diterima sebagian besar, jika tidak semua sejarawan.

    Metode Penelitiaan Berspektif Jender Tentang Literatur Islam

    No full text
    This article explains about how to conduct research on Islamic literature in the perspective of gender. Gender bias in reading understanding Qur'an and Hadis is due to several reasons. Firstly, the codification of Qur'an in a single way of reading prevents the other version of understanding which has no gender bias. Secondly, the meaning of certain words (mufradād) are often debatable. Thirdly, the reference of pronoun (Domir) is often not certain. Fourthly, the limit of exception (Mustasna) is often debatable. Moreover, the reference world ('Atf) wau has several meanings. Sixthly, the structure of Arabic language is based on Arabic patriarchal culture. Furthermore, the bias also come from Arabic dictionaries which only provide meaning that have gender bias. Eighthly, some methods of exegetes produce the understanding of the text which has gender bias. In addition, the influence of Israeli stories (isrā’ilyyāt) in understanding Qur'anic verses cause also gender bias. Finally, the contributes of Fiqh Books which are influenced by local cultures contributes to this gender bias

    Religious Courts In Indonesia: Judicial Development and Islamic Revival

    No full text
    Salah satu fenomena yang paling menonjol pada pasca era kolonialisme  di sebagian besar negara-negara Islam di dunia adalah semakin meningkatnya gerakan untuk kembali kepada kemurnian ajaran Islam, sebagaimana yang biasa didengungkan dengan slogan "Kembali kepada Qur'ān dan Sunnah." Pada dataran politis, hal ini tidak lain merupakan tindak lanjut dari kesadaran untuk kembali membangun identitas diri setelah dasar-dasar filsafah hidup .mereka dirusak oleh nilai-nilai Barat. Muara aplikasi yang paling menonjol dari gerakan ini adalah usaha pembumian Kembali prinsip-prinsi Peradilan Islam Dalam latanan System peradilan Suatu negara. Fenomena tersebut Tampaknya juga Merembes ke Indonesia. Pengundanganbeberapa Peraturan baru yang menguntungkan umat Islam akhir-akhir ini, seperti Undang-undang nomor 1/1989 tentang Pengadilan Agama dan Keputusan Presiden tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam, merupakan gambaran yang sangat jelas dari kebangkitan Islam di negeri ini. Sebagaimana yang terjadi pula di negara-negara Islam yang lain, pengundangan tersebut dapat dilihat sebagai respon terhadap kebutuhan kaum Muslimin untuk dapat merealisasikan ajaran Islam, khususnya dalam praktek system peradilannya. Perjalanan sejarah Institusi Pengadilan Agama di Indonesia sejak masa penjajahan Belanda hingga tahun delapan puluhan menjadi gambaran yang jelas betapa ide untuk Kembali kepada kemurnian lslam sesungguhnya pada prakteknya tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan untuk juga mengadopsi nilai-nilai dari Barat. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan yang terjadi di masing-masing negara Islam (seperti apa yang bisa kita lihat dari perkembangan eksistensi Peradilan Agama di Mesir dan Pakistan), dimana sejauh apapun semangat untuk kembali kepada kemurnian Islam itu ada, mereka tetap tidak dapat membendung pengaruh system peradilan barat dalam praktek peradilan Islaminya. Kenyataan ini tentu saja juga didorong oleh factor intern masing-masing negara-negara Islam tersebut untuk beradaptasi dengan nilai-nilai local mereka. Dalam kasus peradilan agama di Indonesia, pengaruh nilai-nilai barat justru tampak begitu menonjol. Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa usaha peningkatan kualitas peradilan islam sebagai Langkah praktis dari ide kebangkitan islam  tersebut tidaklah berarti harus Kembali kepada model klasik pengamalan peradilan islam, tetapi pengapdopsian system barat justru dipandang sebagai Langkah terbaik untuk memenuhi kebutuhan umat Islam

    Teori-teori Tentang Jatuhnya Daulat Bani Umayyah dan Bangkitnya Daulat bani Abbasiah

    Get PDF
    The fall of Bani Umayya taken over Bani Abbasiya has been seen as an important moment by historians. This is because as the change of the ruler is not seen as the change of dynasty an sich. It is also seen as the change of social structure and ideology which became the turn of a new era in Islamic history. This paper sees that Abbasid dynasty did not come to rise through a coup. The fall of the old regime was not caused by the strength of the new system under Abbasid family but rather by the weakness of the old regime itself as a result of government inefficiency and the wide spread of corruption. The condition become worse due to family intrigues, tribal and religious sentiment, and the loss of intellectuals' support. These conditions contributed significantly to the fall of the Umayyad dynasty. On one hand. the wide support given by different groups to Abbasid regime, ensured that the rise of Abbasiya was a real revolution in its real meaning. It is like revolutions occurred in many modern countries. On the other hand, this support blurred Abbasid identity, for each supporting group felt that the revolution was their own. In this blurred identity, however, a new power was built by utilizing as many groups as possible. This was only the first episode of revolution, because the new dynasty did political selection that ended in the rise of the real owner of Abbasid dynasty

    Feminisme Dalam Pemikiran Riffat Hassan

    Get PDF
    This paper discusses analytically Riffat Hassan's thoughts concerning gender issues. Hassan's ideas on the women creation, the gender equality, and the systems of polygamy and purdah are the main subjects studied therein. Mustaqim tries to find out not only what Hassan views the subjects, but also why she differs in those issues from the majority of Islamic scholars. Using a literary analysis and a historical approach, he concludes that she reinterprets several Qur'anic and hadith texts mentioning the above matters in a way differs from that of conservative 'ulamā’ in order to support feminist propaganda, and that in doing so. Riffat is very influenced by her historical settings

    Perdagangan Mekkah dan Kemunculan Islam (Mendiskusikan Tesis Montgomery Watt dan Patricia Crone)

    No full text
    Montgomery watt and Patricia crone disagree about the important factors contributed to the rise of lslam in Mecea at the beginning of the seventh century. According to watt, it was the Meccan trade that became the main factor contributed to the rise of lslam. The transformation of social life in Arabia from nomadic to mercantile economy resulted in the collapse of social and moral values to which was Muhammad's response. In this case, Watt used a socioeconomic approach in understanding and explaining the rise of lslam. Different from watt, crone argued that the rise of lslam had nothing to do with the Meccan trade. According to crone, it was Muhammad's political mission that contributed to the rise of lslam. Muhammad struggled to promote Arab nationalism or Arab unity in his attempt to counterbalance the Byzantine and sasanid Empires, the two super powers dominated the Middle East at the time. so, crone's approach to the study of the rise of lslam was very political in nature. Despite some weaknesses, watt's theory of the rise of lslam was more generally accepted by Muslim historian than crone’s. In the view of Muslim historians, the socio-economic condition and political background of Arabia were not the main factors to explain the rise of Islam. The rise of lslam was strongly related to the implementation Muhammad's prophetic mission which put emphasis on the unity of God and equity of man

    Studi Islam Ditinjau dari Sudut Pandang Filsafat (Pendekatan Filsafat Keilmuan)

    No full text
    Dalam kegiatan keilmuan, seorang ilmuan dituntut untuk mempunyai "asumsi dasar" atau "postulasi" yang jelas, yang dibangun di atas dasar pemikiran yang sistimatis-metodologis. Tanpa asumsi dasar atau postulasi yang kokoh, jelas dan sistimatis, maka analisa pemecahan persoalan yang hendak ditawarkan tidaklah akan tajam dan sulit mengarah kepada titik focus tujuan tertentu yang hendak dicapai. lbarat sebuah "kacamata baca" yang dirancang sesuai dengan ilmu-ilmu dasar optic, begitu pula "asumsi dasar" atau postulasi yang hendak dipertahankan haruslah dihimpun disusun dan dirumuskan secara matang dan sistimatis sesuai bidang keilmuan tertentu, sehingga dengan demikian dapat diharapkan mempermudah mengantarkan pada sebuah analisa yang mapan dan dapat pula dipertanggungjawabkan secara akademik. Bangunan pemikiran filsafat --lebih-lebih filsafat keilmuan­- sebenarnya tidak lain dan tidak bukan adalah tatanan asumsi dasar atau postulasi yang disusun sccara sistimatis-argumentatif-demonstratif sehingga mempunyai daya kekuatan analisis yang tajam terhadap berbagai persoalan yang hendak dipecahkan, rancang bangun keilmuan Islamic Studies tidak bisa tidak juga perlu dipertimbangkan. Sehubungan dengan judul tersebut di atas, penulis mempunyai asurnsi bahwa "Islamic Studies" atau juga disebut "Dirasat lslamiyah" tidak lain dan tidak bukan adalah kegiatan keilmuan, untuk tidak mengatakan hanya sebagai kegiatan keagamaan. Dilema antara keduanya diuraikan lebih lanjut  beberapa saat lagi. Jika Islamic Studies/Dirasat Islamiyah memang masuk dalam wilayah "Keilmuan", maka telaah filsafat ilmu terhadap bangunan atau rancang bangun keilmuan Islamic Studies tidak bisa tidak juga perlu dipertimbangkan

    The Religio-Political Attitude of The Shaykh Rashīd Ridā In Response to The French Authority In Tunisia by the Colonial Time (A case Study on the French Law of Naturalization Through Rashīd Ridā’s Fatwa

    Get PDF
    Adalah suatu kekeliruan bila ada asumsi bahwa fatwa selalu lepas dari muatan-muatan politik. Fatwa sering terkait dengan masalah politik, misalnya di masa kolonial. Fenomena ini ditemukan pada fatwa yang dikeluarkan Rasyid Rida" seorang ulama sekaligus politikus, atas permohonan Partai Nasional Tunis pimpinan Abd Al-'Aziz As-Sa'alibi yaitu Partai Dustur, yang tidak lepas dari muatan-muatan politik. Fatwa ini merupakan respon Rasyid Rida, sekaligus sikap religious politiknya, terhadap Hukum Naturalisasi Perancis yang diberlakukan untuk mereka yang tinggal di Tunisia pada tanggal 20 Desember 1923. Fatwa ini bermuatan dakwah politik yang ditujukan kepada orang-orang Islam Tunisia. Ia menegaskan dalam fatwanya bahwa orang-orang Islam yang menerima kewarganegaraan Perancis adalah murtad. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa orang Islam yang menerima tawaran itu berarti mengutamakan Hukum Naturalisasi Perancis dari pada Hukum Allah. Maka, tentu, Rida melarang untuk menerima tawaran kewarganegaraan Perancis itu. Berkaitan dengan kepentingan orang-orang Islam Tunisia, Rida mengharuskan mereka untuk menjaga kewarganegaraan Islamnya. Hal ini semata-mata karena obsesi Rida untuk menegakkan kembali system pemerintahan khilafah, bukan sistem pemerintahan Perancis. Hal ini wajar karena ia menginginkan berlakunya syari'ah. bukan Hukurn Naturalisasi Perancis, dalam kehidupan mereka.

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇