Al-Jami'ah - Journal of Islamic Studies (Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Not a member yet
878 research outputs found
Sort by
Islam At the Crossroads of Global Ethics: An Ecumenical-Pluralist Reading of Hans Küng (1928-2021)
Religious and cultural pluralism has introduced a new approach that differs from classical European orientalism, taking into account the historical, socio-cultural, and political transformations experienced by Western societies in their shift from monoculturalism to pluralism. Contemporary Western scholars, philosophers, and theologians have given significant space to Islamic components, offering pluralism as one of the most objective frameworks for interacting with Islam. Hans Küng stands out among other thinkers for his objectivity, courage, and ability to deconstruct Orientalist assumptions that approach Islam from a narrow ideological perspective. This study explores Küng’s main ideas and projects, particularly his concepts of global ethics, pluralism, interfaith dialogue, competing paradigms, and the reinterpretation of the friend-enemy dichotomy. This study shows that Küng’s theological and philosophical foundation in interacting with Islam is closely related to his personal experiences and intellectuality. This led him to initiate a global ethics project as a moral foundation for interfaith dialogue. Küng positions Islam in the context of cosmic pluralism as an important component in the equation of international peace and interfaith dialogue, not only through its tolerant teachings, but also through its rich legal and philosophical heritage, which has contributed to the advancement of human civilization. Therefore, he calls for a reinterpretation of Islam and a deconstruction of contemporary Muslim challenges through competing paradigms to find a viable way out of the current crisis of civilization.[Pluralisme agama dan budaya telah memperkenalkan pendekatan baru yang berbeda dari pembacaan orientalistik Eropa klasik, dengan mempertimbangkan transformasi historis, sosio-budaya, dan politik yang dialami oleh masyarakat Barat dalam pergeseran mereka dari monokulturalisme ke pluralisme. Cendekiawan, filsuf, dan teolog Barat kontemporer telah memberikan tempat yang signifikan bagi komponen Islam, dengan menawarkan pluralisme sebagai salah satu kerangka kerja paling objektif untuk berinteraksi dengan Islam. Hans Küng menonjol di antara para pemikir lainnya karena objektivitasnya, keberaniannya, dan kemampuannya untuk mendekonstruksi asumsi-asumsi orientalistik yang mendekati Islam dari perspektif ideologis yang sempit. Studi ini mengeksplorasi gagasan dan proyek utama Küng, terutama konsepnya tentang etika global, pluralisme, dialog antaragama, paradigma yang bersaing, dan reinterpretasi dikotomi teman dan musuh. Studi ini menunjukkan bahwa landasan teologis dan filosofis Küng dalam berinteraksi dengan Islam sangat berkaitan erat dengan pengalaman pribadi dan intelektualitasnya. Hal tersebut membawanya untuk menggagas proyek etika global sebagai landasan moral untuk dialog antaragama. Küng memposisikan Islam dalam konteks pluralisme kosmis sebagai komponen penting dalam persamaan perdamaian internasional dan dialog antaragama, tidak hanya melalui ajaran-ajarannya yang toleran, tetapi juga melalui warisan yuridis dan filosofisnya yang kaya, yang telah berkontribusi pada kemajuan peradaban manusia. Oleh karena itu, ia menyerukan reinterpretasi Islam dan dekonstruksi tantangan Muslim kontemporer melalui metodologi paradigma yang bersaing untuk menemukan jalan keluar yang layak dari krisis peradaban saat ini.
Data-Data Ke Universalan Syari’at Islam
Agama yang dapat menjadi agama dunia (universal) dan kemanusiaan, haruslah mempunyai dua unsur pokok. Pertama, mempunyai daya hidup sepanjang masa berkembang dan terus dapat berjalan melalui perkembangan sejarah dari masa kemasa hingga akhir zaman, kedua, mempunyai daya cukup dan melengkapi segala kebutuhan kemanusiaan dalam bidang hukum dan tata aturan. Maka apabila sesuatu agama memiliki dengan sempurna dua unsur istimewa ini, niscaya dapatlah dia hidup mengarungi gelombang dunia denga naman Sentosa dan dapatlah dia menutupi segala hajat masyarakat dalam perkembangan hukum, kebudayaan dll. Agama islam, adalah agama Allah yang dikembangkan ditengah masyarakat Bani Insan sebagai agama penutup yang menyempurnakan segala agama yang telah didatangkan para Rasul Allah yang mendahului Islam ini. Agama-agama sebelum Islam ini, adalah agama setempat, sedaerah, tidak melampaui negeri Rasul yang membawahnya, tidak melampaui bangsa Rasul itu sendiri dan untuk masa tertentu, tidak berlaku terus menerus untuk masa-masa sesudahnya. Karenanya, Rasul-Rasul itu dating silih berganti. Allah mendatangkan tiap-tiap syari’at sesuai dengan perkembangan ummat yang kian hari kian meningkat. Dan pada setiap masa, diperlukan aturan baru. Apabila kita perhatikan agama yang dibawah para Rasul disekitar Jazirah Arab, niscaya kita dapati bahwasanya Hud ’alai-hissalam diutus pada kaum ‘Ad yang tinggal diAhqaf; bahwa saleh ‘alaihissalam ditus kepada Tsamud yang tinggal di Al Hijir sebelah utara Madinah; bahwa Syu’aib dibangkit di Madian disuatu bagian dari tanah Syam
Khawarij
Situasi menjelang timbulnya Khawarij. Kebijaksanaan Khalifah Usman dalam menjalankan pemerintahan banyak dipengaruhi oleh keluarganya, sehingga banyak penggantian pejabat-pejabat dan pembaharuan-pembaharuaan administrasi. Dari segi ketertiban administrasi dapatlah dicatat bahwa masa Usman sudah dirintis sebagai imbangan dari makin luasnya daerah kekuasaannya. Dr. Harun Nasution mengatakan bahwa Usman termasuk dalam golongan pedagang Quraisy yang kaya. Kaum keluarganya terdiri dari orang-orang aristocrat Makkah yang karena pengalaman dagang mereka mempunyai pengetahuaan tentang administrasi. Pengetahuan merekan ini bermanfaat dalam memimpin administrasi daerah-daerah diluar semenanjung Arabia yang bertambah banyak masuk kebawah kekuasaan Islam. Atas dasar itulah kiranya, disamping pengaruh keluarganya, maka Usman menjatuhkan pejabat-pejabat dan Gubenur-Gubenur yang diangkat oleh Umar r.a. diganti dengan orang-orang dari golongan keluarganya. Akibat dari tindakannya ini banyak sahabat-sahabat Nabi yang semula mendukungnya meninggalkannya, Ketika melihat Tindakan yang kurang tepat itu, disamping rival-rivalnya atau orang-orang yang ingin calonnya menjadi Khalifah memanfaatkan situasi, sehingga perasaan tidak senang muncul didaerah-daerah pada waktu itu
Salat Daim Aliran Kebatinan dan Dzikir dalam Islam
Beberapa Aliran kebatinan di Indonesia ada yang mempunyai cara-cara tertentu untuk menghadap atau berhubungan dengan Tuhannya. Menghadap atau berhubungan dengan Tuhan itu bermacam-macam tujuannya, seperti memuji, memohon, menyembah, mengadukan nasib, berterima kasih dan sebagainya. Cara menghadap atau berhubungan dengan tuhan yang demikian didalam agama tetentu disebut ritus (upacara) yang cara, waktu, tempat dan persyaratannya sudah tentu, dan ada pula yang cara, waktu, tempat dan persyaratannya sudah tertentu, dan ada pula yang cara dan sebagainya itu tidak tentu. Terhadap kedua macam cara berhubungan atau menghadap Tuhan itu masing-masing agama ada yang membedakan dan memberi nama sendiri- sendiri, serta ada pula yang menyamakan antara kedua macam ritus tersebut dan memberi hanya satu nama saja. Tentu saja agama yang satu dengan agama yang lain berbeda dalam memberi nama kepada ritus demikian. Dalam kita mengenal istilah sholat, do’a dan dzikir. Dalam agama Kristen kita mengenal istilah sakramen, liturgi dan sebagainya. Dalam uraiaan ini untuk manamakan ritus sebagaimana tersebut diatas kita pergunakan saja istilah sembahyang atau salat dalam tulisan ini
Reading Comprehension
Tulisan ini saya tujukan kepada para dosen-dosen Bahasa Arab dan Inggris yang ada dilingkungan IAIN diseluruh Indonesia. Banyak pendapat baru tentang pengajaran Bahasa pada umumnya, dan Bahasa Inggris pada khususnya. Yang perlu kita ketahui bahan ini saya peroleh pada Fakultas Sastra Jurusan Teaching English as a Foreign Language (Dip T.E.F.L.) Universitas Sydney Australia, selama belajar pada jurusan ini satu tahun, yang khusus diperuntukkan bagi guru-guru Bahasa Inggris yang telah dapat gelar BA. Atau Drs. Dalam Bahasa Inggris. Semoga sumbangan karangan ini ada faedahnya. Yang dimaksud reading Comprehension ialah bagaimana caranya seorang dosen mengajar bacaan pada para mahasiswa agar mereka mengerti apa yang mereka baca. Untuk mencapai tujuan ini, bacaan (reading atau muthalaah) yang terdiri dua bagian: Intensive dan extensive reading harus diajarkan pada IAIN. Yang dimaksud dengan intensive reading ialah suatu bacaan pilihan dari majalah, koran atau buku yang terdiri dari satu atau dua halaman. Ia diajarkan untuk memperkenalkan tatabahasa baru, kata-kata baru melalui Latihan-latihan (drills) yang cukup dari bahan bacaan itu. Intensive reading ini untuk upelajaran Bahasa Arab sudah lama diajarkan di IAIN dengan istilah muthalaah, tapi saying tidak disertai dengan Latihan-latihan dan diskusi yang cukup. Jadi hasilnya kurang memuaskan. Sedangkan Extensive Reading belum pernah diperkenalkan pada (IAIN). Seharusnya bacaan ini diperkenalkan untuk mendapatkan informasi dari bahan bacaan. Dalam bacaan ini tidak ada kata-kata baru atau tatabahasa yang sukar. Bacaan ini harus dibaca dalam hati diluar kelas
H.A.R. Gibb (1895-1970)
Wilfred Cantwell Smith dalam kunjungannya ke IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bulan Juli 1973 antara lain memberitakan bahwa H.A.R Gibb telah meninggal dunia pada tahun 1970. Berita ini menarik perhatiaan kami, sebab H.A.R Gibb dapat dianggap sebagai Orientalist terbesar pada pertengahan abad kedua puluh ini yang sejajar dengan Sylvestre de Sacy pada abad ke 19 dan Noldeke serta Ignace Goldzier pada permulaan abad kedea puluh. Perhatian yang terbesar dipuasatkannya tentang studi Bahasa Arab dan Islam, sehingga karyanya sangat banyak yang sudah dipublikasihkan. Pengaruhnya sangat besar baik bagi murid-2nya sendiri maupun bagi sarjana-sarjan lain yang berminat menyelidiki hasil-hasil karyanya, terutama dari kalangan sarjana-sarjana barat. Oleh karena itu tridak mengherankan apabila dua orang sarjana Stanford J. Shaw dan William R. Polk sengaja mengumpulkan karya-karya Gibb yang dimuat dalam majalah-majalah ilmiyah kemudian dibukukan menjadi satu buku yang berjudul STUDIES ON THE CIVILIZATION OF ISLAM yang diterbitkan pada tahun 1962 tiga tahun kemudian untuk menghormati jasa-jasanya dalam bidang studi Bahasa Arab dan Islam George Maksidi mengumpulkan karya-karya sarjana-sarjana terkenal didalam sebuah buku yang berkenaan dengan studi Bahasa Arab dan Islam, kemudian buku tersebut diberi judul ARABIC AND ISLAMIC STUDIES IN HONOR OF HAMILTON A.R.GIBB yang diterbitkan pada tahun 1965
Tulisan Tentang Sejarah Arab Oleh Prideaux, Ockley dan Sale
Sampai tahun-tahun terakhir abad ke 17, tulisan-tulisan tentang sejarah Arab di Inggris-seperti halnya di Eropa umumnya masih bersifat akademis. Baik yujuan maupun karakternya. Sebagaimana telah kami tunjukkan dalam sebuah paper terdahulu, studi tentang sejarah Arab – pada periode itu – bukanlah cabang ilmu yang khusus : studi tentang ketimuran berkembang sebagai alat pembantu untuk studi Perjanjian Lama, Sejarah Gereja dan polemic-polemiknya. Sedikit sarjana tertarik secara khusus pada Bahasa Arab ; bahkan lebih sedikit pula yang mengadakan penyelidikan yang berguna tentang Sejarah Arab. Dibandingkan dengan angkatan sezamannya -Pococke telah memberikan satu sumbangan yang penting bagi pengetahuaan sejarah, dan dalam tulisan-tulisannya ia memperlihatkan watak seorang ahli sejarah – satu prestasi yang patut dicatat sebagaimana akan tampak nanti jika dibandingkan dengan beberapa pengikutnya. Meskipun demikiaan, karya Pococke masih terbatas, baik pengaruh maupun ruang lingkupnya. Ia tidak menghasilkan satu struktur sejarah yang terorganisir ; publikasi-publikasinya terdiri dari: text dan terjemahan dua kronikel Arab Kristen yang baru, dan catatan-catatan studi, yang tidak terbatas pada sejarah, tapi mencakup semua bidang dari masa-masa silam Arab dan Agama Islam, catatan mana ia lampirkan pada bukunya Specimen Historiae Arabum. Terjemahan dan catatan keduanya dalam Bahasa latin, lebih ditunjukan pada kelompok akademis, bukan kepada public terpelajar yang banyak. Selama 28 tahun terakhir dari masa hidupnya (1604-1691), Pococke tenggelam mempelajari Bahasa Ibrani dan tulisan-tulisan berupa komentar terhadap kitab-kitab para Nabi kecil. Ia tidak memberi sumbangan yang lebih jauh untuk studi Sejarah Islam
Kata Pengantar
TRANSLATE with x EnglishArabicHebrewPolishBulgarianHindiPortugueseCatalanHmong DawRomanianChinese SimplifiedHungarianRussianChinese TraditionalIndonesianSlovakCzechItalianSlovenianDanishJapaneseSpanishDutchKlingonSwedishEnglishKoreanThaiEstonianLatvianTurkishFinnishLithuanianUkrainianFrenchMalayUrduGermanMalteseVietnameseGreekNorwegianWelshHaitian CreolePersian // TRANSLATE with COPY THE URL BELOW Back EMBED THE SNIPPET BELOW IN YOUR SITE Enable collaborative features and customize widget: Bing Webmaster PortalBack/
When Policies Miss Childhood: Rethinking Indonesia’s Deradicalization Framework
This article examines the gap between regulations and practices concerning children’s deradicalization in Indonesia. The study analyses four regulations on deradicalization in comparison to the practices observed in four pesantrens (Islamic boarding schools) in the country between 2019 and 2023. The findings reveal that Indonesian deradicalization regulations remain predominantly adult-oriented and have not systematically addressed the fundamental needs of children. They emphasise nationalism, religious moderation, entrepreneurship, and rehabilitation, while education is framed merely as a mean of instilling nationalist and moderate religious values, concepts more aligned with adult-focused programmes. In contrast, the practical implementation of children’s deradicalization highlights education as their primary necessity. Education is viewed as a long-term strategy for social reintegration to ensure a better future for these children. Furthermore, critical aspects such as administrative citizenship, psychological rehabilitation, and disengagement should also receive attention. Future regulations and practices must integrate these dimensions to more effectively support the deradicalization of children associated with terrorism.[Artikel ini mengkaji disparitas antara regulasi dan praktik deradikalisasi anak di Indonesia. Studi ini menganalisis empat peraturan mengenai deradikalisasi dibandingkan dengan praktik di empat pesantren di Indonesia antara tahun 2019 dan 2023. Temuan ini menunjukkan bahwa peraturan deradikalisasi di Indonesia masih sebagian besar berorientasi pada orang dewasa dan belum secara sistematis memenuhi kebutuhan mendasar anak-anak. Peraturan-peraturan ini menekankan nasionalisme, moderasi beragama, kewirausahaan, dan rehabilitasi, sedangkan pendidikan dibingkai hanya sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai nasionalis dan agama moderat, konsep ini lebih selaras dengan program yang berfokus pada deradikalisasi untuk orang dewasa. Sebaliknya, implementasi praktis deradikalisasi anak-anak menyoroti pendidikan sebagai kebutuhan utama mereka. Pendidikan dipandang sebagai strategi jangka panjang untuk reintegrasi sosial, yang menjamin masa depan yang lebih baik bagi anak-anak. Selain itu, aspek penting seperti administrasi kewarganegaraan, rehabilitasi psikologis, dan pemisihan dari kelompok mereka sebelumnya juga harus dipertimbangkan. Peraturan dan praktik di masa depan harus mengatasi dimensi-dimensi ini agar lebih efektif mendukung deradikalisasi anak-anak yang terkait dengan terorisme.
Agama Sebagai Sasaran Penel,ahan dan Penelitian Di Indonesia
Bangsa Indonesia menyimpan berbagai kemajemukan dan keberanekaan. Kemajemukan dan keberanekaan itu mewujud dalam pelbagai segi kehidupan bangsa Indonesia yang menempati segugusan kepulauaan yang ribuan jumlahnya di satu Kawasan yang amat luas wilayahnya. Bangsa Indonesia terdiri dari dan dibentuk oleh berbagai suku bangsa yang mempunyai adat istiadat dan Bahasa sendiri-sendiri disamping menganut agama yang berbeda-beda. Oleh karena itu, adalah sutu hal yang tak terhindarkan bahwa tata nilai yang dihargai dan dihayati oleh masayarakat tidak sama apalagi satu. Bahwa soal tata nilai merupakan hal yang amat asasi bagi keberadaan suatu masyarakat adalah jelas, sebab ia menyangkut makna dan dimensi kedalaman dalam kehidupan manusia. Ia adalah cita maknawi yang menjadi tujuan dan pedoman manusia dalam berbuat dan melakukan sesuatu. Ia mendasari alam pikiran dan tingkah laku manusia, baik sebagai orang seseorang maupun kelompok masyarakat dalam memahami, menafsirkan dan menghayati dunia dan lingkungannya