Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    Tafsir Kontekstual

    No full text
    kegandrungan para cendekiawan muslim terhadap pemahaman Al-Qur’an secara utuh semakin bertambah setelah penerapan studi secara sistematik menjalar pada setiap cabang ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan yang mempelajari aspek budaya manusia. Pentingnya pemahaman terhadap Al-Qur’an secara utuh itu semakin disadari setelah stadi secara sistematik terhadap sesuatu cabang ilmu pengetahuan membuka horizon yang lebih luas dan memberikan keputusan terhadap kebutuhan manusia baik dalam integritas moral maupun dalam peningkatan intelektual

    The Minority and the State: Chinese Muslims in the Modern History of Indonesia

    Get PDF
    Despite their long existence in Nusantara, the Chinese ethnic groups remain less represented or even misrepresented in the history of Indonesia, resulting in negative stereotypes and attitudes towards the community. Sejarah Nasional Indonesia (SNI) and history textbooks for schools and universities, for instance, do not provide adequate narratives about Chinese contributions to Indonesian politics and economy during the pre- and post-independence era. This study aims to critically analyse the representation of Chinese ethnicities in the modern history of Indonesia, more specifically, the SNI and history textbooks for Islamic schools and universities. The findings of the study suggest that there was an unwritten history of Chinese and Chinese Muslims, especially during the Sukarno and Suharto regimes, which then Abdurrahman Wahid began to include. The study recommends new narratives of Chinese Muslims in modern Indonesian history by proposing some notable scholars who extensively worked on the History of Islam in Java, to which Chinese Muslims had contributed. [Kendati sudah berada di Indonesia berabad-abad lamanya, etnis Tionghoa tidak banyak tercatat dalam narasi sejarah Indonesia. Misrepresentasi etnis Tionghoa di Nusantara bahkan menyebabkan adanya stereotip dan sikap negatif terhadap etnis tersebut. Sejarah Nasional Indonesia (SNI) dan buku teks sejarah di sekolah dan universitas, misalnya, tidak banyak menyebutkan kontribusi etnis Tionghoa secara politik maupun ekonomi selama masa pra dan pasca kemerdekaan. Studi ini merupakan analisis kritis terhadap representasi etnis Tionghoa dalam sejarah modern Indonesia, khususnya dalam Sejarah Nasional Indonesia (SNI) dan buku teks sejarah di sekolah dan kampus Islam. Temuan kajian menunjukkan adanya sejarah yang tidak tercatat tentang peran Muslim Tionghoa selama rezim Sukarno dan Suharto, yang kemudian mulai diubah oleh rezim Gus Dur. Studi ini merekomendasikan adanya penulisan ulang sejarah Muslim Tionghoa di Indonesia dengan mengintegrasikan temuan studi beberapa sarjana ternama yang banyak meneliti mengenai Islam di Jawa dan peran etnis Tionghoa di dalamnya.

    Struggling for Recognition: Archived-based Documentary Film of the Ahmadiyya Jamaat in Indonesia

    Get PDF
    The Ahmadiyya community has become a victim of persecution as labelled abnormal by other Muslim communities in Indonesia, especially in post-2004. Responding to the issue, the Ahmadiyya community constructs three colours of discourse, religious, humanitarian, and nationalism, to “normalise” their position in Indonesian society. The religious discourse stems from their direct citation to religious texts that confirm their legitimate standpoint. The humanity discourse arises from their action in the humanity program, such as blood and corneal donors. Meanwhile, the nationalism discourse appears in their short archives-based documentary film. This article examines the discourse of nationalism constructed by the Ahmadiyya via a short archives-based documentary film entitled, “Kiprah Ahmadiyah dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (the Ahmadiyya’s Role in the Struggle for the Independence of Indonesia)” using Van Dijk discourse analysis frame through an archival studies perspective. This research argues that the nationalism discourse portrayed in the film represents a deliberate act of archival activism planned by the Ahmadiyya community to seek recognition from diverse communities in Indonesia, including mainstream Muslims, general populations, and the state. [Komunitas Ahmadiyah di Indonesia telah menjadi korban persekusi karena label “tidak normal” yang disematkan oleh komunitas Muslim lain di Indonesia, terutama pasca-2004. Merespons isu tersebut, komunitas Ahmadiyah membangun tiga warna wacana: agama, kemanusiaan, dan nasionalisme. Wacana-wacana ini mereka bangun untuk “menormalkan” posisi mereka di tengah masyarakat. Wacana keagamaan dapat diidentifikasi dalam cara mereka mengutip teks-teks agama untuk mengkonfirmasi keabsahan keberadaan dan titik pijak mereka. Wacana kemanusiaan muncul dalam kegiatan mereka dalam program kemanusiaan, seperti donor darah dan kornea. Sementara, wacana nasionalisme dapat dianalisis dalam sebuah film dokumenter pendek. Artikel ini mengkaji wacana nasionalisme yang di konstruksi oleh Ahmadiyah melalui sebuah film dokumenter pendek berbasis arsip berjudul “Kiprah Ahmadiyah dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia” dengan menggunakan kerangka analisis wacana Van Dijk dalam perspektif studi arsip. Penelitian ini berargumen bahwa wacana nasionalisme yang dibuat dalam film tersebut mencerminkan tindakan aktivisme-kearsipan yang direncanakan oleh komunitas Ahmadiyah untuk memperjuangkan rekognisi dari komunitas lain di Indonesia: Muslim arus utama, komunitas lain secara umum, dan negara.

    Acceptability of the Quran Translation

    Get PDF
    Muslims have regarded the translation of the Quran into languages other than Arabic as valuable since its benefits for non-Arabic speakers to understand the its messages. However, those translations are not a substitute for the original Arabic Quran, and reciting the Quran in Arabic is not the same as reading its translation. Linguistically, translation is a dual act of interlingual communication that involves the source language (SL), target language (TL), and translator as the main actor. The translator is in charge of presenting the acceptable equivalence of the SL text and the TL text, either on the levels of form, meaning, or intent. Therefore, the acceptability of the translation of Quranic verses is not related merely to their forms and meanings but also to the intended purpose of the text of the SL. In practice, the acceptability of translations can be realized, among other things, by applying appropriate translation techniques and procedures when handling micro-translation units, whether on word, phrase, clause, or sentence levels. In this regard, the acceptability of the Quran translation necessitates the fulfilment of the aspects of accuracy, clarity, naturalness, and relevance. These aspects will bring an acceptability model for a Quranic translation that considered complete and representative. This model stems from the view that translation is not merely seen from the point of communication theory of the code but also from the point of communication theory of inference model. [Umat Islam melihat terjemahan Al-Quran ke dalam bahasa selain bahasa Arab sebagai sesuatu yang berharga karena manfaatnya bagi penutur non-Arab untuk memahami pesan-pesannya. Namun, terjemahan tersebut sejajar dengan Al-Quran yang berbahasa Arab, sehingga membaca Al-Quran dalam bahasa Arab tidak dianggap sama dengan membaca terjemahnya. Secara linguistik, penerjemahan merupakan suatu tindakan komunikasi ganda antarbahasa yang melibatkan bahasa sumber (SL), bahasa sasaran (TL), dan penerjemah sebagai pelaku utama. Penerjemah bertugas menyajikan padanan teks SL dan teks TL yang dapat diterima, baik dalam tataran bentuk, makna, maupun maksudnya. Oleh karena itu, keterterimaan terjemahan ayat-ayat Al-Quran tidak semata-mata berkaitan dengan bentuk dan maknanya, tetapi juga dengan maksud teks tersebut. Dalam praktiknya, keterterimaan terjemah dapat diupayakan antara lain dengan menerapkan teknik dan prosedur penerjemahan yang tepat terkait dengan satuan terjemahan mikro, baik pada tataran kata, frasa, klausa, maupun kalimat. Dalam kaitan ini, akseptabilitas terjemah Al-Quran memerlukan pemenuhan aspek akurasi, kejelasan, kealamian, dan relevansi. Aspek-aspek tersebut akan melahirkan suatu model akseptabilitas suatu terjemah Al-Quran yang dapat dianggap lengkap dan representatif. Model seperti ini berdasarkan pada pandangan bahwa penerjemahan tidak hanya dilihat dari sudut teori komunikasi tentang kode tetapi juga dari sudut teori komunikasi tentang inferensi.

    Tinjauaan Buku

    No full text

    Tinjauaan Buku

    No full text

    Prospek Bahasa Arab Di Indonesia

    No full text
    Segala puji kita panjatkan kehadirat Allah s.w.t. atas segala kenikmatan yang dilimpahkan kepada kita semua. Semoga selawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi besar muhammad saw serta para sahabat dan pengikut beliau yang setia. Bangsa Indonesia yang dalam era pembangunan ini mendambakan terbinanya manusia Indonesia yang utuh, yang hidup dalam masyarakat Pancasila yang adil dan makmur sejahtera, seimbang dan serasi akan selalu menyambut dan menghargai segala potensi positif yang menunjang cita-cita hidup bangsa, dan akan memberikan perhatian yang selayaknya demi terhimpunya segala kekuatan untuk mewujudkan masyarakat yang maju lahir batin

    The Approach of Imam Abdul Hamid ibn Badis to Sufi Methods

    Get PDF
    This research is about Shaikh Abdul Hamid ibn Badis, the president of the Algerian Association of Muslim Scholars, who led the reformist movement during the French occupation and was one of the leaders of reformation in the Muslim world. The research aims to reveal how the Shaikh dealt with the reality of Sufism and its spiritual authority and broad influence embedded in Algerian society. The author addresses issues within Algerian society during the French occupation, the position of the Shaikh as a man of satire in general, and his relationship with the elders’ zawaya of Sufi methods. The research concludes that the Shaikh followed a middle ground in his dealings. He was clear in his opinions and convictions and expressed them through his writings and articles, while he had good connections with all the elders’ methods. His approach was not to differentiate but to assemble and remove the differences that weakened the society’s resistance towards the French occupation. As the Imam had been wise and advocative, he knew how to win the hearts and attitudes of his society.[Tulisan ini membahas Syaikh Abdul Hamid ibn Badis, Pemimpin Asosiasi Ulama Muslim Aljazair, yang memimpin gerakan reformis pada masa pendudukan Perancis dan merupakan salah satu pemimpin reformasi di dunia Muslim. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana sang Syaikh menyikapi realitas Tarekat serta otoritas spiritual dan pengaruhnya yang luas, yang tertanam dalam masyarakat Aljazair. Penulis membahas isu-isu yang terjadi di tengah masyarakat Aljazair selama pendudukan Perancis, posisi sang Syaikh sebagai satir secara umum, dan hubungannya dengan zawiyah-zawiyah Tarekat yang lebih tua. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Ibn Badis telah memilih jalan tengah. Pendapat dan keyakinannya jelas, dia mengungkapkannya melalui tulisan dan artikelnya, sementara hubungannya dengan semua zawiyah Tarekat dibina sangat baik. Pendekatannya bukan untuk membeda-bedakan tetapi untuk mengumpulkan dan menghilangkan perbedaan-perbedaan yang melemahkan perlawanan masyarakat terhadap pendudukan Perancis. Karena sang Imam adalah orang yang bijaksana dan advokatif, dia tahu bagaimana memenangkan hati dan sikap masyarakatnya.

    The Approach of Imām Al-Biqāʻī in Determining the Objectives of the Quranic Chapters

    Get PDF
    Imam al-Biqāʻī is one of the most prominent Quranic commentators who took care of the objectives of Quranic chapters and became the first scholar to draw attention to this science. Benefited from the science of the Quranic munāsabah, al-Biqāʻī analysed the objectives of the Quranic chapters in his books Naẓm al-Durar fī Tanāsub al-Āyāt wa al-Suwar and Maѕāʻid al-Naẓr li al-Ishrāf ‘alā Maqāѕīd al-Suwar. Therefore, the nature of this paper requires that the researchers rely on the inductive method to reach the views of scholars and Quranic commentators, especially that of al-Biqāʻī on the topic, to prove the approach of al-Biqāʻī in the purposes of the sūrah. The authors argue that relying on the sciences of the Quranic tanāsub and siyāq, al-Biqāʻī concluded that revealing monotheism is the ultimate goal of most of the Quranic chapters.[Imam al-Biqāʻī salah satu tokoh tafsir terpenting yang berkontribusi dalam Ilmu Maqāṣid ṣ al-Suwar al-Qur’āniyyah, bahkan beliau di garda terdepan dalam ilmu ini sebagai perintisnya. Dengan mendalami ilmu Munāsabah al-Quran, beliau menganalisis dan menentukan tujuan surat-surat al-Qur’an sebagaimana tergambar dalam kitabnya yang berjudul Naẓm al-Durar fī Tanāsub al-Āyāt wa al-Suwar dan Maṣāʻid al-Naẓr li al-Ishrāf ʻalā Maqāṣid al-Suwar. Artikel ini menggunakan pendekatan induktif untuk mengumpulkan pendapat para ulama dan para ahli tafsir, khususnya pendapat al-Biqāʻī, terkait disiplin ilmu tersebut untuk menelisik karakteristik pendekatan al-Biqāʻī dalam menentukan tujuan dari surat al-Quran. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa menurut al-Biqāʻī, tauhid adalah tujuan tertinggi di sebagian besar surat al-Quran. Pandangan al-Biqāʻī ini dia dapatkan melalui dua ilmu yang menjadi referensinya, yaitu ilmu al-Tanāsub dan al-Siyāq]

    Muslim Minority in Manila: Ethnographical Studies of Minority Expression on the Archipelago

    Get PDF
    This article describes the spiritual experience of being a Muslim and minority in Manila, the capital of Asia’s most populous Catholic country, the Philippines. This research used an ethnography approach to understand how Muslims in Manila negotiate their identity as Muslims as well as Filipinos who live in Barangay as a minority and face bad sentiment, especially after the Battle of Marawi and the Maguindanao Massacre. This research found that even when facing negative stigma on most of the national media coverage after the Battle of Marawi and the Maguindanao Massacre, Muslims in Manila feel that they are free to express their identity as Muslims, as Anak Bansa, and as Filipinos with their limitations.[Artikel ini menggambarkan pengalaman spiritual Muslim minoritas di Manila, Filipina, negara dengan umat Katolik terbesar di Asia. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi untuk melihat bagaimana Muslim di Manila menegosiasikan identitasnya sebagai orang Islam sekaligus sebagai orang Filipina yang hidup di Barangay sebagai minoritas, terutama dalam menghadapi sentimen buruk pasca Perang Marawi dan Pembantaian Maguindanao. Penelitian ini menemukan bahwa meskipun menghadapi stigma buruk dalam hampir semua media nasional pasca Perang Marawi dan Pembantaian Maguindanao, orang Islam di Manila tetap merasa bebas mengekspresikan identitas mereka dengan segala keterbatasannya sebagai Muslim sekaligus sebagai Anak Bangsa dan orang Filipina.

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇