Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
878 research outputs found
Sort by
Mohamed al-Nowaihi (1917-1980)
Sudah merupakan suatu kebiasaan, apabila seorang sarjana atau ilmuwan terkemuka meninggal dunia, maka murid-muridnya atau kolega-koleganya mencari suatu cara yang mengesankan untuk menghormati gurunya atau teman yang telah meninggalkannya. Dan banyak juga murid menghormati gurunya atau kolega yang menunjukkan kekaguman terhadap temannya memberikan penghormatan di saat gurunya masih hidup atau telah mencapai usia 70 tahun. Cara yang paling mengesankan dan memantapkan adalah dengan penerbitan buku yang sengaja disusun untuk menghormati guru atau teman yang dikaguminya. Contohnya Arabic and Islamic Studies in Honor of Hamilton A.R Gibb yang diterbitkan pada tahun 1965, yang pemah kami ulas di dalam majalah Al-Jami'ah ini tahun 1976 (No.14). Kebiasaan ini juga dilakukan di Indonesia terhadap seorang sarjana yang dihormati dan disegani. Mohamed al-Nowaihi tidak begitu terkenal di Indonesia, apalagi sebagai seorang yang berpikir maju dan bebas terhadap Islam tentu saja banyak pemikiran-pemikirannya yang tidak begitu ramah diterima oleh sekelompok ilmuwan. Al-Nowaihi yang sebahagian besar hidupnya aktif di dalam bidang ilmiyah sebagai tenaga pengajar dan professor di American University di Kairo, menaruh perhatian besar terhadap bahasa, kesusasteraan dan memiliki sikap yang sangat liberal dalam menginterpretasi ajaran Islam dan dialog Islam-Kristen. Ketekunannya di dalam bidang ilmiyah di American University tersebut mendapat simpati dari rekan-rekannya terutama dari kalangan universitas tersebut. Untuk itu setelah al-Nowaihi meninggal dunia tanggal 13 Februari 1980, maka disusunlah suatu buku yang berjudul IN QUEST OF AN ISLAMIC HUMANISM yang merupakan Arabic and Islamic Studies in Memory of Mohamed al-Nowaihi*), yang disusun dan disunting oleh A.H. Green dari American University Cairo. Buku ini merupakan kumpulan karangan dari 13 sarjana terkemuka baik dari American University di Kairo maupun dari universitas-universitas di Amerika
Agama dan Politik
Hubungan agama dengan politik atau hubungan agama dengan negara adalah suatu topik yang banyak diperbincangkan oleh para sarjana di Barat dan Timur selama dekade terakhir. Hal ini disebabkan oleh beberapa peristiwa penting yang terjadi dibeberapa tempat di belahan bumi ini, di antaranya adalah revolusi Iran, suatu revolusi yang digerakkan oleh keyakinan agama (Shi'ah) dan dipimpin oleh seorang Ayatullah (Khomeini), dan timbulnya gerakan fundamentalisme di dalam berbagai agama. Dari kedua peristiwa atau gerakan tersebut, ada satu hal yang menarik perhatian, yaitu apa yang sering disebut dengan istilah "politisasi agama". (Robertson, 1989: 11) Hal ini nampak pada meningkatnya perhatian yang diberikan oleh kelompok-kelompok keagamaan terhadap issu-issu negara atau pemerintahan, dan meningkatnya minat mereka untuk mengatur negara atau pemerintahan tersebut berdasarkan nilai-nilai keagamaan. Mereka berusaha membuat kebijaksanaan-kebijaksanaan dan program-program yang menurut mereka, dijiwai oleh ajaran-ajaran agama mereka. Fenomena ini tentu saja bertentangan dengan paham yang dianut oleh kebanyakan masyarakat di Barat, yaitu agama dan politik atau negara harus dipisahkan (suatu pemikiran yang sekularistik). Bagi mereka agama adalah urusan pribadi, non politik, berkenaan dengan masalah ketuhanan, yang sakral dan supernatural, sedang politik itu berhubungan dengan masalah-masalah duniawi, yang profane dan temporal
Penafsiran Sejarah Secara Psikoanalisa Tinjauan Terhadap Karya Benjamin B. Wolman (Ed). The Psychoanalitic Intepretation of History (London: Harper Torchbooks, 1971)
Dalam hubungan psikologi modem dengan sejarah secara sepihak arus pengaruhnya lebih kuat dari pada arus-arus lainnya. Demikianlah, seorang yang melakukan analisa terhadap karyanya dapat memanfaatkan pengetahuan sejarah, hanya dengan suatu pengertian budaya yang luas, sebagaimana biasa dengan memanfaatkan kesusasteraan, agama dan seni. Dari segi lain, ahli sejarah akan mengingkari atau gagal untuk mendapatkan dukungan dari psikologi, hanya karena resikonya sendiri. Secara mendasar missinya tidak hanya menampilkan fakta-fakta mengenai manusia pada masa silam, tetapi juga untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam mengenai tujuan-tujuan. dan reaksi-reaksi manusia di dalam situasi yang beraneka ragam. Demikian kata pengantar William L. Langei yang pernah menjadi guru besar sejarah di universitas Harvard terhadap buku The Psychoanalytic Interpretation of History yang dikumpulkan dan disunting oleh Benjamin B. Wolman, guru besar psikologi universitas Long Island. Selanjutnya guru besar yang juga seorang penulis sejumlah buku dan artikel mengenai sejarah diplomasi dan hubungan internasionai itu menyatakan bahwa nilat pengajaran psikoanalisa di dalam penulisan biografi sudah lama dikenal dan diakui, khususnya biografi yang berhubungan dengan bidang kesusasteraan dan seni, yang sekarang mendapat sambutan baik dari para ahli sejarah. Perjuangan panjang untuk mengembangkan bidang penelitian sejarah melampaui batas-batas bidang militer dan politik untuk memasukkan faktorfaktor sosial, ekonomi dan intelektual telah mencapai hasil yang baik. Banyak ahli sejarah terutama sarjana-sarjana yang masih muda, dewasa ini melihat perlunya untuk memperdalam pengertian mereka terhadap masa silam dengan melakukan analisa yang lebih teliti mengenai tindakan seseorang atau masyarakat. Pada suatu waktu sudah menjadi kebiasaan untuk mengecilkan arti biografi sejanih, dengan alasan bahwa tokoh-tokoh terkemuka pun telah melakukan kekerasan-kekerasan di luar batas kemanusiaan dan menyimpang dari pengertian manusia. Keadaan seperti ini sudah ditinggalkan, karena pernah terjadi pada suatu masa yang nampak pada diri Lenin, Stalin dan Hitler. Apabila para ahli sejarah ingin memahami peristiwa-peristiwa di dunia dengan segala corak dan gejolaknya apakah pada masa silam atau pada masa sekarang, maka ahli-ahli sejarah sangat membutuhkan bantuan disiplin ilmu-ilmu penunjang tidak saja ilmu-ilmu ekonomi, geografi, demografi dan sebagainya tetapi juga ilmu-ilmu lain, khususnya psikoanalisa
Ad-Dawwani dan Pemikiran Teologinya (Sebuah Kajian Terhadap Karyanya “ Syarh ‘Ala al-‘Aqa’id al-‘Adudiyah”
Barangkali suatu hal yang dapat dibenarkan pernyataan Dr. Amin Abdullah, bahwa nama-nama filsuf seperti Nasir ad-Dīn Tusi, Jalāl ad-Dīn ad-Dawwani, As-Suhrawardi Dan Mulla Sadra nyaris belum terdengar buah karya dan pemikirannya di kalangan kita. Berangkat dari pernyataan tersebut di atas, terasa terpanggil untuk mencoba menampilkan salah satu tokoh atau nama-nama filsuf yang nyaris belum terdengar buah karya dan pemikirannya di kalangan kita sungguhpun masih jauh dari sempurna atau sebagaimana yang diharapkan para pembaca. Oleh karena Itu sangat diharapkan berbagai Bentuk kritik dari para pembaca demi kesempurnaannya. Salah seorang tokoh filsuf yang penyaji maksudkan sebagaimana dalam judul, menampilkan tokoh Ad-Dawwani dan pemikirannya dalam bidang teologi yang terpusatkan pada sebuah karya ad-Dawwani yang berjudul Syarh ‘Ala al –‘Aqa'id al-‘Adudiyah. Karya ad-Dawwani yang satu ini penyaji dapatkan dalam sebuah kitab Sulaiman Dunya (ed.), As-Syaikh Muhammad ‘Abduh baina al-Falasifah wa al-Kalamiyin. Untuk memudahkan dalam penyajian ini, penyaji sajikan dengan mengikuti kerangka pembahasan Prof. Dr. Harun Nasution dalam bukunya, Teologi IsIam : Aliran-AIiran, Sejarah, Analisa Perbandingan
Metode Filsafat dalam Tinjauan Ilmu Agama (Tinjauan Pertautan antara Teori dan Praxis)
Metode filsafat semakin hangat dibicarakan oleh para ilmuwan sosial, setelah metode yang dipergunakan dalam bidang ilmu-ilmu pasti-alam berkembang pesat dan menyelinap masuk ke dalam wilayah ilmu-ilmu sosial. Lingkaran Wina (Vienna Circle) adalah tonggak monumen sejarah bagi para filsuf yang ingin membentuk 'unified science', yang mempunyai program untuk menjadikan metode-metode yang berlaku dalam ilmu pasti-alam sebagai metode pendekatan dan penelitian ilmu-ilmu kemanusiaan, termasuk di dalamnya filsafat. Gerakan para filsuf dalam Lingkaran Wina ini disebut. oleh sejarah pemikiran sebagai Positivisme-Logik. Meskipun aliran pemikiran ini mendapat tantangan luas dari berbagai kalangan, tapi gaung pemikiran yang dilontarkan oleh aliran positivisme logik masih terasa hingga saat sekarang ini. Bukan karena pemikiran mereka yang patut dihidupkan kembali, tapi implikasi pemikiran mereka setidaknya telah membangkitkan kesadaran kita untuk memunculkan pertanyaan: apakah kehidupan manusia yang serba kompleks ini dapat dipecahkan lewat pendekatan positivistik, pemisahan yang lugas antara 'teori' dan 'praxis' antara 'value' dan 'fact', antara 'scientisme' dan 'hermeneutism'
Demensi Sosial dan Spiritual Semaan Al-Qur'an "MANTAB" di Yogyakarta
The development of al-Qur'an recitation gathering named “Mantab” in Yogyakarta is a socio-religious phenomenon. This effort of spiritualization of Islamic teachings attracts many participants. Mass pray and recitation of all content of the Holy Book, al-Qur'an, are main rituals held in this gathering. The participants use al-Qur'an recitation (semaan) gathering as a mean of spiritual exercises that can guide them to acquire deep inner happiness.Besides spiritual nuance, al-Qur'an recitation of “Mantab” has also social effects. It can strengthen the relationship among the participants whether they come from higher or lower strata of society, such as religious leaders and grassroots. In this gathering, they can communicate each other. Therefore, the al-Qur'an recitation has social function as well. Religious leaders who have deep esoteric nuance and are supported by their good social legitimacy, have central position in social structure of this gathering. Consequently, "asking blessing" and "Patron-Client,' can easily be seen in social interaction in this gathering
Beyond Ideological Intepretation: Naṣr Abū Zayd’s Theory of Qur’anic Hermeneutic
Artikel ini membahas hermenutika al-Qur'an yang dikemukakan oleh Nasr Hamid Abu Zaid, seorang intelektual Mesir yang dituduh murtad karena teori interpretasi yang dikemukakannya. Abu Zaid sangat kritis terhadap "interpretasi-interpretasi ideologis" yang dapat mereduksi nilai interpretasi dan mengarah kepada interes-interes ideologi penafsir, baik ideology konservatif maupun liberal. Interpretasi semacam ini dapat mengarah kepada pragmatisme. Atas dasar itu, ia mengkritik tajam 'Abd al-Ṣābūr Syāhīn dan Muhammad al-Gazali di satu sisi, dan Hasan Hanafi di sisi lain, karena menurutnya penafsiran mereka itu penuh dengan wama-wama ideologis. Untuk mengurangi pengaruh ideologi Abu Zaid menawarkan ide perlunya pendekatan susastra dalam studi al-Qur'an, sebagaimana yang pernah dikemukakan oleh Amin al-Khuli. Dalam artikel ini penulis mencoba untuk mengajukan beberapa pembahasan sekitas beberapa aspek interpretasi, antara lain: masalah validitas dalam interpretasi. Artikel ini ditutup dengan diskusi sekitar sumbangan abu Zaid terhadap diskursus al-Qur'an, secara kritis.
Saving Lives and Limiting the Means and Methods of Warfare: Five Indonesian Tafsīr Views
Protection of non-combatants and restrictions on methods of warfare are two essential aspects of jus in bello. Dawoody’s and Hashmi’s theory states that the classical Islamic scientific tradition discusses jus in bello much more than contemporary Islamic studies do. Contemporary studies are more preoccupied with deciphering jus ad bellum as a response to the West’s stigma against Islam. This article examines the theory in the realm of Qur’anic interpretation (tafsīr). Five authoritative Indonesian tafsīrs will be the samples; Tarjumān al-Mustafīd, Marāḥ Labīd, Al-Azhar, Al-Miṣbāḥ, and Firdaws al-Naʻīm. The first two tafsīrs represent the classical era, the third came from the transitional era, and the last two tafsīrs originated from the contemporary era. The article examines the shifting trend through two main issues in humanitarian law: protection of non-combatants, civilians, and civilian objects, and limits on the methods and means of war.[Perlindungan terhadap yang bukan kombatan dan pembatasan model perang merupakan aspek penting dalam prinsip hukum jus in bello. Teori Dawood dan Hashmi menyatakan bahwa dalam tradisi pengetahuan Islam klasik justru lebih banyak membahas jus in bello daripada studi Islam kontemporer. Studi kontemporer cenderung menceritakan jus ad bellum sebagai respon terhadap stigmatisasi barat pada islam. Artikel ini akan membahas lima tafsir Qur’an yaitu: Tarjumān al-Mustafīd, Marāḥ Labīd, Al-Azhar, Al-Miṣbāḥ, dan Firdaws al-Naʻīm. Dua yang awal mewakili masa klasik, tafsir ketiga berasal dari masa transisi dan dua yang terakhir mewakili masa kontemporer. Artikel ini juga membahas pergeseran trend kajian melalui dua isu penting yaitu perlindungan pada non kombatan, sipil dan objek sipil dan pembatasan pada metode dan peralatan perang]
Hubungan Antara Konsep Baik dan Buruk Dalam Ilmu Kalam Dengan Konsep Maslahat Dalam Hukum Islam
There is a hypothesis that a theological school belongs to a Muslim influences his or her thought in uṣūl al-fiqh (foundation of "Islamic jurisprudence). This paper will focus on Mu'tazila and Asy'ariya. Mu'tazila concept on 'aql or Reason is clear that reason can distinguish between good and bad. This concept is a result of their interest in philosophy that may influence their thought. Therefore, the Mu'tazilite believe in the ability of reason in understanding everything and it brings them to a statement "reason before law", which means reason should stay before the"syara" or law. For this reason, they agree that before the existence of law, a reasonful person can distinguish between good and bad. One of Mu'tazila principles is adala (God justice), that one of its interpretations is that God does not wish the bad. As a result, Mu'tazila believe that. God created all things based on purpose and wisdom. From this point, there seems to be a relation between their teachings and their theories on " uṣūl al-fiqh” When there is a conflict between naṣ and reason, they take reason before naṣ. Furthermore, they believe that God created the creatures on the basis of purpose, and so what happens to His legislation. This concept has a direct influence to the concept of maṣlaha that becomes illa in legislation. Different from Mu'tazila, Ahl al-sunnah wal-Jamā'a sees that good and bad cannot be understood by reason itself. In addition they say that God created all creatures not on the basis of purpose, and also God desires good and bad. These principles relate to their theories on uṣūl al-fiqh; e.q. when a conflict between naṣ and reason emerges, they give priority to nap. They neglect maṣlaha in their canonical thought. Even though, the hypothesis of the relation between theological unrestrictedly. That happens to Al-Juwayni and al-Razi who were Asy'arites but had different thoughts in uṣūl al-fiqh.
Filsafat Ishrāqiyyah (Iluminatif) Suhrawardī al-Maqtūl
The Ishrāqī is oriental as well as illuminative philosophy. It is to shine, for it comes from the Orient; and it is oriental, because it shines. Colored with its distinct language, this philosophy constitutes an alliance between the "speculative" philosophy (al-ḥikmah al-baḥthiyyah) which is a fusion of the Hellenistic, Persian and Islamic philosophy, and the "intuitive" one (al-ḥikmah al-dhawqiyyah) that represents mystical spiritualism and is a combination of the Islamic sūfi tradition, Zoroastrianism and Neo-Platonism. Shuhrawardī, who was accustomed with perennial Islamic philosophy (al-ḥikmah al-'atīqah), is considered not only as a great mystic, but also an Ishrāqī philosopher. His Ishrāqī thought is a synthesis of several philosophical notions which eventuated in the classical Islam. His ideas are recognized as a set of universal teachings, which is a long-lasting oriental thought and has actual significance for the modern period