Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
    878 research outputs found

    A Critical Approach to Prophetic Traditions: Contextual Criticism in Understanding Hadith

    Get PDF
    Hadith scholars have developed a rigorous discipline for studying and examining the validity of writings attributed to the Prophet Muhammad. Significant research has been published on hadith with respect to its narration (sanad) and text or content (matn). What remains underdeveloped is the role of substantive criticism of the validity of hadith. This article examines the discourse of hadith criticism and provide analytical description and a critical approach for how the validity of a hadith can be determined. It argues that substantive criticism is necessary for proper and acceptable understanding of hadith and in turn for determining the validity of hadith. In addition to a methodology for hadith criticism, the article examines how the meaning of hadith is important in the hadith studies. The article’s main argument concerns the significance of contextual understanding of hadith in any critical study of hadith.[Sarjana hadis telah mengembangkan disiplin yang ketat untuk mempelajari dan memeriksa keabsahan tulisan-tulisan yang dikaitkan dengan Nabi Muhammad. Banyak tulisan yang membahas narasi (sanad) dan teks serta konten (matn) telah dupublikasi. Dari banyaknya karya tersebut pembahasan yang lebih lanjut untuk dituliskan adalah peran kritik substantif terhadap validitas hadits. Artikel ini mengkaji wacana kritik hadis dan memberikan gambaran analitis dan pendekatan kritis tentang keabsahan sebuah hadis. Paper ini berpendapat tentang kritik substantif diperlukan untuk pemahaman hadits yang tepat dan dapat diterima untuk menentukan validitas hadits. Selain metodologi kritik hadis, artikel ini mengkaji makna hadis dalam kajian hadis. Argumen artikel ini menyangkut pemahaman kontekstual hadits dalam setiap studi kritis pada hadits

    Moderating Resistances: The Reproduction of Muslim Religious Space in the Dutch East Indies

    Get PDF
    This study seeks to historically elaborate on the roots of moderate Islam, focusing on the productive practices towards religious spaces in the Dutch colonial periods in the East Indies. It analyses the strategic changes in the Dutch reproduction of religious space during the Aceh War and the Sarekat Islam periods. The author argues that the Dutch government frequently seized Muslim religious space to secure its colonial power. The colonial government reproduced Muslim religious space in these two eras, representing symbolic support for the Dutch colonial hegemony. The appropriation of religious space was a spatial strategy to perpetuate the hegemony in social space. This study concludes that the reproduction of Muslim space represented a moderate position towards the Dutch colonial hegemony. Meanwhile, counter-space emerged to reverse such moderating practices. By counter-space, the Dutch moderating efforts on socio-religious space were contested, opposed, and condemned.[Kajian ini berupaya menguraikan secara historis akar Islam moderat, dengan fokus pada praktik produksi ruang keagamaan pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Analisis difokuskan pada perubahan strategi pemerintah kolonial Belanda dalam melakukan reproduksi ruang keagamaan selama periode Perang Aceh dan Sarekat Islam. Pemerintah Belanda sering merebut ruang keagamaan umat Islam untuk mengamankan kekuasaannya. Pemerintah kolonial mereproduksi ruang keagamaan umat Islam pada dua era tersebut sebagai merupakan simbol dukungan terhadap hegemoni kolonial Belanda. Perampasan ruang keagamaan merupakan strategi spasial untuk melanggengkan hegemoni atas ruang sosial. Kajian ini menyimpulkan bahwa reproduksi ruang keagamaan Islam merepresentasikan posisi moderat terhadap hegemoni kolonial. Sementara itu, ruang perlawanan muncul untuk membalikkan praktik-praktik moderasi tersebut. Melalui ruang perlawanan ini, upaya-upaya moderasi pemerintah kolonial Belanda dalam bidang sosial-keagamaan ditentang, ditantang, dan dikecam.

    The Law of Movasat and the Moral Challenge of Staying at Home During the COVID-19 Pandemic

    Get PDF
    The challenge of the COVID-19 Pandemic is usually reduced to a mere medical and health problem, while one can observe its sizeable influence on economic, cultural, political and moral domains, too. In Muslim countries, moral conflict becomes one of the significant challenges of COVID-19 affecting people’s lives. Staying at home and its relationship with livelihood is one of the most complicated of these conflicts. In this essay, the authors assess and expose this moral conflict using the ethical doctrines of the Islamic religion rooted in the moral law of Movasat Altruism. There are four strategies in the principle of Movasat for overcoming the crisis: (1) uprooting poverty and reducing social-economic inequality; (2) job creation and supporting the production cycle; (3) eliminating unnecessary brokers; and (4) strengthening sympathy, empathy, and love within society.[Tantangan akibat Pandemi COVID-19 banyak difokuskan hanya sebatas masalah medis dan kesehatan saja, padahal pengaruhnya juga terlihat cukup besar dalam bidang ekonomi, budaya, politik, dan moral. Di negara-negara Muslim, konflik moral menjadi salah satu tantangan signifikan akibat COVID-19 yang berdampak pada kehidupan masyarakat. Tinggal di rumah dan hubungannya dengan penghidupan merupakan contoh salah satu konflik yang cukup rumit. Dalam tulisan ini, penulis berupaya mengungkap konflik moral ini dengan menggunakan doktrin etika agama Islam yang berakar pada hukum moral altruisme Movasat. Ada empat strategi dalam prinsip Movasat untuk mengatasi krisis: (1) memberantas kemiskinan dan mengurangi kesenjangan sosial ekonomi; (2) menciptakan lapangan kerja dan mendukung siklus produksi; (3) menghilangkan perantara yang tidak diperlukan; dan (4) memperkuat simpati, empati, dan rasa cinta kasih dalam masyarakat.

    Pancasila, Islam, and Harmonising Socio-Cultural Conflict in Indonesia

    Get PDF
    The compatibility of Islam and Pancasila, the Indonesia’s national philosophy, is still interesting to elaborate even though there have been numerous discussions on the theme. Notably, this paper addresses the harmony of Pancasila and Islam as the umbrella for nationhood and statehood in Indonesia. The writers argue that Pancasila and Islam coexist harmoniously in Indonesia, and this kind of harmony is a valuable esteem to reinforce unity, diversity, and cultural heritage within the society. The acculturation of Pancasila is an effort to integrate its values into daily life through traditions and practices involving various stakeholders. This acculturation will encourage acceptance of diversity and prevent religious extremism. On the other hand, conflicts between political Islam and nationalist groups in Indonesia affect cultural-religious expressions and disrupt harmony. Pancasila is vital in addressing these conflicts and promoting diversity and ongoing dialogues.[Kesesuaian Islam dan Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia masih menarik untuk dijabarkan meski sudah banyak pembahasan mengenai tema tersebut. Secara khusus, tulisan ini membahas tentang kerukunan Pancasila dan Islam sebagai payung kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Penulis berpendapat bahwa Pancasila dan Islam dapat hidup berdampingan secara harmonis di Indonesia dan keharmonisan tersebut merupakan sebuah penghargaan yang tinggi untuk mempertegas persatuan, keberagaman, dan warisan budaya dalam masyarakat. Pembudayaan Pancasila menjadi upaya untuk mengintegrasikan nilai-nilainya ke dalam kehidupan sehari-hari melalui tradisi dan praktik yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Akulturasi ini akan mendorong penerimaan keberagaman dan mencegah ekstremisme agama. Di sisi lain, konflik antara politik Islam dan kelompok nasionalis di Indonesia berdampak pada ekspresi budaya-agama yang mengganggu kerukunan. Pancasila menjadi penting dalam mengatasi konflik-konflik ini serta mendorong keberagaman dan dialog yang berkelanjutan.

    The Impact of Al-Albānī’s Revolutionary Approach to Hadith on Islamic Militancy in Indonesia

    Get PDF
    The rise of Islamic militancy among Indonesian Salafis closely relates to their literal understanding of the hadith as the resource of their religious doctrines, with Muḥammad Nāṣiruddīn al-Albānī (1914-1999) as the most referenced figure. This article analyses how the thought of al-Albānī on hadith impacted Islamic militancy development in Indonesia. The writer argues that al-Albānī’s pupils support the rapid spread of his thinking on the hadith with their book publishers, organisations, and Salafi pesantrens. Meanwhile, the impact of al-Albānī’s thoughts on the Salafi movement in Indonesia appears in three notions: the domination of the textual understanding of the hadiths, the growth of al-Lā Madhhabiyyah (not relying on any classical madhab of fiqh), and the taṣfiyah and tarbiyah program. According to al-Albānī, the program of taṣfiyah and tarbiyah is the only way to build an Islamic society, which is a condition for the establishment of the Islamic Sharia and the Islamic State (Daulah Islāmiyyah).[Munculnya gerakan Islam militan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari model pemahaman hadis yang literal dengan tokoh rujukan Muḥammad Nāṣiruddīn al-Albānī (1914-1999). Artikel ini menganalisis pemikiran al-Albānī tentang hadis, yang berdampak pada militansi Islam di Indonesia. Temuan dari tulisan ini  adalah: 1) massifnya penyebaran pemikiran al-Albānī didukung oleh para murid al-Albānī yang mengembangkan penerbit buku, ormas, dan pesantren salafi; 2) dampak pemikiran al-Albānī terhadap pemikiran Salafi di Indonesia dapat dilihat pada tiga hal: dominasi pemahaman tekstual; tumbuhnya gerakan al-Lā Madhhabiyyah (paham untuk tidak bertumpu pada mazhab fikih klasik tertentu); dan program taṣfiyah dan tarbiyah. Menurut al-Albānī, tanpa taṣfiyah dan tarbiyah, tidak mungkin bisa terbangun masyarakat Islami yang menjadi syarat bagi tegaknya syariat Islam dan berdirinya negara Islam]

    Standardisasi Kurikulum Sejarah Islam Rumusan Organisasi Kebudayaan, Ilmu Pengetahuaan dan Pendidikan Islam (ISESCO)

    No full text
    Tanggal 26-28 Oktober 1987 Saya mendapatkan kesempatan dari Direktur Jendral Binbaga Islam (pada waktu itu Bapak H. Zaini Dahlan) dan dengan restu Bapak Mentri Agama Republik Indonesia untuk menghadiri Meetings of experts on the draft standardized curricul for teaching geography and Islamic history, yang diadakan di Kairo Mesir.Sesuai dengan rekomendasi para mentri luar negeri anggota Organisasi Konperensi Islam yang ke-15 yang diadakan tahun 1985 untuk Menyusun suatu kurikulum yang tepat bagi pengajaran sejarah Islam dan geografi di sekolah-sekolah di dunia Islam, maka Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO) memasukkan rencana kerja 1985-1988 mengenai standardisasi kurikulum ini. rencana kerja ini dipertimbangkan dan diterima oleh siding ISESCO kedua yang diadakan di Islamabad tahun1985

    Prospek Pengembangan Ilmu Perbandingan Agama Di Indonesia.

    No full text
    Ilmu perbandingan agama adalah salah satu sebutan saja dari berapa sebutan terhadap “ilmu agama” (Science of Religion),  “studi ilmiah agama” (Scientific Study of Religion), yang dalam perkembangan kemudian lalu orang dengan beberapa pertimbangan tertentu senang menyebutnya dengan “fenomenologi agama” (Phenomenology of Religion), “ilmu agama sistematik” (lebih dikenal dengan ” Science of Religion as a Systematic Disipline”),  “sejarah agama-agama” (History of Religion(-s)), dan “ilmu perbandingan agama” (Comparative Religion, Comparative Study Of Religions) dan sebutan lainnya lagi. Pertimbangan selera penyebutan tertentu baik dengan Science of Religion, scientific a study of religion, Phenomenology of Religion, History of Religion (-s), Comparative Religion, Comparative Study Of Religions dan sebagainya- sudah barang tentu mempunyai maksud tertentu di samping ada hubungannya dengan lingkungan di mana ilmu perbandingan agama tersebut dilahirkan, tumbuh dan berkembang. Seperti di Amerika (Canada dan Amerika Utara),  Eropa (Swedia, Inggris, Jerman, Prancis, Belanda, Spanyol, Italia),  Asia (Jepang, India, Thailand, Indonesia), di USSR dan lain sebagainya. Juga ada hubungannya dengan lingkungan pengembangan akademik di mana ilmu perbandingan agama tersebut diasuh dalam suatu perguruan tinggi

    Arabic Neologisms in Indonesian and Malaysian Arabic Media

    Get PDF
    This research examines new, unique Arabic terms and vocabulary used in the newspapers Indonesia Alyoum and Aswaq, two online media based in Indonesia and Malaysia, respectively, to elaborate on the development of the Arabic language in non-Arab countries. The invention of new Arabic words in these media primarily used the methods of al-taulīd bi al-iqtirāḍ, particularly al-dakhīl, and al-taulīd al-dalālī using al-tarjamah al-ḥarfiyah. Meanwhile, the method al-taulīd bi al-majāz, a metaphorical method, is to invent new, unique, local terms. However, the authors argue that both newspapers have differences in transliteration and inconsistent use of terms. In response to this language development, Malay Muslims show their potential to develop Malay-Arabic transliteration guidelines, compile a new Arabic dictionary, and even establish Southeast Asian Majma‘ al-Lugah al-‘Arabiyah. [Penelitian ini mengkaji istilah-istilah dan kosakata baru dan unik dalam bahasa Arab yang digunakan di surat kabar Indonesia Alyoum dan Aswaq, dua media online yang masing-masing berbasis di Indonesia dan Malaysia, untuk melihat perkembangan bahasa Arab di negara non-Arab. Pembentukan kosa kata baru pada media ini terutama menggunakan metode al-taulīd bi al-iqtirāḍ, khususnya al-dakhīl, dan al-taulīd al-dalālī yang berbasis al-tarjamah al-ḥarfiyah. Sedangkan metode al-taulīd bi al-majāz, metode metafora, dipakai untuk mengalihkan istilah-istilah lokal. Namun, kedua surat kabar tersebut memiliki perbedaan dalam transliterasi dan tidak konsisten dalam penggunaan kosa kata serapan tersebut. Sementara itu, dalam menyikapi perkembangan bahasa Arab ini, umat Islam Melayu berpotensi mengembangkan pedoman transliterasi Melayu-Arab, menyusun kamus bahasa Arab baru, bahkan mendirikan Majma‘ al-Lugah al-‘Arabiyah Asia Tenggara.

    Kata Pengantar

    Get PDF

    Buku-Buku Tasawuf dan Kecenderungan Kemunculannya

    No full text
    Berikut ini saya cantumkan beberapa buku mengenai tasawuf yang hampir semuanya masih dalam bahasa Inggris. Saya sengaja berbuat demikian karena saya tidak mengetahui secara pasti buku apa saja yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun demikian informasi yang ada di dalam buku tulisan ini akan sangat berguna untuk melacak buku-buku tentang tasawuf ini di perpustakaan dengan melihat katalog pengarang. Karena orang masih banyak yang cenderung untuk membaca edisi Indonesianya, maka di sini juga tidak saya cantumkan informasi buku-buku tasawuf ini secara lengkap artinya tempat dan nama penerbit serta tahun buku itu terbit tidak dicantumkan di dalam tulisan ini. Bagi yang ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang buku-buku tasawuf lengkap dengan informasinya dipersilakan untuk melihat Encounter no. 50 Desember 1978

    581

    full texts

    878

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇